Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Arsitek Swiss ini membangun jembatan di pelosok Indonesia

Jembatan yang
Memerdekakan

Toni Ruttimann percaya bahwa cinta itu membebaskan, serupa jembatan bagi mereka yang terasingkan. Rasa cinta itu pula yang membuatnya mampu menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuk orang lain. Hampir separuh masa hidupnya dia dedikasikan untuk orang-orang yang luput dari geliat pembangunan.

n jembatan yang sudah banyak membantu membangunkan jembatan gantung di Indonesia.

Kisah Toni Ruttiman, Relawan asal Swiss yang Bangun Daerah Terpencil di Indonesia

Kamis, 29 September 2016 | 00:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Sosiolog Imam B Prasodjo menulis sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya mengenai seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman.

Imam mengisahkan upaya sukarela Toni yang diam-diam keluar masuk kampung wilayah terpencil di Indonesia.

Selama tiga tahun, Toni mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.

Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Foto lainnya menunjukkan sejumlah anak-anak yang memakai seragam sekolah dasar, menyeberangi sebuah sungai dengan cara bergelantungan pada jembatan yang sudah rusak.

“Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak,” ujar Imam, dalam akun Facebook-nya, yang dikutip Kompas.com atas seizin Imam, Rabu (28/9/2016).

Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Dia juga mengupayakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.

Toni merekrut beberapa Tenaga Kerja Indonesia untuk dijadikan stafnya untuk membantu semua upaya tersebut.

“Saat ini seorang pemuda bernama Suntana, dengan setia membantu misi kemanusiaan Toni,” tutur Imam.

Dengan cara seperti ini, Toni telah berhasil memasang 61jembatan gantung di berbagai daerah termasuk Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT.

Facebook Imam B PrasodjoBeberapa jembatan karya Toni Ruttimann yang disumbangkan untuk desa-desa terpencil di wilayah Indonesia.

TerhambatNamun, yang terjadi akhir-akhir ini, upaya pengiriman bantuan justru terhambat. Menurut Imam, bantuan bahan jembatan seperti wirerope(kabel pancang) yang selama tiga tahun telah secara rutin ia kirim dari Swiss terhambat oleh lambannya birokrasi.

Padahal, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi agar arus barang impor dipercepat.

“Saya ikut terlibat dan mengikuti betapa sulitnya mengurus proses administrasi import barang bantuan ini. Saya merasa kesal menghadapi birokrasi yang begitu ruwet dan lambat, walaupun untuk import barang bantuan sekalipun,” ungkapnya.

Imam juga menuturkan keterangan dari Suntana, asisten Toni, yang bercerita proses pengurusan barang bantuan harus menghadapi penetapan denda demurrage (batas waktu kontainer).

Sementara untuk mengeluarkan kontainer dari area penyimpanan diperlukan dana yang tidak sedikit.

Di sisi lain, proses permintaan penghapusan tagihan dendademurrage (batas waktu container) atas tiga kontainer wireropedari pihak pelayaran masih memerlukan waktu yang lebih lama.

Sedangkan biaya untuk denda demurrage terus berjalan per-hari.

Dalam lampiran tagihan demmurage yang diterima Imam, tertulis jumlah denda per tgl 19 September 2016 adalah Rp 169.890.000,- dan konfimasi terbaru tagihan demmurage per hari ini 26 September 2016 adalah Rp 195.650.000.

Facebook Imam B PrasodjoProses pembangunan jembatan gantung yang dibangun secara gotong royong dari inisiatif Toni Ruttimann dalam membantu desa-desa terpencil di wilayah Indonesia.

Selain itu, kata Imam, proses impor wirerope memakan waktu lebih dari dua bulan sejak kontainer tiba di Tanjung Priok karena lamanya proses rekomendasi dari kementrian-kementrian terkait yang harus ditempuh untuk proses hibah ini.”Terus terang saya malu menghadapi kejadian ini. Saya ingin sekali berteriak sekerasnya mewakili rakyat yang selama ini masih mengharapkan bantuan Toni Ruttiman,” ungkap Imam.

Beruntung, dari keterangan Imam kepada Kompas.com, Rabu malam, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah menyepakati akan membayar biaya demurragedan seluruh proses administrasi dalam importasi wireropesebanyak 3 kontainer.

“Semoga (janji Menteri PUPR) segera direalisasikan,” tuturnya.

Penulis : Kristian Erdianto
Editor : Bayu Galih

http://vik.kompas.com/jembatan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *