Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Keberagaman Mesir


Keberagaman merupakan ciri khas Mesir. Walaupun Mesir merupakan negara Arab, namun orang bisa menjumpai bermacam agama selain Islam dan budaya lainnya. Ketika seseorang melakukan perjalanan di Mesir, akan menjumpai berbagai ragam masyarakat Mesir. Baik itu dalam hal busana, warna kulit, life style, atau peradaban. Beberapa “peninggalan berharga” di sana sini. Dari yang paling kuno hingga yang modern. Mulai peninggalan Islam, Kristen Koptik, hingga Mesir kuno.

Tak jauh dari Sungai Nil yang terbentang luas di tengah Kota Kairo, terdapat sebuah masjid dengan model bangunan kuno,namanya Masjid Amru bin ‘Ash, adalah mesjid pertama di Mesir. Di seberang sungai itu terdapat tiga buah Piramid yang dibangun antara tahun 2778 dan 2263 SM. Ke selatan dari Kairo (sekitar 6 jam perjalanan darat), Anda akan menemukan Gunung Musa yang dianggap suci oleh tiga agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam). Di lereng gunung ini, dahulu para pendeta menyembunyikan diri dari kejaran serdadu Romawi di sebuah gereja kuno. Ke arah barat dari Kairo (sekitar 200 kilometer), terletak Kota Alexandria yang mengombinasikan model modern dengan gaya lokal. Apalagi dengan diresmikannya kembali Perpustakaan Alexandria (pada 18 April 2003) yang menjadi ikon dari setiap peradaban yang pernah tumbuh di sana.

Dari tempoat itu dengan menempuh perjalanan darat sekitar 600 km, akan sampai ke Kota Fir’un, Luxor. Di kota ini,terdapat peninggalan sejara h yang mencerminkan hakikat pluralitas keberagaman dan kebersamaan masyarakat Mesir kuno. Di Istana Fir’un terdapat dinding-dinding tinggi menjulang yang terbuat dari batu. Di Dinding-dinding ini terdapat tulisan hierograf yang memuat hal-hal penting bagi masyarakat Mesir kuno. Seperti pemujaan terhadap Tuhan, cara melakukan ritual dan kalender.

Ada juga juga tiang penyangga yang tinggi. Di halamannya terdapat patung-patung hewan yang dipercayai sebagai Tuhan penjaga mereka. Dapat dipahami bila Will Durant, sejarawan dunia dari Amerika Latin, model pembangunan (arsitektur), dari dulu hingga sekarang, pertama kalinya ditemukan oleh masyarakat Mesir kuno . Di hari-hari keagamaan seperti Lebaran dan Hari kenaikan Yesus Kristus, Anda akan menonton “Sajian Masyarakat pluralisme” yang cukup menyejukkan hati. Ketika umat Islam berlebaran, masyarakat Kristen Koptik mengucapkan selamat kepada mereka. Begitu juga sebaliknya. Suasana kebersamaan dan persaudaraan ini diteladankan oleh para pimpinan negeri di Mesir ini. Media massa di pelbagai bentuknya melansir berita kunjungan Baba Syanudah (pemimpin spiritual tertinggi kalangan Kristen Koptik di Mesir) ke kediaman Grand Syaikh Al-Azhar. Begitu juga ketika umat Kristen Koptik merayakan hari keagamaan. Grand Syaikh Al-Azhar berkunjung ke kediaman Baba Syanudah. Semua masyarakat menyaksikan bagaimana pemimpin mereka saling tersenyum, saling berpelukan dan berciuman. *** Dr Milad Hana menimpulkan ada tujuh bentuk peradaban yang mengalir dalam diri masyarakat Mesir. Pertama, peradaban Mesir kuno. Peradaban ini diperkirakan bermula pada 3.000 tahun sebelum Masehi. Lebih lanjut tokoh ini membagi peradaban Mesir kuno ke dalam tujuh fase sejarah.

 

  • Fase pertama, masa yang paling kuno (3100-2778 SM)

.

  • Fase kedua masa negara kuno (2778-2263 SM).

Pembangunan piramida terjadi di masa ini. Fase ketiga masa perpindahan pertama (2263-2160 SM). Fase keempat masa negara pertengahan (2160-1785 SM). Fase kelima masa perpindahan kedua (1785-1580 SM). Fase keenam masa imperialisme (1580-1085 SM), Dan fase ketujuh masa peperangan (1085-341 SM). Kedua, Peradaban Yunani-Romawi (332 SM-68 M). Ketiga, peradaban Koptik. Di masa ini Madrasah Alexandria yang kesohor dengan pusat keilmuan itu dibangun. Keempat, peradaban Islam. Sementara fondasi peradaban yang kelima, keenam, dan ketujuh ditinjau dari posisi geografis. Secara geografis Mesir mempunyai hubungan dengan Arab, Laut Tengah, dan Afrika (Al-‘A’midah as-Sab’ah li as-Syakhshiyah al-Mishriyah, hlm 60-137). Peninggalan peradaban-peradaban besar ini masih ada dan terawat dengan baik hingga sekarang.

Seperti tiga piramida (Mesir kuno), Masjid ‘Amru bin ‘Ash (Islam), Perpustakaan Alexandria (Yunani-Romawi), Gereja Sinai (Koptik) dan lainnya. Peradaban-peradaban inilah yang telah membentuk kejiwaan orang Mesir. Eksistensi nilai peradaban di atas tak hanya dalam bentuk peninggalan sejarah, melainkan jauh tertanam dalam diri orang Mesir. Mereka terlahir dan terbentuk dari spirit pluralitas ini. Hingga tokoh seperti Baba Syanudah mengatakan, kami (bangsa Mesir) tidak hidup di negara Mesir. Mesirlah yang hidup dalam diri kami. Ada beberapa hal yang menarik dari sejarah panjang masyarakat Mesir ini. Pertama, interaksi budaya dan keilmuan antarperadaban-peradaban di atas. Interaksi ini kemudian melahirkan kemaslahatan bagi masing-masing. Mesir mendapatkan konsep filsafat Yunani.

Sedangkan Yunani mendapatkan ilmu falak, matematika, arsitektur dan lainnya. Kedua, keberagamaan mereka. Masyarakat Mesir menafsir agama dengan kemaslahatan. Oleh karena itu, ketika keluarga yang ke-30 dari penguasa Mesir (Firaun) tak mampu melindungi masyarakat dari jajahan Persia, masyarakat pun menyambut baik kedatangan Yunani-Romawi setelah Alexandar al-Makduni mengalahkan penguasa Persia (332 SM). Begitu juga dengan kisah masuknya Islam ke Mesir. Pada waktu itu Islam dianggap sebagai penyelamat rakyat Mesir dari “Penderitaan Agung” yang bermula dari polemik keagamaan hingga melibatkan campur tangan penguasa (622 M).

Ketiga, pengaruh keyakinan Mesir kuno dalam agama-agama samawi. Setidaknya dalam tiga hal. Pertama, adanya kehidupan setelah mati. Menurut Breasted, tokoh dari Inggris yang mendalami tentang Mesir dalam bukunya Fajru al-Damir, diterjemahkan oleh Salim Hasan, masyarakat Mesir kuno yang pertama meyakini akan kehidupan setelah mati. Kedua, konsep kekuasaan (hâkîmiyah) Tuhan. Menurut Muhammad Said al-‘Asymâwi, pemikir Islam dari Mesir, konsep ini pertama tumbuh dalam tradisi kekuasaan Mesir kuno. Mereka meyakini, penguasa adalah bayangan Tuhan di muka bumi. Oleh karena itu, setiap kebijakan harus mendapatkan restu dari penguasa ini.

Pemikiran ini sempat diterapkan di Eropa pada abad pertengahan. Yaitu setelah Kaisar Yulius berkunjung ke Mesir (120-44 SM). Dari Eropa konsep ini kemudian dianut kelompok Khawarij dalam Islam setelah Eropa bersentuhan dengan dunia Islam di masa belakangan (Al-Islam as-Siyâsi: 50-52). Ketiga, konsep asketisme. Menurut Dr Milad Hana, pemikiran ini pert ama kali lahir di Mesir. Yaitu di sekitar tahun 250-356 M. Baru pada sekitar tahun 300-356 pemikiran ini dikembangkan dan diteorikan. Sangat menarik, karena asketisme pada perkembangannya dianggap menjadi ‘doktrin murni’ agama-agama samawi. Terutama Islam. Dalam Islam hal ini sangat tampak jelas dalam tradisi tasawuf. Bahkan juga diakui Alquran (QS 19: 26). *** Yang disampaikan Diana Eck dari Harvard University bahwa pluralisme ‘upaya memikat dan mengikat pelbagai perbedaan untuk membangun komitmen kebersamaan’ (www.Islamemansipatoris.com), atau Budhy Munawar-Rachman yang memaknai pluralisme dengan ‘pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban’ (Islam Pluralis: 39) tidak cukup meng-cover pluralisme yang berkembang di Mesir ini. Karena pluralisme di sana telah melahirkan nilai-nilai keadaban dan peradaban dunia sebagaimana telah disampaikan di atas. Tak berlebihan bila dikatakan, Mesir adalah ‘Ibu Dunia’, sebagaimana sering dikatakan dan menjadi kebanggaan masyarakat Mesir. Bila perkembangan pluralisme di Mesir sudah sedemikian rupa, kenapa di Indonesia tidak? Kita hanya membutuhkan satu hal: belajar!
pengalaman, dsb.

Dikutip dari Ekspresi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *