your adv. herebanner

ARCHIPEDDY

 

your adv here

 

Last Update :

 

 

Google

 
 
Sugeng Gunadi KLIPING, Suara Pembaruan 2 Mei 2007

Arsitek Senior Itu Memasuki Purna Tugas

Perancang landskap kawasan Tugu Pahlawan Surabaya Ir Sugeng Gunadi MLA, dosen Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) memasuki masa purna tugas sebagai dosen. Acara pelepasannya ditandai dengan sarasehan, pada Selasa, 30 Januari lalu.

Acara itu tidak hanya dihadiri pejabat struktural seperti Rektor ITS Prof Dr Ir Moh Nuh DEA, Dekan Fakultas Teknik Sipil Perencanaan IT Prof Dr Ir Priyo Suprobo MS, Ketua Jurusan Arsitektur ITS Dr Ir Bambang Soemardiono, namun juga sahabat-sahabatnya di luar kampus. Di antaranya tampak seniman Rudy Isbandi dan Edy Samson.

Sugeng Gunadi, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) 1968, tidak hanya dikenal melalui rancangan landskap Tugu Pahlawan. Karya rancangan lainnya adalah Masjid Agung Sidoarjo, Gedung Bappeda Jatim, Masjid Agung An Nur di Pare Kediri, Gedung Bappeda Jatim yang bersebelahan dengan gedung Pemerintah Provinsi Jatim. Rancangan Masjid Agung An Nur di Pare bahkan mendapatkan penghargaan internasional dari King Saud University, Riyadh, Arab Saudi tahun 1999 sebagai pemenang pertama lomba desain masjid tingkat internasional. Sedikitnya 19 masterplan proyek prestisius dirancang Gunadi. Mulai dari GOR Semarang di Simpang Lima (1969/1970), Proyek Taman Dayu (1987), pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya (1991-1996), venue Ski Air di Tenggarong, Kaltim (2006/2007).

Sugeng Gunadi tiga kali mendapat kepercayaan membuat perencanaan Kampus ITS di Sukolilo, Surabaya. Pada 1974-1976, ia ditunjuk menjadi Ketua Tim Perencanaan Fisik Kampus ITS, kemudian dilanjutkan Ketua Tim Perencanaan Fisik dan Rencana Induk Pengembangan ITS (2000), serta Ketua Tim Perencanaan Fisik dan Revisi Rencana Induk Pengembangan ITS (2002-2022).

Karya-karya rancangan arsitektur Sugeng Gunadi dalam aneka bentuk dan ukuran dipamerkan di tengah-tengah acara pelepasannya. "Sungguh, tidak ada perasaan yang membuat saya bahagia sekaligus bisa mengeluarkan air mata selama ini selain saat ini, di mana kolega, sejawat, mahasiswa, menempatkan saya sebagai seseorang yang dianggap penting dan pernah berjasa. Padahal, saya ini orang biasa, tidak ada yang istimewa," katanya, mengawali acara sarasehan itu.

Acara pelepasan merupakan hari paling bahagia yang pernah ia rasakan, sehingga tanpa sadar ayah empat putra itu berurai air mata. "Biasanya hanya kesedihan yang bisa mengeluarkan air mata, tapi kali ini kebahagiaan juga bisa mem-buat saya mengeluarkan air mata," kata suami dari Ir Sitowati, yang juga dosen di Jurusan Teknik Kimia ITS itu.

Tanggung Jawab

Sugeng Gunadi yang menamatkan program masternya dalam bidang lanskap ( Master of Landscape Architecture ) di Iowa State University, AS itu, mengetengahkan pentingnya main spine, tatanan lingkungan yang merefleksikan perpaduan antara sistem alam dan sistem sosial yang didasari perilaku manusia, yang bersifat dinamik bagi kampus ITS. "Kampus ini memang dibuat sedemikian rupa, berpisah satu dengan lainnya, yang memang harus disatukan," katanya.

Tatanan lingkungan itu, adalah bagian dari upaya memanusiakan manusia, karena kehadirannya menuntut orang untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Sugeng mengaku selama ini pembagian antara ruang terbuka dan ruang tertutup di ITS tidak memadai. Padahal, sangat diperlukan keseimbangan dalam pembangunan fisik ITS ke depan agar menjadi "jembatan" yang menghubungkan kampus dengan masyarakat luas.

Sugeng tercatat sebagai anggota tim pertimbangan pelestarian bangunan cagar budaya Pemkot Surabaya. "Tanggung jawab arsitektur yang masuk dalam cagar budaya bukan pada arsitek atau bahkan pemiliknya, tapi pada pemerintah, dalam hal ini dinas-dinas terkait yang memang bertugas melindungi bangunan cagar budaya itu," ujarnya.

Seorang arsitek, katanya, bekerja sesuai perintah dari orang yang memberi pekerjaan. Artinya, jika seorang pemilik bangunan cagar budaya kemudian memerintahkan membongkar dan menggantinya dengan bangunan baru, arsitek hanya sebatas memberikan masukan, tidak bisa melarang atau menolak permintaan itu.

"Di sinilah sesungguhnya tanggung jawab dinas-dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya untuk mengamankan atau melindungi bangunan cagar budaya dengan peraturan," katanya.

Ia berpendapat, peraturan daerah (perda) tentang cagar budaya sudah ada dan cukup untuk melindungi bangunan-bangunan cagar budaya. Yang sekarang lebih diperlukan adalah orang-orang yang ber- tugas mengawal perda itu.

"Kalau perdanya sudah baik, tinggal bagaimana orang-orang, dalam hal ini dinas-dinas terkait dalam mengawal pelaksanaan perda tersebut. Diperlukan orang- orang yang memiliki komitmen jelas dan kuat, karena jika tidak pelaksanaan perda bisa disalahgunakan dan disalahtafsirkan," katanya.

Pria kelahiran Klaten, 30 Juli 1941 itu menambahkan, peran pendidikan arsitektur pada upaya melindungi bangunan cagar budaya lebih pada memberikan wawasan dan pembekalan dalam hal penanaman kerangka berpikir seorang arsitek. "Itu pun tidak mudah, karena setelah seorang mahasiswa lulus dan terjun sebagai arsitek, dibutuhkan waktu lama untuk bisa menyesuaikan apa yang akan dirancangnya sebagai sebuah kesatuan dengan bangunan yang sudah lebih dahulu hadir. Butuh waktu untuk magang," katanya.

Bekal

Ada dua hal yang bisa memberikan bekal seorang arsitek untuk bisa menghargai cagar budaya, menurut Sugeng. Pertama, mau memahami sejarah dan asal-usul bangunan yang sudah terlebih dahulu ada. Dengan mengetahui sejarah bangunan, seorang arsitek akan bisa memahami masa lalu sebuah bangunan, sehingga tidak dengan mudah membongkar atau menggantinya dengan yang baru.

Kedua, ada keinginan dari seorang arsitek untuk belajar di dalam menyesuaikan dengan bangunan yang ada disekitar atau lingkungannya. Artinya, kalau memang mau merancang harus bisa menyesuikan dengan bangunan yang sudah ada, sehingga

tidak terlihat aneh atau bahkan lepas sama sekali.

"Seorang arsitek harus bisa menangkap ruh dari bangunan di lingkungan di mana ia mau merancang bangunan baru itu. Tentu tidak harus satu langgam atau aliran dengan arsitektur yang sudah ada. Kalau sudah bisa menangkap ruh dari sebuah banguan, perbedaan aliran dan langgam tidak men- jadi masalah. Itulah kenapa seorang arsitek butuh ma-gang terlebih dahulu," katanya.

Guru besar ITS Prof Ir Johan Silas yang terlebih dahulu purna tugas memberi komentar yang mendu-kung gagasan main spine Gunadi. " Main spine itu suatu keharusan agar bisa memanusiakan ITS yang serbateknologi," katanya.

Acara sarasehan pelepasan Sugeng Gunadi itu berlangsung menarik. Rudy Isbandi, pelukis Surabaya terkenal, berkomentar, "Saya berharap memasuki masa pensiun justru akan melahirkan 'Sugeng Gunadi' baru dalam menjalankan kiprahnya, menjalankan lakuning urip (perjalanan hidup, Red) yang sebelumnya mungkin hanya lakuning karep (mewujudkan keinginan, Red) , " katanya, sambil berharap Sugeng Gunadi dapat berkiprah lebih banyak lagi, bukan hanya untuk ITS, Surabaya, atau Jawa Timur, tapi untuk Nusantara dan bahkan dunia.

Edy Samson pada kesempatan itu memberikan gambar bangunan kuno di Surabaya dari koleksinya. Rektor ITS menghadiahi buku sufi Buku Putih Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani . [Pembaruan/Edi Soetedjo]

Last modified: 5/2/07

arsip

ganjal.gif (72 bytes)

© COPYRIGHT 2014-2019 - Eddy Sriyanto