Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Asia

People Building di Tiongkok

Gedung ‘Orang’ Shanghai   ‘Ren’ atau ‘jen’ artinya adalah “manusia/ orang”. Di sini filosofi China sangat kuat dalam perancangan gedung ini.

People's Building

Tak ada warna merah, tak ada simbol Tao ataupun Buddhism, tapi The Povo Building (codename: REN) is a project of a group of danish architects and designers named BIG (Bjarke Ingels Group). An oriental philosophical form, a symbol which goes beyond the similarity with the calligraphic sign with whom it identifies. That way, the body emerges from water and is dedicated to the activities of physical culture, sports, etc.; since the emerging body of land is destined to activities such as “spiritual enrichment” – conference center and others. At the point of encounter, where the building turns into one, is located a hotel of 1000 rooms! 250 000m2 of constructed area… * .

OTHER

People's Building
Diajukan untuk menyambut2010 World Expo. The Chinese character 人 (romanized “ren”) means person or people.
Muncul dari dalam air, menjulang ke atas.

Shanghai

Shanghai

ADVERTISE INFO:
ARCHIPEDDY

Wisata Arsitektur di Shanghai

(Wisata dan Arsitektur China) 

Wisata Arsitektur di Shanghai

 

Shanghai adalah kota yang mempunyai populasi paling padat di Cina, yang juga merupakan salah satu kota terpadat di dunia. Terkenal sebagai “Paris of the East” yang juga mempunyai masa lalu yang kelam yang identik dengan gangster, perjudian, penipu, opium dan konglomerat. Shanghai sekarang telah menjadi salah satu kota yang mengalami kemajuan terpesat dalam beberapa dekade ini. Gedung-gedung baru bermunculan, bisnis-bisnis lokal maupun internasional merebak dan mendirikan kantor-kantor cabang di kota ini. Orang-orang asing dari berbagai negara pun berdatangan dan menetap menjadi rakyat Shanghai. Walaupun Shanghai tidak begitu banyak memiliki keindahan alam seperti layaknya yang ditawarkan kota-kota Cina lainnya, kota Shanghai memberikan nuansa tersendiri dengan “penampilan ganda”-nya. Kota Shanghai di satu sisi menampilkan penampilan-nya yang super modern dengan arsitektur-arsitektur yang unik dan khas dan di sisi lain juga menampilkan penampilan Arsitektur Barat kuno-nya yang berada di “The Bund”

Selama masa dinasti Tang, Shanghai hanya merupakan kampung nelayan, kemudian berkembang menjadi pusat penting untuk penenunan sutera dan kapas pada masa dinasti Ming (abad 16). Di kota yang sama tahun 1557 pejabat pengadilan yang bernama Pan Yunduan membangun sebuah taman untuk ayahnya yang juga merupakan petugas pemerintahan tertinggi. Pembangunan serius dimulai pada tahun 1559 dan diselesaikan selama 19 tahun. Taman tersebut dikenal dengan Taman Yu Yuan. Seperti arsitektur bangunan di Tiongkok ini memiliki terdiri dari beberapa bagian, semakin ke dalam semakin untuk orang yang semakin penting dan tentunya memiliki taman yang semakin indah dan luas dilengkapi dengan kolam dan jembatan di atasnya.

Taman tersebut dapat dinikmati dari dalam bangunan dengan semua pintu terbuka menghadap taman. Sequence (urutan) memasuki ruang-ruang /bagian taman memiliki pemikirian yang tidak sederhana dan dipenuhi dengan kejutan-kejutan, sehingga setiap orang yang masuk atau berpindah ruang/bagian dengan melalui jalan yang sempit, kemudian masuk ke pintu dengan gerbang yang unik, tiba-tiba setelah melalui pintu tersebut menemukan taman/kolam yang indah dan luas. Penambahan bangunan baru disekitar bangunan utama terjadi setelah terjadi perubahan kepemilikan taman tersebut dengan tetap mempertahankan keunikan ciri khas bentuk atap, pintu, jendela serta ornamen yang sarat dengan makna. Ciri-ciri khas ini juga diterapkan pada bangunan-bangunan yang menjadi pertokoan, sehingga atmosfir belanja pada pasar pada masa lampau yang sangat kental dan orisinal dibandingkan pusat pembelanjaan yang memiliki nama “walk” dibelakangnya dengan tiruan nuansa tematik.

Bagaimna ke sana ? Di kota Shanghai terdapat dua bandara yang melayani rute perjalanan dari dan menuju kebanyakan kota-kota internasional terkemuka selain kota-kota Cina lainnya. Shanghai juga bisa dicapai dengan kereta api dari berbagai kota-kota besar Cina lainnya, termasuk diantaranya dari Hongkong (40 jam perjalanan), Guangzhou (38 jam), dan Beijing (16 jam). Karena airport di Shanghai ada dua, maka perlu diperhatikan sebelumnya airport mana yang dituju, karena keduanya letaknya berlawanan. Hongqiao airport, terletak hanya 15 menit dari kota (sekitar 25 RMB dengan taksi) , merupakan airport lama yang biasanya melayani rute perjalanan dekat, ataupun pesawat kecil. Airport baru, Pudong airport terletak sangat jauh sekali dari kota, memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Tarif taksi dari kota menuju airport cukup mahal, sekitar 200 RMB (1 RMB = Rp.1250). Jika naik bus tarifnya sekitar 20 RMB per orang (perjalanan lebih dari 1 jam). Selain naik bus atau taksi, bisa juga mencoba naik keretaMAGLEV seharga 55 RMB per orang dari atau menuju keBandara Pudong . Dengan kecepatan 430 km/jam, perjalanan 1 jam pun hanya ditempuh selama 8 menit dengan kereta MAGLEV ini. Tetapi masih perlu perjalanan dengan taksi atau bus untuk menuju ke stasiun kereta MAGLEV ini karena letaknya tidak berada di pusat kota.

 

WHAT TO SEE ?

The Bund dan Lujiazui :
Tempat paling populer dan merupakan ” Must See” adalah “The Bund”, tempat dimana Shanghai mempertontonkan penampilan dua sisi-nya. Di sebelah Barat, terlihat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur barat (The Bund) yang dulu merupakan “Wall Street”-nya Asia. Sedangkan di sebelah timur, terlihat daerah modern Lujiazui yang simbolik dengan adanya Oriental Pearl Tower yang juga merupakan landmark kota Shanghai. The Bund dahulu merupakan kawasan terlarang bagi orang Cina. Bahkan sebuah papan tulisan yang menunjukkan diskriminasi ini dengan tulisan “No Dogs or Chinese Allowed” masih diabadikan di sebuah pintu taman Huangpu. Memasuki jaman revolusi, seluruh kawasan The Bund di klaim oleh pemerintah Cina hingga sampai saat ini.

Terowongan Sightseeing :
Masih di daerah The Bund, terdapat “Sightseeing Tunnel” yang digunakan untuk menyeberang ke Lujiazui. Sightseeing Tunnel ini menampilkan permainan lampu-lampu dan laser yang menarik. Harga tiket Sightseeing Tunnel ini adalah 40 RMB dan perjalanan hanya memakan waktu 5 menit. Tripod bisa dibawa ke dalam Tunnel jika berminat untuk mengambil foto tunnel ini.

Nanjing Lu (Nanjing Street) :
Satu blok dari The Bund terdapat Jalan Nanjing (Nanjing Lu) yang juga merupakan kawasan yang wajib dikunjungi. Nanjing Lu ini merupakan jalan raya yang ditutup diperuntukkan untuk kawasan shopping. Bukan hanya sekedar shopping yang ditawarkan oleh Nanjing Lu ini, tetapi sejumlah makanan dan restoran beraneka rupa pun ada di kawasan ini. Selain itu, lampu-lampu neon dan hiasan yang ada di jalan ini merupakan suatu pemandangan yang juga tidak kalah menariknya. Old Shanghai dan Yuyuan Garden : Di bagian selatan terdapat daerah yang merupakan pusat kota Shanghai jaman dahulu. Sampai saat ini, daerah ini masih menampilkan kesan kuno dengan arsitektur-arsitektur jaman silat. Berbagai toko souvenir, snack, dan teahouse banyak dijumpai di daerah ini. Selain itu, di Old Shanghai ini terdapat Yuyuan Garden, yang dulunya merupakan residen seorang bangsawan, dan juga merupakan salah satu tempat turis utama di Shanghai. Hindari hari Sabtu dan Minggu untuk pergi ke Yuyuan Garden karena ramai sekali. Tiket masuk Yuyuan Garden 25 RMB.

Xintiandi : Xintiandi merupakan daerah baru yang memfokuskan diri dengan restoran dan kafe-kafe. Uniknya, semua arsitektur yang berada di Xintiandi dibuat menurut model rumah tradisional Shanghai yang dikenal dengan “Shikumen”. Menarik untuk dikunjungi, dan untuk menikmati suasana yang unik dan berbeda.

Huaihai Street (Huaihai Lu) :

High-class shopping street yang menawarkan butik-butik dan toko-toko dengan high-class brand name.

Jade Buddha Temple dan Museum : Selain lokasi-lokasi yang disebut di atas, jika masih ada waktu luang, bisa juga melihat patung Buddha yang terbuat dari batu giok di Jade Buddha temple. Shanghai Museum yang berada di People’s Park juga merupakan salah satu tempat turis di Shanghai. Tetapi jika tidak dapat melihat pun, saya kira tidak akan menyesal. .

SHANGHAI

The Bund dari sisi lain

SHANGHAI

Contact Us:
ARCHIPEDDY
WEB SOURCE
BUILDING KNOWLEDGE
 

Menyatu dengan alam di rumah kaca tengah hutan

 

Menyatu dengan Alam di Rumah Kaca Tengah Hutan

dikutip dari liputan 6

Liputan6.com, Jakarta Jauh di hutan pedalaman di gunung Almaty, Kazakstan, arsitek Aibek Almasov telah merancang rumah kaca yang bisa bertahan dalam kondisi cuaca apapun, baik hujan maupun panas. Rumah kaca ini didesain menyerupai tabung dengan empat lantai di dalamnya, dan dilengkapi dengan tangga spiral yang bernilai estetis tinggi.

Seperti dikutip dari weather, Kamis (10/3/2016), sang arsitek, Aibel Almasov dari A Masow Design Studio, sengaja membuat proyek rumah kaca ini sebagai salah satudestinasi wisata yang lain dari biasanya. Namun demikian, tujuan utama pembuatan rumah ini adalah untuk menghubungkan kembali manusia dengan alam sebagaimana awalnya manusia hidup.

Pelindung rumah yang terbuat dari kaca mempunyai fungsi yang ganda. Selain menjadi struktur pelindung, bahan kaca juga memungkinkan penghuninya menikmati lingkungan alam seolah tanpa sekat. Setelah diuji coba, kini rumah gantung ini menunggu sang pembeli. Bagi Anda yang berniat ingin memilikinya, paling tidak Anda perlu menyediakan uang sekitar 900 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp 11,7 miliar.

 

Arsitektur Jepang kini

architecture

Arsitektur

Arsitektur Jepang yang menjadi pusat perhatian

Yang satu merupakan bangunan kayu yang dibangun sekitar 1,400 tahun yang lalu. Dan yang lainnya merupakan bangunan beton berkerangka besi yang baru dibangun 1 tahun yang lalu. Keduanya adalah karya-karya arsitektur yang luar biasa, yang menjadi kebanggaan Jepang.

Arsitektur

architecture

Di mana bangunan kayu tertua di dunia, dan dimana yang terbesar? Ya, keduanya berada di Jepang. Bangunan kayu yang tertua adalah Kuil Horyuji (dibangun pada tahun 607) dan yang terbesar adalah Kuil Todaiji (yang masih tersisa, dibangun kembali pada tahun 1709, dengan ketinggian 57 meter). Bangunan Buddha di Jepang telah mengembangkan dan memelihara corak-corak arsitektur Jepang yang murni, meskipun telah lama mendapat pengaruh kuat dari Cina. Anda akan menemukan sejumlah bangunan tradisional yang luar biasa di seluruh Jepang, termasuk yang berada di ibukota kuno, Nara, Kyoto dan Kamakura.

architecture

Sejak akhir abad ke-16 hingga abad ke-17, penguasa feodal di Jepang saling berlomba membangun benteng yang megah untuk menunjukkan kekuatan mereka. Yang paling terkenal di antara benteng-benteng tersebut adalah Benteng Himeji yang anggun. Namun, bangunan tradisional bukanlah satu-satunya bangunan yang mewakili keunggulan arsitektur Jepang. Arsitektur barat modern telah memberikan pengaruh besar ke Jepang sejak akhir abad ke-19. Perlu dicatat bahwa sejak dahulu masyarakat Jepang menganggap suatu bangunan itu indah hanya jika bangunan-bangunan tersebut memiliki harmoni dengan lingkungan alam sekitarnya.

architecture

Desain dan material yang ekspresif di masa kini mungkin berbeda dari yang digunakan di masa lalu, tetapi tradisi yang menekankan keharmonisan dengan alam masih berlanjut dan terkandung dalam banyak mahakarya arsitek Jepang kontemporer. Arsitektur Jepang kontemporer disebut-sebut penuh keaslian, dan dapat menjadi begitu menarik hingga Anda dapat menyebutnya “produk eksperimen yang sedang berjalan.” Bandingkan arsitektur Jepang yang lama dan baru. Anda akan mendapatkan kejutan besar dan kesan yang tiada habisnya.

  • Awaji YumebutaiDengan tema “Kreasi hutan rumah kami yang hilang,” Awaji Yumebutai didesain oleh Tadao Ando, seorang arsitek Jepang kontemporer yang ternama.
  • Naoshima Contemporary Art Museum (Museum Seni Kontemporer Naoshima)Museum seni modern ini dibangun di sebuah bukit di Pulau Naoshima. Bangunan ini juga didesain oleh Tadao Ando.
  • Tokyo Metropolitan Government (Kantor Pemerintahan Tokyo)Bangunan berupa menara kembar ini menjulang tinggi di daerah Shinjuku, Tokyo. Didesain oleh Kenzo Tange.
  • Benteng HimejiBenteng yang mendapat sebutan “Benteng Burung Kuntul Putih” ini ditunjuk sebagai Kekayaan Nasional dan terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia.
  • Kuil HoryujiKuil Buddha tertua yang masih tersisa di Jepang, dan bangunan kayu tertua di dunia. Terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia.
  • SKYTREE TOKYOPada bulan Mei 2012, SKYTREE TOKYO dibuka sebagai menara baja mandiri yang tertinggi di dunia dengan ketinggian 634m. SKYTREE TOKYO menyediakan fasilitas perbelanjaan bernama “Solamachi Tokyo” dan akuarium yang menjadi sebuah tujuan wisata popular.

Dikutip dari http://www.jnto.or.id/architecture.html

Tiongkok melarang arsitektur ganjil

gambar-gambar: Tiongkok melarang arsitektur ganjil

  • dikutip dari bbc.co.uk

Pemerintah Tiongkok mengeluarkan suatu ajuan baru untuk melarang “arsitektur ganjil”, dan mencela beberapa “bangunan yang kelebihan, xenocentric, jahat” di negeri itu.

Tiongkok telah menyaksikan  sejumlah permata arsitektural yang menjamur dalam tahun-tahun terakhir, termasuk sebuah gedung berbentuk seperti teko teh dan yang lain seperti celana panjang.

Di bawah ajuan yang baru, bangunan-bangunan haruslah “memiliki fungsi ekonomis, menyenangkan secara keindahan” dan “akrab lingkungan”.

Berikut beberapa gedung petualang yang telah dibangun.

cd-china-building
Image copyrightLiu Jiao / Photoshot

The Guangzhou Circle dirancang oleh arsitek Itali Joseph di Pasquale dan dibuka pada tahun 2013. Gedung ini merupakan gedung berbentuk lingkaran terbesar dengan 138 m dan berdiri di tepian Sungai Mutiara,Tiongkok.

teapot-building-china

Image copyrightCarlos Barria / Reuters

Teko teh ini adalah bentuk bangunan di Wuxi, Jiangsu province, has perhaps the most outlandish design. Asalnya dirancang sebagai kantor pemasaran dan kini termasuk pusat pameran.
Imaalamy-chinag
e copyrightPrisma Bildagentur AG / Alamy

Image captionThe headquarters of China Central Television (CCTV) was named the Best Tall Building Worldwide from the Council on Tall Buildings and Urban Habitat in 2013, yet some have called it “big pants” due to its resemblance to a pair of trousers.
Headquarters of the People's DailyImage copyrightJohn Sun / Eyepress / Photoshot

Image captionThe building of China’s state-run newspaper People’s Daily has often been remarked on for its phallic appearance, especially when seen as here with scaffolding in place. The 150m-tall tower is situated close to the CCTV building in Beijing’s business district.
Phoenix TowersImage copyrightChetwoods /Rex / Shutterstock

Image captionThe Phoenix Towers in Wuhan are to be one kilometre tall and are scheduled to be completed in the next couple of years. Their exteriors will be covered in solar panels.
jiangsu-gate-

 

Image copyrightChinaFotoPress
/ Getty Images

Image captionThe Gate of the Orient was completed in 2014 in Suzhou, propinsi Jiangsu . Like the CCTV building, gedung ini sepintas mirip celana panjang.
Sunrise East Kempinski Hotel near the Yanqi Lake in the Huairou District of BeijingImage copyrightXinhua / Alamy Stock Photo

Image captionThe Sunrise East Kempinski Hotel  berlokasi dekat danau Yanqi di distrik Huairou ,kota Beijing.
Sheraton Hot Spring Resort, rubber ducks at the front, Taihu Lake, Huzhou, Zhejiang, ChinaImage copyrightAlamy

Image captionAnother dramatic looking hotel is the Sheraton Hot Spring Resort on Taihu Lake, Huzhou, which comes complete with rubber ducks.
A general view shows the City Library (left) and the Ordos Museum building in the city centre of OrdosImage copyrightMark Ralston / AFP

Image captionThis Inner Mongolian city of Ordos is known as a ghost town due to the low population level, yet it boasts two architectural gems, the City Library (left) and the Ordos Museum.

Related content:

 

Museum obyek terhilang: Kuil Bel

Museum obyek terhilang: Kuil Bel

Palmyra - The Temple of BelImage copyrightGetty Images

Sekelompok massa bersenjata telah merusak situs Palmyra, oasis padang gurun purba di Suriah Tengah. Palmyra telah 2,000-year-old kuil Bel yang  berusia lebih 2000 tahun  telah dimusnahkan bulan Agustus 2015.

Dipandang dari berbagai arah, obyek ini seperti kuil Yunani yang megah. Berdiri di tengah tembok-tembok pemujaan, the rectangular structure had once been ringed by towering 15m-high columns – Corinthian columns, topped by carvings of acanthus leaves. Some of these still stood, two millennia later, before IS blasted the temple to bits.

Ada perbedaan dari desain Yunani umumnya, meskipun. atap telah dihiasi dengan segitiga batu, atau Merlons, yang berlari di sepanjang tepinya seperti deretan raksasa, gigi runcing. Dan pintu mungkin tidaklah sepertui yang Anda bayangkan. Dalam kebanyakan kuil kuno pintu terletak di sisi pendek persegi panjang dan mengarah ke altar tunggal, tetapi di Palmyra pintu masuk utama ada di sisi panjang.

Nasser Rabbat at the Temple of BelImage copyrightNasser Rabbat

“Di dalamnya, Anda dapat berbelok ke kiri atau kanan karena kuil ini punya dua mezbah,” kata Nasser Rabbat, seorang ahli sejarah dan seni Suriah yang pada tahun 1970 an tinggal daslam sebuah rumah di dalam komplek kuil. “Ada banyak berhala yang disembah disitu”

Dua ribu tahun lalu, Palmyra adalah oasis penting di padang pasir yang berada di  jalur perdagangan yang menghubungkan dunia Mediterranea menuju selatan dan timur. Tempat ini menjadi makmur karena perdagangan, dan sangat dipengaruhi oleh perdagangan sekitarnya.



Budaya yang d9ikembangkan  adalah “Arab secara pokok tetapi klasik dalam pengaruh dan temperamen and inclination” merujuk pada Rabbat, who likens Palmyra to Petra in Jordan. Both, he says, are “a mark of how cultures can come together creatively”.

One detail of the temple Rabbat points to as a good example of this mingling of cultures is a frieze showing a funeral procession.

“There are three women carved in a very abstract way, as if they are clad in togas but they are wrapped from the head all the way to the bottom. They’re dressed like a classical woman, but these are Arab desert-based women and their heads are covered,” he says.

Procession of women, PalmyraImage copyrightEgisto Sani/Flickr

“The artist has done it with flowing lines that are extremely sinuous… What you see is something that is very geometric, but immediately evocative of the image of a bunch of women walking together.”

In later years, as Christianity spread across the region, the temple became a Byzantine Church, and then with the coming of Islam, a mosque.

By the early 1900s, Palmyra had been a ruin for centuries, but parts of it were still inhabited. Some old buildings were used as shelters by herders and nomads, while the compound of the Temple of Bel had become a small village.

“People were integrated in this fabric of inhabited heritage,” says the Syrian archaeologist Salam al-Kuntar from the University of Pennsylvania Museum.

Photograph from Gertrude Bell Archive: People standing outside a house in a courtyard in PalmyraImage copyrightGertrude Bell Archive, Newcastle University

“I have a special love for Palmyra because the Temple of Bel is where my mother was born.

“My grandfather was a policeman serving in Palmyra and my grandmother wasn’t even 20 years old when she got married and moved to Palmyra. The Palmyrene women taught her how to make bread and cook. I hear many stories about the building, how people used the space, how children played around, including my mum. So that’s what it means to me. This is the meaning of heritage – it’s not only architecture or artefacts that are representing history, it’s these memories and ancestral connection to the place.”

When IS destroyed the temple in August last year the main entrance arch remained standing – the only part that survived.

INTERACTIVEUse the slider below to compare before and after images

September 2015

August 2015

European Space Imaging, Digital Globe

For World Heritage Day in April 3D-printed replicas of the arch will be erected in Trafalgar Square in London, and Times Square in New York.

Arch at the Temple of BelImage copyrightAlamy

Zenobia’s story

Another illustration of Salam al-Kuntar’s point about heritage being bound up in memories and lived experience, is the story of Zenobia al-Asaad, whose father, the archaeologist Khaled al-Asaad, was head of antiquities at Palmyra for 40 years.

When Zenobia was born, her parents named her after the Palmyrene queen who led a rebellion in the 3rd Century AD against the city’s Roman overlords, and carved an empire that stretched from modern day Turkey to Egypt.

Zenobia's last look on Palmyra, 1888. Artist: Schmalz, Herbert GustaveImage copyrightAlamy

“Ayahku ingin memberi nama aku dan saudariku dari nama wanita Arab yang istimewa – especially those that he admired. One of my sisters is called Fairouz, menurut nama penyanyi Libanon. But I like to think that Zenobia was the most special for him!” kata Zenobia.

“So, yes I’m really proud of my name, very proud. Even when I was at school I remember feeling almost sorry for my friends that I’ve got this lovely name while they all had their normal names! But really, what makes me most proud is that my name was chosen by my father. And my name will always make me think of him.

“When I was a little girl, I remember sitting in the car with him, driving from our home in the modern part of Palmyra over to the ancient sites. We would walk around together, checking on things, laughing, talking, and the way he talked about Palmyra made me love the city even more, because I know he loved it. He would explain what some of these things once were – this was a temple, this was a tomb, this city was the place where Zenobia berasal, yang saya namakan dia.”

Khaled al-AsaadImage copyrightGetty Images

Khaled al-Asaad had devoted his life to the study of the city, from its Roman-era tombs to the Temple of Bel. He and his daughter were both living there when IS – known as Daesh in Arabic – arrived in 2015. While many fled, he chose to stay.

“The day Daesh came to Palmyra feels like a blur, a dream, or nightmare. I remember being at home and I saw my neighbours and people, just running, the streets were in chaos. And they said, ‘Daesh are coming to Palmyra they’re barely a few miles away.'” Zenobia says.

“I told my father who was in his own house, ‘You have to move, you have to leave with us,’ and he said, ‘No I don’t want to leave, I was born in this city and I will die in this city.'”

During the chaos, Zenobia’s husband Khalil Hariri and her brother Mohammed – also archaeologists – managed to load about 400 antiquities on to trucks. As they were leaving, they came under heavy gunfire from approaching IS fighters, which prevented Zenobia and her 15-year-old son from jumping on board.

Media captionJeremy Bowen speaks to two of Syria’s “Monuments Men”

She fled on foot with her son. However, with nowhere to go and armed with only her ID card, she soon returned.

“I went to my house and this Daesh [IS] fighter opened my own front door and refused to let me in. Around 10 other men turned up. I thought I was about to faint but my neighbours were with me, they were supporting me. I told the Daesh men, this is my house, can you at least let me get my wallet. They said, ‘We can only give you your wallet if your husband will come and pick it up.’ My husband wasn’t there and so my son and I were homeless.

“But I wasn’t scared and I was determined to get my house back. This was my home, how dare they take it! So in the morning I would go to my house and sit on the pavement in front and look at it, just watch them inside my house, walking in and out with their guns, like it was just a hotel for them.

“There were maybe 40 Daesh fighters inside my house. I would knock on the front door and ask for my things but there was always an excuse. ‘We don’t know where the Emir is,’ or, ‘The Emir is sleeping, we have to wait until he wakes up.’ Under the new Daesh rules, women couldn’t walk by themselves so my son went everywhere with me.

The Beauty of PalmyraImage copyrightRubina Raja, Palmyra Portrait Project
Image captionThe so-called “Beauty of Palmyra” bust was discovered during excavations in Palmyra, by Danish archaeologist H Ingholt, in the 1920s

“Being in Palmyra during that time was just horrible. When Daesh would kill someone, they would leave their corpse rotting in the street for three days so everyone could see. And I would wonder who this person was and who their family was and if they had to walk down this street too.

“The only person able to console me was my father. I was crying, and I remember my father telling me in his gentle voice, ‘Don’t worry, as long as you are fine, as long as your son is fine, this is the most important thing. Houses come and go, money comes and goes. It doesn’t matter. Family is what matters.'”

After a few weeks, Zenobia and her son managed to leave Palmyra and join the rest of her family, but her father stayed.

“He told me to take care of my children. And I remember him saying that if I ever needed anything that he’ll always be there. He told me to stay strong for my family’s sake. He told me ‘I need Zenobia back, Zenobia the strong one, the one that I know.’ And these were his last words to me.”

Palmyra - Temple of BelImage copyrightReuters

Khaled al-Asaad was eventually arrested by IS.

“Those days were just awful. Every time the phone rang I wanted it to be him, or my brother saying, ‘It’s OK, our father is fine, he’s free.’ I can’t describe this feeling, like hope and despair all mixed up in my heart. Then on the 28th day my brother came, and he was crying and all he said was, ‘He’s gone.’ He didn’t go into details and he didn’t tell us how our father had died.”

IS fighters executed Khaled al-Asaad in public in August. They hung a placard around his body accusing of him being an “apostate,” a “director of idolatry” guilty of attending “infidel” academic conferences.

“And then all I wanted to know were his last words. What did he say, what did Daesh say to him, did they insult him? What we later heard was that my father – true to character – was calm, and his last wish was to see the city. Then they brought him back to kill him. Apparently he read the Koran quite loudly, and he was smiling, and this upset Daesh, they didn’t like that and when they told him to kneel, he refused.

“I can’t explain why I wanted to know these details, I just wanted to know what he went through. I remembered those unknown dead, beheaded people I saw on the streets of Palmyra, thinking, ‘Oh my God, what happened to this person, I feel for their family.’ And imagine, now this had happened to my own father. He was beheaded and his body was left outside for everyone to see. We don’t even know where his remains are.

“The person most affected is my mother of course – but she tries to be strong. We don’t want to feel weak, but I cannot really deny it, life is not easy. There’s no peace inside me, but whenever I cry, I remember my father, I see him in front of me and his image is what gives me hope. He taught us to be strong and this is what I always want to remember.

“Believe it or not, I can’t stop thinking about him, everything about him, his laugh, he had a really kind heart and playfulness, just like a small child. I think a lot about his touch, his hands, I imagine him sitting at home at the dining table. Whatever I tell you now I won’t be really saying everything I think about him, because I can’t explain my feelings, there’s just too much. I remember his white hair, his eyes, and as I tell you about these things I can feel there is fire inside my heart. My heart is too full.”

PalmyraImage copyrightGetty Images

Now in Damascus with her mother and husband, Zenobia does not want to return to Palmyra. The destruction of its old stone monuments is forever linked with the death of her father.

“Palmyra the ancient city will always be a part of me, but I can’t really imagine going back to Palmyra walking along the paths, looking at the sites without my father, he’s the one who made us love this place.

“Just like the palm trees in Palmyra, where they really stand strong, rooted in the city, my father will be the same, he will be like these palm trees in Palmyra, rooted in the grounds of the city, always connected to the city and to us.”

The Museum of Lost Objects traces the stories of 10 antiquities or ancient sites that have been destroyed or looted in Iraq and Syria.

Subscribe to the BBC News Magazine’s email newsletter to get articles sent to your inbox.

Museum obyek terhilang: Kisah Qarqur

Museum terhilang: Kisah Qarqur

Qarqur Tell

Many ancient objects destroyed or badly damaged in Iraq and Syria since 2003 are things of beauty – sculptures, tombs and temples, monasteries and minarets. Others may be less dazzling but hugely important as a source of knowledge about the ancient world. One of these is Tell Qarqur.

“To the uninitiated it looks a lot like a hill,” says Jesse Casana, an archaeologist from Dartmouth College in the US who worked at Tell Qarqur for nearly 10 years before war broke out in Syria in 2011.

In fact it is a “large mound of collapsed cultural debris” he says, 30m high and occupying about 10 hectares (25 acres). It’s also 10,000 years old.

“What we’re doing is learning about human history – the long arc of everything that happened across 10,000 years,” says Casana.

“We can see this gradual process of change from the very origins of agriculture up until today in one place, which is kind of remarkable.”

Casana and his team dug a trench along one slope of the site, to help them peel back the layers of history.

Tell from a distance

“What it contains is a sequence of occupations. At the top is the most recent and as you dig deeper you get earlier and earlier ones.

“The earliest evidence we have for people settling in this place dates all the way back to about 8,500 BC.

“The most recent one at the top dates to the Mamluk period, something like the 15th Century AD and we have more or less every archaeological period in between represented – so it’s like no-one ever left.”

Tell Qarqur occupies a strategic location – it’s a prominent mound with a commanding view over the valley of the Orontes river. A great battle took place nearby 853 BC, when the Assyrian forces of the King Shalmaneser III defeated an enemy alliance. So it was no surprise when five years ago, the tell became a modern battleground too.

Map of Qarqur

But Casana was was less worried about the tell, than about local Syrian families, who had worked on the excavations for years, and become friends.

“A lot of the reporting on this from archaeologists doesn’t often reflect the very personal way we’re a party to it. I was in Syria for a very long time and I knew a lot of people very well and the war for me is very personal,” he says.

“It was pretty, pretty bizarre to see that happen so far away and yet to feel so close to it. I could see the village right next to the tanks and I could only imagine what was happening to the people who lived there.”

Casana was close to the family of the head man, the mukhtar, in the nearest village to the tell, which is also known as Qarqur. The mukhtar’s son drove the archaeologists’ bus, while his daughter, a graduate of the University of Latakia, worked first as a translator then as director of one of the areas of excavation.

Qarqur Tell

“I had worked with these people every year for seven years and they would watch my kids while I was there and we’d have dinner at their house. I had many people from the village Qarqur and also from the town where we lived, who were old friends,” Casana says.

Following the progress of the war from afar, he was alarmed when the town of Jisr al-Shughur, 5km (three miles) from the tell, got caught up in the violence.

A general view shows the Syrian city of Jisr al-Shughur under the control of pro-regime troops, 2013Image copyrightGetty Images

“We would drive through Jisr on our way to the site and Jisr was where we bought groceries, so it was pretty shocking to me personally to see this town that I knew so well is suddenly the site of a major battle, where they fortified the old Roman bridge and then the Syrian military attacked it,” Casana says.

Soon afterwards, he lost contact with his friends. Mobile phones stopped working, and email contact ceased.


Find out more

Jesse Casana (right) and an American colleague

Image captionJesse Casana (right) and an American colleague
  • The Museum of Lost Objects traces the stories of 10 antiquities or ancient sites that have been destroyed or looted in Iraq and Syria
  • Listen to the episode about the Tell of Qarqur on Radio 4 from 12:00 GMT on Tuesday 1 March or get the Museum of Lost Objects podcast
  • Also in this series: The Winged Bull of Nineveh and the Temple of Bel

At this point, the al-Qaeda affiliate Jabhat al-Nusra launched an attack on a Catholic Church in the village where the archaeologists had lived and kept their stores. It was impossible to find out what had happened to the priest and the other inhabitants.

Casana also has no idea what happened to one of his prize collections – a box of hundreds of ancient sheep teeth from different eras of the tell’s 10,000-year history, which he hoped would tell a story of environmental change, and the evolution of pastoral practices.

Sheep's teeth

“I was very excited about this study,” he says. “It hadn’t really been done before and there aren’t very many places in the world where you would be able to do it, because you would need this very continuous sequence from one place.”

To monitor the state of Syrian archaeological sites, Casana used satellite imagery. Having spent years in the ground – and under the ground – of Tell Qarqur, he was now tethered to the site from space.

What the images showed were tank emplacements and a military garrison.

Satellite image from 2011Image copyrightDigital Globe 2016

Image captionImage reproduced courtesy ASOR Cultural Heritage Initiative

“These images are quite high-resolution so what you can see when you zoom in close enough is my excavation areas… and then surrounding them the ground has been bulldozed to make a sort of U-shaped bunker into the side of the mound – and then in them you can see the tanks.”

Troops inevitably damage open excavation trenches, he says, while the creation of bunkers leads to “massive bulldozing scars”.

By November 2012, the Syrian army appeared to have left, in response to the increasing domination of rebel forces in the region. It is still, today, controlled by a variety of competing rebel groups and has recently been in the crosshairs of Russian airstrikes.

It’s been a while since Jesse has seen fresh satellite imagery, but the last ones he indicated that the step trench is still there, and maybe also one of the more beautiful finds – a mosaic showing a leaping gazelle and a horse.

“Actually the horse’s head was cut off so we only had the horse’s rear end, which was something we laughed about,” Casana says.

Mosaic of horse and gazelle

Musim panas lalu, much to his relief, he received an email from the mukhtar’s daughter – followed up by a phone call from her brother, who apparently had to climb to the top of a mountain to get Turkish mobile phone coverage.

“The family had been forced out of the village after the Syrian military had occupied it, and since that time they had been internally displaced refugees,” he says. “They said they were hiding, about 30 of them living in a one-room house somewhere near the Turkish border.”

If the story of human occupation at Tell Qarqur begins in 8,500 BC – taking in ancient battles, Greeks, Romans, Crusaders and Mamluks – it continues now in the midst of modern war, in this one-room house somewhere to the north, where Qarqur’s displaced inhabitants seek refuge.

All photographs, unless indicated, provided by Jesse Casana.

The Museum of Lost Objects traces the stories of 10 antiquities or ancient sites that have been destroyed or looted in Iraq and Syria.

Subscribe to the BBC News Magazine’s email newsletter to get articles sent to your inbox.

Pura Gunung Kawi, Berdiri di Antara Situs Purbakala

Pura Gunung Kawi Bali Pura Gunung Kawi, Berdiri di Antara Situs Purbakala Sumber: www.kompas.com

Senin, 7 September 2009KOMPAS.com — Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja ash Bali kuno, termasuk candi yang dipahat langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.
Ketika ke Bali, apa yang Anda lakukan selama berlibur di sana? Menghabiskan waktu bermain di pantai, membeli lukisan dan barang seni di daerah Ubud, atau mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Dari sekian agenda yang ada, seberapa tertarikkah Anda untuk mengunjungi tempat-tempat yang memiliki bangunan berarsitektur Bali? Sepuluh orang yang ditanya mengenai hal ini menjawab bahwa kadar ketertarikan terhadap tempat seperti ini cukup tinggi.
Bentuk bangunan arsitektur Bali tidak hanya terbatas pada bangunan komersial atau hunian. Pura sebagai bangunan peribadahan merupakan bentuk bangunan yang bisa menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Bali.
Keberadaan pura di Bali memang jamak. Meskipun wisatawan tak bisa masuk ke dalam pura, memandang keelokan bentuk pura dari luar sudah cukup memikat wisatawan. Dari sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura yang patut Anda kunjungi. Banyak alasan mengapa pura yang lokasinya berada di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, harus Anda datangi.
Setidaknya ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini. Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua karena letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding.
Menuruni sekitar 320 anak tangga
Memasuki kawasan Pura Gunung Kawi harus menyiapkan tenaga ekstra. Pura ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh dari parkiran mobil. Dari pintu gerbang, tempat pengunjung harus membeli karcis masuk seharga Rp 6.000, kita harus menuruni sekitar 320 anak tangga. Ini tak lain karena letak pura terdapat di dasar lembah.
Perjalanan menuruni sekitar 320 anak tangga ini tak terasa melelahkan karena di sekeliling tangga Anda bisa melihat hamparan hijaunya sawah yang bentuk lahannya bertingkat. Selain itu, jika lelah, Anda bisa beristirahat di warung-warung yang ada di sebelah anak tangga.
Sesampainya di dasar lembah, Anda akan memasuki lorong panjang yang konon dibuat dengan cara membelah batu besar. Lorong ini adalah pintu masuk menuju kawasan Pura Gunung Kawi.
Kawasan yang ditemukan sekitar awal tahun 1910 ini terpisah menjadi dua bagian oleh Sungai/Tukad Pakerisan, bagian di sebelah barat dan bagian di sebelah timur Sungai Pakerisan. Di kedua bagian ini, Anda bisa melihat candi yang melekat langsung di dinding tebing. Candi yang dipahat langsung di dinding tebing inilah yang menjadi daya tarik mengapa Anda harus datang ke tempat ini.
Empat gugusan
Pahatan candi yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi, baik yang berada di sisi barat, maupun timur Sungai Pakerisan. Menurut beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan, maka pura yang ada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi.
Secara keseluruhan, pahatan candi di dinding tebing yang ada di kawasan Pura Gunung Kawi ini terbagi menjadi empat gugusan. Gugusan pertama terdiri dari 5 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi timur sungai.

Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara terdapat tulisan “Haji Lumah Ing Jalu”. Dari tulisan ini, ada yang menyebutkan bahwa candi di sisi paling utara ini digunakan untuk istana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sementara itu, candi di sebelahnya adalah istana untuk permaisurinya dan anak-anak Raja Udayana, Marakata dan Anak Wungsu.
Gugusan kedua terdiri dari empat candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang ada di sisi barat sungai. Dr R Goris, arkeolog dari Belanda, dalam beberapa literaturya menyebutkan bahwa keempat deretan candi ini berfungsi sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.
Gugusan ketiga adalah bangunan biara dan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan pada tebing yang terletak di sebelah selatan gugusan pertama. Adapun gugusan keempat merupakan sebuah candi dan ceruk yang digunakan sebagai tempat pertapaan. Letaknya berada sekitar 220 meter dari gugusan kedua.
Lantas, di mana letak puranya? Pura ini sendiri letaknya berada di samping gugusan candi pertama. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti pelinggih dan bale perantenan.
Pura Gunung Kawi biasa digunakan pada saat upacara Piodalan. Upacara yang dilakukan setiap bulan purnama tiba ini adalah upacara pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.
Diukir dengan kuku jari
Jika ditilik ke masa lalu, keberadaan pura ini tidak terlepas dari gugusan-gugusan pahatan yang ada. Tulisan-tulisan yang ada di setiap pahatan yang berfungsi sebagai data arkeologi menunjukkan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.
Hal ini terlihat dari tulisan “Haji Lumah Ing Jalu”. Bentuk tulisan ini adalah bentuk tulisan kadiri kuadrat yang lazim digunakan di kerajaan yang ada di Jawa Timur pada abad ke-11.
Pada masa itu, pemerintahan yang sedang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja. Oleh karena itu, banyak pihak yang mengatakan bahwa kompleks Aura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu.
Salah satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, di sini juga terdapat makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali.

Makam abu kedua raja ini berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila kompleks pura ini disebut sebagai makam Dinasti Warmadewa.
Beberapa sumber literatur dan warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Ia membuat pahatan candi di tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.
Keelokan pahatan dinding dan pura yang ada di sini menawan dilihat dan harus dijaga keberadaannya. Oleh karena itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali menetapkan bahwa kawasan ini adalah aset purbakala yang harus selalu dilestarikan. (Tabloid Rumah/Al Anindito Pratomo)

Ketika Dubai menjadi Negeri Di Atas Awan

Ketika Dubai Menjadi Negeri di Atas Awan

detikTravel, BBC Travel – Jumat, 19/02/2016 
Dubai – Selain hal-hal nan megah Dubai juga memiliki fenomena alam yang unik. Sekitar 6 kali setahun, awan tebal menutupi kotanya menjadi seperti Negeri di Atas Awan!

Dilansir dari BBC Travel, Jumat (19/2/2016) fenomena tersebut biasanya terjadi antara bulan September sampai November. Bisa dua kali sampai enam kali terjadi dan di pagi hari, kabut tebal menutupi wilayah Dubai. Bukan badai pasir.

Tepatnya, kabutnya muncul pada peralihan dari musim panas ke musim dingin. Jadi, udara yang dingin dan lembab dari malam hari masih terdapat sampai di siang hari. Sama seperti kabut-kabut yang muncul di pagi hari di daerah-daerah dingin, hanya saja bedanya di Dubai sangat tebal.

Kabut tebal menyelimuti Dubai (Elizabeth Carlson/BBC Travel)

Bagi wisatawan yang kebetulan sedang berada di Dubai dan melihat kabut tebal di sana, maka bersyukurlah. Sebab, sulit tidak diprediksi kapan terjadinya kabut tebal tersebut. Jika kabut sudah muncul, baiknya langsung naik ke atas gedung.

Tinggi kabutnya bisa mencapai ratusan meter. Gedung-gedung bertingkat di sana saja mencatat, lantai 15 sampai 20 masih tertelan kabut. Maka dari itu, naiklah lagi sampai ke atas untuk melihat kala Dubai menjadi Negeri di Atas Awan!

Gedung pencakar langit yang ‘tertelan’ kabut (Elizabeth Carlson/BBC Travel)

Siap-siap berdiri di dekat jendela dan mengabadikannya dengan kamera. Beberapa masyarakat setempat, malah suka keluar rumah dan berfoto-foto di atas padang pasir yang sedang tertutup kabut. Tempat terbaik untuk melihat kabutnya dari ketinggian, tentu saja di Burj Khalifa.

Memang tidak ada larangan keluar rumah ketika kabut sedang menyelimuti Dubai. Hanya saja, sediakan tisu atau lap kecil untuk membersihkan lensa kamera karena terkena butiran-butiran air.

BBC Travel pun menulis fenomena di Dubai merupakan sisi lain dari Dubai yang belum banyak orang tahu. Pemandangan seolah Negeri di Atas Awan yang indah, dengan gedung-gedung pencakar langit yang tertutup gumpalan putih nan tebal.

Padang pasir yang tertutup kabut (Melissa Findley/BBC Travel) (sst/sst)