Sorry, please deactivate your Adblock in your browser!
or activate your javascript![ Then refresh]
Powered by GOOGLE | Theme Designed by: EDDY LEE | Thanks to ARCHIPEDDY

--------------- Kisah Nyata : Runtuhnya Sebuah Kerajaan Besar Di Dunia Silahkan baca : Kisah Hidup Kaisar Terakhir Russia, Kisah Hidup Putri Kerajaan Yang Menjadi Biarawati Kaisar Nicholas II resmi mengabdikan diri pada 2 Maret 1917. Beberapa hari kemudian, ibunda Nicholas bernama Dagmar alias Minnie alias Maria Feodorovna datang di Moghilev menemui Nicholas alias Nicky. Selama tiga hari berturut-turut, Dagmar dan Nicky sarapan bersama dan berbincang hingga sore. Itu adalah pertemuan terakhir antara Dagmar dan Nicky. Nicky kemudian pergi ke istana Alexander di Tsarskoe Selo untuk berkumpul dengan Alexandra dan kelima anak mereka. Kedatangan Nicky di istana Alexander juga menandai ia dan keluarga resmi menjalani tahanan rumah. Saat Nicky dan keluarga sudah dipindah ke Tobolsk, Nicky mengirim surat kepada Dagmar. Surat yang diterima pada musim gugur 1917 itu akan menjadi surat terakhir Nicky kepada ibunya. Istri Nicky dan kelima anak Nicky juga menyisipkan surat untuk Dagmar. Dagmar kemudian mengirim balasan dan juga akan menjadi surat terakhir Dagmar untuk Nicky. Dagmar menceritakan bahwa kini mereka tinggal di villa Aitodor, Crimea bersama Xenia dan Olga, berikut anak-anak mereka. Sama halnya Nicky, Dagmar dan kedua putrinya juga menjalani tahanan rumah. Ayah Felix Yusupov (Felix = cucu menantu Dagmar) mengirim kepiting dan mentega kepada Dagmar untuk dinikmati sebab Dagmar sekeluarga di Crimea sudah tidak boleh menikmati roti dan mentega lagi. Dagmar beruntung masih bisa menerima surat dari kakak tercinta, Alexandra di Inggris dan adik tercinta, Waldemar di Denmark. Saat rumahnya di Kieff digeledah oleh tentara Bolsheviks, barang-barang pemberian Nicky dan anak-anak disita. Dari dokter gigi bernama Kastritsky, Dagmar bisa memperoleh sedikit kabar mengenai Nicky sekeluarga. Meski hampir sama, namun kelak nasib mereka akan berbeda dari Nicky. Pada pagi yang dingin dan berkabut tanggal 4 April 1919, kapal perang Inggris HMS Marlborough berlayar dari Konstantinopel menuju ke kota Sevastopol di Semenanjung Crimea. Kapten kapal bernama Johnson diberi kepercayaan membawa surat ibu ratu Inggris, Alexandra untuk disampaikan kepada adiknya, Dagmar. Dagmar adalah ibu permaisuri Russia. Intinya Alexandra menginginkan Dagmar segera keluar dari Russia sebelum terlambat untuk menyelamatkan diri dari fraksi Bolsheviks. Bolsheviks adalah fraksi pecahan dari Partai Sosial Demokrat Russia yang muncul dalam konferensi di Brussel, Belgia pada 1903. Fraksi Bolsheviks berisikan orang-orang garis keras yang berpendapat bahwa perubahan harus dimenangkan dengan senjata. Pemimpin Bolsheviks adalah Vladimir Lenin. Putra sulung Dagmar, yaitu kaisar Nicholas II mengundurkan diri pada 2 Maret 1917. Enam bulan kemudian, perdana menteri baru Alexander Kerensky mengumumkan Russia berganti menjadi negara republik. Tak lama setelah Nicholas mengundurkan diri, Dagmar yang berada di kota Kiev, Ukraina mendatangi Nicholas di kota Mogilev, Belarus. Itu merupakan pertemuan terakhir antara ibu dan anak. Sekembalinya ke Kiev, Dagmar menyadari bahwa ia tak bisa tinggal di sana lagi. Dagmar disarankan naik kereta api menuju ke Crimea ditemani oleh beberapa anggota kerajaan lain. Di Crimea terdapat sedikitnya empat villa milik anggota kerajaan. Salah satunya adalah villa Harax milik Dagmar. Dagmar mengetahui betul bahwa Nicholas telah ditahan bersama istri dan kelima anaknya. Sebagai seorang ibu, Dagmar tak berhenti memikirkan Nicholas dan mengirimkan surat balasan untuk membesarkan hati Nicholas. Akan tetapi Dagmar tidak dapat berkomunikasi dengan putra bungsunya, Michael. Xenia juga mengirim surat kepada sang kakak tercinta "Hati ini berdarah memikirkan apa yang sedang kamu lewati sekarang. Namun jangan takut, Tuhan melihat semuanya, selama kamu masih sehat dan baik Kasihan negara Russia. Apa yang akan terjadi pada negara ini?". Kemudian Dagmar mendapat informasi bahwa Nicholas sekeluarga telah tewas dieksekusi. Dagmar tak mempercayai kabar itu "Tak ada yang melihat Nicky (Nicholas) dibunuh. Bolsheviks hanya ingin menutupi fakta bahwa Nicky sebenarnya telah meloloskan diri keluar Russia". Sementara ia tidak lagi mengetahui kabar Michael. Lebih baik Dagmar tidak mengetahui, sebab apa yang sesungguhnya terjadi pasti akan mengoyak batinnya sebagai seorang ibu. Terlebih Dagmar sudah pernah ditinggal wafat oleh kedua anaknya, Alexander di usia 1 tahun dan George di usia 28 tahun. Sementara sang suami, kaisar Alexander III wafat saat masih berusia 49 tahun. Dan revolusi Russia juga mengorbankan dua putranya yang masih hidup. Michael tewas ditembak di kota Perm bersama sekretaris pribadinya, Nicholas Johnson pada 13 Juni 1918. Sebulan kemudian tepatnya tanggal 17 Juli 1918, Nicholas sekeluarga ditembak mati di rumah Ipatiev, kota Ekaterinburg. Tanggal 18 Juli 1918, adik ipar Dagmar yang bernama Elisabeth putri Hesse bersama anggota kerajaan lain juga tewas atas perintah Lenin. Pada Januari 1918, Tentara Merah dari Fraksi Bolsheviks berhasil menguasai kediaman Adipati Agung Nicholas Mikhailovich (adik sepupu kaisar Alexander III) di Petrogad. Dua bulan kemudian, Bolsheviks mengirim Nicholas ke kota Vologda menggunakan kereta api. Nicholas ditemani oleh asisten bernama Brummer, seorang koki dan sahabatnya. Di Vologda, Nicholas berempat ditinggalkan di sebuah rumah dua kamar. Adik kandung Nicholas yang bernama Adipati Agung George Mikhailovich dan sepupunya Adipati Agung Dimitri juga dibawa ke Vologda namun tinggal di rumah terpisah. Mereka awalnya saling mengunjungi satu sama lain dengan bebas asal tidak keluar kota Vologda. Pada 14 Juli 1918, Nicholas, George dan Dimitri dipindahkan ke penjara kecil. Brummer tidak diperbolehkan menemani Nicholas. Namun Brummer berusaha agar Nicholas dibebaskan. Brummer pula yang menginformasikan Nicholas bertiga bahwa Nicholas II sekeluarga baru dieksekusi mati. Esoknya, Nicholas bertiga dibawa balik ke Petrogad dan ditahan di kantor pusat Cheka. Nicholas, George & Dimitri masing-masing menempati tiga sel. Pada 28 Januari 1919, Nicholas bertiga dibawa ke Benteng Petrus & Paulus, Santo Petersburg. Di sana, mereka mengenali seorang pria yang ditandu mendekat. Ternyata pria itu adalah sepupu mereka, Adipati Agung Paul Alexandrovich dalam kondisi sakit parah. Satu persatu menemui ajal dengan cara ditembak. Nicholas menyerahkan kucing peliharaannya kepada seorang penjaga dan minta dibantu pelihara. Dimitri mengatakan :"maafkan mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Ajudan setia Dimitri secara diam-diam mengambil jasad tuannya, dibungkus karpet dan dimakamkan di halaman rumah di Santo Petersburg. Makam Dimitri masih ada hingga kini. Kapal HMS Marlborough yang dikirim raja Inggris George V telah tiba dan siap menyambut Dagmar untuk kemudian dibawa ke Malta dan Inggris. Di kota Sevastopol, kapten Johnson memakai jalan darat untuk menemui Dagmar di kota Yalta. Sekembalinya ke Sevastopol, ia langsung memerintahkan agar HMS Marlborough diarahkan ke Yalta dan tiba di hari yang sama pada 7 April 1919. Yalta merupakan kota wisata yang dikelilingi oleh Laut Hitam. Dagmar berat hati harus meninggalkan Russia, negara yang telah ia diami selama lebih dari 50 tahun. Namun Dagmar menginginkan satu hal sebelum ia berangkat. Orang-orang di Yalta yang setia kepada keluarga kerajaan Russia dan menginginkan pergi, harus dibawa serta. Semula kapal HMS Marlborough diperkirakan dan telah dipersiapkan hanya mengangkut beberapa orang, di antaranya tentu Dagmar dan sekitar 12 orang yang menyertai Dagmar. Namun ternyata jumlah orang yang diangkut jauh melebihi perkiraan dan persiapan. Ia dan para kru harus melakukan yang terbaik menyiapkan makanan dan tempat tidur agar mencukupi. Ruang tidur kapten Johnson akan diberikan kepada Dagmar dan sang kapten pindah ke ruang lain. Total ruangan di HMS Marlborough adalah 35. Para kru kapal menempatkan 2 atau 3 tempat tidur di setiap ruangan. Sayangnya HMS Marlborough hanya memiliki cadangan kasur sebanyak 30. Dagmar tak ingin naik melalui dermaga Yalta sehingga HMS Marlborough melaju lagi beberapa mil ke teluk kecil Coriez. Di dekat Coriez terdapat istana musim panas milik Dagmar yang bernama Harax. Hanya satu putri Dagmar ikut ke kapal, ia adalah Adipatni Agung Russia Xenia. Xenia diikuti oleh keenam anaknya termasuk menantu, Felix Yusupov dan cucu, Irina Yusupova. Putra tertua Xenia telah mengungsi ke Paris terlebih dahulu bersama suami Xenia, Alexander Mikhailovich. Kapten dan kru kapal mulai sibuk mengatur barang bawaan sebab selain kapasitas bagasi terbatas, kebanyakan barang bawaan itu ditandai dengan bahasa Russia. Tidak ada satupun kru kapal yang memahami. Hebatnya, semua bawaan mampu dibereskan dan para penumpang sudah naik hanya dalam sehari. Tanggal 7 April 1919 malam, HMS Marlborough berlayar meninggalkan Coriez menuju ke Yalta. Sejauh ini, HMS Marlborough sudah mengangkut 50 orang, di antaranya terdapat 38 orang wanita/perempuan. Di Yalta, HMS Marlborough berdiam tiga hari sebelum berangkat ke Konstantinopel. Pada 8 April 1919 pagi, HMS Marlborough mendapat tambahan penumpang dan tentunya barang bawaan. Salah satu penumpang adalah Nicholas Nikolaevich, Adipati Agung Russia. Nicholas yang ini adalah adik sepupu mendiang kaisar Alexander III, suami Dagmar. Ia bekerja sebagai Kepala Komandan Angkatan Kerajaan Russia. Nicholas mendekati Dagmar yang telah duduk di atas kapal. Setelah memberi hormat militer, ia membungkuk dan mencium tangan Dagmar. Penumpang lain adalah istri Nicholas yaitu Anastasia, adik Nicholas yaitu Peter Nikolaevich bersama istrinya, Milica, ketiga anaknya yaitu Marina, Roman, Nadezhda dan cucunya, Irina. Usia Irina baru 13 bulan menjadikan ia sebagai penumpang kapal yang termuda. Milica merupakan kakak kandung Anastasia. Jadi kakak beradik Nicholas dan Peter menikahi adik kakak Anastasia dan Milica. Pada saat bersamaan, kapten Johnson menerima kabar bahwa tentara merah Bolsheviks sudah mencapai Crimea utara dan dalam perjalanan menuju ke selatan di mana HMS Marlborough sedang berlabuh. Pada 8 April 1919 malam, polisi setempat memberitahu kapten Johnson bahwa pendukung Bolsheviks lokal di Yalta bisa muncul setiap saat untuk menyerang. Sepanjang malam yang menegangkan itu, lampu-lampu kapal dinyalakan untuk memantau kondisi di sekitar kapal. Esoknya pada tanggal 9 April 1919, datang lagi beberapa orang yang berharap bisa bertemu Dagmar untuk memohon bisa naik ke kapal. Kapten Johnson khawatir Dagmar akan frustasi sebab tak mungkin bisa menolong mereka semua. Sesaat sebelum proses evakuasi di HMS Marlborough selesai, sebuah kapal sekoci Inggris berhasil mengangkut 400 orang pengawal kerajaan yang berkumpul di Yalta untuk kemudian menuju ke kota Sevastopol. Kapal sekoci Inggris itu kemudian berlayar perlahan mengitari kapal HMS Marlborough agar ratusan pengawal kerajaan tersebut dapat memberi hormat kepada Dagmar, dan melihat Dagmar untuk terakhir kali. Dagmar berdiri seorang diri dengan raut wajah sedih. Di belakang kanan, berdiri Nicholas Nikolaevich. Para pengawal kerajaan menyanyikan lagu kerajaan Russia dengan indah. Peristiwa ini sungguh mengharukan bagi siapa saja yang menyaksikannya dan pasti takkan terlupakan. Setelah sekoci menjauh dan menghilang dari pandangan, Dagmar tetap berdiri menatap ke arah perginya mereka. Tak ada yang berani mendekati wanita mungil ini. ONE OF THE LAST PHOTOS OF MARIE FEODOROVNA BEFORE SHE LEFT RUSSIA ... Dagmar Alias Maria Feodorovna Alias Minnie Bergaun dan Bertopi Hitam Pria tinggi di belakang memakai mantel coklat adalah Adipati Agung Nicholas Nikolaevich. Di atas kapal HMS Marlborough pada 9 April 1919. Tanggal 11 April 1919, semua telah beres dan HMS Marlborough siap berlayar menuju ke Konstantinopel. Kapten Johnson memperkirakan total barang bawaan penumpang adalah 200 ton. Hari yang seharusnya menjadi hari lega itu bukan untuk Dagmar. Sepanjang pagi, ia harus menerima orang-orang yang datang memohon untuk ikut atau sekedar mengucap selamat tinggal. Dagmar sudah tidak dapat berbuat apapun untuk mereka yang memohon. Namun ia sangat mengkhawatirkan kondisi mereka yang terpaksa ditinggal. Siang hari, HMS Marlborough mulai berlayar meninggalkan Yalta. Sejak itu, Dagmar dan 17 anggota kerajaan di atas kapal tidak akan pernah kembali ke Russia lagi selama mereka hidup. Hari itu, kerajaan Russia wangsa Romanov yang berkuasa sejak tahun 1613 resmi berakhir. Kapten Johnson memberikan sertifikat yang ia tandatangani kepada setiap pengungsi termasuk Dagmar. Contoh isi sertifikat untuk Xenia : Saya menyatakan bahwa Yang Mulia Adipatni Agung Xenia Alexandrovna meninggalkan Russia dengan HMS Marlborough pada 11 April 1919. (Tanda Tangan) Kapten Johnson. HMS Marlborough akhirnya berlabuh di pulau Halki, Konstantinopel. Laksamana Calthorpe menuju ke kapal untuk berdiskusi tentang kehidupan pengungsi kerajaan selanjutnya. Keputusan kilat datang bagi Dagmar, Xenia dan keenam putra Xenia. Mereka akan dibawa ke Inggris melalui Malta dan mendapatkan perlindungan politik dari negara Inggris. Akan tetapi pemerintah Inggris tidak mengijinkan dua adipati bersaudara yaitu Nicholas Nikolaevich dan Peter Nikolaevich untuk tinggal di Inggris. Dagmar merasa sangat sungkan juga kasihan pada kedua adipati ini. Ia meminta agar Nicholas dan Peter dipindahkan ke kapal lain dengan tujuan lain sebelum HMS Marlborough berlayar lagi ke Malta. Pada 16 April 1919, Nicholas dan Peter naik kapal Lord Nelson menuju ke Genoa, sebuah kota pelabuhan di utara Italia. Sesampai di Genoa, Nicholas dan Peter menjadi tamu raja Italia, Victor Emmanuel III yang juga merupakan kakak ipar Nicholas. Setelah itu, Nicholas dan istrinya tinggal di pinggir kota Paris. Sementara Peter menetap di kota Antibes, Perancis Selatan. Tepat pada hari Jumat Agung, 18 April 1919 HMS Marlborough kembali berlayar dengan tujuan Malta. Di atas kapal, Dagmar dan penumpang lain merayakan paskah. Saat mendekati Malta, sebuah telegram dikirim kepada gubernur Malta memberitahu bahwa keluarga kerajaan Russia akan datang. Gubernur Lord Methuen diminta untuk melakukan upacara penyambutan kecil-kecilan dan informal atau jika perlu, jangan ditemui. Jangan sampai juga berita kedatangan mereka muncul di koran lokal. Namun setelah sampai, pesan telegram itu seolah tak dihiraukan. Pada 20 April 1919 jam 5 sore, HMS Marlborough telah berlabuh di kota Valetta, Malta. Esok paginya, Dagmar dan penumpang lain turun kapal disambut oleh Lord Methuen dan istrinya. Angkatan laut Malta mengumandangkan lagu kebangsaan Russia. Dagmar, Xenia, keenam putra Xenia dan para pegawai di rumah tangga Dagmar diantar ke istana San Antonio. Di antara pegawai itu terdapat asisten wanita Dagmar yang bernama Zina Mengden, asisten wanita Xenia yang bernama Sophie Evreinoff, pengasuh anak Xenia bernama Jane Coster, tukang masak Sergei Dolgoruky dan beberapa bodyguard. Sementara yang lain seperti Irina, Felix Yusupov dan putri mereka menginap di hotel. Istana San Antonio merupakan villa musim panas milik gubernur. Sang gubernur memerintahkan bawahannya untuk merapikan villa secepat mungkin. Setelah mengantarkan di villa, Lord Methuen dan istrinya menyerahkan kepada Robert Ingham. Robert mengajak Dagmar dan semua untuk makan bersama. Keesokan malam, Felix Yusupov mengajak salah satu putra Xenia bernama Feodor dan juga beberapa kelasi HMS Marlborough mengunjungi kelab malam di kota Valetta. Kelima putra Xenia setiap pagi diharuskan membungkuk hormat dan mencium tangan Dagmar. Dagmar dan semua akan menginap selama delapan hari di Malta. Dagmar menikmati jamuan minum teh bersama Nyonya Methuen di villa Valetta dan menerima banyak tamu yang datang berkunjung. Dagmar dan Xenia jatuh hati pada Malta. Kelak beberapa tahun kemudian, Xenia memohon kepada raja George V untuk membiarkan dirinya dan Dagmar hidup di Malta untuk seterusnya. Namun George V menjawab bahwa ia memiliki rencana lain untuk sang tante dan sepupunya. Dagmar dan yang lain meninggalkan istana San Antonio pada 29 April 1919. Sebelum pergi, Xenia mencabut empat batu mirah delima dan sebuah berlian dari baju sutra putihnya. Ia memberikan permata tersebut sambil menggenggam tangan Ingham dan berharap bahwa ia akan selalu diingat. Setelah delapan hari beristirahat di Malta, Dagmar, Xenia dan sisa pengungsi lain menaiki kapal Lord Nelson. Lord Nelson akan membawa Dagmar dan lainnya menuju ke Inggris. Dagmar dan Xenia tiba di Inggris pada 9 Mei 1919. Dagmar memang sempat tinggal di Sandringham, Inggris bersama Alexandra namun kemudian ia pindah ke Denmark. Di Denmark, Dagmar tinggal bersama keponakan, raja Christian X. Sementara Xenia tetap tinggal di Inggris atas biaya saudara sepupunya, raja George V. Kemudian Dagmar pindah lagi dan terakhir kali ke villa Hvdore yang ia dulu beli bersama Alexandra. Villa itu terletak di pinggir kota Copenhagen. Xenia berusaha mengunjungi Dagmar sesering mungkin. Dagmar masih tetap dianggap sebagai permaisuri Russia oleh pengungsi dari Russia di Denmark. Mereka kerap meminta tolong. Pada tahun 1925, Alexandra wafat. Tiga tahun setelah sang kakak tercinta, Dagmar wafat. Semula ia dimakamkan di katedral Roskilde, Denmark meski ia berwasiat ingin dimakamkan di samping sang suami. Pada tahun 2005, tercapai kesepakatan antara ratu Denmark Margarethe dan presiden Russia Vladimir Putin beserta pemerintah masing-masing untuk memindahkan jasad Dagmar ke Russia. Jasad Dagmar pada akhirnya berdampingan lagi dengan sang suami pada tahun 2006.