Sekapur sirih

Arsitektur, jiwa yang bersemayam di balik kata  ini terasa terlalu abstrak, sehingga mampu memunculkan paradigma-paradigma baru disepanjang peradaban manusia di Bumi ini. Entah apa definisi sebenarnya dari istilaharsitektur ini secara harfiah, mungkin bisa saja telah terjadi kekeliruan dalam penggunaan atau mengartikan istilah arsitektur yang berasal dari bahasa Yunani ini karena jika diuraikan kata arsitektur (architecture) terdiri dari Archi=Kepala, danTechton=Tukang batu, berarti arsitek = kepala tukang batu ?…

Ya…apapun pengertiannya secara harfiah, tetap saja arsitektur hanyalah sebuah kata, setidaknya bisa kita pakai untuk berkomunikasi itu sudah cukup (kalau tidak mau repot). Sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknai atau mencari esensialitas dari si arsitektur itu sendiri (lebih repot lagi).

Selama ber-abad-abad, pesona kenisbian dalam memaknai arsitektur telah melahirkan analogi-analogi yang heterogen dan sarat filosofi. Hal ini sangat menarik, karena menurut saya, inilah yang selama ini menjadi stimulus bagi perkembangan dunia arsitektur hingga sekarang.

Jika  dipaksa untuk meng-analogikan Arsitektur, maka yang ada dibenak adalah “Arsitektur sebagai wajah atau rupa Manusia” begitulah saya menganalogikannya. Coba perhatikan wajah anda, perhatikan struktur tulang yang membentuk wajah anda dan struktur yang membentuk ruang- ruang bagi perangkat-parangkat wajah. Kemudian amati pula proporsi dari perangkat-perangkatnya seperti mata, hidung, bibir dan yang lainnya, amati juga peletakan dan jarak antara perangkat yang satu dengan yang lain. Semua hal mengenai struktur, proporsi, peletakan, ruang pada wajah ini serasa mendekatkan saya pada arsitektur.
Ada apa lagi dengan “wajah” dan “arsitektur” ?

Wajah senantiasa memberi respon berupa ekspresi pada setiap situasi bahkan wajah juga dapat bereaksi terhadap wajah lainnya dan memberi petunjuk tentang karakter juga dari mana wajah itu berasal (ras). Begitu pula dengan arsitektur, seyogyanya memiliki kecendrungan yang sama seperti “wajah”. Wajah dapat berbicara dan bercerita tanpa kata, wajah juga dapat memberi imformasi dan menggambarkan suatau keadaan dengan jelas. Seperti halnya seni musik dan lukisan, atau mungkin semua jenis karya seni, “arsitektur” juga memiliki bahasa tersendiri yang bersifat universal. Arsitektur bukan berbahasa arsitek atau berbahasa akademis melainkan berbahasa Manusiawi aliasHumanus.