Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Artistik

Carol Bove, wanita seniwati pematung

Kunjungan ke studio pematung Carol Bove di bekas pabrik batu bata di dekat tepian  Brooklyn tidak seperti saran Rimbaud untuk seniman sejati – untuk terlibat dalam “disorganisasi tak terbatas dan sistematis dari semua indera” – melompat ke pikiran. Lantai pabrik yang besar dan didominasi oleh kerekan di atas kepala yang tampak seolah-olah  bisa mengerek  kereta bawah tanah, tempat yang tidak membangkitkan kata-kata bukan puisi seperti “keuntungan produktivitas” dan “strategi kepuasan pelanggan.”

Tetapi ibu Bove, 45 tahun ,yang potongan karyanya telah dirayakan secara luas dalam beberapa tahun terakhir,yang dikumpulkan oleh Museum of Modern Art dan ditampilkan di Venice Biennale,juga dikenal untuk menjaga trampolin kecil di studio, salah satu strategi esoteris dia untuk “melarutkan rasa keterpisahan saya dari dunia , “saat ia menggambarkan penjara kebiasaan, atau bahkan rasional, dalam berpikir. Dalam sebuah esai yang ditulisnya tahun lalu untuk seniman muda, dia menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, dia juga mencoba “filsafat, teknik Feldenkrais, antropologi, astrologi,fisiologi persepsi, merenungkan hidup sebagai manusia gua, dengan pengaturan makanan, pengalaman psychedelic, membaca buku motivasi, jatuh cinta, berlatih ritual magis dan tradisi ilmiah, antara pendekatan membebaskan lainnya dari  terapi yang mendalam.“ Saya tidak mau karyaku mengurangi kepribadianku,” katanya dalam sebuah wawancara. “ Aku mau semuanya ini menjadi diri saya sendiri, yang saya rasa akan lebih membesar.”

Ms. Bove, who also has a show of the new sculpture on view through Dec. 23 at the Maccarone gallery in Los Angeles, has been moving toward larger, more imposing work for several years now. Tetapi karya-karya barunya — semuanya dalam baja, some portions rusty and twisted, salvaged from New Jersey scrapyards; and others new, painted to look science-fiction spooky — are the most ambitious of her career, which has so flourished that she recently began moving here from smaller studio spaces in Red Hook, with a staff of 10 to help her manage exhibitions and manipulate the metal.

Photo

Carol Bove’s “Hylomorph I” (2016).CreditTony Cenicola/The New York Times

During a recent visit, she and her assistants had arranged many of the sculptures to mimic the space inside the Zwirner gallery in Chelsea. Ms. Bove (pronounced Bo-VAY) is obsessive about how groups of her pieces work in tandem, almost in the manner of a theater troupe, and how they are experienced — “kind of like walking through a picture,” she said.

Around this precise tableau lay the kind of oddball raw material and detritus that sometimes makes its way into her work: a salvaged root system from a redwood; a huge block of Styrofoam that looked like quarried stone; a pile of square stainless-steel tubes that she bends, using a 50-ton press, so that they end up looking more like squiggled brush strokes than like industrial metal. “This is maybe a first draft of something,” she said, kicking a double-bent column with her dirty white tennis shoe.

The ability to afford what is essentially a huge machine shop has allowed her, perhaps counterintuitively, she said, to make pieces with more spontaneity — “to look as if they’re almost easy” — and to continue to have the mental space to think in unconventional ways. It has also allowed her to expand her horizons while staying in Red Hook, where she and her husband, the painter Gordon Terry, have long lived and are raising their two children.

Photo

Carol Bove’s “Daphne and Apollo” (2016).CreditTony Cenicola/The New York Times

Some of Ms. Bove’s earliest pieces, which drew heavily on her upbringing in the Bay Area in the 1970s, were spare Modernist shelves, decorated with domestic knickknacks and a highly particular cross section of books (Hermann Hesse; R. D. Laing; Betty Friedan; “Natural Parenthood,” by Eda J. LeShan.) The books evoked a generally optimistic, open period in the counterculture, an interest of Ms. Bove’s that continues and edges up to mysticism in her fascination with thinkers like Harry Smith and Lionel Ziprin, the old-time hairy magi of the East Village. The critic Barry Schwabsky wrote in The Nation that “the risk of plunging into some sort of hippie-dippy self-delusion comes with the territory that Bove’s been exploring.”

Laura Hoptman, a curator at the Museum of Modern Art who organized a show of Ms. Bove’s work in 2013, said she became interested in her art partly because of that risk. She considers Ms. Bove’s forays into big-footprint sculpture to be only superficially riffs on 20th-century forebears. “I had always thought of her as a neo-Modernist,” Ms. Hoptman said. “But I came to the realization that that wasn’t really it. I started to think that she was more a collector than an appropriator — a collector of talismans. Her pieces might be the children of those earlier sculptors, but they’re sprinkled with a different kind of fairy dust.”

She added: “There are some people who come from the time of the counterculture, and they reject it, but she’s embracing it and inspecting it. She’s really drunk her own Kool-Aid.”

Photo

Carol Bove’s studio, a former factory floor in Red Hook, Brooklyn. CreditTony Cenicola/The New York Times

Ms. Bove allowed about as much. “I don’t really believe in the stable self,” she said. “If there’s a John Chamberlain who wants to come through me, that’s fine.” Later, she emailed this thought: “Years ago, my grandmother made some diminishing remark to me about Busby Berkeley’s achievement, saying that he just copied all of his choreography from a kaleidoscope. But a lot of people have seen a kaleidoscope, and only one person made those dances! Everyone is thoroughly interconnected and everyone is also an individual.”

Lokasi koordinat artistik di pesawat eksistensial adalah kadang-kadang rumit. “Tingkat kegagalan saya dengan potongan-potongan cukup tinggi,” katanya, tetapi menambahkan bahwa dia juga cukup praktis untuk memahami bahwa tagihan harus dibayar. (Harga untuk karya besar nya sekarang juga mencapai enam angka.) “Saya pikir beberapa buah sebagai orang-orang yang benar-benar tidak akan bisa pergi keluar dan mendapatkan pekerjaan – mereka para penyair dan pemimpi, dan itu OK Dan kemudian ada orang lain yang keluar sana dan mendapatkan cukup untuk orang lain. Dan itu oke juga. ”

Seperti matahari akan turun di luar studio sore itu, Ms. Bove mengatakan ia telah memutuskan untuk mengelilingi potongan-potongan baru dalam semacam abu-abu seragam dalam galeri Zwirner, kamar dicat dari lantai ke langit-langit untuk “membuat segalanya secara fisik merasa seperti itu dalam keadaan suspensi, “ide yang memberikan kenikmatan yang cukup nya. “Saya pikir itu akan naik perbatasan yang benar-benar kami

ird.”

Sumber: http://www.nytimes.com/2016/11/05/arts/design/sculptures-woman-of-steel-carol-bove.html

Koleksi seni Islami dalam gereja Amsterdam

Seni Islam dalam Gereja Kristen

dikutip dari Kompas – Selasa, 8 Maret
Seni Islam dalam Gereja Kristen
“KAMI berdiri di dalam gereja Kristen memandangi seni Islam yang dikoleksi seorang yahudi,” tawa Khalili. “Adakah cara yang lebih baik untuk menunjukkan keharmonisan dari ke tiga agama dunia ini?”

Pengusaha Yahudi-Iran, Nasser David Khalili (65 tahun), memiliki koleksi benda-benda seni Islam terbanyak di seluruh dunia. Menurutnya seni adalah yang terindah di dunia ini dan ia ingin berbagi antusiasmenya itu dengan dunia. Sebanyak lima ratus potong seni koleksinya dapat disaksikan di Nieuwe Kerk (Gereja Baru) di Amsterdam.

Khalili, berasal dari keluarga pedagang seni Yahudi asal Isfahan, Iran, yang mulai tahun 70-an mengkoleksi seni Islam. Empat puluh tahun kemudian, koleksinya sudah melebihi 25.000 potong dan menjadikannya sebagai pengoleksi seni Islam terkemuka di dunia.

“Koleksi Dr Khalili ini bersifat ensiklopedia,” kata pakar Arab Luit Mols, penulis katalog pameran di Amsterdam ini. “Koleksinya terdiri dari benda-benda seni utama dari semua zaman, kawasan dan bentuk.” Di Nieuwe Kerk dapat disaksikan antara lain kitab kaligrafi Al-Quran, miniatur Persia yang apabila diperbesar 100 kalipun masih akan tampak detail-detail indahnya, seni gelas kaca yang bercita rasa halus, keramik, perhiasan, dan tekstil. “Tidak semua benda seni Islam itu agamis,” tegas Khalili. ‘ “Beda dari misalnya seni kristen, seni dari dunia islam sebagian besar sifatnya sekuler.”

Menguntungkan

Wartawan Radion Nederland Michel Hoebink menulis, Koleksi ini betul-betul menguntungkan Khalili. Ketika ia mulai mengkoleksi di tahun 70-an, ia masih seorang pionir. Tetapi dalam 15 tahun belakangan, terutama di kawasan Teluk, semakin banyak minat terhadap warisan budaya sendiri. Banyak kolektor pribadi maupun museum yang membeli benda-benda seni. Oleh karena itu, hargapun meningkat dan koleksi Khalili juga naik nilainya sampai lebih dari satu milyar euro.

Tapi bagi Khalili bukanlah uang. “Seni menjadi bagian dari kemanusiaan, saya hanyalah penjaga sementara.” Mantan pakar komputer yang dijuluki ‘duta besar budaya Islam’ ini memiliki satu misi: “Saya ingin menunjukkan pada dunia bahwa seni Islam adalah seni yang paling indah dan beragam di dunia. Sampai batas tertentu, budaya Eropa berhutang budi pada Islam’.

Khalili menganggap tugasnya untuk menjaga seni Islam bagi generasi berikutnya. Ia meminta ilmuwan internasional tersohor untuk meneliti dan mengkatalogkan koleksinya. Menurutnya, ini merupakan ensiklopedia seni Islam terbesar yang pernah ditulis. “Saya hendak membuat 40.000 kopi dan mengirimkannya gratis ke seluruh universitas di dunia.”

Salah satu benda seni kesukaannya adalah lukisan Persia yang menggambarkan Musa, Yesus, dan Muhammad. “Ke tiga agama monotheisme ini adalah kakak beradik dari keluarga yang sama yang dulu hidup bersama secara harmonis. Lukisan ini adalah buktiknya.”

Kota London yang ‘penuh dosa’

Kota London yang ‘penuh dosa’

  • 24 Juli 2015
William Hogarth
Image captionWilliam Hogarth, seniman yang gemar menggambarkan kota London yang penuh dosa.

William Hogarth gemar menggambar sisi kota London yang suram dan penuh minuman keras. Sebuah pameran karya seni cetaknya dibuka di Museum Städel di Frankfurt.

“Saya tahu Hogarth tak memiliki imajinasi tentang pedesaan yang romantis,” kata penulis esei Abad ke-19, William Hazlitt. “Ia gemar pada situasi di kawasan St. Giles atau St. James di London. Karya-karyanya menghembuskan udara pekat rumah minum yang melelahkan.”

Untuk harganya, hanya sedikit gambaran yang lebih ekspresif ketimbang karya pelukis dan seniman ukir Inggris, William Hogarth (1697-1764).

Hogarth jarang terpanggil untuk menggambar arus sungai atau sapi yang jinak. Alih-alih, objek yang ia gambar adalah teater kehidupan yang kacau balau yang ditampilkan oleh masyarakat kota London, mulai dari kawasan kumuh St. Giles hingga daerah mentereng St. James.

Kota metropolitan Abad ke-18 itu merupakan arena yang penuh persaingan – dan apa yang dirasakan Hogarth sebagai sifat alamiah sehari-hari kota itu memberi inspirasi bagi serangkaian karya cetak satire, termasuk ‘A Harlot’s Progress’ dan ‘A Rake’s Progress’ yang membuat namanya terkenal.

Tentu saja, gambaran yang dibuatnya tentang kehidupan kelas bawah yang keras dengan lokasi di rumah pelacuran, serta sudut lain kota itu yang keji, terbukti populer hingga mengilhami kata sifat “Hogarthian” untuk menggambarkan lingkungan kumuh yang disampaikan.

Dan contoh yang kerap dijumpai dari objek gambar Hogarth yang jorok adalah karyanya tahun 1751 yang terkenal, ‘Gin Lane’, atau Lorong Gin.

Menurut Hogarth, “jalur neraka kota” ini “dibuat untuk menghapuskan kekuatan jahat yang menguasai masyarakat kelas bawah”.

Bangkrut

Bersama dengan pasangannya ‘Beer Street’ atau Jalan Bir, karya ini termasuk di antara 70 karya yang ditampilkan dalam pameran Vices of Life: The Prints of William Hogarth, di Museum Städel di Frankfurt.

Pada saat membuat Gin Lane, Hogarth telah mencapai puncak kariernya. Lahir dari ayah seorang kepala sekolah yang bangkrut, ia hidup dalam masa kecil yang miskin, sebelum magang kepada seorang ahli ukir perak.

Pada awal usia 20-an ia membuka usahanya sendiri, membuat kartu nama dan ilustrasi buku murahan. Pada tahap ini, ia masih seorang pemula.

Namun berkat bakatnya, juga naluri bisnisnya (hal yang tak ia dapatkan dari ayahnya –yang mengelola warung kopi yang bangkrut- dan menghabiskan waktu selama empat tahun di penjara karena utang) Hogarth meraih sukses sebagai seorang seniman profesional.

Pada dekade 1730-an ia memelopori bentuk seni baru yang ia istilahkan sebagai “subjek moral modern”, yaitu serangkaian gambar yang menceritakan kisah tentang perilaku dan kepribadian. Karya pertamanya, ‘A Harlot’s Progress’ sukses besar, setidaknya sebanyak 1.240 buah dicetak untuk para pelanggan dengan harga satu guinea per lembar.

Pada dekade berikutnya, Hogarth memainkan peran yang semakin besar baik sebagai pembuat potret dan seniman ukir di dunia seni di London, dan puncaknya adalah penunjukannya pada tahun 1757 sebagai juru cetak resmi bagi raja.

Dua tahun sebelum penerbitan Beer Street dan Gin Lane, ia telah cukup kaya untuk membeli sebuah rumah besar di Chiswick.

Semangat jaman

Gin Lane
Image captionGin Lane, jalan satu arah menuju keruntuhan masyarakat London.

Konteks bagi Beer Street dan Gin Lane adalah hal yang disebut ‘Gin craze’ atau kegilaan pada gin pada paruh pertama Abad ke-18.

“Pada tahun 1689, muncul undang-undang melarang impor anggur dan minuman keras dari Prancis,” kata Annett Gerlach dari Städel Museum. Pada saat yang sama, pemerintah Inggis mendorong penyulingan minuman keras dari tanaman setempat dengan cara menghapuskan pajak dan berbagai pajak lain yang harus dibayar oleh pemilik tanah.

Hasilnya adalah tersedianya minuman pengganti yang murah dan mudah untukbrandy yang biasanya didatangkan dari Prancis. “Sejak itu, gin harganya jadi murah,” kata Gerlach, “Minuman ini dikonsumsi khususnya oleh orang-orang miskin.”

‘Kesuksesannya’ yang besar saat itu dibuktikan dengan fakta bahwa satu dari lima rumah di kawasan St Giles-in-the-Field menjual gin – sementara perbandingan di kawasan Westminster yang lebih mewah adalah satu berbanding 15.” Menurut sebuah perkiraan, tahun 1743 orang di Inggris rata-rata meminum 10 liter gin per tahun.

Di antara orang terpelajar di London, gin segera menjadi sumber kebencian. Warga negara yang khawatir terhadap hal ini, seperti penulis novel Henry Fielding –yang juga teman Hogarth- menganggap minuman keras bertanggung jawab bagi peningkatan kekacauan, kriminalitas dan kematian bayi yang menimpa London.

Kegilaan gin bahkan bisa dibandingkan dengan penyalahgunaan narkoba seperti kokain di kota-kota besar sekarang ini.

Fielding merupakan salah satu dari beberapa orang yang berkampanye utuk menghasilkan undang-undang gin tahun 1751 yang menghentikan ‘wabah’ itu. Hogarth membuat karya Beer Lane dan Gin Lane guna menambah daya tonjok visual bagi kampanye tersebut.

Dalam kesempatan itu, Hogarth tidak meminta ahli ukir Prancis –sebagaimana biasa ia lakukan ketika menerima pekerjaan dari pelanggan terkemuka- Hogarth memproduksi lempengannya sendiri untuk menjamin bahwa harga karyanya akan tetap terjangkau masyarakat luas.

‘Reruntuhan ibu’

Gambar ini menyediakan cara pandang alternatif terhadap kota London. Gin Lane melontarkan kita untuk masuk ke dalam sumur tanpa dasar daerah kumuh St. Giles di sebelah utara Covent Garden, di mana seorang ibu yang alkoholik menuangkan gin ke dalam mulut bayi yang baru dia lahirkan.

Tokoh utama dalam karya itu adalah seorang pelacur gila setengah telanjang dengan luka yang disebabkan oleh penyakit sipilis di kakinya, tak sadar bahwa bayinya sedang terjungkal menuju kematian.

Di tempat lain, peminum gin berkantong bokek berubah menjadi makhluk brutal dan liar. Seorang tukang kayu dan istrinya memakai pakaian compang camping dengan putus asa menggadaikan alat-alat pertukangan dan alat masak guna mendapat uang untuk mendanai kebiasaan minum mereka.

Di balik dinding, seorang anak laki-laki bersaing dengan seekor anjing memperebutkan sebongkah tulang. Penyanyi balada bertubuh kurus seperti mayat terduduk di depan dalam kondisi sakit parah. Anjing hitamnya menjadi simbol bagi keputusasaan.

Sementara di latar belakang, tampak mayat-mayat termasuk seorang tukang cukur yang digantung di lantai atas sebuah rumah separuh runtuh. Pada bagian ini kita dihadapkan oleh kerumunan pemabuk yang gila, menari-nari dan menyebabkan kekacauan di mana seorang di antaranya meletakkan alat tiup di kepalanya. Ia bahkan menari melompat-lompat saat mengayunkan sebilah lembing yang menyayat seorang bayi – sebuah penggalan dari mimpi buruk.

Di dunia jungkir balik yang dikendalikan oleh gin ini memperlihatkan keruntuhan masyarakat secara keseluruhan, disimbolkan oleh runtuhnya gedung dalam gambar pemandangan yang menyedihkan itu.

Beer Street
Image captionDi Beer Street, London tampak gembira dan bahagia.

Berlawanan dengan Gin Lane yang seperti neraka, Beer Street seperti surga.

Dengan lokasi di Westminster, tempat di mana perdagangan dan kerajinan berjaya, gambar ini menampilkan para pekerja sehat dan cukup makan saat menghabiskan waktu luang mereka, menikmati minuman bir yang berbusa. Selembar koran di meja melaporkan pidato dari raja, menyerukan “Kemajuan perdagangan dan menumbuhkan Seni Perdamaian”.

Di dekatnya tampak pedagang dengan keranjang penuh ikan, memperlihatkan masyarakat yang bersandar pada nilai-nilai perdagangan yang kokoh dan jujur – tak dicemari oleh gin – maka mereka akan diberkahi dengan keberlimpahan dan kemakmuran.

Hazlitt benar bahwa Hogarth tidak memiliki imajinasi tentang pedesaan yang indah. Namun perayaan keinggrisan di Beer Street, sebagaimana diingatkan oleh papan nama kuno di penginapan The Barley Mow, adalah hal paling ‘romantis’ yang bisa dihasilkan oleh sang artis.

Dan sementara Beer Street dan Gin Lane lahir karena persoalan yang khusus di zaman Hogarth, “realisme dan daya tarik sosial yang dimiliki Hogarth” kata Gerlach, “dan persepsinya serta selera humornya masih menarik hati bagi penonton hingga kini.”

Alastair Sooke adalah kritikus seni di Harian The Daily Telegraph.

Menengok rumah-rumah terindah di dunia

Menengok rumah-rumah terindah di dunia

  • 12 Agustus 2015

 


Image captionLa Rotonda bangunan yang memadukan seni dan arstiektur serta simbol relijius.

Selama berabad-abad, para seniman dan perancang telah berupaya untuk menciptakan arsitektur yang memuaskan secara estetika. Tetapi apakah sebuah rumah menjadi seni?

Pada tahun 1565, Paolo Almerico, seorang pejabat tinggi pengadilan Vatikan pada masa Paus Pius IV dan V, pensiun dan pindah ke Vicenza, sebuah kota di bagian timur laut Italia.

Dia menunjuk Andrea Palladio, salah satu arsitek terbaik dalam sejarah, untuk merancang sebuah tipe rumah baru. Bangunan yang didirikan di atas bukit dengan pemandangan kota dan wilayah pedesaan di sekitarnya dinamai La Rotonda, sebuah vila yang terkenal dengan pertanian mandiri, agama dan perdagangan. Sebuah tempat untuk belajar, kontemplasi dan cukup menyenangkan. La Rotonda juga merupakan karya seni tanpa cela.

Meski demikian penyokong dana ataupun arsitek tak sempat melihat bangunan La Rotonda selesai dibangun. Sebuah keindahan, keyamanan, simetri, simbol religius – sebuah salib dalam sebuah kotak dalam sebuah lingkaran imajiner – dan dengan serambi dari tiang berbentuk klasik yang berbahan ion yang menghadap empat penjuru kompas, rumah yang indah ini terhubung dengan pemandangan kota menyatukan seni dengan arsitektur. Bangunan ini merupakan sebuah bentuk karya Renaisans ideal yang sempurna.

Sejak saat itu, dan tidak peduli apapun gayanya, bahan baku atau budaya, pasti arsitek dan para patron yang bersemangat ataupun tercerahkan, bertujuan untuk melakukan sesuatu yang kurang lebih sama dengan karya Palladio dan Almerico yang dibuat 450 tahun yang lalu itu.

Sebuah pameran terbaru di Museum Of Modern Art (MoMA) New York, Endless House: Intersections of Art and Architecture, “mempertimbangkan rumah untuk sebuah keluarga dan pola dasar hunian sebagai tema dari upaya kreativitas arsitek dan seniman“.

Melalui gambar-gambar, model, video dan instalasi, pertunjukan ini bertujuan mengamati sebuah rumah sebagai cara untuk mengeksplorasi ide arsitektur yang memiliki kaitan dengan seni.

Itu juga tampak dalam karya para seniman yang telah membuat rumah sebagai fokus kreativitas mereka, dan dengan implikasi menimbulkan pertanyaan yang dengan menganggumkan dijawab oleh Palladio dan Paulo Almerico: apakah sebuah rumah dapat menjadi sebuah pekerjaan seni?

Pertanyaan seringkali diajukan, bahwa masalah perumahan bagi penduduk dunia yang tumbuh cepat telah mendorong meningkatnya permukiman di pinggiran kota seiring dengan menjamurnya rumah-rumah gubuk – belum lagi rumah-rumah yang murah ataupun mahal, yang jauh sekali dari sentuhan seni.

‘Hantu di rumah‘

Dalam pameran yang digelar MoMA menekankan pada perpaduan seni dan arsitektur selama lima puluh tahun, dibandingkan dengan 500 tahun sebelumnya.

Sebab pada tahun ini, merupakan peringatan 50 tahun kematian Frederick Kiesler, seorang seniman dan arsitek blasteran Austria-Amerika, yang bekerja sama dengan museum di akhir 1950an dalam sebuah proyek untuk sebuah rumah seperti La Rotonda yang telah berdiri sejak 1560an. Ini merupakan rumah tanpa batas.

rumahFrank Gehry mentraformasikan bangunan gaya kolonial Belanda menjadi rumah keluarga.

 

Bangunan itu hanya diwujudkan sebagai sebuah model, tetapi apa yang menjadi luar biasa, sesuatu yang eksperimental, rata, berbentuk elips yang menggambarkan apa yang Kiesler sebut sebagai Correalism, sebuah rancangan dengan filosofi memperhatikan bentuk sebuah ruang yang saling berkaitan, manusia, obyek, konsep serta seni.

Jika ini terdengar sangat 60an, memang begitu. Correalism dan rumah tanpa batas mempengaruhi para arsitek seperti Frank Gehry, yang pertama kali menerima penghargaan Frederick Kiesler Prize dalam bidang arsitektur dan seni pada 1998.

Karya Gehry yang terkenal antara lain Museum Guggenheim Bilbao di Spanyol yang dibuka pada 1997 lalu. Dua puluh tahun sebelumnya, Gehry juga membangun rumah bergaya kolonial Belanda tahun1920 di Santa Monica, dengan konsep sebuah rumah keluarga yang ajaib, dengan memadukan konsep material, obyek dan seni.

“Kami diberitahu bahwa ada hantu di rumah,”, Gehry mengatakan kepada Arch Daily. “Saya memasukkan hantu kubisme. Jendela-jendelanya… Saya ingin membuat mereka tampak seperti merangkak keluar dari sana. Pada malam hari, kaca ini memantulkan cahaya…. jadi ketika Anda duduk di meja ini Anda akan melihat mobil-mobil yang melintas, Anda akan melihat bulan di tempat yang berbeda… bulan ada di sana tetapi dipantulkan disini… Dan Anda pikir itu ada di atas sana dan Anda tidak mengetahui di mana Anda.”

Rumah
Image captionSebuah model yang indah rancangan Asymptote Architecture, Wing House.

Frederick Kiesler akan senang mengunjungi Frank Gehry di rumah yang juga juga merupakan sebuah karya seni. Ketika diminta untuk membangun sebuah Rumah Tanpa Batas di halaman MoMa untuk pameran museum tentang Arsitektur Bayangan pada 1960, Kiesler berbicara mengenai lantai batu kerikil, pasir, rumput, papan, air dari anak sungai dan ubin terakota. Tetapi itu tak pernah terwujud.

Juga Wing House oleh Asymptote Architecture, sebuah praktek di New York yang didanai oleh Hani Rashid dan Lise Anne Couture. Ini merupakan salah satu dari desain tiga rumah yang ditampilkan dalam sebuah model pada 2008 di Venice Architecture Biennale.

Habitat alami

Sesungguhnya rancangan mengeksplorasi ide menghubungkan seni dengan sains ke Arsitektur. Pada 2006, Gillian Lambert, seorang mahasiswa arsitektur London, memasukkan unsur cuaca dalam desainnya.

Lambert menampilkan gambar yang indah untuk desain sebuah “rumah studio untuk seorang arsitek yang terobsesi dengan cuaca”, dia mengatakan kepada saya, terinspirasi oleh lukisan karya JMW Turner yang berjudul Snow Storm – Steam-Boat Off a Harbour’s Mouth, tahun 1842.

“Ruang dalam rumah tampak kabur seperti air hujan yang jatuh dari langit-langit; Angin sepoi-sepoi di udara ditapis melalui tembok, melewati cahaya di siang hari dan area yang tersembunyi dalam bayangan gelap. Bagian dalamnya menrefleksikan kondisi alam yang tidak terduga dan dinamis.”

Rumah
Image captionKreasi Gillian Lambert yang terinspirasi dari lukisan karya JMW Turner berjudul Snow Storm – Steam-Boat Off a Harbour’s Mouth.

Jika sangat berbeda dari karya Gehry “Hantu Kubisme”, proyek Lambert menampilkan sebuah kehadiran ‘hantu’ melalui Ghost of Water Row, sebuah rumah yang terbuat dari dengan atap katun putih dan tembok yang kokoh, yang dipamerkan hanya satu malam di pinggiran sungai Clyde di Glasgow pada November 2012.

Karya itu merupakan rancangan Edo Architecture (Andy McAvoy dan Ann Nisbet), itu merupakan kebangkitan dari imajinasi dari deretan rumah penenun yang ada di sini sejak 1790 sampai 1929.

Seniman peraih Turner Prize Rachel Whiteread melakukan sesuatu yang serupa pada 1990an, pertama melalui karya Ghost (1990), sebuah bagian dalam sebuah rumah gaya Victoria dan kemudian dengan House (1993).

Meskipun dimaksudkan untuk sementara waktu, House membuat Whiteread meraih Turner Prize.

Sementara itu para arsitek modern Le Corbusier dan Mies van der Rohe, telah membuat rumah sebagai karya seni pada abad 20 seperti yang dilakukan Palladio and Paolo. Karya Almerico itu apakah eksperimental, konseptual atau secara arsitektur formal dan benar, kunci utama bangunan dan karya seni mencerminkan sifat rumah, yang sangat berbeda dengan bangunan rumah baru tidak memiliki nilai seni.

Seni dari Holocaust, cerita di balik lukisan

Seni dari Holocaust, cerita di balik lukisan

  • 1 Maret 2016
one springImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionSatu Musim Semi karya Karl Bodek dan Kurt Conrad Low.

Sebuah pameran baru yang bersejarah, Seni dari Holocaust, dibuka di sayap belakang Museum Sejarah Jerman di Berlin awal bulan Februari.

Untuk pertama kalinya, karya seni dari koleksi Museum Yad Vashem, Jerusalem, dipamerkan di luar Israel.

Pameran ini mengetengahkan 100 karya seni, yang sebagian besar berupa gambar dan lukisan, yang dibuat para tahanan Yahudi di kamp-kamp kerja paksa, di ghetto dan di kamp konsentrasi.

Banyak dari hasil-hasil karya ini menggambarkan realitas suram dari kehidupan sehari-hari di penjara Nazi.

Kenyataan bahwa hasil karya ini masih terus bersintas sampai hari ini, dalam sebagian besar kasus, merupakan keajaiban: banyak di antaranya yang disembunyikan atau diselundupkan dengan risiko besar oleh teman-teman para perupa ini.

Pameran ini, yang bertepatan dengan perayaan 50 tahun dibinanya hubungan diplomatik antara Jerman dan Israel, diselenggarakan pada saat makin banyaknya kekhawatiran mengenai meningkatnya anti-Semitisme di seluruh Eropa.

Pada saat Kanselir Jerman Angela Merkel membuka pameran ini, ia mengatakan kepada para wartawan bahwa ia berharap pameran ini akan mengirim pesan kepada para migran yang baru datang ke Jerman dari negara-negara ‘di mana kebencian terhadap Israel dan Yahudi tersebar luas’.

Namun karya-karya ini juga, terlepas dari konteks politiknya sekarang ini, merupakan bukti yang sangat mengharukan mengenai daya tahan manusia serta kekuatan seni, dan sebagaimana dinyatakan oleh kedua kurator pameran ini, Walter Smerling, bersama Eliad Moreh-Rosenberg, karya-karya ini secara estetika sangat kuat dalam gaya mereka masing-masing.

Kedua kurator menyaring dari daftar pendek berisikan beberapa ratus karya.

“Kami memilih karya-karya ini berdasarkan pertimbangan artistik dan memilih karya yang memprovokasi kami serta membuat kami merenungkan cerita yang ada di balik masing-masing gambar,” kata Smerling, yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Seni dan Budaya.

Kami memintanya untuk menjelaskan cerita yang ada di balik sejumlah karya yang mereka pilih.

the soing is overImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionKarya Pavel Fantl yang berjudul Lagu sudah Berakhir.

Pavel Fantl, Lagu sudah Berakhir (1941-1944)

Lukisan berwarna hasil goretan Pavel Fantl ini merupakan satu dari sedikit saja karya dalam pameran ini yang menunjukkan para anggota Nazi.

“Ketika saya melihat karya ini, saya langsung merasa yang ini harus dipamerkan,” kata Smerling. Fantl, adalah seorang dokter yang lahir di Praha pada tahun 1903.

Ia dapat melukis secara rahasia di ghetto Theresienstadt, di wilayah Cekoslovakia yang waktu itu diduduki, berkat seorang polisi Ceko yang memberinya bahan-bahan yang diperlukannya.

“Ia menggambarkan Hitler sebagai badut,” kata Smerling menjelaskan, “dan instrument yang dipakainya untuk memainkan melodi untuk menipu semua orang, ada di lantai, rusak, dengan darah di tangannya.”

Smerling menambahkan, “Kita harus membayangkan keberaniannya dan rasa humornya yang terus bertahan, untuk mengritik orang yang bertanggung jawab atas situasinya sesaat sebelum ia meninggal.”

Fantl dideportasi ke Auschwitz, bersama istri dan putranya, dan dibunuh oleh Nazi pada bulan January 1945. Seorang pekerja Ceko belakangan menyelundupkan karyanya ini ke luar ghetto dan menyembunyikannya di sebuah dinding.

the refugeeImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPengungsi oleh Felix NussBaum.

Felix Nussbaum, Pengungsi (1939)

Nussbaum, artis paling terkenal dalam pameran ini, ditangkap di Belgia pada tahun 1940, setelah itu ia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di Brussel bersama istrinya.

Lukisannya yang berjudul Pengungsi menunjukkan keterasingan yang dialami para orang Yahudi Jerman yang terpaksa harus mengembara. “Dalam lukisan ini, ia bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Ke mana aku bisa pergi di dunia ini, di mana aku bisa hidup, di mana aku bisa bekerja dan berada?’” kata Smerling.

Nussbaum mengirimkan lukisannya kepada ayahnya di Amsterdam, dan setelah dibunuhnya ayah Nussbaum di Auschwitz pada tahun 1944, lukisan itu berpindah tangan kepada para pemilik pribadi dan kemudian dijual di sebuah pelelangan.

“Lukisan ini merujuk pada kehidupan masa ini, dengan menunjukkan posisi para pengungsi yang bertanya-tanya ke mana mereka bisa pergi,” kata Smerling. “Sekarang ini ada banyak orang yang menanyakan hal yang sama.”

Nussbaum akhirnya dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944 pada usia 39 tahun, bersama dengan istrinya.

rooftops in the winterImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionAtap di Musim Dingin karya Moritz Muller.

Moritz Müller, Atap di Musim Dingin (1944)

Moritz Müller belajar melukis di Praha, dan kemudian mendirikan rumah lelang yang terpaksa harus ditutup setelah Nazi menginvasi Cekoslovakia.

Ia menghasilkan lebih dari 500 karya selama ia ditahan di ghetto Theresienstadt dan dalam karya yang berjudul Atap di Musim Dingin ini, ia melukiskan atap-atap di Theresienstadt yang ditutupi salju sebagai keindahan alam yang damai.

“Ini salah satu karya paling berharga, karena walau tidak kelihatan ada orang, ghetto-ghetto ini semuanya kepenuhan orang,” kata Smerling.

“Karya ini memiliki berbagai arti, di satu sisi ada lanskap musim dingin yang indah, dan di sisi lain, ada keseraman di balik itu.”

Janda seorang pejabat Austria belakangan membeli sejumlah lukisan Müller, dan menyembunyikannya di rumahnya. Mueller tewas dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944.

Girls in the fieldImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionGadis di Padang Rumput yang dilukis oleh Nelly Toll.

Nelly Toll, Gadis di Padang Rumput (1943)

Nelly Toll adalah satu-satunya artis dari pameran ini yang mampu bersintas.

Lahir di Lviv atau di daerah yang kini dikenal sebagai Ukraina, ia melukis gambar ini pada usia delapan tahun ketika disembunyikan oleh satu keluarga Kristiani bersama ibunya.

Lukisan ini menggambarkan kebebasan yang didambakannya.

“Penting bagi saya untuk mengenal sang artis dan berbicara kepadanya,” kata Smerling. Toll datang ke Berlin dari rumahnya di New Jersey, Amerika Serikat, untuk mengunjungi pembukaan pameran ini, serta menerima sambutan sangat hangat dari Angela Merkel.

“Itu merupakan simbol yang sangat baik,” kata Smerling, mengenai pertemuan tersebut.

rear entranceImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPintu Belakang karya Bedrich Fritta.

Bedrich Fritta, Pintu Belakang (1941-1944)

Dari lebih dari 140.000 orang yang dideportasi ke Ghetto Theresienstadt antara bulan November 1941 dan Mei 1945, sekitar 120.000 meninggal.

Bedrich Fritta lahir di Bohemia pada tahun 1906 dan dikirim ke Theresienstadt sebelum dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944. Ia dan kelompok rekan-rekan artis di ghettonya menyembunyikan karya mereka ke dinding sebelum mereka ditangkap.

“Gerbang setengah terbuka merupakan metafora kemarian, tidak ada alternatif yang terlihat, jadi jalan keluar satu-satunya adalah menuju kegelapan,” kata Smerling. “Ia menunjukkan arsitektur dan alam yang kosong melompong sebagai panggung bagi peristiwa yang juga tidak terlihat.”

one springImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem

Karl Bodek dan Kurt Conrad Löw, Suatu Musim Semi (1941)

Smerling dan rekan kuratornya menjadikan Suatu Musim Semi sebagai gambar utama pameran ini meskipun ukurannya yang kecil. Kerja sama kedua seniman yang ditahan di Kamp Gurs di Prancis selatan itu memperlihatkan kupu-kupu di kawat pagar besi dengan pemandangan pegunungan perbatasan Spanyol di kejauhan. “Saya merasa sangat mengagumkan bahwa dua orang artis membuat lukisan sedemikian kecilnya. Ini merupakan pernyataan diri mereka sebagai manusia dan seniman, serta mengejawantahkan keinginan mereka untuk bersintas serta harapan mereka bagi masa depan.” Kurt Löw, dari Wina, akhirnya dapat melarikan diri dari Swiss ke Prancis, tetapi Bordek, dari Chernivisti, Ukraina, dikirim ke Auschwitz dan terbunuh di sana. “Salah satu dari mereka berhasil menjadi kupu-kupu itu, satunya lagi tidak.”

transport arrivalImage copyrightYad Vashem Gift of the Prague Committee for Documentation
Image captionLeo Haas melukis Kedatangan Transportasi ini.

Leo Haas, Kedatangan Transportasi (1942)

Haas, yang berhasil bertahan hidup pada saat perang, diperintahkan oleh badan swa-administrasi ghetto Theresienstadt untuk membuat gambar arsitektural untuk manajemen kontruksi ghetto.

“Tetapi ia juga membuat lukisan tinta yang terkomposisi dengan baik dan sangat teratur, seperti perwujudan transportasi ini,” kata Smerling.

Seperti halnya Nussbaum, Haas juga menggunakan motif burung pemburu untuk mengisyaratkan kehadiran kematian yang menyeramkan.

Ia juga menggambar huruf ‘V’ (Victory = kemenangan) di sudut kiri bawah lukisan, yang merupakan simbol gerakan perlawanan bawah tanah.

“Sungguh ini merupakan gambar yang menakjubkan, ia melihat kematian dan pengelolaan kematian di hadapannya, tetapi tetap saja ia memikirkan kemenangan.”

self portraitImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPotret Diri Charlotte Salomon.

Charlotte Salomon, Potret Diri (1939-1941)

Ada tiga karya Salomon yang dipamerkan dalam ekshibisi ini, termasuk Potret Diri ini.

Salomon dilahirkan di Berlin, dan setelah Kristallnacht (malam kaca pecah) bergabung dengan kakek neneknya di rumah yang dimiliki seorang hartawan Amerika Serikat, Ottilie Moore,di kota Villefranche, di bagian selatan Prancis.

Salomon terus menggambar selama berada dalam pengasingan, termasuk memproduksi potret diri ini.

“Dalam potret diri ini kelihatannya semua hal bergerak, dan di warna di wajahnya, ia kelihatan memiliki gejolak dalam dirinya sendiri,” kata Smerling.

Salomon bersama suaminya ditangkap oleh Gestapo pada bulan September 1943, dan dikirim ke Auschwitz. Ia terbunuh di sana. Saat itu ia sedang hamil lima bulan.

Versi bahasa Inggris artikel ini: Arts from the Holocaust: The stories behind the imagesdan tulisan-tulisan lain sejenis bisa Anda baca di BBC Culture.

Mengapa Suara Air Dapat Membuat Tertidur?

Mengapa Suara Air Dapat Membuat Tertidur?

(Photo : Lori Labrecque / Shutterstock.com)

Suara debur ombak laut, gemericik suara air di sungai, rintik derai hujan, banyak orang bersumpah dengan suara-suara tersebut membantu mereka tertidur. Mengapa air yang mengalir tampaknya memiliki efek mengantuk yang kuat dan populer?

Bagian dari jawabannya terletak pada bagaimana otak kita menafsirkan suara yang kita dengar – baik saat kita masih terjaga maupun di tengah malam – sebagai ancaman atau non ancaman.

Suara tertentu, seperti jeritan dan jam alarm keras, hampir tidak dapat diabaikan. Belum lagi suara lainnya, seperti angin di pepohonan dan gelombang memukul-mukul darat, kita pilih mana yang perlu dihilangkan atau dihindari.

“Suara-suara yang mendesing pelan ini adalah suara non ancaman, mereka bekerja untuk menenangkan orang,” kata Orfeu Buxton, seorang profesor kesehatan biobehavioral di Pennsylvania State University, Amerika Serikat. “Sepertinya yang mereka katakan: ‘ Jangan khawatir, jangan khawatir, jangan khawatir’.”

Secara umum, suara keras seperti yang kita semua alami, cenderung lebih sulit membuat kita tertidur. Karena volume sebagai karakter suara yang dapat memicu otak yang disebut sistem kewaspadaan terhadap ancaman dan membuat kita tersentak dari tidur.

“Jenis kebisingan memberi batasan apakah Anda akan bangun atau tidak, mengendalikan volume, karena informasi suara diproses oleh otak secara berbeda,” kata Buxton.

Misalnya, meskipun suara deburan ombak dapat bervariasi dalam volume, dengan interval tenang diikuti oleh irama, keriuhan ombak tersebut secara pelan naik dan turun dalam intensitas yang tetap. Hal tersebut sanngat kontras dengan teriakan atau dering telepon yang tiba-tiba menusuk keheningan, mencapai puncak kenyaringannya secara seketika.

“Dengan suatu teriakan atau bentakan, dari ‘tidak ada suara’ dan kemudian mendadak langsung ke nada tinggi,” kata Buxton.

“Bangun!”

Perbedaan akustik utama antara ancaman tiba-tiba dan secara bertahap non ancaman ini pernah dilakukan studi tahun 2012 oleh Buxton di rumah sakit. Bahkan pada volume rendah sekitar 40 desibel – bisikan, secara esensial – alarm dari peralatan rumah sakit telah merangsang peserta penelitian yang tidur ringan 90 persen dari waktunya, dan separuh waktu dari tidur nyenyak.

Sementara itu, suara helikopter dan lalu lintas, ketika mencapai tingkat bentakan pada 70 desibel, masih tidak membangunkan peserta sesering suara alarm, dering telepon dan percakapan manusia yang bahkan relatif tenang, hal ini lagi-lagi karena mendapat fitur yang menggelegar, pengiriman dari tidak ada suara sampai puncak suara.

Kita manusia, tampaknya, secara biologis terprogram untuk menanggapi suara-suara yang datang dari mana saja karena mereka bisa menjadi berita yang sangat buruk.

“Kita mamalia, tapi kita secara khusus primata. Primata akan memanggil untuk mengingatkan pasukan mereka tentang adanya ancaman. Atau, dalam kasus manusia primitif yang hidup dalam kelompok-kelompok di alam liar, suatu jeritan mungkin diartikan seseorang di dalam suku sedang dalam ancaman,” kata Buxton.

Dalam kasus lainnya, suara tiba-tiba adalah alasan yang baik untuk berhenti menggergaji kayu dan melihat apa yang sedang terjadi sih.

Kamuflase akustik

Alasan lain suara air dapat membantu kita tidur? Suara non-ancaman, terutama ketika relatif keras suaranya, dapat meredam suara-suara yang mungkin menaikkan sinyal merah di sistem kewaspadaan terhadap ancaman menjadi aktif di dalam otak.

“Memiliki bentuk pengalihan kebisingan juga dapat membantu menahan suara-suara lain yang Anda tidak dapat mengontrolnya, apakah seseorang sedang menekan tombol siram toilet di bagian lain dari rumah, atau ada taksi atau lalu lintas di luar – suara apa pun yang mengganggu,” kata Buxton.

Semua ini dapat dipahami bahwa tema air membantu tidur telah terbukti sangat populer selama beberapa dekade, di media mulai dari kaset ke compact disk MP3 untuk aplikasi perangkat mobile saat ini.

“Saya pikir aplikasi yang indah karena mampu memanggil suara mereka dan mereka menolong orang tidur,” kata Buxton.

Namun demikian, mengingat studi dan temuan penelitian lain, Buxton memperingatkan para calon penderita insomnia yang mengandalkan terlalu banyak pada perangkat mobile untuk memotong tidurnya.

“Telepon yang benar-benar mengerikan melindungi privasi dan ketenangan Anda,” katanya.

Anda bisa pikirkan untuk menyetel off untuk setiap pemberitahuan, dan beep dan boop untuk teks dan update atau apa pun, tetapi jika ponsel yang tidak aktif, Anda memiliki kemungkinan yang layak dari semua gangguan yang tidak diinginkan.

Buxton juga mencatat, beberapa orang sekitarnya bereaksi terhadap gemericik air yang diperolehnya dengan pergi ke kamar mandi. Jika Anda bukan salah satu dari tipe orang-orang tersebut, Buxton mmenganjurkan untuk pergi ke depan dan nikmati melodi yang menenangkan dari suara angin yang lembut. (Live Science/Ran)

“Cubic House” alternatif di pusat kota

Cubic House, Alternatif di Pusat Kota
Cubic House

Jumat, 10 April 2009 | 21:58 WIB
KOMPAS.com – Terbatasnya lahan di lingkungan perkotaan, khususnya kota-kota besar, sering kali tidak berimbang dengan tingkat kebutuhan hunian sangat tinggi.

Tingginya harga tanah pun turut menjadi faktor penyebab masyarakat kota besar seolah hanya memiliki dua pilihan: tinggal di pinggir kota atau menempati hunian vertikal di pusat kota.

Tinggal di pinggir kota akan menjauhkan masyarakat dari lingkungan kerja yang berpengaruh pada semakin panjangnya waktu tempuh dan membesarnya pengeluaran untuk biaya transportasi. Belum lagi permasalahan lain, seperti tingginya tingkat kemacetan, polusi udara yang kerap melebihi ambang batas, jalan berlubang, hingga hadangan banjir.

Tinggal di hunian vertikal sebagaimana sedang dikembangkan di berbagai kota di Indonesia dalam wujud rumah susun juga memunculkan berbagai permasalahan baru. Pola hidup yang berbeda, jalinan kekerabatan sosial yang kerap menuju individualis, hingga terbatasnya akses memenuhi kebutuhan dan kegiatan sehari-hari bagi yang tinggal di lantai tiga ke atas.

Perubahan pola hunian horizontal menuju vertikal, bagi masyarakat Indonesia tentu saja tidak mudah. Kebutuhan akan ruang sosial serta interaksi sosial terhadap sesamanya secara horizontal tidak dapat secara radikal diambil dari mereka untuk disusun secara vertikal.

Adalah Cubic House, kawasan hunian horizontal sekaligus vertikal yang berada di pusat kota Rotterdam, Belanda, seakan menjawab permasalahan yang sama dengan solusi cukup ekstrem. Dapat dikatakan ekstrem karena permukiman ini berada di atas jalan raya, tetapi terangkai satu sama lain sehingga membentuk karakter tersendiri bagi kota. Bentuknya yang unik dengan warna dominan seakan mencoba melawan kekakuan kota, sekaligus memenuhi fungsinya sebagai kompleks hunian.

Hutan kota
Bangunan-bangunan berbentuk kubus ini hakikatnya hadir menjawab berbagai kebutuhan Rotterdam. Selain sebagai kompleks permukiman, Cubic House juga mengakomodasi kebutuhan jalur bagi pejalan kaki dengan menghubungkan kompleks ini pada beberapa simpul kawasan. Bagi pejalan kaki, kompleks permukiman ini tidak hanya menyediakan jalur semata, melainkan juga berperan sebagai pelindung dari sengatan cahaya matahari dan kucuran air hujan.

Peran ini dimainkan dengan sangat baik sejalan dengan konsep awal Cubic House yang merupakan metamorfosis hutan. Oleh sang arsitek, Piet Blom, secara konseptual tiap-tiap bangunan kubus dihadirkan sebagai sebuah ”pohon” abstrak. Pilar-pilar bangunan berperan sebagai batang pohon kokoh berbentuk segi enam yang menopang masing-masing kubus sekaligus berfungsi sebagai gudang dan sirkulasi vertikal berupa tangga menuju bangunan. Adapun bangunan utama (rumah), kubus, diibaratkan sebagai bagian teratas pohon yang berfungsi sebagai elemen peneduh yang terdiri dari batang, ranting, dan daun.

Dengan tiap bangunan berperan sebagai satu pohon, maka keseluruhan bangunan kubus pada kompleks permukiman ini hadir membentuk ”hutan” di tengah-tengah kota. Secara visual tentu saja kehadirannya sangat berbeda dengan hutan dalam arti sebenarnya, tetapi kompleks ini mencoba memainkan peran hutan dalam memberi keteduhan, melindungi dari terik matahari dan hujan, serta memberi kehidupan di dalamnya.

Interior rumah
Tiap-tiap kubus dirancang dapat memaksimalkan keterbatasan ruang dalam mengakomodasi kebutuhan fungsional, layaknya rumah umumnya. Untuk itu, tiap bangunan dibagi atas tiga lantai dengan bagian terbawah sebagai ruang tamu maupun ruang keluarga, bagian tengah atau lantai dua diisi ruang tidur, satu kamar mandi dan dapur, dan bagian teratas sebagai ruang tidur tambahan.

Walaupun terbagi atas tiga lantai, tiap kubus merupakan satu kesatuan rumah sehingga secara keseluruhan kompleks ini merupakan hunian horizontal. Jalur pedestrian yang melalui kompleks Cubic House semakin menghadirkan suasana layaknya permukiman horizontal. Interaksi sosial tetap tercipta, seolah keberadaannya yang melintas di atas jalan raya tidak berpengaruh sama sekali.

Dalam menyikapi keterbatasan ruang, akses dengan lingkungan luar dioptimalkan, baik sebagai akses visual dengan menghadirkan banyak bukaan transparan, maupun sebagai akses bagi tersedianya udara segar dan hangatnya cahaya matahari.

Ruang yang terbatas justru membentuk penghuninya dapat hidup efektif dan efisien, baik dalam menata ruang dalam, memilih (atau bahkan mendesain sendiri) perabotan yang sesuai, maupun menyusun skala perioritas dalam menentukan barang yang harus dimiliki.

Dalam konteks pola hidup, masyarakat yang menghuni kompleks permukiman seperti Cubic House tentu harus memiliki kesadaran hidup bermasyarakat yang tinggi dan kesadaran menjaga kebersihan dan keindahan kompleks permukiman. Cubic House, selain mampu menjawab kebutuhan kota, juga mampu berperan sebagai penanda kawasan dan menjadi obyek wisata.

Penulis : Parmonangan Manurung, Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Cat air yang memperingatkan

Francis Towne membuat sketsa tentang kota Roma, menarik dan sangat tajam –  ditulis oleh Amanda Ruggeri.

 

Pada tahun 1780, seniman Inggris Francis Towne meninggalkan tanah Inggris untuk melakukan perjalanan seumur hidup: perjalanan besar menembus benua Eropa. Sendirian, melintasi jaman Romantis, perjalanan ini sangat beken dalam budaya Inggris maupun Eropa Utara lainnya that it was seen as the pinnacle of a proper education – one that shaped Keats, Shelley, Byron and many others.

JMW Turner’s The Forum Romanum was one result of the painter’s Grand Tour

JMW Turner’s The Forum Romanum was one result of the painter’s Grand Tour in Italy from 1819-20 (Credit: Lebrecht Music and Arts Photo Library/Alamy)

These travellers, mostly men of means, wanted to go to Italy to learn: to hone their knowledge of history and their skills in sketching, painting or poetry before the great monuments of the Roman Empire. But many also took another lesson from their journeys – how the British Empire could avoid the decline of the Roman one.

Towne’s watercolours were no different. They weren’t meant to merely be pretty Romantic pictures. They were also meant as warnings to the British back home that if they allowed domestic trends to continue, London – like Rome – would fall.

Francis Towne’s 1780 watercolour of a ruined tomb (Credit: Credit: The Trustees of the British Museum)

Francis Towne’s 1780 watercolour of a ruined tomb on the road from Rome signified the transience of human achievement (Credit: The Trustees of the British Museum)

“The idea that Rome offered a warning to the contemporary world was not a new one, but it had particular power at this moment,” says Richard Stephens, curator of the British Museum’s Light, Time, Legacy: Francis Towne’s Watercolours of Rome, which marks the first time that all 54 of Towne’s views of Rome have been exhibited together.

Decline and fall?

It might be hard to take such a warning very seriously today. But in certain circles, the idea that ancient Rome had collapsed because it had spiralled into moral decay – and that London might be on the same path – was a popular one.

The idea that ancient Rome had collapsed because it had spiralled into moral decay – and that London might be on the same path – was a popular one

The English historian Edward Gibbon published his first volume of The History of the Decline and Fall of the Roman Empire in 1776. His thesis was that the barbarians ultimately overran the Roman Empire largely because Roman citizens themselves had lost their civic virtues. In particular, they had lost sight of the discipline, industry and toughness that once made them great.

1734 engraving from William Hogarth’s A Rake’s Progress

This 1734 engraving from William Hogarth’s A Rake’s Progress caricatured the scene at a real brothel-tavern in Covent Garden (Credit: Timewatch Images/Alamy)

This argument had special resonance in Towne’s time. After a relatively prosperous first half of the century, the 1760s had brought economic crisis and civil unrest. Social divides were intensifying. Some felt that the new king, George III, who ruled from 1760 until 1801, was riding roughshod over the civil liberties that had been re-established by William III in 1688.

For critics, the nexus of all of this was London: home of the monarchy and Parliament, aristocratic excess and commercial greed. And with overcrowding issues – the city’s population nearly doubled throughout the 1700s – those who wanted to would, indeed, have seen plenty of signs of social and civil breakdown.

Crime was so rampant that one gang even tried to rob the Prince of Wales in St James Palace itself. Travellers to London remarked that there were more prostitutes than in any other European city. Sewage ran in the Thames.

Frustrations sometimes spilled over into violence: in the infamous Gordon Riots of 1780, rioters attacked members of the House of Lords, sacked their homes, freed prisoners and set buildings on fire – an event that destroyed 10 times more property than was lost in Paris during the entire French Revolution.

Crumbling Colosseum

Some left. The city of Exeter, in particular, became home to a vibrant political and artistic circle whose members believed they carried the torch of traditional English values, including personal liberty, frugality and hard work.

Towne’s 1780 watercolour Inside the Colosseum (Credit: Credit: The Trustees of the British Museum)

Towne’s 1780 watercolour Inside the Colosseum is a study of the Roman Empire’s decay (Credit: The Trustees of the British Museum)

Towne was one of those artists: by the mid-1760s, he had left London for the western city. Despite routine attempts to be accepted by the London-based art establishment, bidding for election to the Royal Academy no fewer than 11 times, he was consistently rejected. The disappointment likely made him begrudge the capital all the more.

English artists… didn’t care about Catholicism and the gaudiness of the modern city. They only wanted the archaeology – Richard Stephens

So, like many of his peers, Towne went to Italy not only to educate himself on art, architecture and history. He went to see for himself the place that had fallen into such decline – and to paint images that those back home would understand as moral lessons.

Towne included eight different views of the Colosseum

Given the Colosseum’s poignancy as a symbol, it is no surprise that Towne included eight different views of it in his Rome series (Credit: The Trustees of the British Museum)

“You can look at what did he paint and what didn’t he paint. He doesn’t go to Rome and paint all the great Baroque palaces and piazzas and churches, nothing at all of that,” says Stephens. “And that’s typical of the English artists of that period: they didn’t care about Catholicism and the gaudiness of the modern city. They only wanted the archaeology.”

Towne’s 1781 watercolour of Tivoli’s Villa of Maecenas

Towne’s 1781 watercolour of Tivoli’s Villa of Maecenas is dominated by a wild, natural landscape (Credit: The Trustees of the British Museum)

In one painting, a gallery within the Colosseum crumbles, its floor strewn with mud, weeds poking through the masonry; in another, wild foliage climbs up the cliffs and dominates the view of the once-great Villa of Maecenas in Tivoli.

Towne’s 1781 sketch of Rome’s Temple of Vesta

Towne’s 1781 sketch of Rome’s Temple of Vesta shows the piazza looking desolate, practically abandoned (Credit: The Trustees of the British Museum)

Artists from other countries, like the Italians themselves, would paint Rome’s more recent triumphs: its Baroque fountains and opulent palaces, gold-soaked churches and sweeping piazzas.

In his paintings, Giovanni Paolo Panini focused on the city’s newer structures

In his paintings like this one of the Trevi Fountain, Giovanni Paolo Panini focused on the city’s newer structures and modern life (Credit: Heritage Image Partnership Ltd/Alamy)

Not only did Towne tend to ignore the more modern (and Catholic) monuments of Rome, but his paintings often excluded the people who populated the city. In one watercolour of the Roman Forum, he included cattle and herders. But he left the figures filled in with only a grey wash, insignificant shadows compared to the crumbling grandeur of the imperial palaces beyond.

(Credit: The Trustees of the British Museum)

(Credit: The Trustees of the British Museum)

To make the moral message even clearer, Towne also wrote on the back of his paintings. On his view from the Colosseum to the Arch of Constantine, he transcribed the arch’s wording: “through a Divine impulse with a greatness of mind, and by force of arms he delivered the Commonwealth at once from the Tyrant & all his Faction.”

“His friends at Exeter would have understood the parallel of Constantine and 1688, when William III came,” Stephens says. “It shows how he used these drawings for political purposes.”

Towne wrote the inscription from the Arch of Constantine onto the back of this painting (Credit: Credit: The Trustees of the British Museum)

Towne wrote the inscription from the Arch of Constantine onto the back of this painting (Credit: The Trustees of the British Museum)

Although none of Towne’s own writing about his work has survived, a letter to him from one of his friends underscores how he liked to present it.

“I must again express to you the Pleasure I rec’d from yr Views of Rome,” the Exeter writer and army officer Edward Drewe wrote to Towne. “If I declined entering into that historical Investigation you might have expected, it arose from my Perfect Knowledge of that History on which I founded my Military Principles and from my Delight in finding myself in Old Rome by the text & comment of yr Pencil.” Or in other words: ‘I know you were trying to tell me about what your images said about how the mighty empire fell, but spare me – I already know it all’.

As well as carrying a portfolio of his pictures to share with friends and acquaintances, Towne sold dozens of his watercolours to clients. Today, we can imagine them on the walls of Exeter homes, little reminders – and possible conversation starters – of what Britain could become.

But by bequeathing them to the British Museum 200 years ago, Towne ensured that even now – long after those conversations have fallen silent – his views would endure.

This story is a part of BBC Britain – a series focused on exploring this extraordinary island, one story at a time. Readers outside of the UK can see every BBC Britain story by heading to the Britain homepage; you also can see our latest stories by following us on Facebook and Twitter.