www.archipeddy.com

Kisah Tionghoa Indonesia Jaman Dulu

Kisah-kisah Cina Peranakan Indonesia

 


 

Bagi orang Jakarta asli, nama itu legendaris. Bukan karena uangnya saja, tetapi ulahnya yang membuat orang tua gadis-gadis cantik khawatir setengah mati. Namun akhirnya Oey Tambahsia kena batunya juga.
Pada tahun 1937, Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai. Toko tembakau terbesar jalan itu milik seorang pedagang besar Cina asal Pekalongan bernama Oey Thoa. Meskipun belum lama menetap di Betawi, Oey sudah cukup terkenal. Bukan saja karena kebesaran usahanya, tetapi juga kedermawanannya. Konon Oey mempunyai kebiasaan memberi sedekah kepada orang miskin setiap tanggal satu dan lima belas penanggalan Cina, saat dia bersembahyang di Kelenteng Kim Tek Le.
Beberapa tahun kemudian Balai Harta Peninggalan menyelenggarakan lelang. Pelelangan itu lebih istimewa, karena bukan saja meliputi barang-barang, perabot ruamah tangga dan lainnya, tetapi juga tanah. Tanah Pinta Kecil yang akan ditawarkan itu di sebelah barat berbatasan dengan Kali Pekajon, sebelah timur berbatasan dengan Kali Besar, sebelah selatan dengan Kali Tongkangan dan sebelah utara dengan Kali Kampung Melaka.
Setealah barang-barang bergerak selesai dilelang, kepala juru lelang menawarkan tanah itu kepada penawar tertinggi. Dia menambahkan bahwa pemilik tanah dijamin hak-haknya, sebagamana ditetapkan dalam Reglamen Tanah Swasta dalam Staatsblad 1811.
"Dua puluh ribu gulden" tawar seorang dari Pasar Baru.
"Sekali, dua kali........"
"Tiga puluh ribu!" Seru Oey Thoa yang sejak tadi hanya menonton saja.
"Tiga puluh lima ribu" tukas seorang calon pembeli dari Senen.
"Lima puluh ribu," kata Oey tenang.
Penawaran yang tiba-tiba melonjak itu mengejutkan hadirin. Setelah diumumkan tiga kali tak ada yang mengajukan tawaran lagi, maka sebidang tanah itu jatuh ke tangan Oey. Ia membayar tunai dengan lembaran uang yang tersimpan dalam ikat pinggangnya.


Oei Tjoe Tat
Tokoh penting Tionghoa dalam Baperki dan LPKB. Lahir di Solo, 26 April 1922 dari keluarga berkecukupan. Ia mendapatkan pendidikan dasarnya di ReS Solo, kemudian pada usia 13 tahun melanjutkan sekolahnya di RBS Semarang.
Ketika indekos di Semarang, pertama kali berkenalan dengan Siauw Giok Tjhan, wartawan harian Mata Hari. Sejak di RBS ia sudah tertarik dengan masalah-masalah politik, terutama menyangkut perang Tiongkok-Jepang dan aktif menghimpun dana untuk Fonds Tiongkok. Pada tahun 1940 ia melanjutkan studinya di Rechts Hoge School (RHS) Batavia. Namun karena di masa pendudukan Jepang, kuliahnya dihentikan dan ia kembali ke Solo dan tahun 1945 menikah dengan Kwee Loan Nio, gadis dari Salatiga.
Pada 1946, kembali ke Jakarta dan meneruskan studinya di Nood Universiteit Indonesiasambil bekerja di War Crimes Investigation Team Allied Forces. Ia tamat dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1947) dan sejak itu dikenal dekat dengan Presiden Soekarno. Pada 1948, berhasil menyelesaikan studinya dan menyandang gelar Meester in de Rechten. Pada 1946, bergabung dengan Sin Ming Rui dan menjadi Ketua Umum selama 4 periode berturut-turut (1950-1954). Ia juga menjadi Wakil Ketua Persatuan Tionghoa, Wakil Ketua PDTI (partai Demokrasi Tionghoa Indonesia) dan klub sepak bola UMS (United Makes Strength) di Jakarta.Pada 1954, ikut mendirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan menjadi Ketua Muda Pusat (1954-1957). Pada 1955-1957 menjadi pengurus Palang Merah Indonesia, Jakarta. Pada 1956-1959 menjadi anggota fraksi Baperki di Konstituante. Ia disebut-sebut sebagai aktivis Partindo (partai Indonesia) di sekitar tahun 1960-an, dan saat partai ini terpecah, ia memilih beraliran kiri yang tidak menghendaki tetap pada dasar perjuangan semula. Puncak karirnya dicapai pada 9 Desember 1963, diangkat menjadi Menteri Negara diperbantukan pada Presidium Kabinet Kerja.


Setelah pemberontakan kaum komunis (1965), semua ormas PKI dan orpol yang dianggap bersimpati kepada komunis dibubarkan, sedang para tokohnya ditahan serta diadili. Pada 12 Maret 1966 dengan menggunakan SP 11 Maret, Soeharto menahan Oei Tjoe Tat bersama 15 orang menteri lainnya. Proses peradilan baru dilaksanakan 9 Februari 1976 hingga 30 Maret 1976. Atas desakan Adam Malik, pada Desember 1977 ia dibebaskan. Sejak saat itu kabarnya tak pernah terdengar. Baru pada akhir tahun 1980-an, Oei Tjoe Tat dikabarkan menulis surat pembaca dan majalah Tempo, sehingga majalah ini mendapat peringatan oleh Departemen Penerangan. Pada 1985 sepulang mengikuti misa Jum'at Suci, terkena stroke. Sejak November 1992, harus menjalani berbagai macam operasi dan meninggal tahun 1996 karena penyakit kanker prostat.


Adv by Google

No Images

Older Posts

Most Read Posts