Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Tahun Kunjungan Museum, sudah siapkah?

Museum Gajah Jakarta
Museum Nasional atau yang biasa disebut Museum Gajah merupakan salah satu dari beberapa museum yang ada di Jakarta. Tempat ini tiap hari didatangi pelancong-pelancong mancanegara dan juga pengunjung asal dalam negeri. Meski begitu, dalam soal pengunjung jangan bandingkan jumlahnya dengan pengunjung museum di Eropa.
Seri Peninggalan Sejarahtaken from: Kompas

Tahun Kunjung Museum, Sudahkah Museum Berbenah?

Sumber: KOMPAS Selasa, 5 Januari 2010 HARI ini, lima hari sudah, kita meninggalkan tahun 2009. Ada banyak rencana, program, keriaan, perayaan di tahun 2010. Di penghujung tahun 2009, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) melepas sebuah program yang cukup mengejutkan, sebuah program yang terkait langsung dengan pusaka budaya – karena selama ini hampir semua program Kemenbudpar lebih berat ke urusan pariwisata – yaitu Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Luar biasa. Museum kini tak hanya dilirik, tapi ditengok. Jero Wacik, sang menteri, menegaskan, program TKM 2010 akan berlangsung hingga 2014. Di dalamnya, program revitalisasi museum pun jadi prioritas.
“Tahun Kunjung Museum 2010 mengawali Gerakan Nasional Cinta Museum yang akan kita gelar sampai 2014,” tandasnya akhir pekan lalu. Kegiatan ini, prinsipnya, dilaksanakan di semua museum yang ada di seantero Indonesia namun ada tujuh provinsi yang menjadi prioritas. Mereka adalah Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, dan DKI Jakarta. “Ini harus dilakukan bersama antara pusat, daerah, asosiasi museum, komunitas pecinta pusaka budaya dalam hal ini pecinta museum, swasta, dan tentu masyarakat secara luas,” lanjutnya.
Sebelumnya, dalam jumpa pers akhir tahun, Jero mangakui, selama ini pihaknya kurang peduli pada urusan budaya, maka di tahun ini, bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan memasukkan unsur budaya dalam kurikulum sekolah dasar. “Termasuk kami akan menghidupkan kembali wajib kunjung museum untuk siswa,” tandas pengusaha di bidang hotel dan biro perjalanan wisata ini.
Meski agak terlambat namun setidaknya kemudian pemerintah sadar betapa penting nilai museum, keberadaan koleksi di dalamnya bukanlah sekadar barang rongsokan berdebu. Bahkan pada satu bentuk tongkat pun, berisi berjuta nilai budaya, jika tongkat itu pernah dipegang oleh Jenderal Sudirman. Museum harus menjadi sarana pendidikan sejarah, kebudayaan, budi pekerti, yang tak lagi berupa buku, kata-kata belaka. Sebuah kenyataan yang bisa dilihat sekaligus bisa meningkatkan semangat penghargaan terhadap sejarah bangsa ini.

Rancangan revitalisasi fisik museum sudah disiapkan. Tapi di manakah rancangan revitalisasi museum secara non fisik? Belum lagi urusan citra museum yang oleh kalangan di lingkungan karyawan Kementrianbudpar sendiri sampai ke dinas-dinas terkait di daerah di seluruh Indonesia masih belum menjadi sesuatu yang membanggakan. Lepas dari upaya wajib kunjung museum untuk siswa, cobalah berhitung, di antara seluruh karyawan kementrian hingga ke daerah, apakah pemahaman tentang museum sudah setara? Apakah pendidik sejarah, khususnya, dan pendidik secara umum, sudah juga menangkap makna museum? Jika jawabnya belum, maka inilah revitalisasi yang harusnya juga mendapat tempat utama.

Selanjutnya, sudahkah karyawan museum di seluruh Indonesia, serta karyawan di lingkungan dinas yang terkait dengan budaya dan museum mempunyai kebanggaan bahwa dirinya ditugaskan di museum? Ataukah masih banyak yang berpikir bahwa mendapat tugas di museum berarti mereka dibuang? Mengubah citra museum dan menanamkannya dalam benak manusia-manusia berhati gersang seperti inilah yang harusnya juga dirancang.

Bagaimana membuat pekerja di museum paham betul akan museum mereka, akan koleksi dan sejarahnya, bagaimana membuat pekerja museum tegas namun juga tetap ramah. Bekerja di museum adalah kebanggaan dan sebuah penghargaan, bagaimana membuat ini melekat di benak manusia-manusia yang hanya terpaksa bekerja di museum karena ditugaskan di sana?
Selanjutnya, tentu bicara perihal bagaimana membuat museum menjadi menarik, bagaimana membuat museum bisa berdiri sendiri, pengelolaan yang professional, sebuah strategi permuseuman perlulah juga dirancang. Bagaimana koleksi bisa terawat baik jika museum tak punya ruang penyimpanan (storage) di mana di sinilah koleksi dikonservasi, dibersihkan, dipelihara, ketika sedang tak dipamerkan. Padahal kekuatan dari museum tentu pada koleksi mereka. Sebuah museum tentu perlu juga memahami pengunjung, memahami faktor yang mempengaruhi tingkahlaku pengunjung. Harga tiket yang layak juga perlu dikaji ulang, selama ini harga tiket masuk ke museum hampir sama atau bahkanlebih murah dibandingkan dengan harga dua kali kita pergi ke toilet umum.
Pendek kata, revitalisasi museum tak sekadar fisik semata. Ada yang lebih parah yang harus dibenahi. Mentalitas dan pemahaman. Strategi pemasaran, komunikasi, promosi, semua ini juga harus jadi satu paket dengan TKM yang berlangsung sampai 2014. Penyelenggaraan kegiatan yang tak ala kadarnya hanya demi memenuhi anggaran tahunan juga perlu diubah. Mengubah mindset, tentu saja.

Begitu kompleks, memang, karena persoalannya memang sudah mengakar lama. Enampuluh lima tahun merdeka, 350 tahun dijajah, museum belum pernah jadi unsur penting pembangunan mental bangsa, alhasil, pembenahan harusnya tak sekadar fisik dan “memaksa” alias mewajibkan siswa ke museum tanpa ada sesuatu yang kemudian bisa mereka bawa pulang. Alangkah lebih baik ada 50 siswa siswi yang dengan sadar datang mencari pengetahuan di museum dibandingkan 1.500 datang karena diwajibkan namun mereka hanya memperolok koleksi museum. Sungguh, TKM tak bisa dibatasi hanya sampai 2014 karena upaya ini merupakan upaya mengubah cara berpikir manusia Indonesia. Selamat tahun baru, selamat berkunjung ke museum, selamat berbenah buat museum!
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *