Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Aurora Tambunan

Aurora Aurora Tambunan

Antara Keindahan dan Profesionalitas

Tokoh arsitek yang berpengaruh dalam perencanaan kota Jakarta ini dilahirkan di Jakarta,  sebagai anak sulung dari dua bersaudara pasangan BKJ Tambunan dan VAB Mangunsong. Masa kecil dan remaja dialami di berbagai kota dan negara.  karena tugas pendidikan ayahnya kerap berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lainnya, bahkan hingga ke Negeri Paman Sam, New York. Briliant, penampilan menarik, integritas tinggi, lugas, tegas, humanis dan elegan adalah rentetan kata yang menjadi pijakannya dalam berpikir dan bertindak.

Menamatkan pendidikan dasar di Bandung pada 1964. Saat kelas satu dan dua, wanita yang dari kecil manja sama ayahnya ini sempat mencicipi pendidikan dasar di Ithaca, New York, Amerika Serikat. Ir. Aurora F.R. Tambunan, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi DKI Jakarta.

Tidak berapa lama, keluarganya kembali boyong (pulang-red) ke Bandung. Masa pendidikan dasarnya kemudian diteruskan di kota kembang itu. Mula-mula ia agak keteteran mengikuti pelajaran yang semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Sementara, ia terbiasa mendalami pelajaran-pelajaran dengan percakapan bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Indonesianya waktu itu berantakan sehingga minder  jika berhadapan dengan guru dan teman-temannya.

Kemahiran berbahasa Inggris didapatnya dari kebiasaan keluarganya yang menerapkan kewajiban menggunakan bahasa Internasional itu dalam percakapan sehari-hari. Terang saja, sepulangnya dari Amrik itu, wanita yang juga gemar lagu-lagu Padi dan Jamrud ini sampai lupa berbahasa Indonesia. Lidahnya terasa susah, keseleo jika mau bercakap memakai bahasa Indonesia. Kendati orang tuanya terus menyarankan agar dirinya menggunakan bahasa Inggris, lambat laun ia pun mulai menanggalkan kebiasaan baik itu.

Tapi ia bukan malah lantas melupakan kebiasaan berbahasa Inggris itu semuanya. Kemahirannya terus diasah dengan terus belajar kembali berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak sia-sia, semuanya bisa dilalui dengan baik, bahkan prestasinya di sekolah pelan-pelan kian meningkat, lalu kerap menyabet juara kelas. Nilai bahasa Inggrisnya pun tidak tanggung-tanggung. Jika tidak sembilan, pasti sepuluh. Prestasi ini terus dipertahankannya hingga lulus SMP tahun 1967 dan SMA pada 1970 di kota Bandung. Kebisaan berbahasa Inggris yang diperoleh sedari kecil itu dijadikannya sebagai pengalaman yang sangat berharga dan mengesankan hingga sekarang. Penikmat berat cokelat ini baru merasakan kemanfaatan yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan sekarang yang serba kompetitif ini.

Tak sampai di situ, wanita yang gemar bersalsa ria ini kemudian melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus yang dikenal sebagai pusat sains itu, ia memilih Fakultas Ilmu Planologi. Selain cerdas, dia terbilang mahasiswa yang aktif berorganisasi. Di sana, wanita dengan ciri khas selalu tersenyum ini aktif dalam Dewan Mahasiswa (Dema). Ia termasuk sosok wanita yang pandai bergaul, banyak mahasiswa menjadi temannya. Kendati aktif di dunia organisasi kemahasiswaan, studinya tidak pernah dilupakan, terus berjalan mulus. Buku-buku pengetahuan selalu menjadi santapan sehari-harinya. “Ya maklum, anak-anak ITB itu kan terkenal dengan kacamata tebel dan kutu bukunya,” kata wanita yang suka warna dasar hitam-putih ini.

Namun, keidentikan itu tidak menjadikan dirinya lupa sebagai sosok wanita normal. Dia tidak pernah menomorsatukan penampilan namun tidak menomorduakannya. Menarik. Satu kata ini yang dijadikan sebagai pijakan untuk selalu memberi kesan mendalam atas penampilan dirinya. Menurut wanita yang senang lukisan ini, anak ITB tidak hanya harus pinter, tapi juga harus menarik. “Saya sangat suka memberi kesan dari penampilan yang rapi. Tapi tidak harus berhenti sampai di situ. Juga harus dibarengi dengan cantik di dalam (inner beauty). Hati yang baik,” pesannya.

Berkat kecerdasan dan keteladanannya berpenampilan menarik, Aurora banyak dikagumi teman-teman sekampusnya. Dia selalu berpesan, kepinteran tanpa dibarengi dengan penampilan yang menarik tidak akan banyak memperoleh simpati dari orang lain. Kesan pertama itu yang terus ditanamkan kepada teman-temannya.

Tahun 1973, di kota Bandung diadakan pemilihan kontes Miss University (Ratu Kampus) se-Jawa Barat. Acara yang diselenggarakan  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat dimaksudkan dalam rangka menjaring para ratu kampus untuk dijadikan sebagai Miss Jawa Barat. Masing-masing kampus mengutus jago-jagonya. Dengan proses persaingan dalam seleksi dan final yang ketat dan kompetitif, satu demi satu para calon ratu kampus berguguran hingga tinggal tiga mahasiswi yang masuk kualifikasi juara. Dari dua yang menjadi juara, Aurora menjadi yang nomor satu. Namun, karena ia tidak mau ribet dengan tugas sebagai Miss University Jawa Barat, gelar itu lantas diserahkannya setulus hati kepada juara ketiga. Ia malah memilih tetap enjoy dengan aktivitasnya sebagai mahasiswi di kampus hingga akhirnya lulus pada tahun 1976 dengan predikat cum laude berkat bimbingan TB M Rais (mantan Kepala Dinas Tata Kota dan Wagub DKI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *