Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]
Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Tokoh Arsi Mancanegara

Arsitek kenamaan Inggris, Zaha Hadid, meninggal dunia

Arsitek kenamaan Inggris, Zaha Hadid, meninggal dunia

  • 31 Maret 2016
Zaha HadidImage copyrightRIBA l PA
Image captionZaha Hadid adalah perempuan pertama yang menerima medali emas dari kerajaan Inggris.

Arsitek Inggris kenamaan, Zaha Hadid, meninggal dunia pada hari Kamis (31/04), dalam usia 65 tahun.

Hadid yang lahir di Irak ini terkena bronchitis pekan ini dan mengalami serangan jantung ketika menjalani perawatan di Miami, Amerika Serikat.

Hadid memiliki kantor di London dan menangani proyek-proyek besar, di antaranya Gedung Opera Guangzhou di Cina dan arena renang di kompleks Stadion Olimpiade London.

Selain itu ia juga menggarap sejumlah gedung di Hong Kong, Azerbaijan, dan Jerman.

Wartawan seni BBC mengatakan karya-karya Hadid dikenal dengan lekukan dan sentuhan geometrik yang modern.

Zaha HadidImage copyright
Image captionCiri khas karya Zaha Hadid, ‘lekukan sensual’ dengan sentuhan modern.

Karya-karya Hadid mengantarkannya menjadi wanita pertama yang menerima medali emas dari asosiasi arsitek Inggris.

Hadid lahir di ibu kota Irak, Baghdad, dan berkuliah di Beirut, Lebanon, untuk belajar matematika, sebelum menekuni bidang arsitektur di London.

Pada 1979 ia mendirikan perusahaan Zaha Hadid Architects.

Proyek besar pertamanya adalah menggarap kantor pemadam kebakaran Vitra di Weil am Rhein, Jerman.

Arsitek Frank Botha

Profil Arsitek : MARIO BOTTA

compilled by author

Mario Botta adalah tokoh arsitek pembaharu dan pendobrak mode Eropa yang lahir di Mendrisio Swiss tahun 1943, karya-karyanya seringkali dikaitkan dengan Post-Modernism.


Latar Belakang Budaya

Negara Swiss sebagai suatu negara asal Mario Botta merupakan suatu phenomena kultural tersendiri. Negara itu berdasar budaya dan bahasa “terbelah” menjadi dua kutub : Germany dan Roman (Italia dan Perancis). Dalam sejarah rancang bangunan, kedua geografi kultural itu tidak hanya berlainan posisi demografis, tetapi mengakar dan mewujud dalam representasi dan pernyataan gubahan bentuk. Swiss bagian utara mendapat aksen Germany yang sangaat kuat dengan arah dan orientasi yang kuat pada transformasi tradisional ke rasional, pengakuan individual dan industrial. Sementara di Selatan, corak bangunan sangat dipengaruhi oleh keragaman sumber yang kaya akan kemungkinan dan kebutuhan untuk mencari representasi kolektif tipologik.

Selatan Swiss lebih terbuka dan hangat secara sosial. Pada lanskap dan topografi bangunannya, Utara dan Selatan Swiss tidak mudah dapat dibedakan melalui suatu generalisasi. Sebab disana-sini terdapat banyak “interfaces” dan
kerangka dasar yang sama oleh sistem pendidikan (ETH Zurich dan Laussane) juga oleh Peraturan Bangunan (Building Codes); meskipun dari satu Kantoon ke yang lainnya ada beberapa perbedaan.

Bagi Sejarah Seni Bangunan, Swiss pada Abad ke 20 bukanlah negeri yang tidak dikenal sebagai panggung yang memikat pelajar dan praktisi rancang bangunan. Hannes Meyer (1889-1954) yang pernah memimpin Bauhaus yang terkenal itu. merupakan putra Swiss. idea modern dalam seni bangunan masih merupakan tradisi tersendiri di Swiss. Kelanjutan tradisi modernistik dalam seni bangunan tidak menyurut, tetapi hingga kini berlanjut. Yang sangat menarik, Mario Botta berada pada posisi berkarya di antara kebutuhan dan pengaruh yang kuat: “Modernisme” dan “Historisme” khususnya dalam konteks warisan prinsip seni bangunan Palladian.Representasi yang kuat dari yang terakhir ini dipelopori oleh Bruno Reichlin dan Fabio Reinhart ; yang merupakan kolega dekat Mario Botta dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Aliran Tessin. Corak bangunan Palladian memiliki kontinuitas yang kuat di Italia Utara termasuk Swiss; dari Palladio akhir Abad 16, dilanjutkan oleh Scamozi pada awal abad 17, kemudian Lord Burlington di Inggris pertengahan Abad ke 18, hingga puncaknya pada Durand di awal Abad ke 19. Dalam beberapa hal rancang bangun, Mario Botta sangat kuat menganut gubahan geometri abstrak
yang kuat sebagaimana para arsitek modern sejak 1920-an; khususnya Le Corbusier. Sekalipun demikian Botta tidaklah cenderung pada Eklektisme pada seni bangunan klasik seperti oleh Andrea Paladio pada Abad ke 16.

Dari Casa Cadenazzo hingga Casa Rotonda: Debut Botta

Pada awal masa kiprahnya sebagai arsitek, Mario Botta semula dikenal sebagai arsitek rumah tinggal. Botta membangun rumah-rumah tinggal di: Cadenazzo , Riva San Vitale dan Ligornetto. Setelah menamatkan pendidikan arsitektur di Milan dan Venezia, Botta melengkapi debutnya sebagai arsitek terkenal Eropa dengan Rumah Tinggal: Casa rotonda 1980-82 di Stabio. Tentang hunian, Botta punya idea tersendiri yang tampaknya bertentangan dengan Giorgio Grassi yang menuntut hubungan harmoni melalui suatu nilai kolektif  bentuk
diantara masyarakatnya. Sementara, Botta justru sebaliknya, mengundang suatu “perpaduan” antara luar dan dalam yang mampu menghasilkan suatu jalinan kerjasama melalui “redefinisi bentuk” yang sudah dikenal. Botta
tidak segan-segan memberi tempat pada keragaman tuntutan nilai dari perorangan dan eksperimen bentuk dengan tidak menafikan kepentingan kolektif untuk keseragaman dan rasionalitas.

Disain rumah hunian yang dimulainya sejak tahun 1961, merupakan suatu penjelajahan segala kemungkinan.Kesimpulan sementara yang diperolehnya ternyata tipologi hunian untuk keluarga tidak nampak lagi.
Botta tidak putus asa, namun terus mencari pendefinisian kembali unsur-unsur tradisional rancang bangunan. Idea Casa Rotunda merupakan gubahan yang sama sekali lain dan menggugah citra rasa historik . Bentuk cylindric yang dipilihnya untuk Casa Rotonda mengingatkan orang pada Menara Hunian Abad Pertengahan. Casa ini bukan hanya punya konteks historik pada daerah Tesin, tetapi sangat sensitif mengakomodasi iklimnya. Teriknya matahari ditanggulangi oleh dinding yang tegar dan masif, sementara pemandangan ke lembah Tesin dibuka dengan jendela dan teras yang optimum dengan komposisi yang dramatik.

Aliran Tessin dan Botta

Di dalam konteks seni bangunan kontemporer dunia dan khususnya Eropa, Mario Botta sendiri merupakan suatu pribadi yang kuat; tercermin dalam rancang bangunnya dengan gubahan variasi volume dan bidang geometrik .
Kekuatan rancang bangunan Botta cenderung pada permainan bidang dan kekuatan volume bentuk dan ruang yang pernah dieksploitasi oleh Le Corbusier, Louis I Khan dan Luigi Snozzi. Hal ini tidak mengherankan mengingat mereka pernah bertemu dan magang singkat. Pada le Corbusier, Botta pernah magang untuk membangun sebuah Rumah Sakit di Venezia . Pengaruh Corbusier nampak kuat pada penggunaan volume kantilever hanya nampak pada awal-awal kariernya; khususnya pada Rumah Tinggal di Stabio. Sementara pengaruh Kahn mempengaruhi banyak karyanya.

Echo dari Gedung Parlemen Kahn di Dacca, Bangladesh terlihat pula pada Rumah Tinggal di Cadenazzo ; bukaan lingkaran besar yang kuat menjadi kharakter tersendiri yang memperkuat komposisi bentuk volumenya. Snozzi bersama dengan Ivano Gianola, Livio Vacchini, Bruno Reichlin, Fabio Reinhart dan Michael Adler dikenal sebagai tokoh-tokoh Tecinese School (l’Ecole tessinoise). Dalam geografi seni bangunan Eropa, Aliran ini kuat memperagakan rancangan kontekstual dengan citra rasa kesejarahan setempat. Morphologi kota dan tipologi bangunan menjadi bagian penting dari theori urbanism Aliran Tesini ini.

Di Eropa pada khususnya dan Dunia pada umumnya, Mario Botta adalah arsitek ujung tombak dari Swiss yang membawa citra budaya bangunan dengan estetika klasik yang enerjik. Pengalaman estetik yang ditawarkan oleh karya-karya Mario Botta kaya dengan informasi dan semacam “hubungan” ke karya-karya seni bangunan klasik seperti Alberti, Serlio dan Paladio. Sekalipun demikian, karya-karya Botta tidak terjebak pada repetisi klise. Sebaliknya, kekuatan rancang bangunan Botta berbicara mengenai re-definisi sejarah lebih melalui variasi bentuk geometri yang kuat dengan pengulangan pola tebal pada bidang-bidangnya. Semua merujuk
pada keutuhan komposisi dialokl antara keras-lembut, padat-tranparan dst.

Katedral Evry: Urbanisme Botta
rancang bangunan Mario Botta membuka bidang-bidang dinding melalui bentuk dasar geometri yang kuat. Salah satunya, Botha mengolah bukaan-bukaan yang dramatik dan kuat.
Botta dalam merancang tidak menampakkan lelah bereksperimen dengan bahan bahan yang sangat dikuasainya dengan baik : “pola batu bata”. Kekayaan pengalaman estetik yang dihasilkan oleh karya-karya Mario Botta terbangun oleh kekuatan pribadi rancangan yang tidak kompromistik. Dinding yang tegas tak berjendela atau bukaan yang dramatik oleh komposisi bidang yang kontras merupakan contoh-contoh bagaimana pernyataan rancang bangun tampil ke publik.Karya Botha juga tak lepas dari kritik. Diantaranya (yang paling keras) berasal dari Nold Egenter, seorang antropolog Swiss (negenter@worldcom.ch), yang dengan sengit mengkritik Museum San FranciscoMuseum of Modern Art; karena berskala gigantik dan tidak ramah mengakomodasi ruang publik untuk masyarakat.

 

editor : Eddy Sriyanto

  DAFTAR PUSTAKA:Jencks, Charles: The Language of Postmodern 1980 London, Academy Edition
Framton, Kenneth: Mario Botta 1994 New York, Rizzoli
Gili, Gustavo: Architectures 1980-1990 1992
Nicolin, Pierluigi: Mario Botta, Building and Projects 1961-1982 1984
Norberg Schulz, C: Mario Botta 1995 Milan
Pizzi, Emilio (ed): Mario Botta , The Complete Work, 1993 Volume 1 1960-1985
1994 Volume 2 1985-1990

 

Arsitek Frank Lloyd Wright

 

 

FRANK LLOYD WRIGHT
ARSITEK PELOPOR DUNIA


Frank Lloyd Wright (June 8, 1867 – April 9, 1959) adalah arsiteks paling terkenal pada paruh abad pertama abad duapuluh.

Dilahirkan di daerah pertanianf Richland Center, Wisconsin, USA dan membawa konsep unitarian dan prinsip keterbukaan /transcendental , eventually designing the Unity Temple in Oak Park, Illinois. Ketika kanak-kanak ia menuangkan daya ciptanya dengan bermain kotak-kotak taman bermain anak buatan Friedrich Wilhelm August Fröbel (lebih dikenal sebagai Froebel’s blocks) yang diberikan ibunya. Bermacam-macam kotak-kotak geometris yang dapat dirakit dalam berbagai kombinasi untuk membentuk komposisi yang tiga dimensi. Wright dalam autobiografinya bicara tentang pengaruh dari latihan ini pada disain-disain yang dikerjakannya. Banyak sekali karyanya yang didasari bentuk geometris tersebut.

Wright memulai pendidikan formalnya tahun 1885 di Universitas Wisconsin School jurusan Engineering, dimana ia menjadi anggota suatu fraternity, Phi Delta Theta. Dia mengambil kelas paruh waktu selama dua tahun tatkala bekerja magang pada Allen Conover, pembangun lokal dan guru besar teknik sipil. Pada tahun 1887, Wright meninggalkan universitas tanpa gelar (walaupun ia mendapatkan penghargaan tinggi atas karya seninya dari almamater pada tahun1955) dan pindah ke Chicago, Illinois, dimana ia bergabung the arsitekural firm of Joseph Lyman Silsbee. Selama tahun itu, dia meninggalkan Silsbee untuk bekerja pada perusahaan of Adler dan Sullivan. Dimulai pada tahun 1890, dia ditugasi mengerjakan semua karya disain rumah tinggal untuk perusahaan itu. Di tahun 1893, after a falling out that probably concerned the work he had taken on outside the office, Wright meninggalkan Adler dan Sullivan untuk meresmikan prakteknya sendiri dan menetap di pinggiran kota Chicago Oak Park, IL. Dia telah menyelesaikan sekitar lima puluh proyek pada tahun 1901 termasuk banyak rumah tinggal di kampung halamannya.

Antara tahun 1900 dan 1910, disain perumahannya adalah”Prairie Houses”(Pemukiman di daerah rawa) (gedung rendah yang dipelebar dengan atap datar, clean sky lines, suppressed chimneys, overhangs dan terraces, menggunakan material unfinished ), so called because the design is considered to complement the land around Chicago. Perumahan ini ditetapkan menjadi contoh pertama of the “open plan” Kenyataannya, manipulasi ruangan interior dalam pemukiman dan bangunan-bangunan umum [seperti Unity Temple] adalah hallmark dari gayanya. Ia yakin bahwa humanity adalah pusat dari segala rancangan. Banyak karyanya ditemukan di Buffalo, New York, menghasilkan satu ikatan persahabatan antara Wright dan seorang eksekutif dari Perusahaan Sabun Larkin , Darwin D. Martin. Pada tahun 1902 the Larkin Company memutuskan untuk build a new administration building. Wright mengunjungi Buffalo dan mendisain tak hanya untuk Larkin Administration Building (sudah dibongkar untuk bangunan lain), tetapi juga tiga rumah untuk eksekutif perusahaan :

  • George Barton House, Buffalo NY, 1903
  • Darwin D. Martin House, Buffalo NY, 1904
  • William Heath House, Buffalo NY, 1905

 

Darwin Martin House, Buffalo, New York

Permukiman yang diyakini mahakarya periode terakhir Prairie (1907-1909) adalah Frederick Robie House dan the Avery dan Queene Coonley House, semuanya terletak di Chicago. The Robie House dengan garis atap kantilever yang melayang, didukung oleh 110 kaki baja kanal, sangatlah mempesona.
Pada ruang keluarga dan ruang makan terbentuk ruang yang tidak terganggu. Bangunan itu sangat dipengaruhi oleh arsitek Eropa muda paling terkenal sesudah Perang Dunia I dan dijuluki “Batu Penjuru Modernisme.” Pada tahun 1910, Wasmuth Portfolio dipublikasikan, dan menciptakan eksposisi pertama karya Wright di Eropa.

Dia mendisain kompleks studionya sendiri, dinamai Taliesin (after the 6th century Welsh poet, yang secara literal berarti ‘shining brow’), yang dibangun dekat Spring Green, Wisconsin pada tahun 1911 dan dimodifikasi serta diperluas beberapa kali.
Taliesin dua kali terbakar musnah ; bangunan yang sekarang ini dinamai Taliesin III. Pertama kali terbakar, tujuh orang meninggal dunia, termasuk isteri Wright, Mamah Borthwick, dan dua anak dari pernikahan wanita itu dengan Edwin Cheney.

Dia berkunjung ke Jepang, pertama kali di tahun1905, dan Eropa (1909-10), membuka kantor perwakilan di Tokyo pada tahun 1916 .
Di Tokyo, Wright merancang Imperial Hotel, diselesaikan tahun 1922 after beginning construction in 1916. On September 1, 1923, satu dari beberapa gempa bumi terburuk dalam jaman modern Jepang yang menghantam Tokyo dan daerah sekitarnya. Gempa bumi besar Kanto membumiratakan Tokyo dan akibat gempa bumi dan tsunami yang dahsyat,destructive tornado yang menghancurkan, dan kebakaran besar di kota. Satu rumor yang muncul dari bencana ini adalah bahwa Wright’s Imperial Hotel satu-satunya bangunan besar yang bertahan terhadap berbagai musibah itu, tetapi pada kenyataanya, rumor tersebut tidak dapat dibuktikan.

Wright sangat bertanggungjawab pada satu konsep or a series of extremely original concepts of suburban development united under the term Broadacre . Dia mengusulkan gagasan ini dalam bukunya The Disappearing City pada 1932, dan unveiled a very large ( 12 oleh 12 feet) model dari komunitas masa depan, menunjukkan beberapa venue beberapa tahun berselang. Dia terus mengembangkan idea sampai saat meninggalnya.

Juga pada tahun 1930 an Wright merancang banyak perumahan”Usonian” houses— terutama untuk kalangan menengah designs for middle-class people that were based on a simple geometry, yet elegantly done dan practical. He would later use such designs in his First Unitarian Meeting House built in Madison, Wisconsin between 1947-1950.

Fallingwater, the most famous of Frank Lloyd Wright's work

Fallingwater, karya Frank Lloyd Wright yang paling termashur

Gedungnya yang paling termashur di bangun dari tahun1935 to 1939—Fallingwater untuk Mr. dan Mrs. E.J. Kaufmann senior di Mill Run, Pennsylvania, yang dirancang berdasarkan keinginan Wright to place the occupants close to the natural surroundings, with a stream running under part of the building. Konstruksi terdiri dari satu seri balkon-balkon cantilevered dan teras-teras, menggunakan batukapur for all verticals dan concrete for the horizontals. Rumah tinggal ini bernilai tarif arsitek $80,000. Pemilik Kaufmann menyatakan bahwa disain itu tidak kuat. Mereka telah dikuasai oleh Wright, tetapi dengan diam-diam menambahkan baja-baja struktur pada beton horisontal. There is a difference of opinion as to whether Wright’s original design would have withstood the test of time, but it now became necessary to repair the concrete beams. In 1994, Robert Silman dan Associates examined the building, dan developed a plan to restore the structure. In the late 1990s, steel supports were added under the lowest cantilever, until a detailed structural analysis could be done. Pada bulaan Maret 2002, post-tensioning dari teras yang paling bawah telah terselesaikan.

Price Tower, Bartlesville Oklahoma

Price Tower, Bartlesville Oklahoma

Wright mempraktekkan apa yang disebut dengan suatu arsitektur organik, suatu arsitektur yang dihasilkan murni dari konteks, yang diutamakan olehnya hubungan antara tapak dengan bangunan. Dalam hal ini, ia sangat dipengaruhi oleh pakar furnitur Amerika dan arsitek Gustav Stickley.

Satu dari proyeknya,Monona Terrace in Madison, Wisconsin, diselesaikan tahun1997 on the original proposed site, menggunakan Wright’s original design for the exterior with an interior design oleh pekerja magangnyaTony Puttnam. Monona Terrace was accompanied oleh controversy reminiscent of Wright’s own life, partly involving the authenticity of the combined interior dan exterior designs, dan partly due to the covering-up of a locally-venerated roadside mural.

Kehidupan pribadi Wright sangat penuh dengan warna yang menjadi kepala berita on. Ia menikah tiga kali: Catherine Lee Tobin in 1889, Miriam Noel in 1922, dan Olga Milanov Hinzenberg (Olgivanna) in 1928. Olgivanna pernah menjalani kehidupan sebagai pengikut mistik ArmeniaG. I. Gurdjieff, dan pengalaman wanita ini dengan Gurdjieff memberi pengaruh pada bentuk dan struktur karya Wright Taliesin Fellowship pada tahun 1932. Pertemuan Gurdjieff dan Wright diungkapkan dalam Robert Lepage’s The Geometry Of Miracles. Olgivanna melanjutkan Fellowship setelah kematian Wright, sampai kematiannya di Scottsdale, Arizona tahun 1985.

Solomon R. Guggenheim Museum, Upper East Side, New York

Enlarge

Solomon R. Guggenheim Museum, Upper East Side, New York

Wright merninggal pada tanggal 9 April 9tahun1959, telah mendisain sejumlah besar proyek penting termasuk Solomon R. Guggenheim Museum di kota New York , suatu bangunan yang memakan waktu selama 16 tahun (1943–1959) dan mungkin merupakan karyanya yang paling terkenal. Gedung ini muncul sebagai suatu spiral yang lembut dan hangat dari lokasinya di spiral from its site on Fifth Avenue; interiornya menyerupai bagian dalam cangkang laut. . Malangnya, ketika museum itu telah dilengkapi, sejumlah detail penting dari disain Wright telah diabaikan, termasuk hasratnya bahwa interior harus dicat putih krem.

Wright membangun 362 unit rumah. Sekitar 300 masih bertahan sampai tahun 2005. Hanya satu yang rusak karena alam, sebuah rumah waterfront di Mississippi dihancurkan oleh sebuah badai pada tahun 1960-an; lalu, the Ennis-Brown House di California rusak oleh earthquake dan pergerakan air tanah. While a number of the houses are preserved as museum pieces dan millions of dollars are spent on their upkeep, other houses have trouble selling on the open market due to their unique designs, generally small size dan outdated features.

 

Salah satu putera Wright, Frank Lloyd Wright Jr., lebih dikenal sebagaiLloyd Wright, juga merupakan arsitek handal.

 

KARYA F.L.WRIGHT YANG LAIN :

The Robie House on the University of Chicago campus

Enlarge

The Robie House on the University of Chicago campus

  • Arthur Heurtley House, near Oak Park, Illinois, 1902
  • William H. Winslow House, near River Forest, IL, 1894
  • Ward W. Willits House, Highland Park, IL, 1901
  • Susan Lawrence Dana House, The Dana-Thomas House Springfield, IL, 1902 – 1904
    • The Dana-Thomas House, Springfield, Illinois
  • George Barton House, Buffalo NY, 1903
  • Darwin D. Martin House dan Gardener’s Cottage, Buffalo NY, 1904, 1905
  • Burton & Orpha Westcott House, Springfield, Ohio, 1904
  • William Heath House, Buffalo NY, 1905
  • The Larkin Administration Building, Buffalo NY, 1906
  • Unity Temple, Oak Park, IL, 1906
  • Avery Coonley House, Riverside, IL, 1907
  • Walter V. Davidson House, Buffalo NY, 1908
  • Frederick C. Robie House, Chicago, Illinois, 1909
  • Imperial Hotel, Tokyo, Japan, 1915-1922; hancur, 1968, lobby dan pool dibangun kembali tahun 1976 di desa Meiji , dekat Nagoya, Jepang
  • Aline Barnsdall House (“Hollyhock House”), Los Angeles, CA, 1917
  • Charles Ennis House, Los Angeles, CA, 1923
  • Darwin D. Martin Residence, (“Graycliff Estate”), Buffalo NY (Derby, NY), 1927
  • Johnson Wax Headquarters, Racine, Wisconsin, 1936
  • Paul R. Hanna House (“Honeycomb House”), Stanford, CA, begun 1936
  • Herbert F. Johnson House (“Wingspread”), Wind Point, WI, 1937
  • V.C. Morris Gift Shop, San Francisco, CA, 1948
  • Price Tower, Bartlesville, Oklahoma, 1952
  • R.W. Lindholm Service Station Cloquet, Minnesota 1956
  • Marin County Civic Center, San Rafael, CA, 1957-1966 (featured in the movies Gattaca & THX-1138)
  • Blue Sky ausoleum, Buffalo NY, 2004

Link dan sumber pustaka terkait:

 

View of Solomon R. Guggenheim Museum exterior

Bulan Juni 1943, Frank Lloyd Wright menerima surat dari Hilla Rebay, penasehat seni Solomon R. Guggenheim, yang meminta sang arsitek design a new building to house Guggenheim’s four-year-old Museum of Non-Objective Painting. The project evolved into a complex struggle pitting the architect against his clients, city officials, the art world, and public opinion. Both Guggenheim and Wright would die before the building’s 1959 completion. The resultant achievement, the Solomon R. Guggenheim Museum, testifies not only to Wright’s architectural genius, but to the adventurous spirit that characterized its founders.
Wright made no secret of his disenchantment with Guggenheim’s choice of New York for his museum: “I can think of several more desirable places in the world to build his great museum,” Wright wrote in 1949 to Arthur Holden, “but we will have to try New York.” To Wright, the city was overbuilt, overpopulated, and lacked architectural merit.

Still, he proceeded with his client’s wishes, considering locations on 36th Street, 54th Street, and Park Avenue (all in Manhattan), as well as in the Riverdale section of the Bronx, before settling on the present site on Fifth Avenue between 88th and 89th Streets. Its proximity to Central Park was key; as close to nature as one gets in New York, the park afforded relief from the noise and congestion of the city.