Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Bangunan menyerupai klenteng diPurbalingga ini sebenarnya adalah masjid

Bangunan Menyerupai ‘Klenteng’ di Purbalingga Ini Sebenarnya Masjid

DANI PRABOWO
Kompas.com – 12/06/2017, 21:21 WIB
Masjid Laksamana Cheng Hoo Purbalingga(Dani Prabowo/Kompas.com)
PURBALINGGA, KompasProperti – Ketika melintas di Jalan Kol Sugiri, Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Anda akan mendapati bangunan menyerupai klenteng. Namun, jangan terkecoh. Struktur kokoh itu sebenarnya adalah sebuah masjid.
Masjid Jami’ Persatuan Islam Tiongoa Indonesia (PITI) Muhammad Cheng Hoo, namanya. Bangunan masjid itu dilengkapi atap empat tingkat serta sejumlah lampion berwarna merah di depannya. Sehingga, bentuknya menyerupai sebuah klenteng.
Bangunan yang berdiri sejak 2011 itu, dibangun oleh Herry Susetyo, yang juga merupakan Ketua DPD PITI Purbalingga.
“Pembangunannya sebenarnya dimulai 2005 tapi baru selesai 2011, karena keterbatasan dana,” kata Herry saat dijumpai Tim Duik Gesit 2017, Kompas.com , Senin (22/5/2017).
Dia menjelaskan, bentuk Masjid Cheng Hoo Purbalingga mengadopsi bentuk Masjid Cheng Hoo Surabaya. Namun, ada sejumlah modifikasi di dalamnya.
Bila di Surabaya, Masjid Cheng Hoo berbentuk segi empat, di Purbalingga berbentuk hexagonal atau segi delapan.
Oranamen interior Masjid Laksamana Cheng Hoo Purbalingga berbentuk heksagonal.(Dani Prabowo/Kompas.com)

Tak hanya bentuk, ornamen yang ada di dalamnya pun berbentuk segi delapan. Salah di antaranya adalah lafadz Allah SWT yang berada tepat di tengah-tengah langit masjid.

Menurut Herry, bentuk itu sengaja dipilih untuk mengadopsi cerita Nabi Muhammad SAW saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Saat itu, Nabi yang sedang bersama Abu Bakar bersembunyi di gua Jabal Tsur saat dikejar kaum kafir, Quraisy, yang ingin membunuhnya.
Allah SWT kemudian memerintahkan seekor laba-laba untuk menyelamatkan Nabi. Laba-laba itu lantas membuat sarang di mulut gua.
Ketika kelompok Quraisy menerawang gua tersebut, mereka tak dapat menemukan Nabi dan Abu Bakar.
Sarang laba-laba di mulut gua menjadi tanda bahwa Nabi dan Abu Bakar tidak bersembunyi di dalamnya.
Selain lafadz Allah SWT, jendela yang melekat di dinding juga berbentuk hexagonal.
Perjalanan Spritual
Salah alasan pembangunan Masjid Cheng Hoo Purbalingga, yaitu untuk menampung etnis muslim tionghoa yang ada di wilayah tersebut.
Masjid Laksamana Cheng Hoo Purbalingga mengadaptasi arsitektur masjid serupa di Semarang.(Dani Prabowo/Kompas.com)

Ada sekitar 145 etnis muslim tionghoa yang tinggal di wilayah Kabupaten Purbalingga. Namun, dari jumlah tersebut yang benar-benar aktif di masjid hanya sekitar 20 orang setiap harinya.

Alasan lain yaitu karena perjalanan spiritual yang dilalui Herry. Sebelum masuk islam pada 2002, Herry mengaku, memiliki pengalaman kelam di dalam hidupnya. Ia lantas mendapat ketenangan setelah memeluk agama islam.
Tiga tahun belajar ilmu agama membuat Herry ingin meningkatkan nilai-nilai spiritualnya. Salah langkah yang diambil yaitu dengan membangun masjid.
“Nah dipilihnya nama Cheng Hoo itu karena dia itu legenda. Selain jual beli palawija, dia juga menyebarkan ilmu agama islam,” kata dia.
Masjid Laksamana Muhammad Cheng Hoo merupakan perwujudan perjalanan spiritual pemiliknya, seorang muallaf Purbalingga.(Dani Prabowo/Kompas.com)

Lokasi yang dipilih Herry untuk membangun masjid pun tidak sembarangan. Desa Selaganggeng awalnya merupakan kawasan tanah balong atau tanah basah yang cukup angker.

Untuk mengubah stigma tersebut, Herry kemudian membeli tanah dan mendirikan masjid.
Ia mengatakan, sebelum mulai membangun, dirinya sempat mengumpulkan warga sekitar. Hal itu dilakukan untuk meminta pendapat dari mereka tentang rencana arsitektur masjid.
“Alhamdulilah tidak ada penolakan. Yang ada hanya mereka protes, kok lama banget enggak jadi-jadi,” ujarnya.
Untuk menghindari adanya perselisihan antara etnis tionghoa dengan etnis pribumi, Herry mengaku, sengaja memilih warna merah putih untuk cat tembok.
Dengan demikian, Masjid Cheng Hoo Purbalingga terlihat lebih nasionalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *