Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]
Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Arsi Persada

Situs Stonehenge. artefak purba misterius

Stonehenge – Monumen Misterius

Stonehenge merupakan suatu monumen yang dibangun pada zaman Perunggu, dan Neolitikum. Ia terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris, sekitar 13 kilometer (8 batu) barat laut Salisbury. Stonehenge meliputi sekumpulan batu besar tegak berkeliling lingkaran, yang dikenal sebagai bagian dalam megalitikum. Terdapat perdebatan seru mengenai usia sebenarnya lingkaran batu itu, tetapi kebanyakan arkeolog memperkirakan bahwa sebagian besar bangunan Stonehenge dibuat antara 2500 SM sampai 2000 SM. Bundaran tambak tanah dan parit membentuk fase pembanguan monumen Stonehenge yang lebih awal yang berasal dari waktu sekitar 3100 SM.

Pada awal abad ke-20, kebanyakan dari batu-batu itu tidak lagi tegak berdiri. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyaknya wisatawan yang menaiki Stonehenge pada sekitar abad ke-19 karena keingin tahuan mereka yang besar. Semenjak itu, telah dilakukan tiga tahap renovasi untuk menegakkan kembali batu yang miring atau terbalik, dan untuk mengembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula dengan teliti. Secara tidak langsung, ini berarti bentuk Stonehenge tidak lagi asli seperti asalnya seperti yang disebutkan dalam promosi pariwisata. Sebaliknya, sebagaimana peninggalan sejarah yang lain, tahap-tahap renovasi telah dilakukan.

Stonehenge merupakan nama yang diberikan kepada tugu peringatan yang dikenal sebagai henge yang terdiri dari kurungan atau lingkaran tambak dengan parit di dalam. Sebagaimana yang sering terjadi dalam istilah arkeologi ini merupakan istilah warisan dari penguasa zaman kuno dan sepatutnya Stonehenge tidak boleh dikelompokkan sebagai henge sebenarnya, disebabkan tambaknya berada di bagian sebelah dalam parit. Walaupun seusia dengan henges zaman Neolithikum yang menyerupai Stonehenge, Stonehenge mungkin memiliki keterkaitan dengan bulatan batu lain yang terdapat di British Isle seperti Cincin Brodgar namun ukuran trilitonnya sebagai contoh menjadikannya unik.Tempat ini dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Kompleks Stonehenge dibangun dalam beberapa fase pembangunan selama 2.000 tahun dan sepanjang kurun waktu itu aktivitas terus berjalan. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya sesosok mayat seorang Saxon yang dipancung dan dikebumikan di tugu peringatan tersebut, dan kemungkinan mayat tersebut berasal dari abad ke-7 M.

Monumen pertama terdiri dari kurungan tebing bulat dan parit berukuran 115 meter(320 kaki) diameter dan dengan satu pintu masuk di bagian timur laut. Fase ini adalah sekitar 3100 SM. Di bagian luar kawasan kurungan terdapat 59 lubang, dikenal sebagai lubang Aubrey untuk memperingati John Aubrey, arkeolog abad ketujuh belas yang merupakan orang pertama yang mengenal lubang-lubang tersebut. Dua puluh lima dari lubang Aubrey diketahui mempunyai pemakaman abu bertanggal dua abad sesudah pembangunan Stonehenge. Tiga puluh abu mayat diletakkan di dalam parit kawasan kurungan dan bagian lain dalam kawasan Stonehenge. Tembikar Neolitikum Akhir telah ditemukan bersama-sama ini memberikan bukti tanggal. Sebuah batu tunggal monolit besar yang tidak dilicinkan dikenal sebagai ‘Batu Tumit’ (Heel Stone) terletak di luar pintu masuk.

Bukti fase kedua tidak lagi kelihatan. Bagaimanapun bukti dari beberapa lubang tiang dari waktu masa ini membuktikan terdapatnya beberapa bangunan kayu yang dibangun dalam kawasan lingkaran sekitar awal millennium ketiga SM. Beberapa kesan papan yang didapati diletakkan pada pintu masuk. Fase ini sama dengan tempat Woodhenge yang terletak berdekatan.

Ekskavasi arkeologi menunjukkan bahwa sekitar 2600 SM, dua lengkungan bulan sabit dibuat dari lubang (dikenal sebagai lubang Q dan R) yang digali di tengah-tengan lokasi. Lubang tersebut mengandung 80 batu biru tegak yang dibawa dari bukit Preseli, 250 batu di Wales. Batu-batu tersebut dibentuk menjadi tiang dengan teliti, kebanyakan terdiri dari batu jenis dolerite bertanda tetapi turut termasuk contoh batu rhyolite, tufa gunung berapi, dan myolite dan seberat 4 ton.

Pintu masuk dilebarkan pada masa ini menjadikannya selaras dengan arah matahari naik pertengahan musim panas dan matahari terbenam pertengahan musim sejuk masa tersebut. Monumen tersebut ditinggalkan tanpa disiapkan, sementara batu biru kelihatannya dipindah dan lubang Q dan R ditutup. Ini kemungkinan dilakukan pada masa fase Stonehenge IIIb. Monumen ini kelihatannya melebihi tempat di Avebury dari segi kepentingannya pada akhir masa ini dan Amesbury Archer, dijumpai pada tahun 2002 tiga batu ke selatan, membayangkan bagaimana Stonehenge kelihatan pada masa ini. Stonehenge IIIa dikatakan dibangun oleh orang Beaker.

Pada aktivitas fase berikutnya pada akhir millennium ketiga 74 SM mendapati batu Sarsen yang besar dibawa dari kueri 20 batu di utara di lokasi Marlborough Downs. Batu-batu tersebut dikemaskan dan dibentuk dengan sambungan pasak dan ruassebelum 30 didirikan membentuk bulatan tiang batu berukuran 30 meter diameter dengan 29 atap batu (lintel) di atas. Setiap bongkah batu seberat 25 ton dan jelas dibentuk dengan tujuan mengagumkan jika siap.

Batu orthostat lebar sedikit di bagian atas agar memberikan gambaran ia kelihatan lurus dari bawah ke atas sementara batu alang melengkung sedikit untuk menyambung gambaran bundar monumen lebih awal.

Di dalam bulatan ini terletak lima trilithon batu sarsen diproses dan disusun dalam bentuk ladam. Batu besar ini, sepuluh menegak dan lima batu alang, dengan berat sehingga 50 tan setiap satu yang disambungkan dengan sambungan rumit. Ukiran pisau belati dan kepala kapak terdapat di sarsen. Dalam masa ini, jalan sepanjang 500 meter dibangun, menuju ke arah timur laut dari pintu masuk dan mengandung dua pasang tambak selaras yang berparit di tengahnya. Akhir sekali dua batu portal besar dipasangkan di pintu masuk yang kini hanya tinggal satu, Batu Penyembelihan (Slaughter Stone) 4,9 meter (16 kaki) panjang. Fase yang bercita-cita tinggi ini dipercayai hasil kerja kebudayaan Wessex Zaman Perunggu awal, sekitar 2000 SM.

Selepasnya pada Zaman Perunggu, batu biru kelihatannya telah ditegakkan semula, dalam bulatan antara dua tiang sarsen dan juga dalam bentuk ladam ditengah, mengikuti tata rajah layout sarsen. Walaupun ia kelihatannya satu fasa kerja yang menakjubkan, pembinaan Stonehenge IIIc dibina kurang teliti berbanding Stonehenge IIIb, batu biru yang ditegakkan kelihatannya mempunyai pondasi yang tidak kokoh dan mulai tumbang. Salah satu dari batu yang tumbang telah diberi nama yang kurang tepat sebagai Batu Penyembahan (Altar Stone). Dua bulatan lubang juga digali di luar bulatan batu yang dikenal sebagai lubang Y dan Z. Lubang-lubang ini tidak diisi dengan batu dan pembangunan lokasi peringatan ini kelihatannya terbiarkan sekitar 1500 SM.

Sekitar 1100 SM, jalan raya (Avenue) disambung sejauh lebih dari dua batu sampai ke Sungai Avon walaupun tidak jelas siapakah yang terlibat dalam kerja pembangunan tambahan ini.

Usaha serius pertama untuk mengelola situs ini mulai dilakukan sekitar 1740 oleh William Stukeley. Sebagaimana kecenderungannya, Stukeley siap menyatakan bahwa lokasi ini dibangun oleh Druid, tetapi sumbangannya yang paling penting adalah mengambil gambaran yang diukur mengenai lokasi Stonehenge yang membenarkan analisis yang lebih tepat tentang bentuk dan kepentingannya. Dari hasil kerja ini dia dapat menunjukkan bahwa henge dan batunya disusun dalam bentuk tertentu yang mempunyai kepentingan astronomi.

Aturan bagaimana batu biru diangkut dari Wales telah banyak didiskusikan dan berdasarkan pemikiran, batu itu mungkin merupakan sebagian dari batu awal di Pembrokeshire dan dibawa ke Dataran Salisbury (Salisbury Plain). Banyak arkeolog percaya bahwa Stonehenge merupakan percobaan mengekalkan dalam bentuk batu, bangunan papan yang bertaburan di Dataran Salisbury seperti Tembok Durrington.

Monumen ini diselaraskan timur laut – barat daya dan sering dicadangkan bahwa keutamaan diletakkan oleh pembangunnya pada titik balik matahari dan equinoxagar sebagai contohnya, pada pertengahan pagi musim panas, matahari muncul tepat di puncak batu tumit (heel stone), dan cahaya pertama matahari pergi terus ke tengah Stonehenge antara dua susunan batu berbentuk ladam. Tidak mungkin aturan itu terjadi secara kebetulan. Matahari timbul pada arah berlainan pada permukaan geografi tempat berlainan. Untuk penyelarasan itu tepat, ia mesti diperkirakan tepat untuk garis lintang Stonehenge pada 51° 11′. Penyelarasan ini, tentunya dasar bagi reka dan bentuk dan tempat bagi Stonehenge. Alexander Thomberpendapat bahawa lokasi tersebut diatur menurut ukuran yar megalitikum.

Disebabkan ini, sebagian pendapat mendakwa bahwa Stonehenge melambangkan tempat observatorium kuno, walaupun berapa jauh penggunaan Stonehenge untuk tujuan tersebut dipertentangkan. Sebagian pendapat pula mengemukakan teori bahwa ia melambangkan palus besar, komputer atau juga lokasi pendaratan makhluk asing.

Banyak perkiraan mengenai pencapaian mesin diperlukan untuk membangun Stonehenge. Mengandaikan bahwa batu biru ini dibawa dari Wales dengan tenaga manusia dan bukannya oleh gletser sebagaimana didakwa oleh Aubrey Burl, pelbagai aturan untuk memindahkan mereka dengan menggunakan tali dan kayu telah dicadangkan. Dalam satu latihan arkeologi percobaan pada 2001, suatu percobaan untuk mengalihkan satu batu besar sepanjang jalan darat dan laut yang mungkin dari Wales ke Stonehenge. Sukarelawan menariknya di atas luncur (sledge ) kayu di daratan tetapi jika dipindahkan ke replika bot prasejarah, batu tersebut tenggelam di laut bergelora di Selat Bristol.

Ia telah dijangkakan bahwa kayu balak frame A ditegakkan untuk menegakkan batu dan dan satu pasukan kemudian menegakkannya dengan menggunakan tali. Batu alang mungkin diangkat secara berangsur-angsur dengan menggunakan bangku panjang kayu dan diluncurkan ke tempat sekarang. Sambungan menyerupai hasil kerja kayu membayangkan mereka mahir dengan kerja kayu dan mereka mudah mendapatkan pengetahuan untuk mendirikan monumen dengan menggunakan aturan seumpamanya.

Ukiran senjata pada sarsen adalah unik pada seni megalitikum di Kepulauan Britania (British Isles) di mana desain lebih abstrak lebih digemari, begitu juga dengan aturan batu berbentuk ladam kuda adalah luar biasa bagi kebudayaan yang selalunya mengatur batu dalam bentuk bundar. Motif sebegitu bagaimanapun biasa bagi penduduk Britania pada masa itu dan telah dicadangkan bahwa dua fase Stonehenge telah dibangun di bawah pengaruh tanah besar continental influence. Ini dapat menjelaskan pada satu tahap, tentang reka dan bentuk monumen, tetapi pada keseluruhannya, Stonehenge masih tidak dapat dijelaskan luar biasa dari sembarang konteks kebudayaan Eropa prasejarah.

Perkiraan mengenai tenaga manusia yang diperlukan untuk membangun pelbagai fase Stonehenge meletakkan jumlah keseluruhan yang terlibat atas berjuta jam manusia bekerja. Stonehenge I kemungkinan memerlukan sekitar 11.000 jam manusia, Stonehenge II sekitar 360.000 dan pelbagai bagian bagi Stonehenge III mungkin melibatkan sehingga 1.75 juta jam manusia. Membentuk batu-batu ini diperkirakan memerlukan 20 juta jam kerja menggunakan perkakas primitif yang terdapat pada masa itu. Pastinya ketetapan hati untuk menghasilkan monumen sedemikian amat kuat dan dapat dianggap organisasi kemasyarakatan yang maju diperlukan untuk membangun dan melestarikannya.

Stonehenge tetap menjadi tempat mengunjung bagi Neo-druid dan kepercayaan pagan baru atau neo-pagan, dan merupakan lokasi festival musik gratis yang diadakan di antara tahun 1972 sampai 1984. Bagaimanapun, pada tahun 1985festival tersebut dilarang oleh pemerintah Inggris. Disebabkan ini, terjadi persengketaan ganas antara polisi dengan pelancong abad baru yang dikenal sebagai Pertempuran Beanfield.

Pada tahun-tahun terkini, kedudukan henge di Dataran Salisbury telah terpengaruh oleh jalan A303 berdekatan antara Amesbury dan Winterbourne Stoke, dan A344. Pada masa lalu beberapa proyek, termasuk terowongan gali-dan-tutup telah dicadangkan untuk tapak tersebut, dan English Heritage dan National Trust telah lama berjuang untuk memindahkan jalan dari lokasi tersebut. Pada awal 2003Departemen Perhubungan mengumumkan beberapa perluasan jalan utama, termasuk A303. Pada 5 Juni Highway Agency menerbitkan draft singkat pelan untuk lencungan jalan 13 kilometer (8 batu) di Stonehenge, termasuk terowongan sepanjang 2 kilometer meletakkan A303 di bawah jalan sekarang. Pada 4 September 2003 Highway Agency mengumumkan diskusi terbuka, dibuka pada 17 September yang akan menimbangkan samaada pelan ini mencukupi untuk tempat itu. Banyak organisasi mencadangkan terowongan yang lebih panjang, yang akan melindungi kawasan arkeologi dan desa sekeliling yang lebih luas. Pelan untuk tempat tersebut termasuk pusat warisan baru, yang akan dibuka pada 2006. Pada 2008, skema jalan baru akan siap dan jalan lama akan ditutup.

Batu Tumit (The Heel Stone) pada suatu masa dikenal sebagai Friar’s Heel. Cerita rakyat, yang tidak dapat dipastikan asalnya lebih awal dari abad ke tujuh belas, menceritakan asal nama batu ini.

Seekor jembalang telah membawa batu ini dari wanita di Irlandia, membalutnya, dan membawanya ke dataran Salisbury. Salah satu dari batu tersebut jatuh ke dalam Sungai Avon, bakinya dibawa ke dataran. Jembalang tersebut kemudian menjerit, “Tak seorang pun akan tahu bagaimana batu ini di bawa ke sini.” Seorang pendeta menjawab, “Itu yang kaupikirkan!” Dengan itu jembalang tersebut melontarkan batu kepadanya dan mengenai tumitnya. Batu tersebut tersebut melekat di tanah dan tetap di situ.

Sebagian pendapat mengklaim Tumit Friar ( “Friar’s Heel” ) adalah perubahan nama “Freya’s He-ol” atau “Freya Sul”, dari nama Dewa Jerman Freya dan (didakwa) perkataan Welsh bagi “laluan” dan “hari matahari” menurut turutan.

Stonehenge dikaitkan dengan legenda Raja Arthur. Geoffrey dari Monmouthberkata bahwa tukang sihir Merlin telah mengurus pemindahan Stonehenge dari Irlandia, di mana ia telah dibangun di Gunung Killaraus oleh raksasa yang membawa batu-batu tersebut dari Afrika. Selepas ia didirikan kembali berdekatan Amesbury, Geoffrey menceritakan dengan lebih lanjut bagaimana Uther Pendragon, kemudian Konstantinus III, dikebumikan di dalam bulatan batu tersebut. Dalam karangannya Historia Regum Britanniae, Geoffrey mencampurkan legenda Inggris dan khayalannya pada banyak tempat; menarik bahwa dia mengaitkan Ambrosius Aurelianus dengan monumen prasejarah ini, melihatkan bagaimana terdapat bukti nama yang sama antara Ambrosius dengan Amesbury yang berdekatan.

Terdapat replika Stonehenge ukuran penuh sebelum runtuh di Maryhill di Washington, dibangun oleh Sam Hill sebagai peringatan perang. Malah ia selari dengan matahari terbit pada pertengahan musim panas, tetapi tepat kepada kedudukan matahari sebenarnya di kaki langit maya, dan bukannya kepada kedudukan matahari di kaki langit sebenarnya. Replika Stonehenge terkenal yang lain keluar dalam film This is Spinal Tap.

Lingkaran mobil ( car-henge ) telah dibangun sepenuhnya menggunakan mobil di Alliance, Nebraska oleh artis Jim Reynolds pada 2000.

Pendidikan Profesi Arsitektur Mulai Berlaku September 2016

Pendidikan Profesi Arsitektur Mulai Berlaku September 2016

Dreamstime.comIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah akan memberlakukan pendidikan profesi arsitektur (PPA) pada September 2016 yang wajib ditempuh oleh mahasiswa lulusan pendidikan sarjana arsitektur.

Para mahasiswa yang telah menjalani pendidikan sarjana selama empat tahun, bisa menempuh pendidikan profesi selama satu tahun.

“Mulai September di beberapa universitas yang memiliki akreditasi A sudah mulai PPA. Tidak semua universitas,” ujar Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek) Paristiyanti Nurwardani kepada Kompas.com, Senin malam (14/3/2016).

Paristiyanti menjelaskan, universitas yang bisa mengadakan PPA adalah yang termasuk Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), antara lain Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM),

Sementara universitas lainnya, kata Paristiyanti, bisa mengajukan kepada Kemenristek. Nantinya, Kemenristek akan melakukan kajian lebih lanjut.

Menurut dia, profesi arsitek dibutuhkan karena termasuk dalam 8 profesi prioritas yang bersaing di kancah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Paristiyanti tidak meragukan kualitas arsitek Indonesia, khususnya lulusan UI. Namun, dengan menempuh pendidikan profesi, mahasiswa arsitektur bisa lebih siap dalam menyongsong dunia kerja.

Selain itu, mahasiswa yang sudah menjalani dan lulus PPA, memiliki tingkat yang sejajar dengan arsitek se-ASEAN.

“Sudah tidak takut lagi, kalau ada arsitek asing yang masuk Indonesia dalam rangka MEA ini. Karena, (arsitek) kita sejajar dengan mereka,” jelas Paristiyanti.

Penulis : Arimbi Ramadhiani
Editor : Hilda B Alexander

San Diego Hills Karawang

SAN DIEGO HILLS
KOMPLEKS PEMAKAMAN dan KENANGAN


. Pengembang Lippo membangun kawasan pemakaman dan peristirahatan yang “ramah, sejuk” Taman pemakaman modern seluas 500 hektar itu berlokasi di Karawang Barat, 46 kilometer dari Jakarta, atau 45 menit dari Jakarta. .

Latar Belakang

PT Lippo Karawaci Tbk membangun kawasan pemakaman mewah seluas 500 hektar di Karawang, Jawa Barat. Kuburan yang dinamakan San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes itu dilengkapi dengan taman yang asri, pepohonan yang rimbun, padang rumput yang hijau, air mancur, taman bunga, patung-patung artistik yang indah, arsitektur dan interior yang excellent. San Diego Hills menyediakan tiga kategori areal memorial park yaitu :
1.Earth (wilayah kuburan yang dirancang dengan posisi kiblat yang sempurna ke Mekkah),
2. Physical Homes (area kuburan yang memperbolehkan struktur yang dirancang dengan perhitungan yang sesuai dengan keharmonisan lingkungan), dan
3.Universal (area kuburan modern yang banyak dilakukan di negara-negara maju dengan sistem rapi, efisien dan mementingkan kualitas lingkungan yang tinggi).
Dengan mempertahankan kontur asli yang berbukit dan berlembah, San Diego Hills Memorial Park dirancang jauh dari kesan tempat pemakaman karena didesain sebagai kawasan yang penuh berbagai fasilitas modern melebihi kebutuhan sebuah taman pemakaman pada umumnya yang dibangun di Indonesia.
San Diego Hills akan memiliki Musoleum (pemakaman di atas tanah di mana peti mati diletakkan di suatu ruangan beton di dalam gedung) yang pertama di Indonesia, juga Columbarium, pemakaman di atas tanah untuk abu kremasi yang diletakkan di dalam sebuah relung di suatu ruangan yang dibatasi dengan tembok.
San Diego Hills Memorial Park dilengkapi National Heroes Garden, area pemakaman yang dipersembahkan untuk menghormati jasa-jasa tokoh nasional dalam bidang seni, budaya, dan kesusasteraan, pendidikan, pemerintahan dan olahraga.

Selain itu San Diego Hills akan menjadi tempat di mana pasangan muda merencanakan kehidupan mereka ke depan atau mengenang memori yang pernah mereka lakukan bersama, tempat di mana orang mendapat inspirasi untuk melukis, tempat di mana guru membimbing murid untuk belajar membaca, tempat di mana orang bisa mengenang yang telah meninggal di atas batu marbel yang indah. Tidak menakutkan Yang pasti. pemakaman ini jauh dari kesan menakutkan, tidak rapi, tidak aman, tidak memberi kedamaian dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk mengenang anggota keluarganya yang telah tiada. Sebab, pemakaman ini dilengkapi dengan restoran bintang lima, fasilitas kolam renang, lapangan basket, lapangan bola, jogging track, olahraga bersepeda. Juga ada taman rerumputan yang indah untuk melangsungkan acara atau pertunjukan ruang, florist dan giftshop, dan toko. Bangunan dan fasilitas ini berada dekat danau buatan raksasa seluas 8 hektar. Kawasan.

Disarikan
Sumber :kompas, Buku Brosur

Taman Menteng Baru

 

 

Taman Taman Menteng Baru


taken from: many source




TAMAN MENTENG ,PARU_PARU
KOTA

Taman Menteng Baru Jakarta, berdiri diatas tanah seluas sekitar 3,5 hektar, bekas Stadion Sepakbola Persija.Di
Jakarta, mungkin hanya Menteng yang memiliki cukup banyak taman.
Di kawasan itu ada 20-an taman lingkungan, antara lain Taman
Kudus, Taman Panarukan, dan Taman Kodok; dua taman kota (Taman
Suropati, Taman Tugu Tani), serta sebuah situ (Situ Lembang).
Tempat-tempat itu terhubung melalui koridor pepohonan, jalur
hijau jalan dengan median dan pedestrian yang lebar.
Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2007, Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta meresmikan taman kota di daerah itu. Taman baru itu
adalah Taman Menteng yang dulu merupakan lapangan sepak bola
Persija.
Taman itu mulai dibangun tahun lalu di atas lahan
seluas 3 hektar dan menelan biaya Rp 35 miliar. Sabtu sore
mendatang, rencananya taman itu dibuka untuk umum.
Oleh Pemerintah Belanda,  tahun 1913 kawasan  Menteng
memang dirancang sebagai kota taman tropis. Peracangnya arsitek
Belanda, PAJ Mooejen dan FJ Kubatz. Sebagai kota taman tropis
salah satu cirinya yaitu alokasi lahan untuk ruang terbuka hijau
(RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota.
Konsep dan disain Taman Menteng ini berdasarkan sayembara yang
dimodifikasi. Ketua tim adalah Ir Kanarya,M.Arch Urban Design

Sejarah
Awalnya adalah lapangan yang didirikan tahun 1921 dengan nama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld). Stadion ini dirancang oleh arsitek Belanda, F.J. Kubatz dan P.A.J. Moojen. Dalam perkembangannya stadion ini kemudian digunakan oleh Persija.
Stadion sepak bola Persija di Menteng merupakan salah satu kebanggaan warga Jakarta dan paling bersejarah, baik dalam sejarah Kota Jakarta maupun persepakbolaan di Jakarta dan Indonesia.
Para pemain pesepak bola legendaris Indonesia pernah merumput di
tempat ini, seperti Ronny Paslah, Tan Som Tjhiang, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani.
Sejak tahun 1921, lahan seluas 3,4 hektar  tersebut sudah digunakan sebagai tempat berolahraga orang-orang Belanda. Selanjutnya, stadion tersebut digunakan untuk masyarakat umum, dan pada tahun 1961 hingga saat ini digunakan sebagai tempat bertanding dan berlatih bagi Tim Persija. Pada 1975, Surat Keputusan Gubernur Jakarta Tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.

 

 
 DAFTAR PUSTAKA

· Harian Kompas, buku “Menteng, Kota Taman Pertama” by Grace Wijaya dan Adolf Heuken SJ
.

Tips memilih jenis lantai kayu untuk rumah tinggal

Aspek perencanaan kota

Article

Kota memerlukan energi dalam setiap proses kegiatannya, seperti: transportasi, industri, komersial, infrastruktur, permukiman, dll. Kota “mengumpulkan” sekaligus melepaskan energi ke lingkungan yang dalam beberapa hal menciptakan tekanan yang besar terhadap lingkungan dan menimbulkan dampak-dampak tertentu. Jika terdapat model pemanfaatan energi, kota-kota memiliki tingkat konsumsi energi dibandingkan perdesaan. Dalam konsep ecological footprint, kota memiliki footprint yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan perdesaan. Ecological footprint merupakan istilah untuk melihat konsumsi rata-rata warga kota yang dikonversikan ke dalam lahan produktif, termasuk dalam hal energi. Urbanisasi merupakan proses yang memerlukan asupan energi yang cukup besar.

Konsumsi energi cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, kegiatan, dan luasnya kawasan perkotaan. Dengan tingginya harga minyak dunia, keperluan energi sebagian besar penduduk perkotaan semakin sulit dipenuhi, terutama bagi mereka yang berpendapat rendah. Saat ini kita disuguhi dengan pemandangan semakin tingginya antrian warga kota untuk mendapatkan minyak tanah keperluan sehari-hari. Semakin menurunnya produksi minyak dalam negeri dan tingginya harga minyak dunia, kota-kota di Indonesia mengalami kondisi yang disebut sebagai “krisis energi”. Sayangnya, kota-kota kita tidak siap dengan kondisi krisis ini. Tulisan ini mendiskusikan bagaimana perencanaan kota dapat berkontribusi dalam menghadapi krisis energi.

Pendahuluan

Harga minyak dunia jelas memberikan tekanan terhadap kelangsungan sumber energi kota-kota di Indonesia. Antara tahun 1947 – 2007, telah terjadi dua kali shock dalam harga minyak dunia, yaitu periode 1979 – 1981 dan periode 2001 – 2007. Pada tahun awal tahun 2008, harga minyak dunia telah menyentuh angka US$ 110 yang jelas memberikan tekanan terhadap APBN. Di antara dua periode tersebut, periode terakhir yang paling memberatkan. Pada periode yang pertama Indonesia masih memproduksi minyak bumi dan termasuk ke dalam Negara-negara APEC. Bonanza minyak menyebabkan pemerintah memiliki kelebihan dana untuk pembangunan dalam negeri. Sementara pada periode kedua, Indonesia bukan lagi menjadi ekportir minyak bumi, melainkan telah menjadi net importir. Kondisi ini semakin memberatkan karena lambatnya antisipasi terhadap kekurangan BBM di dalam negeri untuk berbagai keperluan, seperti: pembangkit listrik yang sangat dibutuhkan industri.

Dalam kondisi yang terdesak tersebut, masyarakat diminta untuk menghemat penggunaan energinya. Isu penggunaan energi di Indonesia yang sangat boros barangkali telah menjadi cerita lama. Tetapi, apabila dicermati secara mendalam, penggunaan energi per kapita masih tergolong sangat rendah. Namun, intensitas energi di Indonesia termasuk yang paling tinggi di ASEAN. Intensitas energi merupakan ukuran efisiensi penggunaan energi berdasarkan kinerja ekonomi suatu negara. Semakin tinggi intensitas energi, berarti harga energi relatif tinggi dibandingkan dengan besaran PDB Negara tersebut. Selain itu, intensitas energi memperlihatkan kemampuan Negara tersebut untuk memanfaatkan energi bagi kegiatan-kegiatan produktif. Intensitas energi yang tinggi memperlihatkan tingginya jumlah energi yang “terbuang” bagi kegiatan-kegiatan non-produktif (ekonomi). Dalam perbandingannya dengan negara lain, intensitas energi di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, sementara konsumsi energi per kapita masih tergolong rendah. Dalam Gambar B, terlihat bahwa negara-negara maju cenderung lebih mampu untuk melakukan menekan intensitas energinya (Jepang, OECD, Amerika Utara, dan Jerman). Padahal, konsumsi energi di Negara-negara tersebut sangat tinggi, terutama untuk menyokong industri di dalam negerinya.

Gambaran situasi di atas memperlihatkan bahwa kota-kota di Indonesia perlu bersiap menghadapi krisis energi, di samping melakukan efisiensi internal dalam pemanfaatan energi. Terutama, kota-kota Indonesia terus-menerus mengalami sprawl yang meluas, tingkat primacy dapat digolongkan cukup besar. Kota-kota di Negara maju, seperti Amerika Serikat telah menerapkan berbagai program sebagai upaya mengatasi krisis energi di negaranya.

Kota-kota di Indonesia: Sebuah Gambaran bagi Pemanfaatan Energinya

Di bawah ini disampaikan berbagai indikator penggunaan energi di perkotaan, di antaranya: fisik, demografi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Tidak adanya studi yang secara khusus membahas keterkaitan antara karakteristik fisik, demografi, sosial ekonomi, dan sosial budaya kota-kota di Indonesia membuat ulasan di bawah ini sekedar gambaran kasar. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan yang ada saat ini tidak disadari basis data yang memadai dan berkesan terburu-buru.

Dilihat secara demografis, selama dua dekade terakhir, Indonesia mengalami proses urbanisasi yang lebih lambat dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara (IGES, 2004). Terdapat pula kecenderungan penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan. Namun demikian, tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan di perdesaan. Seiring dengan penurunan pertumbuhan penduduk nasional, yang terjadi adalah pertumbuhan penduduk perdesaan yang negatif. Ada dua hal yang memungkinkan hal tersebut: migrasi penduduk ke perkotaan dan perubahan status area perdesaan menjadi perkotaan. Seiring dengan kecenderungan demografi tersebut, persentase penduduk di kota (bukan perkotaan) meningkat hingga mencapai 42 % pada tahun 2000.

Apabila melihat dari perspektif urban metabolism, kota dengan konsentrasi penduduk yang semakin meningkat memerlukan pengelolaan sumber daya yang memperhatikan asupan sumber daya yang dapat diperoleh dari wilayah sekitarnya yang cenderung semakin bertambah. Dalam istilah Mathis Wackernagel dan William Rees (1996), kota dengan asupan sumber daya (energi, lahan, makanan, jasa, dan jasa) memiliki footprint yang luas. Dengan demikian, kota membutuhkan berlangsungnya aktivitas dengan cara mengekspor air, energi, dan pangan dari wilayah sekitarnya. Sementara itu, penggunaannya di kawasan perkotaannya sendiri masih belum efisien. Penggunaan energi makin yang meningkat seiring dengan penambahan konsentrat gas rumah kaca di udara yang berasal dari kegiatan transportasi dan industri. Studi menunjukkan bahwa Jakarta hanya memperoleh udara bersih sebanyak 6 hari dalam setahun (Husein, 2006).

Apabila dicermati dari pertumbuhan ekonomi, terdapat kecenderungan bahwa lonjakan dalam pertumbuhan nasional diikuti oleh fluktuasi dalam pertumbuhan permintaan energi. Data statistik berikut menunjukkan bahwa kota besar dan metropolitan yang merupakan merupakan “mesin” bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada masa krisis mengalami penurunan yang sangat drastis, dan masih tertinggal sampai dengan tahun 2002. Salah satu spekulasi yang dapat dikemukakan adalah terjadinya pemborosan dan produktivitas yang menurun pada kota-kota tersebut. Melihat kepada pola pertumbuhan kota besar dan metropolitan di Indonesia, tidak berlebihan apabila disimpulkan bahwa permintaan konsumsi energi terkonsentrasi di kota-kota besar dan metropolitan.

Gambar C menunjukkan kaitan antara pertumbuhan PDB dengan pertumbuhan konsumsi energi nasional. Pola grafik antara keduanya menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi energi mengikuti pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, nampak bahwa pada masa krisis 97/98 penurunan PDB jauh lebih drastis dibandingkan dengan penurunan konsumsi energi dan sebaliknya pada masa pemulihan kenaikan konsumsi jauh lebih tinggi daripada kenaikan PDB dan kemudian terjadi lagi penurunan konsumsi energi per kapita sejak 1999 sampai 2003 hingga di bawah angka 1993-1994. Dengan demikian, kota-kota besar dan metropolitan merupakan kota yang mempengaruhi konsumsi energi secara nasional karena dampak yang ditimbulkan oleh fluktuasi perekonomian kota tersebut terhadap konsumsi energi. Kesimpulan ini ditarik melalui analogi bahwa penggerak utama perekonomian sebelum krisis ekonomi adalah kota-kota metropolitan dan besar. Seiring dengan surutnya pertumbuhan ekonomi di kota-kota tersebut maka pertumbuhan konsumsi energi pun menurun. Kesimpulan ini pun harus disikapi secara berhati-hati karena adanya pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak yang mengurangi konsumsi BBM secara nasional. Selama belum terdapat statistik yang memilah konsumsi antara perkotaan dan perdesaan, maka kesimpulan ini sifatnya tentatif.

Pertumbuhan kota yang ke segala arah umumnya terjadi di beberapa perkotaan di Indonesia. Kota-kota tumbuh dengan cepat menciptakan fenomena urban primacy. Kehadiran kota-kota metropolitan merupakan bukti dari terjadinya fenomena tersebut. Indonesia memiliki lima metropolitan dengan kecenderungan pembangunan acak ini (Gardiner dan Gardiner, 2006). Beberapa di antara metropolitan tersebut memiliki daerah pusat yang telah jenuh (Samiaji, 2006) sehingga pembangunan mengarah ke pinggiran, terutama untuk permukiman. Pengembangan kota baru pun dilakukan. Kritik terhadap pola pembangunan berbagai kota baru ini adalah jaraknya yang terlalu dekat dengan kota inti (< 20 km). (Kota baru yang tumbuh ternyata belum mandiri dan masih terikat dengan kota inti yang mendorong perjalanan komuting.) Perjalanan komuting yang dilakukan selama ini memakan biaya yang mahal bagi kelas-kelas pekerja. Dari sudut pandang ekologis, kondisi ini mencerminkan kota yang boros energi dan tidak ramah lingkungan.

Gambar D disamping memperlihatkan pertumbuhan penduduk di metropolitan Jakarta dan sekitarnya lebih condong mengarah ke sepanjang koridor Bogor dan Cianjur (ke selatan). Tercatat pula pada tahun 2005, terdapat 1.026 desa yang dapat dikategorikan sebagai urbanized dan 798 desa yang tetap tergolong rural. Kondisi ini menunjukkan menciptakan kawasan-kawasan pinggiran dengan aktivitas tinggi, seperti kawasan peri-urban. Sementara itu, konsentrasi penduduk tertinggi terletak di kota pusat atau Jakarta karena konsentrasi kegiatan ada di sana. Terdapat kaitan yang tidak menguntungkan antara pembangunan perkotaan dengan pola menyebar dengan jaringan dan layanan transportasi yang buruk, yang mendorong penggunaan kendaraaan pribadi yang tinggi. Kemacetan, tingkat polusi yang tinggi, dan pemborosan energi adalah dampak-dampak merugikan yang ditimbulkan, antara lain oleh kegiatan komuting dan penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi. Pola perkembangan fisik perkotaan ini menjadi indikator bahwa kota-kota besar semakin tidak ramah lingkungan.

Kemana Kota-kota Kita akan Melangkah?: Mencermati Kebijakan Energi Nasional di Perkotaan

Salah satu “kegagapan” pemerintah pusat dalam menyikapi krisis energi adalah tidak adanya kebijakan dalam skala kota dan perkotaan yang mampu diterapkan dengan efektif. Padahal, tidak hanya pemerintah pusat yang disibukkan dengan masalah “energi” ini. Saat ini kita menemukan antrian warga kota yang akan memperoleh minyak tanah. Krisis energi ini merupakan “bom waktu” bagi pemerintah kota bagi penciptaan kestabilan ekonomi dan sosial di daerahnya. Keresahan sosial (social unrest) yang meningkat menciptakan biaya-biaya sosial yang barangkali melebihi tanggungan APBN untuk subsidi masyarakat miskin.

Di sini lain, pemerintah kota tidak pernah mandiri dalam pengelolaan energinya. Pengelolaan energi dianggap sebagai urusan bukan wajib dan dalam kenyataannya memang demikian (lihat UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah). Kondisi ini menyebabkan pemerintah kota berkesan wait and see terhadap krisis energi yang tengah berlangsung. Kebijakan yang berkesan saling lepas, tidak terkait satu sama lain, dan kurangnya sosialisasi menyebabkan persoalan energi di perkotaan semakin mengkhawatirkan. Dalam uraian di atas terlihat bahwa kota merupakan salah satu konsumen energi terbesar seiring dengan pertumbuhan demografi dan fisiknya.

Kondisi yang berbeda dapat ditemukan di negara yang lebih maju, seperti Amerika Serikat. Setiap negara negara bagian (state) memiliki kemandirian dalam pengelolaan energinya. Tidak heran, apabila masing-masing negara bagian dan county (setingkat kabupaten/kota) memiliki kebijakan operasional terkait dengan energi, seperti: program efisiensi dan diversifikasi energi, maupun rancangan teknologi inovatif. Program penghematan energi telah diintegrasikan ke dalam sektor-sektor yang selama ini boros terhadap energi, seperti transportasi dan industri. Sebagian besar negara bagian beserta tingkatan di bawahnya memiliki suatu rencana pengembangan energi untuk mengantisipasi krisis energi yang dihadapi. Kondisi yang sangat berbeda dialami di negeri ini yang daerahnya sangat dimanjakan dengan subsidi BBM dan pasokan energi yang diurus oleh satu Badan Usaha Milik Negara (Pertamina).

PP No. 38 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang merupakan penjabaran dari UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menyebutkan pada pasal 7 (4) bahwa urusan energi dan sumber daya mineral merupakan urusan pemerintah daerah. Namun demikian, urusan tersebut masih berupa pilihan yang artinya tidak wajib dilaksanakan karena disesuaikan dengan kondisi, kekhasan, dan potensi yang dimiliki oleh daerah. UU ini memberikan penafsiran bahwa daerah tidak perlu susah payah dalam urusan pengelolaan energi.

Terbitnya Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, memperlihatkan tekad pemerintah untuk menjaga keamanan pasokan dalam negeri yang dicapai melalui pengurangan elatisitas energi lebih kecil dari satu dan meningkatkan penggunaan energi non-fosil. Perpres ini kemudian ditindaklanjuti dengan Inpres No. 1 dan 2 Tahun 2006 untuk mendorong kebijakan energi nasional tersebut pada tingkat daerah, terutama pada penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif, meskipun pada tingkatan penyediaan dan sosialisasi pemanfaatan sumber energi alternatif. Seringkali, daerah kota-kota bukanlah daerah penghasil energi, sehingga ketergantungan terhadap wilayah luarnya sangat tinggi. Pengembangan energi alternatif sangat tepat ditindaklanjuti, terutama dengan pemanfaatan energi dari alam, seperti angin dan matahari.

Dalam UU No. 30 Tahun 2007 tentang Energi, secara tegas dinyatakan krisis energi merupakan perhatian bersama dan diatasi melalui kerja sama berbagai pihak, sebagaimana halnya dua Inpres sebelumnya. Pemerintah Daerah dituntut menyusun Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang nantinya ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda). Masyarakat juga didorong partisipasinya dalam penyusunan RUED. Secara khusus, dalam bidang ketenagalistrikan, melalui UU No. tentang Ketenagalistrikan, daerah telah sejak semula dituntut untuk menyusun rencana umum ketenagalistrikan di daerahnya. Entah mengapa, tidak banyak daerah yang menindaklanjuti UU tersebut. Tidak hanya itu, kewenangan pemerintah daerah dinyatakan secara eksplisit dalam Pasal 26 UU Energi, yang di antaranya adalah penetapan kebijakan pengelolaan energi di wilayahnya.

Dalam UU Energi pula disebutkan kewajiban bagi pemerintah daerah untuk menyediakan dan meningkatkan energi baru dan energi terbarukan. Pemerintah daerah dapat mendorong investasi dalam kedua bidang tersebut melalui insentif bagi badan usaha yang tertarik dalam bidang tersebut. Laporan Clean Edge (2007) memperlihatkan peluang pasar biofuel di dunia tahun 2006 mencapai 20,5 miliar dollar AS. Beberapa daerah di Indonesia, telah mengembangkan biofuel ini, misalnya di Cirebon dan di Riau. Jelas sekali, kebijakan ini belum menyentuh kawasan perkotaan dengan dominasi kegiatan terbangun. Koordinasi dalam pengembangan energi terbaharukan ini pun masih lemah.

Dalam konteks pengelolaan energi, konservasi energi perlu dilakukan bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah, pengusaha, dan masyarakat. Dengan kewajiban untuk melakukan konservasi energi, pemerintah kota harus turut mendorong penghematan dan efisiensi energi yang berlangsung di dalam industri dan oleh masyarakat, serta memberikan insentif bagi mereka yang berhasil melakukan kegiatan konservasi energi ini. Perangkat kebijakan yang ada di daerah saat ini masih minim dalam kegiatan konservasi ini.Menurut UU Energi pula, penelitian dan pengembangan penyediaan dan pemanfaatan nergi merupakan kewajiban pemerintah daerah. Konteks “penghematan energi” ini yang sedikit mengkhawatirkan karena kota-kota kita masih rendah produktivitas ekonominya. Apabila penghematan dilakukan secara membabi buta, maka akan dikhawatirkan kelangsungan ekonomi kota akan terancam.

Disini terlihat bahwa, kota-kota di Indonesia tidak siap dengan situasi krisis energi yang tengah berlangsung. Padahal, kota termasuk yang paling boros penggunaan energinya karena konsentrasi berbagai kegiatan di dalamnya. Disini diperlukan kebijakan energi yang menyentuh kota sebagai sebuah entitas pengguna energi terbesar di negeri ini dan sangat menentukan.

Kesimpulan: Apa yang Bisa Dilakukan oleh Perencanaan Kota?

Kota memberikan tekanan yang besar terhadap pemanfaatan energi di Indonesia. Kota merupakan konsumen energi yang tinggi di negeri ini, dan dengan demikian sangat mempengaruhi dan dipengaruhi krisis energi nasional yang tengah berlangsung. Dengan pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dan tingkat urbanisasi yang sudah mencapai 40%, pemanfaatan energi di perkotaan menjadi sangat penting untuk ditangani. Tantangan lainnya adalah efisiensi dalam pemanfaatannya, sehingga produktivitas kota-kota tersebut tetap tinggi.

Sayang sekali, bahwa kebijakan nasional tidak menyentuh kota secara eksplisit dalam penanganan krisis energi. Padahal, krisis energi telah menjadi perhatian nasional di tengah naiknya harga minyak mentah dunia. Tidak seperti negara-negara maju, kota telah menjadi bagian terintegrasi dari program-program menyangkut keenergian, UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah pun, hanya menempatkan pengelolaan energi sebagai wewenang pilihan. UU No. 30 Tahun 2007 tentang Energi mewajibkan daerah-daerah untuk memiliki rencana umum energi daerah yang ditetapkan dengan Perda. Dengan demikian, kota-kota pun perlu menyusun rencana umum tersebut.

Namun, kaitan antara kajian mengenai kota dan pengelolaan energi di Indonesia masih sangat kurang diperhatikan. Permasalahan yang harus dihadapi oleh kota-kota ketika menyusun rencana umum energi daerah adalah basis data yang belum lengkap dan akurat. Hal ini dapat menjadi “rangkaian yang hilang” dalam pengembangan kebijakan pengelolaan energi di daerah. Pengambil kebijakan memerlukan data yang akurat, misalnya, mengenai neraca energi di kota-kota tersebut. Data ini pun menjadi bahan informatif perihal konsumsi energi, seperti pemetaan sosial energi maupun spasialnya. Tentu saja tidak hanya menyangkut energi listrik yang menjadi bagian dari Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD), melainkan keseluruhan energi yang digunakan warga kota.

Menyangkut efisiensi pemanfaatan energi, perlu melihat kaitan konsumsi energi dengan produktivitas ekonomi perkotaan, serta dampak-dampak dari konsumsi yang berlebihan. Dalam pengertian ini, konsumsi energi memang dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Perhitungan terhadap ecological footprint, salah satu ukuran yang dapat diterapkan untuk menghitung dampak, dapat menjadi salah satu bagian riset energi ini. Di samping itu, studi mengenai konsumsi energi oleh berbagai sektor dapat memperlihatkan sektor-sektor mana yang masih dapat ditekan konsumsi energinya.

Kebijakan dan pedoman yang dapat dikembangkan tidak hanya menyangkut energi per se, melainkan telah memperlihatkan kaitannya dengan sektor-sektor pengguna energi, seperti perumahan, industri, komersial, dan transportasi. Tata ruang kota, meskipun bukan pengguna energi secara langsung, turut mempengaruhi pemanfaatan energi di perkotaan. Tingkat kekompakkan (compactness) suatu kota jelas memberikan sumbangan terhadap tingkat konsumsi energi energi karena meminimalkan pergerakan komuting dan penyediaan infrastruktur. Melihat perluasan fisik kota-kota besar yang tidak terkendali memperlihatkan tingkat konsumsi energi yang semakin sulit untuk ditekan.

Sudah saatnya, kita memiliki perencanaan kota yang terintegrasi dengan perencanaan energi. Terlebih dengan semakin mengkhawatirkannya dampak-dampak dari krisis energi di perkotaan kita.

2008 © Gede Budi Suprayoga

Bio

Rumah Kubus Butik Bunga

Kubus di kaki bukit RUMAH KUBUSPicture dan data diambil dari: berbagai sumber

THE CUBE. Ditilik dari namanya, bangunan ini tentu saja berbentuk kubus. Kalau diamati mirip karavan, mobil panjang yang berfungsi sebagai hunian. Bangunan ini berada di pegunungan, mirip di sebuah pelosok di Eropa. Padahal, The Cube berlokasi di pinggiran jalan kawasan Butik Resor Klub Bunga, Batu, Jawa Timur.
Dengan desain modern kontemporer, dinding bangunan terbuat dari galvalum bermotif garis dan kaca 10mm. Bangunan dibuat dengan konsep panggung karena berdiri di lahan berkontur. Level lantai bagian depan naik 1m, sedangkan di bagian belakang lebih tinggi lagi, naik 2m. Konstruksinya baja bercat abu-abu muda, fondasi beton dan lantai papan kayu.

Karya Edwin Nafarin dari d.Pavilion Architecture Consultant ini merupakan bagian dari fasilitas resor, yang berfungsi sebagai butik bunga. Keunikannya telah menjadi ikon Klub Bunga yang berada di kaki gunung Panderman ini.

Arsitek Herlianto


Profil Arsitek : IR.HERLIANTO

Nama:
Herlianto, Ir., MTh.
Lahir:
Surabaya, 1 Oktober 1941 Agama: Kristen
Jabatan: – Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) Isteri:
Esther
Anak:
Victor, Erwin, dan Imelda
Pendidikan:
– S1 Arsitek ITB, 1968
– Housing, Planning & Building (Bouwcentrum, The Netherlands), 1979)
– Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang (1976)
– Master of Theology (M.Th.) dari Princeton Theological Seminary, USA, 1982. KARIR:
1. Arsitek/Konsultan:
– Planning Staff & City Field Officer Integrated Approach for the Improvement of Slums & Marginal Settlements (UNEP, 1976-79) – Peneliti Puslitbang Pemukiman Departemen PU (1977-86)
– Koordinator Kursus Perbaikan Kampung Nasional (1979-82)
– Konsultan proyek KIP-Urban IV di 7 Kota Besar (IBRD, 1983-88)
– Konsultan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan (1988-90)
– Urban Ministry Consultant pada World Vision International (1989-93)
– Team Leader Proyek Perbaikan Kampung KIP-MHT (IBRD, 1994-96)
– Breakthrough Urban Initiative (UNDP, 1999)
– Konsultan pada berbagai studi Pengembangan Masyarakat Kawasan Kumuh (UNDP/UNCHS/ UNV/ILO, 1990-04)
2. Bidang Pendidikan:
– Dosen Perumahan di IT Sepuluh Nopember Surabaya dan U.K. Petra (1972-77)
– Dekan di UK Petra (Surabaya, 1976-1979)
– Anggota Rektorium bidang Litbang di UK Maranatha (Bandung, 1983-1986)
– Dosen tamu di Sekolah Tinggi Teologia Bandung (1993-sekarang)
3. Pelayanan – Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) sebuah yayasan keagamaan dan sosial (1982-sekarang).
Karya Tulis:
– Telah menulis 36 buku.
E-mail: herlianto@yabina.org Sumber: Herlianto (13 Februari dan 19 Februari 2009) serta Profilnya dalam buku ‘Kota Besar dan Perilaku Masyarakat,’ penerbit Alumni, 2009)

Ir.Herlianto

Herlianto, Ir., MTh. Arsitek yang ‘Pendeta’ Herlianto, lahir di Surabaya, 1 Oktober 1941, seorang arsitek (ITB, 1968) dan konsultan yang menjadi ‘pendeta’. Mendirikan dan sampai sekarang menjadi Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org, 1982) sebuah yayasan keagamaan dan sosial. Dia telah menulis banyak buku, di antaranya Siapakah yang Bernama Allah Itu.

Herlianto yang menikah dengan Esther dan mempunyai 3 anak Victor, Erwin, dan Imelda, adalah seorang pelayan awam dan arsitek yang memperdalam masalah pembangunan perkotaan dan kemasyarakatan, dan yang mempelajari teologi dengan spesialisasi sejarah agama, gereja dan masyarakat, dan aliran-aliran gereja. Saat ini Ia menjadikan pelayanan firman Allah sebagai yang terutama dalam hidup dengan menjadi ketua Yayasan Bina Awam yang melayani penerbitan buku. Seri Buku Saku Yabina, dan pelayanan melalui internet (www.yabina.org.)

Selain meraih gelar S1 (Ir – arsitek) dari Institut Teknologi Bandung (ITB, 1968), Herlianto juga mendalami Housing, Planning & Building (Bouwcentrum, The Netherlands, 1979). Ia juga seorang teolog yang meraih gelar Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang (1976) dan Master of Theology (M.Th.) dari Princeton Theological Seminary, USA, 1982.

Pernah menjadi peneliti Puslitbang Pemukiman Departemen PU (1979-1986) dan konsultan (1984-2004) dalam berbagai proyek pembangunan perkotaan, perbaikan kampung dan perumahan rakyat, dan mendapat piagam pertama penulis bidang ke-PU-an di harian Kompas pada Ultah ke-40 Dep.PU (1984).

Pernah diangkat, antara lain sebagai konsultan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan (IBRD + Bappenas, 1988-1990). Ia salah seorang Anggota Tim Penulis Laporan Nasional (makalah) Pemerintah RI untuk Konperensi PBB Mengenai Kota & Permukiman (City Summit, Habitat-II, Istanbul, Juni 1996). Juga ditunjuk sebagai penulis Laporan Perumahan di Indonesia (program UNCHS-Nairobi untuk 4 negara, 1993).

Sejak tahun 1982 sampai sekarang menjadi Ketua Yayasan Bina Awam (YABINA ministry, www.yabina.org) sebuah yayasan keagamaan dan sosial dengan misi untuk membangun masyarakat awam yang peka akan masalah teologis dan kemasyarakatan dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat perkotaan.


compilled by author


Dalam bidang pendidikan pernah menjadi Dosen Perumahan di ITS dan Dekan di UK Petra (Surabaya, 1976-1979), Anggota Rektorium bidang Litbang di UK Maranatha (Bandung, 1983-1986), dan dosen tamu di Sekolah Tinggi Teologia Bandung (1993-sekarang) yang mengajar perbandingan agama, aliran-aliran Kristen, sosiologi dan teologi perkotaan.

Telah menulis 36 buku antara lain: Siapakah Yang Bernama Allah (BPK-GM, 2002), Teologi Sukses (BPK-GM, 2006), Menggugat Yesus (Kalam Hidup, 2008), Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Kalam Hidup, 2008), Gerakan Nama Suci (BPK-GM, 2009), dan Housing Needs & Policy Approaches (Duke Univ. Press, 1985); Juga menulis buku trilogi perkotaan berjudul ‘Urbanisasi dan Pembangunan Kota’ (Alumni 1986, dipilih Depdikbud sebagai buku pedoman bidang Lingkungan Hidup untuk guru SMTA), ‘Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota (1997), dan ‘Kota Besar dan Perilaku Masyarakat’ (2009).

Helianto juga sering menghadiri pertemuan perumahan, perkotaan, dan kemasyarakatan. Antara lain Asian University Chaplain Workshop (Hongkong, 1975); Conference on Guidance & Counseling (Manila, 1976); Workshop on British New Towns (London, 1979); Urban City Tour (Paris, 1979); UNESCO Asian Housing Seminar (New Delhi, 1980); UNESCO Urban Housing Training (Manila, 1981); City Planning Commission (New York, 1982);

Seminar on Global Mission (Atlantic City, 1982); Seminar on Rural Settlements (Bangkok, 1984); Study Tour on Housing & Urban Development (Japan, 1984); World Planning & Housing Congress (Adelaide, 1986); Urban Ministry Workshop (Los Angeles, 1990); International Urban Ministry Congress (Chicago, 1990); International Congress of the Association of Major Metropolises (Melbourne, 1990);

Asian Urban Workshop (Singapore, 1992); UNDP – Urban Poverty Partnership Workshop (The Hague, 1993); International Urban Workshop (Edinburg, 1993); Earoph World Planning Congress (Beijing, 1994); International Ministry (Orlando & Los Angeles, USA, 1997); Pacific Rim Urban Think Tank (Singapore, 1997); EAROPH World Planning Congress (Denpasar, 1998); Urban Turmoil in Indonesia (Berlin, 1999); Urban Problems in Indonesia (Tokyo, 2001); dan Postmodernism (Singapore, 2003). ►crs

Sumber:TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Arsitek Aboekasan Atmodirono

Seri Arsitekturdari:berbagai sumber

Dalam sejarah kita, arsitek pertama Indonesia adalah Aboekasan Atmodirono (1860-1920). Ia lulus Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan (Middelbare Technische School) yang berhasil mencapai jenjang opzichter. Setelah naik pangkat, ia dikenal sebagai de eerste inlandse architect (arsitek pribumi pertama) dan bekerja di Departement van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum). Ia hadir di Kongres I Boedi Oetomo dan masuk dalam daftar calon ketua. Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat (volksraad) di tahun 1918, ia ditunjuk duduk di parlemen sebagai tokoh Boedi Oetomo yang juga mewakili Perhimpunan Pamong Praja Pribumi “Mangoenhardjo”.

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).

Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.

Di tahun 1920 Technische Hoogeschool (cikal bakal Institut Teknologi Bandung) di Bandung telah membuka studi arsitektur. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).

Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama.

Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 1959.

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

Silvia Galikano, CNN Indonesia
Minggu, 03/04/2016 20:30 WIB
OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker
Gedung OLVEH di masa kejayaannya. (Dok. JOTRC)

Jakarta, CNN Indonesia — Cat putih, gaya bangunan neoklasik, dan dua menaranya yang gagah membuat Gedung OLVEH menonjol dari kejauhan.

Semakin menarik ketika didekati, terdapat susunan batu membentuk tulisan “OLVEH van 1879” di lantai teras. Dan untuk masuk, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena lantai dasar gedung ini lebih rendah 60 sentimeter dari permukaan jalan.

Bukan karena sengaja dibangun di bawah permukaan jalan, melainkan proyek peninggian jalan yang berlapis-lapis tanpa ampun dari tahun ke tahun telah menenggelamkan gedung-gedung di kiri-kanan jalan.

Gedung milik asuransi Jiwasraya di Jalan Jembatan Batu no 50, Pinangsia Jakarta Barat ini sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Cat dindingnya kusam, bahkan terkelupas. Tanaman tumbuh liar di sela-sela tembok.
Bangunan ini punya sejarah menarik. Didesain oleh arsitek Schoemaker dan dibangun F. Loth untuk kantor Onderlnge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp (OLVEH), perusahaan asuransi jiwa yang berdiri pada 1879, berpusat di Den Haag, Belanda. Upacara peletakan batu pertamanya diadakan pada 1921 atas permintaan putri direktur, Peereboom Voller.Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) kemudian mengkonservasi gedung tersebut sejak akhir 2014. Peresmian rampungnya konservasi diadakan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Gedung OLVEH yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 7 Januari 1922 adalah gedung tiga lantai dengan dua menara. Lantai pertama dan kedua disewakan untuk tenant, sedangkan kantor OLVEH menempati lantai tiga.

Sebuah tangga marmer didesain dengan keamanan yang baik sebagai penghubung antarlantai. Toilet dan kamar mandi dibedakan dengan jelas dan didesain menggunakanexhaust.

Boy Bhirawa, arsitek yang mengkonservasi Gedung Olveh, menjelaskan, pada awalnya, tim konservasi belum mengetahui nama arsitek yang mendesain gedung OLVEH.

Ketika Boy melihat ke dalam gedung, termasuk lantai atas, dan memperhatikan detailnya, sampailah dia pada kesimpulan yang membuat gedung ini bukanlah arsitek biasa.

Sang arsitek membagi ruangan dengan sistem yang jelas sekali: tiga melintang dan tiga membujur serta kolom hanya ada di tengah ruangan dan tak ada di samping.

Selain itu, dari kolom yang dindingnya rontok hingga tampak tulangnya, diketahui bangunan ini berasal dari zaman peralihan sebelum dinding struktur beton bertulang menjadi umum.

Terdapat langit-langit kaca (skylight) di lantai tiga yang memberi cahaya cantik dan berbeda-beda di ruangan dari pagi hingga petang. Teknologinya pun luar biasa, memberi dudukan besi yang membuat air hujan tidak masuk ke ruangan. Pada masa itu, skylight adalah sesuatu yang baru.

“(Lantai tiga) ini crème de la crème bangunan. Cahaya dari atas membuat ruangan punya cahaya sendiri yang berubah-ubah dari pagi sampai sore,” kata Boy.

“Tanpa melihat jam, kita bisa tahu sekarang pukul berapa. Bahkan kalau lebih peka lagi, bisa tahu bulan apa, hanya dari sudut jatuhnya cahaya matahari.”

Skylight dianggap sebagai konsep tinggi seperti memasukkan waktu ke dalam ruang. Arsitektur ini dianggap abadi, mati waktu, terbekukan melalui ada cahaya yang berubah terus sejak terbit hingga terbenamnya matahari.

Gedung Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (cat putih) atau OLVEH dahulunya adalah kantor perusahaan asuransi Belanda dan saat ini selesai direvitalisasi oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC), Jakarta, Selasa, 23 Maret 2016. Bangunan ini menjadi saksi turunnya permukaan tanah di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Dua wajah

Perhatiannya pun tertambat pada adanya dua balkon, yang menghadap depan dan menghadap belakang. Artinya gedung ini menghadapkan wajah ke depan dan ke belakang. Wajar jika menghadapkan wajah ke depan karena di sanalah pusat bisnis Batavia. Tapi ke belakang?

Di belakang gedung ini adalah kawasan Pecinan. Di sana ada klenteng dan rumah abu selain perkampungan penduduk Tionghoa. Inilah cara sang arsitek menghormati penduduk dan budayanya. Dengan memberi balkon ke arah Pecinan, dia memberi satu bagian wajahnya ke belakang untuk komunitas, bukan membelakangi.

Sebagai kantor bisnis keuangan, wajar jika bangunan ini punya menara dan pilar-pilar. Dua menara membuat gedung ini mudah dikenali sebagai kantor selain tampak bergengsi. Pilar-pilarnya jadi simbol kekuatan, ketahanan, matang, dan mapan.

“Itu sebabnya kantor jasa keuangan, seperti bank dan asuransi, mengambil bangunan klasik. Tujuannya untuk mengesankan bisnis mereka sudah berjalan lama agar masyarakat merasa aman menitipkan uang di sana,” ujar Boy.

Schoemaker bersaudara

Pencarian arsitek yang mendesain gedung ini pun dilakukan. Pusat Dokumentasi Arsitektur tak menyimpan data tentang gedung OLVEH. Lantas ditemukan guntingan surat kabar Hindia Belanda Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 31 Desember 1921.

Di sana tertulis arsitek Gedung OLVEH yang berada di Voorrij Zuid (nama jalan Jembatan Batu waktu itu) adalah Profesor Schoenmaker (kemungkinan maksudnya Schoemaker, tanpa “n”).

Lantas timbul pertanyaan, Schoemaker yang mana? Karena kakak-adik Schoemaker, Wolff (1882-1949) dan Richard (1886-1942), sama-sama arsitek dan sama-sama guru besar di Technische Hogeschool (sekarang ITB).

Karena Richard sudah ditabalkan sebagai guru besar pada 1920, sedangkan Wolff baru dua tahun kemudian, maka artikel itu dipastikan mengacu pada Richard Schoemaker. Namun dari gaya bangunan, tim konservasi cenderung meyakini bahwa ini karya Wolff Schoemaker.

Bagian dalam Gedung Olveh sebelum renovasi. (Dok. JOTRC)

“Kubah dua menaranya persis kubah Gereja Bethel di Bandung, karya Wolff Schoemaker. Menaranya pun didesain bersusun mirip teknik perspektif bangunan candi,” kata Boy.

Ditambah lagi, ada faktor kemanusiaan yang menguatkan bahwa Wolff-lah perancang utama gedung OLVEH. Hidup Wolff dibagi tiga periode, yakni lahir di Banyubiru, Indonesia; bersekolah di Delft, Belanda.

Masa Wolff bersekolah adalah masa puncak para arsitek muda punya statement, sepertide stij, amsterdam syle, dan semuanya kuat. Sebuah pemberontakan terhadap gaya lama.

Semangat itu dia bawa saat kembali ke Batavia. Pada masa awal, Wolff masih bergaya modernis.

“Seorang arsitek senior Belanda saat itu menasihati, jika Wolff hendak membuat arsitektur di Hindia Belanda seharusnya mempertimbangkan iklim tropis Nusantara dengan menerapkan gaya arsitektur Indische. Dan dia berusaha memahami,” ujar Boy.

Pada periode pertama Wolff berkarya, desainnya belum tropis, tak ada teritis sehingga saat hujan akan tampias ke dalam.

Pada saat yang sama, Wolff suka candi. Posisi candi berstruktur telanjang, tak ada “genit-genitnya” karena memang bukan tempat tinggal.

Bentuk candi ini dia ikuti. Menara gedung OLVEH yang berundak adalah menyalin bentuk candi, dan ekspresi itu masih belum tropis untuk ditinggali.

“Karena itu kami punya masalah dalam hal ini. Kalau hujan, di sini tampias, juga tampias ke jendela kayu,” kata Boy.

Pada periode ke-dua, dia mulai mengatasi masalah tropis. Dan pada periode ke-tiga, rancangan Wolff Schoemaker sudah sangat Nusantara.

Bagian dalam gedung OLVEH usai renovasi. (Dok. JOTRC)

Wolff adalah ilmuwan yang menguasai ilmu teknik, budaya, dan seni rupa. Dia pun bekerja di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (BOW, Dinas Pekerjaan Umum). Maka wajar jika tahu lebih dulu jika di sini akan jadi pusat bisnis.

Sebagai catatan, Gedung OLVEH dibangun saat kawasan plaza (Stationsplein) belum terbentuk. Stasiun BEOS, Nederlandsche Handel Maatschappij (kini Museum Bank Mandiri), dan Nederlandsch-Indische Handelsbank (kini Bank Mandiri) belum berdiri.

Dari sisi komplikasi personal, Wolff lebih komplit, dia mengalami pindah agama. Dikabarkan, Wolff menjadi muslim pada awal 1930-an, walau pada akhirnya dimakamkan secara Nasrani di ereveld Pandu, Bandung.

“Masalahnya bukan agama apa, tapi dia mencari kebenaran. Prosesnya mempelajari candi adalah juga proses mencari kebenaran. Proses itu menjadi penting buat saya, karena kalau kita bicara arsitektur saja, maka terbatas fisik. Sedangkan ini tatarannya bukan hanya profesional, tapi juga wisdom,” kata Boy menguraikan.

Wolff dianggap memenuhi proses, yakni sebagai arsitek, pengajar, militer, bekerja di BOW, hingga akhirnya independen bekerja di perusahaan sendiri. Dua bersaudara Richard L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker mendirikan C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs.

Meski demikian, lanjut Boy, tak terlalu penting siapa yang merancang karena keduanya berada di satu perusahaan, sehingga tugas merancang bisa dikerjakan bergantian.

“Kalau toh ini dilepaskan ke adiknya, pengaruh Wolff banyak sekali karena pengetahuan dia sudah beyond, sudah religion.” (les/les)