Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Property

Kondominium seharga Rp.400 jutaan masih laris di Jabodetabek

Kondominium Seharga Rp 400 Jutaan di Jabodetabek Masih Laris Manis

dikutip dari detik.com
Kamis, 14/04/2016
Kondominium Seharga Rp 400 Jutaan di Jabodetabek Masih Laris ManisFoto: Febri Angga Palguna
Jakarta -Pasar hunian kondominium di Jabodetabek saat ini masih stabil bila dibandingkan tahun lalu walaupun ada penurunan di beberapa segmen yaitu menengah, menengah ke atas, dan atas.

Namun penjualan kondominium di segmen menengah ke bawah dengan harga Rp 400 jutaan justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

“Kalau sekilas tingkat penjualan cukup stabil hanya sedikit penurunan beberapa segmen mengalami penurunan, yang perlu di highlight di sektor lower-middle yaitu naik 186,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia, saat memaparkan kondisi pasar properti di tahun 2016, di kantornya, BEI Tower, Jakarta, Kamis (14/4/2016).

Hal ini disebabkan investor lebih memilih untuk membeli ya karena harganya yang lebih murah dan lokasinya cukup baik dibandingkan membeli di segmen menengah ke atas.

“Yang menarik kenapa lower-middle meningkat salah satu kebanyakan investor masih bisa membeli untuk per unit Rp 300-400 juta per unit dan untuk proposed project yang banyak diluncurkan adalah kelas lower middle, saat ini yang banyak diluncurkan di Bekasi dan Tangerang cukup menarik lokasi baik harganya murah. Untuk kelas menengah ke atas agak sulit (untuk naik) karena dari akhir 2015-2016 banyak pembeli investor masih wait and see daya beli ada tapi ragu-ragu,” tutur Arief.

Transaksi kondominium kelas menengah-bawah mendominasi penjualan di kuartal I-2016 ini dengan persentase mencapai 38,4% atau sekitar 76.610 unit. Kemudian diikuti oleh kelas menengah-atas sebesar 14,5% dan kelas atas saja 11%.

Berdasarkan lokasi penyebarannya, mayoritas kondominium terkonsentrasi di wilayah sekunder atau sebanyak 77,5% dari total pasokan atau 133.861 unit. Sementara kawasan CBD mengkontribusikan sebanyak 15,4% dan kawasan primer sebanyak 7,1 %. Mayoritas kondominium terbangun berada di wilayah Jakarta Selatan atau mencapai 25,9% dari total proyek, diikuti Jakarta Utara sebesar 20,6%.

Selain itu, kebanyakan proyek mendatang akan berlokasi di Tangerang sebanyak 28,6 % dan diikuti Bekasi 17,8 %.

(feb/feb)

Ketika kaum kaya asal Cina mengincar properti di Australia

Ketika kaum kaya asal Cina mengincar properti di Australia

  • dikutip dari bbc.com 30 Agustus 2015

Image captionJenis properti yang digemari pembeli ialah yang memiliki pemandangan sungai atau laut.

Monika Tu tahu persis bagaimana cara tampil dengan megah.

Perempuan kelahiran Cina itu melangkah ke luar dari Rolls Royce yang baru saja parkir di sebuah kediaman di Distrik Potts Point, Sydney, Australia.

Harga kediaman bernuansa vila dengan warna krem di bagian depannya tersebut mencapai A$25 juta.

Namun, itu bukan rumah Tu. Dia justru mencari nafkah dengan menjual properti semacam itu kepada warga Cina.

“Ini adalah rumah impian semua orang. Pembeli asal Cina menyukai sekelumit sejarah. Mereka lalu datang ke negeri ini dan menginginkan sesuatu yang bernilai signifikan, di samping pemandangan indah dan pelabuhan menawan,” kata Tu, seraya menuruni anak tangga kayu.

Lahir di Guizhou, Cina, Tu tiba di Australia pada 1988 untuk meraih gelar sarjana di bidang perdagangan internasional di Melbourne. Setelah hijrah ke Sydney pada awal 1990-an, dia menjual kosmetik dan asuransi. Setelah itu, dia mendirikan perusahaan teknologi informasi.

Dia juga mendirikan bisnis properti mewah, Black Diamondz, enam tahun lalu. Kini, sebanyak 60% dari seluruh pelanggannya berasal dari Cina daratan.

Bisnis Tu sejauh ini berjalan lancar. Bahkan, baru-baru ini dia menjual sebuah kediaman di tepi sungai Sydney kepada seorang investor asal Cina seharga A$40 juta.

Lalu, dia juga menjual properti seharga A$33 juta di kawasan pinggiran Sydney dengan pemandangan Harbour Bridge dan opera house.

Investasi modal Cina di Australia dilaporkan meningkat dan diperkirakan bakal terdorong oleh aturan mata uang yang membuat kaum kaya Cina lebih mudah berinvestasi pada properti mancanegara.

Lembaga keuangan Credit Suisse memperkirakan warga Cina akan menyuntikkan A$60 miliar ke sektor properti Australia dalam lima tahun mendatang.

Sejumlah pakar menilai apa yang terjadi di Australia adalah bagian dari tren peningkatan permintaan real estat dari warga Cina. Tren tersebut dialami sejumlah negara di dunia.

“Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang pengembang dari Singapura dan dia melihat saya lalu berkata, ‘Anda belum melihat apa-apa. Ini hanya puncak gunung es’,” tutur John McGrath, salah satu agen real estat terkenal di Australia dan salah satu juri acara realita televisi berjudul The Block.

Untuk memenuhi permintaan, McGrath memperkerjakan seorang ahli Cina yang bisa melayani pertanyaan dari calon pembeli dan membantu mereka memahami aturan-aturan rumit serta perbedaan budaya di Australia.

Peraturan

Salah satu daya pikat signifikan bagi investor properti asal Cina adalah lokasi Australia.

“Hanya sembilan jam penerbangan (ke Australia) jadi perbedaan waktu hanya dua jam. Sistem sekolah sangat bagus dan saya pikir khalayak di Australia amat ramah. Inilah mengapa warga Cina suka datang ke negara ini,” ujar Tu.

Australia sebenarnya punya aturan ketat yang menghambat warga asing membeli rumah yang baru dibangun atau sedang direncanakan dibangun. Akan tetapi, mereka yang punya visa sementara atau visa permanen bebas membeli apapun yang mereka suka.


Image captionSebuah kediaman di Distrik Potts Point, Kota Sydney, dihargai jutaan dolar Australia.

Industri real estat di Australia juga amat membantu klien-klien kaya, khususnya dari Cina, dalam menggunakan dana dan skema investasi demi membeli apartemen serta rumah mahal.

Sejak 2009, harga real estat di Sydney telah melonjak 60% dan meningkat sekitar 15% setiap tahun selama dua tahun terakhir. Imbasnya, kaum muda Australia khawatir bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk membeli properti di negara mereka sendiri.

Kekhawatiran

Maraknya investasi dari Cina juga menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah kelompok di Australia.

Salah satunya adalah organisasi nasionalis yang beberapa waktu lalu membakar bendera di luar Konsulat Cina di Sydney. Mereka mengklaim Australia dicengkeram ‘invasi real estat Cina’.

Namun, McGrath mengatakan pembeli real estat asing hanyalah ‘kambing hitam’ dari kenaikan harga properti di Australia. Dia mengklaim mayoritas properti di Sydney masih dijual ke warga Australia dan mereka tidak tersingkir oleh pembeli asing.

Menurut Nigel Stapleton, ahli ekonomi real estat di University of New South Wales Business School, menggeloranya permintaan dari pembeli Cina di Australia hanyalah gelombang investasi Asia yang berulang. Pada 1980-an lalu, menurutnya, banyak warga Jepang yang tertarik dengan properti di Australia.

Dia mengingatkan bahwa warga asing kurang memahami pasar Australia dan karena faktor itu mereka kadangkala membayar terlalu tinggi.

“Umumnya investor asing tidak beraksi sebaik investor lokal,” ujar Stapleton.

Akan tetapi, justru karena faktor inilah, Monika Tu menjadi andalan para pembeli dari Cina.

“Semua orang ingin datang ke Australia. Bagi warga Cina, ini destinasi yang menggiurkan,” kata Tu.

Ciputra Bangun Real Estate di Vietnam

Proyek Property Ciputra di Hanoi
Seri Property 2010taken from: Kompas

Ciputra Hanoi International City, Proyek Properti Termaju di Vietnam

Selasa, 2/3/2010 | 18:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Grup Ciputra saat ini memiliki dua mega proyek properti berkonsep kota terintegrasi di Asia Tenggara, yakni di Hanoi, Vietnam dan Phnom Penh, Kamboja. Agus Surja Widjaja, Direktur Ciputra, mengungkapkan, Ciputra Hanoi International City merupakan satu-satunya proyek properti termaju dan terbesar di Vietnam saat ini. Sebab, pengembang lokal belum memiliki pengalaman mengembangkan proyek sejenis.

“Makanya kami diuntungkan dengan pengalaman pengembangan properti di Indonesia. Kami menawarkan produk yang lebih berkualitas dari sisi bangunan maupun desain. Ini yang mampu menarik minat pembeli di sana,” kata Agus.

Tidak hanya rumah dan apartemen, Managing Direktur Ciputra Budiarsa Sastrawinata menambahkan pada proyeknya tersebut, Ciputra melengkapi infrastruktur pendukung bagi pembentukan kota terintegrasi, seperti sekolah, rumah sakit, pusat belanja, dan sarana olahraga dan rekreasi. “Untuk pembangunan mal, kami targetkan selesai tahun 2012. Kami juga punya rencana membangun padang golf,” kata Budiarsa.

Di Hanoi, Vietnam, proyek properti seluas 301,8 hektar (ha) bernama Ciputra Hanoi International City telah memiliki 11 tower apartemen berlantai 20 dan sekitar 1.000 rumah kelas menengah-atas.

Proyek Ciputra di Hanoi

Sumber Foto: Robert Adhi-Kompas

 

Ciputra menghargai apartemennya itu mulai dari 200.000 dollar AS per unit, sedang harga rumah mulai dari 300.000 dollar AS per unitnya. “Tiap tower terdiri dari 150 unit apartemen,” ujar Budiarsa.

Letak Ciputra Hanoi International City di pusat kota dan dekat dengan Bandara Internasional Noibai dan CBD Hanoi membuat properti Ciputra tersebut laku keras. Sebab, semua unit properti, baik apartemen dan rumah yang telah berdiri telah terisi. “Tingkat huniannya cukup tinggi. Ketika bangunan berdiri, langsung terisi penuh,” kata Budiarsa.

Phnom Penh, Kamboja

Sama seperti di Hanoi, Ciputra pun menggunakan konsep kota terintegrasi pada proyek properti Grand Phnom Penh International City. Proyek kota terintegrasi pertama yang terletak di ibu kota Negara Kamboja tersebut menempati lahan seluas 260 hektar.

Saat ini, kata Agus, 50 persen dari sekitar 100 rumah yang telah berdiri bakal diserahterimakan kepada pembelinya tahun ini. Sekedar informasi, konstruksi fisik proyek tersebut telah berjalan sejak tahun 2007 lalu. Nantinya, pemilik rumah di Phnom Penh bisa menikmati fasilitas yang sama dengan proyek di Hanoi. “(Fasilitas) hampir sama, karena kita menggunakan konsep kota terintegrasi juga,” tuturnya.

Untuk masuk ke Vietnam dan Kamboja, Ciputra menggandeng perusahaan lokal untuk membentuk perusahaan patungan atau joint venture. Khusus Vietnam, mereka menggandeng BUMD Hanoi untuk membentuk perusahaan patungan, Citra Westlake City Dev Co. Ltd. Berdasarkan perjanjian, Ciputra menanggung 70 persen dari total penempatan modal, sedang mitra lokalnya itu mengisi sisa 30 persen.

“Pembagian keuntungannya mengikuti porsi penempatan modal. Memang kita lebih besar, tapi mereka yang menyediakan lahan, bahan bangunan, dan pekerja. Kita tinggal bawa pengetahuan ke sana,” paparnya.

Namun, Agus enggan mengungkapkan berapa nilai investasi yang telah mengucur ke proyek tersebut. Selain di kawasan Asia Tenggara, Ciputra melalui perusahaan patungan, Beyond Limit International Ltd. mengembangkan proyek perumahan di Kalkuta, India bernama Kolkata West International City. Adapun, total nilai investasi proyek perumahan seluas 400 ha itu mencapai 330 juta dollar AS. (Raymond Reynaldi/KONTAN)

 

Siapakah Pengembang Property Terbaik Indonesia?

AKARTA, KOMPAS.com – Majalah Property&Bank kembali menggelar acara tahunannya berupa penghargaan bagi pengembang, perusahaan produsen bahan bangunan, serta lembaga perbankan.

Kali ini, majalah tersebut bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Properti dan Keuangan (AJPK) dan menganugerahkan penghargaan Indonesia Property&Bank Award (IPBA) 2014 di Grand Melia, Jakarta, Jumat (20/6/2014) malam nanti.

Acara ini merupakan ke-9 kalinya sejak dihelat 2005 lalu. Dengan mengusung tema ‘Service Excellence To Global Transformation’, IPBA 2014 diberikan kepada pelaku industri properti dan perbankan yang telah fokus memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen.

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Kopas.com, Pemimpin Redaksi Majalah Property&Bank  Indra Utama mengatakan penghargaan kali ini merupakan momentum tersendiri. Salah satunya, karena angka “9” dipercaya memberikan keberuntungan.

“Sembilan menempati posisi tertinggi dalam bilangan angka. Angka 9 juga dianggap lambang pelayanan tertinggi yang tak pernah berakhir. Kesuksesan tiada henti, sempurna. Karena itu, momen IPBA ke-9 kembali dipersiapkan sebagai event akbar terbaik untuk pelaku bisnis properti dan perbankan Indonesia,” ujar Indra.

Sementara Ketua Dewan Juri, M Danisworo, menggarisbawahi bahwa dalam memasuki pasar bebas Asean 2015, kualitas merupakan hal penting dalam persaingan produk-produk properti. Pemenang penghargaan yang akan disebutkan nanti malam punya tanggung jawab dalam memastikan produknya layak bersaing di pasar bebas.

Ada pun penghargaan yang diberikan meliputi berbagai kategori yakni Kategori Grand Award, Kategori Penghargaan Khusus dan Bahan Bangunan, Kategori perumahan/Kota Baru/Kota Mandiri Favorit, Kategori Kondotel/Apartemen, Kategori Superblok/Mixed Use Terbaik, dan Kategori Bank Umum Berkinerja Terbaik.

Penulis : Tabita Diela
Editor : Hilda B Alexander