Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Arkeologi

Sekilas tentang bangsa dan peradaban Maya

Bangsa dan budaya Maya

mayan-palengue-temple

Sebuah cerita kuno bangsa Maya mengatakan bahwa 10.000 tahun yang lalu mereka berada dalam peradaban puncak. Walaupun para ahli purbakala meragukan kebenaran “ waktu 10.000 tahun yang lalu “ itu dalam tulisan mereka, namun  tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan, dari mana asal bangsa Maya itu dan kemudian kemana perginya mereka itu. Sebab telah dibuktikan, bahwa kota-kota bangsa Maya tidak dihancurkan oleh peperangan atau bencana bencana alam. Kota-kota itu dengan demikian telah ditinggalkan oleh para penduduknya. Bangsa Maya telah lenyap tanpa bekas. Mengapakah mereka telah meninggalkan kota-kota mereka yang hebat, yang telah mereka bangun “untuk bertahan sepanjang masa” dengan balok-balok yang utuh? Telah diakui bahwa apa yang disebut zaman “sebelum zaman kuno” berada diantara 1000-2000 tahun sebelum Masehi, akan tetapi dalam hal ini diakui oleh para sarjana, mereka sebenarnya tidak mengetahui apa-pun mengenai “zaman purbakala “ yang sebenarnya, yang mendahului “zaman sebelum zaman kuno”. Adalah sangat besar kemungkinannya, bahwa semua “kejadian nyata” dalam sejarah yang hingga kini belum dapat diketemukan, ada dalam buku buku yang telah dibakar oleh uskup Landa.

Hanya ada tiga buku kuno tulisan tangan dari bangsa Maya yang tidak ikut terbakar; lembarannya dibuat dari kulit pohon dan dilipat-lipat seperti harmonica. Buku-buku itu disebut menurut nama tempat, di mana masing masing disimpan : Dresdensis Codex (Codex = buku kuno dalam tulisan tangan ), Paris Codex dan Madrid Codex, yang juga dikenal sebagai Tro-Cortesianus. Tulisan-tulisannya yang sudah berwarna kuning karena tuanya, masih belum sungguh-sungguh dapat dimengerti. Yang telah dapatdipecahkan adalah “system menurut nomer” mereka yang sangat baik, akan tetapi sederhana. Mereka menghitung dengan goresan-goresan, yang diberi titik-titik di atasnya. Satu titik sama dengan 1, tiga titik dengan 3, dst nya. Angka 5 digambarkan dengan sebuah goresan, sehingga angka 7 menjadi sebuah goresan ditambah dua titik diatasnya. Bangsa Maya pun mengetahui nilai-nilai nisbi dan nol. Mereka menggunakan system “vigesima”, atas dasar 20. Kalau mereka ingin menulis bilangan 23 , maka mereka menaruh tiga titik di tempat “satuan” dan satu goresan di tempat “duapuluh”. Mudahlah untuk membedakan “goresan dua puluh” dari “goresan limaan”.
Goresan dua puluhan diberi tempat jauh lebih tinggi dari pada tempat goresan limaan. Kalender bangsa Maya mempunyai kualitas yang amat tinggi . Tanggal permulaan urutan waktu mereka adalah suatu hari dalam tahun 3113 sebelum Masehi. Para ahli dari Amerika selatan menyatakan, bahwa tahun gaib 3113 sebelum Masehi itu tidak ada hitungannya dengan sejarah yang sebenarnya dari bangsa Maya, akan tetapi hanya mempunyai nilai asli “simbolis” seperti ucapan bangsa Yahudi “sejak diciptakannya dunia”. Bagaimanakah mereka dapat mengatakan itu secara demikian pasti, kalau kita tidak mengetahui dari mana asal datangnya orang Maya itu dan kemana mereka lenyap pergi. Sangat banyaklah sudah tulisan tulisan mengenai kalender bangsa Maya itu. Suatu kenyataan adalah, bahwa kalender itu menggunakan system putaran-putaran tahun yang setiap putarannya berjangka waktu 374,000 tahun. Bangunan-bangunan didirikan menurut kalendernya : Untuk tiap hari selama sebulan sebuah anak tangga, untuk tiap bulannya sebuah “mimbar dan akhirnya, pada hari yang ke 365, berdirilah sudah tempat berhala itu. Kelihatannya seakan-akan orang -orang bangsa Maya dari kerajaan kuno itu membuat bangunan-bangunan keagamaan mereka bukannya karena terdorong oleh kebutuhan kepercayaan, melainkan karena kalender memaksakan mereka suatu kewajiban yang harus mereka penuhi. Observatorium para ahli perbintangan mereka, sebuah bangunan bundar di atas dua teras raksasa yang menjulang tinggi di atas hutan belukar, terletak di Chichen Itza. Para ahli perbintangan bangsa Maya mengetahui orbit bulan sampai pada empat desimal dan mereka juga dapat menghitung tahun planet Venus sampai pada sampai pada tiga desimal. Menurut ceritera kuno, maka para dewa permulaan dari bangsa Maya berasal dari bintang-bintang, mengadakan hubungan dengan bumi, dan kemudian kembali lagi ke bintang bintang. Dalam “ Popol Vuh ”, sebuah ceritera kuno bangsa Maya, dikemukakan bahwa 4000 pemuda dari cakrawala kembali ke “ bintang tujuh “, setelah mereka menderita kekalahan dalam perkelahian dengan manusia. Dewa Kukulkan rupa-rupanya betukar berita dengan bangsa Aztec, yang bernama Quetzalcoatl. Dia digambarkan sebagai seekor ular yang berbulu dan datang dari langit. Kalau orang-orang bangsa Maya, dalam hidupnya setiap hari melihat ular-ular merayap di tanah, maka sulitlah untuk dimengerti, mengapa ular-ular dalam gambaran dan relief mereka dapat “terbang “. Tulisan-tulisan bangsa Maya yang masih ada, meliputi 208 halaman yang dilipat menurut cara harmonica. Melihat banyak dan banyak macamnya tanda-tanda, bentuk-bentuk, lambang-lambang dan bentuk kombinasi, maka tidaklah mengherankan bahwa sampai sekarang hanya sedikitlah yang dapat dipecahkan artinya. Lukisan-lukisan pada serat pohon yang diberi lapisan tipis dari kapur sebagai landasan lukisannya, disimpan antara dua lembaran kaca. “Dresden Codex” mempunyai 74 halaman, dan berisi perhitungan mengenai perbintangan dan juga berisi daftar-daftar mengenai perjalanan dan gerak bulan dan planet Mars. Pada lukisan-lukisan itu selalu terlihat adanya makhluk mengerikan yang berbentuk seperti ular di dekat bilangan-bilangan. Makhluk itu dihubungkan dengan bulan dan memuntahkan air ke bumi. Makhluk “ manusia “ nya mengenakan kedok dan perlengkapan kepala yang rumit, dan seringkali kelihatannya mengenakan semacam pakaian selam. Bangsa Maya yang sedang melakukan percobaan-percobaan ataukah binatang binatang? Makhluk-makhluk yang tidak dapat ditentukan makhluk, apa sebenarnya, dengan menggunakan banyak peralatan yang aneh-aneh. “Paris Codex“ dibeli oleh “Bibliotheque Nationable” (Perpustakaan Nasional) di tahun 1832 dari koleksi seseorang. Dibuat dari bahan yang sama dengan bahan “Dresden Codex” dan mempunyai 22 halaman yang sudah sangat rusak. Dalam abad terakhir ini, pemeliharaan terhadap halaman-halaman yang dilipat-lipat itu adalah demikian jeleknya sehingga kini hanya tinggal dua halaman saja yang dapat dipertunjukkan dalam sebuah kotak dari kaca. Untungnya bagi kita adalah, bahwa dari “Paris Codex“ terutama berisi ramalan-ramalan menurut kalender. “Madrid Codex” disimpan di “Museo de America” di Madrid dan terdiri dari 112 halaman bergambar, dimana dapat terlihat gambar dewa-dewa dalam sikap upacara keagamaan yang besar. Gambar-gambar dan bagian-bagiannya, sampai yang kecil-kecil adalah sangat menarik. Kita dapat melihat segala macam benda dalam gambar-gambar itu.
Dewa-dewa berasap pada kulit bumi, dewa-dewa sebelum makan pembuluh darah, hukuman dengan tusukan pada lidah, seorang dewi dengan kepala ular pada roda pemintal. Saya telah mengkopi bagian-bagian dari buku-buku itu, yang sebenarnya hanya diketahui oleh para ahli-ahli saja, sehingga setiap orang yang berpengetahuan dan mempunyai perhatian terhadap dan mempunyai perhatian terhadap persoalan ini, dapat menilai sendiri apa yang benar-benar digambar. Saya mempunyai dugaan, bahwa orang awam akan merumuskan gagasan-gagasannya secara lebih bebas daripada seorang ahli bangsa Maya. Selama penyelidikan-penyelidikannya di lapangan dari tahun 1949 sampai 1952, seorang ahli purbakala bangsa Mexico bernama Alberto Ruz Lhuiller menemukan sebuah kamar penyimpanan jenazah di “Kuil naskah tulisan tangan“ di Palenque. Dari kamar depan kuil yang berada di mimbar tertinggi sebuah piramida bertangga, terdapat sebuah bordes yang miring agak curam dan licin karena kelembaban udara, yang menjurus ke bawah sampai hampir 75 kaki dan berakhir sampai 6 kaki dibawah tanah. Tangganya disembunyikan demikian rupa, sehingga dapat kita tarik kesimpulan, bahwa tangga itu tadinya pasti dirahasiakan. Ukuran dan letak kamar itu cocok dengan “pengertian tentang ilmu gaib “ (Marcel Brion). Para ahli purbakala beserta pembantu-pembantunya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membersihkan tangga itu, dari puncak sampai ke dasarnya. Lantai ruangan itu terbuatdari satu batu utuh yang berukuran panjang 14 kaki dan lebar 7 kaki, dengan gambar relief yang luar biasa. Saya belum pernah melihat sebuah relief lainnnya, yang demikian indah dan cermat pembuatannya.
mayan hut
Ukiran-ukiran bangsa Maya terdapat di sekitar sudut-sudut permukaan yang datar itu, akan tetapi hanya sangat sedikitlah dari ukiran-ukiran itu yang dapat dipecahkan artinya. Batu datarnya dihias dengan ukiran-ukiran tulisan seperti yang terdapat di Dresden Paris dan Madrid Codex. Dalam gambar-gambar itu kita lihat sebuah kedok dewa bumi, dengan hiasan-hiasan bulu di dadanya, tali-tali dan pipa-pipa dari dari batu berwarna dan tidak ketinggalan pula seekor burung yang dianggap suci (burung Kwitzel dari Amerika tengah). Paul Rivet, salah seorang dari kelompok ahli-ahli purbakala yang telah menemukan kamar jenazah dalam kuil di Palenque itu, berkata, bahwa orang Indiannya digambarkan sedang duduk di altar pengorbanan dan bahwa dibelakang tempat duduknya terukir rambut jenggot Dewa Cuaca, motifmotif yang selalu timbul kembali dikota-kota Maya. Di bawah batu utuh yang dihias secara indah itu, terdapat sebuah kerangka dalam sebuah peti mati yang dicat merah. Sebuah kedok emas menutupi muka kerangka; beberapa butir batu pertama terdapat di sebelah kerangka, seakan-akan merupakan benda-benda upacara keagamaan dan benda benda yang dikorbankan. Sejak saya melihat batu kuburan di Palengue itu, maka saya menafsirkan dan merumuskannya dalam istilah-istilah tekhnik. Tidaklah menjadi persoalan, apakah kita menggunakan sudut pandangan ini ataukah itu , tetapi saya ada perasaan, bahwa ada petualang-petualang ruang angkasa tersangkut dalam soal ini. Potret-potret terbaik yang pernah saya lihat mengenai batu kuburan, yang berada di belakang pintu besi yang terkunci itu, adalah hasil pemotretan dari para pemotret film “ Kereta-kereta perang para Dewa kah? “Setelah delapan kali mengajukan permohonan, maka Pemerintah mengizinkan kami untuk kerja selama setengah jam dengan menggunakan kamera dan lampu – lampu sorot. Potret potret ini akan memberikan gambaran yang lebih baik kepada para pembaca mengenai persoalan yang saya bicarakan dari pada gambar-gambar dalam buku saya yang pertama. Akhirnya kesemuanya itu menujukkan, bahwa batu kuburan itu merupakan sebuah kerangka yang di tengah tengahnya terdapat makhuk, yang duduk agak membongkok ke depan (seperti seorang Astronaut di dalam module komandonya). Makhluk asing itu mengenakan sebuah topi helm, dari bagian belakang topi helm itu mencuat keluar dua batang pipa. Di depan hidungnya terdapat alat oksigen.

Makhluk itu sedang mengerjakan alat semacam tombol pengamatan dengan kedua tangannya. Jari-jari yang sebelah atas disusun, seakan-akan makhluk sedang menyetel sebuah tombol yang ada di depannya. Kita melihat dari arah belakang, empat jari dari tangannya yang sebelah bawah jari kelingkingnya bengkok. Apakah makhluk itu tidak kelihatan seperti sedang mengerjakan alat pengontrol seperti yang terdapat pada stir sepeda motor? Tumit kaki kirinya berada di atas pedal bertangga. Yang melihat relief di Palengue itu akan heran melihat kenyataan, bahwa “orang Indian yang berada di atas altar pengorbanan “ itu mengenakan pakaian yang sangat modern. Tepat di bawah dagunya terdapat semacam leher gulung sebuah kemeja wol. Bajunya yang sempit mempunyai lengan baju, yang ujungnya pada pergelangan tangan dilipat ke atas. Dia menggunakan ikat pinggang pada pergelangan tangan, dilipat ke atas. Dia menggunakan ikat pinggang lebar, dan mengenakan celana panjang, yang bagian atasnya lebar dan bercorak seperti mata jala, sedangkan bagian bawahnya, mulai dari sedikit di atas lutut sampai terus di pergelangan kaki adalah sempit. Di pergelangan kakinya terlihat bagian pakaian seperti kaos kaki pakaian lengkap bagi seorang astronaut !, peralatan di dalamnya di mana si petualang ruang angkasa itu duduk meringkuk dengan kaku, menunjukkan ciri-ciri teknis sebagai peralatan untuk perjalanan ruang angkasa.

Situs Stonehenge. artefak purba misterius

Stonehenge – Monumen Misterius

Stonehenge merupakan suatu monumen yang dibangun pada zaman Perunggu, dan Neolitikum. Ia terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris, sekitar 13 kilometer (8 batu) barat laut Salisbury. Stonehenge meliputi sekumpulan batu besar tegak berkeliling lingkaran, yang dikenal sebagai bagian dalam megalitikum. Terdapat perdebatan seru mengenai usia sebenarnya lingkaran batu itu, tetapi kebanyakan arkeolog memperkirakan bahwa sebagian besar bangunan Stonehenge dibuat antara 2500 SM sampai 2000 SM. Bundaran tambak tanah dan parit membentuk fase pembanguan monumen Stonehenge yang lebih awal yang berasal dari waktu sekitar 3100 SM.

Pada awal abad ke-20, kebanyakan dari batu-batu itu tidak lagi tegak berdiri. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyaknya wisatawan yang menaiki Stonehenge pada sekitar abad ke-19 karena keingin tahuan mereka yang besar. Semenjak itu, telah dilakukan tiga tahap renovasi untuk menegakkan kembali batu yang miring atau terbalik, dan untuk mengembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula dengan teliti. Secara tidak langsung, ini berarti bentuk Stonehenge tidak lagi asli seperti asalnya seperti yang disebutkan dalam promosi pariwisata. Sebaliknya, sebagaimana peninggalan sejarah yang lain, tahap-tahap renovasi telah dilakukan.

Stonehenge merupakan nama yang diberikan kepada tugu peringatan yang dikenal sebagai henge yang terdiri dari kurungan atau lingkaran tambak dengan parit di dalam. Sebagaimana yang sering terjadi dalam istilah arkeologi ini merupakan istilah warisan dari penguasa zaman kuno dan sepatutnya Stonehenge tidak boleh dikelompokkan sebagai henge sebenarnya, disebabkan tambaknya berada di bagian sebelah dalam parit. Walaupun seusia dengan henges zaman Neolithikum yang menyerupai Stonehenge, Stonehenge mungkin memiliki keterkaitan dengan bulatan batu lain yang terdapat di British Isle seperti Cincin Brodgar namun ukuran trilitonnya sebagai contoh menjadikannya unik.Tempat ini dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Kompleks Stonehenge dibangun dalam beberapa fase pembangunan selama 2.000 tahun dan sepanjang kurun waktu itu aktivitas terus berjalan. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya sesosok mayat seorang Saxon yang dipancung dan dikebumikan di tugu peringatan tersebut, dan kemungkinan mayat tersebut berasal dari abad ke-7 M.

Monumen pertama terdiri dari kurungan tebing bulat dan parit berukuran 115 meter(320 kaki) diameter dan dengan satu pintu masuk di bagian timur laut. Fase ini adalah sekitar 3100 SM. Di bagian luar kawasan kurungan terdapat 59 lubang, dikenal sebagai lubang Aubrey untuk memperingati John Aubrey, arkeolog abad ketujuh belas yang merupakan orang pertama yang mengenal lubang-lubang tersebut. Dua puluh lima dari lubang Aubrey diketahui mempunyai pemakaman abu bertanggal dua abad sesudah pembangunan Stonehenge. Tiga puluh abu mayat diletakkan di dalam parit kawasan kurungan dan bagian lain dalam kawasan Stonehenge. Tembikar Neolitikum Akhir telah ditemukan bersama-sama ini memberikan bukti tanggal. Sebuah batu tunggal monolit besar yang tidak dilicinkan dikenal sebagai ‘Batu Tumit’ (Heel Stone) terletak di luar pintu masuk.

Bukti fase kedua tidak lagi kelihatan. Bagaimanapun bukti dari beberapa lubang tiang dari waktu masa ini membuktikan terdapatnya beberapa bangunan kayu yang dibangun dalam kawasan lingkaran sekitar awal millennium ketiga SM. Beberapa kesan papan yang didapati diletakkan pada pintu masuk. Fase ini sama dengan tempat Woodhenge yang terletak berdekatan.

Ekskavasi arkeologi menunjukkan bahwa sekitar 2600 SM, dua lengkungan bulan sabit dibuat dari lubang (dikenal sebagai lubang Q dan R) yang digali di tengah-tengan lokasi. Lubang tersebut mengandung 80 batu biru tegak yang dibawa dari bukit Preseli, 250 batu di Wales. Batu-batu tersebut dibentuk menjadi tiang dengan teliti, kebanyakan terdiri dari batu jenis dolerite bertanda tetapi turut termasuk contoh batu rhyolite, tufa gunung berapi, dan myolite dan seberat 4 ton.

Pintu masuk dilebarkan pada masa ini menjadikannya selaras dengan arah matahari naik pertengahan musim panas dan matahari terbenam pertengahan musim sejuk masa tersebut. Monumen tersebut ditinggalkan tanpa disiapkan, sementara batu biru kelihatannya dipindah dan lubang Q dan R ditutup. Ini kemungkinan dilakukan pada masa fase Stonehenge IIIb. Monumen ini kelihatannya melebihi tempat di Avebury dari segi kepentingannya pada akhir masa ini dan Amesbury Archer, dijumpai pada tahun 2002 tiga batu ke selatan, membayangkan bagaimana Stonehenge kelihatan pada masa ini. Stonehenge IIIa dikatakan dibangun oleh orang Beaker.

Pada aktivitas fase berikutnya pada akhir millennium ketiga 74 SM mendapati batu Sarsen yang besar dibawa dari kueri 20 batu di utara di lokasi Marlborough Downs. Batu-batu tersebut dikemaskan dan dibentuk dengan sambungan pasak dan ruassebelum 30 didirikan membentuk bulatan tiang batu berukuran 30 meter diameter dengan 29 atap batu (lintel) di atas. Setiap bongkah batu seberat 25 ton dan jelas dibentuk dengan tujuan mengagumkan jika siap.

Batu orthostat lebar sedikit di bagian atas agar memberikan gambaran ia kelihatan lurus dari bawah ke atas sementara batu alang melengkung sedikit untuk menyambung gambaran bundar monumen lebih awal.

Di dalam bulatan ini terletak lima trilithon batu sarsen diproses dan disusun dalam bentuk ladam. Batu besar ini, sepuluh menegak dan lima batu alang, dengan berat sehingga 50 tan setiap satu yang disambungkan dengan sambungan rumit. Ukiran pisau belati dan kepala kapak terdapat di sarsen. Dalam masa ini, jalan sepanjang 500 meter dibangun, menuju ke arah timur laut dari pintu masuk dan mengandung dua pasang tambak selaras yang berparit di tengahnya. Akhir sekali dua batu portal besar dipasangkan di pintu masuk yang kini hanya tinggal satu, Batu Penyembelihan (Slaughter Stone) 4,9 meter (16 kaki) panjang. Fase yang bercita-cita tinggi ini dipercayai hasil kerja kebudayaan Wessex Zaman Perunggu awal, sekitar 2000 SM.

Selepasnya pada Zaman Perunggu, batu biru kelihatannya telah ditegakkan semula, dalam bulatan antara dua tiang sarsen dan juga dalam bentuk ladam ditengah, mengikuti tata rajah layout sarsen. Walaupun ia kelihatannya satu fasa kerja yang menakjubkan, pembinaan Stonehenge IIIc dibina kurang teliti berbanding Stonehenge IIIb, batu biru yang ditegakkan kelihatannya mempunyai pondasi yang tidak kokoh dan mulai tumbang. Salah satu dari batu yang tumbang telah diberi nama yang kurang tepat sebagai Batu Penyembahan (Altar Stone). Dua bulatan lubang juga digali di luar bulatan batu yang dikenal sebagai lubang Y dan Z. Lubang-lubang ini tidak diisi dengan batu dan pembangunan lokasi peringatan ini kelihatannya terbiarkan sekitar 1500 SM.

Sekitar 1100 SM, jalan raya (Avenue) disambung sejauh lebih dari dua batu sampai ke Sungai Avon walaupun tidak jelas siapakah yang terlibat dalam kerja pembangunan tambahan ini.

Usaha serius pertama untuk mengelola situs ini mulai dilakukan sekitar 1740 oleh William Stukeley. Sebagaimana kecenderungannya, Stukeley siap menyatakan bahwa lokasi ini dibangun oleh Druid, tetapi sumbangannya yang paling penting adalah mengambil gambaran yang diukur mengenai lokasi Stonehenge yang membenarkan analisis yang lebih tepat tentang bentuk dan kepentingannya. Dari hasil kerja ini dia dapat menunjukkan bahwa henge dan batunya disusun dalam bentuk tertentu yang mempunyai kepentingan astronomi.

Aturan bagaimana batu biru diangkut dari Wales telah banyak didiskusikan dan berdasarkan pemikiran, batu itu mungkin merupakan sebagian dari batu awal di Pembrokeshire dan dibawa ke Dataran Salisbury (Salisbury Plain). Banyak arkeolog percaya bahwa Stonehenge merupakan percobaan mengekalkan dalam bentuk batu, bangunan papan yang bertaburan di Dataran Salisbury seperti Tembok Durrington.

Monumen ini diselaraskan timur laut – barat daya dan sering dicadangkan bahwa keutamaan diletakkan oleh pembangunnya pada titik balik matahari dan equinoxagar sebagai contohnya, pada pertengahan pagi musim panas, matahari muncul tepat di puncak batu tumit (heel stone), dan cahaya pertama matahari pergi terus ke tengah Stonehenge antara dua susunan batu berbentuk ladam. Tidak mungkin aturan itu terjadi secara kebetulan. Matahari timbul pada arah berlainan pada permukaan geografi tempat berlainan. Untuk penyelarasan itu tepat, ia mesti diperkirakan tepat untuk garis lintang Stonehenge pada 51° 11′. Penyelarasan ini, tentunya dasar bagi reka dan bentuk dan tempat bagi Stonehenge. Alexander Thomberpendapat bahawa lokasi tersebut diatur menurut ukuran yar megalitikum.

Disebabkan ini, sebagian pendapat mendakwa bahwa Stonehenge melambangkan tempat observatorium kuno, walaupun berapa jauh penggunaan Stonehenge untuk tujuan tersebut dipertentangkan. Sebagian pendapat pula mengemukakan teori bahwa ia melambangkan palus besar, komputer atau juga lokasi pendaratan makhluk asing.

Banyak perkiraan mengenai pencapaian mesin diperlukan untuk membangun Stonehenge. Mengandaikan bahwa batu biru ini dibawa dari Wales dengan tenaga manusia dan bukannya oleh gletser sebagaimana didakwa oleh Aubrey Burl, pelbagai aturan untuk memindahkan mereka dengan menggunakan tali dan kayu telah dicadangkan. Dalam satu latihan arkeologi percobaan pada 2001, suatu percobaan untuk mengalihkan satu batu besar sepanjang jalan darat dan laut yang mungkin dari Wales ke Stonehenge. Sukarelawan menariknya di atas luncur (sledge ) kayu di daratan tetapi jika dipindahkan ke replika bot prasejarah, batu tersebut tenggelam di laut bergelora di Selat Bristol.

Ia telah dijangkakan bahwa kayu balak frame A ditegakkan untuk menegakkan batu dan dan satu pasukan kemudian menegakkannya dengan menggunakan tali. Batu alang mungkin diangkat secara berangsur-angsur dengan menggunakan bangku panjang kayu dan diluncurkan ke tempat sekarang. Sambungan menyerupai hasil kerja kayu membayangkan mereka mahir dengan kerja kayu dan mereka mudah mendapatkan pengetahuan untuk mendirikan monumen dengan menggunakan aturan seumpamanya.

Ukiran senjata pada sarsen adalah unik pada seni megalitikum di Kepulauan Britania (British Isles) di mana desain lebih abstrak lebih digemari, begitu juga dengan aturan batu berbentuk ladam kuda adalah luar biasa bagi kebudayaan yang selalunya mengatur batu dalam bentuk bundar. Motif sebegitu bagaimanapun biasa bagi penduduk Britania pada masa itu dan telah dicadangkan bahwa dua fase Stonehenge telah dibangun di bawah pengaruh tanah besar continental influence. Ini dapat menjelaskan pada satu tahap, tentang reka dan bentuk monumen, tetapi pada keseluruhannya, Stonehenge masih tidak dapat dijelaskan luar biasa dari sembarang konteks kebudayaan Eropa prasejarah.

Perkiraan mengenai tenaga manusia yang diperlukan untuk membangun pelbagai fase Stonehenge meletakkan jumlah keseluruhan yang terlibat atas berjuta jam manusia bekerja. Stonehenge I kemungkinan memerlukan sekitar 11.000 jam manusia, Stonehenge II sekitar 360.000 dan pelbagai bagian bagi Stonehenge III mungkin melibatkan sehingga 1.75 juta jam manusia. Membentuk batu-batu ini diperkirakan memerlukan 20 juta jam kerja menggunakan perkakas primitif yang terdapat pada masa itu. Pastinya ketetapan hati untuk menghasilkan monumen sedemikian amat kuat dan dapat dianggap organisasi kemasyarakatan yang maju diperlukan untuk membangun dan melestarikannya.

Stonehenge tetap menjadi tempat mengunjung bagi Neo-druid dan kepercayaan pagan baru atau neo-pagan, dan merupakan lokasi festival musik gratis yang diadakan di antara tahun 1972 sampai 1984. Bagaimanapun, pada tahun 1985festival tersebut dilarang oleh pemerintah Inggris. Disebabkan ini, terjadi persengketaan ganas antara polisi dengan pelancong abad baru yang dikenal sebagai Pertempuran Beanfield.

Pada tahun-tahun terkini, kedudukan henge di Dataran Salisbury telah terpengaruh oleh jalan A303 berdekatan antara Amesbury dan Winterbourne Stoke, dan A344. Pada masa lalu beberapa proyek, termasuk terowongan gali-dan-tutup telah dicadangkan untuk tapak tersebut, dan English Heritage dan National Trust telah lama berjuang untuk memindahkan jalan dari lokasi tersebut. Pada awal 2003Departemen Perhubungan mengumumkan beberapa perluasan jalan utama, termasuk A303. Pada 5 Juni Highway Agency menerbitkan draft singkat pelan untuk lencungan jalan 13 kilometer (8 batu) di Stonehenge, termasuk terowongan sepanjang 2 kilometer meletakkan A303 di bawah jalan sekarang. Pada 4 September 2003 Highway Agency mengumumkan diskusi terbuka, dibuka pada 17 September yang akan menimbangkan samaada pelan ini mencukupi untuk tempat itu. Banyak organisasi mencadangkan terowongan yang lebih panjang, yang akan melindungi kawasan arkeologi dan desa sekeliling yang lebih luas. Pelan untuk tempat tersebut termasuk pusat warisan baru, yang akan dibuka pada 2006. Pada 2008, skema jalan baru akan siap dan jalan lama akan ditutup.

Batu Tumit (The Heel Stone) pada suatu masa dikenal sebagai Friar’s Heel. Cerita rakyat, yang tidak dapat dipastikan asalnya lebih awal dari abad ke tujuh belas, menceritakan asal nama batu ini.

Seekor jembalang telah membawa batu ini dari wanita di Irlandia, membalutnya, dan membawanya ke dataran Salisbury. Salah satu dari batu tersebut jatuh ke dalam Sungai Avon, bakinya dibawa ke dataran. Jembalang tersebut kemudian menjerit, “Tak seorang pun akan tahu bagaimana batu ini di bawa ke sini.” Seorang pendeta menjawab, “Itu yang kaupikirkan!” Dengan itu jembalang tersebut melontarkan batu kepadanya dan mengenai tumitnya. Batu tersebut tersebut melekat di tanah dan tetap di situ.

Sebagian pendapat mengklaim Tumit Friar ( “Friar’s Heel” ) adalah perubahan nama “Freya’s He-ol” atau “Freya Sul”, dari nama Dewa Jerman Freya dan (didakwa) perkataan Welsh bagi “laluan” dan “hari matahari” menurut turutan.

Stonehenge dikaitkan dengan legenda Raja Arthur. Geoffrey dari Monmouthberkata bahwa tukang sihir Merlin telah mengurus pemindahan Stonehenge dari Irlandia, di mana ia telah dibangun di Gunung Killaraus oleh raksasa yang membawa batu-batu tersebut dari Afrika. Selepas ia didirikan kembali berdekatan Amesbury, Geoffrey menceritakan dengan lebih lanjut bagaimana Uther Pendragon, kemudian Konstantinus III, dikebumikan di dalam bulatan batu tersebut. Dalam karangannya Historia Regum Britanniae, Geoffrey mencampurkan legenda Inggris dan khayalannya pada banyak tempat; menarik bahwa dia mengaitkan Ambrosius Aurelianus dengan monumen prasejarah ini, melihatkan bagaimana terdapat bukti nama yang sama antara Ambrosius dengan Amesbury yang berdekatan.

Terdapat replika Stonehenge ukuran penuh sebelum runtuh di Maryhill di Washington, dibangun oleh Sam Hill sebagai peringatan perang. Malah ia selari dengan matahari terbit pada pertengahan musim panas, tetapi tepat kepada kedudukan matahari sebenarnya di kaki langit maya, dan bukannya kepada kedudukan matahari di kaki langit sebenarnya. Replika Stonehenge terkenal yang lain keluar dalam film This is Spinal Tap.

Lingkaran mobil ( car-henge ) telah dibangun sepenuhnya menggunakan mobil di Alliance, Nebraska oleh artis Jim Reynolds pada 2000.

Karya seni tertinggal dari reruntuhan Pompeii

Pompeii Art and Architecture Gallery

By Dr Joanne Berry
Last updated 2011-02-17

The sheer beauty and extent of the ruins of Pompeii – and the treasures it held secret for almost 2,000 years – have made it the most famous of archaeological sites. Browse here for a glimpse of the surviving art and architecture of the city – which provides fascinating evidence of how life was lived in ancient Roman days.

Click on an image below to enter the gallery

Artefak kuno dan pengadilan internasional

logo Artefak Kuno Dan Pengadilan Internasional
Dikutip dari :Warta Kota

 Dikutip dari :Warta KotaDjulianto Susantio

Pada 2002 sebuah pengadilan di Austria memerintahkan penyitaan benda-benda seni yang pernah dirampas tentara Nazi dari kaum Yahudi. Salah satunya adalah koleksi seorang Yahudi Austria yang meninggal di kamp konsentrasi Cekoslowakia. Banyaknya tidak kurang dari 800 lukisan dan sejumlah artefak kuno. Barang-barang itu kemudian dikembalikan ke negara asalnya. Masih di tahun yang sama sejumlah benda berharga peninggalan Pharao yang pernah dicuri tahun 1992 lalu dan kemudian berada di AS, dikembalikan ke Mesir setelah melalui proses pengadilan di New York. Benda yang dikembalikan itu antara lain sebuah plakat berukuran 70 cm x 120 cm, berasal dari sebuah kerajaan tua masa 2613 – 2181 SM. Pada 1990-an seorang kolektor Jepang membeli barang-barang peninggalan Napoleon dari sebuah balai lelang. Karena dia tahu barang-barang tersebut merupakan hasil curian, maka dia menghibahkannya kepada pemerintah Prancis, tempat asal benda-benda tersebut.

Selanjutnya pada 2009 Cai Ming-chao, seorang konglomerat Cina, menang lelang atas dua patung perunggu kuno dari Balai Lelang Christie di Prancis. Harga kedua artefak itu $36 juta. Namun Cai tidak mau membayar karena dia tahu kedua benda itu adalah barang bersejarah milik Cina yang dicuri oleh tentara Inggris dan Prancis dalam Perang Candu 1860. Sebuah ‘pelajaran berharga’ kepada para ‘penadah’ telah dilakukan oleh Cai. Sebenarnya pemerintah Cina sudah berusaha keras mencegah barang curian tersebut dijual, namun pihak Christie mengabaikannya.

Ilegal
Di satu sisi, orang melihat pencurian, dalam hal ini termasuk perampasan oleh tentara militer asing, adalah perbuatan ilegal. Karena itu keputusan pengadilan setempat untuk menyita dan mengembalikan artefak ke negara asalnya, dianggap merupakan keputusan yang tepat.

Di lain sisi, orang (dalam hal ini balai lelang) memandang sebaliknya. Tidak peduli apakah barang itu legal atau ilegal, yang penting laku terjual dalam pelelangan. Kepentingan bisnis jelas berada di atas kepentingan lainnya.

Namun karena terbentur oleh kode etik, maka pemilik sebenarnya dari benda-benda ilegal itu sulit dilacak. Balai lelang benar-benar memegang kerahasiaan sang pemilik. Tidak heran karena aturan seperti itu, maka mata rantai transaksi benda-benda antik tetap berjalan hingga kini.

Diketahuinya benda-benda ilegal yang dijual balai lelang tentu saja adalah berkat kejelian kurator atau kolektor, berdasarkan katalogus yang dikeluarkan balai lelang bersangkutan. Dari sini bisa terjadi saling koreksi. Misalnya balai lelang akan menarik lot dari daftar bila materi lelang dianggap meragukan atau mendapat tentangan masyarakat. Namun, pemilik sah (misalnya museum atau negara, bila benda tersebut berasal dari suatu candi) tetap saja harus gigit jari karena barang tersebut tidak bakalan langsung kembali ke tangan.

Sekadar gambaran, kita pernah mengalami pukulan hebat ketika tahun 1980-an barang-barang berharga yang diduga berasal dari perairan Nusantara, dicuri Hatcher dan sindikatnya. Dalam suatu lelang di Belanda, barang-barang curian itu laku terjual jutaan dollar. Kita pernah protes keras tetapi tidak digubris balai lelang itu. Bahkan tahun 2005 kita digemparkan oleh rencana lelang arca Aksobhya di AS. Arca kuno tersebut diduga merupakan barang curian dari Candi Borobudur. Memang kemudian barang tersebut batal dilelang, entah bagaimana kabar arca itu sekarang.

Kerja sama
Sebenarnya pencurian artefak-artefak kuno sudah berlangsung sejak lama. Salah satu motif pencurian, penyelundupan, dan perbuatan negatif lainnya adalah mencari keuntungan finansial sebesar-besarnya.

Di Indonesia pencurian artefak-artefak kuno sudah demikian parah dan terjadi sejak 1960-an seiring meningkatnya kegiatan pariwisata. Tentu kita masih ingat kasus arca kudhu dari Candi Bhima. Hanya beberapa lama setelah kepalanya dipenggal, tahu-tahu artefak tersebut sudah diperdagangkan di Singapura.

Nasib kita sama seperti Kamboja. Ketika terjadi Perang Indochina dan perang saudara di sana, berbagai benda purbakala dicuri dari Candi Angkor. Oleh para pemberontak, benda-benda tersebut dijual ke Thailand dan ditukar dengan senjata. Ternyata setelah itu berpindah ke art-art gallery di mancanegara. Bahkan ditawarkan melalui internet dan balai-balai lelang.

Kini berbagai benda curian itu justru sudah menjadi koleksi museum-museum Eropa. Nah, hal demikian semakin menambah ruwet masalah kepemilikan. Pihak museum merasa sah karena membeli koleksi tersebut dari balai lelang ternama. Pemilik asal benda tersebut justru menganggap museum sebagai penadah barang curian.

Mengingat salah satu sarana efektif untuk melakukan bisnis haram itu adalah balai lelang, tentunya harus ada aturan untuk mengawasi transaksi tersebut. Karena hal ini menyangkut aktivitas internasional, maka pihak UNESCO harus memperhatikan hal demikian.

Aturan hukum perlu dibuat bersama oleh tiga institusi, yakni UNESCO, balai lelang, dan pengadilan internasional. Kalau aturan hukum sudah jelas, diyakini aktivitas pencurian artefak-artefak kuno semakin berkurang. Tragisnya, korban terbesar kasus negatif ini ternyata adalah negara-negara jajahan dan negara-negara yang kalah perang. Kalau aturan hukum belum jelas, sampai kapan pun negara-negara seperti ini, termasuk Indonesia, harus gigit jari menerima kenyataan pahit.***

 

Pesona historis Petra – Yordania

(Seri Wisata Timur Tengah) 

Petra (dari πέτρα petra, “batu” dalam bahasa Yunani; bahasa Arab: البتراء, al-Bitrā) adalah sebuah situs arkeologikal di Yordania, terletak di dataran rendah di antara gunung-gunung yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba. Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘batu’. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan. PETRA Yordania (7 Keajaiban Dunia Baru)

Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding di batu di Yordania. Petra adalah kata dari bahasa Yunani yang berarti “batu”.

Petra merupakan symbol teknik dan perlindungan. Kata ini merujuk pada bangunan kotanya yang terbuat dari batu-batu di Wandi Araba, sebuah lembah bercadasdi Yordania. Kota ini didirikan dengan mengali dan mengukir cadas setinggi 40 meter.

Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean. Didirikan pada 9SM-40M oleh Raja Aretas IV sebagai kota kubu yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir.

Nabatean membangun petra dengan sisitem pengairan yang luar biasa rumit. Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjirmedadak. Mereka juga memiliki teknologi hidrolik untuk mengangkat air. Terdapat juga sebuah teater yang mampu menampung 4.000 orang. Hari ini, Istana Makan Hellenitis yang memilik tinggi 42 meter masih berdiri impresif disana.
PETRA Yordania (7 Keajaiban Dunia Baru)
Petra yang bisa ditempuh sekitar 3-5 jam perjalanan darat dari kota Amman, Yordania, dulu adalah ibukota suku Nabatean, salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi.

Sebenarnya, asal usul suku Nabatean tak diketahui pasti. Mereka dikenal sebagai suku pengembara yang berkelana ke berbagai penjuru dengan kawanan unta dan domba.

Warga Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara, yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat, dewiArab kuno. Mereka sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih. Di akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean memberanikan diri mulai ikut dalam perdaganan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia. Suku Nabatean akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses, dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India timur.

Letak yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing itulah alasan suku Nabatean memutuskan untuk menetap di wilayah batu karang Petra. Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatean akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa.


Makam Obelisk Petra


Tampak Depan Gedung Petra

Pada awalnya Petra dibangun untuk tujuan pertahanan. Namun belakangan, kota ini dipadati puluhan ribu warga sehingga berkembang menjadi kota perdagangan karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah. Pada tahun 106 M, Romawi mengakuisisi Petra, dan memperlemah jalur perdagangannya. Sekitar tahun 700 M, sistem hidrolik dan beberapa bangunan utamanya hancur menjadi puing. Petra pun mulai terlupakan.

Barulah pada tahun 1812, petualang Swiss, Johann Burckhardtmemasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorang muslim. Popularitas Petra kembali mencuat di zaman moderen, dikenang sebagai simbol teknik dan pertahanan.

PETRA Yordania (7 Keajaiban Dunia Baru)
Petra di Yordania, adalah situs purbakala. Petra dikelilingi gunung. Di sini ada gunung setinggi 1.350 meter dari permukaan laut. Inilah kawasan tertinggi di areal ini yang disebut Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra.

Gunung Harun paling sering dikunjungi orang. Para pengunjung percaya, di puncak Jabal Harun inilah, Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa.

Di abad ke-14 Masehi, sebuah masjid dibangun di sini dengan kubahberwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra. Harun tiba di wilayah Yordania sekarang ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Firaun.

Di abad ke-1 Sebelum Masehi, Kerajaan Nabataea yang kaya dan kuat, menjangkau wilayah Damaskus di utara dan Laut Mati di selatan. Saat itu, Petra telah didiami sekitar 30 ribu penduduk. Di masa itulah dibangun kuil agung. Tahun 100-an Masehi, Romawi pernah menguasai wilayah ini. Arsitektur di Petra pun terpengaruhi arsitektur Romawi. Pada 600 Masehi di Petra terdapat bangunan gereja. Abad ke-7 Masehi, Islamhadir, dan pada abad ke-14, makam Nabi Harun di Jabal Harun menjadi tempat berziarah penganut Yahudi , Kristen dan Islam.

Saat berusia 10 tahun, Nabi Muhammad S.A.W bersama pamannya pernah mengunjungi gunung ini.

Setelah Perang Salib di abad ke-12, Petra terlupakan selama lebih dari 500 tahun (lost city). Hanya penduduk lokal (suku Badui) di wilayah Arab yang mengenalnya.

Referensi:
7 Keajaiban Dunia Baru: adalah tempat/obyek di dunia yang merupakan keajaiban pilihan dari 100 juta orang di seluruh dunia lewat situs internet dan pesan singkat (SMS) telepon seluler, yang diadakan oleh Swiss Foundation yang bernama The New7Wonders Foundation berkolaborasi dengan beberapa badan/yayasan dunia lainnya. Terpilihnya tujuh keajaiban dunia diumumkan di Lisbon, Portugal, pada tanggal 7 Juli 2007.

Sumber : www.new7wonders.com, www.maitreya.or.id/forums, dari berbagai sumber

 

Di mana letak kota purba Urkesh?

Urkesh Dessert
Padang Pasir
Di mana kemungkinan tempat
Kota Urkesh Berada.
Foto: Kompas
Seri Arkeologitaken from: Kompas 14 Mei 2006

Di mana Letak Kota Tua Urkesh?

Di mana Letak Kota Tua Urkesh?Selama lebih dari 12 tahun dua arkeolog California memburu mitologi mengenai kota yang hilang, Urkesh. Kota ini merupakan pusat kebudayaan orang Hurrian yang berkembang pada tahun 2.300-3.300 S>M. Pada tahun 1995 dua arkeolog itu menggali sebuah rumah penyimpanan kecil dan menemukan lebih dari 600 potong artefak yang berhubungan dengan kota tersebut sehingga memecahkan misteri yang membingungkan para peneliti selama berabad-abad.
Giorgio Buccellati dan Marilyn Kelly, pasangan suami istri dari UCLA dan California State University, menemukan Urkesh di bawah Tell Mozan ‘ kota modern 400 mil barat laut Damascus, Suriah- di dekat jalur perdagangan kuno di Timur Tengah. Kota milik orang Hurrian itu dulunya menjadi pusat kawasan perdagangan yang sekarang berada di Suriah dan Turki. Urkesh juga diyakini merupakan tempat dewa orang Hurrian, Kumarbi.

Artefak-artefak yang ditemukan para peneliti berbentuk stempel dan silinder yang digunakan untuk membuat cetakan di atas lempung basah, seperti tanda tangan untuk menunjukkan kepemilikan barang-barang. Banyak stempel kuno menunjukkan pemiliknya adalah ratu di Urkesh, yang sebelumnya tak dikenal, bernama Ugnitum. Ini menunjukkkan Ratu Ugnitum memiliki kekuasaan sendiri yang cukup besar dan tidak bergantung pada suaminya, sang Raja, sesuatu yang menurut kedua peneliti tersebut mungkin saja terjdi. GEOWEEK ,Kompas 14 Mei 2006

Pendaki di Israel Temukan Koin Emas Langka Berusia 2.000 Tahun

 

Dikutip dari detiktravel – Selasa, 15/03/2016 16:10 WIB
Galilee – Tak terlintas di benak Laurie Rimon akan menemukan koin emas langka saat hiking di Israel. Koin bergambar Raja Romawi tersebut berusia 2.000 tahun.

Laurie Rimon sedang hiking di sebelah timur Galilee, Israel, saat menemukan koin emas yang masih dalam kondisi baik. Pendaki itu langsung menyerahkannya kepada pihak Israel Antiquities Authority. Rupanya itu bukanlah koin biasa, melainkan benda langka yang berusia sekitar 2.000 tahun.

“Koin ini langka bahkan dalam skala global,” tutur Danny Syon, pakar uang koin dari Israel Antiquities Authority seperti dilansir dari CNN, Selasa (15/3/2016).

Koin emas tersebut bergambar Raja Augustus, pendiri Kerajaan romawi. Augustus berkuasa dari tahun 27 SM sampai 14 Masehi, yakni pada masa-masa hidupnya Yesus. Donald Ariel, kepala kurator Coin Department dari Israel Antiquities Authority menyatakan, koin ini dibuat sebagai tanda pindahnya kekuasaan Augustus kepada Raja Trajan.

Sebelum Laurie Rimon menemukan koin emas ini di Galilee, hanya ada 1 koin serupa yang pernah ditemukan. Koin itu sekarang berada di British Museum, dan jadi salah satu daya tarik wisatawan.

“Tak setiap hari pendaki menemukan objek tidak biasa. Saya harap bisa melihatnya di museum dalam waktu dekat,” tambah Danny Syon. (sst/sst)

Karya sejarah terlupakan

Di sekitar tahun 1990-an, sekelompok anak muda aktivis gereja Protestan Perancis yang bernama Les Eclaireurs de France (“penemu jalan”) melakukan pelayanan masyarakat di daerah hutan. Mereka menemukan sebuah gua yang kemudian dinamakan La Grotte des Mayrieres Superieures, di daerah terpencil di bagian selatan Perancis. Gua ini memiliki dinding yang didekorasi secara kasar.

Kelompok anak muda ini segera bekerja membersihkan dinding gua, dimana kemudian mereka menyadari bahwa dekorasi dinding gua tersebut adalah karya seni purba yang dibuat oleh manusia purba sepuluh ribu tahun sebelumnya.

la-grotte-gua-perancis

Karena jasa-jasa mereka ini, kemudian mereka mendapatkan penghargaan LG Nobel bidang arkeologi tahun 1992.

la-grotte-gua-perancis

Sejumlah lubang gua es La Grotte de glace di Gletser Mer de Glace, di Chamonix-Mont-Blanc, Pegunungan Alpen (11/8). Gua yang berada di lereng Mont Blanc ini memiliki panjang 7 km dengan kedalaman 200 meter.

Benarkah kota Sodom seperti dalam Alkitab ditemukan? ini fakta yang ditemukan arkeolog

AMMAN – Para arkeolog menemukan sebuah situs kuno besar di Yordania yang mereka nyatakan sebagai Kota Sodom. Kota itu tertulis dalam Alkitab sebagai kota yang dihancurkan Tuhan karena penduduknya penuh dosa.

sodom-artefak

Picture: Daily Mail

 

Situs itu ditemukan di Tall el-Hammam, Yordania. Situs itu diperkirakan hancur antara tahun 3500-1540 Sebelum Masehi. Para arkelolog mengklaim lokasi dan ukuran situs yang ditemukan itu sesuai dengan deskripsi tentang Kota Sodom di Alkitab.

Situs itu diduga ditinggalkan penduduknya setelah hancur sebelum dibangun kembali 700 tahun kemudian. Sebelum mengklaim situs itu sebagai Kota Sodom yang hancur, para arkeolog telah melakukan penggalian selama puluhan tahun. Mereka rajin meneliti dari setiap temuan reruntuhan bangunan yang ada di situs tersebut.

 

hammam

Picture: Daily Mail

Para arkeolog percaya, situs di Tall el-Hammam, Yordania itu sisa-sisa dari situs zaman Perunggu. Beberapa temuan itu di antaranya dinding kuno dan gerbang setinggi sekitar 10 meter.

Dalam ayat Alkitab (Kitab Kejadian  dan Perjanjian Baru) serta dalam Quran tertulis penghancuran Kota Sodom bersamaan dengan penghancuran Kota Gomora. Dalam kitab suci, kota-kota itu hancur oleh hujan api dan belerang karena para penduduknya penuh dosa, termasuk melakukan penyimpangan seksual. Lot ,keponakan Abraham adalah orang benar di kota itu yang diselamatkan bersama keluarganya oleh malaikat utusan Tuhan.

Kedua kota itu abadi sebagai metafora untuk kaum homoseksual. Dalam Alkitab, Kota Sodom tercatat sebagai salah satu kota terbesar di sebelah timur Yordania.

Steven Collins dari Trinity West University di New Mexico, yang telah memimpin proyek penelitian situs tersebut mengatakan bahwa dari sisa-sisa bangunan kota itu bisa dibayangkan sebagai kota “mengerikan” di masa lalu. Namun, tim peneliti percaya kota itu subur karena berada di tepi Sungai Yordan yang merupakan rute penting dalam perdagangan. Artefak ini dijelaskan ,berada dalam jalur perdagangan, dan sesuai ukurannya, situs ini dikelilingi benteng yang kuat dan tembok-tembok yang tinggi.

”Apa yang kita punya di tangan kami adalah kota negeri penting, kota negeri yang besar, untuk semua tujuan praktis, tidak akan diketahui sarjana sebelum kita mulai proyek ini,” kata Collins.

”Jadi, saya sampai pada kesimpulan menyatakan bahwa jika seseorang ingin menemukan Sodom, pertama harus mencari kota terbesar yang ada di daerah ini, (kota) zaman Perunggu, di zaman Abraham,” ujar Collins, seperti dikutipDaily Mail, kemarin (13/10/2015).Selain dinding batu bata merah setinggi 10 meter, para arkeolog kini juga sibuk meneliti puing bekas benteng dengan tebal sekitar 5,2 meter.
Collin menduga, setelah Sodom mengalami penghancuran, kota itu sempat bangkit.

sodom-membara

”(Kota) ini menjadi gurun tak berpenghuni selama lebih dari 700 tahun, tapi kemudian setelah tujuh abad, itu mulai berkembang lagi. Seperti yang ditunjukkan oleh gerbang besi besar yang mengarah ke kota,” katanya.

lumpang-sodom