Situs Promosi Arsitektur

Situs Promosi Arsitektur

Tampilkan produk Anda di sini. More »

Inovasi terbaru

Inovasi terbaru

Setiap hari ada inovasi baru More »

Asuransi Jiwa Indonesia

Asuransi Jiwa Indonesia

Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk-produk unggulan. Pilihlah yang paling sesuai kebutuhan Anda More »

Kontraktor di Bogor

Kontraktor di Bogor

Kontraktor rumah mewah More »

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

Selamatkan bumi dari pemanasan global dan penebangan liar

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Empat Dekade Arsitektur UI

logo Empat dekade arsitektur UI
taken from: web.bisnis.com

Ngejreng dan norak. Dua kata yang sering ditujukan untuk sesuatu yang terlihat mencolok itu, memang pantas ditujukan untuk gedung seluas 25.825 m2 yang terkenal sebagai salah satu tempat nongkrong di kawasan Thamrin, Jakarta.

Balutan warna terang menyala membuat gedung itu gampang dikenali. Bangunan berbentuk jajaran kotak tumpang tindih, memang membuat EX Plaza Indonesia terlihat beda dibandingkan dengan gedung-gedung lain di sekitarnya.

Ketika menyusuri gedung itu dari dalam, juga tak kalah seru, seperti masuk ke dunia fantasi anak muda masa kini. Alunan musik jazz dan etalase pakaian bermerek di satu tempat, akan segera diikuti bau popcorn dan kopi di tempat yang tidak jauh jaraknya.

Di sudut lain, dentuman hip-hop dan alunan musik khas para pencinta clubbing ikut meningkahi semua keramaian yang ada di lorong sepanjang 60 meter di lantai dua gedung itu.

Tempat favorit sebagian besar anak muda yang hidup di kota besar itu merupakan hasil karya Dicky Hendrasto. Dia adalah arsitek lulusan Universitas Indonesia (UI) pada 1980-an, universitas yang telah melahirkan beragam karakter arsitek dalam 40 tahun terakhir.

“Arsitek lulusan UI pada zaman ini [1980-an] bisa dibilang mencari citra yang lebih liar,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional Budi A. Sukada, yang juga lulusan UI.

Lebih liar, karena arsitektur hasil karya sang arsitek pada zaman itu lebih berani menonjolkan jati diri dan lebih liberal.

Pada era 1980-an, arsitek lulusan UI masuk dalam kategori dekade angkatan muda. Pada masa ini, arsitek lulusan UI ikut memiliki perkumpulan bebas di kalangan arsitek muda lainnya yang pada waktu itu masih berusia di bawah 30 tahun.

Dari sini, mereka menerima kenyataan bahwa arsitektur pascamodern sudah mendunia. Namun, mereka tidak mau mengikutinya begitu saja. Kalangan arsitek ini mengalihkan perhatian ke upaya pemurnian wujud ekspresif dan rasionalitasnya secara ekstrem dalam setiap karyanya.

Permainan warna sangat ditonjolkan. Unsur estetika menjadi dominan, dengan meminimalisasi unsur fungsional dalam karya yang mereka hasilkan.

Selain EX Plaza Indonesia, restoran dan bar New Blowfish di Jakarta juga mencerminkan karya arsitek angkatan muda UI. Sonny Sutanto adalah sang arsiteknya. Dia juga masuk dalam angkatan 1980-an di universitas itu.

Tak jauh berbeda dengan EX Plaza Indonesia, New Blowfish yang berlokasi di Wisma Mulia juga dijejali beragam permainan warna mencolok.

Unsur penonjolan diri juga terlihat dari pengaturan gentong sake yang berjejer di dinding lounge dan pemasangan foto raksasa geisha di atas langit-langit ruang dansa.

Lebih kalem

Karya-karya arsitek yang digolongkan sebagai angkatan muda (1980 ke atas) memang berbeda dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya, yakni angkatan periode 1965 hingga 1980.

Menurut Budi, karakteristik karya arsitektur yang dilahirkan oleh arsitek lulusan UI yang masuk dalam golongan angkatan tua tergolong malu-malu.

Karya-karya mereka, menurut Budi, memperlihatkan sikap ‘merendah’, dengan pemilihan warna yang kalem dan senada, sedapat mungkin berwarna tunggal (monokrom), dan menampilkan warna alami yang dihasilkan oleh bahan bangunan itu sendiri ketimbang cat.

Dalam merancang suatu bangunan, banyak pertimbangan yang harus dibuat. Unsur fungsional menjadi patokan utama oleh arsitek yang digolongkan dalam angkatan tua itu.

Latar belakang kebijakan pemimpin daerah pada zaman itu juga turut memengaruhi. Pada era itu, penguasa daerah mewajibkan bangunan gedung negara dalam wilayah kewenangannya dirancang atas dasar ciri khas visual daerahnya masing-masing.

Pada saat yang sama, para pengembang melihat potensi pergerakan baru tersebut sebagai ladang ciri arsitektur baru yang laku dijual kepada masyarakat. Hasilnya, karya-karya baru arsitektur Indonesia saat itu dipenuhi berbagai kombinasi atap.

Salah satu hasil karya yang menerjemahkan ciri khas arsitektur zaman itu di antaranya Balairung Universitas Indonesia yang berdiri kokoh sejak 1985. Bangunan itu merupakan hasil karya Budi yang masuk dalam angkatan 1970.

Rancangan gedung pertemuan di kampus UI, Depok, ini oleh Budi dibuat penuh pertimbangan dan sarat unsur fungsional.

Halaman di dalam sedapat mungkin dipakai menurut fungsi utamanya, yaitu tempat untuk berkumpul dengan pola memusat.

Bagian pusat ini dianggap tempat yang paling sakral. Dan, kata Budi, halaman tengah dari Balairung ini sangat cocok untuk para wisudawan sebab merekalah objek yang dianggap sakral dalam acara tersebut.

Dari segi pewarnaan, yang dipilih juga serupa dengan warna tanah. Warna tidak begitu dipermainkan. Justru yang menonjol adalah bagian atap. Atap Balairung dibuat dengan bentuk limasan berdasarkan inspirasi gaya Jawa.

Gaya arsitektur para arsitek angkatan tua ini tidak banyak berubah, kendati para pengembang atau pemilik proyek justru memberikan akomodasi lebih besar pada karya-karya yang lebih berani.

Pada saat angkatan muda berlomba memberikan warna beda dalam arsitektur Indonesia, para arsitek angkatan tua, menurut Budi, masih tetap mengedepankan kesederhanaan dan kehati-hatian. (redaksi@bisnis.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *