(profesi perencana - perancang bangunan dan obyek-obyek arsitektur)
Pengertian dan Fungsi Arsitek Indonesia
ARSITEKTUR
Sumber pustaka: Oxford Advanced
Learner's Dictionary,De Architectura ,Vitruvius ; Concept Source
Book by Robert T.White
dll
dikumpulkan dari berbagai sumber oleh
Archipeddy.Team
Terminologi
Arsitektur menurut kamus Oxford : art and science of building;
design or style of building(s). adalah seni dan ilmu dalam
merancang bangunan. Pengertian ini bisa lebih luas lagi, arsitektur
melingkupi semua proses analisa dan perencanaan semua kebutuhan
fisik bangunan,namun dalam bahasan situs ini,penulis membatasi
pada pengorganisasian perancangan bangunan, mulai dari level
makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur
lansekap, hingga ke level mikro yaitu rancang interior / eksterior,
rancang asesoris dan pernik-pernik produk pelengkap. Arsitektur
juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.
Kriteria dan Batasan
Pameo mengatakan: Architecture is silent language. Arsitektur
merupakan bahasa yang tidak terucapkan ,namun dapat dimengerti
para pemakainya
Buku De Architectura merupakan
karya tulis rujukan paling tua yang ditulis Vitruvius,
dalam buku itu diungkapkan bahwa bangunan yang baik haruslah
memiliki aspek:
- Keindahan / Estetika (Venusitas)
- Kekuatan (Firmitas)
- Kegunaan / Fungsi (Utilitas);
Arsitektur adalah penyeimbang dan pengatur
antara ketiga unsur tersebut, dimana semua aspek memiliki porsi
yang sama sehingga tidak boleh ada satu unsur yang melebihi
unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup
pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat
dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah
mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.
Arsitektur adalah bidang multi-disiplin ilmu, termasuk di dalamnya
adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, ekonomi,sosial,politik,
sejarah, filsafat, dan sebagainya. Diperlukan kemampuan untuk
menyerap berbagai disiplin ilmu ini dan mengaplikasikannya dalam
suatu sistematika yang integral.
Vitruvius menyatakan, "Arsitektur adalah
ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan
proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut
sebagai karya seni". Ia pun menekankan perlunya seorang
arsitek memahami sosial,kedokteran,hukum,ekonomi,filsafat, dsb.
Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur.
Rasionalisme, empirisisme, strukturalisme, post-strukturalisme,
dan fenomenologi adalah beberapa pengaruh filsafat terhadap
arsitektur.
Teori dan Praktek
Teori sangatlah penting untuk menjadi landasan acuan, walaupun
juga tidak boleh mendominasi secara ekstrim. Kenyataanya, banyak
arsitek mengabaikan teori dalam perencanaan dan perancangan.
Vitruvius juga berkomentar:
"Praktek dan teori adalah akar arsitektur.
Praktek pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya yang didapatkan
dalam proses perenungan, dalam proses mendayagunakan bahan bangunan
dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan
yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil
akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek
yang tidak memiliki landasan teori kuat tidak akan dapat menjelaskan
alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara
arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada
"imajinasi" dan bukannya substansi. Seorang arsitek
yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda.
Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat
mewujudkannya dalam pelaksanaan".
Sejarah
Arsitektur terbentuk karena adanya kebutuhan (kebutuhan kondisi
lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan kebutuhan ini
menuntut perlakuan/cara menyikapi obyek(bahan bangunan yang
tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan
primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia
menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi
lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan.
Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau
peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek
saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan
tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian
sampai sekarang masih diterapkan di banyak tempat di dunia.
Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural.
Masyarakat lebih banyak terkonsentrasi di daerah pedesaan dan
didominasi pola hidup pertanian.Kemudian timbullah surplus produksi,
sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban.
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan bangunan dan tipologinya
pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti
jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti
sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur
Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya
arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai
bermunculan.
Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan
(kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur
religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis
oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode
Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya
arsitek-arsitek perorangan, melainkan oleh para seniman/ ahli
keterampilan bangunan yang dihimpun dalam satu asosiasi untuk
mengorganisasi proyek.
Pada masa Renaissance (pencerahan), humaniora dan penekanan
terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan
menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan
kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi,
Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada
saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman,
arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang
berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang
jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat
umum.
Perkembangan jaman yang diikuti revolusi berbagai bidang ilmu
(misalnya engineering), dan penemuan bahan-bahan bangunan baru
serta teknologi, menuntut para arsitek untuk mengadaptasi fokus
dari aspek teknis bangunan kepada estetika (keindahan bentuk).
Kemudian dikenal istilah "arsitek aristokratik" yang
lebih suka melayani bouwheer (owner/Client) yang kaya dan berkonsentrasi
pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh
historis. Contohnya, Ecole des Beaux Arts di Prancis pada abad
19 mengkader calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan
gambar cantik tanpa mengiraukan konsep yang kontekstual.
Sementara itu, Revolusi Industri menggerakkan perubahan yang
sangat drastis yang membuka diri bagi masyarakat luas, sehingga
estetika dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Dulunya
produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan
yang mewah, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk
sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi
dari sebuah proses produksi.
Keadaan tersebut menimbulkan perlawanan dari seniman maupun
arsitek pada awal abad ke-20, yang melahirkan pemikiran-pemikiran
yang mengilhami Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund
(dibentuk 1907) yang memproduksi bahan-bahan bangunan buatan
mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya
profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus
(dibentuk di Jerman tahun 1919) menafikan sejarah masa lalu
dan cenderung menempatkan arsitektur sebagai perpaduan skill
,seni, dan teknologi.
Ketika Arsitektur Modern mulai dikembangkan, ia merupakan sebuah
elit terkemuka berlandaskan filosofis,moral, dan estetis. Konsep
perencanaan kurang mengindahkan sejarah dan condong kepada fungsi
yang melahirkan bentuk. Peran Arsitek menjadi sangat penting
dan dianggap sebagai "kepala/pimpinan". Kemudian arsitektur
modern masuk ke dalam lingkup produksi massal yang sederhana
dan relatif murah sehingga mudah diperoleh.
Dampaknya, bangunan di berbagai tempat memiliki bentuk yang
mirip/cenderung tipikal. Tidak ada ciri khas ataupun keunikan
bangunan Arsitektur Modern ini, masyarakat umum mulai jenuh
menerima arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena
kekurangan makna, kemandulan,keseragaman, serta kesan-kesan
psikologisnya. Sebagian arsitek berusaha menghilangkan kesan
buruk ini dengan menampilkan Arsitektur Post-Modern yang membentuk
arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual,
meski dengan mengabaikan konsepnya.
Arsitektur Post Modern ini lebih dikenal sebagai
arsitektur yang "mengawinkan" dua code/langgam/style.
Misalnya, antara yang antik dan modern, antara maskulin (bangunan
dengan struktur lebih dominan) dan feminin (kecantikan eksterior
dominan ), antara western dengan timur, yang kuno dengan yang
baru ,dll.
Sedangkan kalangan lain baik arsitek maupun non-arsitek menjawab
dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya.
Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofi atau
estetika secara perorangan, melainkan haruslah mempertimbangkan
kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk
mewujudkan lingkungan yang dapat dihuni. Design Methodology
Movement yang melibatkan tokoh-tokoh Chris Jones atau Christopher
Alexander mulai mencari proses yang lebih terbuka dalam perancangan,
untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Analisa terperinci
dalam berbagai bidang seperti behaviour,habitat, environment,
dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.Mereka
berharap bahwa arsitektur merupakan bahasa yang komprehensif
untuk menjadi media antara kebutuhan dan pelaksanaan proyek.
Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur
menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya.
Arsitektur
sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya.
Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam
perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya,
di kota Semarang, karya Thomas Kaarsten ,arsitek peranakan jawa-belanda
banyak mendominasi bangunan Belanda di Semarang.
Kesimpulan
Bangunan adalah hasil karya manusia yang paling nyata, dan merupakan
kebutuhan utama manusia. Tetapi kenyataannya, banyak sekali
bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau mandor-tukang
batu di negara-negara berkembang, sedang di negara maju diproduksi
secara "massal" sebagai produk tipikal seperti orang
memproduksi baju.
Arsitek sering disisihkan dalam pembangunan, hanya karena masalah
biaya dan prosedural. Keahlian arsitek hanya dibutuhkan dalam
pembangunan bangunan berskala besar, atau bangunan yang memiliki
makna ekonomi/ budaya / politis yang penting. Dan inilah yang
diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur,sedangkan bangunan
lain, yang dianggap sederhana ataupun berskala kecil mungkin
cukup dirancang oleh mandor-mandor yang mendapatkan ilmunya
dari proses pengalaman empirikal di lapangan.
Peran arsitek,
selalu turun-naik mengikuti perkembangan jaman, tidak pernah
mendominasi dan tidak pernah terlepas dari masyarakat sebagai
pribadi bebas. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan
arsitek antara owner dengan arsitek, dan antara arsitek dengan
bidang terkait lainnya.Dan hasilnya adalah sebuah output yang
disebut arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin
ilmu yang solid.