your adv. herebanner

ARCHIPEDDY
 

 

your adv here

 

powered by google

 

Google
 
 
 
Batik Cirebon
Seri Konservasi 2010

taken from: Kompas dan Warta Kota


Trusmi, Sentra Batik Cirebon
Kamis, 15 April 2010 |
KOMPAS.com -- Nama Kampung Trusmi kini kian bersemi. Di sinilah pusat industri batik dan wisata kuliner Cirebon terpelihara. Tidak hanya wisatawan lokal yang datang ke kampung ini. Pelancong dari Jepang, Amerika, dan Australia pun tak sungkan masuk ke gang-gang Kompleks Trusmi.
Kampung Trusmi di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, memang sedang naik daun karena produksi batiknya menembus selera konsumen dari kelas lokal hingga internasional. Di sana ada sekitar 3.000 perajin batik.
Kini, hampir setiap rumah mempunyai ruang pamer batik buatannya. Mau cari batik dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 16 juta pun tersedia. Tergantung isi kantong dan selera. Rumah pamer tersebut mirip toko atau butik.
Rumitnya motif, kualitas bahan, dan lamanya pengerjaan, menjadi pertimbangan dalam menentukan harga. Terkadang untuk memproduksi batik tulis halus motif mega mendung dengan tujuh tingkatan warna dibutuhkan waktu dua atau tiga bulan.

Rumah pamer tersebut ada yang memang memiliki perajin sendiri tapi juga ada yang memesannya pada perajin batik yang berada di Desa Kali Tengah, Kecamatan Cirebon Barat. Para perajin batik itu biasanya sudah turun temurun. Salah satunya Ogiyono (31). Ia sudah mulai belajar membatik sejak usia 18 tahun, mengikuti jejak orangtuanya yang sudah terlebih dahulu terjun sebagai pekerja batik. "Tapi orangtua khusus membuat batik cetak, sedangkan saya mengkhususkan diri pada batik tulis. Memang agak rumit tapi lebih berseni," ujar Ogi.
Dari awalnya ikut orang lain, lama kelamaan Ogi berhasil menjadi salah satu juragan batik di Desa Kali Tengah, Kecamatan Cirebon Barat ini. Meskipun tidak terlalu besar, dia kini mempekerjakan empat orang sebagai pembatik tulis dan 12 pembatik cetak.

Para pekerjanya bekerja pukul 08.00-16.00 dari hari Senin hingga Sabtu. Seorang pekerja biasanya memegang tiga lembar kain. Motif yang biasa mereka buat adalah mega mendung, keraton cirebon, tiga negeri.
Menurut Ogi, tak jarang ada pesanan khusus dari pemilik butik untuk dibuatkan motif tertentu. Sehingga mereka tinggal mengikuti saja atau hanya tinggal memberikan warna. Produk pesanan ini bukan produk massal.
Sebelumnya, untuk memasarkan batik-batik itu dilakukannya langsung dengan mengirim barang ke Jakarta dan Jatibarang. Namun sejak adanya rumah pamer dan butik yang ada di Trusmi, Ogi tidak perlu langsung memasarkannya.
Hal ini diakui juga oleh Lisa Susanti (42), salah satu pemilik rumah batik di Trusmi. Ia selain memiliki pekerja yang membuat batik secara massal, juga memesan batik dari perajin lainnya, dengan alasan untuk memperbanyak variasi batik.

"Ya sebenarnya produksi sendiri lebih banyak untungnya, tapi juga ada risikonya, karena belum tentu laku. Tapi kalau ambil dari perajin lain kita bisa lihat mana yang laku, dan sistemnya bayar belakangan," ujar Lisa yang meneruskan usaha orangtuanya.

Selain memasarkan di daerah Cirebon, ia juga memasarkan batik ke Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Medan. Karenanya sudah ada beberapa pelanggan yang memesan beberapa kodi.

Selera konsumen
Meskipun pasar batik sebenarnya cukup luas, sebagian perajin batik di Jawa Barat masih kesulitan menemukan pasar. Pembatik kecil juga masih bergelut dengan persoalan modal. Sendy Ramania Yusuf, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, mengemukakan bahwa persoalan itu ditemukan di hampir semua sentra batik, antara lain Cirebon, Ciamis, dan Indramayu.
Selera konsumen menjadi salah satu faktor pemicu, misalnya terkait tren yang tidak sesuai dengan selera konsumen. "Itu salah satu hal yang membuat batik belum terbuka benar bagi sebagian pembatik," kata Sendy.
Menurut istri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf itu, yayasan akan membantu perajin dalam pengembangan desain batik. Akan diupayakan pula membuka peluang pusat kerajinan batik sebagai pusat wisata belanja lokal dan internasional. Perajin batik mempunyai peluang di pasar dalam negeri dan internasional. Perajin yang bisa menembus pasar luar negeri biasanya adalah perajin yang sudah bisa menyesuaikan dengan keinginan pasar.

Permodalan juga menjadi persoalan pembatik kecil. Sebagian dari mereka kesulitan mendapatkan akses pinjaman dengan bunga rendah ke bank. "Dalam hal ini kami akan berusaha menjembatani. Kami sudah menjalin kerja sama dengan bank agar mereka bisa menyalurkan program corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan) mereka ke perajin batik," kata Komarudin Kudiya, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat.
Menurut Komarudin, yayasan akan membantu perajin dari sisi penjualan dan peralatan. Dalam hal peralatan, yayasan menyumbangkan kompor gas hemat energi kepada pembatik sebagai stimulus untuk kemajuan industri mereka. (dam)

Motif-motif Batik Cirebon
Batik trusmi memiliki ciri khas yang membedakan dengan batik lainnya. Ragam motif batik trusmi tidak terlepas dari sejarah pembuatannya. Misalnya percampuran kepercayaan, seni dan budaya yang dibawa etnis dan bangsa pada masa lampau. Seperti diketahui, pada abad ke-20, Cirebon merupakan pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang dari China maupun Timur Tengah.
Motif batik trusmi yang merupakan proses percampuran antara budaya, kepercayaan, dan etnik adalah motif paksinaga liman dan motif singa barong, yang merupakan dua kereta Kerajaan Cirebon: Kesepuhan dan Kanoman. Replika bentuk binatang khayal berupa singa barong dan peksi nagaliman merupakan wujud perpaduan budaya China, Arab, dan Hindu.

Dua corak batik trusmi menjadi ikon batik nasional, yaitu motif keratonan dan motif pesisiran. Motif keratonan biasanya menggunakan bentuk yang diambil dari lingkungan keraton, seperti Taman Arum Sunyaragi, Kereta Singa Barong, Naga Seba, ayam alas, dan wadas. Warna yang digunakan pada batik ini cenderung gelap, seperti cokelat dan hitam.
Motif keraton terbagi dalam dua jenis. Pertama, yang biasa dipergunakan punggawa atau abdi dalem. Jenis motif batik untuk punggawa kuat dan besar. Kedua, yang biasa dipergunakan kalangan ningrat. Ragam hiasnya halus dan kecil. Warna-warna batik keraton asli Cirebon umumnya sogan, hitam, biru tua, dan kuning. Adapun motif pesisiran biasanya memiliki ciri gambar lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter. Misalnya gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat, seperti dedaunan, pohon, dan binatang laut. Warna pada motif pesisiran cenderung terang, seperti merah muda, biru laut, dan hijau pupus.
Penciptaan terhadap motif batik trusmi memiliki latar historis yang kuat. Motif yang dibuat adalah simbol dari apa yang dikehendaki atau menceritakan latar sosial tertentu. Misalnya jenis motif pusar bumi, yang menggambarkan sebuah lubang di puncak Gunung Jati, tempat pemuka agama Islam bermusyawarah, atau batik ayam alas gunung yang menjadi perlambang penyiaran dan penyebaran agama Islam dari bukit Gunung Jati. Batik taman arum sunyaragi melambangkan sebuah taman yang harum, tempat para raja bersemadi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Kebudayaan China yang mengilhami motif batik trusmi disebut dengan batik piring dan piring selampad. Ini berasal dari susunan piring porselen China yang dipakai sebagai hiasan dinding Astana Gunung Jati dan keraton. Sedangkan motif bergaya China ini merupakan pengaruh akumulasi selera juragan-juragan batik keturunan China waktu itu. Batik produk juragan China ini umumnya berwarna merah, biru, hijau, dan putih. Itu menjadi warna khas batik pesisir. Besarnya pengaruh budaya dan kepercayaan pada motif batik, di antaranya ada yang terasa begitu kental dengan kepercayaan berbau mistik. Sebut saja nama batik kapal keruk, yang menurut kepercayaan, sangat baik dipakai mereka yang ingin menambah dan menggali ilmu. Lain halnya dengan batik kapal kandas, yang konon sebaiknya dipakai oleh orang yang sudah matang dan dewasa dalam segalanya dan tangguh menghadapi liku-liku kehidupan dalam menggapai maksud tujuan.

Warta Kota Dian Anditya M

Persahabatan di Kraton Kesepuhan
Senin, 12 April 2010
Sumber: KOMPAS.com - Salah satu situs bersejarah yang layak dikunjungi di Cirebon adalah dua istana bersaudara, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah ia wafat, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda.
Kraton Kesepuhan Cirebon
Kraton Kesepuhan,Cirebon

Memasuki kawasan Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut sebuah gerbang yang terbuat dari bata merah bertingkat. Bagian depan keraton ini biasanya dinamakan dengan Siti Inggil atau tanah tinggi, yang menghadap langsung ke arah lapangan tempat dulunya pasukan keraton berkumpul setelah melewati Siti Inggil yang berbentuk gerbang dan pagar panjang.
Di Siti Inggil ini ada lima bangunan tanpa dinding beratap sirap, yaitu Mande Pandawa Lima, yang bertiang lima dan melambangkan Rukun Islam, untuk duduk pegawai raja. Kemudian ada Mande Jajar dengan tiang tengah yang berukir sebanyak enam melambangkan Rukun Iman. Seluruhnya ada 20 tiang yang menggambarkan sifat ketuhanan. Digunakan untuk tempat duduk raja saat melihat alun-alun dan bila sedang mengadili terdakwa,

Bangunan lain adalah Mande Semar Tinandu yang bertiang dua, melambangkan Kalimat Syahadat. Berfungsi sebagai tempat duduk penasehat raja. Selanjutnya ada Mande Karesmen yang berfungsi untuk membunyikan Gamelan Sekaton pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, terakhir adalah Mande Pengiring untuk tempat duduk prajurit pengiring raja dan tempat hakim menyidang terdakwa.

Kejayaan
Tanda-tanda kejayaan keraton di zamannya bisa dilihat dari banyaknya keramik China dari Dinasti Ming yang ditempelkan pada dinding, mulai gerbang paling depan hingga bagian dalam keraton. "Keramik China melambangkan hubungan Keraton Cirebon dengan China dulunya sangat baik. Bahkan, salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah putri China," kata pemandu di Keraton Kasepuhan, Sugiman. Ia menjelaskan, Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton itu dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang juga pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun 1549.

Teknologi
Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I.
Bentuknya, mengambil pola mahluk prabangsa. Kereta ini merupakan perwujudan dari tiga binatang menjadi satu, yaitu belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu; kepala naga melambangkan persahabatan dengan China yang beragama Budha; sedangkan sayap dan badan mengambil dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam. "Dari ketiga kebudayaan itu digambarkan dengan Tri Sula yang berarti tajamnya alam pikiran manusia,” ujar Sugiman.

Kereta ini dahulunya digunakan untuk upacara kirab keliling Kota Cirebon setiap tanggap 1 Syura dengan ditarik oleh empat ekor kerbau bule. Tapi sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan. "Kereta kencana Singa Barong ini telah memiliki teknologi yang menarik, seperti jari-jari roda dibuat melengkung ke dalam agar air dan kotoran tidak masuk ke dalam kereta," jelasnya.

Warta Kota Dian Anditya M


Dephut Pastikan Lokapurna Tetap Kawasan Konservasi


Sumbber: KOMPAS
Laporan wartawan KOMPAS Ratih P Sudarsono
Selasa, 13 April 2010

BOGOR, KOMPAS.com - Ratusan orang yang mengaku warga Lokapurna berdemontrasi menolak rencana operasi pembongkaran vila di Lokapurna yang masuk kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Selasa (13/4/2010). Mereka berdemontrasi di jalan dekat kantor Bupati Bogor di Kompleks Pemda Cibinong.
Sementara itu pada saat yang sama, di ruang rapat serba guna di Kompleks Pemda Cibinong, dalam sosialisasinya, Departemen Kehutanan RI memastikan bahwa kawasan Lokapurna, yang popular dengan sebutan kawasan Gunung Salak Endah, di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, tetap sebagai kawasan konservasi. Dengan demikian, operasi pembersihan kawasan itu dari bangunan permanen, khususnya vila, tetap akan dilaksanakan.
Para warga tersebut datang menggunakan sekitar 50 angkot dan kendaraan lainnya. Di antara mereka banyak yang mengunakan rompi atau baju bertuliskan Laskar Empati Pembela Bangsa. Merekalah yang memberikan lembaran pernyataan sikap, yang intinya menolak pembongkaran vila di kawasan konservasi TNGHS itu. Pernyataan sikap ditandatangani Sam Berland, selaku seketaris jenderal organisasi yang berkantor di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Munculnya vila dan bangunan lainnya di kawasan itu, bukan semata karena kesalahan warga, tetapi juga kesalahan Pemerintah. "Walaupun sedikit, ada hak warga untuk hidup di situ. Kami akan mendampingi warga Lokapurna untuk memperjuangkan haknya itu, walaupun kecil, sampai kapan pun," kata salah seorang pengatur demontrasi berompi Lepas, yang tidak dapat bertutur dengan bahasa sunda itu.
Adapun dalam acara sosialisasi Direktur Konservasi Kawasan Ditjen PHKA Dephut RI, Sonny Partono, dan Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan Ditjen PHKA Dephut RI, Aulia Ibrahim, kepada sekitar 50 orang pemilik vila di kawasan Lokapurna, menegaskan bahwa pihaknya bersama Pemkab Bogor tetap akan melakukan operasi pembongkaran vila di kawasan tersebut. Sebab, status kawasan tersebut sesuai undang-undang adalah kawasan konservasi taman nasional. Namun dipertimbangkan pula untuk dibentuk kampung konservasi untuk warga setempat, sesuai prosedur dan kaidah hukum dan konservasi lingkungan.

Sejumlah pemilik vila menyatakan protes atas rencana itu. Mereka mengajukan berbagai argumentasi yang intinya Pemerintah telah berbuat sewenang-wenang kepada warga Lokapurna dan aparat di Departemen Kehutanan dan Pe mkab Bogor tidak bersih dalam penegakan hukum. Mereka meminta dibuat kesepakatan penundaan penyegelan dan pembongkaran vilanya, sampai ada hasil dari tim terpadu yang dibentuk Menteri Kehutanan, yang memastikan kawasan Lokapurna tetap atau tidak dijadikan kawasan konservasi.

Namun demikian Sonny dan Aulia menolak membuat kesepakatan tersebut dengan alasan, tidak ada wewenang keduanya untuk melakukan kesepakatan itu. Meminta mereka untuk berhubungan langsung dengan Menteri Kehutanan yang menentukan kebijakan.

Pada kesempatan itu Sonny dan Aulia beberapa kali menegaskan para pemilik vila tersebut sudah melanggar Undang-Undang Kehutanan dan sanksi hukum bagi pelanggaranya. "Kami bukan menakut-nakuti. Kami sampaikan ini karena ini adalah tangung jawab kami, menyampaikan apa adanya," kata Sonny. Aulia juga sempat membacakan pesan Dirjen PHKA yang isinya membacakan bahwa jika pemilik vila membongkar sendiri vilanya, maka akan dipertimbangkan kasus pidananya ditiadakan. Namun jika melawan, pemerintah akan bertindak tegas, melajutkan perkara pidananya. Dirjen PHKA mengingatkan pula akan memidanakan bagi pemilik vila yang membiayai warga untuk demontrasi melawan operasi penertiban kawasan Lokapurna. Para pemilik vila yang tidak puas dengan pertemuan sosialisasi tersebut, berencana akan menemui Menteri Kehutanan di Jakarta Rabu besok.

Google
© COPYRIGHT 2005-2010 - Eddy S. Lee

banner