your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

your adv here

 

powered by google

Related Link

Kliping Tahun 1996
Kliping Tahun 1997
Kliping Tahun 1999
Kliping Tahun 2003
Kliping Tahun 2005
Kliping Tahun 2006
Kliping Tahun 2007
Kliping Tahun 2008
Kliping Tahun 2009
Kliping Tahun 2010
Kliping Sumatera Barat Tahun 2010
Kliping Cirebon Tahun 2010
Kliping Singapore Tahun 2010

Kliping MRT Jakarta

Kliping Konservasi

 

Google
 
 
 
Katedral
Seri Heritage Batavia-Jakarta Lama 2010

taken from: Warta Kota


Gedung Keempat dari Cuypers


18 Mei 2010 Warta Kota
Pradaningrum Mijarto
Gedung Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, sebuah gedung cantik dengan dua menara. Gedung itu kini menjadi milik PT.Tjipta Niaga. Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kalibesar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memabtul dari kumpulan air di Kalibesar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung itu adalah gedung ke empat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kalibesar persis di Jalan Kalibesar Timur.
Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian, sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.
Bangunan luas ini mempunyai teras pada bagian barat sedangkan pada sisi selatannya tidak berteras.Lantai dasar gedung ini digunakan kantor Rotterdamsche Llyoyd (de Lloyd). Di masa lalu, pintu masuk de Lloyd berada di sudut Kalibesar Timur dan Jalan Teh (kini Jalan Kalibesar Timur 4).Sedangkan pintu masuk Rotterdam Internatio ada di tengah-tengah dinding depan menghadap Jalan Teh. Pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang dibangun dari pasir batu kapur. Kedua lantai gedung tersebut dan semua pilar serta tangga utama dibangun dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan beton bertulang oleh subbiro Weltevreden dari “Hollandsche Maatschappij”.
Tangga dan lobi atas dibuat sedikit lebih mewah. Anak-anak tangga dilapisi dengan batu keras yang diminyaki yang sama seperti marmer hitam yang dipoles dan pemasoknya adalah Firma D Weegewijs di Amsterdam. Lampu-lampu atas di lobi dihiasi dengan kaca pada jendela timah yang di dalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota, atau negara sebagai dekorasi keseluruhannya dibuat oleh Firma Lindeman & Schooneveld di Amsterdam. Lonceng Pengiring Kematian
Warta Kota 27 Maret 2020. Pradaningrum Mijarto Soli Deo Gloria, demikian nama lonceng itu. Lonceng besar yang menggantung di atap menara stadhuis (balai kota) Batavia di sekitar abad ke 18 itu terkesan begitu mengerikan. Pasalnya, setiap kali lonceng itu berbunyi, itu pertanda ada tawanan, yang dinilai jahat oleh Pemerintah Belanda kala itu yang akan menemui ajal dihukum gantung.
Siang, beberapa hari lalu, Warta Kota mencoba naik ke menara yang kini jadi menara Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bagian menara memang tidak dibuka untuk umum karena kondisi atap gedung dan menara tak lagi memungkinkan dilewati banyak orang. Ruangan di menara di mana lonceng berada juga sempit. Untuk sampai di atas menara, orang harus melewati dua tangga yang curam.
Sampai di atas menara, Warta Kota menemukan sebuah alat penggerak kuno yang sudah lama tak terpakai. Pada alat itu menggantung semacam bandul. Lonceng yang terbilang kecil menempel di bagian atas. Di dekat lonceng ini ada besi yang dikaitkan dengan engkol. Jika engkol ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul lonceng.
Bunyinya tak sebanding dengan cerita-cerita masa lalu, di mana saat “Lonceng Kematian” ini berdentang, pertanda rakyat akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa menggantung pesakitan. Lonceng ini dibunyikan untuk memanggil warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung. Lonceng yang bertuliskan Soli Deo Gloria dari abad ke 18 itu terbuat dari besi dengan bentuk kokoh. Lonceng buatan tahun 1742 itu rasanya sudah tak jelas lagi keberadaannya. Di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, 1973, gedung bekas balai kota ini mengalami pemugaran besar-besaran. Tapi tak ada data yang menyebutkan bagian mana saja yang dipugar dan diganti dengan material baru.
Menurut arkeolog yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat, kemungkinan besar lonceng pun ikut diganti. "Lonceng yang sekarang kan kecil. Kemungkinan sudah mengalami perubahan sejak sebelum 1973. Tapi,bisa juga pada saat pemugaran besar tahun 1973,”ujarnya.
Dalam buku “Dari Stadhuis ke Museum”, Hans Bonke dan Anne Handojo menyebutkan tanggal 25 Januari 1707, Petronella Wilhelmina, putri Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704 – 1709), meletakkan batu pertama. Menara kecil dipasang di atas atap dan lonceng dipasang kembali di sisi bordes.
Dalam catatan lain, lonceng dibikin tahun 1742, itu artinya selama abad ke-18 saja sudah terjadi perubahan. Bisa jadi lonceng kematian dibikin setelah terjadi pembantaian orang China pada 1740. Eksekusi terakhir yang mengikutsrtakan lonceng kematian terjadi pada 1896. Tjoen Boen Tjeng dihukum gantung karena terlibat dalam penjarahan.
Buku ini juga mencatat, setelah tahun 1870 para juru foto dari Woodbury & Page yang membuat foto-foto pertama di Batavia menunjukkan bahwa bagian depan Stadhuis sudah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir. Sayangnya, perubahan yang terjadi di sepanjang abad ke-18, ke-19, hingga ke-20 itu tak banyak tercatat secara detail. 27 Maret 2010 Lukisan Kusni Kasdut di Katedral Warta Kota 18 Mei 2010
Pernah dengar nama Kusni Kasdut? Atau barangkali malah ada pembaca yang mengalami masa heboh Kusni Kasdut yang mencuri koleksi arca emas/permata di Museum Nasional sekitar setengah abad silam? Kusni Kasdut, atau kemudian menjadi Ignatius Kusni Kasdut, masuk dalam jajaran “Robin Hood” Indonesia periode setelah kemerdekaan , lebih tepatnya di masa awal Orde Baru. Kali ini saya belum akan membahas kisah penjahat legendaris itu lebih dalam. Tapi jika ada yang penasaran melihat hasil karya seni Kusni Kasdut berupa lukisan Gereja Katedral dari batang pohon pisang (gedebog), bisa mampir ke Museum Katedral di Gereja Katedral Jakarta.
Di Balkon Gereja Katedral itulah, lukisan tersebut berada. Ia dipamerkan bersama benda-benda koleksi gereja lainnya. Di bawah lukisan Kusni Kasdut itu diberi keterangan, lukisan dari batang pohon pisang itu dibikin Kusni Kasdut selama mendekam di penjara menjelang dieksekusi. Ia dibaptis di Penjara Cipinang pada 19 Desember 1968 dan dieksekusi beberapa tahun kemudian.
Lukisan Kusni itu tentu menjadikan nuansa museum itu berbeda. Pasalnya, isi museum itu kebanyakan adalah alat-alat ibadat, patung, buku, kasula (busana khas imam), serta benda-benda lain seperti vandel lambang gereja, alat mati raga, kaleng misi sebagai tempat menampung uang logam bagi karya misi pater-pater Yesuit di Indonesia.
Minggu (16/5),Museum Katedral menggelar “Open House Museum Katedral”. Siapapun yang ingin melihat, mengambil gambar gereja dan ornamennya baik dari luar maupun dalam, hingga ke balkon tempat museum berada, dipersilakan. Gratis, ada pemandu pula. Open house itu digelar sebulan sekali. Namun jika ingin melihat museum di luar acara open house bisa datang hari Senin, Rabu, dan Jumat tak lebih dari pukul 12.00.”Museum ini sempat ditutup selama 15 bulan karena gereja dipugar dan baru dibuka kembali pada 21 Maret 2010,” kata pejabat Humas Gereja Katedral Grace Tanus.
Museum Katedral diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris yang pernah menjadi pastor kepala di Katedral. Kurris-lah yang kemudian menempatkan benda-benda bersejarah koleksi gereja di balkon itu. Itu dimulai pada 1988, bersamaan dengan pemugaran gereja. Kemudian museum ini diresmikan pada 28 April 1991 oleh Julianus Kardinal Darmaatmadja SJ yang kala itu menjabat sebagai Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia sekaligus Uskup Agung Semarang. Selain koleksi lukisan batang pohon pisang karya Kusni Kasdut, museum ini juga memamerkan Patung Bunda Maria Berkonde yang diapit sepasang perempuan dan pria Jawa dalam posisi sedang menyembah. Ketiga patung itu dibikin oleh Pater Reksaatmadja,SJ sekitar tahun 1930 saat ia belajar Ilmu Ketuhanan di Belanda, Mitra (topi ibadat) dan Tongkat Gembala Paus Paulus VI yang diberikan kepada umat di Indonesia dalam kunjungannya tahun 1970 juga ikut dipamerkan. Demikian pula dengan Piala, Patena dan Kasula Paus Yohannes Paulus II yang diberikan kepada umat Katolik di Indonesia saat ia berkunjung tahun 1989.

Google
© COPYRIGHT 2005-2011 - Team www.archipeddy.com

banner

your adv here