 |
KLIPING LINGKUNGAN, |
Sumber:Media Indonesia 6 Oktober 2007
Lubang Ozon Menyusut 30%
Lubang di lapisan ozon Bumi 30% lebih kecil daripada ukuran yang terdeteksi tahun lalu, demikian laporan terbaru yang dibuat berdasarkan hasil pantauan satelit milik Badan Luar Angkasa Eropa Envisat.
Massa lapisan ozon berkurang 0,3% tiap tahunnya, sementara ketebalannya selalu berfluktuasi dari tahun ke tahun.
Bagian yang paling besar penurunannya ada di bagian utara Antartika, yang kerap disebut dengan ‘lubang’, dan biasanya puncak ukuran lubang ini terjadi pada September dan Oktober lalu kembali ke ukuran awal di pergantian tahun.
Para peneliti hingga saat ini tidak begitu yakin bahwa mengecilnya lubang ozon berarti kondisi lapisan penghalau radiasi matahari telah membaik.
"Walaupun lubang mengecil dari kondisi normal, kami belum bisa menyimpulkan bahwa lapisan ozon sudah pulih," kata Ronald van der A, peneliti senior di Institut Meteorologi Belanda, seperti dikutip dari LiveScience
Pada 2007, lapisan ozon di atas Antartika susut 30,5 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan data tahun sebelumnya yang mencapai 44,1 juta ton.
Van der A mengatakan, berbagai perubahan suhu dan kondisi atmosferik menyebabkan ozon terus berkurang, dan tidak ada tanda-tanda bakal pulih dalam periode waktu yang lama.
"Tahun ini lubang ozon tidak terlalu tepat berada di pusat Kutub Selatan, sehingga ia bisa berkombinasi dengan udara yang lebih hangat," katanya.
Berdasarkan sifat fisiknya, ozon akan habis di suhu yang lebih rendah daripada -78 derajat Celcius, maka udara yang hangat akan melindungi lapisan tipis ozon yang berada sekitar 25 km di atas kepala kita.
Sejak tahun 1985 berbagai zat yang merusak ozon, seperti CFCs, telah dilarang penggunaannya.
Ozon berfungsi sangat penting bagi proses menghalau radiasi sinar matahari yang dapat menimbulkan kanker kulit dan katarak, serta mengancam kehidupan bawah air laut. (Ant/OL-03)
Ilmuwan AS Ciptakan Plastik Sekuat Baja
CHICAGO--MEDIA: Para ilmuwan telah mengembangkan plastik transparan baru sekuat baja tapi setipis selembar kertas.
Studi yang termuat dalam majalah Science edisi Kamis itu (4/10), menyebutkan plastik campuran itu, yang terbuat dari tanah liat dan lem tak beracun seperti yang digunakan di ruang kelas sekolah, dapat dipisahkan dan hanya memerlukan sangat sedikit energi untuk pembuatannya.
"(Plastik) itu berwarna hijau," kata pemimpin penelitian itu, Nicholas Kotov. Ditambahkannya, bahan tersebut juga sangat murah dalam produksinya.
Plastik itu dapat digunakan untuk menghasilkan energi yang diperlukan guna memisahkan gas di pabrik kimia, meningkatkan mikroteknologi seperti mikrocip atau sensor biomedis dan bahkan suatu hari dapat menghasilkan baju baja yang lebih ringan tapi lebih kuat untuk tentara atau polisi dan kendaraan mereka.
Kotov sudah mulai mengembangkan penerapan praktis bagi plastik campuran tersebut yang dapat dikomersialkan dalam waktu satu atau dua tahun.
"Kami masih berada pada tahap penjajakan, tapi mesinnya sekarang sedang
dibuat di laboratorium kami untuk membuat satu potong sebesar satu meter kali satu meter," kata Kotov dalam suatu wawancara via telepon.
Menghasilkan bahan campuran dari blok bangunan berukuran-kecil yang dapat memiliki kekuatan yang sedemikian besar telah lama menjadi keinginan para ilmuwan.
Kotov berhasil melakukannya dengan meniru susunan molekul bata-dan-semen yang ditemukan pada kerang laut.
Tim insinyurnya di University of Michigan membuat robot yang menyusun bata yang mirip "lembaran-nano" dalam suatu pola yang bertukar dan menggunakan polimer yang mirip lem untuk menciptakan ikatan hidrogen antara lapiran yang dapat dengan mudah melakukan perbaikan di tempat lain jika ikatannya terputus.
Diperlukan waktu beberapa jam untuk membuat 300 lapisan yang diperlukan untuk menghasilkan satu lembar plastik tipis saat lengan robot tersebut bergerak keluar-masuk botol kecil lem dan penyebaran "lembaran-nano" tanah lempung.
"Ketika kita memiliki susunan bata-dan-semen, setiap celah dibuat tumpul oleh masing-masing antar-permukaan," Kotov menjelaskan. "Kami telah memperlihatkan bahwa orang dapat menghasilkan peralihan tekanan yang nyaris ideal antara 'lembaran-nano' dan matriks polimer." (Ant/AFP/OL-03)
font>
arsip

|