Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]
Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Kliping 2009

 

Masalalu Jakarta Dari Festival Pasar Baru ke Festival Folklor


taken from: Kompas.com, 18 Juni 2009


SEPANJANG akhir pekan ini Jakarta diguyur berbagai perhelatan menyambut HUT ke-482. Selain Jakarta Utara dengan pagelaran Komedi Betawi di Mal of Indonesia (MOI); Batavia Art Festival yang menjadi acara tahunan Museum Sejarah Jakarta; Jakarta Pusat dengan Festival Pasar Baru; Jakarta Timur tak mau ketinggalan. Untuk pertama kali, Jakarta Timur menggelar sebuah festival yang diberi nama Folklor Festival.
Pesta rakyat itu digelar pada 20 Juni, mulai pukul 07.30 hingga kembang api dan skylight menutup acara pada sekitar pukul 19.30. Kepala Sudin Kebudayaan Jakarta Timur, Setia Gunawan, mengatakan, kegiatan di hari itu akan diisi dengan berbagai kesenian lokal Jakarta Timur seperti marawis, debus, sulap tradisional, ondel-ondel. Selain itu akan ada pameran kerajinan, tata pemerintahan, pelayanan dan penyuluhan, sembako murah, dan kuliner.
“Malam hari akan ada Opera Gado-gado Jakarta tampil,” ucapnya. Gado-gado Jakarta adalah sebuah opera yang berbasis pada budaya Betawi dengan penampilan yang lebih modern. “Tapi masih dirahasikan apa yang akan ditampilkan,” tambah Gunawan. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo direncanakan hadir untuk menutup acara ini.”Ini adalah festival pertama yang dibikin Jakarta Timur dan ke depan festival ini akan kami bikin supaya bisa bertaraf internasional, namanya East Jakarta Folklore Festival,” lanjutnya. Keinginan itu sejalan dengan rencana pemanfaatan gedung bekas Kodim di kawasan Jatinegara. “Program tahun depan, gedung eks Kodim kita jadikan gedung kesenian,” tandas Gunawan.
Selain menikmati festival di depan kantor Walikotamadya Jakarta Timur tentu saja pengunjung bisa sekalian berputar-putar mengenal kawasan Jakarat Timur.Beberapa peninggalan yang masih bisa ditengok tak lain Stasiun Kereta Api Jatinegara, Gereja GPIB Koinonia, Kantor Pos Jatinegara, dan gedung bekas kediaman bupati di zaman Meester Cornelis yang letaknya dekat dengan Stasiun Jatinegara – tak lain gedung eks Kodim.
Selain bangunan bersejarah tadi, ada makam Pangeran Jayakarta di Masjid Assalafiyah. Masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemprov DKI. Masjid ini dibangun tahun 1620 dengan empat tiang pokok dan satu cungkup (atap masjid) – persis dengan masjid Al Alam di Marunda, Jakarta Utara. Pada tahun 1700 Pangeran Sogiri memugar masjid dilanjutkan oleh Tubagus Aya Kasim pada tahun 1884. Pada 1968 Gubernur Ali Sadikin memugar besar-besaran. Masjid Assalafiyah diperluas ke belakang, lalu dibangun dua lantai, dan dibangun menara baru. Tahun 1992 dan 1994 Gubernur Soerjadi Sudirja juga memugar dan terakhir Gubernur Sutiyoso pada 2003.
Sementara itu di Jakarta Pusat, acara tahunan Festival Pasar Baru juga akan menyemarakkan Jakarta. Festival ini akan dibuka besok dan berlangsung hingga 21 Juni. Festival ini akan menampilkan seni budaya Betawi seperti gambang kromong serta program diskon. Jika bosan dengan acara festival yang begitu-begitu saja dan kurang publikasi, setidaknya pengunjung bisa mengeksplor sendiri kekayaan Pasar Baru.
Menengok bangunan-bangunan tua di kawasan ini seperti di sepanjang Pasar Baru ada bangunan toko Jamu Nyonya Meneer, ada Gang Belakang Kongsi, gang sempit menuju ke klenteng tua Sin Tek Bio. Kemudian ke Toko Lie Ie Seng, toko peralatan kantor dan tulis menulis; Toko Sin Lie Seng, toko sepatu tenar pada masanya bahkan hingga kini, serta Toko Kompak yang bekas kediaman Mayor Tionghoa Tio Tek Ho.

Di seberang Pasar Baru ada Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Pos Filateli, gedung Antara yang merupakan saksi bisu tempat menyampaikan teks proklamasi pasca-17 Agustus 1945 oleh Adam Malik.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Pelestarian Arkeologi Bawah Air Terancam Terkendala Biaya

Minggu, 28 Juni 2009
Laporan wartawan KOMPAS.com Eko Hendrawan Sofyan
SEMARANG, KOMPAS.com – Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan mahalnya pembiayaan pendataan masih menjadi kendala dalam melakukan pelestarian arkeologi bawah air (underwater archaeology) di Kepulauan Nusantara.

Menurut Gunawan, Kasubdit Eksplorasi Peninggalan Bawah Air, Ditjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki potensi kekayaan arkeologi bawah air sangatlah besar.

“Sayangnya kita masih terkendala masalah SDM dan anggaran dalam melakukan pendataan arkeologi bawah air,” ujarnya di sela pelatihan pendataan dan fotomozaik arkeologi bawah air di kawasan Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (28/6).

Berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah dokumen, benda cagar budaya bawah air yang ada di Nusantara, seperti Laut Jawa, Perairan Kepulauan Riau, Laut Bangka Belitung hingga Laut Ambon, tercatat potensi situs peninggalan bawah air mencapai 1.234 situs.
Menurut catatan dokumen VOC sedikitnya terdapat 250 kapal tenggelam di perairan Nusantara. Sementara informasi dari sejarawan Cina menyebutkan sekitar 30 ribu kapal Cina abad X-XX, yang berlaya ke wilayah Nusantara tidak kembali. “Dari potensi jumlah tersebut hanya beberapa saja yang berhasil ditemukan. ” katanya.

Upaya pendataan benda-benda arkeologi bawah laut, lanjut Gunawan, sangatlah penting untuk ilmu pengetahuan. “Seperti halnya cagar budaya di darat, lewat situs bawah air juga kita bisa merekontruksi sejarah kehidupan dan kebudayaan masa lampau, perkembangan teknologi perkapalan dan bidang kelautan di Nusantara dan negara lain, dan tentunya potensi pengembangan pariwisata,” kata Gunawan.
Rendahnya SDM dan minimnya dana yang dimiliki, maka sejumlah potensi cagar budaya bawah air yang terpendam di sejumlah wilayah belum dapat diketahui secara maksimal.
Meski begitu, agar keberadaan cagar budaya tersebut dapat diselamatkan keberadaannya, lanjut Gunawan, pemerintah mengeluarkan regulasi yakni Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 10 tahun 1993 dan PP no 19 tahun 1995 yang menyangkut pengelolaan peninggalan cagar budaya bawah air.

Jurnatan Tinggal Kenangan


Sumber: Warta Kota

Selasa, 4 Agustus 2009

KAWASAN Jurnatan di Semarang kini merupakan kawasan perdagangan. Ruko-ruko memanjang sepanjang mata memandang. Bagi warga Semarang, kawasan Jurnatan tentu punya nilai sendiri. Di sepanjang ruko (rumah toko) itulah dahulu SJS (Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij) – Maskapai Kereta Api – membangun stasiun, Stasiun Joernatan. Sebuah stasiun pusat (Centraal Station) yang cukup besar dan berada di tengah kota.
Stasiun ini merupakan Stasiun Besar Inspeksi 7 atau SJS tadi. Kantor Inspeksi 7 pun masih ada yang berdiri meskipun lebih banyak yang sudah lenyap. Kondisi satu bangunan Inspeksi 7 di Pengapon sudah menanti rubuh. Kondisi tanah sudah ambles sekitar 2 meter.
Kembali ke bekas Stasiun Joernatan, stasiun ini berhenti beroprerasi pada 1974 dan pada 1986 dibongkar untuk dijadikan pertokoan, demikian dipaparkan Deddy Herlambang dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Sementara itu pihak pemerintah Kota Semarang sudah memutuskan kawasan Jurnatan tak akan diperuntukkan bagi pembangunan stasiun tapi hanya untuk perdagangan dan jasa. Pasalnya, rel lama sudah terpendam aspal jadi mereka menilai tak bisa lagi menghidupkan jalur kereta lama.
Jurnatan Masalalu

Dari catatan Tjahjono Rahardjo dari Unika Soegijopranata Semarang yang juga punggawa IRPS, SJS membuka jalur Semarang-Juana melalui Demak, Kudus, dan Pati yang kemudian diperpanjang sampai ke Blora melalui Semarang- Rembang-Blora dan Semarang-Purwodadi-Blora lantas berlanjut ke Cepu. Untuk itulah SJS perlu membangun stasiun di Semarang, ya di Jurnatan tadi.
Semula, Stasiun Jurnatan berupa bangunan kayu sederhana namun kemudian pada tahun 1913 stasiun kayu kecil itu dibongkar dan digantikan oleh banguan baru yang besar dan megah dengan konstruksi atap dari baja dan kaca. Meski berada di akhir jaringan SJS, bangunan baru itu tidak dirancang sebagai stasiun ujung tetapi berupa stasiun paralel, yaitu dengan satu sisi memanjang sebagai pintu masuk utama sedangkan di sisi seberangnya terdapat peron-peron.

Mulai 1974 stasiun ini tidak difungsikan lagi dan semua kereta api jurusan Demak dialihkan ke Stasiun Tawang. Tak lama kemudian seluruh jaringan kereta api eks SJS ditutup karena tidak mampu bersaing dengan moda transportasi darat lain. Stasiun Jurnatan sempat telantar tetapi kemudian dimanfaatkan sebagai terminal bus antarkota tapi tak lama karena kemudian bangunan itu dibongkar.

Dalam buku Riwayat Semarang, Liem Thian Joe menulis, karena perhubungan di Semarang bertambah ramai, SJS lalu membuka lin baru antara Jurnatan-Bulu dan Jurnatan-Jomblang. Ini terjadi pada permulaan tahun 1883. Tetapi ketika itu semarang belum seperti sekarang karena antara Karangsari, Bangkong, dan Jomblang masih ada bagian yang belum menyambung, terpisah dengan tegalan atau sawah. Lagipula sepanjang jalan ketika itu terdapat banyak pohon asam atau johar yang besar.

Kisah Liem tentu kisah lama Semarang. Liem yang lahir di akhir 1800 tentu tak mengalami sendiri kisah di masa ketika SJS mulai membangun rel untuk jalur tersebut di atas. Namun sebagai wartawan Warna Warta (koran peranakan di Semarang) pada 1920, ia tentu kemudian menggali kisah-kisah di seputaran masa pembangunan rel. Dalam buku yang pertama kali dicetak tahun 1931 itu ia menuliskan tentang bagaimana masyarakat geger dengan kabar tentang sundel bolong.
Ketika pemasangan rel, pohon-pohon besar di pinggir jalan tadi ditebang. Kejadian itu lantas melahirkan kabar yang tersiar hingga ke kampung dan Pecinan bahwa di bagian jalan yang sepi, ketika malam hari, banyak sundel bolong alias kuntilanak yang mencari korban. Mayatnya dilempar di jalur kereta api untuk dijadikan sebagai bagian setan penunggu. Di masa itu, kisah semacam ini sungguh dipercaya oleh warga. Liem tak berpanjang-panjang menulis tentang hantu tadi, ia lanjutkan laporannya, bahwa tarif per penumpang untuk pribumi yang akan naik kereta dari Jurnatan ke Bulu sebesar delapan sen. Sedangkan jurusan Jurnatan-Jomblang penumpang dipungut 10 sen.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Arkeologi Jadi Acuan Pengembangan Kota Lama


Rabu, 27 Mei 2009

SEMARANG, KOMPAS.com — Penemuan arkeologi dapat digunakan sebagai salah satu acuan pengembangan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. Adanya data baru dapat dijadikan referensi untuk mengetahui morfologi pengembangan kota dari masa ke masa.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang Farchan, Rabu (27/5), seusai publikasi penemuan arkeologi peninggalan Benteng Kota Lama di Balai Kota Semarang.

Menurut Farchan, penambahan data berdasarkan temuan tersebut diperlukan sebagai bahan bagi Pemerintah Kota Semarang untuk mengembangkan Kota Lama. “Hal ini mengingat sejarah embrio Kota Lama masih menjadi perdebatan oleh berbagai pihak,” ucap Farchan.

Berdasarkan ekskavasi yang dilakukan pada 18-27 Mei, tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta berhasil menemukan sisa struktur bangunan, artefak perkakas rumah tangga seperti mangkuk, piring, botol, dan toples, serta tatanan batu bata untuk membuktikan keberadaan Benteng Kota Lama.
Berbagai temuan tersebut didapatkan tim peneliti setelah membuat dua lubang ekskavasi sedalam sekitar 1,5-2 meter di sebuah lahan parkir bus DAMRI yang berada di Jalan Empu Tantular, Kota Semarang.
Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengemukakan, fondasi yang diduga sebagai bagian dari Benteng Kota Lama tersebut ditemukan berdasarkan garis imajiner yang terdapat pada peta tahun 1800. “Adapun sekitar 500 artefak peralatan rumah tangga yang ditemukan menandakan padatnya hunian di dalam benteng,” ujar Sugeng.
Hasil penemuan tersebut menegaskan keberadaan benteng Kota Lama yang pernah berdiri pada tahun 1756-1824. Keberadaan benteng yang memagari Kota Lama ini sebelumnya hanya diketahui melalui literatur sejarah dan peta tahun 1800. “Temuan ini menunjukkan bahwa benteng tersebut benar-benar ada,” kata Sugeng.
Benteng Kota Lama diduga dibangun dalam rentang waktu antara 1741-1756 atau pascarubuhnya Benteng Vijfhoek. Benteng milik VOC ini diduga merupakan pengembangan dari Benteng Vijfhoek atau Benteng Segi Lima yang telah ada sejak 1724.
Ahli sejarah dari Universitas Diponegoro, Dewi Yuliati, mengatakan, penemuan fondasi dan artefak tersebut belum sepenuhnya membuktikan sebagai peninggalan Benteng Kota Lama.
Berdasarkan literatur Oud en Nieuw Oost Indie tentang perjalanan pengelana Belanda Francois Valentijn, Dewi mengungkapkan, keberadaan Benteng Kota Lama telah ada sejak tahun 1724. “Yang lebih meragukan, benteng tersebut diduga dirubuhkan untuk pembangunan rel kereta api, padahal rentang waktunya terlalu jauh,” ucap Dewi.

ILO

Benteng Kota Lama Dapat Jadi Daya Tarik Wisata
Benteng Fort


Sabtu, 30 Mei 2009

KOMPAS.com – Penggalian tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada 18-27 Mei lalu, yang membuahkan penemuan bekas struktur bangunan Benteng Kota Lama menuai secercah harapan. Nilai kesejarahan mengenai benteng tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata di Kawasan Kota Lama.
Dalam ekskavasi yang dilakukan di dua titik, tim penelitian menemukan bekas pondasi, sekitar 500 artefak perkakas rumah tangga, dan bekas tatanan batu bata. Hasil temuan itu mengindikasikan bahwa benteng dengan lima sisi tersebut pernah berdiri mengelilingi kawasan Kota Lama pada rentang waktu 1756-1824.
Meskipun masih terdapat pro-kontra terhadap dugaan waktu berdirinya, banyak pihak menyambut positif terhadap asumsi keberadaan benteng itu sendiri.
Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL) Surahman, Jumat (29/5), menyatakan, keberadaan Benteng Kota Lama dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata Kota Semarang. Nilai kesejarahan dapat digunakan sebagai alat promosi untuk pengembangan kawasan Kota Lama secara komprehensif.
“Keberadaan benteng tersebut menjadi nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada pihak swasta untuk berinvestasi di Kota Lama. Selain itu, juga menjadi daya tarik wisata bagi turis yang berkunjung,” katanya.
Perancang dan perencana bangunan Widya Wijayanti menuturkan, Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan mengatakan, penemuan arkeologis Benteng Kota Lama dapat memperkaya data kesejarahan. Hasilnya dapat untuk mengetahui morfologi perkembangan kota dari masa ke masa.
Ketua tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengakui, masih terdapat kemungkinan lain dari hasil penggalian yang dilakukan timnya. Namun, asumsi terkuat berdasarkan hasil temuan itu merujuk pada keberadaan Benteng Kota Lama.
Penggalian tersebut didasarkan pada garis imajiner (deliniasi) Benteng Kota Lama yang terdapat pada peta tahun 1800. Temuan itu mempertegas keberadaan benteng yang sudah pernah diterbitkan di peta, katanya.

Sugeng menambahkan, hasil penemuan tersebut diharapkan dapat bermanfaat untuk kepentingan riset lebih lanjut, pendidikan formal dan non formal, serta untuk pengembangan kepariwisataan. Pemkot Semarang dapat menayangkan papan informasi mengenai Benteng Kota Lama yang dapat menarik pengunjung, ucapnya.

Ahli sejarah dari Universitas Diponegoro Dewi Yuliati mengungkapkan, penemuan pondasi dan artefak tersebut belum sepenuhnya membuktikan sebagai peninggalan Benteng Kota Lama.
Berdasarkan literatur dengan judul Oud en Nieuw Oost Indie yang berisi tentang perjalanan pengelana Belanda Francois Valentijn, keberadaan Benteng Kota Lama telah ada sejak 1724. “Yang lebih meragukan, benteng tersebut diduga dirubuhkan untuk pembangunan rel kereta api, padahal rentang waktunya terlalu jauh,” ucap Dewi. (ILO/UTI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *