 |
taken from: many source |
Lippo Karawaci Raih Penghargaan
Lembaga publikasi internasional Euromoney dari London kembali memberi penghargaan Euromoney Liquid Real Estate Award 2007 kepada pengembang terkemuka PT Lippo Karawaci Tbk sebagai pengembang berprestasi terbaik Indonesia dalam Global Award, ajang pemberian penghargaan untuk perusahaan properti terbaik di setiap negara. Menurut Deputy Publisher Euromoney Michael Dragoyevich, kompetisi kali ini berlangsung sangat ketat dan cukup alot dalam menentukan pengembang yang berprestasi terbaik di setiap negara. Perusahaan properti global lainnya yang mendapatkan penghargaan antara lain Lend Lease (Australia), ProLogis (China), Sun Hung Kai ( terbaik di Korea dan Hongkong), Capitaland (terbaik di Filipina dan Singapura), Mitsubishi Estate (Jepang), Land Securities (Inggris), dan Hines (Amerika Serikat). (*/DIS)
Ragam Properti
Saatnya Pengembang Jualan Lingkungan
Sumber: Kompas, 28 September 2007
Penulis: Abun Sanda
Di tengah kencangnya isu pemanasan global, para pengembang di seluruh dunia keluar dengan konsep ramah lingkungan. Ada yang berbicara lingkungan laut berudara bersih, ada pula yang jualan sungai, danau, hutan, bahkan sawah.
Namun, dalam perkembangannya kemudian, banyak juga di antara pengembang ini yang gombal. Isu lingkungan hanya pupur untuk merebut hati konsumen. Begitu konsumen membeli, pengembang tersebut tidak sepenuhnya memenuhi janjinya.
Datanglah ke kota-kota di Amerika Serikat, terutama di pantai barat dan pantai timur. Pengembang di negeri Paman Sam itu sangat rajin membuat proyek sangat ramah lingkungan. Begitu pedulinya pada lingkungan hidup sehingga dibuat sistem drainase mutakhir sehingga tidak setetes pun air hujan yang turun di halaman dan genteng dibiarkan masuk selokan terus ke laut.
Limbah rumah tangga dan industri pun diolah sehingga menjadi layak pakai, setidaknya untuk menyiram tanaman dan cuci halaman. Pohon? Jangan tanya. Teras depan, beranda loteng, bahkan pagar dan atap diberi ruang untuk tanaman. Siapa yang paling bagus lanskapnya, juga lokasi dan desainnya, dialah yang paling diminati konsumen. Hukum pasar berlaku di sini.
Di benua lain, Asia, Australia, Eropa, dan sebagian Afrika, juga demikian. Pengembang berusaha menawarkan konsep ramah lingkungan yang paling gampang diserap pasar. Pengembang sadar bahwa desain interior, arsitektur bangunan, bahkan lokasi strategis sudah bukan faktor paling dominan dalam memenangkan hati konsumen. Faktor paling utama kini ialah konsep ramah lingkungan.
Konsep ini secara utuh mewujudkan sebuah sentra hunian yang berudara segar, air bersih dan dalam debit cukup. Banyak pohon, banyak taman, dan ada hutan serta danau buatan. Kalau ini bisa Anda wujudkan, Andalah pengembang kampiun. Proyek properti Anda paling diburu konsumen rumah di Indonesia.
Banyak yang meragukan aspek ini. Namun, baiklah, mari kita uji bersama. Lokasi Anda bisa strategis, desain rumah Anda bolehlah kelas satu, tetapi semua faktor positif itu menjadi sia-sia kalau daerah hunian Anda tersebut tandus. Tidak ada air bersih sama sekali. Sejumlah warga di beberapa perumahan di Jakarta Barat kerap menelepon Kompas dan menyebutkan bahwa jangankan air untuk mandi, untuk menyiram urine saja tidak ada sama sekali.
Alhasil, mereka harus membeli air. Perburuan air itu bukan hanya makan ongkos dan menghabiskan waktu, tetapi sangat melelahkan. Hendak pindah rumah, uang sudah habis untuk membeli rumah tanpa air tersebut. Tetap berdomisili di sana, bikin bangkrut. Serba susah.
Adapun pengembang tidak mau tahu urusan begini. Bagi mereka, begitu jualan selesai, masalah menguap. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkesan tidak mau tahu masalah seperti itu. Buktinya air sudah kering kerontang bertahun-tahun belum ada hal konkret dilakukan pemprov.
Faktor lain begini. Lokasi strategis, desain bagus dan air ada, tetapi kalau terletak di kawasan berdebu, panas, polusif, kurang pohon, berisik karena terletak di jantung kota, dan macet, ya Anda menderita juga.
Dominan
Para pengembang Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya juga menyadari aspek ini. Mereka yang selama ini berjalan lurus ke depan, membangun sentra hunian ramah lingkungan. Aspek kebersihan udara, pohon-pohon peneduh, pengolahan sampah secara mandiri, ketersediaan air bersih serta terletak di kawasan berpemandangan indah selalu menjadi prioritas utama. Dan seperti diketahui, semua proyek berlatar belakang lingkungan dan alam selalu menarik minat pembeli.
Para pengembang boleh tertawa ketika proyek-proyeknya diserbu pembeli. Proyek yang disukai, di antaranya Regatta di Jakarta Utara; Residence 28 Kedoya, Puri Botanical Residence dan Permata Mediterania di Jakarta Barat; Alam Sutera dan Gading Serpong di Tangerang; serta Citra Raya di Surabaya. Perusahaan-perusahaan ini mengeluarkan miliaran rupiah untuk membangun infrastruktur dan prasarana pendukung lingkungan.
Akan tetapi, mereka kemudian mendapat imbalan sepadan. Bukan saja proyek laku, tetapi para pengembang bisa mematok harga jual sedikit lebih tinggi sebab investasi memang lebih besar. Hal lain, pengembang meraih reputasi lebih baik berkenaan dengan proyek itu.
Dari sejumlah perusahaan besar yang membangun proyek bergengsi dan berwawasan lingkungan, ada dua korporat yang patut diberi apresiasi. Pertama Bakrieland Development di Legian, Bali, yang membangun 300 rumah di The Legian Nirwana Suites Bali. Kedua Sepang Gold Coast Malaysia yang membangun 366 unit bungalo di atas laut di kawasan Selat Malaka.
Proyek pertama di Legian mengukuhkan Grup Bakrie sebagai salah satu kekuatan utama properti nasional. Bakrie lewat Bakrieland membangun 300 rumah di tepi pantai yang menawan. Desainnya menarik dan terletak di tepi pantai. Gemuruh ombak terdengar kencang dari pusat hunian baru ini. Pada senja hari, warga bisa duduk di tepi pantai menikmati masa matahari terbenam.
"Kami dapat sambutan besar publik sebab proyek ini didesain secara impresif. Harganya pun relatif terjangkau warga kelas menengah ke atas," ujar Marudi Surachman di Kuta, Selasa (25/9). Tema besar yang dikembangkan di proyek ini adalah lingkungan. Bakrieland hendak menanam pohon sebanyak mungkin.
Proyek berwawasan lingkungan lain yang disukai publik ialah proyek Sepang Gold Coast di Sepang, Malaysia. Eksekutif Sepang Gold Coast Yanki Regan menyatakan, sambutan hangat pembeli dapat dilihat dari larisnya bungalo yang hendak dibangun.
"Bayangkanlah, proyek ini masih berada pada tahap pemasangan pilar di perut laut, tetapi 300 bungalo yang kami tawarkan sudah habis terbeli. Oleh karena itu, kami langsung masuk pada pencanangan proyek kedua. Pemasarannya segera dilakukan," ujar Yanki Regan.
Hal yang membuat Yanki Regan terkesima ialah 366 bungalo yang ia tawarkan pada proyek tahap pertama langsung habis dalam tiga bulan masa penjualan. Ini artinya bahwa masyarakat lebih sadar pada hunian lebih sehat, pemandangan indah, sekaligus desain rumah yang bagus.
"Rasanya sudah tidak mungkin menjual rumah tanpa konsep atau tema yang jelas," ujar Yanki Regan.
Apartemen, Kenyamanan di Tengah Kesempitan
Jakarta, Kompas
Oleh: Clara Wresti
Evelina Setiawan (35) kesal. Baru pulang dari kantor, dia sudah mendapat pengaduan dari mertuanya kalau jemuran kotor lagi. Ini sudah yang kesekian kalinya, pakaian yang sedang dijemur di teras kotor lagi, gara-gara tetangga yang tinggal di atas membuang air sembarangan.
”Rupanya pembantu di atas punya kebiasaan menyiram teras rumah agar debu tidak beterbangan. Kalau tinggal di rumah yang menempel di tanah, ya tidak masalah. Tetapi ini di apartemen. Kalau dia ciprat-ciprat air di teras, kami yang di bawah juga kebasahan,” sungut Evelina yang tinggal di Apartemen Kedoya Elok, Jakarta Barat.
Ha-ha-ha, inilah cerita masyarakat kita tinggal di apartemen. Ada tetangga menggoreng terasi atau ikan asin. ”Usus melintir, kepala pusing. Apalagi kalau ada yang meramu obat china. Baunya makin tidak karuan,” cerita Evelina tentang pengalamannya tinggal di apartemen.
Lain lagi dengan Anastasia Bintang (35), seorang eksekutif muda di bidang periklanan. Walau pernah diganggu tikus yang masuk lewat saluran air, Bintang sangat menikmati tinggal di Apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan. Saking senangnya, kalau sudah bosan dengan unit apartemennya yang lama, dia pindah ke menara lain karena Apartemen Taman Rasuna memiliki 15 menara.
Selama empat tahun belakangan, Bintang sudah tiga kali pindah menara. Padahal, pindah menara cukup sulit walau letaknya masih satu kompleks. Bintang harus berjuang sendiri mengangkut barang-barangnya karena tidak ada yang membantu.
Bintang juga harus menyewa mobil untuk memindahkan barang ke pintu masuk menara yang lain. ”Sewa mobilnya saja Rp 200.000, padahal cuma menyusuri basement doang,” tutur Bintang.
Setelah sampai di tower yang dituju, perjuangan belum selesai. Bintang harus mengangkat sendiri barang-barangnya naik ke atas lantai apartemennya. Karena berat, Bintang menggunakan troli untuk membawa barangnya masuk ke lift. Menurut Bintang, troli bekas hypermarket yang sudah tutup itu bahkan sampai disewa-sewakan.
Sangat berbeda
- Tinggal di apartemen memang sangat berbeda dengan tinggal di rumah konvensional, rumah yang menempel di tanah.
Banyak aturan atau kebiasaan yang bisa dilakukan di rumah tidak bisa dipraktikkan di apartemen. Begitu juga sebaliknya.
Biar begitu, buat warga kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tinggal di apartemen mulai menjadi hal yang lumrah.
Apartemen menjadi pilihan bagi warga Ibu Kota karena bisa menjawab masalah jarak dan kemacetan lalu lintas. Warga Ibu Kota tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam di jalan raya untuk pulang ke rumah.
”Bandingkan saja waktu yang harus dia tempuh jika dia bekerja di Sudirman, sementara rumahnya di Bekasi atau di Tangerang. Jika dia tinggal di apartemen, tidak sampai satu jam dia sudah kumpul keluarga. Kelebihan ini juga yang membuat second market dari apartemen tetap tinggi,” kata David, seorang agen properti dari Era.
Selain itu, apartemen juga memberikan privasi bagi penghuninya karena kemungkinan untuk digosipkan tetangga sangat kecil. ”Kapan mau ngegosip. Ketemu saja enggak pernah. Paling-paling saya ketemu dengan tetangga di lift atau saat menunggu mobil di lobi. Itu pun saya tidak tahu, dia itu penyewa atau pemilik apartemen,” kata Evelina.
Soal fasilitas kolam renang atau pusat kebugaran, Evelina mengaku tidak pernah memanfaatkannya. ”Begitulah konsumen kita. Mereka hanya mau membeli apartemen yang fasilitasnya lengkap. Tetapi setelah ada, mereka tidak memanfaatkannya karena terlalu sibuk. Paling-paling yang memanfaatkan tidak sampai 10 persen jumlah penghuni, itu pun sebagian besar anak-anak dan pembantu,” ucap dia.
Walau harga apartemen sangat tidak murah, kelebihan apartemen pada lokasi dan fasilitas membuat pembeli seolah tidak peduli pada harga. Tengok saja harga apartemen Airlangga yang mematok harga 1.818 dollar AS per meter persegi ketika pertama kali dirilis (Kompas, 16/10/2003). Apartemen Dharmawangsa membuka harga 2.700 dollar AS per meter persegi. Bahkan, Apartemen Da Vinci yang terletak di Jalan Sudirman melepas apartemennya dengan harga minimal Rp 22 miliar, sudah lengkap dengan furnitur. Semua apartemen itu laku keras.
Hebatnya, biar harga apartemen selangit, banyak konsumen yang membeli tidak cukup hanya satu unit. Evelina yang juga menjabat Marketing General Manager Kelapa Gading Square mengatakan, ada klien yang memborong semua unit yang ada di satu lantai. Dengan membeli semua unit yang ada di lantai itu, mereka mendapatkan kelegaan dan privasi sendiri.
”Di sini jelas terlihat bahwa masyarakat kita tidak terbiasa tinggal di tempat yang sempit. Mereka ingin tinggal di tengah kota, tetapi juga ingin mendapatkan ruang yang luas. Ini sebenarnya bertentangan dengan konsep apartemen,” jelas Evelina yang juga seorang arsitek.
Konsep apartemen
- Apartemen sebenarnya unit tempat tinggal yang cocok untuk para eksekutif muda, yang bekerja dari pagi hingga malam hari, sehingga tidak menghabiskan banyak waktu di rumah.
Dengan tinggal di apartemen yang terbatas, para eksekutif muda ini juga tidak perlu membuang banyak tenaga untuk membereskannya.
”Ada yang salah dengan konsep apartemen di sini. Budaya masyarakat kita yang tidak bisa hidup tanpa pembantu juga dibawa ke apartemen. Lihat saja, hampir semua apartemen di sini menyediakan kamar pembantu dan kamar mandi khusus pembantu. Padahal, harga apartemen itu dihitung per meter persegi. Ada juga apartemen yang menyediakan dapur basah dan dapur kering. Jadi sebenarnya apartemen di Indonesia adalah rumah biasa yang ditumpuk ke atas,” kata Evelina.
Chaterin Suliawan (34), seorang eksekutif yang juga tinggal di Apartemen Taman Rasuna, mengaku tidak betah ketika pertama kali menempati unit apartemennya. ”Habis luasnya cuma 80 meter persegi. Mau meletakkan barang susah sekali. Tetapi lama-kelamaan saya terbiasa dengan unit mungil ini. Apalagi saya sudah menikmati kelebihan tinggal di apartemen,” kata Chaterin.
Evelina yang telah tinggal di apartemen sejak dia masih kuliah mengatakan tinggal di apartemen sangat memudahkan aktivitasnya sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga. ”Paling tidak saya tidak pernah kehujanan turun dari mobil. Di rumah biasa, kalau mau masuk harus buka pagar dulu. Iya kalau tidak hujan, kalau hujan, kan kuyup,” ucap dia.
Walau begitu, beberapa orang menganggap tinggal di apartemen tidak cocok bagi keluarga yang mempunyai anak kecil. Omar Halim (68) memilih tinggal di rumah biasa saat anak-anaknya masih kecil. ”Jika di apartemen, kesempatan anak-anak berinteraksi sosial tidak banyak,” kata penghuni Apartemen Istana Harmoni, Jakarta Pusat, ini.
Begitu juga yang dirasakan Caca Cahyani (31). Setelah ia memiliki seorang anak, apartemen yang luasnya 80 meter persegi ini dirasakan sangat sempit. ”Aku ingin mempunyai rumah yang memiliki halaman sendiri. Kalau di apartemen tidak bisa punya halaman. Kalau ke teras, anginnya kencang sekali. Nanti masuk angin lagi,” kata Caca yang tinggal di lantai 30 Apartemen Taman Rasuna. (Lusiana Indriasari/ Susi Ivvaty)
font>
Source: Jewelry handbook, encyclopaedya 1996
arsip

|