Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Kliping Berita Arsi

Pendidikan Profesi Arsitektur Mulai Berlaku September 2016

Pendidikan Profesi Arsitektur Mulai Berlaku September 2016

Dreamstime.comIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah akan memberlakukan pendidikan profesi arsitektur (PPA) pada September 2016 yang wajib ditempuh oleh mahasiswa lulusan pendidikan sarjana arsitektur.

Para mahasiswa yang telah menjalani pendidikan sarjana selama empat tahun, bisa menempuh pendidikan profesi selama satu tahun.

“Mulai September di beberapa universitas yang memiliki akreditasi A sudah mulai PPA. Tidak semua universitas,” ujar Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek) Paristiyanti Nurwardani kepada Kompas.com, Senin malam (14/3/2016).

Paristiyanti menjelaskan, universitas yang bisa mengadakan PPA adalah yang termasuk Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), antara lain Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM),

Sementara universitas lainnya, kata Paristiyanti, bisa mengajukan kepada Kemenristek. Nantinya, Kemenristek akan melakukan kajian lebih lanjut.

Menurut dia, profesi arsitek dibutuhkan karena termasuk dalam 8 profesi prioritas yang bersaing di kancah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Paristiyanti tidak meragukan kualitas arsitek Indonesia, khususnya lulusan UI. Namun, dengan menempuh pendidikan profesi, mahasiswa arsitektur bisa lebih siap dalam menyongsong dunia kerja.

Selain itu, mahasiswa yang sudah menjalani dan lulus PPA, memiliki tingkat yang sejajar dengan arsitek se-ASEAN.

“Sudah tidak takut lagi, kalau ada arsitek asing yang masuk Indonesia dalam rangka MEA ini. Karena, (arsitek) kita sejajar dengan mereka,” jelas Paristiyanti.

Penulis : Arimbi Ramadhiani
Editor : Hilda B Alexander

San Diego Hills Karawang

SAN DIEGO HILLS
KOMPLEKS PEMAKAMAN dan KENANGAN


. Pengembang Lippo membangun kawasan pemakaman dan peristirahatan yang “ramah, sejuk” Taman pemakaman modern seluas 500 hektar itu berlokasi di Karawang Barat, 46 kilometer dari Jakarta, atau 45 menit dari Jakarta. .

Latar Belakang

PT Lippo Karawaci Tbk membangun kawasan pemakaman mewah seluas 500 hektar di Karawang, Jawa Barat. Kuburan yang dinamakan San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes itu dilengkapi dengan taman yang asri, pepohonan yang rimbun, padang rumput yang hijau, air mancur, taman bunga, patung-patung artistik yang indah, arsitektur dan interior yang excellent. San Diego Hills menyediakan tiga kategori areal memorial park yaitu :
1.Earth (wilayah kuburan yang dirancang dengan posisi kiblat yang sempurna ke Mekkah),
2. Physical Homes (area kuburan yang memperbolehkan struktur yang dirancang dengan perhitungan yang sesuai dengan keharmonisan lingkungan), dan
3.Universal (area kuburan modern yang banyak dilakukan di negara-negara maju dengan sistem rapi, efisien dan mementingkan kualitas lingkungan yang tinggi).
Dengan mempertahankan kontur asli yang berbukit dan berlembah, San Diego Hills Memorial Park dirancang jauh dari kesan tempat pemakaman karena didesain sebagai kawasan yang penuh berbagai fasilitas modern melebihi kebutuhan sebuah taman pemakaman pada umumnya yang dibangun di Indonesia.
San Diego Hills akan memiliki Musoleum (pemakaman di atas tanah di mana peti mati diletakkan di suatu ruangan beton di dalam gedung) yang pertama di Indonesia, juga Columbarium, pemakaman di atas tanah untuk abu kremasi yang diletakkan di dalam sebuah relung di suatu ruangan yang dibatasi dengan tembok.
San Diego Hills Memorial Park dilengkapi National Heroes Garden, area pemakaman yang dipersembahkan untuk menghormati jasa-jasa tokoh nasional dalam bidang seni, budaya, dan kesusasteraan, pendidikan, pemerintahan dan olahraga.

Selain itu San Diego Hills akan menjadi tempat di mana pasangan muda merencanakan kehidupan mereka ke depan atau mengenang memori yang pernah mereka lakukan bersama, tempat di mana orang mendapat inspirasi untuk melukis, tempat di mana guru membimbing murid untuk belajar membaca, tempat di mana orang bisa mengenang yang telah meninggal di atas batu marbel yang indah. Tidak menakutkan Yang pasti. pemakaman ini jauh dari kesan menakutkan, tidak rapi, tidak aman, tidak memberi kedamaian dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk mengenang anggota keluarganya yang telah tiada. Sebab, pemakaman ini dilengkapi dengan restoran bintang lima, fasilitas kolam renang, lapangan basket, lapangan bola, jogging track, olahraga bersepeda. Juga ada taman rerumputan yang indah untuk melangsungkan acara atau pertunjukan ruang, florist dan giftshop, dan toko. Bangunan dan fasilitas ini berada dekat danau buatan raksasa seluas 8 hektar. Kawasan.

Disarikan
Sumber :kompas, Buku Brosur

Taman Menteng Baru

 

 

Taman Taman Menteng Baru


taken from: many source




TAMAN MENTENG ,PARU_PARU
KOTA

Taman Menteng Baru Jakarta, berdiri diatas tanah seluas sekitar 3,5 hektar, bekas Stadion Sepakbola Persija.Di
Jakarta, mungkin hanya Menteng yang memiliki cukup banyak taman.
Di kawasan itu ada 20-an taman lingkungan, antara lain Taman
Kudus, Taman Panarukan, dan Taman Kodok; dua taman kota (Taman
Suropati, Taman Tugu Tani), serta sebuah situ (Situ Lembang).
Tempat-tempat itu terhubung melalui koridor pepohonan, jalur
hijau jalan dengan median dan pedestrian yang lebar.
Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2007, Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta meresmikan taman kota di daerah itu. Taman baru itu
adalah Taman Menteng yang dulu merupakan lapangan sepak bola
Persija.
Taman itu mulai dibangun tahun lalu di atas lahan
seluas 3 hektar dan menelan biaya Rp 35 miliar. Sabtu sore
mendatang, rencananya taman itu dibuka untuk umum.
Oleh Pemerintah Belanda,  tahun 1913 kawasan  Menteng
memang dirancang sebagai kota taman tropis. Peracangnya arsitek
Belanda, PAJ Mooejen dan FJ Kubatz. Sebagai kota taman tropis
salah satu cirinya yaitu alokasi lahan untuk ruang terbuka hijau
(RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota.
Konsep dan disain Taman Menteng ini berdasarkan sayembara yang
dimodifikasi. Ketua tim adalah Ir Kanarya,M.Arch Urban Design

Sejarah
Awalnya adalah lapangan yang didirikan tahun 1921 dengan nama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld). Stadion ini dirancang oleh arsitek Belanda, F.J. Kubatz dan P.A.J. Moojen. Dalam perkembangannya stadion ini kemudian digunakan oleh Persija.
Stadion sepak bola Persija di Menteng merupakan salah satu kebanggaan warga Jakarta dan paling bersejarah, baik dalam sejarah Kota Jakarta maupun persepakbolaan di Jakarta dan Indonesia.
Para pemain pesepak bola legendaris Indonesia pernah merumput di
tempat ini, seperti Ronny Paslah, Tan Som Tjhiang, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani.
Sejak tahun 1921, lahan seluas 3,4 hektar  tersebut sudah digunakan sebagai tempat berolahraga orang-orang Belanda. Selanjutnya, stadion tersebut digunakan untuk masyarakat umum, dan pada tahun 1961 hingga saat ini digunakan sebagai tempat bertanding dan berlatih bagi Tim Persija. Pada 1975, Surat Keputusan Gubernur Jakarta Tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.

 

 
 DAFTAR PUSTAKA

· Harian Kompas, buku “Menteng, Kota Taman Pertama” by Grace Wijaya dan Adolf Heuken SJ
.

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok–Rumah Panggung di Kampung Melayu

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok

Rumah Panggung di Kampung Melayu

24 Februari 2016

Kampung Melayu merupakan salah satu kampung di Kota Semarang yang memiliki potensi citra budaya yang khas, yaitu multi etnik dengan beragam artefak arsitektural.

RUMAH panggung warga Banjar adalah salah satu artefak yang masih dapat ditemukan keberadaannya di Kampung Melayu. Hal itu merupakan hasil kebudayaan masyarakat Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat serta kebudayaan lain.

Ketika Suara Merdeka menelusuri Kampung Melayu, Selasa (23/2), rumah panggung yang dahulu menjadi ciri khas, jumlah kini tak ada puluhan. Beberapa yang tersisa ada yang masih dihuni, ada yang dikosongkan, dan ada pula yang dipasang tulisan “Dijual”. Kondisi bangunannya pun sebagian besar rusak, hanya beberapa yang terawat.

Seperti rumah panggung milik Hilal (30), warga Jalan Layur No 104 salah satunya. Kayu jati bercat hijau itu masih terlihat kokoh. Akan tetapi, batas bangunan lantai dua dan lantai satu hampir setara dengan ketinggian jalan. Pasalnya, lantai dasar rumah itu telah ditinggikan hingga dua meter karena rob sering menerjang kawasan itu.

Jalan Layur yang dahulu sering tergenang luapan Kali Semarang pun kini ditinggikan dan dipaving. ‘’Rumah ini peninggalan simbah saya. Mbah Kartadinata. Rencana mau kami bongkar, karena semakin tenggelam. Selama saya tinggal di sini, sudah ditinggikan dua meter,’’ kata ibu dua anak itu, kemarin.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Taufan Madiasworo, mahasiswa Pascasarjana Teknik Arsitektur Undip pada 2001, kebudayaan Banjar berpengaruh kuat terhadap bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu Semarang yang tercermin dari fungsi dan susunan ruang, konstruksi dan ragam hias.

‘’Bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu merupakan bagian dari sistem budaya yang mencakup bagian-bagian sistem lain seperti organik, social, dan kepribadian serta merupakan ekspresi dari kebudayaan Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat, serta kebudayaan lain, seperti kebudayaan Tiongkok dan kebudayaan Indis yang berkembang saat Pemerintahan Kolonial. Selain itu, mengalami adaptasi dengan lingkungan dan kondisi setempat,’’ paparnya.

Interpretasi

Hal itu, kata Taufan, menyebabkan terjadinya akulturasi dalam pola perubahan desain rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu yang cenderung memiliki bentuk baru dengan makna lama.

Dengan demikian, terjadi interpretasi baru terhadap bentuk lama yang pada dasarya tetap berakar dari kebudayaan Banjar. Rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu memiliki ciri khusus dan unik yang justru memperkaya khasanah variasi arsitektur tradisional di Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Banjar itu, kata Taufan, terlihat dari bagian kemuncak atap, listplank, pagar teras, penyangga atap tritisan, dinding penyekat, dan tangga. Selain itu, ragam hiasannya ukiran kaligrafi Arab. Ornamentasinya minimalis, berbeda dari yang asli di Banjar Kalimantan Selatan.

‘’Ragam hias batu berukir pada bagian kemuncak atap sulit dilacak maknanya, yang merupakan pengaruh arsitektur Indis. Kemudian ragam hias geometris dengan hiasan bunga peony merupakan pengaruh arsitektur Tiongkok,’’ jelasnya.

Saat ditemui di kantornya, Lurah Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Dwiyanto menjelaskan, banjir dan rob yang beberapa tahun sering menerjang Kampung Melayu membuat rumah panggung sebagai ciri khas permukiman di wilayah itu dibongkar oleh pemiliknya.

‘’Kalau pun yang sekarang ini masih ada, sebagian kondisinya rusak. Dan paling banyak masih ada di wilayah RW 3 dan RW 4,’’ tuturnya. (Muhammad Syukron-71)

Dikutip dari: Suaramerdeka

Ruang makan bernuansa Shanghai 1920


Seri Arsitektur taken from: Kompas

Ruang Makan Bernuansa Shanghai

KOMPAS.com

Desainer interior Agam Riadi, lewat pergelaran pembuka “Celebrating The Year of Rabbit with Touch of Interior Design by 12 Indonesian Designers” di rumah galeri Elite Grahacipta, merancang ruang makan bernuansa Shanghai pada era 1920-an. Nuansa glamor dipadu dengan warna yang menyimbolkan keceriaan menjadikan ruang makan ala Shanghai hadir di depan mata.

Menurut Agam Riadi, rancangannya kali ini terinspiransi kalangan elite di China pada era 1920-an, khususnya di kota Shanghai yang sudah mengenal kehidupan nan glamor. Pengaruh gaya hidup glamor di Shanghai menular ke kota-kota lain di Asia, bahkan sampai Eropa./p>

Salah satu yang cukup dikenal sampai hari ini adalah busana chong siam atau Shanghai dress. Dalam rancangan ruang makan ini, Agam memakai lukisan yang menggambarkan gadis-gadis Shanghai yang glamor, elegan, dan ceria./p>

Untuk kesan elegan, Agam menata ruang makan dengan kursi dan meja makan berwarna coklat. Penambah warna merah muda di dinding dan warna hijau muda di tanaman menumbuhkan kesan ceria di ruang makan sembari merayakan Tahun Kelinci Emas. (Teks: Natalia Ririh)/p>

City Walk Sebagai Alternatif Penataan Kota Tua


City Walk Sebagai Alternatif Penataan Kota Tua

Jakarta Barat Rabu, 08 September 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih city walk sebagai konsep alternatif penataan kota tua yang terletak di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

“Saat ini konsepnya masih digodok di Bappeda Provinsi,” ujar Kepala Sub Bagian Tata Ruang dan Pengembangan Kota Administrasi Sarana Perkotaan Jakarta Barat, Bambang Djoko Susilo, di Jakarta Rabu (8/9).

Menurut Bambang, konsep city walk ini sangat cocok untuk penataan kota tua yang masih memiliki gedung-gedung bernilai historis. “Karena kota tua memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah pariwisata, sehingga konservasi gedung tua dinilai perlu dilakukan,” ujarnya.

Menurut Bambang, masalah yang ditemui saat ini ialah bagaimana melakukan penataan gebung-gedung tua tersebut, yang notabenenya milik masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah berencana untuk membentuk forum bebas yang menangani penataan gedung-gedung tersebut.

“Anggotanya terdiri dari pakar tata kota, misalnya Ikatan Arsitektur Indonesia, mahasiswa, dan terutama masyarakat sekitar sendiri. Sebelum pembentukan forum ini, langkah awal yang harus dilakukan ialah menangani kemacetan lalu lintas yang tiap hari terjadi.

Bambang menjelaskan, busway adalah langkah awal yang baik, yang akan dikembangkan untuk transportasi ke kota tua. Sampai saat ini busway baru sampai Stasiun Kota.

“Nantinya, jalur busway akan dibuat mengelilingi kota tua. Sehingga di tengah kota tidak ada kendaraan bermotor, yang ada hanya ojek sepeda sebagai transportasi utama di dalam kota tua,” katanya.

Dipilihnya ojek sepeda sebagai transportasi utama juga untuk tetap melestarikan mata pencaharian warga sekitar kota tua, yang memang dari dulu telah ada.

Penataan kota tua ini kemungkinan juga akan diikuti oleh pemugaran gedung-gedung tua. Bambang menjelaskan, tipe pemugaran ada dua, yaitu pemugaran yang dilakukan dengan tidak mengubah ciri-ciri aslinya dan pemugaran yang tidak boleh dilakukan sama sekali, contohnya museum.

Ami Afriatni – Tempo News Room

Empat Dekade Arsitektur UI

logo Empat dekade arsitektur UI
taken from: web.bisnis.com

Ngejreng dan norak. Dua kata yang sering ditujukan untuk sesuatu yang terlihat mencolok itu, memang pantas ditujukan untuk gedung seluas 25.825 m2 yang terkenal sebagai salah satu tempat nongkrong di kawasan Thamrin, Jakarta.

Balutan warna terang menyala membuat gedung itu gampang dikenali. Bangunan berbentuk jajaran kotak tumpang tindih, memang membuat EX Plaza Indonesia terlihat beda dibandingkan dengan gedung-gedung lain di sekitarnya.

Ketika menyusuri gedung itu dari dalam, juga tak kalah seru, seperti masuk ke dunia fantasi anak muda masa kini. Alunan musik jazz dan etalase pakaian bermerek di satu tempat, akan segera diikuti bau popcorn dan kopi di tempat yang tidak jauh jaraknya.

Di sudut lain, dentuman hip-hop dan alunan musik khas para pencinta clubbing ikut meningkahi semua keramaian yang ada di lorong sepanjang 60 meter di lantai dua gedung itu.

Tempat favorit sebagian besar anak muda yang hidup di kota besar itu merupakan hasil karya Dicky Hendrasto. Dia adalah arsitek lulusan Universitas Indonesia (UI) pada 1980-an, universitas yang telah melahirkan beragam karakter arsitek dalam 40 tahun terakhir.

“Arsitek lulusan UI pada zaman ini [1980-an] bisa dibilang mencari citra yang lebih liar,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional Budi A. Sukada, yang juga lulusan UI.

Lebih liar, karena arsitektur hasil karya sang arsitek pada zaman itu lebih berani menonjolkan jati diri dan lebih liberal.

Pada era 1980-an, arsitek lulusan UI masuk dalam kategori dekade angkatan muda. Pada masa ini, arsitek lulusan UI ikut memiliki perkumpulan bebas di kalangan arsitek muda lainnya yang pada waktu itu masih berusia di bawah 30 tahun.

Dari sini, mereka menerima kenyataan bahwa arsitektur pascamodern sudah mendunia. Namun, mereka tidak mau mengikutinya begitu saja. Kalangan arsitek ini mengalihkan perhatian ke upaya pemurnian wujud ekspresif dan rasionalitasnya secara ekstrem dalam setiap karyanya.

Permainan warna sangat ditonjolkan. Unsur estetika menjadi dominan, dengan meminimalisasi unsur fungsional dalam karya yang mereka hasilkan.

Selain EX Plaza Indonesia, restoran dan bar New Blowfish di Jakarta juga mencerminkan karya arsitek angkatan muda UI. Sonny Sutanto adalah sang arsiteknya. Dia juga masuk dalam angkatan 1980-an di universitas itu.

Tak jauh berbeda dengan EX Plaza Indonesia, New Blowfish yang berlokasi di Wisma Mulia juga dijejali beragam permainan warna mencolok.

Unsur penonjolan diri juga terlihat dari pengaturan gentong sake yang berjejer di dinding lounge dan pemasangan foto raksasa geisha di atas langit-langit ruang dansa.

Lebih kalem

Karya-karya arsitek yang digolongkan sebagai angkatan muda (1980 ke atas) memang berbeda dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya, yakni angkatan periode 1965 hingga 1980.

Menurut Budi, karakteristik karya arsitektur yang dilahirkan oleh arsitek lulusan UI yang masuk dalam golongan angkatan tua tergolong malu-malu.

Karya-karya mereka, menurut Budi, memperlihatkan sikap ‘merendah’, dengan pemilihan warna yang kalem dan senada, sedapat mungkin berwarna tunggal (monokrom), dan menampilkan warna alami yang dihasilkan oleh bahan bangunan itu sendiri ketimbang cat.

Dalam merancang suatu bangunan, banyak pertimbangan yang harus dibuat. Unsur fungsional menjadi patokan utama oleh arsitek yang digolongkan dalam angkatan tua itu.

Latar belakang kebijakan pemimpin daerah pada zaman itu juga turut memengaruhi. Pada era itu, penguasa daerah mewajibkan bangunan gedung negara dalam wilayah kewenangannya dirancang atas dasar ciri khas visual daerahnya masing-masing.

Pada saat yang sama, para pengembang melihat potensi pergerakan baru tersebut sebagai ladang ciri arsitektur baru yang laku dijual kepada masyarakat. Hasilnya, karya-karya baru arsitektur Indonesia saat itu dipenuhi berbagai kombinasi atap.

Salah satu hasil karya yang menerjemahkan ciri khas arsitektur zaman itu di antaranya Balairung Universitas Indonesia yang berdiri kokoh sejak 1985. Bangunan itu merupakan hasil karya Budi yang masuk dalam angkatan 1970.

Rancangan gedung pertemuan di kampus UI, Depok, ini oleh Budi dibuat penuh pertimbangan dan sarat unsur fungsional.

Halaman di dalam sedapat mungkin dipakai menurut fungsi utamanya, yaitu tempat untuk berkumpul dengan pola memusat.

Bagian pusat ini dianggap tempat yang paling sakral. Dan, kata Budi, halaman tengah dari Balairung ini sangat cocok untuk para wisudawan sebab merekalah objek yang dianggap sakral dalam acara tersebut.

Dari segi pewarnaan, yang dipilih juga serupa dengan warna tanah. Warna tidak begitu dipermainkan. Justru yang menonjol adalah bagian atap. Atap Balairung dibuat dengan bentuk limasan berdasarkan inspirasi gaya Jawa.

Gaya arsitektur para arsitek angkatan tua ini tidak banyak berubah, kendati para pengembang atau pemilik proyek justru memberikan akomodasi lebih besar pada karya-karya yang lebih berani.

Pada saat angkatan muda berlomba memberikan warna beda dalam arsitektur Indonesia, para arsitek angkatan tua, menurut Budi, masih tetap mengedepankan kesederhanaan dan kehati-hatian. (redaksi@bisnis.co.id)

Jangan “Keok”… Arsitek Indonesia Harus Jadi Tuan!

LTFSandiaga Uno, pendiri PT Saratoga Investama Sedaya, bersama-sama anggota Badan Pertimbangan Organisasi DPP REI, Pribudhi Tasman, serta Ketua Departemen Arsitektur UI Prof Yandi Andri Yatmo, usai acara seminar ‘Archipreneur: Bisnis Arsitektur Menghadapi MEA’ di Kampus FTUI, Depok, Sabtu (20/2/2016) lalu.

DEPOK, KOMPAS.com – Banyak pengguna jasa arsitek, dalam hal ini developer atau pengembang properti, tidak yakin menggunakan jasa arsitek dalam negeri. Di sisi lain, tak sedikit arsitek Indonesia merasa kurang percaya diri.

Demikian hal itu mengemuka pada seminar ‘Archipreneur: Bisnis Arsitektur Menghadapi MEA’ yang diselenggarakan oleh (Ikatan Alumni/Iluni) ARS Universitas Indonesia, Ikatan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik UI, dan Departemen Arsitektur UI, Sabtu (20/2/2016) lalu di Kampus UI, Depok.

Namun sebenarnya, kesimpulan seminar itu memaparkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) arsitek Indonesia tidak kalah dengan arsitek luar negeri atau asing. Saat ini semakin banyak arsitek anak bangsa yang karyanya mumpuni dan diakui di luar negeri.

Sandiaga Salahuddin Uno, Founder of PT Saratoga Investama Sedaya, yang menjadi narasumber menyatakan sepakat dengan pendapat tersebut. Menurut dia, agar dapat bersaing di area Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) para arsitek Indonesia harus membuka diri terhadap arus globalisasi, terutama untuk transfer teknologi.

“Tidak perlu khawatir akan didominasi arsitek asing, karena mereka akan tunduk dengan regulasi yang ada di Indonesia,” ujar Sandiaga.

“Arsitek kita harus melihat ini sebagai peluang. Kalau melihat perkembangan bisnis arsitek di tanah air, saya optimistis arsitek kita bisa bersaing dengan arsitek-arsitek luar negeri dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tambah Sandiaga yang sedang digadang-gadang maju dalam Pilkada DKI Jakarta mendatang.

Dia menambahkan, untuk bisa bersaing, arsitek Indonesia harus berkolaborasi dan meningkatkan daya saingnya lewat bermacam inovasi. Mereka juga harus secara kreatif menggabungkan berbagai aspek arsitek dengan entrepreneur menjadi archipreneur.

Pada kesempatan sama, anggota Badan Pertimbangan Organisasi DPP REI, Pribudhi Tasman Suriawidjaja, mengakui pada era 1990-an kualitas konsultan arsitek dalam negeri belum sebaik sekarang. Kondisi itu sangat berbeda dengan saat ini.

“Dulu itu, kalau kita mengundang konsultan asing, mereka langsung memberikan masukan rencana pengembang alternatif yang komprehensif, sementara konsultan Indonesia malah bertanya kita mau buat apa. Sekarang sudah berbeda, arsitek Indonesia sudah jauh lebih baik. Mereka mampu mengusulkan tidak hanya konsep desain, tapi apa yang bisa dijual. Arsitek kita sudah banyak pengalaman,” kata Pribudhi.

REI sendiri, lanjut Pribudhi, mendorong anggotanya, khususnya pengembang daerah untuk memanfaatkan jasa arsitek lokal. Selain lebih murah, kualitas pekerjaannya pun tidak kalah dengan orang bule.

“Di era MEA sudah dipastikan akan banyak investasi asing masuk. Mereka mungkin bawa konsultan dari negaranya, tapi mereka tetap butuh partner di sini. Kenapa, karena mereka tidak menguasai budaya dan adat istiadat lokal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Arsitektur UI Prof. Yandi Andri Yatmo mengatakan, perkembangan desain dan bisnis arsitektur di Indonesia sangat pesat. Sayangnya, menurut dia, hal itu tidak didukung dengan infrastruktur perundang-undangan yang jelas.

“Belum ada perlindungan terhadap praktik-praktik berarsitektur di Indonesia,” ujar Yandi.

Dia berharap, Undang-undang Arsitektur yang masih digodok DPR dapat selesai tahun ini. Tak lain sebabnya, lanjut Yandi, di area MEA nanti profesi arsitek termasuk yang sangat membutuhkan regulasi itu.

“Kita harus berhati-hati, karena Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Mestinya arsitek kita yang diserap. Untuk itu, mulai cara bisnis, cara bekerja, dan sikap merasa jagoan sebagai orang lokal harus diubah,” ucap Yandi.

Yandi menyarankan, arsitek Indonesia harus percaya menghadapi pihak asing. Sebagai tuan rumah, arsitek lokal unggul karena lebih tahu negaranya.

“Harusnya tak ada masalah dengan MEA, karena justru investor asing yang butuh arsitek Indonesia,” ujarnya.

Penulis : Latief
Editor : Latief

Lokalitas, Tren Arsitektur 2016

Lokalitas, Tren Arsitektur 2016

ideaonline.co.id
Salah satu rumah karya arsitek Yu Sing yang mengusung konsep kearifan lokal.
JAKARTA, KOMPAS.com – Perkembangan pasar properti 2016 tak melulu soal pasar dan penjualan perumahan atau apartemen. Salah satu yang ikut berkembang adalah dari segi arsitektur.

Lokalitas menjadi isu utama dari tren arsitektur 2016. Tren ini diproyeksikan akan terjadi di seluruh proyek pembangunan perumahanmaupun apartemen.

“Tahun 2016 yang sudah pasti lokalitas itu akan semakin banyak. Bisa kita lihat beberapa apartemen, contohnya di Alam Sutra itu unsur lokalitasnya semakin ada, semakin tematik. Jadi trennya pasti ke sana,” jelas arsitek PT Arya Cipta Graha, Cosmas Gozali, di Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Cosmas juga menjelaskan bahwa lokalitas yang dimaksud adalah dengan menggunakan bahan-bahan material dari lokasi proyek pembangunan dilaksanakan.

“Kita banyak sekali misalnya bata. Kalau proyeknya di Sumatera carilah bahan-bahan material yang buatan Sumatera jangan melulu semuanya didatangkan dari Jawa,” imbuh dia.

Untuk mendukung itu, Cosmas menyarankan pemerintah dan pengembang membuka kesempatan bagi manufaktur untuk memperlus bisnisnya.

“Nah yang seperti itu, sebetulnya manufaktur harus diajak, harus dibuka situasi-situasi untuk mereka investasi di berbagai pulau. Ini supaya tidak semuanya terpusat di Pulau Jawa saja,” harap Cosmas.

Bukan hanya itu, lokalitas juga bisa dimunculkan dari desain arsitektur bangunan. Misalnya dengan menggunakan corak-corak etnik budaya Indonesia dalam.

Segi arsitektur sendiri tak bisa dilepaskan dari bisnis properti. Keberadaannya mampu menjadi patokan harga bagi perumahan atau apartemen.

“Pengaruhnya akan cukup besar sekali buat harga pasar makanya kita sebagai arsitek tidak hanya membuat bangunan indah tapi jugaaffordable,” kata Cosmas.

Lokalitas juga bisa menjadi kunci bagi para arsitek untuk bersaing dengan arsitek asing dalam persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Apalagi untuk tahun depan ya seperti saya bilang tadi lokalitas itu hanya kita yang tahu, hanya orang Indonesia yang tahu. Orang asing nggak tahu soal itu,” ucap Cosmas.

Cosmas berharap para arsitek Indonesia mampu membawa lokalitas itu ke pentas global demi dapat bersaing dengan langgam arsitektur lainnya.

Penulis : Ridwan Aji Pitoko
Editor : Hilda B Alexander

Mesjid Angke


Seri Konservasi Bangunan Relijitaken from: Kompas

Masjid Angke

Dari berbagai sumber
Walaupun berukuran kecil –15×15 m2 berdiri di atas lahan 200 m2–, tapi masjid ini adalah salah satu masjid bersejarah yang dilindungi oleh UU Monumen (Monumen Ordonantie Stbl) No.238 tahun 1931, juga diperkuat oleh SK Gubernur KDKI Jakarta tanggal 10 Januari 1972. Bangunannya cukup menarik karena memperlihatkan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur. Ada gaya Banten kuno dan Cina, juga pengaruh Hindu.Atapnya berbentuk cungkup bersusun dua model arsitektur khas Cina, dengan ujung cungkup (nok) berbentuk kuncup melati, tertempel bekas horn sirine kecil. Bentuk jurai/sopi-sopi di masing-masing atapnya membengkok di bagian ujung bawah. Dan di keempat ujung jurainya, bercuping seperti bunga terompet. Bentuk list-plang kayunya bermotif ombak dengan bonggol kuncup melati terbalik di setiap sudutnya. Sedang model kusen pintu berdaun dua, seperti lumpang terbalik bermotif ukir-ukiran di bagian bawah dan atas pintu.
Di halaman belakang masjid ini terdapat beberapa makam. Di antaranya adalah makam dengan nisan bertuliskan Syeikh Ja’far, akan tetapi tidak diketahui asal-usulnya. Di sebelahnya terletak juga 3 buah cungkup dengan nisan bertuliskan huruf Cina. Tapi ada satu makam yang cukup jelas menunjukkan tentang sosok seorang yang dikuburkan di situ. Makam itu milik almarhum Syeikh Syarif Hamid Al Qadri (di timur masjid), yang dikenal sebagai pangeran dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Tahun 1800-an, ia ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Batavia, hingga kemudian wafat di Batavia. Tertulis pada nisannya, “meninggal dalam usia 64 tahun 35 hari pada tahun 1274 H atau 1854 M”.

Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda yang mengadakan penelitian tentang masjid ini, DR. F. Dehaan, dalam bukunya “Oud Batavia” menuliskan bahwa Masjid Angke Al Anwar didirikan pada hari Kamis 26 Sya’ban 1174 atau 2 April 1761. Dehaan juga menulis bahwa konon masjid ini didirikan oleh seorang wanita Cina dari suku Tarta yang menikah dengan seorang pria Banten. Kisah itu didapatkan oleh Dehaan melalui cerita dari mulut ke mulut penduduk sekitar Angke ketika itu.

Seperti halnya masjid-masjid yang didirikan pada masa perjuangan, masjid ini pun dijadikan sebagai basis perjuangan masyarakat sekitar masjid setelah proklamasi kemerdekaan. Aksi perjuangan itu terutama dipelopori oleh para ulama Angke, yang mengobarkan semangat kepada para pemuda Angke. Rapat-rapat rahasia yang sering dilakukan di masjid itu tak pernah tercium oleh pihak Belanda. Sehingga dalam perkembangannya, bangunan Masjid Angke Al Anwar tidak sedikitpun tergores oleh peluru Belanda, tidak seperti Masjid Al Mansur di Sawah Lio.

Tapi sayang mungkin karena lebih mengutamakan fungsinya, penambahan-penambahan sarana di pelatarannya membuat masjid terlihat kumuh. Bagian dalam pun demikian, jauh dari kesan bersih. Banyak tukang air yang bertiduran di dalam masjid—-di luar pagar adalah hidran PAM untuk umum. Keberadaannya yang berada disekeliling pemukiman padat model MHT, menguatkan kesan seperti tersembunyi dibalik hiruk-pikuk aktivitas masyarakat sekitar.

Masjid Angke Al Anwar persisnya terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Gang Masjid I Rt. 001 Rw. 05, Kelurahan Angke. Dari Terminal Bus Grogol ada beberapa angkutan yang bisa mengantar ke lokasi. Carilah angkutan ke arah Pluit atau Jembatan Tiga. Lalu turun di Fly-Over Jembatan Dua, Jalan DR. Latumeten. Lebih dekat lagi jika menggunakan KA Jabotabek, turun saja di Stasiun Angke.


Google

© COPYRIGHT 2005-2010 – Eddy S. Lee

banner

your adv here