Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Arsi Persada

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

Silvia Galikano, CNN Indonesia
Minggu, 03/04/2016 20:30 WIB
OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker
Gedung OLVEH di masa kejayaannya. (Dok. JOTRC)

Jakarta, CNN Indonesia — Cat putih, gaya bangunan neoklasik, dan dua menaranya yang gagah membuat Gedung OLVEH menonjol dari kejauhan.

Semakin menarik ketika didekati, terdapat susunan batu membentuk tulisan “OLVEH van 1879” di lantai teras. Dan untuk masuk, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena lantai dasar gedung ini lebih rendah 60 sentimeter dari permukaan jalan.

Bukan karena sengaja dibangun di bawah permukaan jalan, melainkan proyek peninggian jalan yang berlapis-lapis tanpa ampun dari tahun ke tahun telah menenggelamkan gedung-gedung di kiri-kanan jalan.

Gedung milik asuransi Jiwasraya di Jalan Jembatan Batu no 50, Pinangsia Jakarta Barat ini sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Cat dindingnya kusam, bahkan terkelupas. Tanaman tumbuh liar di sela-sela tembok.
Bangunan ini punya sejarah menarik. Didesain oleh arsitek Schoemaker dan dibangun F. Loth untuk kantor Onderlnge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp (OLVEH), perusahaan asuransi jiwa yang berdiri pada 1879, berpusat di Den Haag, Belanda. Upacara peletakan batu pertamanya diadakan pada 1921 atas permintaan putri direktur, Peereboom Voller.Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) kemudian mengkonservasi gedung tersebut sejak akhir 2014. Peresmian rampungnya konservasi diadakan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Gedung OLVEH yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 7 Januari 1922 adalah gedung tiga lantai dengan dua menara. Lantai pertama dan kedua disewakan untuk tenant, sedangkan kantor OLVEH menempati lantai tiga.

Sebuah tangga marmer didesain dengan keamanan yang baik sebagai penghubung antarlantai. Toilet dan kamar mandi dibedakan dengan jelas dan didesain menggunakanexhaust.

Boy Bhirawa, arsitek yang mengkonservasi Gedung Olveh, menjelaskan, pada awalnya, tim konservasi belum mengetahui nama arsitek yang mendesain gedung OLVEH.

Ketika Boy melihat ke dalam gedung, termasuk lantai atas, dan memperhatikan detailnya, sampailah dia pada kesimpulan yang membuat gedung ini bukanlah arsitek biasa.

Sang arsitek membagi ruangan dengan sistem yang jelas sekali: tiga melintang dan tiga membujur serta kolom hanya ada di tengah ruangan dan tak ada di samping.

Selain itu, dari kolom yang dindingnya rontok hingga tampak tulangnya, diketahui bangunan ini berasal dari zaman peralihan sebelum dinding struktur beton bertulang menjadi umum.

Terdapat langit-langit kaca (skylight) di lantai tiga yang memberi cahaya cantik dan berbeda-beda di ruangan dari pagi hingga petang. Teknologinya pun luar biasa, memberi dudukan besi yang membuat air hujan tidak masuk ke ruangan. Pada masa itu, skylight adalah sesuatu yang baru.

“(Lantai tiga) ini crème de la crème bangunan. Cahaya dari atas membuat ruangan punya cahaya sendiri yang berubah-ubah dari pagi sampai sore,” kata Boy.

“Tanpa melihat jam, kita bisa tahu sekarang pukul berapa. Bahkan kalau lebih peka lagi, bisa tahu bulan apa, hanya dari sudut jatuhnya cahaya matahari.”

Skylight dianggap sebagai konsep tinggi seperti memasukkan waktu ke dalam ruang. Arsitektur ini dianggap abadi, mati waktu, terbekukan melalui ada cahaya yang berubah terus sejak terbit hingga terbenamnya matahari.

Gedung Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (cat putih) atau OLVEH dahulunya adalah kantor perusahaan asuransi Belanda dan saat ini selesai direvitalisasi oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC), Jakarta, Selasa, 23 Maret 2016. Bangunan ini menjadi saksi turunnya permukaan tanah di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Dua wajah

Perhatiannya pun tertambat pada adanya dua balkon, yang menghadap depan dan menghadap belakang. Artinya gedung ini menghadapkan wajah ke depan dan ke belakang. Wajar jika menghadapkan wajah ke depan karena di sanalah pusat bisnis Batavia. Tapi ke belakang?

Di belakang gedung ini adalah kawasan Pecinan. Di sana ada klenteng dan rumah abu selain perkampungan penduduk Tionghoa. Inilah cara sang arsitek menghormati penduduk dan budayanya. Dengan memberi balkon ke arah Pecinan, dia memberi satu bagian wajahnya ke belakang untuk komunitas, bukan membelakangi.

Sebagai kantor bisnis keuangan, wajar jika bangunan ini punya menara dan pilar-pilar. Dua menara membuat gedung ini mudah dikenali sebagai kantor selain tampak bergengsi. Pilar-pilarnya jadi simbol kekuatan, ketahanan, matang, dan mapan.

“Itu sebabnya kantor jasa keuangan, seperti bank dan asuransi, mengambil bangunan klasik. Tujuannya untuk mengesankan bisnis mereka sudah berjalan lama agar masyarakat merasa aman menitipkan uang di sana,” ujar Boy.

Schoemaker bersaudara

Pencarian arsitek yang mendesain gedung ini pun dilakukan. Pusat Dokumentasi Arsitektur tak menyimpan data tentang gedung OLVEH. Lantas ditemukan guntingan surat kabar Hindia Belanda Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 31 Desember 1921.

Di sana tertulis arsitek Gedung OLVEH yang berada di Voorrij Zuid (nama jalan Jembatan Batu waktu itu) adalah Profesor Schoenmaker (kemungkinan maksudnya Schoemaker, tanpa “n”).

Lantas timbul pertanyaan, Schoemaker yang mana? Karena kakak-adik Schoemaker, Wolff (1882-1949) dan Richard (1886-1942), sama-sama arsitek dan sama-sama guru besar di Technische Hogeschool (sekarang ITB).

Karena Richard sudah ditabalkan sebagai guru besar pada 1920, sedangkan Wolff baru dua tahun kemudian, maka artikel itu dipastikan mengacu pada Richard Schoemaker. Namun dari gaya bangunan, tim konservasi cenderung meyakini bahwa ini karya Wolff Schoemaker.

Bagian dalam Gedung Olveh sebelum renovasi. (Dok. JOTRC)

“Kubah dua menaranya persis kubah Gereja Bethel di Bandung, karya Wolff Schoemaker. Menaranya pun didesain bersusun mirip teknik perspektif bangunan candi,” kata Boy.

Ditambah lagi, ada faktor kemanusiaan yang menguatkan bahwa Wolff-lah perancang utama gedung OLVEH. Hidup Wolff dibagi tiga periode, yakni lahir di Banyubiru, Indonesia; bersekolah di Delft, Belanda.

Masa Wolff bersekolah adalah masa puncak para arsitek muda punya statement, sepertide stij, amsterdam syle, dan semuanya kuat. Sebuah pemberontakan terhadap gaya lama.

Semangat itu dia bawa saat kembali ke Batavia. Pada masa awal, Wolff masih bergaya modernis.

“Seorang arsitek senior Belanda saat itu menasihati, jika Wolff hendak membuat arsitektur di Hindia Belanda seharusnya mempertimbangkan iklim tropis Nusantara dengan menerapkan gaya arsitektur Indische. Dan dia berusaha memahami,” ujar Boy.

Pada periode pertama Wolff berkarya, desainnya belum tropis, tak ada teritis sehingga saat hujan akan tampias ke dalam.

Pada saat yang sama, Wolff suka candi. Posisi candi berstruktur telanjang, tak ada “genit-genitnya” karena memang bukan tempat tinggal.

Bentuk candi ini dia ikuti. Menara gedung OLVEH yang berundak adalah menyalin bentuk candi, dan ekspresi itu masih belum tropis untuk ditinggali.

“Karena itu kami punya masalah dalam hal ini. Kalau hujan, di sini tampias, juga tampias ke jendela kayu,” kata Boy.

Pada periode ke-dua, dia mulai mengatasi masalah tropis. Dan pada periode ke-tiga, rancangan Wolff Schoemaker sudah sangat Nusantara.

Bagian dalam gedung OLVEH usai renovasi. (Dok. JOTRC)

Wolff adalah ilmuwan yang menguasai ilmu teknik, budaya, dan seni rupa. Dia pun bekerja di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (BOW, Dinas Pekerjaan Umum). Maka wajar jika tahu lebih dulu jika di sini akan jadi pusat bisnis.

Sebagai catatan, Gedung OLVEH dibangun saat kawasan plaza (Stationsplein) belum terbentuk. Stasiun BEOS, Nederlandsche Handel Maatschappij (kini Museum Bank Mandiri), dan Nederlandsch-Indische Handelsbank (kini Bank Mandiri) belum berdiri.

Dari sisi komplikasi personal, Wolff lebih komplit, dia mengalami pindah agama. Dikabarkan, Wolff menjadi muslim pada awal 1930-an, walau pada akhirnya dimakamkan secara Nasrani di ereveld Pandu, Bandung.

“Masalahnya bukan agama apa, tapi dia mencari kebenaran. Prosesnya mempelajari candi adalah juga proses mencari kebenaran. Proses itu menjadi penting buat saya, karena kalau kita bicara arsitektur saja, maka terbatas fisik. Sedangkan ini tatarannya bukan hanya profesional, tapi juga wisdom,” kata Boy menguraikan.

Wolff dianggap memenuhi proses, yakni sebagai arsitek, pengajar, militer, bekerja di BOW, hingga akhirnya independen bekerja di perusahaan sendiri. Dua bersaudara Richard L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker mendirikan C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs.

Meski demikian, lanjut Boy, tak terlalu penting siapa yang merancang karena keduanya berada di satu perusahaan, sehingga tugas merancang bisa dikerjakan bergantian.

“Kalau toh ini dilepaskan ke adiknya, pengaruh Wolff banyak sekali karena pengetahuan dia sudah beyond, sudah religion.” (les/les)

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok–Rumah Panggung di Kampung Melayu

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok

Rumah Panggung di Kampung Melayu

24 Februari 2016

Kampung Melayu merupakan salah satu kampung di Kota Semarang yang memiliki potensi citra budaya yang khas, yaitu multi etnik dengan beragam artefak arsitektural.

RUMAH panggung warga Banjar adalah salah satu artefak yang masih dapat ditemukan keberadaannya di Kampung Melayu. Hal itu merupakan hasil kebudayaan masyarakat Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat serta kebudayaan lain.

Ketika Suara Merdeka menelusuri Kampung Melayu, Selasa (23/2), rumah panggung yang dahulu menjadi ciri khas, jumlah kini tak ada puluhan. Beberapa yang tersisa ada yang masih dihuni, ada yang dikosongkan, dan ada pula yang dipasang tulisan “Dijual”. Kondisi bangunannya pun sebagian besar rusak, hanya beberapa yang terawat.

Seperti rumah panggung milik Hilal (30), warga Jalan Layur No 104 salah satunya. Kayu jati bercat hijau itu masih terlihat kokoh. Akan tetapi, batas bangunan lantai dua dan lantai satu hampir setara dengan ketinggian jalan. Pasalnya, lantai dasar rumah itu telah ditinggikan hingga dua meter karena rob sering menerjang kawasan itu.

Jalan Layur yang dahulu sering tergenang luapan Kali Semarang pun kini ditinggikan dan dipaving. ‘’Rumah ini peninggalan simbah saya. Mbah Kartadinata. Rencana mau kami bongkar, karena semakin tenggelam. Selama saya tinggal di sini, sudah ditinggikan dua meter,’’ kata ibu dua anak itu, kemarin.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Taufan Madiasworo, mahasiswa Pascasarjana Teknik Arsitektur Undip pada 2001, kebudayaan Banjar berpengaruh kuat terhadap bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu Semarang yang tercermin dari fungsi dan susunan ruang, konstruksi dan ragam hias.

‘’Bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu merupakan bagian dari sistem budaya yang mencakup bagian-bagian sistem lain seperti organik, social, dan kepribadian serta merupakan ekspresi dari kebudayaan Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat, serta kebudayaan lain, seperti kebudayaan Tiongkok dan kebudayaan Indis yang berkembang saat Pemerintahan Kolonial. Selain itu, mengalami adaptasi dengan lingkungan dan kondisi setempat,’’ paparnya.

Interpretasi

Hal itu, kata Taufan, menyebabkan terjadinya akulturasi dalam pola perubahan desain rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu yang cenderung memiliki bentuk baru dengan makna lama.

Dengan demikian, terjadi interpretasi baru terhadap bentuk lama yang pada dasarya tetap berakar dari kebudayaan Banjar. Rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu memiliki ciri khusus dan unik yang justru memperkaya khasanah variasi arsitektur tradisional di Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Banjar itu, kata Taufan, terlihat dari bagian kemuncak atap, listplank, pagar teras, penyangga atap tritisan, dinding penyekat, dan tangga. Selain itu, ragam hiasannya ukiran kaligrafi Arab. Ornamentasinya minimalis, berbeda dari yang asli di Banjar Kalimantan Selatan.

‘’Ragam hias batu berukir pada bagian kemuncak atap sulit dilacak maknanya, yang merupakan pengaruh arsitektur Indis. Kemudian ragam hias geometris dengan hiasan bunga peony merupakan pengaruh arsitektur Tiongkok,’’ jelasnya.

Saat ditemui di kantornya, Lurah Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Dwiyanto menjelaskan, banjir dan rob yang beberapa tahun sering menerjang Kampung Melayu membuat rumah panggung sebagai ciri khas permukiman di wilayah itu dibongkar oleh pemiliknya.

‘’Kalau pun yang sekarang ini masih ada, sebagian kondisinya rusak. Dan paling banyak masih ada di wilayah RW 3 dan RW 4,’’ tuturnya. (Muhammad Syukron-71)

Dikutip dari: Suaramerdeka

Villa Nova di Gedong (menunggu) roboh

Villa Nova di Gedong (menunggu) roboh

 

dari:Warta Kota 2 April 2011
Villa Nova Gedong, bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda yang dikenal dengan landhuis Groenveld atau Landhuis Tanjung Timur di jalan TB.Simatupang, Condet, Jakarta Timur kini tinggal menunggu runtuh.
Padahal gedung yang dibangun tahun 1756 ini memiliki nilai sejarah penting dan merekam perjalanan perkembangan pinggiran kota Jakarta.

Nama gedung ini nantinya menjadi cikal bakal nama Kelurahan Gedong di Kecamatan Pasar Rebo. Pasalnya, pada zamannya warga kerap menyebut bangunan ini dengan sebutan Gedong.
Untuk sebuah Landhuis atau rumah peristirahatan, Landhuis Groenveld atau landhuis Tanjung Timur ini adalah yang terbesar di Batavia pada zamannya.
Landhuis adalah bangunan besar pada zaman Kolonial Belanda yang dibangun sebagai tempat peristirahatan keluarga tuan tanah di wilayah Batavia waktu itu.

Pantauan Warta Kota ,Jumat (1/04) siang, bangunan bersejarah ini nampak terbengkalai dan tingal menunggu runtuh. Bangunan dikelilingi oleh asrama Polri serta hanya tinggal berupa reruntuhan dan sebagian kecil sja masih berdiri.
Landhuis ini terletak di sebelah timur Kali Ciliwung atau di seberang Lapangan Rindam Jaya. Masyarakat sekitar menyebutnya Landhuis Tanjung Timur. Namun ada juga yang menyebutnya Villa Nova Gedong. Saat kemerdekaan, Landhuis Tanjung Timur ini dijadikan asrama polisi.
Kepala UPT Kota Tua, Candrian Attahiyat ,menjelaskan pada SK Gubernur tahun 1972 bangunan Villa Nova Gedong ini masih termasuk dalam bangunan cagar budaya yang mesti dilindungi. Namun setelah terbakar pada tahun 1985, keluar lagi SK Gubernur tahun 1993 yang menyatakan bangunan tersebut tidak lagi termasuk dalam cagar budaya. “Alasannya karena bentuk fisiknya sudah tidak utuh dan sulit diselamatkan.” Katanya. (Budi Sam Law Malau).

Pecinan di Yogyakarta


Source:
Kompas
Seri Konservasitaken from:

 


PECINAN DI YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta sebagai salah satu Ibukota Propinsi (bahkan Daerah Istimewa) memiliki juga kawasan pecinan. Kawasan pecinan terbesar tentunya jalan Ahmad Yani, disamping itu antara lain jalan Beskalan, Jalan Urip Sumoharjo dan daerah Malioboro.Sebagaimana umumnya pecinan di tanah Jawa, komoditi yang menjadi mata perdagangan berbeda dengan pecinan di negeri asing. Di pecinan Yogyakarta ini banyak toko milik keturunan China yang menjual tembakau, rempah, kain batik

Kawasan Malioboro, pedagang kaki limanya didominasi pedagang kuliner tradisional Yogyakarta, namun di dalam pertokoannya sendirio, masih banyak warga keturunan China yang berniaga di situ. Kampung bernama Kampung Pecinan (kini Jalan Pecinan diganti dengan nama Jalan Ahmad Yani) itu adalah tempat dimulainya kesuksesan pedagang Cina di Yogyakarta. Mengelilinginya, anda akan menjumpai beberapa toko dan kios bersejarah yang berusia puluhan tahun.

Perjalanan melancong umumnya dimulai dari bagian samping kampung itu, tepatnya di jalan sebelah Toko Batik Terang Bulan. Sampai di gang pertama, anda bisa berbelok ke kiri untuk menemukan tempat pengobatan Cina yang cukup legendaris. Di tempat itulah dulu seorang tabib ampuh mengobati penyakit patah tulang, hanya bermodalkan bubuk campuran tanaman obat yang ditempelkan pada permukaan kulit bagian tubuh yang tulangnya patah.

Berjalan keluar dari gang itu dan menuju arah timur, anda bisa menemukan berbagai kios-kios barang dan jasa dengan dinding umumnya berwarna putih. Salah satunya adalah kios tekniker gigi tradisional Cina yang melayani pemutihan gigi, penambahan aksesoris gigi untuk mempercantiknya hingga bermacam perawatan untuk menjadikannya semakin menawan. Kios jasa perawatan gigi itu biasanya memiliki tembok berwarna krem dengan jendela depan bergambar gigi.

Selain kios jasa perawatan gigi, anda pun bisa menemukan kios-kios yang menjual masakan cina seperti bakmi, cap cay, kwe tiau dan sebagainya. Kios-kios lain hingga kini bertahan dengan barang dagangan bahan-bahan kue, bakal pakaian, aksesoris dan sembako.

Dari toko Terang Bulan, bila anda berjalan ke barat, tepatnya menyusuri Jalan Pajeksan, anda juga akan menemui kios-kios serupa. Namun yang khas, di ujung jalan itu anda akan menemui rumah yang digunakan sebagai tempat berkumpul anggota Perhimpunan Fu Ching. Perhimpunan itu beranggotakan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal atau berdagang di wilayah itu. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada hari raya Imlek, anggota perhimpunan itu menggelar acara kesenian tradisional Cina.

Usai menyusuri kawasan tersebut, anda bisa menuju ke arah selatan dari toko batik Terang Bulan. Adalah sebuah toko roti yang sejak hampir seratus tahun lalu, toko bernama lengkap ‘Peroesahaan Roti dan Koewe Djoen’ itu telah menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Ketuaan usianya bisa dilihat jika anda berdiri di seberang jalannya, ditandai dengan nama toko yang tertulis di temboknya, sebuah ciri toko-toko di kawasan itu pada masa lalu. Kini, produknya telah menyesuaikan dengan selera pasar dengan mempertahankan beberapa yang khas, misalnya kue bantal, yaitu roti tawar bertabur wijen yang berbentuk pipih oval.


Source:

Sampai di kawasan Lor Pasar, masih banyak kios-kios tradisional yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari elektronik, peralatan menjahit dan aksesoris pakaian, peralatan memasak hingga perhiasan emas. Kawasan ini sejak lama telah dikenal masyarakat Jogja sebagai salah satu tempat mendapatkan kebutuhan dengan harga murah. Selain menjual barang-barang baru, beberapa kios juga menjual barang bekas.

Di kawasan Pecinan yang terletak di seberang Pasar Beringharjo, terdapat sebuah toko obat yang sudah cukup lama berdiri, yaitu ‘Toko Obat Bah Gemuk’. Di toko obat itulah dijual berbagai macam obat tradisional Cina yang dikenal manjur.Aroma herbal kering khas China sangat menyengat, memberikan sentuhan oriental yang sangat eksotis

Meski kini citra kawasan Pecinan ini sedikit memudar, namun adanya beberapa kios yang hingga kini masih bertahan menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi.

Ruang makan bernuansa Shanghai 1920


Seri Arsitektur taken from: Kompas

Ruang Makan Bernuansa Shanghai

KOMPAS.com

Desainer interior Agam Riadi, lewat pergelaran pembuka “Celebrating The Year of Rabbit with Touch of Interior Design by 12 Indonesian Designers” di rumah galeri Elite Grahacipta, merancang ruang makan bernuansa Shanghai pada era 1920-an. Nuansa glamor dipadu dengan warna yang menyimbolkan keceriaan menjadikan ruang makan ala Shanghai hadir di depan mata.

Menurut Agam Riadi, rancangannya kali ini terinspiransi kalangan elite di China pada era 1920-an, khususnya di kota Shanghai yang sudah mengenal kehidupan nan glamor. Pengaruh gaya hidup glamor di Shanghai menular ke kota-kota lain di Asia, bahkan sampai Eropa./p>

Salah satu yang cukup dikenal sampai hari ini adalah busana chong siam atau Shanghai dress. Dalam rancangan ruang makan ini, Agam memakai lukisan yang menggambarkan gadis-gadis Shanghai yang glamor, elegan, dan ceria./p>

Untuk kesan elegan, Agam menata ruang makan dengan kursi dan meja makan berwarna coklat. Penambah warna merah muda di dinding dan warna hijau muda di tanaman menumbuhkan kesan ceria di ruang makan sembari merayakan Tahun Kelinci Emas. (Teks: Natalia Ririh)/p>

Ditemukan candi di situs Kayen,Pati


.
Foto:
Seri Histo-Heritagetaken from: www.arkeologijawa.com

DITEMUKAN

Berawal dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (Balar Yogyakarta) pada 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah; tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS., Agni Sesaria Mochtar, SS., dan Ferry Bagus berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB). Di antaranya struktur bata yang masih intact, arca, serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balar Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut keberadaan Situs Kayen. Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 111 derajat 00’ 17,0” BT 06 derajat 54’ 31.8” LS berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron yang berhulu di Pegunungan Kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.

Sebenarnya temuan di Situs Kayen ini sudah dijumpai pada bulan Agustus 2010, ketika penduduk setempat berniat membangun mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono. Ketika itu penduduk menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar. Pembangunan mushola ini diperuntukkan tempat ibadah bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono. Oleh penduduk setempat, beberapa bata kuna tersebut dimanfaatkan untuk membangun Makam Ki Gede Miyono. Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Disbudpora Kabupaten Pati berkoordinasi dengan BP3 Jawa Tengah melakukan identifikasi terhadap temuan tersebut.

Identifikasi temuan BCB oleh Balar Yogyakarta tidak jauh berbeda hasilnya dengan BP3 Jawa Tengah yaitu :

Monumen (bangunan)
Struktur berbahan bahan bata yang masih intact dan terpendam dalam tanah, beberapa temuan bata-bata kuna berukuran tebal 8 – 10 cm, lebar 23 – 24 cm, dan panjang 39 cm, serta komponen bagian dari candi seperti antefiks dan kemuncak di sekitar situs diduga merupakan bangunan candi.

Artefaktual
1. Berbahan bata
· Wadah peripih
· Antefiks
· Kemuncak candi
· Bata candi berpelipit · Bata bertulis 2. Berbahan batu putih
· Arca Mahakala
· Umpak
· Kemuncak candi

3. Berbahan logam
· Darpana (cermin berbentuk bundar atau lonjong dengan tangkai yang dipahat dengan bagus)
· Piring
· Lampu gantung
4. Berbahan keramik
· Mangkuk · Buli-buli
· Piring
· Cepuk bertutup

Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balar Yogyakarta di Situs Kayen, diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB tersebut mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa. Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan. Rekomendasi akhir dari kegiatan peninjauan tim Balar Yogyakarta dipandang perlu untuk melakukan kegiatan research excavation di Situs Kayen. Tujuan dan sasaran kegiatan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui luas bangunan candi, kronologinya, serta karakter Situs Kayen. Kegiatan penelitian ini perlu dukungan berbagai pihak, antara lain BP3 Jawa Tengah, Disbudpora Kabupaten Pati, media publikasi, serta warga sekitar situs. (Rita & Hery) Foto beberapa temuan

City Walk Sebagai Alternatif Penataan Kota Tua


City Walk Sebagai Alternatif Penataan Kota Tua

Jakarta Barat Rabu, 08 September 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih city walk sebagai konsep alternatif penataan kota tua yang terletak di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

“Saat ini konsepnya masih digodok di Bappeda Provinsi,” ujar Kepala Sub Bagian Tata Ruang dan Pengembangan Kota Administrasi Sarana Perkotaan Jakarta Barat, Bambang Djoko Susilo, di Jakarta Rabu (8/9).

Menurut Bambang, konsep city walk ini sangat cocok untuk penataan kota tua yang masih memiliki gedung-gedung bernilai historis. “Karena kota tua memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah pariwisata, sehingga konservasi gedung tua dinilai perlu dilakukan,” ujarnya.

Menurut Bambang, masalah yang ditemui saat ini ialah bagaimana melakukan penataan gebung-gedung tua tersebut, yang notabenenya milik masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah berencana untuk membentuk forum bebas yang menangani penataan gedung-gedung tersebut.

“Anggotanya terdiri dari pakar tata kota, misalnya Ikatan Arsitektur Indonesia, mahasiswa, dan terutama masyarakat sekitar sendiri. Sebelum pembentukan forum ini, langkah awal yang harus dilakukan ialah menangani kemacetan lalu lintas yang tiap hari terjadi.

Bambang menjelaskan, busway adalah langkah awal yang baik, yang akan dikembangkan untuk transportasi ke kota tua. Sampai saat ini busway baru sampai Stasiun Kota.

“Nantinya, jalur busway akan dibuat mengelilingi kota tua. Sehingga di tengah kota tidak ada kendaraan bermotor, yang ada hanya ojek sepeda sebagai transportasi utama di dalam kota tua,” katanya.

Dipilihnya ojek sepeda sebagai transportasi utama juga untuk tetap melestarikan mata pencaharian warga sekitar kota tua, yang memang dari dulu telah ada.

Penataan kota tua ini kemungkinan juga akan diikuti oleh pemugaran gedung-gedung tua. Bambang menjelaskan, tipe pemugaran ada dua, yaitu pemugaran yang dilakukan dengan tidak mengubah ciri-ciri aslinya dan pemugaran yang tidak boleh dilakukan sama sekali, contohnya museum.

Ami Afriatni – Tempo News Room

Gerber, arsitek era kolonial

GERBERE
ARSITEK ERA KOLONIAL


. Gerber adalah tokoh arsitek belanda karyanya seringkali diasosiasikan denganmaclaine.

Latar Belakang Budaya

Arsitektur Bangunan Gedong Sate Mr D. Ruhl mengatakan dalam dalam buku “Bandoeng en hoar Hoogvlakte” (1952) bahwa, Gedong Sate adalah “Het mooiste gebouw van Indonesie” (Bangunan terindah di Indonesia). Bahkan master arsitek Belanda, Dr. H. P. Berlage menyebut rancangan kompleks Gouvemementsbedryven (G.B) alias Gedong Sate sekarang, sebagai suatu karya arsitektur yang besar. “Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa renaissance, terutama bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan, mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan (sintesa) langgam Timur dan Barat secara harmonis”, komentar Berlage, sewaktu is meninjau Gedong Sate di bulan April 1923. “Bangunan Gedong Sate tergolong karya arsitektur yang utuh dan khas”, kata arsitek Slamet Wirasonjaya. Gaya arsitektur bangunan ini bukan eklitis (gaya campuran), seperti bangunan Capitol Hill di Washington, kata Pak Slamet pula.

Pokoknya, Gedong Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona, serta memiliki gaya arsitektur yang unik, ungkap Cor Passchier dan Jan Wittenberg, dua orang arsitek Belanda yang lagi tekun menginventarisir bangunan kolonial di Kota Bandung. Menurut mereka, langgam arsitektur Gedong Sate, merupakan gaya eksperimen dari Sang Arsitek yang mengarah kepada bentuk Indo-Europeeschen architectuur stet (“Gaya Arsitektur Indo Eropa”). Masih menurut Slamet Wirasonjaya, agaknya bangunan pertama di Kota Bandung yang menggunakan beton bertulang, adalah gedung Javasche Bank (“B.I”) di Jl. Braga. Jadi bukan bangunan Gedong Sate yang peletakan batu pertamanya jatuh pada tanggal 27 Juli 1920. Sebagaimana diketahui, Ir. Maclaine Pont yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, tercatat bersama Ir. Thomas Karsten, sebagai pelopor aliran gaya arsitektur Indo Eropa yang unik itu. Dan Ir. J. Gerber adalah arsitek yang termasuk dalam kubu Maclaine Pont. Karya arsitektur J. Gerber di Surabaya, dalam bentuk bangunan sekolah HBS (kini SMAN I Jl. Wijayakusuma), memperlihatkan persamaan dengan gaya bangunan Gedong Sate. Hal ini membuktikan bahwa ide rancangan Gedong Sate, secara dominan merupakan kreasi J. Gerber. Adapun kemiripan bentuk pagoda Siam pada lempeng batu di atas pintu masuk Gedong Sate, semata-mata cuma hiasan yang distylisasi dari bentuk gerbang Candi Hindu di Jawa, dengan alas pancaran sinar mentari yang lagi jadi mode di zaman itu. Jadi tak ada hubungan dengan bentuk pagoda di negeri Siam.

Aurora Tambunan

Aurora Aurora Tambunan

Antara Keindahan dan Profesionalitas

Tokoh arsitek yang berpengaruh dalam perencanaan kota Jakarta ini dilahirkan di Jakarta,  sebagai anak sulung dari dua bersaudara pasangan BKJ Tambunan dan VAB Mangunsong. Masa kecil dan remaja dialami di berbagai kota dan negara.  karena tugas pendidikan ayahnya kerap berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lainnya, bahkan hingga ke Negeri Paman Sam, New York. Briliant, penampilan menarik, integritas tinggi, lugas, tegas, humanis dan elegan adalah rentetan kata yang menjadi pijakannya dalam berpikir dan bertindak.

Menamatkan pendidikan dasar di Bandung pada 1964. Saat kelas satu dan dua, wanita yang dari kecil manja sama ayahnya ini sempat mencicipi pendidikan dasar di Ithaca, New York, Amerika Serikat. Ir. Aurora F.R. Tambunan, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta.

Tidak berapa lama, keluarganya kembali boyong (pulang-red) ke Bandung. Masa pendidikan dasarnya kemudian diteruskan di kota kembang itu. Mula-mula ia agak keteteran mengikuti pelajaran yang semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Sementara, ia terbiasa mendalami pelajaran-pelajaran dengan percakapan bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Indonesianya waktu itu berantakan sehingga minder  jika berhadapan dengan guru dan teman-temannya.

Kemahiran berbahasa Inggris didapatnya dari kebiasaan keluarganya yang menerapkan kewajiban menggunakan bahasa Internasional itu dalam percakapan sehari-hari. Terang saja, sepulangnya dari Amrik itu, wanita yang juga gemar lagu-lagu Padi dan Jamrud ini sampai lupa berbahasa Indonesia. Lidahnya terasa susah, keseleo jika mau bercakap memakai bahasa Indonesia. Kendati orang tuanya terus menyarankan agar dirinya menggunakan bahasa Inggris, lambat laun ia pun mulai menanggalkan kebiasaan baik itu.

Tapi ia bukan malah lantas melupakan kebiasaan berbahasa Inggris itu semuanya. Kemahirannya terus diasah dengan terus belajar kembali berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak sia-sia, semuanya bisa dilalui dengan baik, bahkan prestasinya di sekolah pelan-pelan kian meningkat, lalu kerap menyabet juara kelas. Nilai bahasa Inggrisnya pun tidak tanggung-tanggung. Jika tidak sembilan, pasti sepuluh. Prestasi ini terus dipertahankannya hingga lulus SMP tahun 1967 dan SMA pada 1970 di kota Bandung. Kebisaan berbahasa Inggris yang diperoleh sedari kecil itu dijadikannya sebagai pengalaman yang sangat berharga dan mengesankan hingga sekarang. Penikmat berat cokelat ini baru merasakan kemanfaatan yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan sekarang yang serba kompetitif ini.

Tak sampai di situ, wanita yang gemar bersalsa ria ini kemudian melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus yang dikenal sebagai pusat sains itu, ia memilih Fakultas Ilmu Planologi. Selain cerdas, dia terbilang mahasiswa yang aktif berorganisasi. Di sana, wanita dengan ciri khas selalu tersenyum ini aktif dalam Dewan Mahasiswa (Dema). Ia termasuk sosok wanita yang pandai bergaul, banyak mahasiswa menjadi temannya. Kendati aktif di dunia organisasi kemahasiswaan, studinya tidak pernah dilupakan, terus berjalan mulus. Buku-buku pengetahuan selalu menjadi santapan sehari-harinya. “Ya maklum, anak-anak ITB itu kan terkenal dengan kacamata tebel dan kutu bukunya,” kata wanita yang suka warna dasar hitam-putih ini.

Namun, keidentikan itu tidak menjadikan dirinya lupa sebagai sosok wanita normal. Dia tidak pernah menomorsatukan penampilan namun tidak menomorduakannya. Menarik. Satu kata ini yang dijadikan sebagai pijakan untuk selalu memberi kesan mendalam atas penampilan dirinya. Menurut wanita yang senang lukisan ini, anak ITB tidak hanya harus pinter, tapi juga harus menarik. “Saya sangat suka memberi kesan dari penampilan yang rapi. Tapi tidak harus berhenti sampai di situ. Juga harus dibarengi dengan cantik di dalam (inner beauty). Hati yang baik,” pesannya.

Berkat kecerdasan dan keteladanannya berpenampilan menarik, Aurora banyak dikagumi teman-teman sekampusnya. Dia selalu berpesan, kepinteran tanpa dibarengi dengan penampilan yang menarik tidak akan banyak memperoleh simpati dari orang lain. Kesan pertama itu yang terus ditanamkan kepada teman-temannya.

Tahun 1973, di kota Bandung diadakan pemilihan kontes Miss University (Ratu Kampus) se-Jawa Barat. Acara yang diselenggarakan  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat dimaksudkan dalam rangka menjaring para ratu kampus untuk dijadikan sebagai Miss Jawa Barat. Masing-masing kampus mengutus jago-jagonya. Dengan proses persaingan dalam seleksi dan final yang ketat dan kompetitif, satu demi satu para calon ratu kampus berguguran hingga tinggal tiga mahasiswi yang masuk kualifikasi juara. Dari dua yang menjadi juara, Aurora menjadi yang nomor satu. Namun, karena ia tidak mau ribet dengan tugas sebagai Miss University Jawa Barat, gelar itu lantas diserahkannya setulus hati kepada juara ketiga. Ia malah memilih tetap enjoy dengan aktivitasnya sebagai mahasiswi di kampus hingga akhirnya lulus pada tahun 1976 dengan predikat cum laude berkat bimbingan TB M Rais (mantan Kepala Dinas Tata Kota dan Wagub DKI).

Arsitek Fauzi Bowo

Fauzi Bowo Dr.Ing.Fauzi Bowo


Fauzi Bowo lahir dengan nama Muhammad Fauzi Bin Johari Bin Bowo, di Kebun Kelapa (Batu Tulis), Jakarta Pusat pada tanggal 10 April 1948. Fauzi berasal dari keluarga Betawi yang taat beragama. Kakeknya adalah pendiri N.UFauzi Bowo Fauzi Bowo lahir dengan nama Muhammad Fauzi Bin Johari Bin Bowo, di Kebun Kelapa (Batu Tulis), Jakarta Pusat pada tanggal 10 April 1948.
Fauzi berasal dari keluarga Betawi yang taat beragama. Kakeknya adalah pendiri N.U

Pria berdarah Jawa-Betawi putra dari pasangan Djohari Adiputro Bowo asal Yogyakarta dan Nuraini binti Abdul Manaf asal Jakartaini menamatkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SD St. Bellarminus. Kemudian ia melanjutkan jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas di Kolese Kanisius Jakarta. Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia mengambil studi Arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universität Braunschweig Jerman dan tamat 1976 sebagai Diplom-Ingenieur. Program Doktor-Ingenieur dari Technische Universität Kaiserslautern bidang perencanaan diselesaikannya pada tahun 2000.

Fauzi Bowo memulai kariernya dengan mengajar di Fakultas Teknik UI. Ia bekerja sebagai pegawai negeri sejak tahun 1977. Beberapa posisi yang pernah dijabatnya antara lain adalah sebagai Kepala Biro Protokol dan Hubungan Internasional dan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta sampai menjadi Wakil Gubernur (era kepemimpinan Sutiyoso) dan Gubernur DKI Jakarta ke 15, hingga kemudian menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman.

Sebagai birokrat, Fauzi telah menempuh Sepadya (1987), Sespanas (1989), dan Lemhannas KSA VIII (2000). Ia adalah wakil gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso.

Fauzi Bowo menikah dengan Hj. Sri Hartati pada tanggal 10 April 1974. Hj. Sri Hartati adalah putri dari Sudjono Humardani, kelahiran Semarang, 29 Agustus 1953. Dari pernikahan ini, pasangan Fauzi Bowo dan Sri Hartati dikaruniai 3 orang anak: Humar Ambiya (20 Juli 1976), Esti Amanda (5 April 1979) dan Dyah Namira (1 Februari 1983).

Teknokrat sekaligus Birokrat Ia meraih gelar Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman, 2000, ini seorang pekerja keras dan berdisiplin. Sebelumnya, beliau masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1966-1967, sebelum kemudian melanjutkannya di Technische Universitat Brunschweig, Jerman. Dari universitas ini dia meraih gelar Sarjana Arsitektur, bidang Perencanaan Kota dan Wilayah.

Beberapa tahun kemudian, dia melanjutkan pendidikan arsitekturnya pada Universitat Kaiserlautern, Jerman, dan memperoleh gelar Doktor Ingenieur (Ing) dengan predikat Cum Laude, saat itu ia menengajukan disertasinya mengenai pola tata ruang kota Jakarta.

Fauzi merintis karies sebagai Kepala Biro II Pemda DKI yang membawanya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menikah dengan Hj. Sri Hartati dan dikaruniai tiga orang anak, kemudian mendalami pendidikan pemerintahan dan kepemimpinan dengan mengikuti Sespanas (1989) dan Lemhanas (2000).
Fauzi Bowo lebih akrab dipanggil Foke adalah contoh birokrat sekaligus teknokrat yang profesional namun merakyat. Beliau telah mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI periode 2007 oleh beberapa partai, LSM dan Badan Musyawarah (Bamus) Betawi .Sebelumnya dia berpasangan dengan Sutiyoso, dan terpilih sebagai Wakil Gubernur pada periode sebelumnya. Diperkirakan, Fauzi Bowo akan menggantikan Sutiyoso melalui Pilkada langsung 2007.Demikian pula kiprahnya di organisasi olahraga, ia sempat mengikuti “pusdik”sepakbola di MBFA, Lapangan Banteng ketika masih muda, sedangkan ketika menjadi pejabat, ia sempat menjadi ketua umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan Ketua KONI DKI Jakarta.
.