your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

 

your adv here

 

powered by google

Related Clipping Link

Seri Rumah Seleb

Shooting AAC Merusak Bangunan Bersejarah

Kliping Interior Maret 2009

 

Google
 
 
 
sukabumi Hotel Kempinski

taken from: Kompas.com, 3 Januari 2009


Sumber: Kompas 3 Januari 2009

. Sabtu, 3 Januari 2009 | 01:28 WIBKawasan wisata di Sukabumi tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam yang indah nan asri, tetapi juga membawa wisatawan ke wisata sejarah karena sebagian besar tempat wisata itu dibangun pada zaman Belanda.
Di Selabintana yang terletak 7 kilometer dari kota Sukabumi, misalnya, wisatawan akan mendapatkan jejak sejarah peninggalan Belanda yang dipadu dengan panorama Gunung Gede-Pangrango. Hotel yang dibuat pada tahun 1900-an oleh seorang berkebangsaan Belanda tetap bertahan hingga kini dan masih menjadi ikon Selabintana.
Kawasan wisata Danau Lido juga dibuat pada zaman Belanda. Ketika itu pada tahun 1898, saat Belanda membangun Jalan Raya Bogor-Sukabumi, mereka mencari tempat untuk peristirahatan para petinggi pengawas pembangunan jalan dan pemilik perkebunan Danau Lido sendiri adalah danau alam yang letaknya di lembah Cijeruk dan Cigombong. Jika dilihat dari atas, Danau Lido seperti mangkuk di kaki Gunung Gede-Pangrango. Di dekat danau ini juga terdapat air terjun Curug Cikaweni yang mengalirkan air yang sangat dinginKawasan ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1940 setelah Ratu Wilhelmina datang dan beristirahat di Lido pada tahun yang sama. Ketika itu, restoran pertama diresmikan sebagai pelengkap fasilitas kawasan wisata dan juga untuk menjamu Sang Ratu.
Berbeda dengan Danau Lido, Situ Gunung bukanlah danau alam. Dari berbagai cerita rakyat setempat dan data dari pengelola taman wisata, danau ini ternyata buatan manusia Konon, pada tahun 1800-an, danau ini dibuat oleh bangsawan Mataram Rangga Jagad Syahadana atau Mbah Jalun (1770-1841). Tokoh ini merupakan buronan penjajah yang akhirnya menetap di kawasan Kasultanan Banten, tepatnya di kaki Gunung Gede-Pangrango.
Mbah Jalun merasa begitu bahagia ketika istrinya yang berasal dari Kuningan-Cirebon melahirkan seorang anak laki-laki, Rangga Jaka Lulunta. Perasaan bangga, bahagia, dan penuh syukur itu diwujudkannya dengan membangun Situ Gunung. Telaga Situ Gunung kemudian diambil alih oleh Belanda dan kemudian dibangunlah beberapa infrastruktur pada tahun 1850. Di kawasan ini pernah dibangun hotel dengan nama Hotel Situ Gunung. Kini di Situ Gunung tersedia penginapan yang cukup nyaman dengan fasilitas air panas. Apabila memilih berkemah, pelancong bisa membawa tenda sendiri atau menyewa tenda dari pengelola. Fasilitas mandi cuci kakus juga tersedia di areal perkemahan itu. (AHA/NEL/ARN)

----------- Rabu, 31 Desember 2008 | 05:20 WIB
Suasana di kota Taipei saat Desember yang dingin kental dengan nuansa Natal dan Tahun Baru. Kantor dan pertokoan di jalan utama, seperti Jhongsiao (Zhongxiao) Road, dihiasi jajaran pohon natal. Tidak seperti di Indonesia dan beberapa negara lain, Natal di Taiwan bukan hari libur. Aktivitas warga Taipei saat Natal berjalan seperti hari biasa saja. Tidak beda dengan hari biasa. Tahun Baru juga dirayakan biasa saja jika dibandingkan dengan Tahun Baru Imlek. Meskipun demikian, malam pergantian tahun 2008 ke 2009 tetap merupakan saat istimewa. Warga kota berpenduduk 2,6 juta jiwa itu akan dihibur pesta kembang api di Gedung Taipei 101. Gedung Taipei 101 yang tingginya 508 meter itu masih tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia. Sebagai pembanding, tinggi Monas sekitar 137 meter, atau seperempatnya saja.

Taipei 101

Pesta kembang api di Gedung Taipei 101 masuk agenda pariwisata Taiwan. Kota besar lain di dunia, seperti Paris (Perancis), Berlin (Jerman), dan Sydney (Australia), juga punya kebiasaan menyuguhkan pesta kembang api di penanda kota masing-masing, seperti di Menara Eiffel, Gerbang Brandenburg, atau di Gedung Opera Sydney Warna-warni kembang api saat detik-detik pergantian tahun 2007 ke 2008 di Gedung Taipei 101 dapat dilihat di situs Youtube.com. Dalam video berdurasi empat menit itu tampak kembang api warna-warni berhamburan dari setiap sisi gedung diiringi suara ledakan. Gedung itu seperti terbakar kembang api.
Saat kunjungan ke Gedung Taipei 101, Rabu (24/12), tiket untuk acara malam pergantian tahun sudah ditawarkan. Harga tiketnya lebih mahal daripada harga tiket reguler yang hanya 400 dollar Taiwan untuk dewasa, yaitu 700-1.350 dollar Taiwan. Uang 1 dollar Taiwan setara dengan Rp 350. Harga tiket termahal diperuntukkan bagi mereka yang ingin melihat matahari terbit pertama kali pada tahun 2009 dari gedung tertinggi itu.
Panitia penyelenggara menjanjikan pesta kembang api lebih spektakuler daripada tahun 2008. Biro pariwisata Taiwan menyebutkan, jumlah kembang api yang akan disulut mencapai 16.000 buah. Tema pesta kembang api tahun ini adalah merah, emas, dan hijau simbol keberuntungan, kekayaan, dan kecintaan terhadap lingkungan. Mei, seorang warga Taipei, mengatakan, sejak diadakan pesta kembang api di Gedung Taipei 101 lima tahun lalu, gedung itu selalu jadi pusat kerumunan manusia. Tua dan muda akan tumpah ruah memenuhi kawasan sekitar Gedung Taipei 101. Ekonomi bergerak di keramaian itu setiap tahun ”Ada ratusan ribu orang yang memenuhi lokasi di sekitar Taipei 101. Jalan-jalan menjadi sangat padat. Namun, setiap malam Tahun Baru saya lebih suka di rumah,” kata Mei, yang kalem. Ikon baru Gedung Taipei 101 berlokasi di Sinyi (Xinyi) Road Sector 5 dan merupakan magnet kota Taipei untuk menarik wisatawan. Tiga lantai khusus dibuka untuk wisatawan, yaitu lantai observasi tertutup di lantai 89, lantai observasi terbuka di lantai 91, dan alat penahan goncangan angin (wind damper) di lantai 88.
Untuk mencapai lantai itu, pengunjung menggunakan lift yang mampu melesat dari lantai 5 ke lantai 89 dalam waktu 37 detik. Rekor lift tercepat di dunia dipegangnya. Di ketinggian itu, pengunjung dapat melihat gedung-gedung utama di Taipei dan deretan pegunungan di utara, selatan, dan timur. Di fasilitas baru yang ditambahkan, pengunjung bisa ”berjalan di atas awan” karena lantai serta dindingnya memproyeksikan pemandangan di bawah Gedung Taipei 101 lengkap dengan awannya. Memenuhi nafsu belanja, disiapkan lima lantai di ruang dasar bangunan yang menawarkan merek-merek dunia. Sementara itu, semua penanda kota di dunia berbenah dan berhias menyambut Tahun Baru, Monas sebagai penanda kota Jakarta justru dijauhkan dari rakyatnya yang membayari pembangunan dan pemeliharaannya. Taman rusak dan antisipasi keamanan adalah alasannya.

Sumber:Kompas Artikel Terkait:
Di Gereja Tugu, Kebaktian Natal Diiringi Keroncong
Jumat, 2 Januari 2009
Memasuki kawasan Jakarta Utara, sejauh mata memandang hanya ada deru angkutan berat dan asap pabrik. Tapi siapa nyana, di tengah 'kandang' truk-truk besar itu, tepatnya di Semper Barat, terdengar irama keroncong didendangkan riang. Semakin mendekati daerah perkampungan penduduk di belakang Gereja Tugu, belasan orang berjoget mengikuti irama rancak keroncong Tugu.
Uniknya, tak hanya berjoget, mereka juga dijamu oleh tuan rumah yang didatangi dengan makanan dan minuman, biasanya bir. Saat masuk ke rumah sanak keluarga yang dikunjungi, mereka mengucapkan salam dengan berciuman pipi kiri dan kanan. Tak peduli laki-laki ataupun perempuan, mereka saling berciuman menunjukkan keakraban. Mereka menyebut tradisi saling mengunjungi dan bermusik ini dengan Rabo-rabo.
Tiap 1 Januari, tradisi Rabo-rabo ini dilakukan oleh keturunan orang Portugis yang pernah tinggal di Jakarta sampai sekarang. Arti Rabo-rabo adalah ekor karena penghuni rumah yang dikunjungi akan mengikuti rombongan pemain keroncong hingga rumah terakhir. Rombongan yang awalnya berangkat hanya 10-15 orang akan makin bertambah seperti mengekor panjang.
Setelah Rabo-rabo, pada hari Minggu pertama tahun baru diadakan pesta Mandi-mandi. Seperti dikatakan salah satu keturunan Portugis generasi ke-10 Saartje Margaretha Michiels (40), pesta ini akan diisi dengan saling mencoreng muka dengan bedak putih.
"Mandi-mandi ini simbol saling membersihkan diri dan saling memaafkan. Biasanya Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) akan mencoreng muka saudara yang paling tua, lalu dilanjutkan mencoreng muka satu sama lain di antara enam fam yang tersisa," ujar ibu dua anak ini. Yang tak boleh ketinggalan, dalam setiap acara keluarga besar orang Tugu selalu diiringi musik keroncong Tugu dan minum bir. Lagu-lagu yang dibawakan pun beragam. Tak hanya lagu daerah Ambon, Timor, tapi juga lagu pop modern dan Portugis, Belanda.
Kekhasan irama keroncong Tugu terletak pada semangat membangun suasana gembira. Alat musiknya sederhana, semacam gitar kecil berdawai lima yang disebut matjina (ukulele), djitera (gitar), suling, rebana, dan cello yang dimainkan dengan petikan.
Awalnya memang musik ini dimainkan ratusan warga keturunan tentara Portugis yang menjadi tawanan saat Malaka jatuh ke tangan VOC abad ke-16 (1590). Mereka yang berasal dari Bengali, Malabar, dan Goa itu dipindahkan ke Batavia. Sekitar tahun 1661, baru mereka dibebaskan dan diberi tempat di sebelah timur Batavia, yang sekarang secara administratif masuk Kelurahan Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
Sebutan kaum Mardijkers (Bahasa Belanda: dimerdekakan) melekat pada mereka dan agama mereka diganti dari Katholik menjadi Protestan. Dulu ada belasan fam dengan keturunannya memakai nama Belanda. Yang tersisa saat ini hanya enam fam, yakni Michiels, Andries, Abrahams, Browne, Quiko, dan Cornelis yang tak lain merupakan keturunan ke-9 tentara Portugis.
Berada di pembuangan, tentara Portugis itu tetap berusaha menciptakan suasana gembira di tengah penderitaan. Lahirlah irama rancak khas keroncong Tugu yang sampai sekarang masih dilestarikan keturunannya. Mereka juga sempat membangun Gereja Tugu pada 1678 yang hingga kini masih kokoh berdiri. Di samping gereja berarsitektur khas Portugis ini ada pemakaman keluarga yang selalu diziarahi setiap malam Natal dan Tahun Baru.
Setelah kebaktian Natal dan Tahun Baru, mereka akan mengunjungi makam leluhur. Bunga sedap malam, lily, aster ditaruh di vas besar samping nisan. Ada lilin dan colen (semacam lentera) di masing-masing nisan.
“Kalau malam, kuburan orang Portugis di samping gereja justru meriah karena cahaya lilin dan colen. Saat berziarah benar-benar syahdu dan khitmat, mengingat jasa leluhur yang telah menjadikan komunitas kampung Tugu ini. Ini sudah tradisi, jadi sampai kapan pun, kami akan tetap melestarikan,” ujar Estrelita Quiko (59).
Saat memasuki kompleks Gereja Tugu, sisa wangi bunga masih merebak baunya. Di tengah hembusan angin pesisir, senja di kompleks Gereja Tugu biasanya sudah penuh keluarga menyiapkan bunga dan lilin. Momen ini biasanya dipakai keluarga kampung Tugu yang tinggal di luar daerah itu untuk berkumpul.
Sapaan bung pada kakak laki-laki dan cici untuk kakak perempuan lekat di telinga, sedangkan koseng untuk kakak sepupu. Bahasa Portugis masih digunakan sepenggal-sepenggal dalam percakapan mereka. Berada di tengah mereka layaknya tinggal di perkampungan Portugis. “Kalau bahasa mungkin sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, hanya sapaan saja. Tradisi penggunaan bahasa Portugis sudah mulai luntur sejak tahun 1930-an, hanya beberapa orangtua generasi di atas kami yang masih sering menggunakan,” tutur Andre Juan Michiels (41) yang juga pemrakarsa lahirnya kelompok musik Keroncong Tugu.
Tradisi unik peninggalan Portugis tersebut saat ini melebur dalam kerasnya kehidupan kampung Tugu di tengah kawasan industri Jakarta Utara. Hanya ada dua bangunan kuno, yakni Gereja Tugu dan rumah keluarga keturunan Portugis, yang dirawat Andre sebagai saksi sejarah.
Perjalanan menyusuri kampung Tugu telah mengaitkan mozaik jejak tentara Portugis yang pernah juga tinggal di daerah timur Indonesia. Percampuran aneka kebudayaan itu menghasilkan komunitas kampung Tugu yang sudah mencapai generasi ke-11.
Berada di tengah bangunan beton dan angkutan alat berat, komunitas ini mencoba bertahan. Dulu warganya mengais rezeki dari mengambil hasil hutan dan perkebunan, sekarang menerima nasib dengan bisnis angkutan berat. Sisanya, mengambil jalan sebagai seniman keroncong Tugu demi menghidupkan tradisi. Pertanyaannya, sampai kapankah mereka bertahan dan tak tergerus roda yang mengatasnamakan “pembangunan” ini?/*

Sumber:Pikiran Rakyat
Maya Saputri
Awas! Tanaman Beracun Ada di Gasibu
Tya Eka Yulianti - detikBandung
Bandung - Dua tanaman beracun yang ditemukan Profesor Aseng Ramlan, menurut sang penemu sering ditemukan di taman-taman kota Bandung. Dirinya mengkawatirkan jika tanaman tersebut termakan oleh anak-anak.
"Anak-anak kan tidak tahu tanamannya seperti apa, takutnya dipotong-potong oleh anak-anak dan tidak sengaja getahnya termakan," kata Aseng kepada detikbandung di kediamannya di Jalan Bagus Rangin No 14, Bandung, Kamis (29/1/2009).
Menurut Aseng, getah yang terkena luka atau termakan oleh manusia dapat menyebabkan kelumpuhan pada tubuh manusia. Disinggung taman kota mana saja yang terdapat dua jenis pohon beracun, Aseng hanya menuturkan banyak ditemukan di seputaran taman kota. "Ya, pokoknya banyak, tuh di Gasibu juga ada," kata Aseng.
Dirinya berharap jika Dinas Pertamanan (Distam) Kota Bandung lebih memperhatikan mana tanaman yang seharusnya ditanam di taman dan mana yang tidak.
Saat ini Distam sedang melakukan penyelidikan terhadap tanaman beracun tersebut atas perintah wali kota Bandung. Sebelumnya Kadistam Kota Bandung yogi Supardjo memperkirakan tanaman yang dimaksud wali kota adalah Akasia Mangium yang dapat menyebabkan gatal dan sesak nafas.

Google

© COPYRIGHT 2005-2010 - Eddy S. Lee

banner