Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Tokoh

Arsitek Herlianto


Profil Arsitek : IR.HERLIANTO

Nama:
Herlianto, Ir., MTh.
Lahir:
Surabaya, 1 Oktober 1941 Agama: Kristen
Jabatan: – Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) Isteri:
Esther
Anak:
Victor, Erwin, dan Imelda
Pendidikan:
– S1 Arsitek ITB, 1968
– Housing, Planning & Building (Bouwcentrum, The Netherlands), 1979)
– Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang (1976)
– Master of Theology (M.Th.) dari Princeton Theological Seminary, USA, 1982. KARIR:
1. Arsitek/Konsultan:
– Planning Staff & City Field Officer Integrated Approach for the Improvement of Slums & Marginal Settlements (UNEP, 1976-79) – Peneliti Puslitbang Pemukiman Departemen PU (1977-86)
– Koordinator Kursus Perbaikan Kampung Nasional (1979-82)
– Konsultan proyek KIP-Urban IV di 7 Kota Besar (IBRD, 1983-88)
– Konsultan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan (1988-90)
– Urban Ministry Consultant pada World Vision International (1989-93)
– Team Leader Proyek Perbaikan Kampung KIP-MHT (IBRD, 1994-96)
– Breakthrough Urban Initiative (UNDP, 1999)
– Konsultan pada berbagai studi Pengembangan Masyarakat Kawasan Kumuh (UNDP/UNCHS/ UNV/ILO, 1990-04)
2. Bidang Pendidikan:
– Dosen Perumahan di IT Sepuluh Nopember Surabaya dan U.K. Petra (1972-77)
– Dekan di UK Petra (Surabaya, 1976-1979)
– Anggota Rektorium bidang Litbang di UK Maranatha (Bandung, 1983-1986)
– Dosen tamu di Sekolah Tinggi Teologia Bandung (1993-sekarang)
3. Pelayanan – Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) sebuah yayasan keagamaan dan sosial (1982-sekarang).
Karya Tulis:
– Telah menulis 36 buku.
E-mail: herlianto@yabina.org Sumber: Herlianto (13 Februari dan 19 Februari 2009) serta Profilnya dalam buku ‘Kota Besar dan Perilaku Masyarakat,’ penerbit Alumni, 2009)

Ir.Herlianto

Herlianto, Ir., MTh. Arsitek yang ‘Pendeta’ Herlianto, lahir di Surabaya, 1 Oktober 1941, seorang arsitek (ITB, 1968) dan konsultan yang menjadi ‘pendeta’. Mendirikan dan sampai sekarang menjadi Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org, 1982) sebuah yayasan keagamaan dan sosial. Dia telah menulis banyak buku, di antaranya Siapakah yang Bernama Allah Itu.

Herlianto yang menikah dengan Esther dan mempunyai 3 anak Victor, Erwin, dan Imelda, adalah seorang pelayan awam dan arsitek yang memperdalam masalah pembangunan perkotaan dan kemasyarakatan, dan yang mempelajari teologi dengan spesialisasi sejarah agama, gereja dan masyarakat, dan aliran-aliran gereja. Saat ini Ia menjadikan pelayanan firman Allah sebagai yang terutama dalam hidup dengan menjadi ketua Yayasan Bina Awam yang melayani penerbitan buku. Seri Buku Saku Yabina, dan pelayanan melalui internet (www.yabina.org.)

Selain meraih gelar S1 (Ir – arsitek) dari Institut Teknologi Bandung (ITB, 1968), Herlianto juga mendalami Housing, Planning & Building (Bouwcentrum, The Netherlands, 1979). Ia juga seorang teolog yang meraih gelar Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang (1976) dan Master of Theology (M.Th.) dari Princeton Theological Seminary, USA, 1982.

Pernah menjadi peneliti Puslitbang Pemukiman Departemen PU (1979-1986) dan konsultan (1984-2004) dalam berbagai proyek pembangunan perkotaan, perbaikan kampung dan perumahan rakyat, dan mendapat piagam pertama penulis bidang ke-PU-an di harian Kompas pada Ultah ke-40 Dep.PU (1984).

Pernah diangkat, antara lain sebagai konsultan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan (IBRD + Bappenas, 1988-1990). Ia salah seorang Anggota Tim Penulis Laporan Nasional (makalah) Pemerintah RI untuk Konperensi PBB Mengenai Kota & Permukiman (City Summit, Habitat-II, Istanbul, Juni 1996). Juga ditunjuk sebagai penulis Laporan Perumahan di Indonesia (program UNCHS-Nairobi untuk 4 negara, 1993).

Sejak tahun 1982 sampai sekarang menjadi Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) sebuah yayasan keagamaan dan sosial dengan misi untuk membangun masyarakat awam yang peka akan masalah teologis dan kemasyarakatan dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat perkotaan.


compilled by author


Dalam bidang pendidikan pernah menjadi Dosen Perumahan di ITS dan Dekan di UK Petra (Surabaya, 1976-1979), Anggota Rektorium bidang Litbang di UK Maranatha (Bandung, 1983-1986), dan dosen tamu di Sekolah Tinggi Teologia Bandung (1993-sekarang) yang mengajar perbandingan agama, aliran-aliran Kristen, sosiologi dan teologi perkotaan.

Telah menulis 36 buku antara lain: Siapakah Yang Bernama Allah (BPK-GM, 2002), Teologi Sukses (BPK-GM, 2006), Menggugat Yesus (Kalam Hidup, 2008), Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Kalam Hidup, 2008), Gerakan Nama Suci (BPK-GM, 2009), dan Housing Needs & Policy Approaches (Duke Univ. Press, 1985); Juga menulis buku trilogi perkotaan berjudul ‘Urbanisasi dan Pembangunan Kota’ (Alumni 1986, dipilih Depdikbud sebagai buku pedoman bidang Lingkungan Hidup untuk guru SMTA), ‘Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota (1997), dan ‘Kota Besar dan Perilaku Masyarakat’ (2009).

Helianto juga sering menghadiri pertemuan perumahan, perkotaan, dan kemasyarakatan. Antara lain Asian University Chaplain Workshop (Hongkong, 1975); Conference on Guidance & Counseling (Manila, 1976); Workshop on British New Towns (London, 1979); Urban City Tour (Paris, 1979); UNESCO Asian Housing Seminar (New Delhi, 1980); UNESCO Urban Housing Training (Manila, 1981); City Planning Commission (New York, 1982);

Seminar on Global Mission (Atlantic City, 1982); Seminar on Rural Settlements (Bangkok, 1984); Study Tour on Housing & Urban Development (Japan, 1984); World Planning & Housing Congress (Adelaide, 1986); Urban Ministry Workshop (Los Angeles, 1990); International Urban Ministry Congress (Chicago, 1990); International Congress of the Association of Major Metropolises (Melbourne, 1990);

Asian Urban Workshop (Singapore, 1992); UNDP – Urban Poverty Partnership Workshop (The Hague, 1993); International Urban Workshop (Edinburg, 1993); Earoph World Planning Congress (Beijing, 1994); International Ministry (Orlando & Los Angeles, USA, 1997); Pacific Rim Urban Think Tank (Singapore, 1997); EAROPH World Planning Congress (Denpasar, 1998); Urban Turmoil in Indonesia (Berlin, 1999); Urban Problems in Indonesia (Tokyo, 2001); dan Postmodernism (Singapore, 2003). ►crs

Sumber:TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Arsitek Aboekasan Atmodirono

Seri Arsitekturdari:berbagai sumber

Dalam sejarah kita, arsitek pertama Indonesia adalah Aboekasan Atmodirono (1860-1920). Ia lulus Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan (Middelbare Technische School) yang berhasil mencapai jenjang opzichter. Setelah naik pangkat, ia dikenal sebagai de eerste inlandse architect (arsitek pribumi pertama) dan bekerja di Departement van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum). Ia hadir di Kongres I Boedi Oetomo dan masuk dalam daftar calon ketua. Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat (volksraad) di tahun 1918, ia ditunjuk duduk di parlemen sebagai tokoh Boedi Oetomo yang juga mewakili Perhimpunan Pamong Praja Pribumi “Mangoenhardjo”.

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).

Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.

Di tahun 1920 Technische Hoogeschool (cikal bakal Institut Teknologi Bandung) di Bandung telah membuka studi arsitektur. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).

Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama.

Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 1959.

Gerber, arsitek era kolonial

GERBERE
ARSITEK ERA KOLONIAL


. Gerber adalah tokoh arsitek belanda karyanya seringkali diasosiasikan denganmaclaine.

Latar Belakang Budaya

Arsitektur Bangunan Gedong Sate Mr D. Ruhl mengatakan dalam dalam buku “Bandoeng en hoar Hoogvlakte” (1952) bahwa, Gedong Sate adalah “Het mooiste gebouw van Indonesie” (Bangunan terindah di Indonesia). Bahkan master arsitek Belanda, Dr. H. P. Berlage menyebut rancangan kompleks Gouvemementsbedryven (G.B) alias Gedong Sate sekarang, sebagai suatu karya arsitektur yang besar. “Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa renaissance, terutama bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan, mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan (sintesa) langgam Timur dan Barat secara harmonis”, komentar Berlage, sewaktu is meninjau Gedong Sate di bulan April 1923. “Bangunan Gedong Sate tergolong karya arsitektur yang utuh dan khas”, kata arsitek Slamet Wirasonjaya. Gaya arsitektur bangunan ini bukan eklitis (gaya campuran), seperti bangunan Capitol Hill di Washington, kata Pak Slamet pula.

Pokoknya, Gedong Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona, serta memiliki gaya arsitektur yang unik, ungkap Cor Passchier dan Jan Wittenberg, dua orang arsitek Belanda yang lagi tekun menginventarisir bangunan kolonial di Kota Bandung. Menurut mereka, langgam arsitektur Gedong Sate, merupakan gaya eksperimen dari Sang Arsitek yang mengarah kepada bentuk Indo-Europeeschen architectuur stet (“Gaya Arsitektur Indo Eropa”). Masih menurut Slamet Wirasonjaya, agaknya bangunan pertama di Kota Bandung yang menggunakan beton bertulang, adalah gedung Javasche Bank (“B.I”) di Jl. Braga. Jadi bukan bangunan Gedong Sate yang peletakan batu pertamanya jatuh pada tanggal 27 Juli 1920. Sebagaimana diketahui, Ir. Maclaine Pont yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, tercatat bersama Ir. Thomas Karsten, sebagai pelopor aliran gaya arsitektur Indo Eropa yang unik itu. Dan Ir. J. Gerber adalah arsitek yang termasuk dalam kubu Maclaine Pont. Karya arsitektur J. Gerber di Surabaya, dalam bentuk bangunan sekolah HBS (kini SMAN I Jl. Wijayakusuma), memperlihatkan persamaan dengan gaya bangunan Gedong Sate. Hal ini membuktikan bahwa ide rancangan Gedong Sate, secara dominan merupakan kreasi J. Gerber. Adapun kemiripan bentuk pagoda Siam pada lempeng batu di atas pintu masuk Gedong Sate, semata-mata cuma hiasan yang distylisasi dari bentuk gerbang Candi Hindu di Jawa, dengan alas pancaran sinar mentari yang lagi jadi mode di zaman itu. Jadi tak ada hubungan dengan bentuk pagoda di negeri Siam.

Aurora Tambunan

Aurora Aurora Tambunan

Antara Keindahan dan Profesionalitas

Tokoh arsitek yang berpengaruh dalam perencanaan kota Jakarta ini dilahirkan di Jakarta,  sebagai anak sulung dari dua bersaudara pasangan BKJ Tambunan dan VAB Mangunsong. Masa kecil dan remaja dialami di berbagai kota dan negara.  karena tugas pendidikan ayahnya kerap berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lainnya, bahkan hingga ke Negeri Paman Sam, New York. Briliant, penampilan menarik, integritas tinggi, lugas, tegas, humanis dan elegan adalah rentetan kata yang menjadi pijakannya dalam berpikir dan bertindak.

Menamatkan pendidikan dasar di Bandung pada 1964. Saat kelas satu dan dua, wanita yang dari kecil manja sama ayahnya ini sempat mencicipi pendidikan dasar di Ithaca, New York, Amerika Serikat. Ir. Aurora F.R. Tambunan, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta.

Tidak berapa lama, keluarganya kembali boyong (pulang-red) ke Bandung. Masa pendidikan dasarnya kemudian diteruskan di kota kembang itu. Mula-mula ia agak keteteran mengikuti pelajaran yang semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Sementara, ia terbiasa mendalami pelajaran-pelajaran dengan percakapan bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Indonesianya waktu itu berantakan sehingga minder  jika berhadapan dengan guru dan teman-temannya.

Kemahiran berbahasa Inggris didapatnya dari kebiasaan keluarganya yang menerapkan kewajiban menggunakan bahasa Internasional itu dalam percakapan sehari-hari. Terang saja, sepulangnya dari Amrik itu, wanita yang juga gemar lagu-lagu Padi dan Jamrud ini sampai lupa berbahasa Indonesia. Lidahnya terasa susah, keseleo jika mau bercakap memakai bahasa Indonesia. Kendati orang tuanya terus menyarankan agar dirinya menggunakan bahasa Inggris, lambat laun ia pun mulai menanggalkan kebiasaan baik itu.

Tapi ia bukan malah lantas melupakan kebiasaan berbahasa Inggris itu semuanya. Kemahirannya terus diasah dengan terus belajar kembali berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak sia-sia, semuanya bisa dilalui dengan baik, bahkan prestasinya di sekolah pelan-pelan kian meningkat, lalu kerap menyabet juara kelas. Nilai bahasa Inggrisnya pun tidak tanggung-tanggung. Jika tidak sembilan, pasti sepuluh. Prestasi ini terus dipertahankannya hingga lulus SMP tahun 1967 dan SMA pada 1970 di kota Bandung. Kebisaan berbahasa Inggris yang diperoleh sedari kecil itu dijadikannya sebagai pengalaman yang sangat berharga dan mengesankan hingga sekarang. Penikmat berat cokelat ini baru merasakan kemanfaatan yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan sekarang yang serba kompetitif ini.

Tak sampai di situ, wanita yang gemar bersalsa ria ini kemudian melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus yang dikenal sebagai pusat sains itu, ia memilih Fakultas Ilmu Planologi. Selain cerdas, dia terbilang mahasiswa yang aktif berorganisasi. Di sana, wanita dengan ciri khas selalu tersenyum ini aktif dalam Dewan Mahasiswa (Dema). Ia termasuk sosok wanita yang pandai bergaul, banyak mahasiswa menjadi temannya. Kendati aktif di dunia organisasi kemahasiswaan, studinya tidak pernah dilupakan, terus berjalan mulus. Buku-buku pengetahuan selalu menjadi santapan sehari-harinya. “Ya maklum, anak-anak ITB itu kan terkenal dengan kacamata tebel dan kutu bukunya,” kata wanita yang suka warna dasar hitam-putih ini.

Namun, keidentikan itu tidak menjadikan dirinya lupa sebagai sosok wanita normal. Dia tidak pernah menomorsatukan penampilan namun tidak menomorduakannya. Menarik. Satu kata ini yang dijadikan sebagai pijakan untuk selalu memberi kesan mendalam atas penampilan dirinya. Menurut wanita yang senang lukisan ini, anak ITB tidak hanya harus pinter, tapi juga harus menarik. “Saya sangat suka memberi kesan dari penampilan yang rapi. Tapi tidak harus berhenti sampai di situ. Juga harus dibarengi dengan cantik di dalam (inner beauty). Hati yang baik,” pesannya.

Berkat kecerdasan dan keteladanannya berpenampilan menarik, Aurora banyak dikagumi teman-teman sekampusnya. Dia selalu berpesan, kepinteran tanpa dibarengi dengan penampilan yang menarik tidak akan banyak memperoleh simpati dari orang lain. Kesan pertama itu yang terus ditanamkan kepada teman-temannya.

Tahun 1973, di kota Bandung diadakan pemilihan kontes Miss University (Ratu Kampus) se-Jawa Barat. Acara yang diselenggarakan  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat dimaksudkan dalam rangka menjaring para ratu kampus untuk dijadikan sebagai Miss Jawa Barat. Masing-masing kampus mengutus jago-jagonya. Dengan proses persaingan dalam seleksi dan final yang ketat dan kompetitif, satu demi satu para calon ratu kampus berguguran hingga tinggal tiga mahasiswi yang masuk kualifikasi juara. Dari dua yang menjadi juara, Aurora menjadi yang nomor satu. Namun, karena ia tidak mau ribet dengan tugas sebagai Miss University Jawa Barat, gelar itu lantas diserahkannya setulus hati kepada juara ketiga. Ia malah memilih tetap enjoy dengan aktivitasnya sebagai mahasiswi di kampus hingga akhirnya lulus pada tahun 1976 dengan predikat cum laude berkat bimbingan TB M Rais (mantan Kepala Dinas Tata Kota dan Wagub DKI).

Arsitek Fauzi Bowo

Fauzi Bowo Dr.Ing.Fauzi Bowo


Fauzi Bowo lahir dengan nama Muhammad Fauzi Bin Johari Bin Bowo, di Kebun Kelapa (Batu Tulis), Jakarta Pusat pada tanggal 10 April 1948. Fauzi berasal dari keluarga Betawi yang taat beragama. Kakeknya adalah pendiri N.UFauzi Bowo Fauzi Bowo lahir dengan nama Muhammad Fauzi Bin Johari Bin Bowo, di Kebun Kelapa (Batu Tulis), Jakarta Pusat pada tanggal 10 April 1948.
Fauzi berasal dari keluarga Betawi yang taat beragama. Kakeknya adalah pendiri N.U

Pria berdarah Jawa-Betawi putra dari pasangan Djohari Adiputro Bowo asal Yogyakarta dan Nuraini binti Abdul Manaf asal Jakartaini menamatkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SD St. Bellarminus. Kemudian ia melanjutkan jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas di Kolese Kanisius Jakarta. Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia mengambil studi Arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universität Braunschweig Jerman dan tamat 1976 sebagai Diplom-Ingenieur. Program Doktor-Ingenieur dari Technische Universität Kaiserslautern bidang perencanaan diselesaikannya pada tahun 2000.

Fauzi Bowo memulai kariernya dengan mengajar di Fakultas Teknik UI. Ia bekerja sebagai pegawai negeri sejak tahun 1977. Beberapa posisi yang pernah dijabatnya antara lain adalah sebagai Kepala Biro Protokol dan Hubungan Internasional dan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta sampai menjadi Wakil Gubernur (era kepemimpinan Sutiyoso) dan Gubernur DKI Jakarta ke 15, hingga kemudian menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman.

Sebagai birokrat, Fauzi telah menempuh Sepadya (1987), Sespanas (1989), dan Lemhannas KSA VIII (2000). Ia adalah wakil gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso.

Fauzi Bowo menikah dengan Hj. Sri Hartati pada tanggal 10 April 1974. Hj. Sri Hartati adalah putri dari Sudjono Humardani, kelahiran Semarang, 29 Agustus 1953. Dari pernikahan ini, pasangan Fauzi Bowo dan Sri Hartati dikaruniai 3 orang anak: Humar Ambiya (20 Juli 1976), Esti Amanda (5 April 1979) dan Dyah Namira (1 Februari 1983).

Teknokrat sekaligus Birokrat Ia meraih gelar Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman, 2000, ini seorang pekerja keras dan berdisiplin. Sebelumnya, beliau masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1966-1967, sebelum kemudian melanjutkannya di Technische Universitat Brunschweig, Jerman. Dari universitas ini dia meraih gelar Sarjana Arsitektur, bidang Perencanaan Kota dan Wilayah.

Beberapa tahun kemudian, dia melanjutkan pendidikan arsitekturnya pada Universitat Kaiserlautern, Jerman, dan memperoleh gelar Doktor Ingenieur (Ing) dengan predikat Cum Laude, saat itu ia menengajukan disertasinya mengenai pola tata ruang kota Jakarta.

Fauzi merintis karies sebagai Kepala Biro II Pemda DKI yang membawanya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menikah dengan Hj. Sri Hartati dan dikaruniai tiga orang anak, kemudian mendalami pendidikan pemerintahan dan kepemimpinan dengan mengikuti Sespanas (1989) dan Lemhanas (2000).
Fauzi Bowo lebih akrab dipanggil Foke adalah contoh birokrat sekaligus teknokrat yang profesional namun merakyat. Beliau telah mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI periode 2007 oleh beberapa partai, LSM dan Badan Musyawarah (Bamus) Betawi .Sebelumnya dia berpasangan dengan Sutiyoso, dan terpilih sebagai Wakil Gubernur pada periode sebelumnya. Diperkirakan, Fauzi Bowo akan menggantikan Sutiyoso melalui Pilkada langsung 2007.Demikian pula kiprahnya di organisasi olahraga, ia sempat mengikuti “pusdik”sepakbola di MBFA, Lapangan Banteng ketika masih muda, sedangkan ketika menjadi pejabat, ia sempat menjadi ketua umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan Ketua KONI DKI Jakarta.
.

Profil Insinyur Ciputra, Arsitek dan Entrepreneur Indonesia


Seri Tokoh Bisnistaken from: Kompas

SEKILAS PROFIL IR.CIPUTRA

. Ir.Ciputra adalah tokoh arsitek pembaharu dan pelopor mode Eropa yang lahir di Parigi tahun 1921, karya-karyanya seringkali dikaitkan dengan Post-Modernism, minimalis dan mediterania.

Latar Belakang Pendidikan dan Budaya

Ir. Ciputra, lahir di Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 adalah seorang insinyur , pengusaha dan sekaligus rohaniwan di Indonesia. Ciputra kecil hingga remajanya di desa yang terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Walau masuk propinsi Sulut, tapi sudah berada diperbatasan Sulteng. Jauh dari Manado, jauh pula dari Palu. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Ayahandanya ditangkap penjajah Belanda karena turut dalam pergerakan nasional Indonesia dan tidak pernah berjumpa dengan keluarganya lagi. Ketika tamat SMA, kira-kira saat dia berusia 17 tahun, dia meninggalkan desanya menuju Jawa, untuk mencoba memperbaiki kehidupan. Karena ingin memasuki perguruan tinggi di Jawa. Maka, mendaftar ke ITB (Institut Tekhnologi Bandung). dan diterima.

Lulus dari kuliahnya di teknik arsitektur ITB, Ciputra mengawali karirnya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI. Keberadaan Ciputra di Jaya Group ternyata tidak terpengaruh oleh kondisi politik. Berbagai perubahan politik telah terjadi, namun Ciputra bisa tetap bertahan di Jaya Group.
Ciputra menjabat sebagai direksi di Jaya Group sampai dengan usia 65 tahun dan setelah itu, sampai dengan saat ini, sebagai penasihat bersama dengan Gubernur Sutiyoso. Di perusahaan DKI tersebut Ciputra bisa bertahan lama karena dua hal,pertama, Ciputra merasa DKI mewakili rakyat Jakarta dan ia senang bisa melakukan sesuatu untuk rakyat. Kedua, Ciputra merasa diberi kebebasan untuk berinovasi di Jaya Group, termasuk dalam pembangunan proyek Ancol. Kemudian bersama dengan Sudono Salim (Liem Soei Liong),Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Pada masa itu, Ciputra duduk sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. Akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group.

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Dan banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.

Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.

Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.

Arsitek Han Awal

banner Profil Arsitek Senior: HAN AWAL

compilled by author


Lahir:
Malang, 16 September 1930
Istri: Anastasia Maria Theresia Anak:
– Paulus Rachmat Trisna Awal
– Gregorius Antar Awal
– Maria Daryanti Awal
– Maria Widyati Awal
Pendidikan:
– Techniche Hoogeschool Delft, Belanda, 1950-1957 – Techniche Universitat, Faculatfur Architectur, Berlin Barat, 1957-1960 Karier:
– Direktur PT Han Awal & Partners Architect, 1971
– Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta, 1969-1971
– Proyek Conefo/MPR-DPR sebagai Asisten I Kepala Proyek, 1964-1972 – Dosen Tak Tetap FTUI Jurusan Arsitektur, 1965-2000
– Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang, 1990-2003
– Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang, 1997-2004
– Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI, 2003
Organisasi Profesi:
– Ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur
– Anggota Dewan Kehormatan IAI DKI Jakarta
Penghargaan:
– Penghargaan AIA untuk Kompleks Universitas katolik Atma Jaya, Jakarta, 1984
– Penghargaan AIA untuk Konservasi Gedung Arsip Nasional, 1999
– Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage, bersama Budi Lim dan Cor Passchier, 2001
– Prof Teeuw Award, bersama Soedarmadji JH Damais dan Wastu Pragantha Zhong, 2007

Alamat:
Biro Arsitek Han Awal & Partners, di Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Arsitek Pemugar Bangunan Tua

Han Awal, seorang arsitek santun bersuara lembut lamat-lamat. Arsitek yang ikut berperan merancang Gedung MPR/DPR sebagai asisten arsitek Soejoedi, itu lahir di Malang, 16 September 1930. Karya penerima penghargaan Prof Teeuw Award, itu sudah tersebar di beberapa tempat. Belakangan, dia lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris.
Han menyukai arsitektur setelah terinspirasi keindahan Kota Malang, tempat kelahirannya. “Malang itu kota yang ideal. Kota yang nyaman dan memiliki banyak bangunan indah. Saya sangat terkesan,” kata Han, bapak empat anak dan kakek empat cucu ini.
Saat lulus SMA tahun 1950, Han sebetulnya ingin belajar arsitektur di ITB. Namun, waktu itu ITB belum memiliki jurusan arsitektur. Terpengaruh brosur program pendidikan ahli bangunan di Technische Hoogeschool di Delft, Belanda, ia melanjutkan studi di sekolah itu dengan beasiswa dari Keuskupan Malang. Di tempat ini, dia berkenalan dengan mahasiswa asal Indonesia, seperti Bianpoen, Soewondo, Pamoentjak, dan Soejoedi.
Ketegangan hubungan Indonesia-Belanda gara-gara sengketa Papua mulai terasa akhir tahun 1956. Ini membuat Han pindah ke Jerman dan melanjutkan kuliah arsitektur di Technische Universitat, Berlin Barat, dan lulus tahun 1960.

“Di Belanda, saya banyak belajar arsitektur dari segi teknis. Mungkin karena negerinya kecil, para arsitek Belanda sangat mementingkan presisi. Perbedaan ukuran sesentimeter saja bisa dipersoalkan. Baru di Jerman saya mendapat pengetahuan tentang konsep-konsep besar arsitektur,” ceritanya.
Sebagai arsitek, jejak Han tersebar di banyak tempat. Di Jakarta, sentuhan Han, misalnya, bisa dilihat di Gedung MPR/DPR. Ia menjadi asisten arsitek Soejoedi dalam proyek pembangunan gedung megah di Senayan, yang awalnya dibangun sebagai Gedung Conefo (Conference of New Emerging Forces) 1964-1972. Kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan gedung sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru, Jakarta, juga karya dia.
Ciri banyak bangunan karya Han adalah kesederhanaan, dengan dinding dan langit-langit yang sering dibiarkan telanjang. Ia juga mempertimbangkan iklim tropis Indonesia saat merancang, misalnya dengan memperhitungkan sirkulasi udara silang agar bangunan tak perlu pendingin ruang dan hemat energi.
“Prinsip arsitektur tropis tak selalu bisa diterapkan. Teori ventilasi silang, misalnya, hanya cocok untuk gedung rendah. Untuk bangunan tinggi, teori ini tak bisa dipakai karena di lantai-lantai atas angin terlalu kencang,” papar Han yang merasa sebagai arsitek fungsionalis ketimbang minimalis.

Mendalami konservasi
Han belakangan lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris yang menggeluti pemugaran bangunan-bangunan tua. Pada tahun 1988 ia terlibat proyek pemugaran Katedral Jakarta yang sudah mengalami kerusakan berat di berbagai bagian. Ia mengusulkan mengganti atap sirap gereja Katolik yang hampir berusia seabad itu dengan pelat tembaga yang tahan lama.
Karya Han yang monumental di bidang pemugaran adalah Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta. Bersama arsitek Belanda, Cor Passchier dan Budi Lim, arsitek lulusan Inggris, ia terlibat pemugaran besar-besaran atas gedung yang dibangun pejabat VOC, Renier de Klerk, akhir abad ke-18 itu. Pemugaran dibiayai oleh berbagai pihak swasta di Belanda, sebagai hadiah ulang tahun emas Proklamasi Kemerdekaan RI, tahun 1995.
“Bangunan tua harus diberi aura baru, sesuai dengan tuntutan zaman. Lampu harus dibuat lebih terang dari dulu, juga pengatur udara,” kata Han yang sangat memerhatikan detail.
Dalam menggarap pemugaran bangunan tua, ia sering terkesima dengan aspek estetis dan budaya yang melekat pada bangunan itu. Untuk merekam semua itulah, Han mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur bersama sejumlah arsitek.
“Bangunan-bangunan tua umumnya tak lagi mempunyai gambar, baik gambar desain arsitektur maupun konstruksi. Jadi, untuk memugar, saya harus mengukur ulang. Saya sering terpaksa melakukan penggalian data sampai ke Belanda, KITLV di Leiden, Koninklijk Instituut voor de Tropen di Amsterdam, atau kepada teman-teman yang juga bekerja pada konservasi,” ujarnya.
Han pun menjalin pertemanan dengan para arsitek Belanda, termasuk Cor Passchier. Kerja sama intensif baru terjadi setelah ia bertemu para arsitek Negeri Kincir itu di sebuah seminar tentang bangunan warisan sejarah di Indonesia yang digelar IAI tahun 1980-an.
“Sebagai pemugar bangunan tua, saya menemukan hal-hal tak terduga. Ternyata, tak semua bangunan tua bikinan Belanda itu baik. Banyak konstruksi yang diselewengkan dan kaidah arsitektur yang tak dilaksanakan dengan benar. Konstruksi jadi tambal sulam. Tapi, itu kan manusiawi dan bukan hal memalukan,” papar Han.
Penghargaan Profesor Teeuw
Han kini sedang sibuk menangani pemugaran Gedung Bank Indonesia, Jakarta Kota. Bekas gedung Javasche Bank, bank sentral Hindia Belanda yang berdiri sejak 1828. Setelah itu, ia berencana memugar bangunan Gereja Imanuel, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, dan sebuah rumah tua di Jalan Prapatan, Jakarta. Bangunan itu pada abad ke-19 adalah rumah seorang mayor China.
Pertengahan Agustus 2007, dalam sebuah acara di Erasmus Huis, Jakarta, dia menjadi salah satu dari tiga orang Indonesia yang dianugerahi penghargaan Profesor Teeuw. Penghargaan yang menggunakan nama Profesor AA Teeuw, guru besar kajian budaya Indonesia di Universitas Leiden, Belanda, itu diberikan dua tahun sekali sejak 1992 kepada warga Indonesia atau Belanda yang dinilai berjasa meningkatkan hubungan kebudayaan kedua negara.
( Mulyawan Karim, Kompas, Jumat, 07 September 2007 ►

Avianti Armand, kegelisahan sang arsitek

Avianti Armand, kegelisahan sang arsitek

  • 3 September 2014

Image captionArsitek dipercaya sebagai tim kurator Indonesia di Biennale Arsitektur Venesia ke-14.

Dipercaya memimpin tim kurator Indonesia di pameran arsitektur internasional di Venesia, arsitek Avianti Armand menjelaskan sikap dan pemihakannya tentang wacana dan kerja arsitektural.

Indonesia, untuk pertama kalinya, diundang berpartisipasi dalam Biennale Arsitektur Venesia ke-14, salah-satu pameran arsitektur berpengaruh di dunia.

Digelar di kota wisata Venesia, Italia, para arsitek dari berbagai negara kali ini diajak untuk menelusuri, menggali informasi dan pengalaman dalam arsitektur masing-masing negara dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.

“Tema tahun ini adalah tentang sejarah,” kata Avianti Armand, arsitek sekaligus ketua tim kurator Indonesia dalam Biennale Arsitektur Venesia ke-14, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu, 30 Juli 2014.

Dikuratori arsitek asal Belanda, Rem Koolhas, 69 tahun, pameran arsitektur yang digelar sejak Juni lalu ini memang menitikberatkan pada hal-hal “kecil” dalam arsitektur -yang jarang dibahas secara khusus- dilihat bagaimana posisinya dalam sejarah.

Sesuai tema pameran yang menekankan “hal-hal kecil” itulah, tim kurator Indonesia kemudian melakukan diskusi panjang lebar dan akhirnya mereka memilih tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dilihat dari kacamata sehari-hari.

Memilih hal yang paling mendasar, Avianti dan kawan-kawan lantas merujuk pada keterampilan dan nilai hidup yang dilakoni para pembuat bangunan Indonesia terhadap materi kayu, batu, bata, baja, beton dan bambu.


Image captionAvianti dan tim kurator memilih tema ketukangan yang selama ini jarang disentuh dalam wacana arsiktektural.

“Cerita sehari-hari yang sebetulnya memang datang dari dalam praktek arsitektur itu sendiri,” kata perempuan kelahiran 1969 ini.

“Tapi,” lanjutnya, “justru itu sebetulnya yang hal-hal yang praktis, yang pragmatis, yang dekat sekali dengan praktek kita.”

‘Arsitektur bukan karya alone genius’

Pilihan tema tim kurator Indonesia tentang “ketukangan” dan menghindari cerita besar sosok arsitek dan label-label yang selama ini mendominasi wacana arsitektural Indonesia, tentu saja, sempat mengundang kritik di kalangan arsitek Indonesia.

Apa jawaban Avianti? “Arsitektur itu tidak pernah merupakan hasil alone genius.”

Menurutnya, arsitektur merupakan hasil kerjasama berbagai pihak dan bukanlah semata karya sosok arsitek, seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini.


Image captionDi Paviliun Indonesia, tim kurator memaparkan 100 tahun perjalanan arsitektur Indonesia.

Image captionAvianti Armand (kiri) dan tim kuratornya berhasil memenangi kompetisi dalam penjurian terbuka.

“Padahal,” imbuhnya, “si arsitektur tidak bisa berbuat banyak kalau tidak didukung, misalnya kontraktor,mechanical electrical consultant, lighting designer, atau bahkan tukang yang sangat sederhana, misalnya tukang batu.”

Sang arsitek, lanjutnya, juga tidak akan bisa berbuat banyak, apabila dia tidak memiliki pengetahuan mengenai material dengan baik.

“Dan untuk mendapatkannya (pengetahuan tentang material), dia (arsitek) harus banyak berdiskusi dengan tukang tukang kayu. Karena, yang banyak tahu tentang karakter dan sifat kayu adalah tukang kayu.”

Itulah sebabnya, demikian tandasnya, tim kurator – yang terdiri Avianti Armand, Achmad Tardiyana, Robin Hartanto, David Hutama, dan Setiadi Sopandi- memilih tema “ketukangan”.

“Kita tidak mengangkat satu arsitektur atau beberapa arsitektur. Yang kita angkat justru proses membuatnya (arsitektur) di mana di situ terlibat banyak orang,” jelas Avianti yang telah berkarya sebagai arsitek sejak 1992.

Menyisihkan dua tim

Tim kurator yang dipimpin Avianti Armand terpilih mewakili Indonesia setelah menyisihkan dua tim lainnya dalam sebuah penjurian terbuka.

Kompetisi ini digelar oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia pada September tahun lalu.

Di Paviliun Indonesia di Biennale Arsitektur Venesia ke-14, tim kurator kemudian memaparkan 100 tahun perjalanan arsitektur Indonesia.

Pengunjung diajak mengikuti perjalanan enam material -kayu, batu, bata, baja, beton dan bambu- yang disebut “berkontribusi pada terjadinya dialektika ketukangan”.

“Bagaimana sebuah material itu punya kisah yang hampir mirip manusia. Bagaimana dia mengalami pasang-surut, kapan dia mengalami krisis, kapan dia menjadi primadona, (dan) kapan dia menjadi simbol sesuatu,” jelas penulis buku berjudul Arsitektur yang Lain (2011) ini.

Di ruangan seluas 500 meter persegi, Avianti dan kawan-kawan menyajikan gambar bergerak yang diproyeksikan pada bidang-bidang kaca transparan.

Ada tujuh gambar bergerak yang ditampilkan di ruang pameran, diantaranya bertutur tentang arsitektur Indonesia secara umum serta sisanya fokus pada materi ketukangan.

Sebelum berangkat ke Venesia, tim kurator Indonesia mengamati puluhan bangunan yang tersebar di belasan kota, mulai Jakarta hingga NTT.

“Kami juga bertemu banyak orang… Bukan cuma bertemu tukang yang sangat trampil, tapi juga dengan arsitek-arsitek yang dengan sadar dan dengan krtiis mencoba mempertahankan pengetahuan ketukangan lokal,” ungkapnya.

Rumah Kampung

Sebagai arsitek yang telah berkarya lebih dari 15 tahun, Avianti pernah meraih penghargaan Ikatan Arsitektur Award 2008 atas rancangan rumah tinggalnya di wilayah Tangerang Selatan, Banten.

“Rumah kampung”, begitu sebutan rumahnya, dia rancang bersama suaminya, Terry Armand, sekitar tujuh tahun silam.

“Kita sebetulnya hanya mengatasi keadaan. Tanahnya ‘kan kecil, tetapi kebutuhan kita banyak,” ungkap arsitek lulusan Faklutas Teknik, jurusan arsitektur, Universitas Indonesia, seperti membuka rahasia.

Dari kenyataan itulah, Avianti dan suaminya mencoba menghemat ruangan dengan “menggabungkan” beberapa program atau kegiatan dalam satu ruang.

“Nah itu kami coba menggabungkan konsep teras dengan ruang duduk dan ruang makan, juga ruang musik,” katanya memberi contoh.

Di dalam rumah itu, mereka juga mencoba menghemat pengunaan energi listrik, yaitu seminimal mungkin menggunakan pendingin ruangan (AC), utamanya di ruangan kamar tidur dan ruang kantor di lantai atas.

Agar tidak terasa panas, “kita bikin sirkulasi udara silang dengan menggunakan kawat nyamuk,” ungkap Avianti.

Dan, “Kadang-kadang kalau kita tidur di kamar, rasanya mungkin tidak jauh beda dengan (tidur) di gardu hansip, karena rasanya seperti tidur di luar,” katanya seraya tergelak.

Penghargaan sastra

Selain dikenal sebagai arsitek, ibu satu anak ini dikenal pula sebagai penulis fiksi, utamanya puisi dan cerita pendek.

Karya puisi dan cerita pendeknya telah dibukukan dan pernah memenangi penghargaan sastra di tingkat nasional.

Tiga tahun lalu, buku puisinya yang berjudulPerempuan yang Dihapus Namanya berhasil meraihKhatulistiwa Award Literary Award.

Di tahun 2009, cerita pendeknya Pada suatu hari ada ibu dan Radian mampu menggaet penghargaanCerpen Terbaik Kompas 2009.

“Dua-duanya menyenangkan,” jawab Avianti seraya tersenyum, saat saya bertanya: mana kegiatan yang paling menyenangkan, dunia arsitek atau menulis.

Dia kemudian menjelaskan kalimatnya yang belum selesai itu: “Maksudnya, arsitek itu profesi formal saya, sementara menulis itu lebih kayak saluran perasaan, kalau saya merasa kesal atau kritik terhadap suatu kondisi tertentu, maka saya tuangkan itu dalam tulisan.”

Avianti mengaku lebih ekspresif di dalam menulis, namun di sisi lain dia berterus terang bahwa dia belajar banyak dari arsitektur.

“Pada akhirnya dua hal ini kemudian menjadi seimbang,” ujar pengagum penulis asal Jepang, Haruki Murakami ini.

Di kala sibuk menulis, dia mengaku tidak punya klien, sehingga apapun yang dia pikirkan atau kehendaki dapat dia tuliskan.

“Sementara saat berprofesi sebagai arsitek, saya belajar untuk berkomunikasi, belajar untuk mendengar, belajar untuk mengakomodasi banyak sekali kepentingan,” katanya.

Perempuan yang dihapus namanya

Membandingkan dengan beberapa karya fiksinya, Avianti mengaku “cukup puas” dengan buku puisinya yang berjudul Perempuan Yang Dihapus Namanya.

“Saya memang mendedidasikan waktu untuk melakukan riset dan menulis tentang perempuan di dalam Alkitab Perjanjian Lama,” katanya, membuka kisah perjalanan buku tersebut.

“Kenapa dia paling memuaskan, karena ada satu usaha, ada suatu kerja, waktu yang saya curahkan untuk itu, dan akhirnya bukunya jadi,” tambahnya.

Ketika saya tanya mengapa dia menulis buku dengan tema “perempuan”, seraya tertawa kecil Avianti menjawab: “Ini bisa disebut kecelakaan. Jadi hidup saya penuh kecelakaan-kecelakaan yang menyenangkan”.

Diawali ketika dia diserang insomnia hebat ketika mengandung anak tunggalnya, dia kemudian menghabiskannya dengan membaca “bacaan yang tidak habis-habisnya” yaitu Kitab suci.


Image captionKarya puisi dan cerpen Avianti pernah meraih penghargaan sastra.

“Tapi semakin saya baca, kok seperti kisah sejarah yang menarik,” ujarnya.

Salah-satu temuannya dari kitab Perjanjian Lama dan Baru, demikian pengakuan Avianti, “Saya melihat, perempuan hampir tidak punya peran… (Dan) akhirnya diletakkan ke pinggir.”

Dari buku puisinya itu, menurutnya, dia mencoba membaca ulang dan menuliskannya ulang.

“Mudah-mudahan dengan proses pembacan ulang, saya berharap orang tidak terlalu text book,” katanya.

Dengan pembacaan ulang itu, Avianti mengharapkan itu dapat digunakan untuk memperjuangkan nasib perempuan agar bisa lebih baik.

“Bisa saja kita membacanya sebagai teks yang dogmatis, tapi kita bisa juga membacanya dengan hati, di mana menurut saya itu paling penting dalam konteks hari ini,” Avianti menjelaskan.

Romo Mangun, sang inspirator

Sebagai seorang arsitek, Avianti mengaku sangat terinspirasi oleh mendiang Romo Mangun, seorang rohaniawan, arsitek dan aktivis sosial.

“Dia adalah seorang arsitek yang tidak pernah kehilangan ideologinya,” katanya.

Pilihan hidup dan pemihakan yang jelas dari sosok Romo Mangun, demikian pengakuannya, menjadi sangat penting ketika dia dihadapkan apa yang disebutnya sebagai kegelisahan sebagai seorang arsitek.

“Kalau anda berpraktek sebagai arsitek pada umumnya, mungkin Anda punya kegelisahan yang sama seperti saya,” akunya.


Image captionRomo Mangun (tengah) menginspirasi Avianti dalam menjalankan profesi arsiteknya.

Karena, menurutnya, yang dilayani adalahsegmented client. “Klien-klien dengan uang cukup untuk membuat satu bangunan dan klien-klien yang punya uang cukup untuk membayar jasa seorang arsitektur.”

“Saya pikir, makin ke sini, ada suatu hal yang tidak dapat saya tampung melalui profesi arsitek, yaitu kegelisahan itu,” katanya.

Di sinilah, kehadiran Romo Mangun -yang berlatar arsitek, rohaniawan dan aktivis sosial- selalu membuatnya terinspirasi untuk selalu mendengarkan kegelisahannya itu.

“Saya pikir kita harus selalu mendengarnya,” katanya.

Arsitek dan sikap kritis

Dari situlah, Avianti kemudian menyimpulkan, bahwa berpraktek sebagai arsitek secara kritis itu adalah “sangat mungkin dalam bentuk apapun”.

“Dan itu justru membuat hidup kita seimbang,” tegas Avianti. “Kalau tidak, ya, arsitektur mulai kehilangan ideologi. Hanya bekerja untuk segmented client.”

Dia kemudian mencontohkan, pemihakan yang ditunjukkan Romo Mangun dalam berbagai kegiatan sosial, mulai program Kali Code di Yogyakarta hingga aktivitasnya untuk menolak pembangunan bendungan Kedung Ombo.

“Saya rasa dia (Romo Mangun) adalah preseden yang paling kuat di Indonesia,” tandasnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, Avianti merasa lega karena saat ini bermunculan para arsitek yang berpraktek secara kritis.


Image captionAvianti Armand bersama suami dan putra tunggalnya.

“Yang tidak hanya melakukan pekerjaannya sebagai arsitek yang profesional, tetapi juga melakukan perjuangan untuk misalnya mempertahankan arsitektur tradisional, mempertahankan pengetahuan ketukangan lokal.”

Menurutnya, para arsitek kritis seperti itu “ada”. “Mereka kurang publikasi, tapi karya mereka nyata di masyarakat,” kata Avianti.

Arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo

Soejoedi Wirjoatmodjo

Masih ingat dengan gedung kura-kura alias Gedung DPR/MPR Indonesia yang berada di kawasan Senayan, Jakarta merupakan karyanya yang terkenal. Selain Komplek DPR/MPR RI, karyanya yang terkenal dan hingga kini masih bisa dilihat adalah Cafe Restoran Braga Permai di Kawasan Braga, Bandung. Tidak hanya itu, Soejoedi juga berperan dalam pembangunan Gedung Sekretariat ASEAN, Gedung Kedubes Perancis di Jakarta, dan merancang masterplan tata kota di beberapa daerah di Indonesia.

Peran Bung Karno dalam seni dan Arsitektur Indonesia

Prestasi Arsitek Indonesia


APRESIASI BUNG KARNO TERHADAP SENI DAN ARSITEKTUR JAKARTA

Apresiasi BK terhadap daya kreasi dan inovasi seni dan arsitektur Indonesia

dikumpulkan dari berbagai sumber oleh: Eddy Sriyanto,ST

Sampai saat ini, ingatan pada tokoh revolusi Bung Karno belumlah hilang. Tokoh yang tidak hanya berjasa memproklamirkan kemerdekaan, menjadi presiden pertama, figur yang terkenal sampai ke luarnegeri dengan pendirian yang tegas, dan cara menyampaikan pidato yang selain berapi-api. juga kaya dengan konsep pemikiran yang matang.

Namun jarang yang mengenang mengenai apresiasinya dengan seni, pemikirannya dengan seni, gagasan-gagasannya sebagai arsitek dan juga pemimpin bangsa.

Semangat kebangsaan yang menggelora sebelum Kemerdekaan Indonesia terwujudkan dalam sikap martabat bangsa yang berbudaya tinggi.Selain perjuangan fisik, para senimanpun turut berperan serta dalam perjuangan di bidang keseniian dan kebudayaan. Sejak masa penjajahan Belanda, para seniman telah berpartisipasi dalam berbagai wadah budaya. Pada masa penjajahan Jepang yang berlangsung singkat, Bung Karno memimpin PoeTeRa (Poesat Tenaga Rakyat) sebagai wadah seniman pada saat itu,yang melibatkan berbagai tokoh seni seperti Basuki Abdullah, Afandi, Sudjojono,Henk Ngantung, Hendra dan lain lain. Bidang seni budaya yang bernaung dalam PoeTeRa juga banyak, seperti seni tari, lukis,teater,kriya dll.

Seiring dengan perkembangan politik saat itu, kiprah BK dan seniman lain dalam seni budaya juga dipengaruhi semangat perjuangan revolusi saat itu. Cita-cita kemerdekaan dan impian menjadi bangsa berdaulat dan disegani di kalangan dunia internasional membuat para seniman Indonesia pada saat itu mencurahkan idealisme mereka pada seni yang digelutinya.Menciptakan suatu karya bukan hanya untuk tujuan materi semata, juga bukan hanya untuk mendapat kepuasan pribadi, tetapi juga sebagai manifestasi luapan expresi jiwa yang melawan feodalisme dan kolonialisme. Setiap karya seni terutama seni lukis membawa nuansa perjuangan dalam setiap guratan kwas, tekanan kwas ,bentuk dan warnanya. Karakter pelukis sangat dominan dan pesan yang tersirat dalam lukisan menyuarakan hasrat perjuangan disamping aspek kemanusiaan lainnya. Semuanya itu tak lepas dari pengaruh Bung Karno pada saat itu.

Pada suatu hari, Bung Karno berkata kepada pelukis Istana, Dullah :”Dullah, Jika aku tidak dalam politik, aku akan jadi pelukis atau dalang”. Kalimat ini memang realistis, karena saat belum menjadi presiden, BK pernah dibuang Belanda ke Pulau Ende, NTT. Saat itu Bung Karno melukis pemandangan Pulau Flores dengan cat air.

Tidak cukup dengan memimpin dan mengarahkan seniman berkreasi, BK juga telah memanaje pendokumentasian tiap lukisan ataupun seni lain yang ada. Ini suatu antisipasi luarbiasa yang pada saat itu belum banyak diperhatikan orang berhubung kondisi bangsa saat itu. Salah satu kiat BK dalam mendokumentasikan karya lukis saat itu adalah dengan mengadakan pameran lukisan, mencetak buku dan koleksi pribadi yang terinventarisir. Buku koleksi BK yang dicetak di China maupun Jepang merupakan referensi yang sangat penting bagi sejarah dan seni di Indonesia.

JIWA SENI DAN SEMANGAT PEMBANGUNAN

Terinspirasi kebesaran nenek moyang yang mampu membangun bangunan monumental yang dikenal dunia seperti Borobudur, Prambanan dll, mengilhami para pemimpin saat itu untuk mengisi kemerdekaan dan mengejar ketertinggalan dengan membangun gedung-gedung penting dan monumen. Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi menugaskan beberapa pakar dan seniman untuk studi perbandingan ke beberapa negara, bahkan setiap kali Bung Karno melakukan lawatan ke luar negeri selalu membawa arsitek untuk mempelajari perkembangan ilmu teknik konstruksi dan arsitektur di negara tersebut.Silaban adaaalah salah satu arsitek tersebut, salah satu karya Silaban adalah Mesjid Istiglal. Penunjukan Silaban untuk merancang dan membangun Mesjid Istiglal saat itu juga menunjukkan wawasan kebangsaan yang besar, karena Silaban adalah arsitek beragama Kristen.

Dalam membangun gedung maupun monumen, BK telah menggunakan konsep yang terpadu. Setiap proyek dikerjakan dengan pemrograman yang melibatkan tata kota,arsitek dan konstruktor dan memperhatikan semua aspek perancangan, termasuk diantaranya aspek lingkungan.Beberapa seniman dan teknokrat yang terlibat antara lain Henk Ngantung (pelukis), Silaban (arsitek), Prof.Rooseno dan Ir.Sutami (konstruksi/sipil). Monumen Nasional (Monas) telah menimbulkan kekaguman Sri Paus yang berkunjung tahun 1975. Jembatan Semanggi di kawasan Senayan mengundang decak kagum dunia internasional karena gagasan jalan layang saat itu merupakan ide brilian dalam mengantisipasi kemacetan lalu lintas.Stadion Senayan, Sarinah, Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara dll telah memperindah kota Jakarta. dan membuat Jakarta tidak kalah dengan kota-kota besar dunia . Dalam perencanaan maupun pelaksanaannya, BK selalu terbuka untuk bertukar pikiran dengan para ahli teknik konstruksi, arsitek, ekonom maupun seniman, bahkan militer. Bukti kepedulian beliau terungkap dengan dipilihnya Henk Ngantung (pelukis) dan Letnan Jenderal Ali Sadikin untuk mewujudkan citra seni yang integral dengan pembangunan bangsa.

Sebagai pelukis, Henk Ngantung tak lupa mengumpulkan semua catatan mengenai pembicaraan dengan BK baik yang formal maupun percakapan santai dalam bukunya Karya Jaya. Sedangkan Bang Ali Sadikin menindaklanjuti ide besar dengan pelaksanaan berbagai proyek perintis.Seniman lain juga diundang BK, S.Sudjojono,Lee Man Fong, Basuki Abdullah,dan juga seniman teater, musik,tari dan perfilman.

Hasil proyek dapat terud dinikmati sampai saat ini.Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian, sampai sekarang masih menjadi icon kesenian di tanah air. Taman Impian Jaya Ancol juga bahkan terus berkembang menjadi waterpark dan oceanarium terbesar di Asia Tenggara. Museum-museum telah melestarikan berbagai aset budaya bangsa.

Hal-hal yang menjadi prinsip Bung Karno :

  • Bung Karno kurang menyukai detail-detail yang rumit dan kecil, tetapi sangat menyukai kepada yang besar, perkasa, bersifat monumental.Monumen Nasional adalah contoh jelas prinsip BK tersebut, menara yang relatif polos, namun tinggi menjulang di satu openspace raksasa kawasan Gambir telah menjadi landmark bagi Jakarta, sejajar dengan landmark negara lain seperti Statue of Liberty, Eiffel, Sidney Opera House dll.
  • Bung Karno menyukai karya yang bersifat abadi, dan murni kreasi bangsa sendiri, bahkan kadang dekat dengan misteri alam dan misteri sosial. Bung Karno yang anti feodalisme senang mengamati alam, “berdialog” dengan alam dan berpikiran tanpa batas. Mungkin karena hal inilah muncul ucapanya yang terkenal “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.
  • Bung Karno menyukai wayang, yang kadangkala mempengaruhi pribadi dan filosofinya. Sebagai anak desa yang tumbuh dalam budaya Jawa, ia tak terpengaruh untuk menjadi “rural-agraris”. Pribadi yang halus, sopan namun tegas bertindak. Ia juga sangat menghargai harga barang seni yang diinginkannya, sehingga tidak mau membeli dengan harga murah hanya karena ia seorang yang memiliki kedudukan tinggi.

 

Keputusan penting.

Menjelang akhit dasawarsa 50-an, timbul spekulasi bahwa ibukota akan dipendahkan dari kota Jakarta. Untuk menepis segala kesimpangsiuran tersebut, Bung Karno langsung menyatakan dalam pidatonya pada perayaan Ulang Tahun Kota Jakarta tahun 1960 di Gedung Olahraga Ikada, bahwa : Jakarta tetap merupakan Ibukota NKRI. PP No.2 tahun 1961 merubah kota Jakarta dari Daerah Tingkat I menjadi Daerah Khusus Ibukota, yang secara otomatis menjadikan Gubernur DKI Jakarta berada langsung di bawah Presiden. Keputusan ini diperkuat dengan Undang-undang no 10 tahun 1964.

Dengan kukuhnya status Jakarta, semakin bergairah para investor, pengusaha dalam berusaha di Jakarta. Tahun 1962 , Asian Games yang keempat sukses di Jakarta, dengan penggunaan venue-venue baru yang megah.

Beberapa gagasan “Makro” Bung Karno yang telah mengantisipasi segala aspek termasuk futuristik :

Monumen Nasional.

Ketika mencanangkan pembangunan monumen Nasional, Bung Karno tidak hanya terpancang pada satu Monas yang menjulang. Namun kompleksitas dengan kawasan Gambir sebagai open space dan paru-paru kota Jakarta. Monas yang tidak hanya sendirian di tengah tanah lapang, namun didukung oleh Mesjid Istiqlal, Kathedral, Tugu Pak Tani dll,

Kawasan Ancol.

Dahulunya kawasan ini adalah hutan mangrove, tambak dan kumuh. Atas nasihat arsitek Silaban yang baru saja selesai berkunjung ke Brasil, dikembangkanlah kawasan Ancol dengan maksud agar pendatang dengan pesawat terbang akan “disambut” dengan keindahan panorama waterpark .Saat ini Binaria (cikal bakal Ancol) melebur dalam kawasan pantai rekreasi Ancol. Dan kawasan ini telah berkembang sangatlah pesat. Waterworld Ancol telah menjadi salah satu waterworld terbesar dunia, menjadikan potensi pariwisata semakin berkembang dan menghasilkan devisa yang signifikan.

Stadion Senayan

Pada mulanya banyak orang terkejut mendengar gagasan dibangunnya Stadion Senayan ini, termasuk Presiden (Uni Sovyet pada saat itu). Karena keadaan ekonomi saat itu yang masih terbelakang, gagasan “Stadion” seakan menjadi gagasan mercu suar. Namun terbukti dengan adanya Stadion Senayan yang sempat menjadi gelanggang pertama di dunia dengan konsep “temu gelang”, masyarakat menjadi bergairah dalam berolahraga. Ketertinggalan akibat penjajahan tak selamanya harus diikuti dengan ide yang “murah”. Stadion Senayan telah menjadi bukti tekad bangsa Indonesia dalam mengejar ketertinggalannya.