Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Arsi Indische/kolonial

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

Silvia Galikano, CNN Indonesia
Minggu, 03/04/2016 20:30 WIB
OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker
Gedung OLVEH di masa kejayaannya. (Dok. JOTRC)

Jakarta, CNN Indonesia — Cat putih, gaya bangunan neoklasik, dan dua menaranya yang gagah membuat Gedung OLVEH menonjol dari kejauhan.

Semakin menarik ketika didekati, terdapat susunan batu membentuk tulisan “OLVEH van 1879” di lantai teras. Dan untuk masuk, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena lantai dasar gedung ini lebih rendah 60 sentimeter dari permukaan jalan.

Bukan karena sengaja dibangun di bawah permukaan jalan, melainkan proyek peninggian jalan yang berlapis-lapis tanpa ampun dari tahun ke tahun telah menenggelamkan gedung-gedung di kiri-kanan jalan.

Gedung milik asuransi Jiwasraya di Jalan Jembatan Batu no 50, Pinangsia Jakarta Barat ini sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Cat dindingnya kusam, bahkan terkelupas. Tanaman tumbuh liar di sela-sela tembok.
Bangunan ini punya sejarah menarik. Didesain oleh arsitek Schoemaker dan dibangun F. Loth untuk kantor Onderlnge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp (OLVEH), perusahaan asuransi jiwa yang berdiri pada 1879, berpusat di Den Haag, Belanda. Upacara peletakan batu pertamanya diadakan pada 1921 atas permintaan putri direktur, Peereboom Voller.Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) kemudian mengkonservasi gedung tersebut sejak akhir 2014. Peresmian rampungnya konservasi diadakan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Gedung OLVEH yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 7 Januari 1922 adalah gedung tiga lantai dengan dua menara. Lantai pertama dan kedua disewakan untuk tenant, sedangkan kantor OLVEH menempati lantai tiga.

Sebuah tangga marmer didesain dengan keamanan yang baik sebagai penghubung antarlantai. Toilet dan kamar mandi dibedakan dengan jelas dan didesain menggunakanexhaust.

Boy Bhirawa, arsitek yang mengkonservasi Gedung Olveh, menjelaskan, pada awalnya, tim konservasi belum mengetahui nama arsitek yang mendesain gedung OLVEH.

Ketika Boy melihat ke dalam gedung, termasuk lantai atas, dan memperhatikan detailnya, sampailah dia pada kesimpulan yang membuat gedung ini bukanlah arsitek biasa.

Sang arsitek membagi ruangan dengan sistem yang jelas sekali: tiga melintang dan tiga membujur serta kolom hanya ada di tengah ruangan dan tak ada di samping.

Selain itu, dari kolom yang dindingnya rontok hingga tampak tulangnya, diketahui bangunan ini berasal dari zaman peralihan sebelum dinding struktur beton bertulang menjadi umum.

Terdapat langit-langit kaca (skylight) di lantai tiga yang memberi cahaya cantik dan berbeda-beda di ruangan dari pagi hingga petang. Teknologinya pun luar biasa, memberi dudukan besi yang membuat air hujan tidak masuk ke ruangan. Pada masa itu, skylight adalah sesuatu yang baru.

“(Lantai tiga) ini crème de la crème bangunan. Cahaya dari atas membuat ruangan punya cahaya sendiri yang berubah-ubah dari pagi sampai sore,” kata Boy.

“Tanpa melihat jam, kita bisa tahu sekarang pukul berapa. Bahkan kalau lebih peka lagi, bisa tahu bulan apa, hanya dari sudut jatuhnya cahaya matahari.”

Skylight dianggap sebagai konsep tinggi seperti memasukkan waktu ke dalam ruang. Arsitektur ini dianggap abadi, mati waktu, terbekukan melalui ada cahaya yang berubah terus sejak terbit hingga terbenamnya matahari.

Gedung Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (cat putih) atau OLVEH dahulunya adalah kantor perusahaan asuransi Belanda dan saat ini selesai direvitalisasi oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC), Jakarta, Selasa, 23 Maret 2016. Bangunan ini menjadi saksi turunnya permukaan tanah di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Dua wajah

Perhatiannya pun tertambat pada adanya dua balkon, yang menghadap depan dan menghadap belakang. Artinya gedung ini menghadapkan wajah ke depan dan ke belakang. Wajar jika menghadapkan wajah ke depan karena di sanalah pusat bisnis Batavia. Tapi ke belakang?

Di belakang gedung ini adalah kawasan Pecinan. Di sana ada klenteng dan rumah abu selain perkampungan penduduk Tionghoa. Inilah cara sang arsitek menghormati penduduk dan budayanya. Dengan memberi balkon ke arah Pecinan, dia memberi satu bagian wajahnya ke belakang untuk komunitas, bukan membelakangi.

Sebagai kantor bisnis keuangan, wajar jika bangunan ini punya menara dan pilar-pilar. Dua menara membuat gedung ini mudah dikenali sebagai kantor selain tampak bergengsi. Pilar-pilarnya jadi simbol kekuatan, ketahanan, matang, dan mapan.

“Itu sebabnya kantor jasa keuangan, seperti bank dan asuransi, mengambil bangunan klasik. Tujuannya untuk mengesankan bisnis mereka sudah berjalan lama agar masyarakat merasa aman menitipkan uang di sana,” ujar Boy.

Schoemaker bersaudara

Pencarian arsitek yang mendesain gedung ini pun dilakukan. Pusat Dokumentasi Arsitektur tak menyimpan data tentang gedung OLVEH. Lantas ditemukan guntingan surat kabar Hindia Belanda Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 31 Desember 1921.

Di sana tertulis arsitek Gedung OLVEH yang berada di Voorrij Zuid (nama jalan Jembatan Batu waktu itu) adalah Profesor Schoenmaker (kemungkinan maksudnya Schoemaker, tanpa “n”).

Lantas timbul pertanyaan, Schoemaker yang mana? Karena kakak-adik Schoemaker, Wolff (1882-1949) dan Richard (1886-1942), sama-sama arsitek dan sama-sama guru besar di Technische Hogeschool (sekarang ITB).

Karena Richard sudah ditabalkan sebagai guru besar pada 1920, sedangkan Wolff baru dua tahun kemudian, maka artikel itu dipastikan mengacu pada Richard Schoemaker. Namun dari gaya bangunan, tim konservasi cenderung meyakini bahwa ini karya Wolff Schoemaker.

Bagian dalam Gedung Olveh sebelum renovasi. (Dok. JOTRC)

“Kubah dua menaranya persis kubah Gereja Bethel di Bandung, karya Wolff Schoemaker. Menaranya pun didesain bersusun mirip teknik perspektif bangunan candi,” kata Boy.

Ditambah lagi, ada faktor kemanusiaan yang menguatkan bahwa Wolff-lah perancang utama gedung OLVEH. Hidup Wolff dibagi tiga periode, yakni lahir di Banyubiru, Indonesia; bersekolah di Delft, Belanda.

Masa Wolff bersekolah adalah masa puncak para arsitek muda punya statement, sepertide stij, amsterdam syle, dan semuanya kuat. Sebuah pemberontakan terhadap gaya lama.

Semangat itu dia bawa saat kembali ke Batavia. Pada masa awal, Wolff masih bergaya modernis.

“Seorang arsitek senior Belanda saat itu menasihati, jika Wolff hendak membuat arsitektur di Hindia Belanda seharusnya mempertimbangkan iklim tropis Nusantara dengan menerapkan gaya arsitektur Indische. Dan dia berusaha memahami,” ujar Boy.

Pada periode pertama Wolff berkarya, desainnya belum tropis, tak ada teritis sehingga saat hujan akan tampias ke dalam.

Pada saat yang sama, Wolff suka candi. Posisi candi berstruktur telanjang, tak ada “genit-genitnya” karena memang bukan tempat tinggal.

Bentuk candi ini dia ikuti. Menara gedung OLVEH yang berundak adalah menyalin bentuk candi, dan ekspresi itu masih belum tropis untuk ditinggali.

“Karena itu kami punya masalah dalam hal ini. Kalau hujan, di sini tampias, juga tampias ke jendela kayu,” kata Boy.

Pada periode ke-dua, dia mulai mengatasi masalah tropis. Dan pada periode ke-tiga, rancangan Wolff Schoemaker sudah sangat Nusantara.

Bagian dalam gedung OLVEH usai renovasi. (Dok. JOTRC)

Wolff adalah ilmuwan yang menguasai ilmu teknik, budaya, dan seni rupa. Dia pun bekerja di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (BOW, Dinas Pekerjaan Umum). Maka wajar jika tahu lebih dulu jika di sini akan jadi pusat bisnis.

Sebagai catatan, Gedung OLVEH dibangun saat kawasan plaza (Stationsplein) belum terbentuk. Stasiun BEOS, Nederlandsche Handel Maatschappij (kini Museum Bank Mandiri), dan Nederlandsch-Indische Handelsbank (kini Bank Mandiri) belum berdiri.

Dari sisi komplikasi personal, Wolff lebih komplit, dia mengalami pindah agama. Dikabarkan, Wolff menjadi muslim pada awal 1930-an, walau pada akhirnya dimakamkan secara Nasrani di ereveld Pandu, Bandung.

“Masalahnya bukan agama apa, tapi dia mencari kebenaran. Prosesnya mempelajari candi adalah juga proses mencari kebenaran. Proses itu menjadi penting buat saya, karena kalau kita bicara arsitektur saja, maka terbatas fisik. Sedangkan ini tatarannya bukan hanya profesional, tapi juga wisdom,” kata Boy menguraikan.

Wolff dianggap memenuhi proses, yakni sebagai arsitek, pengajar, militer, bekerja di BOW, hingga akhirnya independen bekerja di perusahaan sendiri. Dua bersaudara Richard L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker mendirikan C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs.

Meski demikian, lanjut Boy, tak terlalu penting siapa yang merancang karena keduanya berada di satu perusahaan, sehingga tugas merancang bisa dikerjakan bergantian.

“Kalau toh ini dilepaskan ke adiknya, pengaruh Wolff banyak sekali karena pengetahuan dia sudah beyond, sudah religion.” (les/les)

Villa Nova di Gedong (menunggu) roboh

Villa Nova di Gedong (menunggu) roboh

 

dari:Warta Kota 2 April 2011
Villa Nova Gedong, bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda yang dikenal dengan landhuis Groenveld atau Landhuis Tanjung Timur di jalan TB.Simatupang, Condet, Jakarta Timur kini tinggal menunggu runtuh.
Padahal gedung yang dibangun tahun 1756 ini memiliki nilai sejarah penting dan merekam perjalanan perkembangan pinggiran kota Jakarta.

Nama gedung ini nantinya menjadi cikal bakal nama Kelurahan Gedong di Kecamatan Pasar Rebo. Pasalnya, pada zamannya warga kerap menyebut bangunan ini dengan sebutan Gedong.
Untuk sebuah Landhuis atau rumah peristirahatan, Landhuis Groenveld atau landhuis Tanjung Timur ini adalah yang terbesar di Batavia pada zamannya.
Landhuis adalah bangunan besar pada zaman Kolonial Belanda yang dibangun sebagai tempat peristirahatan keluarga tuan tanah di wilayah Batavia waktu itu.

Pantauan Warta Kota ,Jumat (1/04) siang, bangunan bersejarah ini nampak terbengkalai dan tingal menunggu runtuh. Bangunan dikelilingi oleh asrama Polri serta hanya tinggal berupa reruntuhan dan sebagian kecil sja masih berdiri.
Landhuis ini terletak di sebelah timur Kali Ciliwung atau di seberang Lapangan Rindam Jaya. Masyarakat sekitar menyebutnya Landhuis Tanjung Timur. Namun ada juga yang menyebutnya Villa Nova Gedong. Saat kemerdekaan, Landhuis Tanjung Timur ini dijadikan asrama polisi.
Kepala UPT Kota Tua, Candrian Attahiyat ,menjelaskan pada SK Gubernur tahun 1972 bangunan Villa Nova Gedong ini masih termasuk dalam bangunan cagar budaya yang mesti dilindungi. Namun setelah terbakar pada tahun 1985, keluar lagi SK Gubernur tahun 1993 yang menyatakan bangunan tersebut tidak lagi termasuk dalam cagar budaya. “Alasannya karena bentuk fisiknya sudah tidak utuh dan sulit diselamatkan.” Katanya. (Budi Sam Law Malau).

Gerber, arsitek era kolonial

GERBERE
ARSITEK ERA KOLONIAL


. Gerber adalah tokoh arsitek belanda karyanya seringkali diasosiasikan denganmaclaine.

Latar Belakang Budaya

Arsitektur Bangunan Gedong Sate Mr D. Ruhl mengatakan dalam dalam buku “Bandoeng en hoar Hoogvlakte” (1952) bahwa, Gedong Sate adalah “Het mooiste gebouw van Indonesie” (Bangunan terindah di Indonesia). Bahkan master arsitek Belanda, Dr. H. P. Berlage menyebut rancangan kompleks Gouvemementsbedryven (G.B) alias Gedong Sate sekarang, sebagai suatu karya arsitektur yang besar. “Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa renaissance, terutama bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan, mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan (sintesa) langgam Timur dan Barat secara harmonis”, komentar Berlage, sewaktu is meninjau Gedong Sate di bulan April 1923. “Bangunan Gedong Sate tergolong karya arsitektur yang utuh dan khas”, kata arsitek Slamet Wirasonjaya. Gaya arsitektur bangunan ini bukan eklitis (gaya campuran), seperti bangunan Capitol Hill di Washington, kata Pak Slamet pula.

Pokoknya, Gedong Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona, serta memiliki gaya arsitektur yang unik, ungkap Cor Passchier dan Jan Wittenberg, dua orang arsitek Belanda yang lagi tekun menginventarisir bangunan kolonial di Kota Bandung. Menurut mereka, langgam arsitektur Gedong Sate, merupakan gaya eksperimen dari Sang Arsitek yang mengarah kepada bentuk Indo-Europeeschen architectuur stet (“Gaya Arsitektur Indo Eropa”). Masih menurut Slamet Wirasonjaya, agaknya bangunan pertama di Kota Bandung yang menggunakan beton bertulang, adalah gedung Javasche Bank (“B.I”) di Jl. Braga. Jadi bukan bangunan Gedong Sate yang peletakan batu pertamanya jatuh pada tanggal 27 Juli 1920. Sebagaimana diketahui, Ir. Maclaine Pont yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, tercatat bersama Ir. Thomas Karsten, sebagai pelopor aliran gaya arsitektur Indo Eropa yang unik itu. Dan Ir. J. Gerber adalah arsitek yang termasuk dalam kubu Maclaine Pont. Karya arsitektur J. Gerber di Surabaya, dalam bentuk bangunan sekolah HBS (kini SMAN I Jl. Wijayakusuma), memperlihatkan persamaan dengan gaya bangunan Gedong Sate. Hal ini membuktikan bahwa ide rancangan Gedong Sate, secara dominan merupakan kreasi J. Gerber. Adapun kemiripan bentuk pagoda Siam pada lempeng batu di atas pintu masuk Gedong Sate, semata-mata cuma hiasan yang distylisasi dari bentuk gerbang Candi Hindu di Jawa, dengan alas pancaran sinar mentari yang lagi jadi mode di zaman itu. Jadi tak ada hubungan dengan bentuk pagoda di negeri Siam.

Menghidupkan kembali Citadelweg


Seri Histo Heritage taken from: Kompas

Menghidupkan Kembali Citadelweg

Kamis, 22 Oktober 2009 GUBERNUR Jenderal Van den Bosch, bisa dikatakan sebagai arsitek pertahanan. Sistem pertahanan diberi nama sesuai dengan namanya, Defensielijn Van den Bosch. Nama Van den Bosch juga biasa dihubungkan dengan benteng. Di Batavia, defensielijn (garis pertahanan) itu terbentang dari belakang Stasiun Senen (Jalan Bungur Besar), memanjang dari ujung selatan ke utara. Di ujung utara, defensielijn membelah ke arah barat melintas Sawah Besar, Krekot, Gang Ketapang dan di Petojo garis pertahanan ini memanjang hingga Monas.

Defensielijn tak lantas berhenti di Monas. Garis pertahanan ini berlanjut ke Tanah Abang, masuk ke Kebon Sirih hingga jembatan Prapatan dan Kramat Bunder.

Garis pertahanan nan panjang itu berhubungan dengan Benteng (Citadel) Frederik Hendrik yang dibangun di tengah-tengah Wilhelmina Park. Van den Bosch jugalah yang membangun Citadel Frederik itu pada 1834. Di atas benteng ini dipasang lonceng besar. Pemilik lonceng ini, menurut buku Jakarta Tempo Doeloe, tak lain adalah toko arloji milik orang Belanda di Rijswijk (Jalan Veteran), Van Arken demikian nama toko itu. Siang dan malam tentara menjaga benteng ini. Tiap pukul 05.00 dan 20.00 bunyi meriam terdengar dari benteng ini. Bunyi meriam itu sebagai tanda bagi pihak tentara saja. Di atas reruntuhan Citadel Frederik itu kini berdiri Masjid Istiqlal. Di sepanjang tahun 1950, Wilhelmina Park dalam kondisi telantar. Sepi, gelap, kotor. Tembok bekas benteng dibiarkan berlumut dengan rumput ilalang di mana-mana (akhirnya bekas benteng inipun dirobohkan).

Setelah Bung Karno menetapkan lokasi untuk pembangunan masjid yaitu di Taman Wilhelmina atau persisnya di atas reruntuhan benteng, maka pada 1960 taman tersebut dibersihkan. Setahun kemudian, masjid yang kita kenal sebagai Masjid Istiqlal pun mulai dibangun. Tak jauh dari Wilhelmina Park, serta benteng Frederik, terbentang dua jalan yang di abad 19 menjadi kawasan elit bagi penduduk Eropa, khususnya Belanda, yaitu Rijswijk (Jalan Veteran) dan Noordwijk (Jalan Juanda). Di sepanjang jalan ini bertumbuhan bisnis orang Eropa seperti bisnis hotel, restoran, toko kue, dll. Di ujung Jalan Veteran, di mana terdapat hotel legendaris, Hotel Sriwijaya yang sudah dimulai oleh CAW Cavadino pada 1863 sebagai restoran dan toko kue, terdapat jalan bercabang di mana jalan ini berada tak jauh dari taman. Nama jalan itu Citadelweg, sebuah jalan menuju benteng (citadel) Frederik Hendrik di Taman Wilhelmina.

Sepotong jalan yang kini berada di samping Masjid Istiqlal itu kini masih bertahan, namanya menjadi Jalan Veteran I. Di jalan ini pula, kedai es krim Italia Ragus menorehkan sejarahnya di Batavia di sekitaran tahun 1930-an. Hingga kini, kedai itu masih ada di tempat yang sama, dengan kondisi yang tentunya sudah harus menyesuaikan perkembangan jalan. Pada ahad lalu, sebuah perhelatan digelar di sepojok jalan ini. Perhelatan perdana yang sederhana namun diharapkan akan terus berkembang di masa depan sebagai salah satu atraksi wisata Jakarta. Adalah Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) yang menggelar acara Temu Pusaka 16-18 Oktober, mencetuskan untuk menghidupkan kembali jalan tersebut dengan sebuah event awal, Festival Jalan Veteran I.

Di kemudian hari barangkali saja nama festival itu bisa jadi Festival Citadelweg, disambut baik oleh Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni. Festival yang dimaksudkan sebagai penutup acara Temu Pusaka itu berisi sajian tari tradisional seperti tari topeng. Tahun depan, festival ini tentu akan dinantikan banyak pihak. Harapannya, pasti, festival ini akan berbeda dengan festival jalanan lainnya, seperti Festival Jalan Kemang atau Festival Jalan Jaksa. Pasalnya, Citadelweg punya kisah panjang yang jauh lebih menarik dengan seluruh kawasan di sekitarnya yang juga berjejal sejarah. Tambahan lagi, Jalan Veteran I juga punya nilai plus lain, si pemanis bernama ‘Ragusa’.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Mesjid Angke


Seri Konservasi Bangunan Relijitaken from: Kompas

Masjid Angke

Dari berbagai sumber
Walaupun berukuran kecil –15×15 m2 berdiri di atas lahan 200 m2–, tapi masjid ini adalah salah satu masjid bersejarah yang dilindungi oleh UU Monumen (Monumen Ordonantie Stbl) No.238 tahun 1931, juga diperkuat oleh SK Gubernur KDKI Jakarta tanggal 10 Januari 1972. Bangunannya cukup menarik karena memperlihatkan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur. Ada gaya Banten kuno dan Cina, juga pengaruh Hindu.Atapnya berbentuk cungkup bersusun dua model arsitektur khas Cina, dengan ujung cungkup (nok) berbentuk kuncup melati, tertempel bekas horn sirine kecil. Bentuk jurai/sopi-sopi di masing-masing atapnya membengkok di bagian ujung bawah. Dan di keempat ujung jurainya, bercuping seperti bunga terompet. Bentuk list-plang kayunya bermotif ombak dengan bonggol kuncup melati terbalik di setiap sudutnya. Sedang model kusen pintu berdaun dua, seperti lumpang terbalik bermotif ukir-ukiran di bagian bawah dan atas pintu.
Di halaman belakang masjid ini terdapat beberapa makam. Di antaranya adalah makam dengan nisan bertuliskan Syeikh Ja’far, akan tetapi tidak diketahui asal-usulnya. Di sebelahnya terletak juga 3 buah cungkup dengan nisan bertuliskan huruf Cina. Tapi ada satu makam yang cukup jelas menunjukkan tentang sosok seorang yang dikuburkan di situ. Makam itu milik almarhum Syeikh Syarif Hamid Al Qadri (di timur masjid), yang dikenal sebagai pangeran dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Tahun 1800-an, ia ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Batavia, hingga kemudian wafat di Batavia. Tertulis pada nisannya, “meninggal dalam usia 64 tahun 35 hari pada tahun 1274 H atau 1854 M”.

Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda yang mengadakan penelitian tentang masjid ini, DR. F. Dehaan, dalam bukunya “Oud Batavia” menuliskan bahwa Masjid Angke Al Anwar didirikan pada hari Kamis 26 Sya’ban 1174 atau 2 April 1761. Dehaan juga menulis bahwa konon masjid ini didirikan oleh seorang wanita Cina dari suku Tarta yang menikah dengan seorang pria Banten. Kisah itu didapatkan oleh Dehaan melalui cerita dari mulut ke mulut penduduk sekitar Angke ketika itu.

Seperti halnya masjid-masjid yang didirikan pada masa perjuangan, masjid ini pun dijadikan sebagai basis perjuangan masyarakat sekitar masjid setelah proklamasi kemerdekaan. Aksi perjuangan itu terutama dipelopori oleh para ulama Angke, yang mengobarkan semangat kepada para pemuda Angke. Rapat-rapat rahasia yang sering dilakukan di masjid itu tak pernah tercium oleh pihak Belanda. Sehingga dalam perkembangannya, bangunan Masjid Angke Al Anwar tidak sedikitpun tergores oleh peluru Belanda, tidak seperti Masjid Al Mansur di Sawah Lio.

Tapi sayang mungkin karena lebih mengutamakan fungsinya, penambahan-penambahan sarana di pelatarannya membuat masjid terlihat kumuh. Bagian dalam pun demikian, jauh dari kesan bersih. Banyak tukang air yang bertiduran di dalam masjid—-di luar pagar adalah hidran PAM untuk umum. Keberadaannya yang berada disekeliling pemukiman padat model MHT, menguatkan kesan seperti tersembunyi dibalik hiruk-pikuk aktivitas masyarakat sekitar.

Masjid Angke Al Anwar persisnya terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Gang Masjid I Rt. 001 Rw. 05, Kelurahan Angke. Dari Terminal Bus Grogol ada beberapa angkutan yang bisa mengantar ke lokasi. Carilah angkutan ke arah Pluit atau Jembatan Tiga. Lalu turun di Fly-Over Jembatan Dua, Jalan DR. Latumeten. Lebih dekat lagi jika menggunakan KA Jabotabek, turun saja di Stasiun Angke.


Google

© COPYRIGHT 2005-2010 – Eddy S. Lee

banner

your adv here

Rumah Tionghoa Kuno Kebon Karet Tangerang


Source:
mahandisyoanata.multiply.com/photos/album/109/
Seri Konservasitaken from: Kompas

 


Latar Belakang Sejarah Tuan Tanah Tionghoa di Tangerang

“Apa saja mesti toetoep moeloet saja tida boleh menja’
Oey Ek Kiam, tuan tanah Tionghoa di Batavia, ketika ditahan Assistant-Resident,
9th December 1892
ON MISSION
Save our heritage atau musnah, it is not only bad news, but an attention and statement that delivered to the government [especially Tangerang Regional Government], communities who concern about the preservation of heritage buildings, and all people who read our journey.

Based on the picture of architecture study about old buildings surrounding Jakarta published by National University of Singapore, I and Dharmawan Handonowarih [Editor in Chief of IDEA Magazine] cruised the former perkebunan karet house in Tangerang on Sunday, 23rd November 2008.

It is the nearly forgotten country house in Tangerang, penyangga Jakarta. Located about quarter of Imam Bonjol-Teuku Umar Street, kawasan Karawaci Baru, Tangerang, tepi barat sungai Cisadane  (dalam peta abad19t disebut sebagai Tjidanee).

As we knew, in 1874 the government of Netherlands Indies introduced the early rubber plantation in Java. This building was formerly owned by biggest Chinese landlord of rubber plantation. Now, his descendants owned this mansion. However, they don’t reside in their ancestor house.

Sekarang, tempat ini didiami oleh empat kepala  keluarga (thun 2010). Sayangnya, bangunan ini tidak termasuk dalam daftar situs bersejarah Heuken of Jakarta in the chapter of country house and former residences of big estate owner. Benar-benar bangunan yang diabaikan!

Peta TANGERANG – BATAVIA
According Pranoedya Ananta Toer,”Tangerang” sebagai nama daerah was the incorrect spelling from inheritance Dutch. It should be wrote and spell as Tanggeranâ, anyway.

Source:
mahandisyoanata.multiply.com/photos/album/109/
Pada tahun 1811, Major William Thorn, seorang perwira Inggris, melaporkan bahwa  Tangerang  sangatlah bagus diolah, interspersed with several seats or Dutch farm, producing rice, and the greatest part of the grass for the consumption of horses in town. Also this city was crossed by Tjidanee River and have fine sluice then runs parallel to the road whole way to Batavia.
Tanah pribadi of most Chinese officers in Batavia berada di Tangerang, where a Chinese private domain practically. In 1888, Tangerang was the largest Chinese population in Java, that dispersed in three districts: Balaradja, Mauk, and Tangerang.

Peta Tangerang Zaman Belanda.
According “Confidential letter of the Resident of Batavia to Governor-Generaal, 15th May 1888”, we knew that, despite Tangerang was the land’s of Chinese officer, however they prefer live in to Batavia.
According “Gouvernementsbesluit, 27th December 1846 No.7” we knew that Chinese landowners were more flexible than Europeans in dealing with native tenants, they tend to accommodate the domestic needs of their tenants. Whereas the Europeans were strictly law-abiding and kept their distance from their native tenants. It gave the native uncomfortable feeling of inferiority.
Mari kita simak beberapa pejabat Tionghoa di akhir abad 19 yang menguasai banyak lahan di Tangerang :
1. Major Tan Eng Goan, a first landowner of Kramat, Kapuk, Tandjoeng Boeroeng, and Rawa Kidang.
2. Captain Lie Tjoe Tjiang, a landowner of Sepatan, Karang Serang Laut, Karang Serang Dalam, and Rajeg.
3. Lieutenant Tan Boen Peng, a landowner of Bodjong Renget, Pangkalan, de Qual (known as Pesing now), and Tegalangus.
4. Lieutenant Souw Siauw Tjong, a landowner of Paroengkoeda, Paroeng-East, and Ketapang.
5. Captain Nie Ek Tjiang, tinggal di Mauk, memiliki beberapa bidang tanah di Tangerang.
6. Pemuka Tionghoa terakhir abad 19. Kapiten  Oey Giok Koen, memiliki tanah di Pasar Baroe , Tangerang.
7. Lieutenant Oey Djie San, he was director of the private estate of Karawaci-Tjilongok. He was admired for his Dutch education and fluency in the language. However, the private lands that owned by Chinese in Tangerang have suggested to Batavia’s self-sufficiently for agricultural products, such as rice, and sugar. Whereas the plantation product such as rubber was introduced in the end of 19th century or early 20th century.

Djie San Gallery
A SLICE HISTORY OF COUNTRY HOUSE OF RUBBER PLANTATION:
A MYSTERIOUS LANDOWNER
Who is the landowner of this country house? I asked to inhabitants, but they don’t know the present day owner, even they reside within this house. A weird answer?

Menurut harian “Sinar Harapan” pada tahun 2003, pemilik lahan rumah ini adalah seorang tokoh China yang sangat berpengaruh di Tangerang. He was landowned of rubber plantation in the westward of Tangerang (presently known as Perum I and Perum II). His descendants don’t want to reside in this house, even present day they prefer to live in Jakarta, Magelang, and The Netherlands. The rubber plantation in Tangerang was closed down in 1965.

However, I am still in searching about the former owner of land in Karawaci and its surroundings. Probably, was Lieutenant Oey Djie San the owner of this country house, because he was a director of the private estate of Karawaci-Tjilongok? It could be, but, probably he was not the first owner because he lived in the end of 19th century, whereas the country house was built in the end 18th century. For the best answer I need your support. SAVE OUR HERITAGE, WE NEED YOUR ATTENTION!
Since September 2008, the present day owner has been pulling down of the primary building. What a pity, beautiful Chinese mansion was destroyed by business interests, now the destruction is still on progress. It’s threatening the secondary building.
We still have only a little time to terminate this vandalism of heritage building. There is no one who cares about the vanishing old buildings. Please, save our heritage!
“…satoe orang kapala miring boeat djadie kapala negeri…” A native letter, dated 19th March 1893, and other complaints kept in Goevernementsbesluit, 24th August 1893.

House
House
House
House
House
House
House
House
House
*** REFERENCES
De Bond van Nederlandse Architecten. ”Het Indische Bouwen: Architectuur en Stedebouw in Indonesie“, Seminar: Change and Heritage in Indonesian Cities, 27-30 September 1988.
Lohanda, Mona. “The Kapitan Cina of Batavia 1837 – 1942”, Cooperation between Penerbit Djambatan and KITLV, Second Edition, 2001. Toer, Pramoedya A. “ Jalan Raya Pos Jalan Daendels”, Lentera Dipa Nusantara, 2005.
Thorn, William. “The Conquest of Java”, First Published in London 1815, Periplus, 2004.