GEDUNG IMIGRASI JAKARTA
KOTA
Pendobrak Stagnansi Gedung Indische di Jakarta
Gedung Imigrasi adalah karya Arsitek berkebangsaan Belanda
Pieter Adriaan Jacobus Moojen . Termasuk bangunan di
sekelilingnya Menteng-Cikini-Gondang Dia, seperti gedong Boplo,
gedong kesenian Batavia di pengkolan Van Heutsz Boulevaard dan
Hotel Schomper (sekarang Museum Joang Menteng 31) Mesjid Cut
Mutiah N.V. Bouwploeg, Gedung Imigrasi Jakarta Pusat Batavia
Kunstkring Taman Cut Mutiah Van Heutsz Plein, Kantor Pos Cikini
(dahulu: Tjikini Post Kantoor)
Ketika tiba ke Batavia akhir abad ke-20, arsitek Belanda, Moojen
menilai wajah bangunan-bangunan di Batavia saat itu sebagai "menjiplak
style klasikisme yang tidak memiliki makna". Moojen sangat ecewa,
terhadap prilaku para arsitek Belanda pada masa itu yang asal menerapkan
pilar-pilar besar ala Helenis dan Roman pada bangunan karya mereka. Tindakan itu
menurutnya sekadar bersemangat meniru-niru gaya arsitektur
Yunani,Neo Helenisme, tapi berkesan janggal, karena peniruan itu
dinilainya sekadar "tambalan". Pola bangunan di tanah Hindia,
atau disebut Oud Indische Stijl (gaya Hindia lama) itulah yang
dikomentarinya 'arsitektur tidak berjiwa',tentang apresiasi
Moojen pada lebih seratus tahun lalu.
Tiba saatnya Moojen merancang gedung untuk "de Batavia", karya
Moojen menampilkan kritiknya terhadap gaya Indische Stijl (gaya
Hindia) di Batavia. Bangunan pertamanya ia ciptakan tahun 1909
adalah kantor asuransi jiwa Nederlandsch Indische en Lijfrente
Mij (Nillmij) yang sekarang berlokasi di Jalan Juanda. Bangunan
tersebut telah mendapat banyak perubahan sehingga tak ada lagi
ciri Moojen. Pada bangunan kedua yang di Batavia, yakni
Nederlandsch-Indische Kunstkring (Lingkar Seni Hindia - Belanda)
atau Batavia Kunstkring tahun 1913 di Jalan Teuku Umar (kawasan
Menteng) sekarang. Bangunan ini sampai tahun 1997 digunakan
sebagai Kantor Imigrasi tempat warga masyarakat mengurus paspor,
sebelum kemudian terkena ruilslag lalu berpindah kepemilikan ke
tangan swasta, dan kini hendak dibeli kembali oleh Pemprov DKI.
Sejarah yang menyimpan semangat Moojen itulah yang menjadi
penting diungkap pada masa kini ketika bekas Gedung Imigrasi ini
berada dalam keadaan menyedihkan. Sebab melalui eks Gedung
Imigrasi inilah, misalnya, tanda dimulainya periode rasionalisme
dalam sejarah arsitek Jakarta (dan Indonesia). Atau juga dikenal
dimulainya periode modernisme. Sebuah semangat yang menyimpan
kritik terhadap gaya klasikisme, dan lalu menyodorkan tiga
prinsip arsitektur modern: kesederhanaan (simplicity),
kesungguhan (seriousness) dan kebenaran (truthfull). Prinsip ini
mengembalikan arsitektur gedung-gedung di Jakarta periode
sesudahnya pada kesesuaian terhadap kondisi iklim setempat,
lokasi, ketersediaan material, kebutuhan tenaga kerja. Gedung
ini menjadi penting karena sejarah kepeloporan itu. Dalam soal
tenaga kerja misalnya. Betapa semangat modernisme Moojen telah
mengkritik arsitektur rumah-rumah di Batavia masa itu yang
memerlukan perawatan oleh banyak tenaga kerja seperti para
pembantu rumah tangga, sehingga rumah memerlukan banyak kamar
pembantu,"
Kesungguhan, yang menjadi prinsip modernisme diterapkan Moojen
pada komposisi desainnya. Dua menara di sisi kiri dan kanan
bangunan, mencirikan pola simetris yang tepat. Keputusan membuat
dua menara itu juga menjadikan gedung di kawasan yang disebut
Entree Gondangdia bermakna sebagai gerbang masuk ke kawasan
Menteng. Seperti penampakan gapura sebagai gerbang masuk. Gedung
itu didesain dengan kesungguhan yang tinggi, tidak sekadar
sebagai pemuasan pemiliknya, tapi juga disiapkan peran gedung
terhadap kawasan itu sebagai penanda kawasan (landmark)
Selain itu, Bangunan eks Gedung Imigrasi ini juga merupakan
bukti fisik mulai digunakannya teknologi beton bertulang di
Hindia Belanda. Teknik beton bertulang dalam sejarah arsitektur
dikenal merevolusi cara-cara pembangunan gedung, terutama untuk
mencapai terbentuknya konstruksi yang sulit yang tidak mudah
direalisasikan hanya dengan batu bata dan semen.
Bentukan-bentukan lengkung, seperti kubah dan balkon, semula
dibangun dengan cara yang amat sulit dengan batu bata dan semen.
Cor semen dan tulang besi pada teknik beton bertulang menjadikan
upaya mewujudkan bentukan lengkung itu mudah. Penerapannya
pertama di Batavia pada eks Gedung Imigrasi itulah.
Ciri
yang terdapat pada tiga balkon di jendela gedung utama dan dua
balkon di jendela menara. Juga dibuktikan pada arcade,
lengkungan yang memayungi pintu-pintu masuk gedung. Tiga pintu
besar di gedung utama dan dua pintu kecil di kaki menara.
Capaian estetika itu bisa diperoleh berkat digunakannya
teknologi beton bertulang, yang lalu menjadi mengubah cara
pembangunan gedung pada masa sesudahnya.
Dengan demikian, eks Gedung Imigrasi itu tidak saja punya arti
penting sebagai tanda kawasan atau tanda sejarah kepeloporan
arsitektur dalam artian sempit, tapi juga sebuah bukti fisik
sejarah. Ia adalah sebuah artefak yang harus dijaga dan
diselamatkan. Lebih-lebih jika mempertimbangkan sejarah
penggunaannya juga, betapa untuk pertama kali dan satu-satunya
gedung ini sebagai gedung pameran kesenian pernah dihuni oleh
karya perupa dunia seperti Picasso dan Vincent Van Gogh.
DAFTAR PUSTAKA
· Harian Kompas, buku "Menteng, Kota Taman Pertama" by Grace Wijaya dan Adolf Heuken SJ
.
© 2005-2011 ARCHIPEDDY Telp.:
(021) 935.200.99 atau H.P. 0812.2525.268 ; : kirim email
