your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

Jargon :
Dictionary technical and architectural glossary

your adv here

 

powered by google

Related Link

Kliping Tahun 2002

Kliping Tahun 2007

KLiping Tahun 2008

 

Google
 
 
 
Kliping artikel arsitektur tahun 2005

compilled by author


Chandra Nadi, Klenteng Tertua di Palembang
Oktober 10, 2005
Keberadaan Kampung Kapitan dan sejarah masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.
Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.
Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.
Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.
Dewi penyembuh
Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.
Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.
Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.
Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.
Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.
”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.
Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.
Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.
Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.
Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.
Kini setelah 272 tahun berdiri, Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (eca) Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005 Wisata Gereja Tua Jakarta - Menggali Memori lewat Rumah Ibadah
Januari 9, 2005
JAKARTA – Gereja tua bukan saja sebagai rumah Tuhan umat Kristiani, namun juga mampu berperan sebagai kenangan di tengah modernisasi kota. Dari situ, gereja tua bisa jadi pengorek memori histori yang andal. Itu sebabnya, pelestarian gereja tua perlu mendapat perhatian. Sayangnya gereja tua ini terkesan hanya sekadar pajangan. Pasalnya pada hari kerja hanya dikunjungi wisatawan asing saja.
Sebagian besar warga kota hanya memandang gereja tua sebagai rumah ibadah. Ibarat penyakit menahun, pandangan sempit ini tak pernah pupus dalam diri. Selalu saja membuka jarak dengan posisi gereja tua. Alhasil tak ada keinginan untuk bergaul lebih dekat. Padahal bila ditelusuri, gereja tua mampu menguak sepenggal kisah unik Jakarta.
Bila penasaran, silakan buka catatan sejarah tentang keberadaan gereja tua di Ibu Kota. Saat bedah ilmiah selesai, kenapa tak mencoba melihatnya dari dekat? Membuktikan apakah catatan itu masih valid, atau malah sudah harus direvisi. Dengan cara ini, dijamin kita bakal terseret ke dalam permainan sejarah metropolitan ini.
Gereja Sion bisa jadi contoh pembuka. Gereja yang terletak di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya ini punya segudang memori. Dari kisah pembuatan, kemegahan arsitektur hingga kiat bertahan di tengah laju modernisasi kota. Adolf Heuken SJ - pengamat sejarah Jakarta – menyebutkan, dulu Gereja Sion ini disebut Gereja Portugis. Gereja ini punya nama Belanda, Portugeesche Buitenkerk. Artinya, Gereja Portugis di luar (tembok) Kota. Semasa Kompeni menguasai Batavia, dibangun tembok tinggi sebagai batas kota. Sampai awal abad ke-19 masih ada gereja Portugis lainnya, yang ada di dalam kota. ”Mulai tahun 1957, oleh sinode (rapat akbar), gereja ini resmi disebut Gereja Sion,” tutur Hadikusumo, kepala tata usaha Gereja Sion. Sion berasal dari bahasa Israel dan merupakan lambang bukit keselamatan. Jadi dipilih nama Sion dengan harapan, setiap jemaat akan diberkati sehabis beribadah di sini. Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja. Gereja dibangun dengan fondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Konstruksi ini berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. ”Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas,” cerita Hadikusumo, pria ramah asal Yogyakarta. Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32 meter persegi. Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18 meter persegi. Gereja mampu menampung 1.000 jemaat. Sedang luas tanah seluruhnya 6.725 meter persegi. Menurut Heuken, Gereja Portugis termasuk gereja bangsal (hall church). Gereja ini membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang. Interior Boleh dibilang Gereja Portugis merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan. Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang sama juga. Sudah pasti, gedung ini termasuk bangunan budaya yang amat bernilai. Dari catatan Heuken, Gereja Portugis pernah dipugar pada 1920 dan sekali lagi pada 1978. Jika melongok ke bagian dalam, ada mimbar unik bergaya Barok. Salah satu perabot asli gereja ini merupakan persembahan indah dari H. Bruijn. Letaknya ada di bagian belakang bersama bangunan tambahan. Mimbar ini bertudung sebuah kanopi, yang ditopang dua tiang bergulir dengan gaya rias Ionic serta empat tonggak perunggu. Beberapa kursi berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih juga dipakai. Dilengkapi meja kayu, kursi-kursi itu dipakai untuk kepentingan rapat gereja. Tak ketinggalan acara sidang pencatatan sipil bagi anggota jemaat yang akan menikah secara gerejawi.
Selain itu, ada organ seruling (orgel) gereja yang sampai sekarang masih terawat baik. Organ ini diletakkan di balkon yang disangga empat tiang langsing. Kata Hadikususmo, organ pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor ini terakhir kali dipakai pada 8 Oktober 2000. Waktu itu, komponis Marusya Abdullah Nainggolan memainkan organ untuk mengiringi ibadah Minggu.

Gereja Sion dibangun sebagai pengganti sebuah pondok terbuka yang sangat sederhana. Pondok ini sudah tak memadai bagi umat Portugis yang berasal dari Malaya dan India untuk beribadah di zaman baheula itu. Sebagai tawanan, mereka ini dibawa ke Batavia oleh perusahaan dagang termasyhur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku.

Dari catatan sejarah, Gereja Sion beberapa kali sempat terancam. Pada masa pendudukan Jepang, bala tentara Dai Nippon ingin menjadikan gereja ini tempat abu tentara yang gugur. Tahun 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

Soal perawatan, Hadikusumo hanya menyebut satu sumber, sumbangan para jemaat. Berkurangnya wilayah hunian sekitar gereja mau tak mau mengurangi sumber pendapatan. Itu sebabnya, Hadikusumo berharap ada campur tangan Pemerintah dalam memelihara gereja. Padahal, bila melihat buku tamu, setiap hari gereja yang dilindungi lewat SK Gubernur DKI Jakarta CB/11/1/12/1972 ini selalu dikunjungi wisatawan mancanegara. Kebanyakan mereka datang dari wilayah Eropa, seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Austria, Prancis, Denmark, Swedia dan lainnya.

Dari Gereja Sion, kita bisa mengarahkan tujuan ke daerah Pejambon, tepatnya Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Di sini, ada sebuah gereja tua yang berdiri gagah di seberang stasiun kereta, Gambir. Gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia ini disebut Gereja Immanuel. Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Tepat empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini ditahbiskan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda. Pada gedung gereja dicantumkan nama ”WILLEMSKERK”.
Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.
Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah.

Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Organ yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di Negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, organ ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik. (SH/bayu dwi mardana) Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/014/wis01.html

Gereja Katedral Ujung Pandang
Januari 9, 2005
Gedung gereja katolik tertua di kota Ujung Pandang dan wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara ini, didirikan pada tahun 1898, pada permulaan masa kedua (1892 - sekarang) kehadiran Gereja Katolik di Makassar (masa I : 1525 - 1668). Maka sejarah bangunan ini sekaligus merupakan sejarah Gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Masa I : 1525 - 1668 pertama kali disinggahi 3 pastor misionaris asal Portugal (Pastor Antonio dod Reijs, Cosmas de Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder) pada tahun 1525. Namun baru pada 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan tinggal menetap di Makassar untuk melayani para saudagar Portugis yang Katolik serta beberapa raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang juga sudah dibaptis Katolik; saudagar kayu cendana Portugis, Antonio Payva, berhubungan baik dengan Raja Suppa dan Raja Pangkajene.

Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam (22 September 1603), Sultan Alauddin (1591-1638) dan beberapa raja penggantinya seperti Sultan Mohamed Said memberi kebebasan kepada orang-orang Katolik mendirikan gereja (1633). Atas anjuran Sultan, Bangsawan Karaeng Pattingaloang yang juga seorang intelektual banyak bekerja sama dengan misionaris, juga seorang intelektual banyak bekerjasama dengan misionaris, juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Milles seorang sejarawan yang tidak Katolik dalam catatannya pada tahun 1560, menulis bahwa ada sekitar 50.000 orang Katolik di pulau-pulau bagian timur.

Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC (1641). 40 imam dan sekitar 20.000 orang Katolik diperintahkan meninggalkan Malaka; sekitar 3.000 orang dan beberapa Pastor pindah ke Makassar (1649). Demi monopoli dagang VOC (perjanjian Batavia, 19 Agustus 1660) mengharuskan Sultan Hasanuddin mengusir semua orang Portugis dari Makaasar (1661); Sultan mengatur dengan baik keberangkatan orang-orang Portugis itu, dan atas bantuan Sultan baru pada 1665 Pastor Antonio Francesco, pastor terakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio Francesco, pastor teakhir meninggalkan Makassar, dan Bruder Antonio de Torres yang mengasuh suatu sekolah kecil untuk anak laki-laki meninggalkan Makassar pada 1668 karena pecahnya perang. Sejak itu selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar, orang-orang Katolik yang masih ada, hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.

Masa II: 1892 - sekarang. Tahun 1892, Pastor Aselbergssj, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal pada suatu rumah mewah di Heerenwerg (kini Jl. Hasanuddin); 1895 di beli tanah dan rumah di Komedi straat (kini Jl. Kajaolalido, yang adalah tempat gedung gereja sekarang. Gereja dibangun pada tahun 1898 selesai 1900; direnofasi dan diperluas pada tahun 1939, selesai pada 1941 dengan bentuk seperti sekarang.

Pada Tanggal 19 Nopember 1919 misionaris Jesuit diganti oleh misionaris MSC, ketika dibentuk Prefektur Apostolik Sulawesi, dengan Mgr. Vesters sebagai prefek yang berkedudukan di Manado. Pada Tanggal 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Pada tanggal 13 mei 1948 menjadi Vikoriat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar, sampai sekarang : Mgr. Nicolaus Martinus Schneiders cicm (1961 - 1973), Mgr. Dr. Theodorus Martinus Schneiders cicm (1973-1981), Mgr. Dr. Frans van Roessel cicm (1981/1988 - 1995), Mgr. Dr. John Liku-Ada pr. (1995 - sekarang). Sejak gereja ini menjadi Stasi dan Paroki (7 September 1892) sampai (19 Oktober 1997), ada 61 pastor yang pernah melayaninya (pastor paroki dan pastor pembantu), ada 14.860 orang baptis, dan 2567 pasangan pengantin diberkati di gereja ini

Sumber: http://www.geocities.com/capitolhill/5796/sejarah1.htm

Kelenteng Wan Ji Sie Jakarta
Januari 7, 2005
Sejarah Kelenteng Sentiong (Kelenteng Kuburan Batu) atau Kelenteng Wan Jie Si, sama sekali berbeda. Kelenteng ini terletak di Jl. Lautze no. 38 dan dalam bahasa Indonesia disebut Vihara Buddhayana. Sejarah bangunan ini menjelaskan banyak segi unik dari kelenteng ini yang sama sekali tidak tampak seperti bangunan Tionghoa. Kenapa?

Pada tahun 1736 Frederik Julius Coyett, seorang anggota Dewan Hindia, mendirikan sebuah rumah peristirahatan dalam taman luas diluar Kota. Rumah ini dibangun disisi barat ‘Jalan raya ke selatan’ yang kini disebut Jalan Gunung Sahari. Pada tahun 1733 F.J. Coyett mengepalai sebuah utusan resmi ke Istana Susuhunan di Kartasura. Anggota rombongannya C.A. Lons, mengunjungi reruntuhan candi Prambanan dan dua patung Buddha dari Kalasan. Ia menghadiahkan patung- patung itu kepada tuannya, Coyett. Sumber lain mengatakan bahwa Coyett membawa patung-patung itu dari Srilangka juga. Ia memasang beberapa patung pada tembok rumah barunya, dan tempat lain dalam kebunnya yang luas. Patung-patung ini akan memainkan peranan penting dalam sejarah masa depan rumah ini.

Pada hari terakhir hidupnya (1736) Coyett yang tidak mempunyai anak menikah dengan G.M. Goossens, Wanita cantik dan kaya. Dia adalah janda M. Westpalm, yang batu nisannya dapat dilihat di Taman Prasasti. Tahun berikutnya Ny. Goossens menikah lagi dengan Johannes Thedens, Gubernur Jendral Batavia 1740-1743. Ny. Goossens menjual rumah dan kebun yang diwarisi Coyett itu beberapa tahun sebelum meninggal. Rumah besar itu berganti-ganti pemilik lagi sampai diperoleh oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel (1761).

Pemilik rumah berikutnya Simon Josephe membeli rumah Sentiong sebagai obyek spekulasi semata. Ia menjualnya dengan harga mahal kepada Kapten Tionghoa Lim Tjipko. Dalam ‘Kronik Sejarah Tionghoa’ di Batavia dicatat:
Pada tahun 1760 kapten kaum Tionghoa bersidang bersama letnan-letnannya guna memperoleh pekuburan baru. Mereka meminta semua warga memberi sumbangan untuk mendapatkan ‘taman gubernur’ di Golong Sari (Gunung Sahari), dimana terdapat kelenteng Buddhis dengan banyak patung dari batu, yang dahulu dibuat oleh orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa bergembira, bahwa mereka dapat membeli tanah ini …

Pada tahun 1888 rumah ini menjadi milik resmi Gong guan atau ‘Dewan orang-orang Tionghoa’. Dua segi khas kelenteng ini perlu diperhatikan. Kelenteng ini semula dibangun sebagai rumah peristirahatan Belanda, dan kini dewa-dewa Hindu-Jawa disembah dalam sebuah kelenteng yang pada dasarnya Buddhis.
Karena rumah peristirahatan Belanda ini menjadi kelenteng Buddhis pada akhir abad ke-18, maka tiada lagi barang-barang antik, selain patung-patung tersebut yang mungkin berasal dari abad ke-8 atau ke-10.
Sebuah tambahan yang menarik pada Kelenteng Wan Jie Si ini telah dibongkar. Diseberang pintu masuk, dihalaman Club Indonesia AA, sejak awal abad ini pernah terdapat Kramat Kuda, sebuah keramat kecil, tempat pemujaan sinkretis. Sebuah patung Dewa Hindu Kuwera dari abad ke-10 ditemukan kembali di tempat ini pada tahun 1904 diantara akar-akar sebuah pohon besar. Pada tahun 70-an patung tersebut hilang begitu saja. Pada umumnya, barang-barang kuno yang bertalian dengan ibadat Hindu dan Tionghoa di Jakarta belum dipelihara dan dilindungi sebagaimana mestinya.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/wanjisie.htm ------------------------------------------------------------------------------------------
Kelenteng Da Bo Gong Jakarta Januari 7, 2005 Meskipun seusia dengan kelenteng Jin-de Yuan di Glodok, Kelenteng Da-ba-gong (Kelenteng Ancol) mempunyai latar belakang yang berbeda. Kelenteng ini dalam bahasa Tionghoa disebut Da-bo-gong miao atau Kelenteng Da-bo-gong. Dewa Da-bo-gong identik dengan dewa yang telah disebutkan dalam hubungan dengan kelenteng Jin–de yuan, yaitu Fu-de zheng-shen, ‘Dewa bumi dan kekayaan’. Biasanya Da-bo-gong digambarkan bersama istrinya (Bo-pong). Dari Da-bo-gong atau Toa-pe-kong (lafal Hokien) muncul istilah bahasa Indonesia untuk patung–patung dewa Tionghoa, yaitu ‘topekong’.

Terdapat dua kelenteng lain teruntuk dewa yang sama, yaitu kelenteng di Tanjungkait (dari sekitar tahun 1792) di utara Tangerang dan kelenteng You-mi-hang-hui di Jl. Pejagalan II (dari tahun 1823).

Ada sesuatu yang mengherankan mengenai kelenteng ini. Orang Tionghoa tidak boleh membawa daging babi kedalam pekarangan kelenteng. Mengapa? Ini bertautan dengan ciri khasnya: Kelenteng Ancol adalah tempat keramat ganda. Pada zaman dahulu, orang Tionghoa dan orang Islam keduanya beribadat ditempat yang sama. Jadi tempat ini merupakan kelenteng Tionghoa dan sekaligus tempat keramat bagi orang Islam. Tempat keramat ganda seperti kelenteng Ancol, juga ditemukan di Semarang (Gedung Batu) dan Palembang (Pulau Kemarau). Ada sebuah cerita yang patut disimak tentang kelenteng ini.
Suatu ketika seorang jurumudi jung Tionghoa tiba ditempat ini dan jatuh cinta dengan seorang ronggeng sunda. Karena wanita ini seorang Muslimat, maka sebelum menikah mereka berjanji satu sama lain, bahwa mereka tidak akan pernah makan daging babi yang dianggap haram oleh kaum Muslim dan petai yang oleh orang Tionghoa totok dianggap menjijikan karena baunya. Itulah sebabnya para dewa akan marah jika seseorang membawa kedua jenis makanan tersebut kedalam kompleks kelenteng.

Suatu hari juru mudi tersebut hendak berlayar jauh, maka ia menyuruh seorang yang bernama Kong Toe Tjoe Seng membangun sebuah kelenteng dan menjaganya selama seratus tahun. Tetapi sebelum kelentang ini selesai, juru mudi tersebut dan istrinya Sitiwati meninggal. Mereka dikuburkan dalam kelenteng bersama-sama dengan adik istrinya Ibu Mone. Nama tiga orang ini terdapat dalam ruang utama pada altar-altar dengan beberapa patung. Tetapi terdapat sebuah makam lain tanpa patung, yaitu makam pembangun kelenteng Kong Toe Tjoe Seng. Sebelum meninggal ia berubah bentuk menjadi Toa Pekong atau Da-bo gong, inkarnasi dari Dewa Bumi, dewa utama kelenteng Ancol.

Majikan juru mudi tersebut disebut Sampo Toa Lang atau Sampo Tai Jin, yang diartikan oleh orang setempat sebagai ‘Yang Dituankan’ atau ‘Orang Tersohor’. Dia mendaratkan kapalnya dekat Semarang di Jawa Tengah antara tahun 1405 dan 1413. Jangkar kapal ini dipertunjukan di kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu di Semarang. Inilah pokok tradisi kedua kelenteng ini.

Ruang utama kelenteng ini dipersembahkan kepada Da Bo Gong dan istrinya Bo Pong, keduanya dipandang sebagai wujud sepasang suami-istri yang dikuburkan disana. Disebelah kanan tampak patung Wang Zhu Cheng, seorang perwira yang katanya ditinggalkan Laksamana Zheng Ho. Laksamana ini dikenal sebagai Kasim atau Sida-sida Agung dari Zaman Wangsa Ming, yang didewakan sebagai Sampo Tai Jin di Kelenteng Gedung Batu di Semarang. Zheng Ho adalah putra seorang haji dan banyak perwiranya yang beragama Islam juga. Hal ini dapat menerangkan sifat ganda Kelenteng Ancol.

Sebatang papan kayu horisontal dari tahun 1756 memuat nama serta jabatan tokoh-tokoh Tionghoa di Batavia sesudah pembantaian massal tahun 1740. Papan ini dapat dilihat diatas altar utama dalam ruang utama. Salah satu dari papan nama yang terpasang diatas meja besar pada pintu masuk bahkan lebih tua, yakni dari tahun 1755. Masih terdapat banyak papan dari kayu dan batu dalam kelenteng ini dan kebanyakan berasal dari abad ke-19. Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/jindeyuan.htm ------------------------------------------------------------------------------------------
Kelenteng Jin De Juan Jakarta
Januari 7, 2005
Sekitar tahun 1650 letnan Tionghoa Guo Xun-guan mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan-yin di Glodok. Guan-yin adalah dewi belas kasih Buddhis, yang lazim dikenal sebagai Kwan-Im. Kelenteng tersebut dinamakan Guan-yin Ting atau Kelenteng Kwan-Im. Kata Tionghoa ‘yin ting’ ini diubah kedalam bahasa indonesia klen-teng, yang kini menjadi istilah lazim bagi semua tempat ibadat Tionghoa di Pulau Jawa. Pada tahun 1755 seorang kapten Tionghoa menamai kembali kelenteng yang telah dipugar itu dengan nama Jin-de Yuan - Kelenteng “Kebajikan Emas”. Orang setempat menyebut kelenteng ini Kim Tek I. Pada dasarnya kelenteng ini bercorak Buddhis, dahulu delapan belas orang biksu tinggal di kelenteng ini. Namun demikian, beberapa unsur Taois ditemukan juga.
Jika kita berdiri di halaman luar yang dikelilingi tembok - setelah melewati pintu gerbang pertama di selatan - disebelah kiri terdapat tiga kelenteng sekunder dan modern: Hui-ze Miao (kelenteng untuk leluhur Hakka), Di-cang-wang Miao (dipersembahkan kepada Raja Neraka) dan Xuan-tan Gong atau Vihara Dharma Sakti, yang dipersembahkan kepada dewa pemberi kekayaan. Lalu, kita masuk kehalaman kedua dimuka kelenteng utama dan melihat dua singa (bao-gu shi) yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok Selatan (1812). Sebuah pembakar kertas (uang kelenteng) yang disebut jin-lu, berdiri di bawah atap bertingkat. Jin-lu tertua ini sekarang diletakan di halaman belakang. Pada alat itu tertera dibuat di Kwangtung pada tahun 1812.

Gedung utama Kelenteng Jin-de Yuan rupanya dibangun sesudah tahun 1740, karena kelenteng yang lama ikut dihancurkan pada tahun itu. Ujung-ujung atap gedung induk dengan genteng yang bagus melengkung keatas, dihiasi dengan naga-naga dan berbagai patung porselin. Bagian muka kelenteng ini agak rumit. Pintu ganda utamanya dilukisi gambaran penjaga (men-shen). Kedua jendela bundar dari ukiran kayu yang tembus pandang, melambangkan qi-lin, binatang menakjubkan yang menyerupai kuda bercula satu. Binatang ini dianggap lambang keberuntungan yang luar biasa. Gambar timbul modern disebelah kanan dan kiri melukiskan burung phoenix dan naga, simbol kaisar dan ratu. Empat lentera menghiasi ruang depan ini. Tulisan horisontal pada papan kau diatas pintu masuk menunjukan nama kelenteng ini. Diatas pintu masuk disebelah dalam, didalam sebuah kotak tampak patung San-yuan, Kaisar Tiga Dunia. Patung dewa Taois ini mungkin berasal dari abad ke-17.
Diruang tengah - ta tieng - tampak banyak patung buddhis yang berkualitas baik, namun berasal dari sebelum tahun 1740. Pada tembok kanan dan kiri bagian tengah dipasang kotak berkaca dengan delapan belas patung Arahat atau Luohan. Tiga patung besar dibelakang patung Kwan-Im pada tembok belakang melambangkan San-zun Fo-zu, semacam tritunggal Buddhis, yang disertai sejumlah patung lebih kecil, yang sebagian berasal dari abad ke-18.

Dalam gedung samping kiri terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Nama mereka masih tertulis pada beberapa lempeng batu. Dalam kamar pertama terpasang altar paling tua dari seluruh kelenteng. Kamar kedua diisi dewa Taois Fu-de Zheng-shen (atau Hok-tek Tjen Sin) - Dewa bumi dan kekayaan. Dialah dewa yang paling dihormati di Jakarta, karena orang Tionghoa pada jaman dahulu bekerja sebagai pedagang dan petani.

Di gedung belakang, dalam kamar sembahyang tengah, terdapat patung seorang dewa setempat yang dihormati. Nama dewa itu Tikhai tjindjin atau Ze-hai Zhen-ren - ‘Penjaga abadi pelindung laut&’. Nama sesungguhnya adalah Kwe Lak Kwa, seorang pedagang. Sebuah lonceng buatan tahun 1825 dipojok kanan halaman belakang merupakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Akhirnya di sayap kanan, dua kamar sembahyang diisi sebuah altar untuk menghormati Qing-shui Zu-shi, ‘Tuan karang terjal yang disebut Qing-shui Yan’. Nama sesungguhnya Chen Pu-zu dan dihormati juga di kelenteng Tanjungkait di utara Tangerang.

Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/jindeyuan.htm Kelenteng Boen Tek Bio, Tangerang
Januari 7, 2005 Berbicara tentang Kelenteng Boen Tek Bio (Padumuttara) tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang.

Mengenai kedatangan orang Tionghoa pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan. Perahu rombongan Halung terdampar dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.

Rombongan Halung ini membawa tujuh kepala keluarga dan diantaranya terdapat sembilan orang gadis dan anak-anak kecil. Mereka kemudian menghadap Sanghyang Anggalarang untuk minta pertolongan. karena gadis-gadis yang ikut dalam rombongan itu cantik-cantik, para pegawai Anggalarang jatuh cinta dan akhirnya kesembilan gadis itu dipersuntingnya. Sebagai kompensasinya, rombongan Halung diberi sebidang tanah pantai utara Jawa di sebelah timur sungai Cisadane, yang sekarang disebut Kampung Teluk Naga. Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. VOC yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama: Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren dsb. Disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang. Berdirinya Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan sekitar tahun 1750. Para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang. Sebagai tuan rumah kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Selain Dewi Kwan Im di sebelah kiri dan kanan kelenteng ini juga dibangun tempat untuk dewa-dewa lain. Berbeda dengan kebanyakan kelenteng yang ada di Indonesia maupun yang ada di negri Tiongkok, Kelenteng Boen Tek Bio mempunyai satu tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yaitu apa yang dikenal dengan nama Gotong Toapekong. Setiap 12 tahun sekali yaitu saat tahun Naga menurut kalendar China, didalam Kota Tangerang berlangsung arak-arakan joli Ka Lam Ya, Kwan Tek Kun dan terakhir Joli Ema Kwan Im. Pesta tahun Naga ini dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai dan Wayang Potehi yang berhasi menyedot ribuan pengunjung. Pesta ini terakhir kali diadakan tahun 1976. Disamping acara gotong Toapekong, sejak tahun 1911 para umat Boen Tek Bio menyelenggarakan pesta Petjun yang diadakan di Kali Cisadane, yaitu perlombaan balap perahu naga. Perlombaan ini berlangsung sekitar bulan Mei-Juni saat musim kemarau dimana air sungai jernih dan tenang. Setelah peristiwa G-30 S/PKI, acara Petjun dilarang pemerintah. Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/boentekbio.htm Kelenteng Sam Po Kong, Semarang Januari 7, 2005
Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana China bernama Zheng Ho (Cheng Ho) atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, didalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.
Menurut cerita, Laksamana China bernama Zheng Ho sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa, Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. karena ia tertarik dan merasa tenang ditempat itu, ia memutuskan untuk sementara waktu beristirahat dan menetap ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Konon, setelah Zheng ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng Ho memberikan pelajaran bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng Ho memberikan pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur - nenek moyang.

Sehingga setalah Zheng Ho meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng Ho guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.

Siapakah Zheng Ho ? Dalam buku Amen Budiman ‘Semarang Riwayatmu Dulu I’ halaman 10 ditulis bahwa Zheng Ho adalah seorang Islam, dilahirkan di daerah K’un Yang di kawasan Yunnan tengah. Dari sebuah batu bersurat yeng terukir diatas makam ayahnya yang berada didaerah itu dapat diketahui bahwa ayahnya adalah seorang Ha-tche, sedang nama keluarganya adalah Ma. Seperti juga ayahnya, kakeknya juga disebut Ha-tche. Adapun nama Ha-tche tidak lain adalah merupakan salinan dari kata Haji. Dengan demikian jelas sekali, bahwa baik ayah maupun kakek Zheng Ho adalah orang Islam dan Telah menunaikan rukun Islam yang kelima. Menurut Ir. Setiawan dalam bukunya ‘Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang’, dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid. Zheng Ho mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng Ho lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai Kam. Karenanya Zheng Ho sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.

Meskipun diatas disebut bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya. Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960. Sumber: http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/kelenteng/sampokong.htm Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dengan Gaya Arsitektur Cina
Januari 20, 2004 MENCARI bangunan seperti kelenteng yang bergaya arsitektur Cina tentu tidak sulit di beberapa daerah di Indonesia. Namun, masjid yang berarsitektur Cina pastilah jumlahnya sedikit sehingga sulit ditemukan. Lalu, di mana gerangan masjid dengan gaya arsitektur Cina itu? Kalau berkunjung ke Kota Surabaya, anda akan menemukan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang dibangun dengan arsitektur Cina. Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri, menjadi satu di antara tiga mesjid di Surabaya yang disarankan oleh Dinas Pariwisata Surabaya untuk mendapatkan prioritas sebagai objek wisata rohani maupun wisata umum. Dua masjid lainnya, masing-masing Masjid Ampel yang termasuk masjid tertua di Surabaya serta Masjid Agung Surabaya (MAS). Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo , Ustad Drs H Burnadi ketika menerima rombongan ibu-ibu yang secara khusus melakukan silaturahmi Sabtu pekan lalu menuturkan, memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan,”kata ustadz yang memiliki nama asli Tjhia Sin Hak ini. Sedangkan untuk memperingati Imlek, menurut Burnadi tidak ada peringatan secara khusus, karena masjid ini sebagai tempat ibadah. ”Kalau ada warga keturunan yang mau melakukan sujud syukur di masjid ini, selalu terbuka,” katanya. Dia menjelaskan, Masjid Muhammad Cheng Hoo selalu terbuka untuk semua golongan. Burnadi menyebut contoh ketika masjid dipergunakan untuk Sembahyang Tarawih pada bulan Ramadhan, para jemaahnya melakukan sholat 11 rakaat dan 23 rakaat secara berurutan. (Sholat sebelas rakaat dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sedangkan sholat 23 rakaat dilakukan oleh Muhammadiyah).

Setiap Jumat tuturnya, masjid ini tidak mampu menampung luberan jamaah yang melakukan sholat Jumat. Karena itu, Takmir menyiapkan tenda dalam ukuran sebesar dua kali lapangan bola basket.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yeng terletak di jalan Gading, tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kusumabangsa, Surabaya ini, merupakan masjid pertama yang dibangun dengan gaya arsitektur Cina di abad ke-20 ini, mirip Klenteng tempat ibadah umat Tri Dharma.

Masjid ini bernaung dibawah Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) d/h Persatuan Islam Tionghwa Indonesia) Korwil Jawa Timur. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang memiliki areal seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 orang jemaah ini, memang terletak pada arsitekturnya.

Mirip Nie Jie Beijing Rancangan awal Masjid Cheng Hoo diilhami dari bangunan Masjid Nie Jie di Beijing. Warna-warna merah , kuning dan hijau sangat menonjol membalut bangunan masjid, mulai dari dinding, pilar, genteng. Selintas seperti sebuah bangunan klenteng. Tetapi sebuah bedug berukuran sedang di teras menunjukkan ciri khas masjid. Arsiteknya Ir Aziz dari Bojonegoro kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasn dan Pembangunan masjid dari PITI (Perhimpunan Iman Tauhid Indonesia) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Bangunan utama memiliku ukuran sebelas kali sembilan meter. Disamping itu terdapat delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka-angka itu menurut Sekretaris Korwil PITI Jatim, H.S.Willy Pangestu kepada Pembaruan, memiliki mana tersendiri. Angka sebelas untuk ukuran Kakbah saat baru dibangun. Angka sembilan melambangkan Wali Songo yang menjebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sedangkan angka delapan, melambangkan Pat Kwa atau keberuntungan dan kejayaan. Masjid yang dibangun mulai 10 Maret 2002 ini dengan mempergunakan bahan baku lokal ini, selesai pada 13 Oktober tahun 2002 lalu dengan beaya sebesar Rp 700 juta. Mengenai arsitektur khas Cina yang menjadi pilihan menurut Willy, tidak terlepas dari era keterbukaan yang mulai mengijinkan peringatan Imlek serta berbagai bentuk kesenian Cina ditampilkan kembali. Nama Muhammad Cheng Hoo, menurut Willy sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee atau dikenal dengan nama Ma Zheng He. “Bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih dikenal dengan nama Sam Poo Kong bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang,”katanya. Ekspedisi Laksamana HM.Cheng Hoo ( tahun 1405 - 1433 M) untuk keliling dunia membuka “Jalur Sutera dan Keramik”, selalu melintasi Indonesia. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi antara lain, Pulau Jawa, Palembang, Aceh, Lamuri, Batak, Lide, Pulau Aru, Tamiang, Pulau Brass, Pulau Lingga, Kalimantan, Pulau Gelam, Pulau Karimata, Beliton. Bahkan di Jawa, Panglima perang sekaligus muslim yang saleh, Laksamana H Muhammad Cheng Hoo bersama anak buahnya mendirikan sejumlah masjid dan mushola. Ekspedisinya melewati Indonesia, ketika masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Samboja di Palembang, Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Sebetulnya, Cheng Hoo sudah pernah membangun masjid di beberapa tempat dalam perjalanan ekspedisinya lain Masjid di Gedung Batu Semarang yang sekarang dikenal menjadi Klenteng Sam Poo Kong dan beberapa musholla di Ancol Jakarta, Cirebon Jawa Barat, dan di pantai utara Jatim mulai Tuban, Gresik, Surabaya (Klenteng Makam Mbah Ratu) dan di Bangil, Pasuruan.

Willy mengakui PITI Kabupaten Sidoarjo berminat untuk membangun masjid dengan arsitekur Tionghoa. ”Ada gagasan seperti itu, tetapi masih menunggu waktu dan dana yang cukup,” katanya. Kegiatan Imlek menurut Willy bukan milik warga keturunan Tionghoa yang beragama Tri Dharma, tetapi milik warga keturunan Tionghwa dengan agama apapun.”Imlek bukan acara ritual, tetapi merupakan suatu aktifitas budaya, yang belakangan bisa diselenggarakan secara terbuka” katanya.

Willy berharap, Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo ini dapat dijadikan sebagai sentral kegiatan ibadah maupun kegiataan keagamaan lainnya bagi PITI. Misalnya penelitian dan pengembangan dakwah Islamiah, menyelenggarakan Majelis Taklim dan kajian agama, pelayanan kesehatan dan usaha sosial lainnya.

PEMBARUAN/EDI SOETEDJO Sumber: Suara Pembaharuan Daily, 20 januari 2004 Gereja Sion, Gereja Tertua di Jakarta
Desember 23, 2003
“Gereja tua ini ditopang 10.000 kayu dolken bulat sebagai fondasi bangunan, ya, semacam pasak bumilah untuk ukuran zaman sekarang,” kata Hadikusumo, jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat Sion, Jakarta Barat.

Berkat fondasi itu, kata Hadi, gedung tua ini tetap tegak berdiri sampai saat ini. Bahkan, gempa bumi besar yang menjalar sampai ke Australia Selatan, Sri Lanka, dan Filipina, akibat letusan Krakatau pada Agustus 1883 tak sedikit pun meretakkan gereja ini. Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.

Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal. “Batu nisan itu berasal dari India dan bernama Koromandel, mungkin nama tempat asal batu itu,” kata Hadi.
Melayangkan pandangan ke altar gereja, hanya keagungan Tuhan semata yang terucap. Betapa tidak, interior Gereja Sion sangat menakjubkan. Terlebih lagi, kanopi berukuran besar dengan bentuk atap menyerupai mahkota, yang konon berasal dari bongkaran Gereja Kubah, Jakarta. Tepat di bawah kanopi terdapat mimbar bergaya Barok, yang hampir serupa dengan mimbar Gereja Katedral. Menurut Hadi, mimbar ini bergaya Katolik yang sekarang jarang digunakan. Ornamen pada sisi bawah mimbar berbentuk kepala malaikat lengkap dengan sayap yang dicat serupa warna kulit manusia.
Bagian depan gereja sisi utara, ada balkon yang memuat orgel gereja. Menurut Hadi, orgel ini hibah putri Pendeta John Maurits Moor, pada abad ke-17. Orgel ini masih dapat digunakan sesuai mekanisme aslinya, hanya saja pemompa orgel kini tak lagi diengkol dengan tenaga manusia. Orgel ini terbuat dari kayu terukir dengan pipa-pipa besi di dalamnya.
Enam tiang besar menopang langit-langit yang berbentuk lengkungan. Ada pula, empat kandelar kuningan, kandil tempat lilin yang kini digantikan lampu bohlam. Kandelar itu dipesan dari India dengan lambang singa, perisai, dan pedang sebagai lambang Kota Batavia. Lantai gereja tersusun dari ubin granit berwarna keabuan. Menurut skala peta Gunter W Holtorf, Gereja Sion hanya berjarak 200 meter barat kompleks pertokoan Mangga Dua dan bukan mustahil perluasan kompleks Mangga Dua akan merambah ke Gereja Sion. (K01)

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Desember 2003
Kanibalisme Gedung Kuno di Era Modern
Desember 14, 2005
Oleh: Pudjo Koeswhoro Juliarso
KANIBALISME di era modern ini masih terjadi terhadap eksistensi bangunan kuno bersejarah. Sementara itu teknologi modern terus membangun, serta temuan bahan bangunan sudah berkembang pesat.

Kanibalisme sering dikonotasikan perbuatan saling memangsa melalui cara memenggal, menyayat, dan menguliti. Bahkan, saling menusuk lawan dan dilakukan oleh kekuatan hukum rimba. Tidak ada aturan jelas yang patut dipatuhi. Homo homini lupus layaknya hukum rimba berlaku atas diri sendiri yang memiliki kekuatan (power) meruntuhkan dan menghancurkan yang ada di depan dirinya. Menelantarkan, bahkan membiarkan roboh, hancur serta merusak secara perlahan-lahan, merupakan modus yang dapat ditengarai sebagai upaya “menghilangkan nyawa” di badan bangunan kuno. Kerap terdengar rintihan bahkan jeritan para pengagum bangunan kuno bersejarah untuk mempertahankan eksistensi aset sejarah kota. Namun, tidak berdaya (powerless) dan ketiada harapan (hopeless) menghadapi pemilik atau investor serta pemimpin kota yang menutup mata dan hatinya terhadap tindakan penghancuran bangunan kuno bersejarah.

Keberadaan suatu bangunan kuno di kawasan Kota Lama dan sekitarnya sangat penting bagi kehidupan jiwa kawasan sebuah kota (spirit of place). Nampaknya, nasib kehidupannya satu persatu mengalami kehancuran. Biasanya hal ini dapat terjadi setelah berpindah kepemilikannya dan tidak diketahui oleh Pemkot yang sudah sepantasnya mampu mengelolanya berdasar peraturan yang disusun dan disahkan DPRD Kota.

Merujuk UU Nomor 5 Tahun 1992, dan lebih rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No 5/1992 (lihat Bab IV, Pasal 23 ayat 1 dan Pasal 27 ayat 1 dan ayat 3). Apalagi Pemkot memiliki Perda Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kota Lama. Namun tampaknya Pemkot Semarang tidak berdaya menghadapi para pemilik modal yang beralamat di Jakarta. Seperti, pembongkaran konstruksi atap eks Gedung Tonil Schouwburg atau Marabunta di Jl Cendrawasih No 25, kawasan Kota Lama yang banyak disayangkan. Pihak Pemkot dinilai pasif. Proses Berlarut-larut Pada pertemuan 23 Juli 2005 di Kantor Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Semarang, dihadiri Dinas Pariwisata Kota, IAI Jateng, DP2K, dan pemilik diwakili pengawas lapangan yang membawa surat pemilik baru Gedung Marabunta, Yogi Sugiarto Sutanto, Jakarta.

Dari surat permohonan ke Wali Kota bertanggal 18 Juli 2005, ada keinginan baik dengan mengusulkan akan melakukan renovasi bangunan untuk gudang dengan memperbaiki konstruksi atap yang sebagian rusak dan ambrol di sebagian bidang atap dengan penguatan konstruksi penyangga kolom dan balok beton bertulang yang sebagian ditopang konstruksi baja. Dalam memo Pjs Wali Kota kepada DTKP berpesan agar bangunan indah jangan dibongkar.

Karena proses perizinan dan pembahasan tim berlarut-larut hingga 12 September 2005, bahkan tindakan pengawasan lapangan di lokasi tidak dilakukan DTKP. Termasuk upaya pengamanan konstruksi dinding yang miring dan sebagian dua buah konstruksi kaki kuda-kuda kayu rusak dan ambrol. Ketika pengawasan lengah, tak ayal dalam tempo 1.488 jam, pemilik sah bangunan Marabunta melakukan pembongkaran dan memperoleh keuntungan material 23 m3 kayu jati kualitas bagus yang dijual tanpa mempedulikan ketentuan penyelamatan bangunan kuno bersejarah sebagai cagar budaya kuno bersejarah. Hal itu disesalkan banyak pihak.

Dari pengalaman pembahasan tim yang mengundang DTKP, proses pengajuan permohonan izin inisiatifnya justru dilakukan para pemilik/investor untuk memanfaatkan kembali dengan fungsi baru. Kejelian para investor patut disokong semua pihak. Biasanya, ketika melihat ada aset gedung kuno yang telantar dan tidak terawat, mengusulkan ke Pemkot untuk mendapatkan izin memugar melalui IMB khusus.

Keterbatasan pengetahuan soal konservasi dan pelestarian, serta cara-cara memugar bangunan kuno, sering menjadi kendala. Ketika usulan pemilik disodorkan ke Pemkot, lamban untuk direspons dan di era reformasi masih terkendala birokrasi, menunggu memo dan disposisi atasan melalui beberapa meja. Bahkan ruang kantor berbeda lantai. Di sisi lain, penanganan renovasi maupun rekonstruksi membutuhkan keahlian pemugaran yang handal dan pengalaman lapangan. Selain itu, pengetahuan yang merujuk pada dokumen “blue print” gambar asli dan memerlukan pendataan detail konstruksi. Dilakukan pula pengujian konstruksi, kekuatan bahan bangunan lama untuk dipadukan material baru.

Sementara di DTKP, ada seksi Pengawasan Pemugaran dan Pemeliharaan serta pengawas lapangan yang terbatas SDM dan pengetahuan teknis bangunan serta pengalaman dalam tindakan pemugaran bangunan kuno. Proses perizinannya pun memerlukan kelengkapan dokumen pendukung UKL-UPL, Amdal jika proyek berskala luas, bahkan memerlukan studi transportasi-perparkiran dan kelengkapan izin “advice planning”. Gambar situasi/keterangan rinci kota (KRK) untuk menentukan sempadan bangunan dan luasan maksimal sesuai peruntukan tata ruang kota.

Jadilah proses perizinan bertele-tele. Padahal, niat baik para investor yang akan memugar bangunan memerlukan waktu cepat. Nampaknya belum ada rekomendasi serta input secara nyata tentang penanganan desain dan langkah-langkah operasional dalam teknik pemugaran dan merekonstruksi bangunan yang benar dari para ahli teknik, arsitek, arkeolog dan sejarawan.

Saat ini, di Pemkot Semarang sudah banyak pengajuan izin memugar dan membangun kembali bangunan kuno bersejarah. Seperti Lawang Sewu, Mega Elektra Bandarharjo, Hotel Dibyapuri, eks rumah makan Pelangi depan Gereja Blenduk, dan lainnya. Toh, banyak contoh yang berhasil dalam renovasi gedung eks PHI untuk Hotel Heritage. (56d)

- Penulis adalah Anggota Semarang Heritage Society. Sumber: Suara Merdeka, 14 Desember 2005

Pengrusakan atau Renovasi ?
Nopember 25, 2005 Wajah gedung daerah Hilangnya bagian belakang Gedung Daerah Tanjungpinang, akibat proses renovasi yang dilakukan sekarang sangat disayangkan oleh sejarahwan, Aswandi. TG PINANG - Padahal bagian belakang itu merupakan sisa bagian yang asli, paska renovasi sekitar tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bentuk depan bangunan kediaman residen kolonial Belanda, yang dibangun di awal tahun 1.800-an. Sebab, renovasi yang dilakukan tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Karenanya, tanpa ragu dia mengatakan, proses renovasi yang dilakukan sekarang sebagai proses pengrusakan. ‘’Ini proses pengrusakan yang kedua kalinya, setelah renovasi serupa tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bagian depan Gedung Daerah. Namun, masih menyisakan keasliannya di bagian belakang, yang sekarang juga dirusak. Ini sangat kita sayangkan,” kata Aswandi menjawab Batam Pos, Kamis (23/11).

Menurutnya, dia sangat mendukung proses renovasi bangunan bersejarah, yang disebut penulis Eropa sebagai Pride of Riow atau kebanggaan Riau. Dengan catatan, tidak menghilangkan bentuk aslinya. Sebab, bangunan ini dirancang dengan arsitektur bergaya asli romandonic atau campuran gaya Romawi, dan Yunani. Selain kekhasan arsitekturnya, yang sama sekali tidak dapat ditepikan, adalah nilai sejarah bangunan ini yang menyertai sejarah Tanjungpinang, Riau, dan Indonesia. Karenanya, renovasi seharusnya dilakukan dengan sangat hati-hati. Bahkan, jika perlu dengan mencantumkan foto asli bangunan. Sehingga, hasilnya bisa nyaris serupa dengan aslinya.

Senada dengannya aktivis pemuda di Tanjungpinang, M Nur, yang juga Ketua LSM Forum Peduli Masyarakat Kota Tanjungpinang juga sangat menyayangkan proses renovasi yang terkesan serampangan itu. Menurutnya, bangunan ini harus dijaga kelestariannya.

Sepatutnya, ujarnya, kalau memang diperlukan ruangan yang lebih luas, jangan merusak bangunan asli. Karena, di sisi kanan, dan di sisi kiri bangunan Gedung Daerah masih ada bangunan lain yang bisa dikorbankan. Termasuk, lapangan tenis yang dinilainya sudah tidak patut lagi berada di area Gedung Daerah tersebut. ‘’Kita bisa lihat renovasi Candi Borobudur yang dilakukan dengan sangat hati-hati, dan hasilnya nyaris serupa dengan aslinya. Renovasi yang dibantu dengan dana internasional itu menggambarkan, pentingnya pelestarian jejak sejarah yang ada,” tegas M Nur. (git)

Sumber: Batam Pos, Jumat, 25 November-2005 Mentang-mentang di Menteng
Februari 26, 2005 COBA ingat-ingat, ada berapa banyak sih lapangan olahraga di kota besar ini. Warga yang seneng berolahraga sehat dan gerak badan tentu rada-rada kaget mendengar berita mengenai rencana pembongkaran Stadion dan Lapangan Persija Menteng seluas 3,4 hektar itu. Lapangan di daerah mahal itu akan diubah menjadi taman sekaligus ada sarana olahraga ringan, rekreasi keluarga, parkir, dan fasilitas lain semisal kafe dan lainnya. Pokoknya tahun 2006 nanti, lapangan bekas Voetbalbond Indiesche Omstreken atau Viosveld buatan tahun 1920 ini bakal rata dengan tanah dan menjadi taman yang entah bakalan terawat atau menjadi taman asongan kaki lima.

Rencana perubahan stadion menjadi Taman Menteng yang mendadak sontak ini kayaknya mengundang rasa curiga. Juru bicara Persija menyatakan, lapangan itu milik klubnya sejak tahun 1928. Kini tiba-tiba Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan mengumumkan hal itu tanpa kasih kabar duluan sama Persija. Malah pemprov pun menyatakan, kalau Stadion Lebak Bulus sudah diambil alih dari Grup Bakrie, akan menjadi markas Persija berikut 30-an klub olahraga lainnya.

Rasa kesal dan tidak puas itu disebabkan staf Persija merasa bahwa orang pemprov itu bersikap “mentang-mentang”, atau “karena merasa” menjadi pejabat, ya bersikap seenak-enaknya bongkar pasang tanpa ngajak pihak yang ketiban langsung. Lagi pula, kata staf itu, kalau sudah ada proyek, biasanya bakalan ada saja hal-hal lain yang mengikutinya. Lagian, selama ini Persija tidak pernah minta- minta ke pemprov meski Gubernur Sutiyoso sendiri kan pernah jadi Ketua Umum Persija yang kemarin.

Ujung-ujungnya soal stadion jadi taman itu, anggota DPRD DKI Jakarta ikut ditanya-tanya juga. Secara samar-samar, salah satu dari 75 orang dewan itu bilang, proyek ini harus diwaspadai karena jangan-jangan mentang-mentang punya kuasa, pemprov berniat mengakal-akali perubahan Stadion Persija menjadi taman. Siapa tahu nanti stadion sudah rata dengan rumput, tahu-tahu muncul taman hiasan yang dikelilingi pertokoan mewah dan restoran kafe kelas Menteng yang elite.

KOMENTAR wakil rakyat yang bawaan curiga itu juga di-timpalin rekan sekantornya. Kata wakil rakyat satu ini, soal stadion jadi taman sebaiknya pemprov mengoordinasikannya dengan Persija. Sebab, selama ini, meski pemprov pernah memberikan dana bantuan sebesar Rp 20 miliar, duit gede itu langsung diberikan kepada tim yang bal-balan di Liga Mandiri tahun lalu. Uang itu tidak pernah masuk ke kas Persija.

Pertanyaan dan minta pendapat terhadap orang dewan sudahlah jamak mengingat mereka itu kan 75 orang pilihan yang ngewakilin 8,5 jutaan suara warga kota ini. Sebab, kaum legislatif dari DPRD DKI belakangan ini terkenal amat kritis dan selalu skeptis terhadap tindak tanduk kaum eksekutif, khususnya Pemprov DKI. Sebab, selama tahun 2005 ini saja, orang dewan itu sudah menelurkan aturan dan larangan soal asap rokok serta asap knalpot karena kepulan asap-asap itu menurunkan kualitas hidup manusia dan lingkungannya. Malah hampir-hampir saja, orang dewan itu menjebolkan adanya aturan pembatasan operasional usia kendaraan umum dan mobil pribadi.

Jadi, haraplah maklum, kalau orang dewan itu pas sekali menampung unek-unek warga yang diwakilinya. Sebab, bos terhormat DPRD DKI itu baru saja ketiban rezeki, menerima tunjangan perumahan bulanan sebesar Rp 15 juta, atau Rp 180 juta per tahun, sebagai bonus di luar gaji Rp 21 juta per bulan dan macem-macem tambahan lainnya. Nah, sebagai warga terhormat dengan gaji segitu, janganlah bersikap “mentang-mentang” juga ya. Apa iya! (BD) Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Februari 2005 Vandalisme Arsitektur
Januari 31, 2005 Penulis: HAWA AROFAH
JIKA melihat kasus pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah yang telah lama menjadi hiasan khas bagi suatu kota, kesan yang muncul adalah kekerasan arsitektur terhadap kota. Seolah-olah kota telah dilukai, atau bahkan dihancurkan. Hal ini tentu bukan sekadar mengada-ada. Sebab, bangunan kuno bersejarah merupakan wajah kota yang membedakannya dengan kota-kota lainnya.

Nilai sejarah pada bangunan kuno di suatu kota akan lenyap jika sudah dilakukan pembongkaran yang sangat sulit dan bahkan mustahil untuk diganti lagi. Jika pembongkaran bangunan kuno bersejarah dimaksudkan sebagai syarat pembangunan, misalnya, akan didirikan bangunan baru yang lebih megah, tetap saja tidak akan bisa mengembalikan nilai sejarah yang telah telanjur lenyap.

Dengan demikian, tindakan pembongkaran terhadap bangunan kuno bersejarah, dengan maksud untuk mendirikan bangunan baru yang lebih megah atau lebih modern, merupakan wujud vandalisme arsitektur yang harus diprotes keras.

Tentu saja protes keras dalam hal ini berdasarkan sejumlah alasan.
Pertama, setiap bangunan kuno bersejarah merupakan aset wisata yang bisa dikembangkan dan semakin lama akan semakin bernilai. Meski nilai fisiknya sangat rendah, nilai spiritnya sangat tinggi. Dan di banyak tempat, pariwisata selalu semarak karena adanya bangunan kuno bersejarah. Misalnya, Menara Kudus cuma tumpukan bata (yang ternyata mudah ditiru dan kini duplikatnya ada di mana-mana), tetapi jika dibongkar tentu akan menjadi puing-puing tak berharga lagi. Kedua, setiap bangunan kuno berkaitan dengan sejarah lingkungan dan manusia di sekitarnya yang memiliki tali-temali dengan jalinan zaman yang harus dilestarikan. Di dalamnya terdapat mata rantai yang terus melingkari citra identitas suatu kota dan segenap warganya.

Selain itu, di dalamnya juga menyimpan memori-memori kenangan sebagai dinamika sentimental dan juga jejak perkembangan kultural. Maka, jika bangunan-bangunan kuno itu dibongkar, bisa menimbulkan gegar budaya bagi warga kota yang bersangkutan. Misalnya, jika Menara Kudus (atau Borobudur dan candi-candi lain) dibongkar, pasti akan menimbulkan duka dan luka yang tak tersembuhkan bagi masyarakat sekitarnya.

Ketiga, bangunan baru sebagai karya arsitektur. Jika didirikan dengan cara membongkar bangunan lama, merupakan kejahatan arsitektur terhadap arsitektur, yang bisa dianggap sangat brutal. Ibarat anak macan yang membunuh induknya, dia layak dianggap amat sangat buas dan luar biasa menakutkannya.

Keempat, bangunan kuno adalah guru bagi setiap arsitek. Maka, jika ada arsitek yang membongkarnya meski dengan tujuan untuk menggantinya dengan bangunan baru yang lebih megah, itu merupakan kesombongan yang akan menimbulkan sinisme dan bahkan kutukan. Ibarat murid yang sengaja membunuh guru, dia tidak bisa diampuni dan selayaknya terkutuk selamanya.
Kelima, bangunan kuno adalah warisan yang sangat berharga sepanjang dilestarikan dengan baik, dan sebaliknya menjadi warisan yang tak berharga jika dibongkar. Oleh karena itu, tindakan membongkar bangunan kuno merupakan kemubaziran dan ketidakmampuan menghormati dan menghargai karya para leluhur.
Asli
Alasan-alasan tersebut selayaknya dilembagakan di setiap kota sebagai bentuk upaya preventif menghindari pembongkaran bangunan-bangunan kuno bersejarah. Dan, semua pihak selayaknya memiliki kesadaran yang sama untuk melestarikan keaslian bangunan-bangunan kuno sebagai citra dan identitas kota di daerah masing-masing.
Kesadaran tentang pelestarian bangunan-bangunan kuno memang perlu dilembagakan agar tidak ada lagi bangunan kuno yang kehilangan keasliannya. Sejak kosakata “pembangunan” di dengung-dengungkan oleh Orde Baru hingga kini, sudah terlalu banyak bangunan kuno bersejarah yang tidak lagi asli. Renovasi sering dilakukan sangat ceroboh, bahkan identik dengan pelampiasan nafsu vandalistis.
Segala tindakan renovasi sah- sah saja dilakukan, selama tidak merusak keaslian bangunan kuno bersejarah. Sebab, seluruh bentuk dan warna asli bangunan kuno memiliki nilai sejarah yang tinggi, yang justru akan hilang jika dikutak-kutik. Misalnya, siapa pun tentu akan sangat menyayangkan jika Menara Kudus, Candi Borobudur, atau Candi Prambanan dipopok dengan adonan pasir-semen dan atau kemudian dicat warna- warni atau bahkan dilapisi marmer.
HAWA AROFAH Pemerhati Arsitektur dan Lanskap Kota
Sumber: Kompas, 31 Januari 2005 Bangunan Lama di Tanjung Emas Akan Diperbaiki Desember 22, 2005
SEMARANG - Pelabuhan Tanjung Emas adalah salah satu bandar lama yang menjadi titik simpul penghubung dan penyambung antardaerah di Indonesia, melalui pelayaran dan perdagangan laut.

Bangunan yang ada di bandar itu merupakan benda bersejarah peninggalan penjajah Belanda. Namun saat ini, bangunan-bangunan itu banyak yang tidak terawat karena berusia rata-rata di atas 50 tahun dan rusak akibat air laut.

Dengan alasan tersebut, para pakar dari berbagai disiplin ilmu yang peduli terhadap bandar lama Semarang, membentuk Perhimpunan Pecinta Bandar Lama Nusantara Pusaka Bangsa Cabang Semarang.

Pengukuhan pengurus dilakukan Rabu (21/12) di Gedung Prof Soedharto Kampus Undip Tembalang oleh Menteri Perhubungan M Hatta Rajasa yang diwakili Staf Ahli Menteri Perhubungan Dr Ir H A Razak Manan MSi MM.

“Kita harus menyadari arti penting sejarah dan nilai budaya bangsa. Karena itu, kajian dan pembahasan tentang bandar lama di Indonesia menjadi sangat penting,” tandas Hatta Rajasa dalam pidato yang dibacakan Razak Manan.

Mangkrak Banyak bangunan bersejarah di kawasan pelabuhan yang mangkrak, akan segera didata dan diharapkan bisa diperbaiki. Razak yang juga ketua umum perhimpunan itu mengatakan, salah satu tugas utama yang diemban pecinta bandar lama setelah dilantik adalah membuat daftar bangunan yang memiliki sejarah di kawasan bandar lama. Data-data selanjutnya akan dipadukan dengan data Pemkot untuk segera ditindaklanjuti. Karena itu, pihak perhimpunan dalam hal ini akan menggandeng Pemkot agar terlibat dalam pendataan.

“Selain itu, kami akan menganalisis Perda Bangunan Konservasi. Bila dirasa masih ada yang kurang, kami memberikan masukan agar bangunan bernilai sejarah bisa dilindungi,” katanya.

Wakil Wali Kota Machfudz Ali mengatakan, Pemkot akan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan perhimpunan pecinta bandar lama. “Dengan pengumpulan data-data tentang bangunan bersejarah, generasi mendatang bisa tahu dan memahami arti penting sejarah.” Selain itu, apabila bangunan bisa dikelola secara baik dan tetap dilestarikan, diharapkan mampu memacu dunia pariwisata. Mahfudz berharap, perhimpunan itu bisa bekerja secara maksimal untuk melestarikan cagar budaya dan bukan sekadar organisasi dengan papan nama. (sjs-18m) Sumber: Suara Merdeka, 22 Desember 2005.

Wajah Fungsionalisasi Bangunan Kuno
Desember 9, 2005 Oleh: Tri Agung Kristanto Bangunan kuno, di mana pun di negeri ini, kerap diidentikkan dengan suasana yang temaram, dinding yang dipenuhi lumut, runtuh pada sebagian bagiannya, dan bernuansa angker. Akan tetapi, bayangan itu sama sekali tidak tampak pada sebuah rumah bergaya art deco yang didirikan tahun 1938 di Jalan Dr Radjiman 501, Solo, Jawa Tengah.

Meski dinding bagian depannya, yang menjadi tempat ”menempelnya” dua pintu gerbang kokoh yang terbuat dari kayu jati, dihiasi tanaman merambat, tidak ada kesan angker. Tak ada dinding yang retak, seperti rumah kuno pada umumnya. Bahkan, memasuki bagian dalam, terasa keramahan rumah keluarga, seperti keramahan warga negeri ini di masa lalu.
Sebagai bangunan bergaya art deco, rumah yang didirikan Ny Poespo Soemarto, saudagar batik dari perkampungan batik solo, Laweyan, langsung menyergap perhatian siapa pun yang datang dengan keindahan ornamen kaca dalam timahnya (kaca patri). Hampir setiap sudut bangunan ini dihiasi ornamen kaca warna-warni yang masih utuh. Berbagai ornamen kaca patri tersebut semakin mengokohkan citra rumah ini sebagai kediaman orang kaya Solo pada masa lalu, yang elegan dan berselera tinggi. Apalagi, bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1.950 meter persegi itu masih utuh, dengan kelengkapan ruangan seperti ”rumah besar” pada masa lalu di Jawa, yakni mempunyai pendopo, tempat untuk menerima tamu dan melakukan aktivitas lainnya. ”Bangunan rumah ini masih seperti saat didirikan, terutama bangunan induknya. Hampir tidak ada perubahan dari bangunan aslinya, kecuali perubahan fungsi ruangan,” ungkap Supardi, penjaga rumah yang sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1982. Pendopo kini difungsikan sebagai lobi dan ruang penerima tamu, karena sejak tahun 2001 rumah juragan batik ini difungsikan sebagai rumah makan. Pada tahun 2002 dikembangkan menjadi guest house, bukan hotel, yang hanya menawarkan 13 kamar, dengan nama Roemahkoe Bed and Breakfast. Namun, kamar untuk tamu dan tempat untuk makan itu juga tidak ”merusak” komposisi dan fungsi bangunan induknya. Selain pendopo, bangunan induk rumah keluarga Jawa pada masa lalu memiliki krobongan. Ruangan untuk keluarga di Roemahkoe sampai kini pun masih dipertahankan, dengan tidak dimanfaatkan untuk ruang apa pun, kecuali sebagai ruang keluarga. Di ruang ini, ”simbol” krobongan masih dipertahankan, yakni adanya lemari kaca ”terbuka” yang menyimpan bantal dan guling. Bantal dan guling itu menggambarkan kehangatan keluarga. ”Ruangan ini tidak dipakai untuk keperluan lain, selain sebagai simbol ruang keluarga,” ujar Ari Kurniawan, Operation Manager Roemahkoe, pekan lalu. Tamu dan pengunjung rumah itu hanya boleh memanfaatkan ruangan ini untuk sekadar duduk di atas karpet di depan lemari kaca atau sekadar melihat-lihat. Tidak ada aktivitas lain yang boleh dilakukan. Krobongan terletak tepat di belakang pendopo. Di belakang krobongan, terdapat sentong. Pada rumah keluarga Jawa pada masa lalu, sentong biasanya dipakai sebagai ruangan tidur kepala keluarga (bapak dan ibu) atau menjadi tempat menyimpan barang berharga, termasuk pusaka dan songsong (payung) untuk keluarga bangsawan. Sentong di Roemahkoe pun masih dipertahankan, seperti saat didirikan. Namun, tidak ada lagi tempat tidur kepala keluarga di ruangan itu. Ruangan ini kini difungsikan sebagai perpustakaan dan ruang baca. Bukankah buku pun merupakan barang berharga, yang bisa menjadi payung (pelindung) kita dari kebodohan. ”Tamu dipersilakan membaca buku koleksi perpustakaan kami di ruangan ini,” papar Ari. Beranda depan dan samping bangunan induk tetap dipertahankan seperti semula. Fungsi beranda depan, yang pada masa lalu biasanya dipakai menerima kerabat, kini dimanfaatkan untuk ruang duduk tamu. Kalau tamu menghendaki, di ruang ini juga bisa dilakukan konsultasi pawukon (horoskop Jawa) dengan ahli yang diundang pengelola Roemahkoe. Beranda samping dipertahankan sebagai ruang aktivitas keluarga. Kini di ruangan ini tamu Roemahkoe bisa belajar membatik dengan peralatan, canting dan malam, serta kain yang disediakan pengelola.

Fungsionalisasi ruangan
Dengan mempertahankan ruangan bangunan induk, Roemahkoe memang tidak mempunyai banyak tempat untuk tamu restorannya. Bangunan yang kini dimiliki kakak-beradik Ny Minul Haryanto dan Ny Krisnina Maharani Tandjung itu hanya menyisakan beranda belakang untuk tempat makan tamu.

Tidak banyak tamu yang bisa dijamu. Kapasitas tempat duduk sekitar 50 orang saja. ”Tetapi, kalau mau menggelar standing party, bisa sampai 200 orang yang tertampung,” ungkap Ari lagi. Pesta ini pun hanya bisa memanfaatkan ruang bagian belakang, bukan di krobongan atau sentong.

Jamuannya juga makanan tradisional Jawa, termasuk bisa memesan sayur lodoh pindang yang sudah jarang ditemui. Jika memakai meja makan, memang dimungkinkan memesan aneka steak gaya Eropa. Karena, orang kaya di Solo pada masa lalu pun biasa menikmati steak daging maupun ikan. Adapun 13 kamar yang ditawarkan untuk disewa menempati bangunan kamar dan (bekas) ruangan lain yang berada di sekitar bangunan induk. Deretan kamar ini membentuk huruf U, di samping kiri-kanan dan belakang rumah induk. Salah satu kamar yang ditawarkan, royal suite, benar-benar masih menggunakan material bangunan awal Roemahkoe, termasuk lantainya. Bahkan, di kamar ini tamu bisa merasakan tidur di atas tempat tidur kuno, yang masih menggunakan satu per serta berkonstruksi besi batangan yang kokoh, peninggalan Ny Poespo Soemarto.

Supardi mengisahkan, tempat tidur itu adalah ranjang pengantin saudagar batik dan sebelumnya berada di sentong. Di samping kamar royal suite ini, terdapat ruang makan dan bangunan tambahan untuk tempat gamelan, yang dimainkan secara rutin setiap Sabtu malam.

Kamar lainnya adalah (bekas) kamar anak-anak Ny Poespo Soemarto. Sebagian lagi adalah bekas ruang untuk pekerja membatik serta gudang bahan dan hasil batik. Bahkan, Supardi menjelaskan, ada juga kamar yang awalnya adalah lorong koridor dari rumah itu ke rumah lain, di kiri-kanannya, yang dahulu juga dimiliki juragan batik asal Laweyan tersebut. Ruangan itu, termasuk gudang dan lorong, ditata kembali sehingga kini nyaman menjadi ruangan tidur dengan ornamen dan furniture modern dan klasik. Fungsionalisasi dan pengoptimalan ruangan, dengan tanpa mengubah fungsi maupun komposisi rumah kuno juragan batik Laweyan itu, setidak-tidaknya membuat kita tidak kehilangan sebuah wajah Solo di masa lalu. Sumber: Kompas, Jumat, 09 Desember 2005 Ditulis dalam Bangunan Lama, Pelestarian | Tidak ada komentar � Revitalisasi Kawasan Pusaka di Berbagai Belahan Bumi Nopember 13, 2005 Penulis: Laretna T. Adishakti Pembangunan kota tidak jarang meninggalkan kawasan tertentu yang justru mati tanpa sinar kegiatan. Meskipun tanda kehidupan yang pernah berkibar dan mengukir sejarah masih tersisa. Bangunan-bangunan pusaka kumuh tak terurus menjadi penanda. Ketika ada upaya untuk revitalisasi—membangkitkan kembali vitalitas—banyak benturan dihadapi. Umumnya bermuara pada konsep yang tidak tepat. Di antaranya: (a) sekadar pemolesan fisik belaka; (b) tidak menyentuh properti individu masyarakat dan roh kawasan; (c) terjebak paradigma bahwa pelestarian pusaka bertentangan dengan pengembangan ekonomi. Persoalan menghidupkan kembali kawasan pusaka melalui kaidah pelestarian justru harus terpadu dengan pengembangan ekonomi. Di samping partisipasi penghuni yang mutlak perlu. Konsekuensinya pasti membutuhkan waktu panjang. Karena, revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa. Berbagai revitalisasi yang telah sukses diupayakan lebih dari 30 tahun di banyak negeri bisa dipelajari. Ada enam pendekatan yang tersarikan menjadi tulang punggung upaya ini. Pertama, adanya organisasi yang mengelola langsung revitalisasi. Melalui organisasi ini dibangun kesepakatan dan kerja sama antarkelompok dan perseorangan yang berperan serta tahapan pelaksanaan kegiatan di masa depan. Bentuk organisasi beragam. Di Amerika Serikat, banyak yang langsung ditangani pemerintah setempat. Misalnya Kota Savannah, Georgia; kawasan Society Hill, Philadelphia; kawasan Dupont Circles, Washington, DC, dan lain-lain. Meskipun bermitra juga dengan LSM setempat dan pihak swasta. Di pihak lain, sejak tahun 1977 Amerika Serikat memulai upaya revitalisasi kawasan komersial yang kemudian dikenal dengan istilah Main Street Program (MSP). Berawal dengan pilot projects di tiga lokasi, kini diaplikasikan lebih dari 1.600 komunitas, tersebar di berbagai negara bagian. Masing-masing komunitas memiliki organisasi pengelola yang independen dan profesional. Di Jepang, revitalisasi kawasan pusaka umumnya langsung dikelola organisasi penghuni sendiri. Bahkan organisasi yang mengandalkan partisipasi masyarakat (machizukuri) ini telah memiliki jaringan secara nasional dan rutin mengadakan seminar tahunan. Dalam seminar, diadakan pula kunjungan dan dialog langsung dengan penghuni kawasan pusaka setempat. Sementara revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko, sebuah proyek nasional yang melibatkan banyak lembaga, nasional dan internasional, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan Maroko. Tetapi pengelolaan serta pelaksanaan teknis diserahkan kepada sebuah lembaga independen yang khusus dibentuk, yaitu Ader Fez. Kedua, dokumentasi dan presentasi yang selalu terbarui. Adalah mutlak dilakukan inventarisasi secara menyeluruh potensi dan masalah kawasan. Termasuk fisik dan nonfisik, baik pusaka atau tidak. Hasil inventarisasi disusun dalam dokumentasi yang terus diperbarui dan mudah diakses oleh publik. Dokumentasi menjadi dasar pertimbangan aksi revitalisasi. Termasuk memanfaatkan pula sebagai materi promosi. Seperti peta jelajah pusaka, web-site, pameran sepanjang tahun, dan lain-lain. Di Fez, Maroko, lembaga independen Ader Fez menangani semua dokumentasi dan pembaruannya dengan menggunakan GIS. Di banyak negara, proses inventarisasi dan dokumentasi bisa mencapai waktu dua tahun lebih, bahkan program revitalisasi belum dilaksanakan. Untuk promosi data kepada publik, American Express Foundation, New York, memberikan hibah pembuatan Peta Jelajah Pusaka (Heritage Trail Map). Penerima hibah antara lain kawasan lama Malaka; kawasan George Town-Penang; kawasan pusaka nJeron Beteng Kraton, Yogyakarta. Ketiga, promosi. Pendekatan ini perlu dimulai sebelum revitalisasi. Awalnya ditujukan pada masyarakat lokal, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Promosi dan pemasaran selanjutnya kepada pembeli, pengembang potensial, pelaku bisnis baru, dan wisatawan. Seperti promosi dalam revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko. Salah satunya melalui Festival Musik Sakral Dunia yang rutin diselenggarakan di sana setiap tahun. Dihadirkan kelompok musik sakral dari berbagai negara. Dan tak pelak, banyak wisatawan berdatangan pula. Minat pihak luar terhadap pusaka Fez akan mendorong rasa memiliki bagi warganya. Karena sebelumnya banyak penduduk tidak menyadari akan nilai budaya yang terkandung di kotanya. Mengingat sepertiga dari 150.000 keluarga yang bermukim di Kota Lama ini merupakan golongan berpenghasilan rendah. Kekumuhan ada di sana-sini. Padahal, tahun 1976 kota ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Pusaka Dunia. Keempat, mewujudkan roh/kegiatan kawasan pusaka yang akan membuat vitalitas kawasan tumbuh kembali. Bahkan, bila perlu mencangkokkan roh baru. Ini merupakan hakiki upaya revitalisasi yang justru sering terabaikan. Salah satu contoh revitalisasi kawasan pusaka pusat kota Nagahama, Jepang. Kerajinan gelas yang sebelumnya tidak ada di kawasan ini justru dihadirkan dan digelorakan sebagai citra industri kota yang baru. Sebuah komoditas yang bernilai seni dan jual tinggi serta, tanpa merusak, mampu mengisi bangunan dan kawasan pusaka yang sebelumnya terbengkalai. Kerajinan ini sekarang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat. Singapura sangat gigih dalam mewujudkan kembali roh kawasan-kawasan revitalisasinya. Meskipun banyak kegiatan baru yang berlebihan dicangkokkan. Kelima, meningkatkan rancangan fisik kawasan. Dilaksanakan melalui rehabilitasi bangunan pusaka dan membangun desain pengisi (infill design) yang tepat. Juga memformulasikan arahan desain (design guidelines) tanpa merusak kualitas tatanan yang ada. Justru meningkatkan serta mewadahi kebutuhan kontemporer. Umumnya, revitalisasi kawasan didukung adanya lembaga struktural yang mengelola penampilan fisik kawasan. Di antaranya dalam bentuk Komisi Pertimbangan untuk Kawasan Pusaka (Historic District Commission) dan unit pelaksana teknik pelestarian di bawah Dinas Tata Kota dan Bangunan. Keenam, mengembangkan dan menciptakan ekonomi kawasan setempat melalui berbagai terobosan dan kesempatan baru tanpa merusak tatanan kehidupan lokal. Umumnya, revitalisasi yang dikendalikan secara benar dalam waktu panjang kini merupakan daerah bernilai ekonomi tinggi. Padahal, rata-rata 30-40 tahun lalu merupakan daerah kumuh yang dihindari orang. Menanggulangi kemiskinan
Revitalisasi, salah satu tujuannya, adalah juga untuk menanggulangi kemiskinan, seperti di Kota Lama Fez. Untuk itu, sumber daya manusia harus ditingkatkan pula. Sejalan dengan revitalisasi Kota Pusaka di Maroko ini dibuka Community Colleage (tiga tahun) bidang teknik pelestarian pusaka arsitektur. Dan, perguruan tinggi bidang arkeologi, arsitektur, dan ekonomi yang sudah ada di Maroko membuka pelajaran khusus pengelolaan pusaka budaya. Pelajaran lain dari MSP di Amerika Serikat yang hampir 30 tahun dijalankan. Kini, secara kumulatif rerata komunitas akan menerima 39 dollar AS dari setiap 1 dollar AS ditanamkan. Memberikan 226.900 lapangan kerja baru dan 56.300 bisnis baru diciptakan. MSP menjadi salah satu strategi pengembangan ekonomi yang sangat berhasil di AS. Mencermati berbagai revitalisasi kawasan pusaka tersebut, keenam pendekatan di atas perlu dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Meskipun perlu dipahami bahwa setiap kasus memiliki keunikan dan permasalahan masing-masing yang solusinya akan berbeda-beda. Laretna T Adishakti Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM dan Penggiat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Indonesian Heritage Trust) Sumber: Kompas, Minggu, 13 November 2005. Pasar Tanah Abang Blok A Pasar Tradisional dengan Sentuhan Modern
Oktober 28, 2005
Untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan sistem sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter. Namanya Ricky Alaydrus. Pria berusia 29 tahun ini pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Usai menyelesaikan studinya di Negeri Paman Sam, Ricky bekerja di sebuah perusahaan elektronik di sana. Karirnya menanjak sehingga berhasil meraih posisi sebagai general manager. Namun, pada 2002 Ricky memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena rindu dengan orang tua dan tanah kelahirannya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ricky memilih untuk membuka usaha sendiri dengan berdagang di Pasar Tanah Abang Blok A. Pemilihan tempat berdagang di pasar ini dilandasi dengan pertimbangan lokasi yang strategis, lingkungan yang aman dan nyaman.”Keberhasilan sebuah usaha sangat tergantung dari keinginan, keahlian, dan usaha kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip A-Kita, media internal Pasar Tanah Abang Blok A. Ricky adalah salah satu dari ribuan pedagang di Pasar Tanah Abang Blok A. Pascakebakaran pada 2002 Blok A kini memang berubah menjadi sebuah pusat bisnis yang megah. Arsitektur bangunannya khas dengan corak Betawi yang dipadukan dengan sentuhan dan nuansa Islam. Alhasil, Pasar Blok A menjadi pusat perbelanjaan modern yang juga menjadi simbol pelestarian budaya lokal Betawi. ”Sebagian besar pedagang pasar Blok A adalah warga sekitar yang asli Betawi. Dan mayoritas mereka beragama Islam. Karenanya, kami konsep bangunan Pasar Blok A ini dengan arsitektur khas Betawi tapi kami beri sentuhan Islam,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya. Perusahaan ini adalah pengembang Pasar Tanah Abang Blok A. Modern pascakebakaran Pascakebakaran, pasar Blok A memang mengalami perubahan wajah yang cukup drastis jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Jika semula pasar ini adalah pasar tradisional yang kumuh, sumpek, panas, dan tidak nyaman, kini Blok A menjadi sebuah bangunan megah yang berkonsep modern. Fasilitas dan prasarana yang ada di dalamnya tidak kalah dengan pusat perbelanjaan (shopping mall) maupun pusat perdagangan (trade center) modern. Di bangunan seluas 151.202 meter persegi ini terdapat 149 unit eskalator, empat unit passenger lift (capsule), dan empat unit passenger lift biasa. Di gedung 18 lantai ini juga tersedia delapan unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), AC central, tiap kios memiliki satu line telepon, serta sejumlah fasiltas lainnya. Soal parkir tidak lagi menjadi kendala, karena lahan parkir yang tersedia mampu menampung dua ribu mobil. Namun, ciri khas pasar Blok A sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim, tidak lantas hilang. Sedangkan untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan beberapa sistem. Ada sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter. Fire roller shutter adalah sistem pengamanan kebakaran yang membagi ruangan menjadi tiga kompartemen. Apabila terjadi kebakaran di lantai tertentu, maka motor roller shutter akan bekerja secara otomatis menutup daerah kompartemen yang terbakar dengan sekat antikebakaran. Sekat ini mampu menahan kobaran api selama empat jam. ”Pasar Blok A tetap menjadi pasar tradisional pusat grosir tekstil dan garmen. Hanya saja, sekarang sentuhannya modern. Jadi, Blok A merupakan pasar tradisional namun dengan sentuhan modern,” ungkap Faridz. Karena tetap menjadi pasar tradisional, harga yang berlaku di sini juga layaknya harga pasar tradisional, namun dengan kualitas barang yang tetap terjaga. Artinya, harga barang di Blok A yang sudah dibangun dengan konsep modern tidak berbeda dengan harga di Blok B, C, dan D yang masih berupa pasar tradisional tanpa sentuhan modern. ”Di sini lah kelebihan pasar Blok A. Meski sentuhannya modern, harga tetap pasar tradisional,” ujar Faridz menegaskan. Miniatur Indonesia Pasar Blok A terdiri dari 12 lantai pertokoan, 5 lantai parkir, dan satu lantai food court. Di bagian atap terdapat masjid yang mampu menampung dua ribu jamaah. Tiap lantai terbagi dalam beberapa zoning yang masing-masing menjual komoditi yang sama. Selain padagang lokal Jakarta (Betawi), para pedgaang di Pasar Blok A juga berasal dari beragam etnis. Misalnya Padang, Makassar, Jawa, keturunan Arab dan Tionghoa, dan sebagainya. ”Pedagang di sini multi etnik karena dari semua suku ada. Jadi seperti miniatur Indonesia. Namun mereka kompak dan tidak bersaing secara tidak sehat,” ujar Faridz menerangkan. Pemilik kios di sini biasanya juga memiliki kios di Blok yang lain, yang diatasnamakan isteri atau anaknya. Dengan demikian, harga yang berlaku di Blok A sama dengan di Blok lain karena memang pemiliknya sama. Karena merupakan pusat grosir, maka para pemilik biasanya langsung menunggui kiosnya dan tidak diserahkan kepada pembantu atau pekerjanya. Sebab ketika bertransaksi dengan pembeli, banyak keputusan yang harus langsung diambil sendiri oleh pemilik kios dan bukan oleh pembantunya. ”Karena pusat grosir, maka banyak negosiasi yang akan terjadi. Dan itu harus dilakukan sendiri oleh pemilik kios. Misalnya negosiasi tentang harga, pembayaran utang, desain kain, dan sebagainya. Sebab pembeli biasanya kan membeli dalam partai besar jadi harus diputuskan sendiri oleh pemilik kios. Ini beda dengan kios retail biasa,” jelas Faridz. Dengan kondisi saat ini yang lebih nyaman dan aman jika dibandingkan sebelum terbakar, maka Pasar Blok A makin diminati oleh pengunjung dan pembeli. Tren yang saat ini terjadi, pembeli lebih suka berbelanja di Blok A daripada di Blok B, C dan D karena suasananya yang berbeda. Bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri saat ini, pengunjung di Pasar Blok A bisa mencapai seratus ribu orang per hari.”Sekarang pembeli di Blok A makin meningkat. Sementara di Blok yang lain justru menurun,” ujar Faridz. Mengundang Pembeli dari Mancanegara Sekitar 300 tahun yang lalu pemerintah Kolonial Belanda membangun Pasar Tanah Abang di sebuah kawasan yang diberi nama Weltevreden yang berarti benar-benar puas. Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang menjadi magnet bisnis yang besar di Jakarta. Bahkan, dalam perkembangannya Pasar Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Para saudagar dan pembeli dari mancanegara pun banyak yang berdatangan ke pasar ini. Antara lain dari Arab, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan negara-negara lain. Namun, setelah terjadi kebakaran pada 2002 para pembeli dari mancanegara itu banyak lari ke negara lain. Salah satu negara yang menjadi tujuannya adalah Cina.

Kini, setelah Pasar Tanah Abang direnovasi dan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern, ada semacam keinginan untuk mengundang kembali para pembeli dari manca negara tersebut.

”Kami akan berusaha mengembalikan para pembeli mancanegara itu ke Tanah Abang. Untuk itu, kami akan bekerja sama dengan kedutaan besar kita di luar negeri,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya, pengembang Pasar Tanah Abang Blok A. Menurut Faridz, lewat kerja sama dengan kedutaan besar Indonesia di luar negeri, maka pihaknya akan mengundang dan memfasilitasi para pembeli dari mancanegara untuk datang dan meninjau Pasar Blok A yang baru diresmikan Juli 2005 lalu ini. Diharapkan, dengan melihat kondisi saat ini yang jauh berbeda dengan sebelum terbakar, mereka akan tertarik kembali untuk membeli barang-barang dari sini.

Selain pembeli dari luar negeri, pihaknya juga akan mengundang pembeli dari dalam negeri untuk datang ke Pasar Blok A. ”Kami juga melakukan kampanye dan sosialiasi ke daerah-daerah agar mereka tahu Pasar Tanah Abang Blok A sudah mulai beroperasi,” tutur Faridz. Namun Faridz memiliki ganjalan untuk mewujudkan obesesinya itu. Hal ini terkait dengan semrawutnya arus lalu linta di kawasan Tanah Abang. Karena itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk benar-benar memperhatikan dan menyelesaikan masalah ini. ”Pemerintah harus tegas terhadap persoalan parkir, pedagang kaki lima, dan ojek yang selama ini membuat lalu lintas di sini sangat semrawut. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan masalah ini dan mencarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, maka ini tidak mendukung Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara,” kata Faridz menegaskan. (jar ) Sumber: Republika, Jumat, 28 Oktober 2005 ------------------------------------------------------------------------------------------
“Mengusik” Ke-(tidak)-pedulian Warga pada Pesona “Kota Tua”
September 13, 2005
Oleh: FX Triyas Hadi Prihantoro
Kegiatan festival kesenian kota tua dan pecinan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jakarta Barat bulan Agustus 2005 perlu dilestarikan dan diberdayakan. Pemberdayaan, pengoptimalan, penggalian, dan restorasi kawasan kota tua (Batavia) Jakarta perlu dilakukan guna ”mengusik” ke-(tidak)-pedulian stakeholders kota dengan ”menggelitik” mereka untuk selalu terlibat di dalamnya.

Kegiatan itu bertujuan untuk menumbuhkan empati dan menjaga peninggalan sejarah sebagai nilai budaya dan pengetahuan terbentuknya kawasan kota tua. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 Ayat (1), disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagian atau sisa-sisanya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun dan mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Bagaimana upaya ”memoles” kawasan kuno ini agar tidak seram? Bagaimana dapat menarik untuk dinikmati hingga banyak orang sudi berlama-lama di sana? Upaya pengadaan festival, berkesenian, pameran/kegiatan saja belumlah cukup. Yang dibutuhkan adalah hati semua warga Kota Jakarta untuk terusik sehingga merasa memiliki peninggalan sejarah ini. Rasa memiliki tumbuh, niat mempertahankan ada, upaya mengembangkan sudah masuk rencana kemudian tinggal optimalisasi pemberdayaan dengan berbagai program. Ketidakpedulian warga kota terhadap bangunan kota tua terlihat dari banyaknya bangunan yang tak terawat. Kondisi bangunan memprihatinkan; tembok mengelupas, berlubang, kayunya lapuk, dan genting bocor. Belum lagi digusurnya beberapa bangunan tua (gedung Harmonie) hanya untuk ”memoles” pembangunan ”masa depan” demi kepentingan ekonomi/komersial semata. Bila demikian, tidak malukah kita dengan bangsa lain yang ”berani” bersatu padu melawan untuk mempertahankan bangunan kuno (heritage building) sebagai salah satu bentuk lahirnya heritage society yang memiliki bobot nilai budaya sejarah bangsa tersendiri. Ratusan bangunan kawasan tua di Kota Jakarta butuh sikap peduli warga. Wisatawan asing datang ke Jakarta perlu untuk melihat sajian bangunan gaya art nouvo (Museum Fatahillah dan Museum Wayang) abad ke-18, art deco (Bank Exim Jakarta Kota, Museum Seni Rupa Jakarta, Stasiun Kota) awal abad ke-19 serta tembok kasar dari abad ke-16 sisa warisan kejayaan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie). Sekarang bagaimana sikap peduli warga kota terhadap perjalanan sejarah budaya di pesona kawasan kota tua Jakarta? Meski banyak bangunan kota tua yang sebagian besar milik perseorangan yang berkekuatan hukum, tidak ada salahnya pihak Pemprov DKI membuat peraturan daerah tentang pelestarian dan pemberdayaan bangunan tua bersejarah berdasarkan pengkajian dari banyak segi, antara lain arsitektur, sosial, sejarah, budaya, tata kota, lingkungan, dan kepentingan. Ruilslag bangunan dan pemberian penghargaan kepada pemilik bangunan bersejarah yang mampu mempertahankan keasliannya perlu diberikan. Juga perlu hukuman bila pemilik atau siapa pun melakukan perusakan, corat-coret, dan penelantaran terhadap bangunan tua yang bernilai sejarah budaya. Sejalan dengan visi Jakarta dalam upaya mengoptimalkan kunjungan wisata, langkah-langkah kepedulian terhadap pesona ”kota tua” merupakan impian semua pihak. Pengembangan wisata budaya dengan ”menjual” pesona ”kota tua” menjadikan aset sejarah itu sebagai aset wisata yang potensial untuk menambah pendapatan asli daerah. Misalnya saja, optimalisasi Gedung Arsip Nasional dengan banyaknya mata acara (pameran, konser musik, pembuatan film, dan hajatan) menjadikan segala ”kebutuhan” untuk tetap menjaga keasrian dan keasliannya bukanlah hal yang sulit. Bagaimanakah dengan bangunan lainnya? Mampukah disetting seperti Gedung Arsip Nasional? Semua tergantung kepedulian stakeholders kota. Semoga. Fx Triyas Hadi Prihantoro, Pemerhati Budaya dan Bangunan Tua Sumber: Kompas, Selasa, 13 September 2005

  back to top  
  back to index  
  back to home  

� 2005-2009 EDDY SRIYANTO  Telp.: (021) 33052696 /(021) 935.200.99 / 0812.2525.268 ; : kirim email


Google
� COPYRIGHT 2005-2010 - Eddy S. Lee

banner

banner

your adv here