Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Ukiran, Jalan Panjang Mesopotamia ke Jepara

Ukiran, Jalan Panjang Mesopotamia ke Jepara

15 Maret 2016 17:46 

Salah satu ornamen mantingan yang khas. (Foto: Wikipedia)

Salah satu ornamen mantingan yang khas. (Foto: Wikipedia)

KEBUDAYAAN, menurut Koentjaraningrat, terbagi ke dalam tujuh unsur. Satu di antaranya merupakan kesenian, yang kerap menjadi manifestasi wujud kebudayaan itu sendiri.

Kesenian sendiri memiliki banyak bentuk dan ragam. Satu yang telah diwariskan sejak peradaban Mesopotamia adalah kepandaian membuat kerajinan dan perkakas dari perunggu. Pada gilirannya, seni ukir berkembang masuk ke Nusantara seiring dengan masuknya peradaban Hindu.

Pada masa peradaban Hindu, beberapa corak kesenian seperti ukiran baik di kayu atau dinding candi menjadi identik dengan ornamen khas Hindu. Namun seiring dengan masuknya peradaban Islam, seni ukir khas Hindu pun bergeser. Jika sebelumnya seni ukir dengan terang-terangan melukis makhluk hidup, namun karena dalam Islam terdapat larangan melukiskan benda bernyawa, lahirlah bentuk ukiran dengan objek makhluk hidup yang di-stilir atau disamarkan.

Bukti dari ukiran bernafas Islam itu bisa ditemukan di Masjid Mantingan dan Makam Ratu Kalinyamat di Jepara. Berbagai motif hiasan ukir di tempat tersebut menjadi bukti bahwa Jepara telah menjadi pusat perkembangan ukir-ukiran pada masanya.

Sebagai contoh, di Masjid Mantingan, hingga hari ini pengunjung masih bisa melihat ornamen khas masjid tersebut. Uniknya, berbagai ornamen dibuat dari batu karang putih. Reliefnya menggambarkan bujur sangkar, persegi panjang, dengan kedua sisi berbentuk garis kurawal yang berjumlah 114 buah.

Sesuai dengan budaya Islam, motif hiasan yang digunakan berupa teratai dan hewan yang telah di-stilir. Konon, ornamen Mantingan dibuat oleh Patih Chi Hui Gwan atau Patih Sungging Badar Duwung yang berasal dari Tiongkok.

Sementara itu Makam Mantingan terletak di belakang masjid. Letaknya membujur ke belakang, terbagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan strata sosialnya. Makam-makam yang memiliki pintu gerbang biasanya merupakan tokoh-tokoh penting seperti Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadlirin.
(dikutip dari Suara Merdeka, SMNetwork)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *