Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok–Rumah Panggung di Kampung Melayu

Akulturasi Budaya Banjar, Arsitektur Indis, dan Tiongkok

Rumah Panggung di Kampung Melayu

24 Februari 2016

Kampung Melayu merupakan salah satu kampung di Kota Semarang yang memiliki potensi citra budaya yang khas, yaitu multi etnik dengan beragam artefak arsitektural.

RUMAH panggung warga Banjar adalah salah satu artefak yang masih dapat ditemukan keberadaannya di Kampung Melayu. Hal itu merupakan hasil kebudayaan masyarakat Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat serta kebudayaan lain.

Ketika Suara Merdeka menelusuri Kampung Melayu, Selasa (23/2), rumah panggung yang dahulu menjadi ciri khas, jumlah kini tak ada puluhan. Beberapa yang tersisa ada yang masih dihuni, ada yang dikosongkan, dan ada pula yang dipasang tulisan “Dijual”. Kondisi bangunannya pun sebagian besar rusak, hanya beberapa yang terawat.

Seperti rumah panggung milik Hilal (30), warga Jalan Layur No 104 salah satunya. Kayu jati bercat hijau itu masih terlihat kokoh. Akan tetapi, batas bangunan lantai dua dan lantai satu hampir setara dengan ketinggian jalan. Pasalnya, lantai dasar rumah itu telah ditinggikan hingga dua meter karena rob sering menerjang kawasan itu.

Jalan Layur yang dahulu sering tergenang luapan Kali Semarang pun kini ditinggikan dan dipaving. ‘’Rumah ini peninggalan simbah saya. Mbah Kartadinata. Rencana mau kami bongkar, karena semakin tenggelam. Selama saya tinggal di sini, sudah ditinggikan dua meter,’’ kata ibu dua anak itu, kemarin.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Taufan Madiasworo, mahasiswa Pascasarjana Teknik Arsitektur Undip pada 2001, kebudayaan Banjar berpengaruh kuat terhadap bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu Semarang yang tercermin dari fungsi dan susunan ruang, konstruksi dan ragam hias.

‘’Bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu merupakan bagian dari sistem budaya yang mencakup bagian-bagian sistem lain seperti organik, social, dan kepribadian serta merupakan ekspresi dari kebudayaan Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat, serta kebudayaan lain, seperti kebudayaan Tiongkok dan kebudayaan Indis yang berkembang saat Pemerintahan Kolonial. Selain itu, mengalami adaptasi dengan lingkungan dan kondisi setempat,’’ paparnya.

Interpretasi

Hal itu, kata Taufan, menyebabkan terjadinya akulturasi dalam pola perubahan desain rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu yang cenderung memiliki bentuk baru dengan makna lama.

Dengan demikian, terjadi interpretasi baru terhadap bentuk lama yang pada dasarya tetap berakar dari kebudayaan Banjar. Rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu memiliki ciri khusus dan unik yang justru memperkaya khasanah variasi arsitektur tradisional di Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Banjar itu, kata Taufan, terlihat dari bagian kemuncak atap, listplank, pagar teras, penyangga atap tritisan, dinding penyekat, dan tangga. Selain itu, ragam hiasannya ukiran kaligrafi Arab. Ornamentasinya minimalis, berbeda dari yang asli di Banjar Kalimantan Selatan.

‘’Ragam hias batu berukir pada bagian kemuncak atap sulit dilacak maknanya, yang merupakan pengaruh arsitektur Indis. Kemudian ragam hias geometris dengan hiasan bunga peony merupakan pengaruh arsitektur Tiongkok,’’ jelasnya.

Saat ditemui di kantornya, Lurah Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Dwiyanto menjelaskan, banjir dan rob yang beberapa tahun sering menerjang Kampung Melayu membuat rumah panggung sebagai ciri khas permukiman di wilayah itu dibongkar oleh pemiliknya.

‘’Kalau pun yang sekarang ini masih ada, sebagian kondisinya rusak. Dan paling banyak masih ada di wilayah RW 3 dan RW 4,’’ tuturnya. (Muhammad Syukron-71)

Dikutip dari: Suaramerdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *