Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Seni dari Holocaust, cerita di balik lukisan

Seni dari Holocaust, cerita di balik lukisan

  • 1 Maret 2016
one springImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionSatu Musim Semi karya Karl Bodek dan Kurt Conrad Low.

Sebuah pameran baru yang bersejarah, Seni dari Holocaust, dibuka di sayap belakang Museum Sejarah Jerman di Berlin awal bulan Februari.

Untuk pertama kalinya, karya seni dari koleksi Museum Yad Vashem, Jerusalem, dipamerkan di luar Israel.

Pameran ini mengetengahkan 100 karya seni, yang sebagian besar berupa gambar dan lukisan, yang dibuat para tahanan Yahudi di kamp-kamp kerja paksa, di ghetto dan di kamp konsentrasi.

Banyak dari hasil-hasil karya ini menggambarkan realitas suram dari kehidupan sehari-hari di penjara Nazi.

Kenyataan bahwa hasil karya ini masih terus bersintas sampai hari ini, dalam sebagian besar kasus, merupakan keajaiban: banyak di antaranya yang disembunyikan atau diselundupkan dengan risiko besar oleh teman-teman para perupa ini.

Pameran ini, yang bertepatan dengan perayaan 50 tahun dibinanya hubungan diplomatik antara Jerman dan Israel, diselenggarakan pada saat makin banyaknya kekhawatiran mengenai meningkatnya anti-Semitisme di seluruh Eropa.

Pada saat Kanselir Jerman Angela Merkel membuka pameran ini, ia mengatakan kepada para wartawan bahwa ia berharap pameran ini akan mengirim pesan kepada para migran yang baru datang ke Jerman dari negara-negara ‘di mana kebencian terhadap Israel dan Yahudi tersebar luas’.

Namun karya-karya ini juga, terlepas dari konteks politiknya sekarang ini, merupakan bukti yang sangat mengharukan mengenai daya tahan manusia serta kekuatan seni, dan sebagaimana dinyatakan oleh kedua kurator pameran ini, Walter Smerling, bersama Eliad Moreh-Rosenberg, karya-karya ini secara estetika sangat kuat dalam gaya mereka masing-masing.

Kedua kurator menyaring dari daftar pendek berisikan beberapa ratus karya.

“Kami memilih karya-karya ini berdasarkan pertimbangan artistik dan memilih karya yang memprovokasi kami serta membuat kami merenungkan cerita yang ada di balik masing-masing gambar,” kata Smerling, yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Seni dan Budaya.

Kami memintanya untuk menjelaskan cerita yang ada di balik sejumlah karya yang mereka pilih.

the soing is overImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionKarya Pavel Fantl yang berjudul Lagu sudah Berakhir.

Pavel Fantl, Lagu sudah Berakhir (1941-1944)

Lukisan berwarna hasil goretan Pavel Fantl ini merupakan satu dari sedikit saja karya dalam pameran ini yang menunjukkan para anggota Nazi.

“Ketika saya melihat karya ini, saya langsung merasa yang ini harus dipamerkan,” kata Smerling. Fantl, adalah seorang dokter yang lahir di Praha pada tahun 1903.

Ia dapat melukis secara rahasia di ghetto Theresienstadt, di wilayah Cekoslovakia yang waktu itu diduduki, berkat seorang polisi Ceko yang memberinya bahan-bahan yang diperlukannya.

“Ia menggambarkan Hitler sebagai badut,” kata Smerling menjelaskan, “dan instrument yang dipakainya untuk memainkan melodi untuk menipu semua orang, ada di lantai, rusak, dengan darah di tangannya.”

Smerling menambahkan, “Kita harus membayangkan keberaniannya dan rasa humornya yang terus bertahan, untuk mengritik orang yang bertanggung jawab atas situasinya sesaat sebelum ia meninggal.”

Fantl dideportasi ke Auschwitz, bersama istri dan putranya, dan dibunuh oleh Nazi pada bulan January 1945. Seorang pekerja Ceko belakangan menyelundupkan karyanya ini ke luar ghetto dan menyembunyikannya di sebuah dinding.

the refugeeImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPengungsi oleh Felix NussBaum.

Felix Nussbaum, Pengungsi (1939)

Nussbaum, artis paling terkenal dalam pameran ini, ditangkap di Belgia pada tahun 1940, setelah itu ia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di Brussel bersama istrinya.

Lukisannya yang berjudul Pengungsi menunjukkan keterasingan yang dialami para orang Yahudi Jerman yang terpaksa harus mengembara. “Dalam lukisan ini, ia bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Ke mana aku bisa pergi di dunia ini, di mana aku bisa hidup, di mana aku bisa bekerja dan berada?’” kata Smerling.

Nussbaum mengirimkan lukisannya kepada ayahnya di Amsterdam, dan setelah dibunuhnya ayah Nussbaum di Auschwitz pada tahun 1944, lukisan itu berpindah tangan kepada para pemilik pribadi dan kemudian dijual di sebuah pelelangan.

“Lukisan ini merujuk pada kehidupan masa ini, dengan menunjukkan posisi para pengungsi yang bertanya-tanya ke mana mereka bisa pergi,” kata Smerling. “Sekarang ini ada banyak orang yang menanyakan hal yang sama.”

Nussbaum akhirnya dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944 pada usia 39 tahun, bersama dengan istrinya.

rooftops in the winterImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionAtap di Musim Dingin karya Moritz Muller.

Moritz Müller, Atap di Musim Dingin (1944)

Moritz Müller belajar melukis di Praha, dan kemudian mendirikan rumah lelang yang terpaksa harus ditutup setelah Nazi menginvasi Cekoslovakia.

Ia menghasilkan lebih dari 500 karya selama ia ditahan di ghetto Theresienstadt dan dalam karya yang berjudul Atap di Musim Dingin ini, ia melukiskan atap-atap di Theresienstadt yang ditutupi salju sebagai keindahan alam yang damai.

“Ini salah satu karya paling berharga, karena walau tidak kelihatan ada orang, ghetto-ghetto ini semuanya kepenuhan orang,” kata Smerling.

“Karya ini memiliki berbagai arti, di satu sisi ada lanskap musim dingin yang indah, dan di sisi lain, ada keseraman di balik itu.”

Janda seorang pejabat Austria belakangan membeli sejumlah lukisan Müller, dan menyembunyikannya di rumahnya. Mueller tewas dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944.

Girls in the fieldImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionGadis di Padang Rumput yang dilukis oleh Nelly Toll.

Nelly Toll, Gadis di Padang Rumput (1943)

Nelly Toll adalah satu-satunya artis dari pameran ini yang mampu bersintas.

Lahir di Lviv atau di daerah yang kini dikenal sebagai Ukraina, ia melukis gambar ini pada usia delapan tahun ketika disembunyikan oleh satu keluarga Kristiani bersama ibunya.

Lukisan ini menggambarkan kebebasan yang didambakannya.

“Penting bagi saya untuk mengenal sang artis dan berbicara kepadanya,” kata Smerling. Toll datang ke Berlin dari rumahnya di New Jersey, Amerika Serikat, untuk mengunjungi pembukaan pameran ini, serta menerima sambutan sangat hangat dari Angela Merkel.

“Itu merupakan simbol yang sangat baik,” kata Smerling, mengenai pertemuan tersebut.

rear entranceImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPintu Belakang karya Bedrich Fritta.

Bedrich Fritta, Pintu Belakang (1941-1944)

Dari lebih dari 140.000 orang yang dideportasi ke Ghetto Theresienstadt antara bulan November 1941 dan Mei 1945, sekitar 120.000 meninggal.

Bedrich Fritta lahir di Bohemia pada tahun 1906 dan dikirim ke Theresienstadt sebelum dibunuh di Auschwitz pada tahun 1944. Ia dan kelompok rekan-rekan artis di ghettonya menyembunyikan karya mereka ke dinding sebelum mereka ditangkap.

“Gerbang setengah terbuka merupakan metafora kemarian, tidak ada alternatif yang terlihat, jadi jalan keluar satu-satunya adalah menuju kegelapan,” kata Smerling. “Ia menunjukkan arsitektur dan alam yang kosong melompong sebagai panggung bagi peristiwa yang juga tidak terlihat.”

one springImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem

Karl Bodek dan Kurt Conrad Löw, Suatu Musim Semi (1941)

Smerling dan rekan kuratornya menjadikan Suatu Musim Semi sebagai gambar utama pameran ini meskipun ukurannya yang kecil. Kerja sama kedua seniman yang ditahan di Kamp Gurs di Prancis selatan itu memperlihatkan kupu-kupu di kawat pagar besi dengan pemandangan pegunungan perbatasan Spanyol di kejauhan. “Saya merasa sangat mengagumkan bahwa dua orang artis membuat lukisan sedemikian kecilnya. Ini merupakan pernyataan diri mereka sebagai manusia dan seniman, serta mengejawantahkan keinginan mereka untuk bersintas serta harapan mereka bagi masa depan.” Kurt Löw, dari Wina, akhirnya dapat melarikan diri dari Swiss ke Prancis, tetapi Bordek, dari Chernivisti, Ukraina, dikirim ke Auschwitz dan terbunuh di sana. “Salah satu dari mereka berhasil menjadi kupu-kupu itu, satunya lagi tidak.”

transport arrivalImage copyrightYad Vashem Gift of the Prague Committee for Documentation
Image captionLeo Haas melukis Kedatangan Transportasi ini.

Leo Haas, Kedatangan Transportasi (1942)

Haas, yang berhasil bertahan hidup pada saat perang, diperintahkan oleh badan swa-administrasi ghetto Theresienstadt untuk membuat gambar arsitektural untuk manajemen kontruksi ghetto.

“Tetapi ia juga membuat lukisan tinta yang terkomposisi dengan baik dan sangat teratur, seperti perwujudan transportasi ini,” kata Smerling.

Seperti halnya Nussbaum, Haas juga menggunakan motif burung pemburu untuk mengisyaratkan kehadiran kematian yang menyeramkan.

Ia juga menggambar huruf ‘V’ (Victory = kemenangan) di sudut kiri bawah lukisan, yang merupakan simbol gerakan perlawanan bawah tanah.

“Sungguh ini merupakan gambar yang menakjubkan, ia melihat kematian dan pengelolaan kematian di hadapannya, tetapi tetap saja ia memikirkan kemenangan.”

self portraitImage copyrightYad Vashem Art Museum Jerusalem
Image captionPotret Diri Charlotte Salomon.

Charlotte Salomon, Potret Diri (1939-1941)

Ada tiga karya Salomon yang dipamerkan dalam ekshibisi ini, termasuk Potret Diri ini.

Salomon dilahirkan di Berlin, dan setelah Kristallnacht (malam kaca pecah) bergabung dengan kakek neneknya di rumah yang dimiliki seorang hartawan Amerika Serikat, Ottilie Moore,di kota Villefranche, di bagian selatan Prancis.

Salomon terus menggambar selama berada dalam pengasingan, termasuk memproduksi potret diri ini.

“Dalam potret diri ini kelihatannya semua hal bergerak, dan di warna di wajahnya, ia kelihatan memiliki gejolak dalam dirinya sendiri,” kata Smerling.

Salomon bersama suaminya ditangkap oleh Gestapo pada bulan September 1943, dan dikirim ke Auschwitz. Ia terbunuh di sana. Saat itu ia sedang hamil lima bulan.

Versi bahasa Inggris artikel ini: Arts from the Holocaust: The stories behind the imagesdan tulisan-tulisan lain sejenis bisa Anda baca di BBC Culture.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *