Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Category Archives: Arsi Manca

Inikah bangunan dengan lantai terindah ?

Inikah Bangunan dengan Lantai Paling Indah di Dunia? (1)

Bona – detikTravel – Selasa, 21/03/2017 17:50 WIB
Inikah Bangunan dengan Lantai Paling Indah di Dunia? (1)
Foto: Foto: Alamy/BBC

Chicago – Banyak bangunan yang desain lantainya tampak dengan begitu indah. Inilah aneka bangunan yang disebut-sebut punya lantai paling indah sedunia.

Tak hanya sisi luar, lantai suatu gedung juga tak luput dari perhatian pengunjung. Seperti yang dilihat detikTravel dari BBC, Selasa (21/3/2017), bangunan-bangunan di berbagai belahan dunia punya lantai yang indah:

Foto: Foto: Alamy/BBC

1. The Ledge, Wilis Tower di Chicago

ledge-chicago-alamy

Sebuah bangunan bernama Wilis Tower di Chicago punya lantai bangunan yang bisa dibilang sederhana tapi unik. Gedung ini punya lantai dari kaca yang tembus pandang.

Lantai kaca tidak dipasang di semua tingkat bangunan. Tetapi hanya di lantai 103. Di lantai ini, sepasang kaca polos dipasang menjorok keluar dari gedung. Seperti balkon, hanya saja tidak ada bagian terbuka.

Ruangan yang menjorok ini memberikan kesempatan pada pengunjung untuk melihat Kota Chicago dari gedung tertinggi kedua di kota tersebut. Bagi traveler yang punya phobia ketinggian sepertinya kegiatan ini tidak disarankan ya.

2. Stasiun Mayakovskaya Metro di Moskow

Moskow punya stasiun metro (subway) yang mewah. satsiun ini dibangun pada tahun 1938 oleh Alexey Dunkin sebagai tempat penampungan serangan udara Spartan selama Perang Dunia Kedua.

Stasiun ini juga pernah dijadikan sebagai tempat pidato pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin. Tak bisa dipungkiri, lantai stasiuni ini memiliki komposisi geometris 33 meter yang rapi. Kemudian, lantai dipasang dalam 4 warna granit dan marmer. Keren!

Inikah Bangunan dengan Lantai Paling Indah di Dunia? (1)Foto: Foto: Alamy/BBC
Foto: Foto: Alamy/BBC

3. 30 Rockefeller Plaza, New York

Kantor pusat Radio Corpporation of America (RCA) di New York punya lantai lobby yang sangat mewah. Dibuat dengan desain lowlit dan lampu yang sedikit remang, membuat lobby terlihat glamor.

Gedung ini sudah dibangun mulai tahun 1933. Saat ini gedung RCA sudah berubah nama menjadi 30 Rockfeller Plaza yang menjadi rumah bagi saluran NBC.

 Inikah Bangunan dengan Lantai Paling Indah di Dunia? (1)
Foto: Foto: Alamy/BBC
Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/03/21/173329/3452844/1520/4/inikah-bangunan-dengan-lantai-paling-indah-di-dunia-1#menu_stop

Henry Jardin

Pengaruh Nicolas-Henri Jardin terhadap Gaya Arsitektur

Adalah seorang arsitek Prancis architect Nicolas-Henri Jardin yang meneruskan gaya baru, Neo-Classicisme, merampungkan pembangunan Gereja Frederiks.

Proyek perdananya di tahun 1756 sangatlah didominasi oleh keantikan detail, hampir seperti gaya arsitektural Piranesian , yang dia dapatkan mengadaptasi dari beberapa manner tradisinil. Di bawah pengarahan Jardin maka tembok dari gereja Frederiks hanya setinggi 9 meter diatas dasar level sebelum struktur marbel yang mahal tersebut dihentikan pada tahun.Jardin berperan baik untuk halaman maupun gedung, for instance the Bernstorff Palace in Gentofte and Marienlyst in Elsinore, keduanya dimulai tahun 1759.

Town house kota Kopenhagen, yang garisnya ditetapkan oleh Eigtved, Jardin built Det Gule Palæ in Amaliegade (1764). Perumahan kota yang dia kerjakan juga berhasil memuaskan, terutama the Bernstorff Slot, thanks to its maison de plaisance form seems to have set the tone, for instance for Glorup in Funen, didirikan oleh C.J. Zuber (c. 1765).

Sumber: www.codel.org

Upaya Pembangunan Ulang Menara Porselen Bao En Nanjing yang Legendaris

Upaya Pembangunan Ulang Menara Porselen Bao En Nanjing yang Legendaris


16 September lalu pada halaman utama situs resmi CNN dimuat berita panjang lebar mengenai dibangunnya Menara Porselen di Biara Bao En (Bao’en Temple) yang terletak di Nanjing, Tiongkok. September tahun ini reporter CNN khusus berkunjung ke Nanjing untuk menyaksikan menara tersebut pasca pembangunannya kembali, dan menulis artikel panjang mengenai sejarahnya, proses rekonstruksinya serta paras menara tersebut pasca rekonstruksinya. Artikel menyebutkan menara ini sebagai salah satu dari tujuh keajaiban kuno dunia. Mengapa pembangunan kembali menara kaca itu membuat orang asing begitu antusias? (Foto internet)

Oleh: Zhou Huixin

Menara Porselen Perlihatkan Dunia Buddha Yang Cemerlang

Artikel yang ditulis Mingshi berjudul “Keindahan Bangunan Masa Kekaisaran Yongle” memperkenalkan Menara Porselen di dalam kompleks Biara Bao En di Nanjing. Menurutnya, di dalam suatu kekaisaran, sejak dari sang kaisar, para pejabatnya, hingga masyarakatnya, semuanya memiliki kebudayaan khas dinasti tersebut. Seni arsitektur Dinasti Ming juga memiliki keunikannya.

Artikel itu menjelaskan, Kaisar Zhu Di dari kekaisaran Yong Le memerintahkan renovasi Kota Terlarang Beijing, kompleks Biara Taoisme di Gunung Wudang (Butong), dan juga Menara Porselen di Biara Bao En.

Keunikan bersama dari ketiga bangunan ini adalah, sama-sama menggunakan porselen dalam jumlah besar, memiliki corak warna yang kaya, cerah, indah dan mengkilap. Sangat berbeda dengan bangunan bertembok putih dan bergenteng hijau umumnya.

Menara Porselen di Biara Bao En antara lain menggunakan porselen berwarna warni. Tidak hanya genteng atapnya menggunakan porselen, melainkan seluruh menara menggunakan porselen, selain terdapat sebilah “kayu pipa” di atap menara, seluruh bangunan “tidak menggunakan sebilah pun kayu”. Bagian dalam dan luarnya semua menggunakan porselen berbagai bentuk dan berbagai warna yang digabungkan menjadi satu, inilah bangunan porselen yang langka di dunia.

Menurutnya, penggunaan porselen sebanyak itu, bukan karena porselen adalah bahan favorit Kaisar Yongle Zhu Di, melainkan karena warna porselen lebih cerah dan mengkilap, sehingga mampu menampilkan kecemerlangan dunia Buddha secara artistik.

Bata porselen dari menara ini dihiasi seni ukir timbul dengan gambar bunga teratai, hewan langit dan dewa dewi, kemudian dimunculkan warna dan kilauannya dengan dibakar pada suhu tinggi. Dalam satu bongkah bata tidak hanya memiliki satu warna, melainkan banyak warna, dan disebut “porselen panca warna”. Ukiran timbul porselen lima warna ini menampilkan bunga dan daun teratai serta tunasnya, hewan langit, seolah hidup, luar biasa indah.

Menara Besar Bao En. (internet)
Menara Besar Bao En. (internet)

Menara Porselen – Keajaiban Dunia

Epoch Times pernah memuat artikel khusus tentang Menara Porselen di Biara Bao En ini yang berjudul “Menara Biara Bao En dari Zaman Dinasti Ming Sebagai Keajaiban Dunia”. Artikel menjelaskan, sejak dibangun hingga hancur (karena api peperangan) Menara Porselen adalah bangunan tertinggi di Tiongkok, juga merupakan keajaiban dalam sejarah arsitektur dunia, disejajarkan dengan tujuh keajaiban dunia dari abad pertengahan, sejajar dengan Koloseum Roma, Menara Pisa, dan lain-lain.

Oleh bangsa Barat di masa itu dianggap sebagai bangunan bersifat ikonik yang melambangkan Tiongkok, dijuluki “benda antik besar Tiongkok, tungku porselen besar Yongle”, juga dianggap sebagai “menara nomor satu dunia”.

Berbagai ragam wujud tubuh keemasan ribuan patung Vajra Buddha di menara itu. Dari sebuah tubuh emas, yang terbentuk dari kombinasi puluhan bata porselen, lipatan jubahnya tidak terpisah, raut wajahnya terlihat jelas, janggut dan alisnya ekspresif, segala detail yang bagitu cermat laiknya hasil karya dewata. Ratusan pelita yang dinyalakan setiap malam di Menara Porselen ibarat kilauan bintang yang masih terlihat dari jarak 5 kilometer. Teramat spektakuler!

Menurut informasi, pembangunan Biara Bao En sangat mirip dengan metode pembangunan Piramida Firaun di Mesir, bukan dengan metode perancah (scaffold) yang naik setingkat demi setingkat, melainkan “bangun satu tingkat, lalu menumpuk tanah setinggi satu tingkat di sekitar bangunan, lalu dibangun tingkat kedua, setiap selesai setingkat ditumpuk tanah setinggi tingkatan tersebut, begitu seterusnya sampai tingkat ke-9, tanah pun ditumpuk setinggi sembilan tingkat, sehingga seolah dibangun dari tanah datar.

Setelah pembangunan rampung, seluruh tumpukan tanah itu disingkirkan, dan menara pun terlihat.” Dengan demikian kualitas pembangunan sangat terjamin.

Di zaman dahulu tidak ada kaca, jendela rumah rakyat jelata hanya ditutup dengan kertas, dan tutup jendela rumah orang kaya menggunakan kain sutra. Sedangkan jendela Menara Porselen ini ditutup dengan menggunakan kulit kerang! Semua jendela menara itu, pada ditutup dengan menggunakan kulit kerang yang telah dipoles hingga sangat tipis, dan disebut “porselen transparan”, ini adalah bahan tembus cahaya terbaik untuk bangunan yang ada di Tiongkok sebelum akhirnya kaca masuk ke Tiongkok.

Pada zaman Dinasti Ming dan Dinasti Qing, setiap malam selalu diterangi cahaya pelita yang dinyalakan di Menara Porselen, lewat jendela transparan yang terbuat dari kulit kerang, terpancar pendaran cahaya terang ibarat dunia mimpi, seperti di istana para peri, dari sudut mana pun di kota Nanjing masyarakat dapat melihatnya, dampak visual yang begitu kuat itu membuat masyarakat selalu menyadari keberadaan budaya ajaran Buddha.

Bisa dikatakan, Menara Bao En di Nanjing adalah representasi prestasi arsitektur tertinggi pembangunan biara kekaisaran di zaman Tiongkok kuno, bahkan menjadi model bagi arsitektur Royal Garden di kemudian hari, seperti The Summer Palace di Beijing. Pembangunannya adalah semangat, sumber daya dan jasa pembangunan negara dari Kaisar Yongle yang memiliki maha keberanian, kecerdasan dan kebijaksanaan.

Menara Porselen Bangkit Kembali?

“Menara nomor satu” yang dipandang sebagai simbol bagi Tiongkok oleh orang asing ini, pada pertengahan abad ke-19 menara ini hancur akibat Perang Pemberontakan Taiping (1851 – 1864). 16 Desember 2015 lalu, Biara Bao En di Nanjing ini dibuka kembali setelah direkonstruksi, September 2016 reporter CNN khusus mengunjungi biara di Nanjing ini dan menulis laporan khusus mengenainya yang diberi judul “Brought Back to Life”.

Menurut media RRT, untuk melindungi Istana Bawah Tanah di bawahnya, Menara Porselen yang pernah berjaya sepanjang sejarah ini belum sampai terealisir di dunia, yang berdiri megah di lokasi asalnya ini, adalah sebuah “bangunan modern” yang memiliki bentuk tapi tidak memiliki ruh menara aslinya, dan diberi nama “Menara Besar Bao En”. Agar tidak merusak istana bawah tanah, bangunan baru ini menggunakan empat set balok miring dari pipa baja yang melewati bagian atas lokasi menara, dan pondasi balok miring ini ditempatkan di bagian luar dari situs menara asli.

Menurut informasi, situs bawah tanah yang tertutup seluruhnya oleh kaca di dalam taman ini, adalah lokasi ditemukannya istana bawah tanah Biara Chang Gan dari zaman Dinasti Song yang berada tepat di bawah Menara Porselen Biara Bao En, yang telah berusia ribuan tahun, dan merupakan istana bawah tanah dengan metode lubang vertikal terbesar di Tiongkok.

Namun yang mengherankan adalah, sepanjang sejarah biara dan menara berulang kali dihancurkan dan dibangun kembali, tapi Istana Bawah Tanah ini tak tersentuh, dan terawat dengan baik. Akan tetapi teknologi modern sekarang ini belum mampu “membangkitkan kembali” Menara Porselen yang sesungguhnya tanpa merusak istana bawah tanah. (sud/whs/rmat)

Beipanjiang (China),jembatan tertinggi di dunia diresmikan

Jembatan Beipanjiang  tertinggi di dunia, diresmikan untuk mengurai transportasi di Tiongkok

Beipanjiang Bridge
The four-lane road span of the Beipanjiang Bridge soars more than half a kilometre over the river below CREDIT: XINHUA/REX/SHUTTERSTOCK

The world’s highest bridge has opened to traffic in a remote, mountainous part of China, adding to the country’s impressive roster of megastructures.

Jembatan tersebut memiliki tinggi 565 meter dari tanah. Jembatan itu pun sekaligus menjadi jembatan tertinggi di dunia seperti diberitakan The Guardian.

Jembatan yang memiliki nama Beipanjiang itu pun menghubungkan dua provinsi terpencil di China, yakni Yunan dan Guizhou. Nama jembatan itu pun terinspirasi dari Sungai Beipan yang mengalir di bawahnya.

And is expected to reduce road travel times from Liupanshui to Xuianwei from five hours to two. Its 1,341-metre span of four-lane road deck soars 564 metres over the Beipan River, making it the highest – if not the tallest – in the world.

Beipanjiang Bridge
A vehicle crosses the Beipanjiang Bridge, possibly unaware that there’s half a kilometre of air between the road span and the river below. CREDIT: XINHUA/REX/SHUTTERSTOCK

China is also home to the second and third highest bridges – the Sidu River Bridge and the Puli Bridge, respectively – as well as other modern wonders such as the Three Gorges Dam (and its ship lift, the world’s largest) and growing high speed rail network.

Beipanjiang Bridge
The bridge is in a remote, mountainous part of China, a few miles downriver of the enormous Guangzhao Dam. CREDIT: XINHUA/REX/SHUTTERSTOCK 

The Guangzhao Dam is a concrete gravity dam a few miles north of the Beipanjiang Bridge, designed to generate electricity using hydroelectric power generation.

The Beipanjiang is the highest rather than the tallest bridge. The tallest bridge – the bridge with the tallest structure, regardless of distance from the valley floor – remains the Millau Viaduct, a joint British-French venture on the A75 Autoroute. The road deck here is held a mere 270 metres – less than half the height of the Beipanjiang Bridge.

Beipanjiang Bridge 
This diagram shows the difference between ‘highest’ and ‘tallest’ CREDIT: KEOW WEE LOONG / BARCROFT IMAGES

The Beipan river, over which the Beipanjiang Bridge carries traffic, is part of the great Pearl River basin. Because of its geography, the bridges that cross it tend to be remarkably high.

For all the latest news, advice and reviews from Telegraph Cars, sign up to our weekly newsletter by entering your email here.

Arsitek-arsitek dunia yang legendaris

 Tokoh Arsitek Dunia yang melegenda

  1. Le Corbusier

le cobusier Charles-Edouard Jeanneret, lebih dikenali sebagai Le Corbusier (6 Oktober 1887–27 Agustus 1965), ialah seorang arkitek Switzerland yang amat dikenali untuk sumbangannya kepada apa yang kini digelarkan modenisme, dan Gaya Antarabangsa. Beliau merupakan perintis dalam kajian teori untuk reka bentuk moden dan berdedikasi untuk memberikan keadaan hidup yang lebih baik kepada penduduk-penduduk bandar raya yang penuh sesak. Dengan tempoh kerjaya selama lima dekad, Le Corbusier membina bangunan-bangunan ikonik di merata-rata tempat di Eropah tengah, India, Rusia, dan sebuah struktur di Amerika Serikat. Beliau juga merupakan perancang bandar, pelukis, pengarca, penulis dan pereka bentuk perabot.

Le Corbusier merupakan seorang yang ahli dalam teori-teori desain modern. Ia juga berkontribusi dalam menghasilkan kehidupan yang lebih baik di lingkungan yang padat penduduknya. Karya bangunan-bangunannya tersebar di daerah Eropa, India, Rusia dan Amerika. Le Corbusier memiliki ketertarikan yang besar dalam visual art sehingga ia menempuh pendidikan di La-Chaux-de-Fonds Art School. Dosen arsiteknya saat itu adalah Rene Chapallaz yang turut mempengaruhi karya desain bangunannya saat awal karir sebagai arsitek. Di awal-awal kariernya, ia banyak mendesain villa, salah satunya villa Jeanneret yang ia dedikasikan untuk orang tuanya. Vila-villa yang ia buat selalu memikat dan popular di sepanjang negara Pegunungan Alpen. Tahun 1907, ia ke Paris dan bekerja dengan Auguste Perret yang merupakan seorang ahli beton dari Perancis. Tahun 1910-1911 ia bekerja dengan Peter Behrens di daerah Kota Malang yang selanjutnya ia bertemu dengan Ludwig Mies van der Rohe dan Walter Gropius. Setelah itu, ia menjadi salah satu arsitek paling berpengaruh dalam bidang arsitektur Jerman.

Pada tahun 1911, Le Corbusier melakukan perjalanan ke Semenanjung Balkan untuk mengunjungi Yunani dan Turki. DI sela-sela perjalanannya, ia menggambar sketsa bangunan termasuk Kuil Parthenon yang ia masukkan dalam Vers une architecture tahun 1923. Vers une architecture merupakan kumpulan esai Le Corbusier yang terbit dalam jurnal Perancis L’Esprit Nouveau. Saat terjadi Perang Dunia I, ia mengajar di almamaternya, La-Chaux-de-Founds Art School. Ia mengajar di sana sampai berakhirnya perang tersebut. Karyanya saat itu berjudul Domino House yang ia ciptakan di tahun 1914 sampai 1915. Desain itu menjadi patokannya dalam membuat sebagian karyanya dalam sepuluh tahun setelahnya. Karya : Chapelle Notre Dame du Haut, Ronchamp, Prancis. 1950-1955.  Chapelle Notre Dame du Haut, Ronchamp

Usine Claude et Duval, Saint-Dié-des-Vosges, Perancis. 1948-1951.

   usane claude    

  1. Santiago Calatrava

 santiago-calatrava  

Santiago Calatrava lahir di Valencia , Spanyol pada tahun 1951 . Dia lulus dari Institut Arsitektur di Valencia dan dari Federal Institute of Technology di Zurich . Calatrava membuka arsitektur dan kantor rekayasa sendiri di Zurich . Sebagian besar karya awalnya berada di Swiss dan Spanyol , di mana ia telah memamerkan desain dan memenangkan beberapa penghargaan. Sebagai arsitek dan insinyur , Calatrava sering menciptakan karya-karya inovatif yang bergantung pada pemahaman yang kuat dari kedua aspek kekreatifan dan struktural desain . Keterampilan -Nya sebagai seorang insinyur memungkinkan dia untuk membuat bentuk patung dan ruang yang tidak biasa. Pada tahun 1979 ia memenangkan penghargaan  untuk menyalakan kembali kualitas struktur kerja Perret dan untuk kembali menekankan pentingnya struktur utama dalam mendefinisikan bentuk. Meskipun kehadiran berpengaruh dalam komunitas arsitektur Eropa , Calatrava jarang merancang bangunan-bangunan tertutup . Sebaliknya , sebagian besar ciptaan-Nya adalah struktur terbuka. Karya Santiago Calatrava : Stasiun Kereta Api Stadelhofen, di Zurich, Swiss. 1983-1984.

Stasiun Kereta Api Stadelhofen, di Zurich, Swiss

Alamillo Bridge dan La Cartuja Viaduct, di Seville, Spanyol. 1987-1992.

alamillo-bridge-dan-la-cartuja-viaduct Campo Volantin Footbridge, di Bilbao, Spanyol. 1990-1998. Campo Volantin Footbridge, di Bilbao, Spanyol. Airport Sondica, di Bilbao, Spanyol.1990-1999. Airport Sondica, di Bilbao, Spanyol

  1. Zaha Hadid

 zaha hadid

Zaha Hadid lahir pada tanggal 31 Oktober 1950 , di Baghdad, Irak, meninggal 31 Maret 2016. Dia dibesarkan di salah satu bangunan pertama Baghdad Bauhaus-terinspirasi selama era  “modernisme dikonotasikan pola pikir glamor dan progresif” di Timur Tengah. Dia menerima gelar di bidang matematika dari Universitas Amerika di Beirut sebelum pindah untuk belajar di Sekolah Asosiasi Arsitektur Arsitektur di London, di mana ia bertemu Rem Koolhaas, Elia Zenghelis, dan Bernard Tschumi. Dia bekerja untuk mantan profesor nya, Koolhaas dan Zenghelis, di Kantor  Metropolitan Arsitektur, di Rotterdam, Belanda, ia menjadi mitra pada tahun 1977. Melalui hubungan nya dengan Koolhaas, ia bertemu Peter Rice, insinyur yang memberikan dukungan dan dorongan awal pada saat pekerjaannya sepertinya sulit. Pada tahun 1980 ia mendirikan praktek sendiri yang berbasis di London. Selama tahun 1980-an ia juga mengajar di Asosiasi Arsitektur. Arsitek Wanita Terkenal yang berani, julukan Zaha Hadid sebagai tonggak eksistensi desain-desain futuristik dan menggabungkannya dengan teknologi mambuat namanya akan terus dikenang di sepanjang masa di dunia arsitektur, latar belakangnya yang seorang ahli matematika membuat dia berani mebuat desain-desain ekstrim yang sampai saat ini kita sebut ” Arsitektur Dekonstruksi” Dia telah menjadi salah satu arsitek paling terkenal di dunia. Bangunannya pernah  dinominasikan untuk Penghargaan bergengsi termasuk MAXXI (2010), Stasiun Kereta Api Kabel Nordpark (2008), Phaeno Science Centre (2006) dan BMW Central Building (2005).

Gaya desain dari seorang Zaha Hadid bisa disebut desain yang berani, kontempror, organik, inovatif. menggunakan teknologi dengan material yang jauh dari kata ‘biasa’. Zaha Hadid telah mengajar di universitas bergengsi di seluruh dunia, termasuk di Harvard Graduate School of Design, di mana dia adalah Tange Kenzo profesor dan Ketua Sullivan di University of Illinois di Chicago Sekolah Arsitektur. Dia juga menjabat sebagai profesor tamu di Hochschule für bildende Kunste Hamburg (HFBK Hamburg), Sekolah Knowlton Arsitektur di Ohio State University, Studio Master di Columbia University, dan Profesor Saarinen Eero Mengunjungi Desain Arsitektur di Yale School of Architecture. Diantara karyanya: London Aquatic, London 2012 Olympic Games dengan kapasitas 17500 orang. london aquatic Riverside Museum, Glasgow (2011)  riverside      

  1. Kenzo Tange

  kenzo tange

(4 September 1913-22 Maret 2005) Kenzo Tange lahir di kota kecil Imabari, Jepang Selatan.  Pada tahun 1935 dia memulai belajar dalam bidang arsitektur di “Department of Architecture at The University of Tokyo”, yang diselesaikannya pada tahun 1938. Dia mulai dikenal masyarakat luas karena hasil studinya mendapat penghargaan dari “Tatsuno Prize”. Kemudian mendapat pengalaman profesional bekerja sama dengan seniornya, Kunio Mayekawa, yang juga lulusan Universitas Tokyo. Tange kembali menuntut ilmu di Universitas Tokyo untuk mendapatkan gelar Masternya, dan mengajar sebagai dosen arsitektur di universitas tersebut. Setelah Perang Dunia II, Tange memenangkan sayembara untuk mengabadikan momen pengeboman kota Hiroshima, “Hiroshima Piece Center”.

Setelah memenangkan sayembara itu, Tange membuka kantor konsultan pribadinya. Pada tahun yang sama yaitu 1949, Tange menyelesaikan gelar profesornya di Universitas Tokyo. Setelah mempunyai gelar Profesor, ia menjadi pengajar di Universitas Tokyo pada tahun 1946 , disamping itu juga menjadi Profesor tamu pada Masschussets Institute of Technology (1959 – 1960), dan Harvard University (1972). Kenzo Tange pernah bekerja pada Le Corbusier pada tahun 1935-an, masa di mana arsitektur International Style, kubisme, fungsionalisme, sedang berkembang dan nantinya berpengaruh terhadap rancangan-rancangan karya Tange. Tange dapat disejajarkan dengan para tokoh arsitektur modern awal generasi di atasnya seperti, Le Corbusier, Gropius, Wright, van der Rohe, dan lainnya pada masa abad 19.

Tange seangkatan dengan para arsitek Amerika yaitu P. Johnson, K. Roche, P. Rudolph, I. M. Pei, dan lainnya pada masa abad 20. Pada karya-karya awal yang dihasilkan Kenzo Tange yaitu menggabungkan modernisme dengan arsitektur tradisional Jepang. Di akhir tahun 1960-an, beliau menghilangkan regionalisme dan berubah ke International Style. Melalui ide-idenya yang universal tanpa menghilangkan kandungan arsitektur tradisional Jepang. Diantara karyanya: 1955: Hiroshima Peace Memorial Museum, Hiroshima

Dia juga menjadi anggota CIAM (Congres Internationaux d’Architecture Moderne) pada tahun 1950-an.

hirosima peace

1960: Kurashiki City Hall, Kurashiki, Okayama

kurashaki city

1964: Yoyogi National Gymnasium for the 1964 Summer Olympics, Tokyo

Yoyogi National Gymnasium for the 1964 Summer Olympics, Tokyo

  1. Frank Owen Gehry

  frank owen gehry Frank Gehry lahir 28 Februari 1929 di Toronto, Ontario, Kanada. Lalu Dia pindah ke California pada tahun 1947. Ia bekerja untuk Wdton Becket & Associates (1957-1968) dan Victor Gruen (1968-1961) di Los Angeles, serta untuk Andre Remondet di Paris (1961). Kemudian dia menciptakan perusahaannya sendiri yang bernama Frank O. Gehry and Associates pada tahun 1967. Dia Memenangkan Penghargaan Pritzker tahun 1989. Dan proyeknya yang paling terkenal adalah titanium tertutup Guggenheim Museum di Bilbao, Spanyol yang kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1997. Gehry dikenal akan pendekatan ukiran ke desain bangunan dan untuk membangun struktur yang berkurva, dan seringkali dibungkus dengan logam yang mengkilat. Gedung yang dirancangnya, termasuk tempat tinggal pribadinya di Santa Monica, California, telah menjadi atraksi wisatawan. Banyak museum, perusahaan, dan kota mencari jasa Gehry sebagai simbol pembedaan, untuk segala produk yang dibuatnya. Museum GuggenheimSalah satu karya Frank Gehry yang dianggap karya terbesar, Museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol. Adalah massa kurva acak terbuat dari titanium, yang menyerupai sisik ikan. Gehry mengatakan “keacakan dari kurva dirancang untuk menangkap” cahaya, dan yang mereka lakukan, dengan kilau cemerlang yang mencerminkan air yang berkilauan Sungai Nervion.    

  1. Philip Johnson

   philip johnson

Philip Cortelyou Johnson atau lebih dikenal dengan nama Philip Johnson adalah salah satu arsitek dari Amerika yang sangat berpengaruh dalam dunia Arsitektur. Dengan kacamatanya yang tebal, berbingkai bundar, Philip Johnson adalah tokoh yang paling dikenal di dunia arsitektur Amerika selama beberapa dekade. Philip Johnson (8 Juli 1906 – 25 Januari 2005) lahir di Cleveland, Ohio.

Pada awalnya, Philip Johnson bukanlah seorang arsitek, dia bekerja sebagai kritikus, penulis, sejarawan dan seorang direktur museum. Dia meraih gelar A.B. dalam sejarah arsitektur dari Universitas Harvard yang tertarik pada Sejarah dan Filsafat, terutama pada karya Pra-Sokrates. Pada tahun 1949, setelah beberapa tahun sebagai direktur utama Museum of Modern Art di Departemen Arsitektur, dia merancang rumah tinggal untuk dirinya di New Canaan, Conecticut untuk tesis meraih gelar masternya. Rumah tinggal tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Glass House. Pada tahun 1928, Philip Johnson bertemu dengan arsitek Ludwig Mies van der Rohe, yang pada saat itu sedang merancang German Pavilion untuk Barcelona Internasional Exposition 1929. Pertemuan dengan Ludwig Mies van der Rohe inilah yang akhirnya membuat jalan Philip Johnson dalam dunia arsitektur. Pada awalnya bahkan Philip Johnson pernah menugaskan Ludwig Mies van der Rohe untuk mendesain apartemennya di New York. Kemudian dia berkolaborasi dengan Mies mendesain bangunan tinggi terbaik yakni Gedung Seagram, New York. Pada tahun 50an merevisi pandangan sebelumnya, yang mencapai puncaknya sebagai salah satu bangunan yang paling kontroversial dalam karirnya, yakni Kantor Pusat AT & T di New York dengan apa yang disebut dengan “Chippendale”. Philip Johnson bergabung dengan John Burgee dari tahun 1967 sampai 1987. Dalam 20 tahun ini tidak ada karya yang fenomenal. Tahun 1989, Philip Johnson lebih banyak mengabdikan waktunya untuk proyek-proyeknya sendiri, walaupun dia masih semi-pensiun dari John Burgee Architects. Desain yang paling terakhir adalah untuk Sekolah Seni Rupa Seton Hill College di Greensburg, Pennsylvania. Salah satu karyanya: Johnson House at Cambridge, “The Arch Street House“, Cambridge, Massachusetts (1942–1943) Johnson House at Cambridge  

  1. Ludwig Mies van der Rohe

 

missvanderohe

  Ludwig Mies van der Rohe (27 Maret 1886 – 17 Agustus 1969) adalah seorang arsitek berkebangsaan Jerman. Ia umumnya dipanggil Mies, sesuai nama belakangnya. Ludwig Mies van der Rohe, bersama Walter Gropius dan Le Corbusier, dikenal luas sebagai para perintis arsitektur Modern. Mies, seperti rekan-rekannya pasca Perang Dunia I, berupaya menetapkan gaya arsitektur baru yang mampu mewakili zaman modern seperti yang dilakukan arsitektur Klasik dan Gothik pada zamannya masing-masing. Ia menciptakan gaya arsitektur abad ke-20 yang berpengaruh dengan kejelasan dan kesederhanaan yang ekstrem.

Bangunan-bangunan karyanya memanfaatkan material modern seperti baja industri dan kaca pelat untuk menentukan ruang interior. Ia berupaya menciptakan arsitektur dengan sedikit kerangka struktur yang diseimbangkan dengan kebebasan ruang terbuka yang mengalir bebas. Ia menyebut bangunan-bangunannya arsitektur “kulit dan tulang”. Mies mengambil pendekatan rasional yang dapat memandu proses kreatif perancangan arsitektur. Ia sering dikaitkan dengan aforisme “lebih sedikit lebih baik” dan “Tuhan sangat terperinci“. Villa Tugendhat merupakan prototipe dan ikon arsitektur modern di Eropa. Mies van der Rohe membangun Villa tersebut di kawasan Černá Pole di Brno (Brunn), Republik Ceko pada 1928 – 1930 untuk Fritz Tugendhat dan istrinya Greta. tugendhat

  1. Eugene Viollet Le Duc

  Eugène Emmanuel Viollet-le-Duc Eugène Viollet Emmanuel- le-Duc (27 Januari 1814-17 September 1879) adalah seorang arsitek Perancis dan dengan teorinya yang terkenal karena penafsiran restorations bangunan di abad pertengahan. Lahir di Paris dan dia adalah arsitek utama GothicRevival. Karya-karyanya sebagian besar restoratif pada beberapa desain bangunan independen yang pernah terwujud. Sangat bertentangan dengan tren arsitektur Beaux-Arts yang berlaku waktu itu dan banyak karya desain-desainnya sebagian besar dicemooh oleh orang-orang pada zamannya. Dia juga adalah arsitek yang disewa untuk merancang struktur internal dari Patung Liberty namun meninggal sebelum proyek selesai. Ayah Viollet-le-Duc adalah seorang civil yang tinggal di Paris yang mengumpulkan buku, salon Friday ibunya dihadiri oleh Stendhal dan Sainte-Beuve. Saudara ibunya, Étienne-Jean Delécluze,”adalah seorang pelukis di pagi hari dan seorang sarjana di malam hari” (Summerson) sebagian besar bertanggung jawab atas pendidikan pemuda itu. Viollet-le-Duc terkenal dengan filosofisnya yaitu: republican, anti-clerical, rebellious, dia membangun barikade pada July Revolution of 1830 dan menolak untuk memasuki École des Beaux-Arts tapi sebaliknya ia memilih untuk mendukung pengalaman praktis langsung di kantor-kantor arsitektur Jacques-Marie Huvé dan Achille Leclere. Salah satu dari banyak grotesques di muka Notre Dame di Paris ditambahkan selama restorasi Viollet-le-Duc. Yang satu ini umumnya disebut Le Stryge (the strix). Selama awal tahun 1830-an, sentimen populer untuk restorasi bangunan abad pertengahan yang dikembangkan di Perancis, Viollet-le-Duc kembali pada th 1835 dari study di Italia yang ditugaskan oleh Prosper Mérimée untuk mengembalikan biara Romawi dari Vézelay. Karya ini adalah yang pertama dari serangkaian panjang restorasi Viollet-le-Duc di Notre Dame de Paris yang membawa kepada perhatian nasional. Karya-karya utamanya yang lain meliputi Mont Saint-Michel, Carcassonne, Roquetaillade castle dan Pierrefonds. Chateau-de-Pierrefonds

  1. Charles Moore

charles moore Charles Willard Moore adalah salah satu tokoh terkenal dalam desain interior. Beliau Lahir pada tanggal 31 Oktober 1925, di Benton Harbor, Michigan semasa hidupnya beliau pernah meraih penghargaan AIA Medali Emas pada tahun 1991dan bekerja di berbagai tempat diantaranya Praktek Moore rubel Yudell, Bangunan Piazza D’Italia, Haas School of Business, Proyek Sea Ranch, California, Yale Bangunan Proyek. kemudian pada tanggal 16 Desember 1993 beliau menutup usianya yang ke 68. Moore merancang dan membangun sebuah rumah untuk ibunya di Pebble Beach, California, dan bekerja selama musim panas untuk menjadi arsitek Wallave Holm dari Monterey  . dan Master Tesis Moore itu mencari jalan untuk melestarikan dan mengintegrasikan rumah-rumah bersejarah di Monterey adobe ke dala kota. Disertasi Doktor-Nya, “Air dan Arsitektur”, adalah survei terhadap keberadaan air dalam membentuk pengalaman tempat. Salah satu karyanya adalah Piazza d’italia (1975-1980) sebuah taman atau ruang terbuka dalam rangka renovasi kawasan kumuh di New Orelans Amerika Serikat, ditujukan untuk para imigran Italia yang mendominasi daerah tersebut. plaza d'italia

Denah bangunannya berupa lingkaran, diperkuat dengan garis-garis melingkar pada lantai dengan warna dari bahan pada tengah taman di buat model tanah Italia yang berbentuk seperti sepatu tinggi, dikelilingi kolam menggambarkan laut mediterania. Unsur modern art deco dimasukkan dalam beberapa kepala kolom di sela-sela kolom-kolom Italia tersebut.  

  1. Aldo Rossi

 aldorossi Berasal dari Milan Italia, lahir tahun 1913. Selain sebagai arsitek praktisi, pengajar juga banyak karya-karya tulisnya baik mengenai arsitektur kota maupun arsitektur. Diantara karyanya: Teather Dunia I (II Teantro del mondo) 1978 di Venesia. Venesia ini merupakan kota kuno abad pertengahan di Italia, termasyur dengan keunikannya “terapung” di laut. Denahnya bujur sangkar 9,5 x 9,5 m2 di atas plarform semacam rakit 25 x 25 m. Bagian utamanya tingginya 11 m, di atasnya terdapat sebuah menara berdenah segi delapan setinggi 6 m, atapnya kerucut berisi delapan. teantro Teater Carlo Felice (1983-1989) di Genoa Italia. Teater ini dibangun oleh Rossi bersama tiga arsitek lain yaitu I. Gardell, F. Reinhart dan A. Sibilia, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik Yunani Ranaissance dengan elemen modern. Pemakaian unsur lama ciri arsitektur Post Modern antara lain gotic, terdapat dalam sebuah kerucut yang aneh, karena diletakkan di dalam di atas lobby utama.    theater carlo  

10 langit-langit gedung terindah

Karya-karya megah nan indah ini hanya dapat Anda nikmati bila Anda menengadahkan kepala di bawahnya. Jonathan Glancey memaparkan untuk Anda.

ari bbc.co.uk

Corak Inggris pada gedung dan interior

Langgam corak Inggris

Gaya Carolean Abad 17Menjelang abad 17 di Inggris, industri pembuatan furnitur berkembang pesat, mengalahkan era sebelumnya. Pada era dinasti Tudor, furniture hanya dimiliki para bangsawan, aristokrat dan para jutawan. Pada pertengahan abad 18, furnitur sudah menjadi unsur dominan yang penting pada rumah-rumah pendiuduk biasa. Hal ini terus berkelanjutan sampai pada era Victoria dan moder.Gaya furnitur di Inggris dimulai pada abad 17 yang lebih dikenal sebagai gaya Carolean. Bentuknya yang sangat antik mirip mebel yang digunakan kolonialis Portugis di Hindia Barat.Nama Carolean lebih diidentikkkan dengan Raja Charles I dan Raja Charles II ( 1660-1685) .Aliran Restorasi, juga dikenal sebagai Carolean style (from the Latin Carolus (Charles), mengacu pada decorative arts popular in England from the restoration of the monarchy in 1660 to the late 1680s after Charles II (reigned 1660 – 1685). Kembalinya sang Raja dan sidangnya dari pembuangan on the Continent led to the replacement of the Puritan severity of the Cromwellian style with a taste for kemegahan dan kemewahan dengan sedikit pengaruh cita rasa Belanda dan Perancis. These are evident in furniture in the use of floral marquetry, walnut instead of oak, twisted turned supports and legs, exotic veneers, cane seats and backs on chairs, sumptuous tapestry and velvet upholstery and ornate carved and gilded scrolling bases for cabinets. Restoration silver is characterized by embossed motifs for tulips and naturalistic fruit and leaves.

Tipe furnitur yang baru diperkenalkan dalam periode ini include cabinets on stands, chests of drawers, armchairs and wing chairs and day beds. The growing power of British East India Company resulted in increased imports of exotic commodities from China and Japan, including tea, porcelain and lacquer, and chintzes from India. This led to a craze for chinoiserie, reflected on the development of imitation lacquer (Japanning), blue and white decoration on ceramics, flat-chased scenes of Chinese-style figures and landscapes on silver and new forms of silver as teapots, as well as colourful Indian-style crewelwork bed-hangings and curtains. Other developments in the Restoration period were the emergence of the industri kaca Inggris, following the invention of lead glass by George Ravenscroft around 1676, and the manufacture of slipware by Thomas Toft. After the accession of William III and Mary II in 1689, Restoration style was superseded by William and Mary style. See also * English Restoration * Restoration comedy

 

 
Belton House, Salah satu bangunan bercorak Carolean

 

 

Fashion Designer Karl Lagerfeld akan Mendirikan Hotel Mewah dengan Desain Stylish

Karl Lagerfeld Siap Mendirikan Hotel Mewah dengan Desain Stylish

Hestianingsih – wolipop
Karl Lagerfeld Siap Mendirikan Hotel Mewah dengan Desain StylishFoto: Dok. Getty Images
Jakarta – Karl Lagerfeld dikenal sebagai desainer fashion bertangan dingin. Tak hanya piawai menciptakan rancangan busana, karya Karl juga bisa dinikmati lewat desain interior dan baru-baru ini ia juga merilis perangkat menggambar bersama Faber-Castell.

Kerap menyumbangkan idenya untuk desain interior beberapa hotel, kini pria 83 tahun ini akan meluncurkan hotelnya sendiri. Karl Lagerfeld Hotels & Resorts akan berdiri di bawah naungan lisensi Brandmark Collective BV, sebuah perusahaan properti asal Amsterdam yang telah meneluarkan lebih dari 25 hotel di seluruh dunia.

Foto: Getty Images

Jaringan hotel tersebut akan menampilkan karya desain grafis Karl yang dituangkan dalam interior kamar, properti tempat tinggal, restoran dan klub-klub privat. Ini merupakan hotel pertama yang didesain dan dibangun sendiri, dengan merek dagang yang terdaftar atas nama Karl Lagerfeld.

Sebelumnya creative director Chanel ini telah menjejakkan kakinya di dunia desain interior, beberapa tahun belakangan. Karl pernah mendesain ruangan lobi untuk kondominium di Toronto dan Miami. Pencinta kucing ini juga terlibat dalam proses merancang 270 kamar hotel di Macau.

Karya terakhirnya, bisa dilihat dalam hotel mewah Lisboa Palace di Macau, China. Hotel yang akan dibuka pada 2017 ini memiliki tiga menara, yang salah satunya dirancang oleh Karl. Sementara menara lainnya dipercantik oleh Donatella Versace. Hotel ini disebut-sebut sebagai properti berbintang enam.

Foto: Pascal Le Segretain/Getty Images

“Kami berharap proyek ini bisa memperluas pengalaman lifestyle Karl Lagerfeld secara menyeluruh,” ujar Pierpaolo Righi, presiden dan chief executive officer Karl Lagerfeld, seperti dikutip dari Women’s Wear Daily.

Karl Lagerfeld menambah daftar desainer mode yang mengembangkan bisnisnya ke properti hotel. Sebelumnya terdapat nama-nama terkenal seperti Giorgio Armani, Bulgari, Versace dan Baccarat. (hst/hst)

 Dikutip dari detik.com

Mengintip Apartemen Donald Trumph Sebelum Pindah ke Gedung Putih

Foto: Mengintip Apartemen Mewah Donald Trump Sebelum Pindah ke Gedung Putih

Hestianingsih – wolipop
Foto: Mengintip Apartemen Mewah Donald Trump Sebelum Pindah ke Gedung PutihFoto: Idesignarch & beautifulhouse

Jakarta – Hasil pemilu Amerika Serikat menetapkan Donald Trump sebagai presiden baru negara adidaya tersebut. Sebelum terjun ke dunia politik, Donald Trump dikenal sebagai pengusaha sukses dengan rantai bisnis di berbagai tempat.

Menjadi Presiden AS, Trump dan seluruh keluarganya pun harus meninggalkan kediaman mewahnya di Manhattan, New York, untuk tinggal di Gedung Putih selama empat tahun masa jabatan. Seperti apa apartemen yang selama ini ditinggali Donald bersama sang istri Melania Trump dan putra bungsunya, Barron?

Foto: Idesignarch & beautifulhouse

Dikutip dari idesignarch, Donald menempati Manhattan Penthouse yang berada di tiga lantai teratas gedung Trump Tower, yang memiliki 66 lantai. Dari apartemen yang berlokasi di 725 Fifth Avenue ini, terbentang pemandangan kota Manhattan dan Central Park yang mengagumkan.

Apartemennya sendiri didekorasi dengan emas 24 karat dan marmer berkualitas tinggi, yang dirancang oleh mendiang desainer interior ternama Amerika Angelo Donghia. Penthouse tampak mewah dengan penataan gaya aristokrat khas Prancis, di masa kejayaan Raja Louis XIV. Belum lagi pintu depan yang dihiasi emas dan berlian untuk menyambut tamu.

Bagian dalam penthouse didominasi palet hangat seperti emas, beige, dusty rose dan coral yang semakin mengentalkan kesan glamor dan elegan. Sementara furnitur yang dipilih juga bernuansa antik, lagi, dengan sentuhan emas di mana-mana.

Foto: Idesignarch & beautifulhouse

Aura Prancis sangat terasa di apartemen yang pernah ditampilkan sebagai perusahaan fiktif Wayne Enterprise dalam film ‘Batman: The Dark Knight Rises’ ini. Mulai dari ukiran pada tiang-tiang, langit-langit, furnitur hingga detail terkecil pada pinggiran lantai.

Penthouse Donald Trump juga dipenuhi dengan benda-benda seni, misalnya patung bergaya Prancis berwarna emas-tembaga yang ditempatkan di dekat jendela, patung Eros & Psyche di tengah meja ruang keluarga juga lukisan Apollo. Dilansir Daily Mail, seluruh dekorasi penthouse ini terinspirasi dari Istana Versailles Prancis.

Foto: Idesignarch & beautifulhouse

Properti dikembangkan sendiri oleh pria 70 tahun itu, dan diselesaikan pada 1983. Apartemen yang ditempatinya sendiri diestimasi bernilai hingga USD 100 juta atau Rp 1,3 triliun.

Dikutip dari Wolipop.detik.com, November 2016

Perkembangan arsitektur lansekap di Tiongkok

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR LANSEKAP DI TIONGKOK
Perkembangan Profesi Arsitektur Lansekap di Tiongkok menunjukan pertumbuhan yang sangat luar biasa baik jumlah perguruan tingginya yang melampaui jumlah di USA maupun besarnya gaji yang didapatkan oleh setiap praktisi Arsitek Lansekap disana.
Mengapa hal ini bisa terjadi demikian ? dan aspek apa yang menyebabkannya ? Hal apa yang menjadi latar belakang kemajuan pesat berkembanganya ilmu Arsitektur Lansekap di Tiongkok
Artikel oleh Daniel Jost (Artikel bulan February 2013 landscape Architecture Magazine) dibawah ini sekiranya dapat sedikit memberikan penjelasan dan wawasan tentang pesatnya kemajuan disiplin ilmu dan profesi Arsitektur Lansekap di Tiongkok , yang dilakukan dengan proses diskusi antara
The Panelists (clockwise from top left): Jeff Hou, ASLA; Zhifang Wang; Kongjian Yu, FASLA; Ron Henderson, FASLA; Frederick R. Steiner, FASLA; Binyi Liu, Honorary ASLA; Chuo Li; Daniel Jost, ASLA; Jie Hu, International ASLA
THE GREAT EXCHANGE From the February 2013 issue of LAM:
By Daniel Jost
Professors from both sides of the Pacific talk about the amazing cultural exchange happening between American and Chinese universities and the rising stature of landscape architecture in China.
A decade and a half ago, the Chinese government “canceled” landscape architecture education in China. Some bureaucrats decided the discipline was superfluous. 
Today, the profession of landscape architecture is growing in that country like nowhere else in the world. Landscape architects are among China’s most highly paid professionals, and Chinese students are flooding into American universities to study landscape architecture at an unprecedented rate.
Meanwhile, landscape architecture education has come back into favor in China, and Chinese universities have established or reestablished nearly 200 landscape architecture programs in less than a decade.
Some of the people who lead China’s most influential programs studied in the United States, and some of the programs have strong connections with American academics. Tsinghua University’s landscape architecture program was established with the help of a team of American landscape architects led by Laurie Olin, FASLA, of the University of Pennsylvania. Patrick Miller, FASLA, a longtime professor at Virginia Tech, is the honorary chair of landscape studies at Tongji University in Shanghai.
Yet the teaching of landscape architecture in China is often quite different from what U.S. students would recognize—many Chinese programs make a stronger connection between education and practice. And what each program teaches is, for the moment, less standardized than even America’s highly diverse programs. Right now, China has no system for accrediting landscape architecture education, though efforts are under way to change that.
In December, we brought together eight academics from the United States and China to talk about the cultural exchange taking place between their countries and issues educators face in China as they try to build the profession there.
Four of the panelists live and work primarily in China.
Kongjian Yu, FASLA, whose work appears in this month’s issue, is the founder and dean of Peking University’s College of Architecture and Landscape Architecture, the president of Turenscape, and a visiting professor at Harvard’s Graduate School of Design.
Jie Hu, International ASLA, is an associate professor at Tsinghua University and the director of the Research Center for Landscape Architecture Planning at the Beijing Tsinghua Tongheng Planning and Design Institute—best known for its design of Beijing’s Olympic Forest Park.
Binyi Liu, Honorary ASLA, heads the landscape architecture department at Tongji University in Shanghai, and he is also an adjunct lecturer at Virginia Tech. Liu was recently named the vice chairman of the Education Steering Committee in Landscape Architecture for China’s National Institution of Higher Education. And
Zhifang Wang recently became an associate professor at Peking University. For the past four years, she has been an assistant professor at Texas A&M University. All of our Chinese panelists have studied in the United States.
Our panel also included four American academics with extensive knowledge of the landscape architecture profession in China.
Frederick R. Steiner, FASLA, is the dean of the School of Architecture at the University of Texas at Austin. He was formerly a visiting professor at Tsinghua University and has served as an adviser to Peking University.
Ron Henderson, FASLA, was an associate professor of landscape architecture at Tsinghua University for six years before returning to the United States to chair Pennsylvania State University’s landscape architecture program in 2011.
Jeff Hou, ASLA, chairs the Department of Landscape Architecture at the University of Washington and has led a studio focused on earthquake recovery in Sichuan, China. And, finally,
Chuo  Li is an assistant professor at Mississippi State University. She grew up in China’s Fujian province and studied in China before pursuing graduate studies in the United States.
The conversation occurred over Skype. What follows are edited and condensed highlights, which have been corrected, in places, for language variations.

A Rebirth 
Frederick Steiner: I think the big story is in the year 2000, there was really only one landscape architecture program in China, at Beijing Forestry University, and the last time I counted, which was two years ago, there were 184.

By contrast, in the United States, the first was Harvard University in 1900, and I think at last count, some 70 universities in the United States have landscape architecture programs. So, the growth in China in the last 12 years has been phenomenal. So, you know, why?

Daniel Jost: Why the sudden increase?
Binyi Liu: Actually it is not suddenly. There is a special year in China for landscape architecture education. That’s 1996. In 1996, the Chinese government canceled a lot of degrees. Landscape architecture programs were canceled. But before that, there were already some programs.

For example, from 1952, there were three schools—Tsinghua University, Beijing Forestry University, and Tongji University—with courses for this discipline. I’d like to say before 1996, we already had 60 programs in China for landscape architecture.

After 1996, many programs were canceled. Of the programs based in architecture schools, only the landscape architecture program at Tongji University was left. Many schools canceled their programs until two years ago. That’s another remarkable year, 2011. In 2011, China’s Office of the State Council Degree made landscape architecture a first-class discipline like architecture.
After this, many schools started to reestablish or establish the program. In the Chinese system for education, you have first-class, second-class, and third-class programs. Actually there is no third class.

There is first class like architecture. Then second class—within architecture there was architecture history, for example, and urban planning. Between 1996 and 2011, landscape architecture was included in urban planning, so we think of landscape architecture as a third-class rank.
But now, suddenly, after 2011, urban planning and landscape architecture come to first rank, equal to architects. That’s a big jump. No doubt that will be a big development. There are many things that could be done, for example, accreditation.

Kongjian Yu: I would say there are several reasons for the blooming of landscape architecture programs.
The first one is the speed of urbanization. Before the 1980s, Chinese urban development was almost stagnant. From the late 1960s to the early 1980s, almost nothing was built. That is why there was only one landscape gardening program or maybe a couple other minor programs during the 1980s. That’s exactly the reason why the program was canceled in 1997. Of course that was a mistake. 

The second reason: The payment of the professional landscape architect is much higher than even architect. It was listed as one of the 10 most highly paid professions in China for about 10 years.

The Lure of America 
 
Jost: Kongjian and Jie Hu, can you talk a little bit about what it was like to study landscape architecture at Beijing Forestry University in the 1980s? What sort of education did you get there? 
Yu: I would say it was basically landscape gardening. We were educated about the traditional garden and park design and urban greenery. This kind of landscape gardening program expanded into scenic area planning in the 1980s when the Ministry of Construction created some scenic and historic sites, similar to the U.S. National Parks. Still, it’s not about urbanization, not about normal, everyday landscapes.
 
Jost: Jie Hu, would you agree? 
Jie Hu: Yes, I took the graduate program from 1983 to 1986, and the major curriculum in Beijing Forestry University was planting material and construction related to the garden scale. And also some study of classical gardens—the theory and also the survey and modeling of the classical gardens.
There was very limited study related to the planning scale.
After I studied in Beijing Forestry University, I went to the University of Illinois [at Urbana-Champaign]. I actually got education on a much larger scale in ecological planning, and landscape planning at the city scale and at a regional scale.
Also, I learned about more scientific ecological analysis, geology analysis, and also climate analysis. I think this program is still missing in many Chinese universities.
Liu: My school, Tongji, started large-scale ecological planning 10 years ago. It started with tourist development.
Chuo Li: I have something to add about the differences between American and Chinese education. I think the most important difference is the methodology, how you approach a site and how you eventually come up with a solution.

I think in the United States, there is really a focus on community engagement. And in China, I think probably the approach is more from the top down. I graduated with my undergraduate degree in 1999.

At that time, there weren’t many landscape architecture programs in China, but, in architecture programs, we also did a lot of site plans. We didn’t really visit a site, or do site inventory or analysis, or talk to the people.

Zhifang Wang: I think what Chuo said is true. From my personal experience, also in landscape architecture, that is true. I think there are two reasons for that.

The first: The whole decision-making process in China is a top-down process. That is why, I think, sometimes we think less about public opinion. 

The second: We have a really fast urbanization process. The decision-making process is also very fast. There’s no time to think, and there’s no time to get the public involved.

Liu: I would like to make some comments that are opposite to that view, because China now is gradually including the public in the process of planning and design. During the final decision-making process, there is a stage to show the planning proposal to the public for one week or one month and listen to the public’s view and to modify the proposal.

Ron Henderson: Caroline Chen’s study of impromptu public space use in Beijing looked at the relationship between the kinds of public spaces that were being provided by government action and the actual spaces the community chose to inhabit.

Profound examples were parks built with grass and trees, which didn’t satisfy the needs for some of the social events such as fan dancing and ballroom dancing that the neighborhood wanted. Those activities actually ended up under freeway overpasses. Very few cultures know how to use public space as well as people do in China, and the ability to keep up with the desire for public space is a real challenge. 
Jeff Hou: We have a lot of students from China, and this is a topic that they all find very interesting.
Hu: In the Chinese education program, the curriculum does not do a lot to encourage community involvement and interviews with users.

In practice, it is based on the leaders. Some design teams, some design leaders, really encourage the team to interview the user, the public, and the people. Sometimes we do hold community meetings to discuss our design and to discuss design issues with the community, and some teams are not encouraged to do that because they only hear from the mayor.

Also, the project time is so rushed, and based on the limited budget, they may not have a chance to make a strong relationship between the designers and the users.

Jost: What reasons did you all have for coming to the United States to do graduate work?

Li: When I studied in China, I was a little bit overwhelmed with the emphasis on your drawing skills, your computer skills…. I think one of the big reasons I came to the United States is I was really looking for more than that. At the University of Wisconsin and the University of Illinois, I received a lot of education on how the social and cultural aspects of landscape should be very important factors in not only landscape design but landscape studies in general.

Hu: After I graduated from Beijing Forestry University, my adviser, Professor Xiaoxiang Sun, traveled around the world and lectured at several universities. He encouraged me to go to the United States.
At that time, I would say the U.S. teaching was more rational, scientific, and function oriented.
And in China, my education was more visual, poetic, emotional, and symbolic. I would not say either one is right or wrong, but both need to be studied and balanced. 
Yu: As I said, the education at my school, the Beijing Forestry University, was pretty much landscape gardening. In the mid-1980s, I first came across some English books like Ian McHarg’s Design with Nature, and also some magazines like Landscape and Urban Planning and Landscape Journal.
What I read is quite different and broader scale. 
At that time, Carl Steinitz [Honorary ASLA] was in China, and I was selected as one of the interpreters for his lecture and touring. That gave me a chance to understand ecological planning, the large-scale landscape, and modernism. Modern design and ecological ideas were quite attractive and new to us.

That’s the reason I decided to go to Harvard for the Doctor of Design program.

Henderson: I have a question for Hu Jie and Binyi Liu, and you,

Kongjian: Considering the reason why you wanted to come to the United States for education, do the current students have a different reason to come or is it the same reason?

Yu: In my time, to go abroad, to go to study in the United States, it was patriotism. We wanted to change the situation in China at that time. I’m not sure about today’s students. It’s more diverse, obviously.

Henderson: Yes, during the time that I was in Beijing, I felt the students’ priorities shift. At one point the students’ ambition was not a personal ambition but an ambition about what the country could become, what the department could become, what the profession of landscape architecture could become.
My sense now is that there is a different kind of ambition that’s slightly more personal—their ambition for their own success. Is that fair to say? 
Liu: Yes, Ron, I totally agree.
Hou: I can add that I can sense a shift in the personal statements that Chinese students put in their applications; the way they write about their motivation is very different now, compared to even just three years ago. Before, they talked about how much the urban transformation is happening in China and how that has really shaped their worldview of the profession and how the profession can contribute to repairing those environments.

Now they all just talk about how they want to work for AECOM.

[Laughter] 
Yu: Right now so many foreign firms are very successful practicing in China. The market is more toward the Western designers. So, the students see that if they are educated well in the United States or in Europe, they can get a better job and a better salary.
Wang: Also, the visa process is so much easier now than it was 10 years ago. Ten years ago, if you didn’t have fellowship support, you were going to have trouble to get a visa to America, but now it’s so different.
If you can pay by yourself, if your family is rich, you can get a visa. 

Li: I think in addition to getting better pay, some students may just want to be better designers. 
I have a friend who got a very good job in China, but he still decided to go to the United States to do his graduate study because he told me he wanted to be a very well-known designer in the world. After he got his master’s degree, he got a very good job in Hong Kong—it actually paid much better than the United States—but he still decided to take the job in the United States because he thought that company in the United States might give him a better chance to get some awards, you know, to get some projects that let him explore very significant ideas. 
So, sometimes, I think it’s more than money.

Think Teaching Hospitals
Jost: This year’s ASLA Professional Award of Excellence went to the Qunli Stormwater Park. The design is credited to Turenscape and Peking University. The Quarry Garden at Shanghai Botanical Garden, which won a 2012 ASLA Honor Award, is credited to THUPDI and Tsinghua University. The way that practice and education are connected in China is very interesting.
Can one of you describe how institutes and firms are connected with universities in China and what exactly it means when I see a university and a firm have together won a professional award?
Yu: In China we have the tradition of design institutes based in a school; it’s part of the school actually. Before the late 1990s, there was virtually no private practice in China.
You have to understand that.
If you wanted to practice, you had to be based in a school.
Hu: Tsinghua University has a university-related design institute. I would say this is a very good approach to connect education, research, and practice. The professors can get the latest ideas for research. Students can learn about practice in the front line from the practitioner. The practitioner can learn from the educators. So it’s three parts supporting each other to find a really interesting balance.
Steiner: One way of getting our head around it is to think of the role that teaching hospitals play in medical education.
Henderson: Exactly.
Steiner: You couldn’t really consider becoming a physician in the United States unless you went through a teaching hospital, and in many ways the institutes at the great Chinese universities resemble a teaching hospital as much as a private practice.
Henderson: This paradigm is changing. The Ministry of Education and the Ministry of Housing and Urban-Rural Development have now asked faculty members at the universities to declare if they are teaching or practicing.
You can imagine the difficulties in the fiduciary responsibilities on a project when the university is affiliated with a practice arm. If there is a project that has some kind of problem, the universities are kind of on the hook for that.
I think there has been some interest in a shift from the ministries to probably pull these apart a little bit for that and, perhaps, for other reasons. I’m very interested to know what implications that decision has.
Yu: You raise a very fascinating question, Ron. Now the Ministry of Education requires that the design institute needs a certificate, a separate CEO, and a separate faculty or staff.
At Turenscape, we are exactly what the ministry tried to do. Turenscape is actually a private practice. It’s not affiliated to Beijing University.
Financially, we have no relationship. The reason for that is we want to make it clear that we have no interest conflict.
Jost: You do share a building with the university, don’t you?
Yu: We share the building, but the building is paid for by Turenscape. Not by the school. So we have a different model compared to other schools. We have this partnership. Instead of putting the practice in the school, we actually have a separate practice. And the students are not allowed to practice, but they are supported to do research with the designer.
They have no obligation to do any design during the process. I think we have different models compared to Binyi or Hu Jie.
Hu: At Tsinghua, the model is different than Peking University, because the Tsinghua Urban Planning and Design Institute is owned by Tsinghua University and it’s like a government institute.
Right now, the professors are still working on the practice, even though they try to separate the name and the duty—like a CEO cannot be a professor. I would say it’s not really hurting the relationship. Sometimes the young teachers are not high paid. They are trying to do more practice to make money, and then spend less time teaching the students. This makes the students angry and the university angry.
But from my point of view, I do encourage experienced design leaders who already have 20 to 30 years’ design experience to come to the school to teach, because students welcome those kinds of practitioners. They have a lot more experience, directly from the first line, and can give the experience to the students.
Liu: At Tongji we are in between. We have the design and planning institute, which belongs to Tongji University. Also, we have some private firms, which are owned by the professors.
Jost: With these models where students are practicing, when do they begin working for the institute or firm? Are they compensated?
Hu: At Tsinghua, students at the graduate level and undergraduates in their third and fourth years are compensated to work at the institute, particularly during summer and winter vacation. After their first year, graduate students may work at the institute as much as they want and are compensated. In the last year of the graduate program, they are required to practice for half a year.
Yu: In my case, we have no students practicing in Turenscape. Only after they graduate do we allow them to practice.
Liu: For Tongji, things are kind of different.
For the undergraduate, from their third year, the students get real projects for their design studio. But the proposal does not go to the client. We just give them the opportunity to use real projects to learn. Even the postgraduate student, their work cannot satisfy the client. For PhDs, yes, their work can go to the market.
The Matter of PhDs Henderson: Since Binyi has brought up the PhD, you know there are very few PhD programs for landscape architecture in North America. I think there’s a strong structure for PhD education at many of the Chinese universities.
I have a sense that as more and more universities in the United States are looking for new faculty to be PhD qualified, Chinese PhDs in landscape architecture will begin to populate American universities because they will have the credentials and the qualifications of the PhD in greater quantity than those in North America.
So I’m interested to know the thoughts from everyone else.
Liu: In China we need teachers.
Professors need to have a PhD at 80 to 90 percent of universities in China nowadays. So, our PhDs seldom go to the United States. Every year my program has 12 to 15 PhD candidates. After graduation, most of them just go to the universities here to be a teacher.
Steiner: There are only four, maybe five programs where you can get a PhD in landscape architecture in the United States, depending on how you count them. And probably, they’re graduating, my hunch is, maybe altogether three a year.
A lot of American landscape architects, because there are so few [PhD programs] in the United States, have gone to Europe or have gone into geography or architecture.
My hunch is that there’s going to be a market for Americans going to China for PhDs.
Liu: So far in China there are only 19 programs that have landscape architecture PhD programs. Steiner: Still, 19 is four times more programs in China than in the United States.
Hu: I would say in the future, I don’t see many opportunities for Chinese practitioners or educators to go to the United States to be a teacher. I would say more teachers probably come from the United States and teach in Chinese universities.
Jost: Will it be important for those people to have some knowledge of the Chinese language? Hu: In Tsinghua [Chinese] is not required.
Liu: Chinese students, after high school nowadays, their English speaking and understanding is very good. Accreditation in China
Jost: I have heard from people who handle applications at U.S. programs that they aren’t always sure what students know coming from a Chinese landscape architecture program. Some of the students have the same skills that an American graduate would have; other students will say they have a bachelor’s in landscape architecture and it will end up being something closer to a landscape painting background.
Liu: We set up a committee for education in landscape architecture in China just last year. We are doing three things. One is accreditation for landscape architecture education.
Another thing is, we are trying to issue a kind of standard for the curriculum for landscape architects. And also another thing is a ranking system for recognizing which universities are good, which universities are not.
Jost: Kongjian and Jie Hu, are you supporting this accreditation effort?
Hu: Yes. In Tsinghua there are many students after graduation that go to the United States. There is a very high proportion, and we are trying to match the credits in architecture and landscape architecture to the U.S.’s system.
Jost: Who should be the accrediting agency?
Liu: In China, the landscape architecture education is managed by the government. There are three levels that control the education and all that belongs to the government. The accreditation document will be issued eventually by the different levels of the government.
Yu: He said it’s government accreditation, is that right?
Jost: Yes, that’s what they’re working toward.
Yu: Ah. Well, I have a totally different opinion on this. Accreditation should be done by the society of educators, not by the government. That’s the problem. That’s the situation today in China; we have this bureaucratic system that tries to control, to organize, to make it all ordered.
Liu: Yes, I agree. That’s a phenomenon…[laughs]…
I agree with Kongjian. I have the same feeling.
But on the other hand, the government is still listening to what we say. It’s listening to the academic field.
Yu: This bureaucratic system will never work. Eventually it will become a power struggle. Just in 1997, the ministry tried to cut the profession. How can they know what kind of accreditation we need?
We have people from horticulture, from geography, from environmental design, and each of them has a different understanding about the profession. How can we make accreditation?
If you give accreditations, then you will kill some innovative programs. You will have one centralized program instead of diverse programs.
Right now we need diversity and more innovative programs instead of just programs based on the traditional models.
Jost: What do other people think about putting off accreditation so it doesn’t kill the diversity of what landscape architecture is becoming in China?
Hu: I can give my personal opinion. Right now in China, the architects have a professional registration. Urban planners also have a professional registration. Only landscape architecture does not have it. There is no law to help the landscape architects practice. And also, there are no standards for landscape architecture practice and how to evaluate the practice.
I would say right now it’s still immature for the market to do registration for one standard for landscape architecture practice. It is too early to do that.
Yu: Certainly we need accreditation; the problem is who’s going to do accreditation. We really need a more democratic organization that can give justice to the profession instead of a power-struggling bureaucratic system.
I want to make it clear: We need accreditation, and it should be as soon as possible. But I’d rather allow a situation without accreditation than have a wrong accreditation. I think the new government will give us more hope that the situation may change a little bit, which means the organizations, or societies, or professional associations may become more allowed to do something by themselves.
Right now, any kind of professional organization [in China] is basically a government organization.
I hope we can change that in the coming years. What China Can Teach Americans
Jost: We’ve heard a lot about what China can learn from the United States, but what is the United States learning from China?
Hu: China has a very long history in philosophy and the arts. If we can introduce more about the long history of the culture and also the more visual, poetic, symbolic, and [picturesque] approach to the landscape, I would say that would benefit the U.S. system.
Steiner: One obvious thing that didn’t really sink in until I visited a couple of times is just the great diversity in China. Chinese people don’t speak with one voice, and they don’t always agree. I think the stereotype of China had been one of a very homogenous culture, and I think one of the things that’s important to learn is it’s not. It’s a very diverse, very rich, very exciting culture.
Henderson: Several of our colleagues are winning awards on projects completed in China. They’re winning awards not only in North America but all over the world.
I think there’s a kind of ambition about the potential landscape architecture has on the national stage in China. I believe that landscape architects in China have found a way to lead in the design of cities and territories in a role more strongly than in almost any other nation in the world, and it’s happened very quickly.
I think it’s quite an amazing accomplishment.
Wang: When I went to the United States, I heard a lot of conversations about smart growth, New Urbanism, and cluster development. These concepts were considered as new ideas in the United States.
My opinion is: Why is this new? It’s all happening in China.
We’re doing this all the time.
So I think that’s maybe one part. If the United States wants to know what can happen with that kind of concept, that’s one thing China can offer. Also, many of my friends in the United States complain about practice in the United States. It’s all local and all the decision making is local decision making—especially about the sustainable and ecological planning ideas.
Sometimes the big ideas, you cannot achieve easily in the United States. But they can be achieved very easily in China due to the top-down decision-making process. I don’t know if this is one thing that should be learned from China, but I feel that there’s something in the middle, between the top-down process and the bottom-up decision-making process.
Yu: The CCPC, the communist party congress, has listed “national ecological security” and “nation beautiful” as [part] of five major tasks for next five years.
Now that’s important because ecological security actually, it comes from my doctoral dissertation. It’s a long story, but what I would say is, how can the top leader accept ideas from the professors?
That’s one thing the United States can maybe learn from the Chinese decision-making system.
We are not so democratic, but sometimes more efficient. When you say something and it’s a good idea and it’s a big idea, maybe it can pick up immediately and become a nationwide movement.
But on the other hand, for something like accreditation, something like program building, something like professional education, you really need a more democratic system.
Right now, the top-down system doesn’t work for education.
So, I think we need a balance and we can learn from the two countries.
Liu: There are so many beautiful landscapes in China that are just like Chinese paintings, very beautiful. China has a long history, a rich culture, a tradition of landscape literature and art. I appreciate what my country has.
But on the other hand I really appreciate the landscape science and technology, the rational thinking regarding landscapes in the United States.
So I think the two countries can learn from each other in the future. As an educator, I would like to devote myself