Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Kliping Berita Arsi

“Cubic House” alternatif di pusat kota

Cubic House, Alternatif di Pusat Kota
Cubic House

Jumat, 10 April 2009 | 21:58 WIB
KOMPAS.com – Terbatasnya lahan di lingkungan perkotaan, khususnya kota-kota besar, sering kali tidak berimbang dengan tingkat kebutuhan hunian sangat tinggi.

Tingginya harga tanah pun turut menjadi faktor penyebab masyarakat kota besar seolah hanya memiliki dua pilihan: tinggal di pinggir kota atau menempati hunian vertikal di pusat kota.

Tinggal di pinggir kota akan menjauhkan masyarakat dari lingkungan kerja yang berpengaruh pada semakin panjangnya waktu tempuh dan membesarnya pengeluaran untuk biaya transportasi. Belum lagi permasalahan lain, seperti tingginya tingkat kemacetan, polusi udara yang kerap melebihi ambang batas, jalan berlubang, hingga hadangan banjir.

Tinggal di hunian vertikal sebagaimana sedang dikembangkan di berbagai kota di Indonesia dalam wujud rumah susun juga memunculkan berbagai permasalahan baru. Pola hidup yang berbeda, jalinan kekerabatan sosial yang kerap menuju individualis, hingga terbatasnya akses memenuhi kebutuhan dan kegiatan sehari-hari bagi yang tinggal di lantai tiga ke atas.

Perubahan pola hunian horizontal menuju vertikal, bagi masyarakat Indonesia tentu saja tidak mudah. Kebutuhan akan ruang sosial serta interaksi sosial terhadap sesamanya secara horizontal tidak dapat secara radikal diambil dari mereka untuk disusun secara vertikal.

Adalah Cubic House, kawasan hunian horizontal sekaligus vertikal yang berada di pusat kota Rotterdam, Belanda, seakan menjawab permasalahan yang sama dengan solusi cukup ekstrem. Dapat dikatakan ekstrem karena permukiman ini berada di atas jalan raya, tetapi terangkai satu sama lain sehingga membentuk karakter tersendiri bagi kota. Bentuknya yang unik dengan warna dominan seakan mencoba melawan kekakuan kota, sekaligus memenuhi fungsinya sebagai kompleks hunian.

Hutan kota
Bangunan-bangunan berbentuk kubus ini hakikatnya hadir menjawab berbagai kebutuhan Rotterdam. Selain sebagai kompleks permukiman, Cubic House juga mengakomodasi kebutuhan jalur bagi pejalan kaki dengan menghubungkan kompleks ini pada beberapa simpul kawasan. Bagi pejalan kaki, kompleks permukiman ini tidak hanya menyediakan jalur semata, melainkan juga berperan sebagai pelindung dari sengatan cahaya matahari dan kucuran air hujan.

Peran ini dimainkan dengan sangat baik sejalan dengan konsep awal Cubic House yang merupakan metamorfosis hutan. Oleh sang arsitek, Piet Blom, secara konseptual tiap-tiap bangunan kubus dihadirkan sebagai sebuah ”pohon” abstrak. Pilar-pilar bangunan berperan sebagai batang pohon kokoh berbentuk segi enam yang menopang masing-masing kubus sekaligus berfungsi sebagai gudang dan sirkulasi vertikal berupa tangga menuju bangunan. Adapun bangunan utama (rumah), kubus, diibaratkan sebagai bagian teratas pohon yang berfungsi sebagai elemen peneduh yang terdiri dari batang, ranting, dan daun.

Dengan tiap bangunan berperan sebagai satu pohon, maka keseluruhan bangunan kubus pada kompleks permukiman ini hadir membentuk ”hutan” di tengah-tengah kota. Secara visual tentu saja kehadirannya sangat berbeda dengan hutan dalam arti sebenarnya, tetapi kompleks ini mencoba memainkan peran hutan dalam memberi keteduhan, melindungi dari terik matahari dan hujan, serta memberi kehidupan di dalamnya.

Interior rumah
Tiap-tiap kubus dirancang dapat memaksimalkan keterbatasan ruang dalam mengakomodasi kebutuhan fungsional, layaknya rumah umumnya. Untuk itu, tiap bangunan dibagi atas tiga lantai dengan bagian terbawah sebagai ruang tamu maupun ruang keluarga, bagian tengah atau lantai dua diisi ruang tidur, satu kamar mandi dan dapur, dan bagian teratas sebagai ruang tidur tambahan.

Walaupun terbagi atas tiga lantai, tiap kubus merupakan satu kesatuan rumah sehingga secara keseluruhan kompleks ini merupakan hunian horizontal. Jalur pedestrian yang melalui kompleks Cubic House semakin menghadirkan suasana layaknya permukiman horizontal. Interaksi sosial tetap tercipta, seolah keberadaannya yang melintas di atas jalan raya tidak berpengaruh sama sekali.

Dalam menyikapi keterbatasan ruang, akses dengan lingkungan luar dioptimalkan, baik sebagai akses visual dengan menghadirkan banyak bukaan transparan, maupun sebagai akses bagi tersedianya udara segar dan hangatnya cahaya matahari.

Ruang yang terbatas justru membentuk penghuninya dapat hidup efektif dan efisien, baik dalam menata ruang dalam, memilih (atau bahkan mendesain sendiri) perabotan yang sesuai, maupun menyusun skala perioritas dalam menentukan barang yang harus dimiliki.

Dalam konteks pola hidup, masyarakat yang menghuni kompleks permukiman seperti Cubic House tentu harus memiliki kesadaran hidup bermasyarakat yang tinggi dan kesadaran menjaga kebersihan dan keindahan kompleks permukiman. Cubic House, selain mampu menjawab kebutuhan kota, juga mampu berperan sebagai penanda kawasan dan menjadi obyek wisata.

Penulis : Parmonangan Manurung, Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Pura Gunung Kawi, Berdiri di Antara Situs Purbakala

Pura Gunung Kawi Bali Pura Gunung Kawi, Berdiri di Antara Situs Purbakala Sumber: www.kompas.com

Senin, 7 September 2009KOMPAS.com — Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja ash Bali kuno, termasuk candi yang dipahat langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.
Ketika ke Bali, apa yang Anda lakukan selama berlibur di sana? Menghabiskan waktu bermain di pantai, membeli lukisan dan barang seni di daerah Ubud, atau mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Dari sekian agenda yang ada, seberapa tertarikkah Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Sepuluh orang yang ditanya mengenai hal ini menjawab bahwa kadar ketertarikan terhadap tempat seperti ini cukup tinggi.
Bentuk bangunan arsitektur Bali tidak hanya terbatas pada bangunan komersial atau hunian. Pura sebagai bangunan peribadahan merupakan bentuk bangunan yang bisa menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Bali.
Keberadaan pura di Bali memang jamak. Meskipun wisatawan tak bisa masuk ke dalam pura, memandang keelokan bentuk pura dari luar sudah cukup memikat wisatawan. Dari sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura yang patut Anda kunjungi. Banyak alasan mengapa pura yang lokasinya berada di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, harus Anda datangi.
Setidaknya ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini. Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua karena letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding.
Menuruni sekitar 320 anak tangga
Memasuki kawasan Pura Gunung Kawi harus menyiapkan tenaga ekstra. Pura ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh dari parkiran mobil. Dari pintu gerbang, tempat pengunjung harus membeli karcis masuk seharga Rp 6.000, kita harus menuruni sekitar 320 anak tangga. Ini tak lain karena letak pura terdapat di dasar lembah.
Perjalanan menuruni sekitar 320 anak tangga ini tak terasa melelahkan karena di sekeliling tangga Anda bisa melihat hamparan hijaunya sawah yang bentuk lahannya bertingkat. Selain itu, jika lelah, Anda bisa beristirahat di warung-warung yang ada di sebelah anak tangga.
Sesampainya di dasar lembah, Anda akan memasuki lorong panjang yang konon dibuat dengan cara membelah batu besar. Lorong ini adalah pintu masuk menuju kawasan Pura Gunung Kawi.
Kawasan yang ditemukan sekitar awal tahun 1910 ini terpisah menjadi dua bagian oleh Sungai/Tukad Pakerisan, bagian di sebelah barat dan bagian di sebelah timur Sungai Pakerisan. Di kedua bagian ini, Anda bisa melihat candi yang melekat langsung di dinding tebing. Candi yang dipahat langsung di dinding tebing inilah yang menjadi daya tarik mengapa Anda harus datang ke tempat ini.
Empat gugusan
Pahatan candi yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi, baik yang berada di sisi barat, maupun timur Sungai Pakerisan. Menurut beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan, maka pura yang ada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi.
Secara keseluruhan, pahatan candi di dinding tebing yang ada di kawasan Pura Gunung Kawi ini terbagi menjadi empat gugusan. Gugusan pertama terdiri dari 5 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi timur sungai.

Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara terdapat tulisan “Haji Lumah Ing Jalu”. Dari tulisan ini, ada yang menyebutkan bahwa candi di sisi paling utara ini digunakan untuk istana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sementara itu, candi di sebelahnya adalah istana untuk permaisurinya dan anak-anak Raja Udayana, Marakata dan Anak Wungsu.
Gugusan kedua terdiri dari empat candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi barat sungai. Dr R Goris, arkeolog dari Belanda, dalam beberapa literaturya menyebutkan bahwa keempat deretan candi ini berfungsi sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.
Gugusan ketiga adalah bangunan biara dan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan pertama. Adapun gugusan keempat merupakan sebuah candi dan ceruk yang digunakan sebagai tempat pertapaan. Letaknya berada sekitar 220 meter dari gugusan kedua.
Lantas, di mana letak puranya? Pura ini sendiri letaknya berada di samping gugusan candi pertama. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti pelinggih dan bale perantenan.
Pura Gunung Kawi biasa digunakan pada saat upacara Piodalan. Upacara yang dilakukan setiap bulan purnama tiba ini adalah upacara pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.
Diukir dengan kuku jari
Jika ditilik ke masa lalu, keberadaan pura ini tidak terlepas dari gugusan-gugusan pahatan yang ada. Tulisan-tulisan yang ada di setiap pahatan yang berfungsi sebagai data arkeologi menunjukkan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.
Hal ini terlihat dari tulisan “Haji Lumah Ing Jalu”. Bentuk tulisan ini adalah bentuk tulisan kadiri kuadrat yang lazim digunakan di kerajaan yang ada di Jawa Timur pada abad ke-11.
Pada masa itu, pemerintahan yang sedang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja. Oleh karena itu, banyak pihak yang mengatakan bahwa kompleks Aura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu.
Salah satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, di sini juga terdapat makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali.

Makam abu kedua raja ini berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila kompleks pura ini disebut sebagai makam Dinasti Warmadewa.
Beberapa sumber literatur dan warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Ia membuat pahatan candi di tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.
Keelokan pahatan dinding dan pura yang ada di sini menawan dilihat dan harus dijaga keberadaannya. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali menetapkan bahwa kawasan ini adalah aset purbakala yang harus selalu dilestarikan. (Tabloid Rumah/Al Anindito Pratomo)

Gedung Mal Paling Unik di Indonesia, Mungkin Ada di Bali

Gedung Mal Paling Unik di Indonesia, Mungkin Ada di Bali

dikutip dari detikTravel – Kamis, 18/02/2016
Kuta – Selain jejeran pantai yang aduhai, Bali memiliki mal yang oke punya. Di kawasan Kuta ada sebuah mal yang artistik bernuansa Pulau Dewata yang unik.

Kuta Beachwalk Shopping Center ada di Jl Pantai Kuta, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Mal yang beroperasi sejak tahun 2012 ini berdiri di antara Harris Resort Kuta Beach dan Sheraton Bali Kuta Resort, dengan luas 3,7 hektar dan memanjang hingga 250 meter di sekitar Pantai Kuta.

Bangunannya tampak begitu keren serta berbeda dari mal kebanyakan. Ditengok detikTravel dari situs resminya, Kamis (18/2/2016) Beachwalk dibuat dengan konsep bangunan terbuka dan arsitekturnya terinspirasi dari terasering sawah seperti yang banyak ditemukan di Bali.

Bangunan keren ini pun didesain ramah lingkungan. Bagian atapnya ada yang dibuat dari alang-alang. Kayu daur ulang dipakai pula sebagai material mal.

(beachwalkbali.com)

Suasana mal tampak asri dengan tanaman gantung yang dipasang mengelilingi gedung. Jalanan terbuka di mal juga sudah terasa sejuk dengan angin segar dari pantai. Sehingga mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Di area terbuka lantai 2, terdapat sebuah taman di mana pengunjung bisa duduk-duduk santai sambil menikmati panorama sunset di Pantai Kuta yang mendunia. Kalau ingin melihat pemandangan sekitar sambil menikmati kuliner, bisa juga datang ke kafe dan restoran yang dilengkapi dengan teras menghadap ke pantai.

Selain menikmati pemandangan, tentunya traveler bisa puas berbelanja di Beachwalk. Berbagai brand lokal hingga internasional ada di sini, seperti Hugo Boss, ZARA, Victoria’s Secret dan LEGO. Museum Kain oleh BIN House dengan lebih dari 600 kain antik dari seluruh Indonesia, serta butik berisi karya para desainer terkenal Bali pun ada di mal.

(vink21/Twitter)

Kalau mau nonton film, tersedia bioskop dengan premiere studio yang punya kursi kelas bisnis. Buat traveler yang membawa anak, tetap bisa puas main di mal karena ada area khusus untuk anak dan keluarga di lantai 3. Lengkap dengan arena bermain dan fasilitas penitipan anak.

Agar liburan di Bali makin lengkap, Beachwalk menampilkan pertunjukan seperti Tari Bali dan Kecak yang dapat disaksikan tanpa harus bayar. Ada pula kegiatan kultural melukis batik, sketsa wajah dan masih banyak lagi yang bisa dicoba di Beachwalk. Asyik!

Beachwalk buka setiap hari pukul 10.30 hingga 22.30 WITA. Tapi pada hari Jumat dan Sabtu jam operasionalnya lebih lama yaitu sejak pukul 10.00 WITA sampai tengah malam. (krn/fay)

Sejarah Arsitektur Indonesia

Seri Arsitekturtaken from: Kompas 16-3-2011

Dunia arsitektur di Indonesia penuh dengan dinamika perubahan namun tetap memuat aspek tradisi vernakuler dimana gaya /langgam yang telah diterapkan dalam secara tradisional yang turun-temurun beberapa generasi ,turut mempengaruhi kahsanah arsitekturIndonesia. Tradisi itu dengan bijak mampu memanfaatkan potensi alam sekitarnya, sekaligus tunduk pada keterbatasannya. Konteks lingkungan menjadi pedoman utama yang dianut sebagian besar arsitekprofesional.

Memasuki era modern (mulai awal abad XIX), kebutuhan baru bermunculan sejalan dengan perubahan jaman. Pabrik, stasiun kereta api, pelabuhan laut, kantor perdagangan, gedung pertunjukan, untuk menyebutkan beberapa contoh saja, menuntut cara membangun yang berbeda. Hingga akhir abad XIX pembangunan di Hindia Belanda sangat didominasi oleh kelompok zeni dari militer dan oleh para insinyur serta arsitek dari Departemen Pekerjaan Umum.

Di jaman kolonial Belanda, umumnya proses perencanaan maupun pelaksanaan dilakukan oleh satu biro aannemer (pemborong) yang dipilih oleh bouwheer (pemberi tugas). Praktek ini banyak terjadi terutama pada bangunan rumah tinggal, namun banyak pula terjadi pada bangunan publik. Bangunan didirikan menurut pola dan langgam yang tersedia di buku-buku desain dengan berbagai penyesuaian yang diperlukan menurut kebutuhan dan selera pemberi tugas, dan karakteristik tapak yang ada.

Ketika pembangunan di berbagai lapangan kehidupan meningkat tajam (terutama setelah UU Agraria 1870 berlaku). Sekolah teknik didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga trampil yang dapat mendukung pekerjaan pembangunan yang dilakukan oleh para insinyur untuk bangunan gedung, pekerjaan irigasi dan jalan raya. Tenaga trampil yang baik dapat naik pangkat dari opzichter (pengawas) menjadi arsitek.

Arsitek pertama Indonesia adalah Aboekasan Atmodirono (1860-1920). Ia lulus Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan (Middelbare Technische School) yang berhasil mencapai jenjangopzichter. Setelah naik pangkat, ia dikenal sebagai de eerste inlandse architect (arsitek pribumi pertama) dan bekerja di Departement van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum). Ia hadir di Kongres I Boedi Oetomo dan masuk dalam daftar calon ketua. Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat (volksraad) di tahun 1918, ia ditunjuk duduk di parlemen sebagai tokoh Boedi Oetomo yang juga mewakili Perhimpunan Pamong Praja Pribumi “Mangoenhardjo”.

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).

Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.

Di tahun 1920 Technische Hoogeschool di Bandung mulai beroperasi. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).

Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama. Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 1959.

IAI dibentuk sebagai reaksi terhadap praktek aannemer yang ditengarai menghambat kemajuan di bidang arsitektur. Arsitek sebagai profesi memerlukan posisi yang lebih mulia dan tidak terjebak pada kegiatan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan. Kegiatan aannemer (rancang-bangun) dianggap menodai integritas seorang arsitek dalam memberikan layanan keahliannya. IAI dibentuk untuk mendorong status seorang arsitek menjadi “arsitek murni” yang dapat memusatkan perhatiannya pada tahap perencanaan dan tidak tergoda pada sisi bisnis kegiatan membangun yang dilakukan pemborong (kontraktor). Pembentukan IAI mendapat persetujuan dari Presiden Sukarno, sekaligus bersedia menjadi pelindung asosiasi profesi arsitek satu-satunya di Indonesia.

Tidak lama kemudian sejumlah sarjana arsitek lulusan Belanda/Jerman pulang ke tanah air untuk mengabdikan keahliannya untuk nusa dan bangsa, antara lain: Sujudi, Soewondo, Bianpoen dan Han Awal. Dengan gelar Dipl.Ing, mereka bersama-sama lulusan dari ITB telah membuka jalan baru dunia arsitektur di Indonesia melalui karya-karya yang membanggakan.

Seiring dengan pembangunan berbagai fasilitas modern di Indonesia, berbagai sayembara dilangsungkan untuk mendapatkan karya terbaik. Arsitek sebagai seorang ahli bangunan gedung mendapat tempat khusus di dunia konstruksi. Namanya sebagai individu menjadi jaminan kompetensi dan tanggung jawabnya. Sebagian besar usaha di bidang arsitektur didirikan sebagai sebuah biro atau firma (seperti advokat).

Pada perkembangannya kemudian, pendidikan di sekolah teknik tingkat STM dan sarjana muda berkembang pesat mengikuti kebutuhan yang meningkat, untuk melatih seseorang dapat menjalankan pekerjaan sebagai seorang arsitek. Siapa saja dapat berperan sebagai arsitek dan merencana berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat. Baru di pertengahan tahun 1970-an, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan peraturan bahwa diperlukan lisensi atau ijin praktek bagi seseorang yang akan menjalankan peran sebagai arsitek penanggung jawab suatu proyek perencanaan banunan gedung. Para lulusan sarjana arsitektur dapat memiliki lisensi A, yang sarjana muda memiliki lisensi B, dan yang lulusan setingkat STM mendapat C. Dalam prosesnya kemudian mereka dapat mengajukan peningkatan kelas (dari C ke B dan dari B ke A). Bagi mereka yang telah mendapatkan lisensi praktek, dianjurkan menjadi anggota asosiasi profesi , seperti IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan PSAI(Persatuan Arsitek Seluruh Indonesia. Pembinaan dan peningkatan kualitas keprofesionalannya diserahkan kepada asosiasi profesi melalui berbagai penataran, seminar dan kegiatan lainnya.

Sementara itu, kegiatan usaha praktek arsitek diarahkan menjadi perseroan terbatas, khususnya bagi mereka yang akan mengikuti proses pengadaan jasa di lingkungan pemerintah. Perkembangan ini secara perlahan-lahan mengubah sebutan “arsitek” menjadi “konsultan”. Akhir-akhir ini, telah dikembangkan pula sebutan “penyedia jasa” sebagaimana tercantum di dalam UU Jasa Konstruksi dan UU Bangunan Gedung. Sebutan “arsitek” serta merta menghilang dari tataran hukum dan pada gilirannya juga mengandung arti yang secara langsung mengubah esensi keprofesionalannya.

Indonesia Tidak Memiliki Arsitektur


Seri Kliping Arsitektur taken from: Kompas 6 Maret 2010

Indonesia Tidak Memiliki Arsitektur

JAKARTA, KOMPAS Sabtu, 6 Maret 2010 – Akibat terdiri dari beragam suku dengan budaya yang berbeda-beda, hingga kini Indonesia belum memiliki satu karya arsitektur sebagai salah satu produk budaya yang disepakati secara nasional sebagai ciri bangsa. Kendalanya karena faktor yang menjadi acuannya kontradiktif.

Adhi Moersid, pakar arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia, melontarkan masalah itu dalam diskusi bertema ‘Crossing Bridges: The Work of the Architect in Contemporary Multicultural Society’ di Institut Kebudayaan Italia di Jakarta, Selasa (2/3) malam. Tampil dalam acara itu Marco Kusumawijaya dari Institut Kesenian Jakarta dan arsitek dari Italia, Avio Mattiozzi, yang mempresentasikan karya arsitek kenamaan Paolo Portoghesi berupa masjid di Roma.

Dalam penciptaan karya arsitektur, ujar Adhi, seorang arsitek bukan sekadar mengacu pada kondisi geografis dan lingkungan setempat, tetapi juga berdasarkan akar budaya, adat istiadat, bahkan religi yang dianut masyarakatnya. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menetapkan arsitektur sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang diakui dalam skala nasional.

Sebaliknya, produk arsitektur yang mengacu pada kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis basah tidak menjadi masalah atau bisa diterima umum.

Dua pendekatan
Menurut Adhi, dalam menciptakan desain arsitektur untuk sebuah bangunan, setidaknya perlu berpegang pada dua pendekatan. Pertama, yaitu becermin pada khazanah ilmu arsitektur yang sudah dimiliki. Selain itu, arsitek perlu menimba makna falsafah, adat istiadat, dan komponen arsitektur tradisional yang dianut pengguna bangunan.

Ia mengambil contoh proses perancangan arsitektur yang dilakukannya untuk sebuah Gereja Huria Kristen Batak Protestan di Tebet. Dalam pencarian bentuk arsitektur bagi gereja itu, komunitas gereja diikutsertakan. Selain itu, bentuk rumah adat Batak juga menjadi acuannya, “Yang menjadi titik tolak dan ciri khas gereja ini adalah atap dan ekspose strukturnya yang jelas,” ujar Adhi.

Selain membangun gereja, dengan pendekatan yang sama, Adhi juga membangun masjid. Salah satu arsitektur masjid karyanya pada 1972 memenangi Aga Khan Award.

Globalisasi arsitektur
Sementara itu, menurut Marco, dalam era globalisasi ini seorang arsitek hendaknya dapat memasukkan nilai universal dan menyatukan banyak kultur dalam karyanya, termasuk arsitektur lokal.

Dalam kenyataannya, arsitek di Indonesia dalam penciptaan karyanya banyak terpengaruh pada unsur asing. Hal ini tidak terhindarkan.

Fenomena yang sama juga terjadi di negara lain. Portoghesi dalam penciptaan masjid di pusat kota Roma yang merupakan pusat agama Katolik ,menurut Avio, juga memasukkan banyak unsur arsitektur asing di samping lokal. Portoghesi, dosen di Universitas Roma, memenangi sayembara arsitektur masjid di Roma pada tahun 1974. Selama empat tahun ia mempelajari arsitektur masjid di Sudan, Turki, Mesir, dan Tunisia.

Konsep masjid yang diambilnya, antara lain pencahayaan alami, lengkungan saling silang, dan pilar-pilar yang menggambarkan hutan Magribi. Selain itu, juga digunakan lingkaran konsentris yang menggambarkan kosmologi tujuh langit.

Unsur lokal
Selain memadukan konsep masjid dari sejumlah negara, Portoghesi juga memasukkan unsur arsitektur Italia atau Roma. “Yang membedakan Masjid Roma dengan mesjid umumnya di negara Arab adalah fungsi menara. Menara digunakan untuk mengumandangkan azan. Namun, di Masjid Roma, menara merupakan kelengkapan bangunan tersebut. Untuk mengetahui waktu shalat penduduk cukup melihatnya di papan pengumuman atau melalui akses di internet,” ujar Avio.

Modifikasi ini, menurut Adhi, dimungkinkan sebagai upaya adaptasi dengan tradisi masyarakat setempat. Hal inilah yang membuat keberadaan Masjid Roma diterima dalam komunitas masyarakat Roma yang mayoritas beragama Katolik. Pembangunan masjid tanpa menara, lanjut Adhi, juga dimungkinkan dengan melihat sejarah keberadaan menara itu pada masa lalu. Karena itu, larangan pembangunan menara di Swiss tidak akan menghalangi pembangunan masjid sendiri. (Yuni Ikawati/KOMPAS Cetak)

Rakyat Solo “Membeli” Benteng Vastenburg

benteng
Benteng Vastenburg Solo
taken from: Kompas 2009

Sumber: Harian Kompas

Rakyat Solo “Membeli” Benteng Vastenburg
February 21st, 2009 Walau merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Solo, Benteng Vastenburg yang dibuat tahun 1745 oleh Baron van Imhoff kondisinya memprihatinkan, Sabtu (22/12). Selain sudah menjadi milik perseorangan, di areal benteng ini rencananya akan dibangun hotel.

Oleh Ardus M Sawega

“Melalui mengamen, kami hendak mengumpulkan uang untuk “membeli” kembali Benteng Vastenburg. Kami yakin dan optimistis, akan mampu membeli Benteng Vastenburg,” kata Murtidjono (58), Kamis (19/2), di Solo.
Menurut Murtidjono, Banteng Vasterburg kini berada di tangan swasta. Tidak seperti SBY yang serba tidak punya optimisme, para seniman terbiasa hidup penuh optimisme, walau makan saja mungkin susah.

Ucapan Murtidjono soal optimisme dan Benteng Vasterburg dengan gaya cengengesan itu langsung disambut dengan tepuk tangan meriah. Mantan Kepala Taman Budaya Jawa Tengah itu memimpin beberapa seniman untuk mbarang alias mengamen di Warung Pecel Wong Solo di Jalan Mr Supomo, Solo, Kamis (19/2) siang. Di teras warung itu, yang biasa digunakan kelompok siteran, mereka mengamen. Di dinding terpasang poster bertuliskan “Pengumpulan Dana untuk ‘Membeli’ Kembali Benteng Vastenburg”.

Suasana warung pecel yang biasanya nyaman dan tenteram itu mendadak agak gaduh dengan kehadiran enam personel pengamen amatir yang biasanya nongkrong di Wisma Seni TBS. Mengusung dua gitar akustik, satu gitar elektrik dan jimbe, mereka menyuguhkan lagu-lagu bergaya rock, baik dalam bahasa Jawa maupun Indonesia.
Lagu-lagu yang dibawakan dengan ketukan (beat) yang dinamis membuat orang ikut menggeleng-gelengkan kepala atau bertepuk tangan. Kodok, Cunong, Janthit, Murtidjono bergantian bernyanyi. Di antara mereka, Kodok Ibnu Sukodok panggilan akrab mantan Bengkel Teater Yogya ini membawakan lagu-lagu karyanya sendiri seperti “Padang- padang Bulan” yang merefleksikan hidup yang getir lewat vokalnya yang serak tetapi berkarakter.

Janthit Rusharjanto menjelaskan, acara ngamen rakyat Solo ini akan berlangsung di berbagai tempat di Kota Solo. Minggu (22/2) pagi, mereka akan tampil di depan Kantor KPU, Kompleks GOR Manahan. Selain itu, ada rencana untuk berkeliling di berbagai kota seperti Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung.
“Aksi ngamen ini sebagai sikap keprihatinan rakyat Solo yang tak rela Benteng Vastenburg dimiliki oleh swasta. Benteng itu adalah simbol perjuangan bangsa Indonesia menghadapi penjajahan Indonesia karena itu harus kembali kepada negara,” ujarnya.

Selama 1,5 jam ngamen di Warung Pecel Wong Solo, mereka mengumpulkan uang Rp 364.000. Uang tersebut akan masuk ke rekening bank dan setiap kali mendapat uang dari hasil ngamen akan diumumkan di media massa.
“Kalau ditanya target aksi ini apa? Ya, kami baru akan berhenti jika terkumpul dana Rp 600 miliar, seharga Benteng Vastenburg itu,” ujar Janthit.

Dia menegaskan, aksi itu lebih bersifat simbolik dengan tujuan menggugah solidaritas warga masyarakat untuk bersama-sama tergerak semangat nasionalismenya. Alasannya, Benteng Vastenburg memiliki nilai sejarah yang tinggi. “Bukan untuk membeli kembali Benteng Vastenburg. Benteng itu bukan milik swasta atau siapa pun melainkan milik negara. Kalau kami membeli berarti kami mengakui ada pemiliknya (swasta),” kata Janthit. Menurut Janthit, dalam waktu dekat pihaknya bekerja sama dengan Aliansi Penyelamat Aset Negara mengadakan diskusi soal Benteng Vastenburg di Kantor YAPPHI Solo. Sumber: Harian Kompas, 21 Pebruari 2009

Walikota Tantang Penggalang Dana Vastenburg
February 20th, 2009 Oleh Suharsih

Solo (Espos)–Walikota Solo, Joko Widodo menantang siapa saja yang ingin menjadi koordinator penggalangan dana untuk membeli kembali lahan Benteng Vastenburg dari tangan pemiliknya. Dia menyatakan siap memberi orang tersebut surat keputusan (SK) sebagai pegangan.
Hal itu dikatakan Jokowi saat ditanya pendapatnya mengenai upaya yang dilakukan sejumlah anggota Komite Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) yang mengamen Rumah Makan Pecel Solo, Mangkubumen, Banjarsari, Kamis (19/2), guna menyelamatkan Benteng Vastenburg.
“Ya itu bagus. Mana? Kalau ada yang mau menjadi koordinator penggalangan dana untuk Vastenburg, siapa saja, saya akan beri dia SK,” kata Jokowi, saat berbincang dengan wartawan di rumah dinas Walikota Loji Gandrung, Jumat (20/2).
Ditanya kapan kira-kira pihaknya bisa menyelesaikan polemik tersebut, dia mengaku belum bisa memastikan. Menurutnya, lebih baik masalah itu dibiarkan mengalir. Dia mengatakan tidak mau tergesa-gesa mengambil keputusan.
Terpisah, Sekretaris KPCBN, Rusharjanto, sebagai salah satu anggota KPBCN yang menggagas upaya penggalangan dana dengan mengamen, saat dimintai tanggapannya tentang tantangan Walikota itu mengatakan, sangat menyambut baik jika Walikota memang memiliki komitmen semacam itu. Namun demikian, untuk menerima SK dari Walikota sebagai koordinator, pihaknya harus bertemu dulu dengan Walikota dan meluruskan argumentasi di balik penggalangan dana itu.
Menurutnya, penggalangan dana itu bukan semata dilakukan untuk membeli lahan Benteng Vastenburg, melainkan untuk upaya-upaya penyelamatan. Rus mengatakan, pihaknya tidak pernah mengakui benteng itu sebagai milik pribadi sehingga tidak perlu dibeli.
“Penyelamatan itu bisa dengan membangun kawasan itu, atau cara-cara lain yang tujuannya mengembalikan Vastenburg sebagai milik publik,” jelasnya, saat dihubungi Espos, Jumat. Dia menambahkan dari penggalangan dana Kamis lalu, pihaknya berhasil mengumpulkan Rp 364.000.
Demikian pula yang dikatakan penasihat KPCBN, Ali Sjaifullah. Kepada Espos, Ali mengatakan, pihaknya tidak pernah mengakui benteng itu sebagai milik siapapun. Karena kepemilikan benteng itu masih perlu ditinjau ulang legalitasnya. Sumber: Harian Solo Pos, 20 Pebruari 2009

Vastenburg Jati Diri Kota Solo
Sumber: Harian Kompas ,19 Pebruary 2009

Benteng Vastenburg di Kota Solo, Jawa Tengah, adalah jati diri Kota Solo yang harus dilestarikan. Sejarah kelam di balik benteng peninggalan Belanda (1755) ini akan menjadi pelajaran bagi generasi mendatang karena keberadaannya menjadi simbol benteng terakhir nasionalisme.
Pendapat itu mengemuka dalam acara dialog publik bertema ”Cagar Budaya untuk Publik” yang diadakan dalam rangka hari jadi ke-264 Kota Solo di Balaikota Solo, Selasa (17/2).

Sebagai narasumber adalah Prof Eko Budihardjo dari Universitas Diponegoro, Semarang; Marco Kusumawijaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta; Widya Wijayanti, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia; Haryo Sasongko, Direktur Perkotaan Departemen Dalam Negeri; dan Gutomo, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Dialog publik tersebut mendapat sambutan antusias dari peserta yang mewakili warga kampung di Solo.
Polemik tentang Benteng Vastenburg muncul sejak November 2008 ketika ”pemilik” benteng berencana mau membangun hotel bertingkat 13 dan mal di atas situs yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Tukar guling
Pada tahun 1991, benteng seluas 5,4 hektar ini oleh TNI ditukargulingkan dengan pihak swasta dan kini dikapling- kapling di delapan instansi berbeda.

Eko Budihardjo memaparkan, sebuah kota adalah karya seni sosial sekaligus ”panggung kenangan” yang menyimpan memori seluruh warganya.
”Menghilangkan memori tadi merupakan dosa besar,” ujar Eko. Ia menambahkan, Benteng Vastenburg mampu menjelaskan bahwa kota ini pada masa lalu mengalami penjajahan Belanda, maka benteng itu sebenarnya merupakan jati diri sejarah Kota Solo.
Eko bersama Prof Sidharta pada tahun 1987 diminta oleh PT Benteng Perkasa Utama untuk membuat rancangan tata bangunan di atas situs benteng. Namun, hasil rancangannya ditolak pihak investor.
Menurut dia, Vastenburg memiliki akar kultural. Karena itu, sesuai pedoman Bank Dunia, upaya penyelamatannya dinilai strategis mengingat keberadaannya bisa menjadi modal sosial yang besar.
Ali Syaifullah dari Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) menegaskan, Vastenburg harus dikembalikan kepada negara.

”Di dalam benteng tersebut prajurit-prajurit kita pernah dipenjara, disiksa, dan dibunuh. Justru dari benteng inilah anak cucu kita bisa belajar tentang sejarah bangsa kita yang kelam. Kalau benteng ini sampai lepas dan menjadi hotel atau yang lain, kita akan kehilangan sejarah tersebut. Maka, benteng ini jelas merupakan simbol nasionalisme dan patriotisme kita yang terakhir,” ujarnya.
Ali minta agar dilakukan rekonstruksi terhadap Benteng Vastenburg dengan tujuan mengembalikan bangunan-bangunan yang pernah ada, seperti kantor, penjara, gudang amunisi, dan tangsi.
Namun, Sitta Laretna Adhisakti, moderator diskusi, menyatakan sulit melakukan rekonstruksi mengingat minimnya data. Ia mengatakan, etika arsitektur serta Piagam Kyoto 1994 melarang rekonstruksi yang tidak sesuai dengan aslinya.
Gutomo dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala menyebutkan bahwa benteng tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi karena itu pemanfaatannya kembali harus memerhatikan pesan sejarah yang bisa diakses oleh publik.
Namun, data tentang arsitektur bangunan tersebut tidak akurat. Bahkan, benteng tersebut hanya menyisakan bangunan pagar tembok luar.
“Kalaupun kita mau memanfaatkan sekarang, ibaratnya hanya tinggal kulitnya saja,” katanya. (ASA) Sumber: Harian Kompas, 19 Pebruari 2009.

Kawasan Veteran dan Juanda di Abad 19
Sumber:Warta Kota

Kamis, 10 September 2009
“KAMI berjalan pulang lewat Tanah Abang dan Rijswijkstraat lalu ke Harmonie. Kami ingin melihat dari dekat apa yang dilakukan orang kaya Batavia…Di Rijswijk, di sepanjang trotoar di tepi sungai, kami melihat antrian panjang kereta pribadi dan beberapa mobil…”

Jalan Juanda Jaman Belanda
Jalan Juanda Masa Penjajahan Belanda
Sumber: Repro Batavia Nineteenth Century Photograph

Demikian seorang serdadu Belanda yang tiba di Batavia pada awal abad 20 membuat catatan harian tentang petualangannya di Batavia. Salah satu kawasan yang ia sambangi adalah Rijswijk tadi. Catatan harian sang serdadu berusia 18 tahun asal Amsterdam itu dikumpulkan dan ditulis ulang oleh HCC Clockener Brousson.
Di sekitar abad 19 lingkungan kota lama Batavia makin tak sehat dan jadi biang penyakit dan ditinggalkan penduduknya. Warga Belanda pindah ke kawasan yang lebih ke selatan dan lebih sehat yaitu ke kawasan dekat Molenvliet (Jalan Gajah Mada) yaitu Rijswijkstraat (Jalan Majapahit), Rijswijk (Jalan Veteran), Noordwijk (Jalan Juanda). Maka di abad 19 itu, kawasan tersebut tumbuh menjadi kawasan elit Batavia dengan kompleks pertokoan elit serta deretan rumah-rumah mewah bergaya Eropa. Seperti Molenvliet, kawasan Rijswijk dan Noordwijk di pisahkan kanal yang merupakan sodetan Kali Ciliwung. Sampan hilir mudik di kanal tersebut.
Frans Buurt (lingkungan Perancis), demikian julukan bagi Rijswijkstraat yang di paruh kedua abad 19 dipenuhi pedagang Perancis. Orang Perancis rupanya ciamik sebagai pebisnis di berbagai bidang seperti hotel, toko roti, usaha studio foto, dan menjahit. Usahanya tersebar tak hanya di Rijswijkstraat tapi juga di Rijswijk dan Noordwijk. Buku Batavia in Nineteenth Century mencatat, iklan di surat kabar kala itu dipenuhi pebisnis Perancis seperti Leroux, Pascal, Seuffert, Cressonnier, dan Bastiere.
Sejalan dengan berkembangnya kawasan, maka tumbuh pula tempat hiburan di kawasan tersebut. Gedung paling mentereng tempat di mana orang Eropa berpesta tak lain adalah Societeit Harmonie di pojokan Rijswijkstraat. Di masa Inggris berkuasa di Batavia (1811-1816), Rijswijkstraat menjadi kawasan militer lengkap dengan bangunan kantor dan barak sampai kemudian Inggris menjual gedung-gedung itu hingga lambat laun kawasan itu berubah menjadi kompleks pertokoan.
Kawasan Rijswijk mulai berkembang jadi kawasan elit saat Thomas Stamford Raffles tinggal di sana, yaitu di rumah yang kemudian menjadi Hotel der Nederlanden pada 1840. Hotel utama lain yang sudah lebih dulu dibangun di Rijswijk adalah Grand Hotel Java (1834). Pada 1812 Raffles menghancurkan seluruh rumah asli orang Tionghoa serta toko-toko mereka dan membuat kawasan itu berkarakter sangat Eropa.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Arsitektur Persada Ir.Soekarno bagi Generasi Muda

Arsitektur Persada Soekarno untuk Generasi Muda

Metro 20 Mei 2003 TEMPO Interaktif, Jakarta:Yayasan Bung Karno masih mengkaji pembangunan Persada Sukarno. Rencana proyek ini, Selasa (20/5) dibahas dalam diskusi terbatas di kantor Yayasan Bung Karno, Jakarta. “Persada Bung Karno adalah bentuk visual untuk meneruskan ide building nation, karakter building Sukarno yang belum selesai,” kata Iriani Sophiaan, Ketua Program Sarjana Ilmu Politik Fisip UI yang menjadi peserta diskusi. Menurut Iriani, nation building seolah berhenti bersamaan dengan runtuhnya Sukarno. Sehingga, lanjutnya Persada Bung Karno diharapkan dapat menjadi sebuah jawaban untuk pembangunan bangsa yang tertunda.

Sasaran dibangunnya Persada Sukarno adalah generasi muda,” ujarnya. Hal ini terjadi karena generasi muda harus dibangun terutama karakter kebangsaan dan rasa memiliki bangsa Indonesia. “Untuk ke depannya, tergantung dari visi dan misi pemrakarsa Persada Sukarno sendiri,” ujarnya. Peserta diskusi melontarkan wacana tentang ide dan bentuk Persada Sukarno. Ada yang mengusulkan berbentuk museum yang edurekreatif, pusat penelitian, pusat penerbitan dan pusat studi yang dilengkapi perpustakaan. Ada pula yang usul dilengkapi dengan pameran interaktif, game interaktif dan multimedia. Amir Sidharta, pengamat permuseuman, usai diskusi kepada TNR mengatakan ada tiga wacana yang berkembang mengenai lokasi Persada Sukarno. Pertama, di pusat kota yang dekat dengan masyarakat dengan menggunakan gedung yang sudah ada yaitu gedung Yayasan Bung Karno. Kedua, di suatu tempat di luar kota dalam wilayah yang luas, indah sehingga bisa menjadi tempat belajat yang menyenangkan seperti Bogor. Ketiga, ada di Jakarta Pusat dengan ‘satelit-satelit’ lain di luar kota. Pengkajian pembangunan Persada Sukarno ini diselenggarakan selesai dalam tiga tahap hingga Juli 2003. “Lalu akan diambil sebuah rangkuman untuk menyelanggarakan lokakarya bersama,” ujar YS Didit T, ketua bidang Program/Humas YBK. Menurutnya, dana sudah digalang sejak dua tahun lalu berasal dari Yayasan Bung Karno kerjasama dengan mitra-mitranya. (Putri Alfarini—Tempo News Room) Ami Afriatni – Tempo News Room

Rumah Tionghoa Tangerang


Source:
mahandisyoanata.multiply.com/photos/album/109/
Seri Konservasitaken from: Kompas



HISTORICAL BACKGROUND THE CHINESE LANDLORDS IN TANGERANG

“Apa saja mesti toetoep moeloet saja tida boleh menja’oet?”
Oey Ek Kiam, a Chinese landowner in Batavia, when dispute with Assistant-Resident,
9th December 1892
ON MISSION
Save our heritage or perished, it is not only bad news, but an attention and statement that delivered to the government [especially Tangerang Regional Government], communities who concern about the preservation of heritage buildings, and all people who read our journey.

Based on the picture of architecture study about old buildings surrounding Jakarta published by National University of Singapore, I and Dharmawan Handonowarih [Editor in Chief of IDEA Magazine] cruised the former rubber plantation house in Tangerang on Sunday, 23rd November 2008.

It is the nearly forgotten country house in Tangerang, suburb of Jakarta. Located about quarter of Imam Bonjol-Teuku Umar Street, village of Karawaci Baru, Tangerang, westbank of Cisadane River (in map from 19th century known as Tjisadanee River).

As we knew, in 1874 the government of Netherlands Indies introduced the early rubber plantation in Java. This building was formerly owned by biggest Chinese landlord of rubber plantation. Now, his descendants owned this mansion. However, they don’t reside in their ancestor house.

Today, this country house is inhabited by four families within.

Unfortunately, this building was not included the Heuken’s Historical Sites of Jakarta in the chapter of country house and former residences of big estate owner. Really neglected building!

THE MAP: TANGERANG – BATAVIA
According Pranoedya Ananta Toer, “Tangerang” as the name of region or place was the incorrect spelling from inheritance Dutch. It should be wrote and spell as “Tanggeran”, anyway.

Source:
mahandisyoanata.multiply.com/photos/album/109/
In 1811, Major William Thorn, a British soldier, reported that Tangerang is well cultivated, interspersed with several seats or Dutch farm, producing rice, and the greatest part of the grass for the consumption of horses in town. Also this city was crossed by Tjidanee River and have fine sluice then runs parallel to the road whole way to Batavia.
The private lands of most Chinese officers in Batavia were located in Tangerang, where a Chinese private domain practically. In 1888, Tangerang was the largest Chinese population in Java, that dispersed in three districts: Balaradja, Mauk, and Tangerang.

Peta Tangerang Zaman Belanda.
According “Confidential letter of the Resident of Batavia to Governor-Generaal, 15th May 1888”, we knew that, despite Tangerang was the land’s of Chinese officer, however they prefer live in to Batavia.
According ” Gouvernementsbesluit, 27th December 1846 No.7 ” we knew that Chinese landowners were more flexible than Europeans in dealing with native tenants, they tend to accommodate the domestic needs of their tenants. Whereas the Europeans were strictly law-abiding and kept their distance from their native tenants. It gave the native uncomfortable feeling of inferiority.
Let’s see the several Chinese officers in the end of 19th century who owned the lands in Tangerang below:
1. Major Tan Eng Goan, a first landowner of Kramat, Kapuk, Tandjoeng Boeroeng, and Rawa Kidang.
2. Captain Lie Tjoe Tjiang, a landowner of Sepatan, Karang Serang Laut, Karang Serang Dalam, and Rajeg.
3. Lieutenant Tan Boen Peng, a landowner of Bodjong Renget, Pangkalan, de Qual (known as Pesing now), and Tegalangus.
4. Lieutenant Souw Siauw Tjong, a landowner of Paroengkoeda, Paroeng-East, and Ketapang.
5. Captain Nie Ek Tjiang, settled in Mauk, and owned some lands in Tangerang.
6. The last Chinese officers in 19th century, here Captain Oey Giok Koen, owned the land of Pasar Baroe in Tangerang.
7. Lieutenant Oey Djie San, he was director of the private estate of Karawaci-Tjilongok. He was admired for his Dutch education and fluency in the language.

However, the private lands that owned by Chinese in Tangerang have suggested to Batavia’s self-sufficiently for agricultural products, such as rice, and sugar. Whereas the plantation product such as rubber was introduced in the end of 19th century or early 20th century.

Djie San Gallery
A SLICE HISTORY OF COUNTRY HOUSE OF RUBBER PLANTATION:
A MYSTERIOUS LANDOWNER
Who is the landowner of this country house? I asked to inhabitants, but they don’t know the present day owner, even they reside within this house. A weird answer?

According “Sinar Harapan” in 2003, a daily newspaper in Jakarta, wrote that the owner this country house was the important Chinese person who influenced in Tangerang. He was landowned of rubber plantation in the westward of Tangerang (presently known as Perum I and Perum II). His descendants don’t want to reside in this house, even present day they prefer to live in Jakarta, Magelang, and The Netherlands. The rubber plantation in Tangerang was closed down in 1965.

However, I am still in searching about the former owner of land in Karawaci and its surroundings. Probably, was Lieutenant Oey Djie San the owner of this country house, because he was a director of the private estate of Karawaci-Tjilongok? It could be, but, probably he was not the first owner because he lived in the end of 19th century, whereas the country house was built in the end 18th century. For the best answer I need your support.

SAVE OUR HERITAGE, WE NEED YOUR ATTENTION!
Since September 2008, the present day owner has been pulling down of the primary building. What a pity, beautiful Chinese mansion was destroyed by business interests, now the destruction is still on progress. It’s threatening the secondary building.

We still have only a little time to terminate this vandalism of heritage building. There is no one who cares about the vanishing old buildings. Please, save our heritage!

“…satoe orang kapala miring boeat djadie kapala negeri…” A native letter, dated 19th March 1893, and other complaints kept in Goevernementsbesluit, 24th August 1893.

*** REFERENCES
De Bond van Nederlandse Architecten. “Het Indische Bouwen: Architectuur en Stedebouw in Indonesie”, Seminar: Change and Heritage in Indonesian Cities, 27-30 September 1988.
Lohanda, Mona. “The Kapitan Cina of Batavia 1837 – 1942″, Cooperation between Penerbit Djambatan and KITLV, Second Edition, 2001. Toer, Pramoedya A. ” Jalan Raya Pos Jalan Daendels”, Lentera Dipa Nusantara, 2005.
Thorn, William. ” The Conquest of Java”, First Published in London 1815, Periplus, 2004.

Menyambut Museum Batik di Jakarta

Menyambut Museum Batik di Jakarta

 

dari:Kompas 2009
Selasa, 6 Oktober 2009

HEBOH beberapa kali klaim Malaysia terhadap aset budaya Indonesia membuat bangsa ini semakin waspada untuk melindungi kebudayaannya. Salah satunya adalah melindungi dan melestarikan batik. Untuk itu Yayasan Batik Indonesia (YBI) akan mendirikan Museum Batik di Jakarta. Seperti fungsi museum pada umumnya, selain sebagai tempat menyimpan koleksi juga sebagai sarana pendidikan. Untuk sementara museum ini akan menggunakan salah satu gedung di Museum Tekstil di Jalan KS Tubun, Jakarta.

Menurut Kepala Museum Tekstil Jakarta, Indra Riawan, rencana pendirian museum batik ini merupakan hal positif yang harus didukung. Apalagi dengan adanya pengakuan batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. “Dengan pengakuan batik oleh UNESCO, hal ini merupakan cikal bakal yang baik. Apalagi dengan adanya rencana pendirian museum akan semakin mengukuhkan bahwa bangsa kita memang masih peduli dengan aset-asetnya,” ujar Indra yang ditemui di kantornya pada Kamis (1/10).

Sejauh ini Museum Tekstil hanyalah sebagai fasilitator pendukung pendirian museum tersebut. Karena siapa pun bisa mendirikan museum, tidak hanya pemerintah, pihak swasta juga diperbolehkan. Meski Museum Tekstil juga memajang koleksi kain tenun dan batik, dengan kehadiran Museum Batik tidak membuat Museum Tekstil lantas tenggelam atau terjadi tumpang tindih. “Justru kita akan saling mendukung. Keberadaan mereka akan menambah semaraknya koleksi batik. Kami minta nantinya supaya ada satu kesatuan antara Museum Tekstil dan Museum Batik,” ujar Indra.

Saat ini Museum Batik memang baru dalam tahap perencanaan. Museum Tekstil sedang menyiapkan ruangan. Rencananya Museum Batik akan menempati Gedung Tekstil Kontemporer yang berada di sebelah gedung utama.

Gedung Tekstil Kontemporer berukuran 15 meter x 20 meter itu kini berfungsi untuk menyimpan mesin-mesin tenun tradisional dan beberapa hasil kain tenunannya. Meski bangunan itu sudah berdiri sejak awal abad ke-19 tapi masih terawat dengan baik. Tapi jarang orang masuk ke dalamnya karena umumnya pengunjung hanya tertarik kepada ruang pamer kain. Diharapkan dengan kehadiran Museum Batik nantinya akan membuat pamor Museum Tekstil kembali terangkat, karena selama ini tidak mudah mendapatkan biaya untuk melakukan perbaikan dan pembaruan, seperti untuk membuat brosur. “Tidak mudah bagi museum pemerintah untuk mendapatkan dana tambahan untuk melakukan renovasi. Dananya terlalu sedikit dan harus dibagi untuk kebutuhan lain,” kata Indra.

Menambah wawasan
Sedangkan untuk jumlah koleksi yang akan dipajang di Museum Batik, hingga kini belum diketahui secara pasti. Menurut Aurora Tambunan, salah satu anggota YBI, hingga kini masih menunggu rencana tata pamernya. “Setelah bangunan siap, maka baru direncanakan tata pamernya yang disesuaikan dengan tema yang akan dijadikan acuan. Meski ini sifatnya sementara diharapkan seluruh koleksi YBI bisa menambah wawasan pengunjung tentang sejarah dan jenis batik yang ada,” ujar Deputi Gubenur Bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta ini.

Sementara itu dari 1.759 koleksi kain di Museum Tekstil, ada sekitar 800 kain batik. Namun tidak semua terpajang di ruang pamer. Tiga bulan sekali biasanya mereka akan mengganti koleksi dan disesuaikan dengan temanya.

Menurut Aurora, koleksi yang dimiliki Museum Tekstil sekarang asal muasalnya berawal dari koleksi pribadi ibu-ibu Wastaprema (himpunan pencinta kain tradisional). “Nantinya Museum Batik juga akan mendapatkan sumbangan dari koleksi ibu-ibu YBI dan setelah menjadi koleksi museum maka pemeliharaannya menjadi tangung jawab museum,” ujar Aurora.

Mengenai pengelolaan museum, menurut Lola, yang harus diperhatikan saat ini adalah pengaturan kawasan di Jalan KS Tubun dan sekitarnya. Perlu dilakukan penataan dan penertiban, terutama pedagang kaki lima dan angkutan umum yang sering membuat macet. “Selain itu, supaya lebih menarik pengunjung, selain dari koleksinya perlu juga lebih digiatkan kegiatan seperti kursus batik dan perpustakaan batik. Selama ini Museum Tekstil sudah melakukannya,” kata Aurora. (Dian Anditya Mutiara)

Pasar Gede Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

78 Tahun Pasar Gede Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

Januari 11, 2008

oleh Retno Hemawati

Pasar Gede Solo dibangun dan memulai aktivitas perdagangannya sejak 1930. Pada Sabtu (12/1) pasar ini akan merayakan ulangtahun ke 78 dan ditandai dengan gelaran 78 tumpeng jajan pasar dan beberapa pergelaran seni seperti Sahita, Temperente dan Lawcoustic Music ‘n Foresta Holic di halaman pintu depan Pasar Gede. Kali ini menggagas tema be a long-live heritage, be traditional, be transborder.

Perpaduan Budaya
Pasar Gede dibangun berdasarkan rancangan arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten yang memulai pembangunannya pada tahun 1927. Pada 12 Januari 1930 pasar monumental itu diresmikan Paku Buwono X dengan pemotongan pita oleh GKR Emas yang menelan biaya waktu itu sekitar 650.000 gulden, yang kini setara dengan Rp 2,47 miliar. Pasar Gede merupakan simbol padu kerja harmonis antara penggagas PB X dan Ir Herman Thomas Karsten yang sangat menghargai budaya budaya lokal, hasilnya adalah arsitektur Indis yang dalam tataran filosofis arsitektural, ia memberikan rasa ruang dan rasa tempat yang khas. Sekaligus nyaris sempurna secara tipologis, di mana pembangunannya memperhatikan pendekatan rasional dan mempertimbangkan iklim budaya lokal.

Sebagai pasar tradisional, Pasar Gede pada awalnya bernama Pasar Gedhé Hardjonagoro, berasal dari nama cucu kepala Pasar Gedhé (1930 – disaat itu), seorang budayawan Jawa dari Surakarta Go Tik Swan, keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari PB XII. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah klenteng Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie di dekatnya yang tak jauh dari perkampungan warga keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong yang letaknya di Kelurahan Sudiroprajan. Itulah mengapa para pedagang sekalipun sekarang tidak dominan banyak yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dulu pasar ini sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi dengan harapan hubungan antar etnis yang semula berkonflik dapat berlangsung harmonis.

Rusak, Renovasi
Sempat pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda dan kemudian direnovasi pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Kemudian pada 28 April 2000 pasar ini kembali ludes dilalap api. Renovasi pun dilakukan dengan mempertahankan arsitektur asli, ketinggian aspek kultural dan historis yang berusaha dipertahankan dan akhirnya selesai di penghujung tahun 2001. Salah satu kecanggihan pasar ini adalah, turut memperhatikan keperluan penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.
Kondisi bangunan pasar ini jauh lebih beradab dari pasar pada umumnya, Karsten sudah mempertimbangkan atap, sirkulasi udara, masuknya cahaya agar kondisi pasar tidak pengap, lembab dan juga menciptakan iklim komunikasi yang baik dengan cara membuat lorong yang dibuat lebar untuk memudahkan interaksi antar pedagang. Dengan bijak ia melakukan semacam pengamatan akan kebiasaan masyarakat pengguna dan mempelajari kebudayaan setempat. Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang justru terkesan memaksakan ide “Belanda” pada bangunan-bangunan di Indonesia.

Sebagai pasar tradisional peninggalan masa lalu, pasar ini merupakan aset budaya Masyarakat Solo. Lebih dari itu, mengingat kesejarahan yang terkandung, pasar ini juga menjadi aset nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Secara historis, pasar ini muncul dari embrio pasar candi yang berkarakter Candi Padurasa. Proses perubahan Pasar Candi berubah menjadi pasar ekonomi yang disebut “Pasar Gede Oprokan” yang digambarkan dengan payung-payung peneduh untuk kegiatan pasar.

Saatnya Belanja!
“Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendhongan dengan beban punggung, hingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk meletakkan tanpa membuat punggung sakit, ini baru contoh kecil, Karsten membuatnya dengan penuh perhitungan, tapi sekarang banyak yang kemudian direndahkan sekedar untuk mengakomodasi kepentingan bisnis. Alasannya akan semakin banyak ruang untuk mendisplay barang dagangan,” kata Heru Mataya salah satu penggagas acara 78 Tahun Pasar Gede. Faktor kebersihan pun termasuk yang diperhatikan, los penjual daging justru diletakkan di lantai atas. “Maksudnya karena lalat tidak bisa naik ke atas, maka daging tetap higienis dan bisa bertahan lama. Selain itu kami juga butuh panas untuk pengeringan usus sebagai bakal sosis,” kata Sutikno salah satu pedagang daging babi.

Anda sudah memasuki Pasar Gede ketika sudah melalui salah satu pintu masuk utama (main entrance) berkanopi lebar bertuliskan Pasar Gede dengan gaya tulisan Art Nouveau. Lantai untuk masuk berujud ramp. Setelah hall masuk, terdapat ruang terbuka, kemudian ruang-ruang los pasar membujur ke utara dan timur. Selain penjual daging, tentu saja tak beda jauh dengan pasar tradisional lainnya, ragam “jualan” Pasar Gede terdiri dari berbagai macam jenis dari kebutuhan pangan, sandang hingga kebutuhan pelengkap yang lain. Berniat belanja? Coba saja datang, khusus penggemar kuliner, tak akan kecewa. Apalagi jika datang di saat terik menyengat selepas perjalanan, es dawet telasih Bu Dermi pilihan tepat. Letaknya di tengah Pasar Gede. Ada tempat duduk terbatas yang disediakan, sambil menikmati aura khas pasar, di tengah keramaian dan diantara hilir mudik pedagang dan pembeli.

Tak jauh dari Bu Dermi, coba juga ayam goreng dengan bumbu khas pasar yang ditata apik dan menggoda selera. Ayam ini disarakan untuk oleh-oleh dan dibawa pulang, karena tidak disediakan tempat untuk menyantapnya. Selain ayam, coba juga berbagai macam abon dan cabuk kering. Ingin yang sedikit manis? Tak rugi jika mencoba jajanan pasar : cenil, klepon, grontol yang terbuat dari jagung, tiwul khas Wonogiri, sawut, utri, gatot dan lopis. Semua bisa divariasikan dengan pilihan parutan kelapa, gula merah atau gula pasir dan gula merah yang dicairkan. Harga rata-rata Rp 1.000 per bungkus.

Jika masih belum puas juga dan ingin membawa oleh-oleh lebih banyak, bisa juga membeli kripik cakar ayam, karak, rambak dari kulit sapi, brem, atau belut goreng. Semua sudah dikemas rapi di kios-kios dengan harga satuan per kilogram rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 20.000 untuk masing-masing pilihan. (RH dari berbagai sumber)

Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008