your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

Jargon :
Dictionary technical and architectural glossary

your adv here

 

powered by google

 

Google
 
 
 
Kliping artikel arsitektur tahun 2010

compilled by author


  Jam Gadang Dikonservasi
Sumber: Wartakota
29 Maret 2010
Pradaningrum Mijarto

KOMPAS.com -- Tengara atau ikon Kota Bukittinggi yang terlihat gagah, ternyata rapuh. Gempa yang menggoyang Sumatera Barat di awal Maret tiga tahun silam dengan kekuatan 6,4 Skala Richter menghasilkan beberapa kerusakan pada “Big Ben” –nya Sumatera Barat ini.
Dari hasil penelitian awal Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar ditemukan adanya kerusakan struktural yaitu retakan yang terjadi pada dinding tingkat satu bagian atas, sedangkan pada dinding tingkat dua dan tiga terjadi keretakan pada bagian atas dan bawah.
Selain itu lapisan plester di beberapa bagian dinding terkelupas. “Beberapa kaca jendela pecah, ada juga yang hilang. Kaca penggantinya tidak mengikuti motif asli, motif kotak dan ceplok bunga,” ujar Kepala Pokja Dokumentasi, Publikasi, dan Pengembangan BP3 Batusangkar, Teguh Hidayat, beberapa waktu lalu dalam Sosialisasi Rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi.

Di luar itu, BP3 Batusangkar juga menilai, kusen kayu pada Jam Gadang sudah lapuk dan rapuh, belum lagi warna cat yang sudah memudar, dan kondisi mesin jam yang tidak terawat. “Itu ditambah pemasangan jaringan listrik yang tidak teratur, lampu sorot menempel pada bangunan, speaker di tingkat lima menempel pada bangunan. Dengan kondisi ini semua, kita perlu segera memugar Jam Gadang supaya kalau ada gempa lagi, bangunan ini aman,” tandasnya.
Dalam rangka menyelamatkan Jam Gadang. salah satu pusaka Indonesia korban gempa, Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda turun tangan di Bukittinggi. Mereka membantu pemerintah kota melakukan apa yang disebut penyelamatan pusaka pasca bencana (heritage emergency response post disaster).

Program ini baru mulai ketika tsunami menyapu Aceh dan Nias. Kemudian gempa besar mengguncang Yogyakarta, berlanjut dua gempa besar di Sumatera Barat.
Bukittinggi bersama Aceh, Nias, Yogyakarta, Padang, Pariaman, dan Batusangkar menjadi kota-kota yang masuk dalam program heritage emergency tadi.
Sosialisasi pemugaran Jam Gadang yang digelar BPPI dan pemerintah Belanda sebenarnya semacam “permisi” atau “kulo nuwun” pada pemerintah kota karena pemugaran dilakukan oleh pihak dari luar Bukittinggi. Pasalnya seperti yang dipaparkan Teguh, belum ada sumber daya manusia di bidang pelestarian benda cagar budaya (BCB) di daerah otonom. Demikian pula tenaga teknis bidang pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan BCB. “Pemahaman dan apresiasi terhadap BCB dan proses pelestarian juga masih kurang,” imbuhnya.

Masalah tersebut di atas masih ditambah dengan anggaran pelestarian yang sangat minim karena belum jadi satu kepentingan. Maka jangan heran jika di banyak daerah otonom, termasuk Bukittinggi, belum ada penetapan BCB dan belum ada regulasi dalam bentuk peraturan daerah (perda).
Dari fakta tersebut di atas maka wajar jika sebuah program rehabilitasi pusaka pasca bencana perlu disosialisasikan pada warga setempat. Alasannya, minimnya pemahaman tentang pentingnya pelestarian. Jika ada pun, pastinya sangat beragam. “Memang dalam hal rehabilitasi Jam Gadang persepsi harus sama antarwarga. Karena yang mengerjakan BPPI bersama Belanda. Kita sendiri tidak mungkin melakukan itu karena tidak ada dana. Itu kan mahal sekali, tidak bisa dengan APBD,” ujar Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis.
Persoalan pelestarian BCB, dalam hal ini Jam Gadang, kemudian akan bergeser pula pada persoalan pengaturan lalulintas di kawasan yang menjadi BCB atau di kawasan di mana ada BCB. Seperti yang lazim pada kawasan bersejarah di seluruh dunia, kawasan BCB biasanya terlarang untuk kendaraan bermotor. Maka dalam kasus Jam Gadang, BPPI merekomendasikan agar tak ada kendaraan motor yang diperbolehkan melintas di kawasan tersebut. “Menjaga supaya getarannya tidak menambah rusak kondisi Jam Gadang,” ujar Direktur Eksekutif BPPI Catrini Kubontubuh.
Tentu saja rekomendasi tersebut agak membuat Wali Kota Bukittinggi terkejut. “Kita akan ikuti rekomendasi BPPI tapi mungkin tidak bisa sekarang. Dan tidak bisa dilarang sama sekali. Mungkin hanya kendaraan dengan beban yang berat yang tidak boleh lewat di situ,” jawab Ismet. WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Bukittinggi, Fort de Kock, Berawal dari Pasar
Kamis, 25 Maret 2010

KOMPAS.com - Parijs van Sumatra adalah sebutan dua kota di Sumatera pada masa kolonial. Di pulau Jawa, Bandung-lah yang mendapat julukan Parijs van Java. Tak lain karena pemandangan nan indah, pegunungan, berkelok-kelok, dan cuaca yang sejuk.
Di Pulau Sumatera, Medan (Sumatera Utara) dan Bukittinggi (Sumatera Barat) mendapat julukan seperti tersebut di atas. Kali ini, giliran Parijs van Sumatra yang di Bukittinggi. Kota dengan liukan pegunungan nan elok, pemandangan hijau royo-royo, ngarai, serta Tri Arga (tiga gunung) yaitu Gunung Marapi–gunung tertinggi di Sumatera Barat, Gunung Singgalang, dan Sago.
Sebenarnya tak hanya tiga gunung itu yang mengelilingi Bukittinggi. Tapi ada 27 bukit lain yang membuat Bukittinggi begitu sejuk dan cantik. Istana Negara di kota ini juga dinamakan Tri Arga dan kemudian menjadi Istana Negara Bung Hatta.
Bukittinggi ada di 91 km sebelah utara kota pesisir Padang di mana terdapat Pelabuhan Teluk Bayur dan Bandar Udara Tabing. Untuk menuju ke Bukittinggi yang berada di dataran tinggi, baik jalan raya maupun jalur kereta api harus melalui banyak tanjakan dan tikungan.
Belanda sudah membangun jalan raya Padang-Bukittinggi pada 1833, sedangkan jalur kereta api pada 1890. Seperti di Ambarawa, jalur kereta api Padang-Bukittinggi juga mempunya tiga rel karena jalur tersebut menanjak. Kini, jalur kereta api sudah berganti dengan bus tapi jalur kereta api masih bisa terlihat mengular. Sayangnya semua itu tinggal kenangan.
Tiba di Bukittinggi, siapa pun yang terbiasa hidup dengan cuaca Jakarta pasti akan sedikit bergidik. Suhu udara berkisar antara 19-23 derajat Celcius. Sejuk sangat, dengan udara yang masih bersih, langit siang hari yang begitu cerah. Suasana dan cuaca di pagi hari, sekitar pukul 07.30, masih terasa sepi, tenang, nyaman, sejuk. Berbeda dengan Jakarta yang tak pernah berhenti dari kesibukan dengan polusi yang bikin langit Jakarta seakan mendung.
Sebagai Parijs van Sumatra dengan pemandangan elok, maka wisatawan yang datang ke tempat ini pasti tak akan melewatkan Ngarai Sianok.
Decak kagum pastilah keluar dari mulut siapapun yang pertama kali melihat Ngarai Sianok yang berkelok-kelok dengan Sungai Batang Sianok mengalir di dasarnya. Dalam Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-kota di Indonesia, Zulqayyim, staf pengajar jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, menulis tentang “Pembangunan Infrastruktur Kota Bukittinggi Masa Kolonial Belanda”. Dalam tulisan itu ia menyertakan sejarah berdirinya Bukittinggi yang dimulai dari sebuah pasar yang didirikan dan dikelola oleh para penghulu Nagari Kurai. Pada awalnya pasar, atau orang Minangkabau menyebutnya sebagai pakan, itu hanya dibuka tiap Sabtu, setelah makian ramai, maka ditambah dengan hari Rabu. Karena pasar itu terletak di salah satu bukik nan tatinggi (bukit yang tertinggi) maka kemudian jadilah sebutan Bukittinggi untuk pasar sekaligus Nagari Kurai itu. Nama pasar itu kini menjadi Pasar Atas (Pasar Ateh) dan berada di jantung kota ini.

Dalam referensi lain disebutkan, pasar tersebut berdiri di atas tempat bernama Bukik Kubangan Kabau. Pada tahun 1820 diadakan pertemuan adat suku Kurai untuk mengganti nama Bukik Kubangan Kabau menjadi Bukik Nan Tatinggi. Nama bukik (bukit) yang terakhir itulah yang kemudian menjadi Bukittinggi. Nama Pasar Kurai menjadi Pasar Bukittinggi. Bagi Belanda, setelah perjanjian Plakat Panjang 1833, menjadikan pusat kegiatan ekonomi Fort de Kock.

Nagari Kurai adalah salah satu nagari yang ada di daerah Luhak (kabupaten) Agam dan terdiri atas Lima Jorong. Jauh sebelum kedatangan Belanda di Dataran Tinggi Agam, 1823, Pasar Bukittinggi sudah ramai didatangi penduduk. Pada sekitar 1825-1826, Kepala Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, Kapten Bauer, mendirikan benteng Fort de Kock di Bukit Jirek -- 300 meter sebelah utara Pasar Bukitinggi. Nama Fort de Kock diambil dari nama Komandan Militer dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Hendrik Markus de Kock. Benteng itu dibangun untuk membantu Kaum Adat menghadapi Kaum Paderi (Agama). Sejak itu pemerintah Hindia Belanda menyebut kawasan itu sebagai Fort de Kock sedangkan warga Minangkabau tetap menyebut Bukittinggi. (Warta Kota/Pradaningrum Mijarto)

  back to top  
  back to index  
  back to home  

© 2005-2011 www.archipeddy.com  Telp.: (021) 33052696 /(021) 935.200.99 / 0812.2525.268 ; : kirim email

Google

banner