Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

“Fibre City – Konsep Kota Jepang Mendatang



Foto:
Seri Arsitektur taken from: Berita Iptek 2011

“FIbre City – Konsep Kota Jepang Mendatang

Sumber: Berita Iptek

Pada bulan Oktober 2006, terbitan triwulan (3 bulanan), the Japan Architect edisi Oktober 2006 mengetengahkan Ohno Hidetoshi dan disainnya bersama Laboratorium Lingkungan Habitat (Research Laboratory of Habitat Environment), Tokyo University yang dipimpinnya untuk Kota Tokyo di tahun 2050. Edisinya sendiri berjudul: Tokyo 2050 Fibercity dan bisa diakses terbatas isinya lewat internet di http://www.fibercity2050.net/. Pertama kali dipamerkan untuk publik saat Sustainable Building Conference 05 di Tokyo, September tahun lalu. Memang, disain Tim Professor Ohno ini adalah bagian dari strategi menyinambungkan Tokyo dengan berbagai masalahnya untuk lebih manusiawi dan bersahabat dengan lingkungan. Menurut kabar, disain-disain ini sudah diusulkan dan menjadi bahasan untuk kajian lebih lanjut oleh Pemerintah Tokyo di bawah Gubernur Ishihara Shintaro.

Ohno Hidetoshi sendiri adalah bekas asisten dari Maki Fumihiko, seorang arsitek dan disainer kota yang mendunia yang juga pernah menjabat profesor di Universitas Tokyo (1979-1989). Proyek atau kajian ini pun sebenarnya adalah proyek rintisan dari Maki Fumihiko. Ceritanya, saat mengamati Tokyo, Maki tidak mampu secara jelas menemukan 5 elemen pembentuk kota seperti terdapat dalam teori Kevin Lynch yang dimuat dalam buku legendaris dan panutan ilmu disain kota hingga kini, “The Image of the City”. Kelima elemen itu adalah simbol kota (landmark), jalur-jalur sirkulasi (paths), pusat-pusat kegiatan (nodes), pinggir kota yang menandakan berakhirnya ciri wilayah kota (edge), dan wilayah distrik khusus (districs).Bahkan setelah benar-benar diamati, ternyata elemen-elemen lain muncul dan menjadi elemen yang tak terpisahkan dari kota Tokyo. Elemen-elemen baru yang sering berupa bentukan alam (bukit, lembah, sungai) dan bentukan sejarah (zaman pra Edo, zaman Edo, sampai disain era modern) itu membentuk banyak lipatan (folds) yang tersegmentasi dan menjadi bagian penting kota pula.
Jika Lynch (1960) memandang kota secara umum dalam kerangka ‘plane’, maka Maki dan diteruskan Ohno (Japan Architect, 2006) memandang kota-kota di Jepang khususnya sebagai ‘segmen-segmen yang linier’ (linearly segmented city). Fibrecity adalah konsep besar untuk menyatukan banyak segmen dalam sebuah kerangka kerja disain dengan model sebuah kota yang menyusut populasinya macam kota-kota (shrinking city)di Jepang di masa depan .

Masalah Jepang dan Tokyo di Tahun 2050
Tak terkecuali di Jepang, pada tahun 2050 diproyeksikan penduduk Tokyo pun akan mengalami penurunan populasi, sama seperti kasus yang umum terjadi di seluruh negeri. Meskipun oleh Hayashi (2006) kasus penurunan penduduk yang terjadi di Tokyo ini dianggap belum segawat wilayah-wilayah lain di luar Tokyo. Karena bagaimana pun konsentrasi maupun ketidakseimbangan penduduk dan pembangunan di wilayah Tokyo dan sekitarnya membuat daerah lainnya lebih cepat mengalami ‘kolaps’.

Dan faktor ‘ketidakseimbangan’ ini lah yang mendesak untuk dicarikan jalan keluar sejak sekarang melalui rencana ruang nasional (kokudo keisei keikaku). Pada tahun 2050 itu diprediksi penduduk Jepang hanya berjumlah 3/4 dari jumlah hamper 128 jutaan saat ini. Dari jumlah tersebut 1/3 nya adalah penduduk bersuai 65 tahun ke atas. Angka penduduk dependen (anak dan manula) juga naik dari sekitar 46.9% di tahun 2000 menjadi 66.5% di tahun 2050 itu. Jika masalah ini pada saatnya juga menerjang Tokyo, maka banyak konsekuensi yang harus ditanggung, misalnya infrastruktur wilayah yang begitu besar terutama di pinggiran akan ditinggalkan dan menjadi terbengkelai.

Pembangunan fasilitas-fasiltas kesejahteraan bagi manula menjadi lebih penting, namun hal ini masih jauh dari asas pemerataan. Daerah Hokuriku di timur Laut Jepang seperti Toyama dan Fukui serta prefektur satelit di selatan Jepang, Okinawa, yang mempunyai perbandingan manula terbesar di Jepang masih menjadi prefektur yang fasilitas dan layanan manulanya kurang, dibanding prefektur ‘pusat kegiatan wilayah’ semacam Tokyo, Fukuoka, Hyogo maupun Kanagawa (Asahi Shinbun, 22 Oktober 2006). Lebih jauh disinyalir ini akan memicu persaingan antara kaum tua dan kaum muda untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan hidup. Terbukanya kran imigrasi bagi pendatang untuk menanggulangi langkanya tenaga kerja juga akan menciptakan persaingan antara masyarakat pribumi dan kaum pendatang. Tak bias dipungkiri, ini akan mempengaruhi sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat Jepang secara keseluruhan menuju kemunduran. Di samping itu masih terdapat faktor lain seperti keseimbangan lingkungan dan bencana alam yang terus menghantui Jepang.

Di Tokyo sendiri oleh Ohno, kecenderungan ke arah menurunnya populasi ini pun dianggap akan segera datang. Meskipun banyak pihak yang meramalkan Tokyo lah satu-satunya kota di Jepang yang masih bisa surfaif terakhir kali jika efek bola salju itu benar-benar datang. Beberapa pemikirannya untuk mengatasi hal ini misalnya adalah mempertimbangkan konsep metroplis yang kompak dengan banyak ditinggalkannya wilayah suburban yang tak efisien, mengedepankan disain-disain prioritas seperti disain rawan bencana, bertindak sesuai konteks kecenderungan masa depan dengan tetap respek pada pola eksisting yang telah ada (misalnya usaha preservasi dimulai dengan kesadaran untuk menerima dan merunut apa yang telah ada), penghadiran kembali ‘meisho’ (ruang publik yang populer di tengah masyarakat) yang lain sama sekali konsepnya dengan ‘theme-park’ di Jepang saat ini yang sebenarnya makin menjauhkan masyarakat dari dunia nyata. Dan sebisa mungkin semua rencana itu dilakukan dengan pemikiran dasar ‘minimal dalam intervensi namun mempunyai efek maksimal’.

Empat Strategi Disain
Untuk mengantisipasi penyusutan Tokyo di tahun 2050, Ohno dan timnya mengajukan sebuah konsep bertitel ‘Fibercity’. Selain sebagai konsep perancangan, ‘fibercity’ ini pun mengandung beberapa filosofi yang mentransformasikan pendekatan modern yang umum digunakan pada disain kota dewasa ini kepada sebuah system baru dengan landasan pendekatan kemudahan untuk mengalir (fluidity) dan kecepatan (speed). Beberapa gubahan konsep itu antara lain menyangkut perubahan target disain, dari sebuah permukaan yang luas (surface) ke pendekatan garis (line) yang fleksibel sesuai dengan morfologi eksistensi kota yang telah ada dan bentukan alamnya. Perubahan karakter dalam sebuah sistem, dari kedinamisan ruang kota (dynamic) yang dicapai melalui beberapa tipe disain khas kota beralih kepada kemudahan untuk mengalir (fluidity) yang tidak hanya tergantung pada ruang sebagai medianya namun juga pada lalu lintas (traffic) dan transport antarruang.

Perubahan fungsi dari berbagai fungsi yang penuh batas (boundary)dari saling pisah (separation) melebur kedalam bentuk saling berinteraksi (interaction) yang memunculkan pertukaran (exchange). Kota sebagai lahan produksi atau komersial tak berarti lagi tanpa eksistensi fungsi informasi dan pengetahuan. Perubahan gambaran sistem organisasi (image system) dari mesin (machine) yang sangat tergantung dengan konsep awal untuk sebuah fungsi apa ia bergerak beralih kepada konsep pabrik (fabric) yang lebih fleksibel dan beragam. Gubahan strategi disain, dari penemuan (inventing) yang sering mengabaikan sejarah atau tautan konteks bergeser menjadi pembenahan (editing) berupa pengaturan kembali atau pun penyesuaian elemen-elemen kota yang ada. Dari beberapa pendekatan dasar yang telah dicanangkan, akhirnya muncul 4 (empat) strategi untuk Tokyo di tahun 2050 yang menjadi satu kesatuan dalam sebuah nama ‘Fibercity’.

1.Jejari hijau (green finger) yang merupakan sebuah strategi pengorganisasian kembali daerah ‘suburb’ Tokyo yang merana akibat efek penyusutan penduduk. Dengan tetap mempertahankan zona permukiman sepanjang rel kereta yang makin dekat ke stasiun makin padat serta dikelilingi oleh ruang hijau, sehingga membentuk jejaring kota kompak sepanjang jalur rel (transport) yang dihubungkan memusat menuju pusat kota.

2.Partisi hijau (green partition) yakni strategi untuk secara kontinyu membuat daerah pusat kota yang padat dan terdiri dari banyak konstruksi kayu sebagai daerah resiko tinggi saat bencana alam terjadi, menjadi hijau. Jalur hijau dengan lebar minimal 4 m ini disamping sebagai sekat atau partisi meluasnya kerusakan dan kebakaran saat bencana juga bermanfaat sebagai petunjuk jalur evakuasi. Partisi hijau ini bias memanfaatkan lot-lot kosong yang ‘ditinggal’ oleh penduduk, sehingga hasil akhir rancangan pun belum terlihat secara jelas.

3.Jejaring hijau (green web) yakni strategi yang membantu mengkonversi fungsi lalu lintas pada jalan raya lingkar di Tokyo menjadi fungsi jalur linier hijau yang berfungsi ganda sebagai jalur bantuan saat terjadinya bencana alam. Meskipun sebenarnya beban kendaraan saat bencana tentu akan lebih besar sekitar 20% tapi karena penyusutan penduduk sekitar 25% maka pengalihfungsian ini masih dianggap layak (feasible). 4.Kerutan kota (urban wringkle) yang diujudkan melalui spot-spot linier khusus atau pun berupa ‘meisho’ di dalam kota yang merepresentasikan optimalisasi ‘dialog’ antara lansekap lingkungan kota dan sejarah yang dibawanya. Beberapa spot denan tema-tema khusus yang diusulkan antara lain Shinjukugyouen, Koishikawa, Nihonbashi, Asakusa, Shibuyagawa, Shinagawa, Shinjuku Metro Promenade, Nakameguro, Ichigaya, dan Kaiseitateishi,

Masing-masing strategi itu oleh Ohno dan kawan-kawan telah dikaji secara detil untuk teknis rancangan dan perujudannya, ekonomi pembiayaan dan keuntungan yang akan dicapai di masa depan, maupun efek sosial kemasyarakatannya. Beberapa skenario atau simulasi pun dilakukan untuk mengantisipasi model pembangunannya. Misalnya bagaimana skema proyek dalam strategi ‘green partition’ jika dikerjakan oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang manajemen kota melalui sistem TRD (transferable development right, hak perpindahan kepemilikan) atau sistem pembiayaan bersama oleh pemilik tanah. Di dalam akhir terbitan ini teori atau pandangan Ohno mengenai lansekap Tokyo juga bisa ditemukan. Ini semua menjadi dasar pijakan cara pandang Ohno untuk permasalahan yang berhubungan dengan lansekap Tokyo. Ada 7 (tujuh) jenis sebutan lansekap yang mencerminkan karakter Kota Tokyo. Ketujuh karakter lansekap Tokyo itu adalah lansekap tanpa daerah pinggiran (suburb), lansekap yang didominasi oleh kecepatan, lansekap yang didominasi oleh topografi, lansekap yang banyak memungkiri teori (karena keistimewaannya), lansekap dari kebudayaan ‘hybrid’, lansekap yang memicu konsumsi, dan lansekap yang mempunyai prinsip segmen linier.

Dari sudut pandang perencanaan dan disain kota, langkah Profesor Ohno yang tetap konsisten untuk meneliti perkembangan kota Tokyo secara detil meneruskan jejak Profesor Fumihiko Maki, pendahulunya, sangat perlu diapresiasi. Langkah ini menghasilkan banyak data dan output disain yang sangat beragam dari berbagai sudut kota Tokyo dan permasalahan yang menyertainya. Berbincang dengan Profesor Ohno sama seperti menghadapi ‘kamus babon’ Kota Tokyo lengkap beserta data penunjangnya. Kecenderungan penyusutan penduduk Jepang yang telah menjadi isu nasional beberapa tahun belakangan dan akan membawa efek langsung pada disain kotanya ditangkap sejak awal melalui sebuah usulan proyek disain kota yang telah berlangsung tahunan. Dengan beberapa pertimbangan dasar yang tetap mencerminkan kesinambungan, keberlanjutan, dan kehati-hatian dalam eksekusinya, tema ‘FiberCity’ ini segera mendapat tanggapan positif dari pemerintah Tokyo. Dari beberapa penjelasan detil dalam makalah dan beberapa publikasi proyek ini (Ohno, 2005; Japan Architect, 2006), maka sebagian gagasan kota kompak Tokyo di era penyusutan yang tetap memperhatikan dialog selaras dengan lingkungan dan antisipasi keadaan terburuk saat terjadi bencana telah menemukan bentuknya.

Bacaan

1.Asahi Shinbun (2006), Examination of Cities in Home Recuperation Support Base, Berita Utama tanggal 22 Oktober 2006 (dalam bahasa Jepang). 2.Hayashi, Y (2006), Decentralization and the National Spatial Plan, City Planning Review, Vol 55/No. 5, 25 Oktober 2006, halaman 21-26 (dalam bahasa Jepang). 3.Japan Architect, the (2006), Ohno Hidetoshi: Tokyo 2050: FiberCity, JA, No. 63, Autumn 2006, 15 Oktober 2006, Shinkenchikusha. 4.Lynch, K. (1960), The Image of the City, MIT Press, Cambridge. 5.Ohno, H. (2005), Proposal of a Sustainable City for the Tokyo Metropolitan Area, Poster pada Sustainable Building Conference 2005, Tokyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *